Menampilkan entri yang lain dengan label Pemerkosaan. Tampilkan entri lawas
Menampilkan entri yang lain dengan label Pemerkosaan. Tampilkan entri lawas

Selasa, 04 November 2008

Dendam kesumat



Aku sebenarnya dulu pernah berkenalan dengan seorang pria lewat sebuah program chatting dan kisah nyata ini adalah awal kejadian aku kehilangan mahkota yang paling berharga. Pertama kali dia berkenalan denganku, dia nampak seperti seorang gentleman yang benar-benar menarik hatiku sehingga aku waktu itu benar-benar jatuh hati padanya. Anggap saja namaku adalah Lina dan nama cowok itu adalah Irwan. Tak lama dari perkenalan kami, aku menjadi akrab dengan Irwan. Irwan sering menjemputku dari tempat kuliahku dan aku sempat menganggap bahwa dia adalah calon suamiku nantinya karena aku benar-benar serius dengannya.

Aib ini berawal dari kesalahanku yang fatal di mana aku mempercayakan dia untuk memegang kunci kamarku karena saat aku kuliah dulu, aku tinggal di rumah kost bersama dengan anak-anak dari berbagai macam daerah. Suatu ketika, aku sedang tidur nyenyak karena aku merasakan kelelahan yang amat sangat karena aku baru saja menyelesaikan skripsiku yang sudah kupersiapkan selama berminggu-minggu.

Tiba-tiba, aku berasa kedinginan dan aku terbangun karena perasaan kedinginan tersebut dan ketika aku terbangun, aku kaget sekali karena aku melihat Irwan sedang bermasturbasi di depanku, sementara aku sekarang sudah tanpa busana. Aku mengerti akhirnya mengapa aku terbangun karena perasaan dingin, rupanya Irwan menelanjangiku dan menjadikanku sebagai obyek masturbasinya.

Aku dengan cepat menutup tubuhku dengan pakaianku, akan tetapi belum selesai aku memakai pakaian, Irwan memelukku dan membuka kembali pakaianku yang sudah berantakan dengan paksa. Irwan memukul pipiku dengan keras sehingga aku menjadi menangis ketakutan. Di saat aku sedang menangis itu, aku menyadari bahwa Irwan yang sekarang berada di depan mataku itu tidak sama seperti Irwan yang kukenal sebelumnya sebagai seorang cowok yang pengertian dan sangat gentleman. Yang nampak di depanku sekarang ini tidak lebih dari seorang laki-laki liar yang haus akan seks karena sekarang Irwan sedang mendekati tubuhku yang sedang gemetar karena ketakutan dan dia mulai menjilati tubuhku sehingga aku merasakan geli yang amat sangat. Lidahnya terus-menerus aktif menjilatiku dari leher, buah dada hingga ke pangkal kemaluan. Ketika dia mulai mencium dan menghisap-hisap klitoris, aku merasakan sesuatu yang sangat aneh karena suatu aliran birahi yang menuntut lebih membuatku menjadi mendesah karena merasakan kenikmatan dan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Secara tidak sadar, aku mendesah dan aku mengibas-ngibaskan rambutku yang hitam panjang ke kiri dan ke kanan karena aku merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika Irwan mulai menjilati setiap inci liang kenikmatanku bahkan aku terus merasakan kenikmatan itu sampai akhirnya aku menangis bercampur dengan desahan panjang karena aku merasakan liang kenikmatanku mengeluarkan cairan kenikmatan yang terus dijilat oleh Irwan sampai habis tidak tersisa.

Aku menutup mataku karena aku masih tidak mengerti apa yang terjadi di dalam diriku karena sekarang ini perasaanku bercampur antara benci pada Irwan dan keinginan untuk berbuat lebih dengannya karena aku ingin merasakan kenikmatan itu kembali. Walaupun aku hanya berdiam diri atas perlakuannya dan tetap menangis, nampaknya dia mengerti apa yang kupikirkan sehingga Irwan mulai membuka pakaian dan celananya dan aku melihat batang kemaluannya yang sudah menegang dan siap untuk dimasukkan ke dalam liang kewanitaanku.

Aku menelan ludah berkali-kali karena aku ketakutan, aku merasa akan merasakan sakit karena batang kemaluannya yang besar akan memasuki liang kenikmatanku yang masih sempit. Aku menjerit histeris tetapi Irwan dengan sigapnya langsung menutup mulutku dan langsung menancapkan batang kemaluannya ke dalam liang kenikmatanku sehingga aku dapat merasakan aliran darah dari liang surgaku. Aku meminta ampun kepada Irwan untuk segera menghentikan aksinya yang menyakitiku, tetapi Irwan tidak peduli dan terus menggenjot tubuhnya sehingga akhirnya aku merasakan sesuatu aliran dari batang kemaluannya yang membasahi liang kewanitaanku. Aku menangis menyadari hal itu karena aku takut jika aku hamil dan aku tidak mau mendapatkan bayi dari laki-laki yang telah merenggut keperawananku secara paksa itu.

