Jumat, 12 Februari 2010

Pemuja iblis - 4



Dodi setuju bertaruh denganku, Anak tersebut kembali menelan kontolku, menarik-nariknya, aku mulai menggoyang-goyang pantatku, menyodomi mulutnya yang kecil.
"Akhh.. Akhh.. Hemm.. Hemm", desahanku.
Kontolku sengaja tidak kumasukkan semuanya, karena anak tersebut bisa tersedak dan terbatuk nantinya. batang totongku yang masuk setengahnya saja sudah memberikan keenakan dan kenikmatan kok. Batang kontolku masih berada di dalam mulut Dodi, beberapa lamanya, hingga berakhir juga permainanku dengan meninggalkan air maniku di dalam mulutnya dan uang 10.000 ribu menjadi miliknya.
Syarat pertama, atau yang ke-berapalah telah lengkap, malam itu aku tidak bisa tidur, gelisah, saat mencoba untuk bangkit dari pembaringanku begitu susah, sepertinya aku terpaku di tikar ini, tubuhku lengket dengan lantai. Dengan tubuh yang berkeringat, padahal hari tidak begitu panas, tapi tubuhku mengeluarkan keringat sangat banyak.
Akhh.. Entah kenapa badanku ini, pikirku dan dengan tiba-tiba telah muncul sesosok makhluk berbulu, yah makhluk yang aku puja ternyata datang. Yah aku yakin, bahwa kondisi hari ini yang membuatku begini adalah karena makhluk itu, yah tanda-tanda kedatangan makhluk tersebut yang mendekatiku dan tubuhnya yang besar dengan bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuhnya tersebut menindihku, akhh.. Aku rasakan bulu-bulu seluruh tubuhnya begitu lembut dan dingin.
Makhluk tersebut mencumbu bibirku, akhh.. Begitu menggairahkan, aku sangat bergairah sekali jadinya. Sambil memejamkan mata dan membalas cumbuan-cumbuan bibir makhluk tersebut yang aku rasakan hangat, dan lidahnya masuk ke dalam mulutku, menjilati lidahku, menjilati langit-langit mulutku, seluruh rongga mulutku, hingga ke ujung mulutku, menggelitik anak lidah mulutku yang menggantung di ujung mulut. Akkhh.. Gelinya.. Akh.. Enaknya.. Sementara bagian duburku yang telah dimasuki kontol makhluk tersebut, terus merambat masuk dengan sendirinya, lebih ke dalam.
"Akhh.. Aku mendesah keenakan, nikmatt.. Teruskann.. Teruskann..", ucapku.
Makhluk tersebut dengan gerakan pelan terus melakukan permainannya, setiap gerakan dan permainannya membuatku terhanyut dengan kenikmatan dan kegelian yang sangat luar biasa dan nafsuku semakin memuncak, birahiku tak dapat kukontrol lagi. Aku memeluk tubuhnya, mengelus-elus bulu-bulu tubuhnya yang begitu lembut dan sejuk.
Akhh.. Aku menikmatinya.. Aku menikmatinya.. Akhh.. Oohh.. Kenikmatan yang luar biasa, hingga berakhir di saat detik-detik fajar akan muncul di ufuk timur. Aku terkulai lemas, tak berdaya, dengan cairan maniku yang tergenang di sampingku, akhh begitu banyak, kental, entah berapa kali aku mengeluarkan air mani sampai tergenang begini.
Beberapa lama aku hanya berbaring, yah berbaring saja, Akhh.. Aduhh.. Aduhh.. Erangku, memegang perutku yang terasa seperti di remas-remas, sakit.. Sakitt.. Aduhh. Kurapatkan kedua tanganku memeluk perutku, menahan sakit yang luar biasa, aduhh.. Ucapku pelan, Bapak yang baru pulang mendengar eranganku dan segera masuk.
"Joko, kenapa kau Le?", tanya Bapak.
"Entahlah Pak, aduhh.. Sakitt.. Aduhh, Pak", erangku.
Bapak kebingungan dan memegang perutku, menanyakan daerah mana yang sakit. Tangan Bapak menekan-nekan perutku, memukul-mukulnya dengan pelan.
"Aneh", ucapnya pelan.
Perutku memang tidak kembung, namun sakitnya luar biasa.. Luar biasa.. Aku mengejan, seperti ada sesuatu yang mau keluar dari dalam perutku, kupaksakan, kupaksakan agar sesuatu tersebut keluar, kudorong.. Ku dorong.. Hingga dari lobang pantatku keluar gumpalan sebesar genggaman anak bayi, satu persatu keluar. Bapak terus menyaksikan saat gumpalan ketiga dan terakhir keluar dari lobang pantatku.. Aakkhh.. Desahku panjang memaksa sesuatu tersebut keluar, hingga aku dapat bernafas dengan lega.
Bapak mengambilnya dengan kain, benda tersebut berwarna hitam, Bapak melihat lebih dekat lagi. Aku melihat Bapak sedang menggosok-gosokan benda tersebut dengan kain dan, Ahh.. Ucapnya, terkejut melihat barang tersebut.
"Emas.. Emas.. Le.. Emass..", teriak Bapak.
Aku ikut mengamati dan tidak percaya, aku memberaki emas atau melahirkan emas?, akh.. Tak masuk akal, yah tak masuk akal. Teriakan Bapak mengundang tetangga-tetanggaku datang.
"Ada apa Pak Nar", ucap mereka mengetuk pintu.
"Oh, tidak.. Tidak..", jawab Bapak agak gugup.
Setelah membersihkan benda yang ternyata emas tersebut, aku beserta Bapak mencoba menjualnya dan sedikit susah memang, tapi syukur ada yang menerimanya dengan harga yang agak tinggi dan uang hasil penjualan ketiga emas tersebut sungguh diluar dugaan dan bayangan kami, wah.. Uang sebanyak itu belum pernah kami dapatkan, akh.. Jangankan segitu, uang satu juta saja aku tidak pernah memegangnya.