Setelah Irwan melaksanakan aksi bejadnya, dia langsung memakai kembali bajunya dan meninggalkanku seorang diri dan ketika dia meninggalkanku, aku langsung memakai baju dan celanaku. Tidak berapa lama, pintu kamar kost-ku terbuka kembali dan sekarang aku melihat Irwan sedang mendekatiku yang masih menangis sambil menggandeng seorang gadis cantik dan mengenalkan gadis itu kepadaku sebagai tunangannya.

Hatiku sakit sekali melihat hal tersebut dan aku ingin sekali mengadukan perbuatan yang baru saja kualami kepada tunangannya. Akan tetapi, belum selesai aku berbicara, gadis yang mengaku bernama Lia tersebut menamparku sambil berkata, "Gue baru tau bahwa di dunia ini ada juga cewek yang suka memperkosa cowok". Kata-kata Lia membuat batinku menjadi semakin sakit karena sekarang aku sedang dituduh memperkosa Irwan dan walaupun aku berkata bahwa itu bohong dan fitnah, Lia tidak mempercayai omonganku dan bahkan setiap kali aku berkata, "Itu Bohong!" atau "Itu Fitnah!", Lia hanya memberikan respon dengan cibiran bibir dan diiringi oleh pukulan di wajahku yang putih bersih ini sehingga karena pukulan yang kuterima dari Lia, wajahku menjadi biru bercampur merah dan tentu saja aku merasakan sakit yang amat sangat karena baru saja mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Lia.

Aku terus-menerus memohon kepada Lia bahwa aku tidak pernah memperkosa Irwan bahkan aku bercerita bahwa Irwan lah yang telah memperkosaku barusan sebelum Lia masuk ke dalam kamar kost-ku. Tetapi sekarang gantian Irwan yang memukuliku karena dia merasa difitnah di depan Lia sehingga bagian tubuhku yang masih sakit semakin sakit karena pukulan Irwan yang tentunya lebih keras dari Lia. Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi dan pada detik yang bersamaan, rasa sayangku pada Irwan berubah total menjadi kebencian dan perasaan untuk membalas dendam atas perbuatannya.

Untunglah, tak berapa lama setelah kejadian tersebut, Om kost tempatku tinggal masuk ke kamarku karena dia akan menagih uang sewa kamar. Masuknya Om kost-ku ke kamar menolongku dari pukulan-pukulan mereka karena mereka meninggalkanku di saat Om Bambang (Om Kost-ku) masuk ke dalam kamar. Aku langsung menceritakan kepada Om Bambang semua yang terjadi dan dia menyarankan agar aku lapor ke polisi tetapi aku tidak ingin keluargaku tahu bahwa aku baru saja mengalami kejadian yang membuatku kehilangan harga diri dan keperawanan yang kujaga selama ini.

Untunglah sekarang ini aku memiliki kekasih yang sangat baik dan tidak memperdulikan masa laluku yang hitam kelam ini. Memang jika dibandingkan, kekasihku yang sekarang ini tidak begitu tampan jika dibandingkan dengan Irwan tetapi pengalaman burukku di masa lalu membuatku benci dengan laki-laki yang berwajah tampan.

Sekarang ini, aku mengetahui bahwa Irwan telah menikah dengan Lia. Akan tetapi rupanya hukum karma itu selalu berlaku di dalam hidup setiap orang karena dari berita yang kuterima dari teman-temanku yang juga mengenal Irwan dan Lia, Irwan meninggal dalam kerusuhan 12 Mei 1998 yang lalu dan istrinya, Lia juga meninggal pada saat yang bersamaan. Lia meninggal karena dia telah diperkosa oleh puluhan orang yang memakai busana tentara sedangkan Irwan meninggal karena siksaan dari orang-orang yang memperkosa Lia karena dia mencoba menyelamatkan Lia. Di saat aku mendengar berita itu dan mengkonfirmasi berita tersebut lewat koran dan telepon ke keluarganya, aku tersenyum dalam hati dan aku merasa senang karena sworn enemy-ku telah mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan yang dilakukan padaku pada tanggal 12 Mei 1997.

TAMAT

Dapur kenangan



Sampai saat ini sebenarnya saya sedikit bingung bagaimana memulai ceritanya. Tetapi perlu anda ketahui bahwa yang saya ceritakan ini benar-benar terjadi pada diri saya. Saat ini saya berusia 20 tahun dan sudah menikah. Saya sampai saat ini masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Depok Semester lima. Saya menikah dengan suami saya Bang Hamzah yang lebih tua 8 tahun dari saya karena dijodohkan oleh orangtua saya pada saat saya masih berusia 18 tahun dan baru saja masuk kuliah. Namun saya sangat mencintai suami saya. Begitu pula suami saya terhadap saya (saya yakin itu benar).

Karena saya dilahirkan dari keluarga yang taat agama, maka saya pun seorang yang taat agama.Setelah pernikahan menginjak usia 1 tahun, suami saya oleh perusahaan ditugasi untuk bekerja di pabrik di daerah bogor. Sebagai fasilitas, kami diberikan sebuah rumah sederhana di komplek perusahaan. Sebagai seorang istri yang taat, saya menurutinya pindah ke tempat itu. Komplek tempat tinggal saya ternyata masih kosong, bahkan di blok tempat saya tinggal, baru ada rumah kami dan sebuah rumah lagi yang dihuni, itu pun cukup jauh letaknya dari rumah kami.

Karena rumah kami masih sangat asli kami belum memiliki dapur, sehingga jika kami mau memasak saya harus memasak di halaman belakang yang terbuka, ciri khas rumah sederhana. Akhirnya suami memutuskan untuk membangun dapur dan ruang makan di sisa tanah yang tersisa, kebetulan ada seorang tukang bangunan yang menawarkan jasanya. Karena kami tidak merasa memiliki barang berharga, kami mempercayai mereka mengerjakan dapur tersebut tanpa harus kami tunggui, suami tetap berangkat ke kantor sedangkan saya tetap kuliah.

Sampai suatu hari, saya sedang libur dan suami saya tetap ke kantor. Pagi itu setelah mengantar Bang Hamzah sampai ke depan gerbang, saya pun masuk ke rumah. Sebenarnya perasaan saya sedikit tidak enak di rumah sendirian karena lingkungan kami yang sepi. Sampai ketika beberapa saat kemudian Pak Sastro dan dua orang temannya datang untuk meneruskan kerjanya. Dia tampak cukup terkejut melihat saya ada di rumah, karena saya tidak bilang sebelumnya bahwa saya libur.

"Eh, kok Neng Anggie nggak berangkat kuliah..?"
"Iya nih Pak Sastro, lagi libur.." jawab saya sambil membukakan pintu rumah.
"Kalo gitu saya mau nerusin kerja di belakang Neng.." katanya.
"Oh, silahkan..!" kata saya.

Tidak lama kemudian mereka masuk ke belakang, dan saya mengambil sebuah majalah untuk membaca di kamar tidur saya. Namun ketika baru saja saya mau menuju tempat tidur, saya lihat melalui jendela kamar Pak Satro sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian kotor yang biasa dikenakan saat bekerja. Dan alangkah terkejutnya saya menyaksikan bagaimana Pak Sastro tidak menggunakan pakaian dalam. Sehingga saya dapat melihat dengan jelas otot tubuhnya yang bagus dan yang paling penting penisnya yang sangat besar jika dibandingkan milik suami saya.

Saya seketika terkesima sampai tidak sadar kalau Pak Satro juga memandang saya.
"Eh, ada apa Neng..?" katanya sambil menatap ke arah saya yang masih dalam keadaan telanjang dan saya lihat penis itu mengacung ke atas sehing terlihat lebih besar lagi.
Saya terkejut dan malu sehingga cepat-cepat menutup jendela sambil nafas jadi terengah-engah. Seketika diri saya diliputi perasaan aneh, belum pernah saya melihat laki-laki telanjang sebelumnya selain suami, bahkan jika sedang berhubungan sex dengan suami saya, suami masih menutupi tubuh kami dengan selimut, sehingga tidak terlihat seluruhnya tubuh kami.

Saya mencoba mengalihkan persaan saya dengan membaca, tetapi tetap saja tidak dapat hilang. Akhirnya saya putuskan untuk mandi dengan air dingin. Cepat-cepat saya masuk ke kamar mandi dan mandi. Setelah selesai, saya baru sadar saya tidak membawa handuk karena tadi terburu-buru, sedangkan pakaian yang saya kenakan sudah saya basahi dan penuh sabun karena saya rendam. Saya bingung, namun akhirnya saya putuskan untuk berlari saja ke kamar tidur, toh jaraknya dekat dan para tukang bangunan ada di halaman belakang dan pintunya tertutup. Saya yakin mereka tidak akan melihat, dan saya pun mulai berlari ke arah kamar saya yang pintunya terbuka.

Namun baru saya akan masuk ke kamar, tubuh saya menabrak sesuatu hingga terjatuh. Dan alangkah terkejutnya, ternyata yang saya tabrak itu adalah Pak Sastro.
"Maaf Neng.., tadi saya cari Neng Anggie tapi Neng Anggie nggak ada di kamar. Baru saya mau keluar, eh Neng Anggi nabrak saya.." katanya dengan santai seolah tidak melihat kalau saya sedang telanjang bulat.

Perlu diketahui, saya memiliki kulit yang sangat putih mulus dan walau tidak terlalu tinggi bahkan sedikit mungil (152 cm), namun tubuh saya sangat proposional dengan dua buah payudara berukuran 34C yang sedikit kebesaran dibandingkan ukuran tubuh saya.