"Luar biasa Le, luar biasa", ucap Bapak berkali-kali.
Kami menatap uang yang terletak di lantai begitu banyak, banyak, berserakan..
"Kita berhasil Le, kita berhasil"
"Yah, Pak.. Kita berhasil", ucapku tersenyum.
Akhirnya Aku dan Bapak membuka usaha rumah makan di lokasi yang strategis, dengan membeli sebuah ruko berlantai tiga di depan jalan Raya. Aku mengajak teman-temanku untuk membantuku, yah.. Mereka akan menjadi pegawaiku. Tentu saja banyak yang bertanya dari mana kami mendapatkan uang dan Bapak sangat mahir dalam menyembunyikan cerita yang sebenarnya dengan mengarang cerita bahwa saat aku menarik becak mendapat batu merah delima dan seorang pengusaha luar mau membelinya dengan harga tinggi, yah itulah cerita Bapak dan semua tetanggaku percaya dan mungkin ada juga yang tidak percaya yah? Tapi peduli setan dengan mereka, yang penting hidupku akan berubah, yah akan berubah. Selamat tiggal penderitaan dan siap-siaplah menuju kebahagian yang selama ini aku impikan.
Usaha rumah makan yang kami jalankan, ternyata sukses, banyak pembeli bahkan ada beberapa perusahan yang mengontrak kami untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi karyawannya. Dengan waktu cepat aku dapat membuka cabang lagi di lokasi yang strategis juga.
Bapak menikahi Mak Munah, aku mengajak Darman temanku untuk tinggal bersamaku. Nasib kami sama, sama-sama ditinggal istri karena tidak tahan dengan penderitaan, karena kami ini miskin, hanya seorang penarik becak dengan uang yang pas-pasan. Nafsuku tetap bergejolak dengan laki-laki, aku mengajak karyawanku untuk bercinta, mengentot.
Aku meminta Darman menjadi teman baikku, teman sekaligus kekasih, atau istri sekalipun, melayaniku nafsuku di ranjang atau dimana saja saat nafsuku bergejolak. Aku tidak melarangnya untuk mengentot dengan lonte, namun yang utama dia harus melayani nafsu homoku. Saat aku ingin Bapak untuk melayaniku, Bapak dengan senang hati melayaniku.
Dan Kang Maman yang belum aku sentuh lobang pantatnya mendapat jatah juga. Dengan rela laki-laki tersebut melayaniku, tanpa malu atau sungkan karena dia sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain, aku sudah menebaknya pada saat meraba buritnya yang sudah agak besar waktu akan dijadikan korban ketigaku oleh Bapak.
Saat-saat bersama Darman, begitu indah kurasakan, laki-laki bertubuh besar, tinggi, tampan dengan postur tubuh kekar, berotot tersebut dan dadanya yang bidang berbulu. Tak habis-habisnya aku memintanya untuk melayaniku, sebagai bininya atau lakinya mungkin.
Akhh.. Darman melayaniku, membalas cumbuanku, mengisap-isap kontolku, aku mengentoti mulutnya dengan menekan-nekan pantatku, menggerak-gerakan pantatku maju mundur, hingga batang kontolku tenggelam dalam mulutnya.
Bergantian aku mengemut kontolnya, mengocok-ngocoknya di dalam mulutku, menikmati daging kenyalnya yang enak aku rasakan, Akhh.. Jilatan lidahku tak habis-habisnya membasahi kontolnya dari kepala kontolnya hingga pangkalnya, menjilati dengan enak dan menikmati biji totongnya yang besar. Sementara jembut Darman aku cukur, seperti bulu-bulu di tubuhku, aku cukur semua.
Aku memberi Darman kenikmatan dengan menyodomi buritku dan aku menikmati lobang pantat Darman dengan menyodominya juga. Akhh.. Saling terima dan memberilah.. Hingga merengkuh sisa-sisa kenikmatan yang tak berakhir.
Setiap bulan Purnama satu malam penuh, aku melayani Iblis yang aku puja, menikmati permainan seksnya yang luar bisa yang membuat aku tak mampu bergerak, menikmati setiap permainannya yang membuatku melayang, menikmati kegelian dan kenikmatan yang luar biasa yang tidak mampu diberikan oleh manusia.
Syarat selanjutnya yang harus aku lakukan adalah menyetubuhi 100 laki-laki, mengentot, menyodomi dengan mereka, saling bercumbu hingga merasakan puncak kenikmatan bagi keduanya, dan 99 laki-laki telah aku setubuhi, aku entot burit mereka, kontol mereka tak habis-habis kuisap, kukocok-kocok dengan mulutku, kujilati dari kepala kontol sampai pangkalnya, akhh.. Membuat mereka seperti melayang, keenakan dan menikmati sekali permainan yang kulakukan pada mereka.
Syarat ini tidak bisa aku lakukan untuk laki-laki yang pernah aku sodomi untuk memenuhi syarat pertama. Yah, bisa saja aku lakukan namun tidak ada hitungannya dan akan membuat pengunjung yang datang ke rumah makanku menjadi berkurang.
*****
Pembaca yang setia di Rumah Seks, aku tidak mengharapkan nilai A dari kalian, tapi sudilah menjadi 'syarat'ku yang ke 100, aku yakin, kalian akan terpuaskan olehku.

Tamat

 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com