Saya begitu malu berusah bangkit sambil mentupi dada dan bagian bawah saya.
Namun Pak Satro segera menangkap tangan saya dan berkata, "Nggak usah malu Neng.., tadi Neng juga udah ngeliat punya saya, saya nggak malu kok.."
"Jangan Pak..!" kata saya, namun Pak satro malah mengangkat saya ke arah halaman belakang menuju dua orang temannya.

Saya berusaha memberontak dan berteriak, tapi Pak Sastro dengan santainya malah berkata, "Tenang aja Neng.., di sini sepi. Suara teriakan Neng nggak bakal ada yang denger.."
Melihat tubuh telanjang saya, kedua teman Pak Sastro segera bersorak kegirangan.
"Wah, bagus betul ni tetek.." kata yang satu sambil membetot dan meremas payudara saya sekeras-kerasnya."Tolong jangan perkosa saya, saya nggak bakalan lapor siapa-siapa.." kata saya.
"Tenang aja deh kamu nikmati aja.." kata teman Pak Sastro yang badannya sedikit gendut sambil tangannya meraba bulu kemaluan saya, sedang Pak Satro masih memegang kedua tangan saya dengan kencang.

Tidak berapa lama kemudian saya lihat ketiganya mulai melepas pakaian mereka. Saya melihat tubuh-tubuh mereka yang mengkilat karena keringat dan penis mereka yang mengacung karena nafsunya. Dengan cepat mereka membaringkan tubuh saya di atas pasir. Kemudian Pak Sastro mulai menjilati kemaluan saya.
"Wah.., memeknya wangi loh.." katanya.

Saya segera berontak, namun kedua teman Pak Satro segera memegangi kedua tangan dan kaki saya. Yang botak memegang kaki, sedangkan yang gendut memegang kedua tangan saya sambil menghisap puting susu saya. Tidak berapa lama kemudian Pak Sastro mulai mengarahkan penisnya yang besar ke lubang kemaluan saya. Dan ternyata, yang tidak saya duga sebelumnya, rasanya ternyata sangat nikmat. Benar-benar berbeda dengan suami saya. Namun karena malu, saya terus berontak sampai Pak Sastro mulai mengoyangkan penisnya dengan gerakan yang kasar, tapi entah kenapa saya justru merasa kenikmatan yang luar biasa, sehingga tanpa sadar saya berhenti berontak dan mulai mengikuti irama goyangnya.

Melihat itu kedua teman Pak Sastro tertawa dan mengendurkan pegangannya. Mendengar tawa mereka, saya sadar namun mau memberontak lagi saya merasa tanggung, sehingga yang terjadi adalah saya terlihat seperti sedang berpura-pura mau berontak namun walau dilepaskan saya tetap tidak berusaha melepaskan diri dari Pak Sastro.

Tidak lama kemudian Pak Sastro membalikkan tubuh saya dalam posisi doggie tanpa melepaskan miliknya dari kemaluan saya. Melihat itu, tanpa dikomando si gendut langsung memasukkan penisnya ke mulut saya. Saya berusaha berontak, namun si gendut menjambak saya dengan keras, sehingga saya menurutinya. Saya benar-benar mengalami sensasi yang luar biasa, sehingga beberapa saat kemudian saya mengalami orgasme yang luar biasa yang belum pernah saya alami sebelumnya. Tubuh saya menjadi lemas dan jatuh tertelungkup. Namun tampaknya Pak Satro belum selesai, sehingga genjotannya dipercepat sampai kemudian dia mencapai kelimaks dan memuntahkan spermanya ke dalam rahim saya.

Begitu Pak Sastro mencabutnya, si botak langsung memasukkan kemaluannya ke dalam milik saya tanpa memberi waktu untuk istirahat. Tidak lama kemudian si gendut mencapai kelimaks, dia menekan kemaluannya ke dalam mulut saya dan tanpa aba- aba, langsung menembakkan spermanya ke dalam mulut saya. Banyak sekali spermanya yang saya rasakan di mulut saya, namun ketika saya hendak membuang sperma itu, Pak Sastro yang saya lihat sedang duduk beristirahat berkata.
"Jangan dibuang dulu, cepet kamu kumur-kumur mani itu yang lama.. pasti nikmat.. ha.. ha.. ha.."
Dan seperti seekor kerbau yang bodoh, saya menurutinya berkumur dengan seperma itu.

Sementara si botak terus mengocok penisnya di dalam kemaluan saya, saya melihat Pak Sastro masuk ke dalam rumah saya dan keluar kembali dengan membawa sebuah terong besar yang saya beli tadi pagi untuk saya masak serta sebuah kalung mutiara imitasi milik saya. Tidak berapa lama kemudian si botak mencapai kelimaks dan saya pun terjatuh lemas di atas pasir tersebut. Melihat temannya sudah selesai, Pak Satro menghampiri saya sambil memaksa saya kembali ke posisi merangkak.

"Sambil menunggu tenaga kita kembali pulih, mari kita lihat hiburan ini.." katanya sambil memasukkan terong ungu yang sangat besar itu ke dalam vagina saya.
Tentu saja saya terkejut dan berusaha memberontak, tetapi kedua temannya segera memegangi saya.
Dan tidak lama kemudian, "Bless..!" terong itu masuk 3/4-nya ke dalam vagina saya.
Rasa sakitnya benar-benar luar biasa, sehingga saya menggoyang-goyangkan pantat saya ke kiri dan kanan.

"Lihat anjing ini.. ekornya aneh.. ha.. ha.. ha.." kata si botak.
"Sekarang kamu merangkak keliling halaman belakang ini, ayo cepat..!" kata si gendut.
Dengan perlahan saya merangkak, dan ternyata rasanya benar-benar nikmat.

Karena rasa geli-geli nikmat itu, sedikit-sedikit saya berhenti, tetapi setiap saya berhenti dengan segera mereka mencambuk pantat saya. Tidak berapa lama saya mencapai kelimaks, melihat itu mereka tertawa. Pak Sastro kemudian menghampiri saya, lalu mulai memasukkan kalung mutiara imitasi yang sebesar kelereng tadi satu persatu ke dalam lubang anus saya.
Saya kembali menjerit, tetapi dengan tenang dia berkata, "Tahan dikit ya.., nanti enak kok..!"

Sampai akhirnya, kemudian kalung itu tinggal seperempatnya yang terlihat, lalu sambil menggenggam sisa kalung tersebut dia berkata.
"Sekarang kamu maju pelan-pelan.."
Dan ketika saya bergerak, kembali kalung itu tercabut pelan-pelan dari anus saya sampai habis. Begitulah mereka mempermainkan saya sampai kemudian mereka siap memperkosa saya lagi berulang-ulang sampai sore hari, dan anehnya setiap mereka kelimaks saya pun turut orgasme dengan arti saya menikmati diperkosa.

Dan anehnya lagi, malam harinya ketika suami saya pulang, saya sama sekali tidak melaporkan kejadian tersebut kepadanya, sehingga pemerkosaan tersebut terus terjadi berulang-ulang setiap saya sedang tidak kuliah. Dan setiap memperkosa, mereka selalu menyelingi dengan mengerjai saya dengan cara yang aneh-aneh, dan itu berlangsung sampai dapur saya selesai dibangun.

TAMAT

Catatan 12 mei 1998



Pada tanggal 11 Mei 1998 pukul 5 sore, saya mendarat di Jakarta setelah 4 jam lamanya saya berada di pesawat untuk perjalanan antara Australia dan Jakarta. Saya dijemput oleh orang tua karena saya sudah lama tidak mengenal Jakarta. Setelah sampai di rumah, saya menelepon teman-teman saya terutama teman SMA saya. Tetapi di antara 10 orang yang saya telepon, hanya seorang yang kebetulan sedang ada di tempat sewaktu saya menelepon mereka. Namanya adalah Venny *********.

Sewaktu saya meneleponnya, dia sempat kaget karena saya masih ingat dengannya. Venny adalah anak tunggal. Ia menceritakan bahwa dirinya sekarang berada di rumah sendirian dan dia sangat takut dengan keadaan di Indonesia yang semakin memanas. Saya hanya memintanya untuk berdoa. Saya bercerita banyak kepadanya mengenai suasana di Australia, pelajaran saya di Australia dan juga mengenai kekasih saya yang masih berada di Australia. Dia juga menceritakan semua masalah yang dihadapi di perkuliahannya termasuk menceritakan saat kekasihnya mencampakkan dia setelah cowoknya mengenal seorang gadis dari IRC.

Kami bercakap cakap selama sejam lamanya hingga kami mesti mengakhiri percakapan kami karena orang tua saya melarang saya telepon terlalu lama dan sebelum menutup telepon, saya memberitahu bahwa saya akan ke rumahnya besok karena saya sangat bosan dengan liburan selama sebulan tanpa kegiatan apapun. Akhirnya saya membuat janji bertemu dengannya besok siangnya.

12 Mei 1998, seperti biasanya, saya mandi, makan pagi dan makan siang dan ketika saya sudah selesai makan, telepon berdering. Karena pembantu saya ada di dalam kamarnya, maka sayalah yang mengangkat telepon dan ternyata Venny yang menelepon saya. Akhirnya saya memberitahukan bahwa saya akan kerumahnya sekarang juga karena saya sudah berbenah diri. Venny nampaknya sangat senang mendengar rencana kedatangan saya karena dia sebenarnya juga sendirian di rumah karena orang tuanya kebetulan sedang ada urusan di luar negeri sementara pembantunya semuanya sedang mudik. Selama dalam perjalanan ke rumah Venny, saya sempat melihat iring-iringan demonstrasi di sekitar salah sebuah Universitas di Jakarta. Saya meminta sopir taksi untuk sedikit mempercepat taksinya karena saya merasa bakal ada yang tidak beres jika saya berlama-lama di arena demonstrasi ini.

Akhirnya saya tiba di rumah Venny. Rumah Venny cukup besar karena dia termasuk orang strata atas. Setelah saya masuk ke ruang tengah rumah Venny, kami mengobrol mengenai segala hal dan Venny menyuguhkan saya air jeruk. Sambil mengobrol mengenai keadaan pendidikan di Australia karena sebenarnya Venny ingin melanjutkan ke Australia juga sama seperti saya setelah dia menyelesaikan S1 di Universitas *******, kami menonton televisi bersama dan pada saat itu sedang ada acara Sekilas Info di RCTI yang memberitahukan bahwa ada penembakan misterius di Trisakti yang membuat Venny ketakutan setengah mati. Karena dia merasa takut, saya memberitahu dia bahwa sebenarnya saya juga merasa khawatir jika saya pulang sekarang. Saya memberitahu Venny bahwa saya akan pulang agak malam agar saya tidak menemui hal-hal yang tidak diinginkan di tengah jalan.

Tetapi sungguh nasib jelek, ketika saya baru saja menyelesaikan perkataan saya, tiba tiba masuklah 5 pemuda ke rumah Venny secara mendadak. Dua orang di antaranya mendekati saya. Saya berusaha menerapkan ilmu karate yang saya miliki terhadap mereka tetapi tentu saja kekuatan seseorang akan sangat sulit melawan 5 orang pemuda yang memiliki senjata tajam apalagi sekarang berat badan saya telah bertambah sehingga gerakan perlawanan saya menjadi kurang efektif. Akhirnya saya tidak sadarkan diri setelah mendapat pukulan dan tendangan dari mereka. Di saat saya sadar, saya mendapatkan diri saya telah berada di kamar Venny dan melihat Venny yang dalam keadaan telentang tidak berdaya di atas ranjangnya dengan tubuh tanpa busana sementara seorang pemuda berambut gondrong tengah menyetubuhinya.

Saya mendengar isak tangis Venny dan tak lama kemudian, seorang pemuda yang berambut gaya tentara mendekati Venny dan memaksa Venny untuk mengulum penisnya. Tentu saja dengan terpaksa dan penuh rasa ketakutan, Venny melakukan hal itu dan saya melihat beberapa kali Venny merasa mual dan ingin muntah. Tetapi setiap kali dia ingin muntah karena bau dari penis cowok itu, pemuda itu langsung menampar pipi Venny sehingga membuat venny menangis dan mengulum penisnya kembali. Hal ini membuat saya geram dan meronta dari ikatan tali di tubuh saya, seorang pemuda yang berdiri di sebelah saya melihat aksi saya untuk melepaskan diri sehingga ia memukul dada dan kepala saya yang membuat saya pingsan kembali.

Ketika saya sadarkan diri, tiba tiba cowok yang memukul saya melepaskan seluruh ikatan saya dan memerintahkan saya menyetubuhi Venny. Saya tidak mengerti maksud dari permainan mereka dan saya menolak. Tetapi tolakan saya ini berakibat saya mendapatkan tendangan dan pukulan di tubuh saya sehingga mau tidak mau saya menuruti kemauan mereka. Saya mendekati tubuh Venny yang telanjang dan saya meminta maaf kepada Venny karena saya tidak dapat berbuat apa apa. Venny meminta saya melakukan apa saja yang mereka minta agar kami berdua tidak lagi disiksa oleh mereka.

Saya mulai melepaskan baju dan celana saya dan pemuda-pemuda itu mulai tertawa dan mulai mengocok- ngocok penis mereka sendiri-sendiri yang baru saja mereka pergunakan untuk memperkosa Venny. Saya mencium leher dan bibir Venny dengan penuh rasa takut dan di saat saya mencium leher Venny, tangisan Venny berubah menjadi desahan panjang sehingga membuat penis saya yang masih lemas menjadi mengeras dan seakan-akan meminta segera dimasukkan ke dalam liang kewanitaannya. Saya kemudian mendekati vagina Venny, saya dapat melihat bahwa ada darah yang bercampur dengan sperma dari pemuda-pemuda tadi.

Saya berpikir bahwa kelima pemuda tadi pastilah memperkosa Venny di saat saya sedang tidak sadarkan diri. Saya sempat bengong untuk beberapa saat dan seorang pemuda memukul kepala belakang saya dan memerintahkan saya untuk menjilati vagina Venny. Terus terang saya terangsang melihat tubuh Venny yang seksi dan montok tetapi bagaimanapun dia adalah teman SMA sekaligus adik angkat saya.

Saya merasa tidak tega jika saya harus bersetubuh dengan Venny karena dia sudah saya anggap seperti adik angkat saya sendiri. Tetapi pukulan di kepala belakang yang saya terima berulang kali di saat saya bengong melihat vagina Venny yang penuh darah dan sperma membuat saya mau tidak mau menjilat vagina Venny. Saat saya menjilat vagina Venny, para pemuda itu saling memandang sambil tertawa-tawa sementara tangan mereka masih aktif mengocok penis mereka masing-masing. Jilatan saya yang berulang ulang membuat Venny terangsang, ditandai dengan desahannya yang panjang. Hal ini membuat seorang pemuda tersebut berkata "Neng, elu tuh ye, tadi nangis sekarang enjoy, dasar perempuan pelacur", sambil terus mengocok penisnya.

Tiba tiba salah seorang pemuda memukul kepalaku lagi dan menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam vagina Venny. Venny kembali menangis karena dia tahu bahwa aku adalah kakak angkatnya dan aku juga mengerti perasaannya sehingga aku menjadi terdiam tetapi saya terus mendapat pukulan dan tendangan. Saya menjadi geram sekali dan berusaha melawan mereka, tetapi sungguh malang, saya mendapatkan sabetan golok di tangan sehingga saya mau tidak mau harus menuruti kemauan mereka.

Saya mulai mengarahkan penis saya ke dalam kewanitaan Venny dan mulai memasukkannya dengan perlahan-lahan tetapi salah seorang pemuda mendorong tubuh saya dengan kakinya sehingga penis saya menjadi masuk seluruhnya secara paksa. Masuknya keseluruhan penisku ke dalam vagina Venny karena dorongan dari salah seorang pemuda itu membuat kenikmatan sendiri di batinku tetapi sekaligus bercampur dengan rasa bersalah. Venny meringis kesakitan dan melihat hal ini, saya mendiamkan penis saya di dalam vagina Venny agar Venny menjadi terbiasa dengan penis saya. Setelah itu, saya mulai menggosok gosokkan penis saya di dalam vaginanya.

Saya masih terus memainkan penis saya di dalam vaginanya sementara seorang pemuda yang berambut gondrong mendekati payudara Venny dan menjilatinya sementara tangannya masih terus mengocok penisnya yang semakin membesar. Pemuda yang berambut cepak gaya tentara kemudian mendekati Venny dan memaksa Venny mengulum penisnya. Kuluman bibir venny yang kecil membuat pria itu menyemprotkan seluruh spermanya di dalam mulut Venny sehingga membuat Venny menjadi mual kembali, tetapi karena melihat tangan pemuda yang baru saja klimaks tadi mengepalkan tangannya ke arah pipi Venny, Venny langsung menelan semua sperma pemuda tadi sambil menangis terisak isak.

Saya masih terus memainkan penis saya hingga membuat sensasi tersendiri di dalam tubuh saya. Saya tidak dapat membohongi diri saya sendiri bahwa sebenarnya saya pun mulai terangsang dengan permainan vagina Venny yang terus menerus memijit-mijit penis saya. Saya tahu bahwa sebenarnya tubuh Venny juga menyukai permainan saya, karena saya juga telah merasakan cairan "pipis" dari dalam tubuh Venny beberapa kali yang telah membasahi penis saya. Saya ingin mengeluarkan sperma saya di luar tubuh Venny karena dia adalah adik angkat saya tetapi apa daya, akarena ada ancaman dari salah seorang pemuda yang berkata, "Elu harus keluarin sperma elu di dalam tubuh cewek elu, kalo gak, elu berdua gue bunuh sekarang juga", membuat saya menjadi takut untuk mengeluarkan penis saya keluar dari pijitan kewanitaan Venny yang nikmatnya luar biasa.

Perasaan nikmat dan rasa kasihan bercampur aduk di dalam diriku, pijitan nikmat vagina venny yang terus memijit-mijit penis saya membuat saya tidak sanggup lagi menahan rasa nikmat ini untuk seterusnya. Akhirnya saya berteriak dengan penuh rasa nikmat dan mengeluarkan seluruh air mani saya kedalam liang kewanitaan Venny yang rupanya juga telah mengeluarkan cairan kenikmatan wanita yang bercampur dengan darah. Sebenarnya saya tahu bahwa Venny juga menyukai permainan penisku tetapi tangisan yang bercampur dengan desahannya membuatku bingung kapan dia mendapatkan sensasi kenikmatan yang luar biasa itu, tetapi saya yakin bahwa sebenarnya dia sudah mendapatkan kenikmatan tersebut.

Akhirnya saya dan Venny kelelahan sehingga saya tertidur di atas tubuh Venny sampai sore hari. Ketika saya terbangun, saya mengetahui bahwa pemuda-pemuda brengsek itu telah pergi dan tinggal kami berdua di kamar Venny dan saat itu saya tengah memeluk tubuh Venny dengan penuh belas kasih. Tiba tiba Venny juga terbangun dan dia kembali menangis terisak-isak ketika mendapatkan tubuhnya dan tubuhku dalam posisi telanjang. Dia mengetahui dengan persis apa yang telah terjadi pada dirinya. Saya terus terang merasa sangat bersalah dan berkali-kali saya meminta maaf kepadanya. Venny menyadari bahwa saya bersetubuh dengan dirinya karena paksaan dari orang lain. Dia hanya dapat memandangku dengan mata yang berkaca-kaca dan dia langsung memeluk tubuhku sambil menangis sejadi-jadinya.

Saya merasa kasihan kepadanya tetapi pada saat itu saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah ia agak tenang dari rasa shock dan sedihnya walaupun saya tahu bahwa sebenarnya dia masih merasa ketakutan atas peristiwa tadi siang, saya pamit pulang kepadanya karena hari sudah malam. Setelah kejadian itu, saya terus menemani Venny tiap hari sampai saya harus kembali ke Australia karena masa liburan saya sudah selesai. Hingga sekarang, peristiwa yang menimpa adik angkat saya itu tidak dapat saya lupakan dan saya benar benar benci dengan peristiwa itu.

Tanggal 12 Mei 1998 adalah hari yang tidak terlupakan untuk adik angkatku dan terutama kepada saya sendiri karena akibat peristiwa itu, Venny melahirkan seorang bayi yang dia rawat bersama sama orang tuanya. Saya pernah menjenguk Venny dan bayinya. Untungnya orang tua Venny dapat memaklumi dan tidak membenci saya serta tetap menganggap saya sebagai anak angkatnya sendiri. Saya tidak tahu apakah bayi itu adalah milik saya atau milik salah satu dari pemuda-pemuda brengsek itu. Venny, saya mohon maaf sedalam-dalamnya jika kamu membaca cerita ini.

TAMAT

Budak nafsu - 2



Hari-hari selanjutnya merupakan neraka bagi Vita dan itu terus berulang. Setiap pagi ia ditarik keluar dari sel jam lima pagi kemudian bersama tahanan yang lain mereka naik ke sebuah truk yang membawa mereka ke sebuah tanah lapang yang tandus. Di situ mereka harus mencangkul tanah lapang itu untuk diolah menjadi lahan perkebunan. Ditengah hari mereka diijinkan beristirahat selama setengah jam. Dan ketika matahari mulai tenggelam mereka baru kembali ke penjara.

Dan pada malam hari, di hari-hari tertentu sekelompok penjaga akan menyeretnya keluar dan memperkosanya bergantian hingga hari menjelang pagi. Dan jika Vita terlihat kelelahan pada siang harinya maka komandan penjara akan mengikat Vita di tengah lapangan dan memecuti tubuhnya disaksikan oleh para tahanan yang lain.

Setelah sebulan berlalu, dan ketika Vita sedang bekerja dengan giat demi menghindarkan dirinya dari hukuman komandan, sekelompok tahanan wanita yang berkuasa di situ menyeret tubuhnya ke dalam kamar mandi. Di situ mereka memukuli Vita karena dianggap mencari muka dengan bekerja sangat rajin. Mereka juga menyiksa Vita dengan memasukkan batang besi dan sebuah tongkat ke dalam anus dan lubang kemaluan Vita.

Satu bulan kemudian Vita kembali diseret keluar dari selnya dan dibawa mendekati sel tahanan pria. Dua orang penjaga memegangi tangannya dan menyeretnya agar masuk ke dalam sel tahanan yang penuh dengan tahanan pria.
"Malam ini kamu musti menghibur mereka!"
"Jangan! Jangaann! Jangan masukkan saya ke sana!" Vita memohon dan menjerit minta tolong.
Tahanan pria sudah mulai berkerumun sambil meraba bagian bawah tubuhnya. Jeritan Vita tak didengar sama sekali oleh penjaga itu yang terus membuka kunci pintu sel itu dan mendorong tubuh Vita masuk ke dalam sel yang lebih luas. Vita berusaha menjauh dari tahanan pria itu sambil akhirnya terdesak hingga jeruji sel itu. Sebuah tangan meraih bahu Vita dan menariknya hingga terjatuh ke lantai. Tangan-tangan lain meraih kaki Vita dan membukanya. Dan ketika Vita membuka mulutnya untuk menjerit sebuah batang kemaluan langsung masuk ke dalam mulutnya sementara sebuah batang kemaluan lain masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Vita harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit penjara setelah semalam bersama tahanan pria itu. Tubuh Vita harus diseret keluar dari sel di pagi harinya dan Vita hanya merintih,
"Lagi.. lagi.. lagi.. lagi.. lagi.."
Sebelum Vita pingsan malam harinya, Vita masih bisa mengingat tiga orang laki-laki yang sekaligus menikmati tubuhnya dan ia menjerit dengan sisa-sisa tenaganya dengan batang kemaluan masuk di dalam mulutnya. Dan ketika ia sedang terbaring di rumah sakit, Vita mengingat kembali pengalamannya di dalam sel pria itu. Dan ia ingat betapa ia sendiri mencapai orgasme setelah beberapa orang memperkosanya. Setelah beberapa orang lagi ia kembali mengalami orgasme berkali-kali hingga ia pingsan kelelahan. Dan ia sendiri tidak mengerti mengapa itu semua terjadi pada dirinya.

Suatu hari Vita dan seorang tahanan lainnya Lia. Lia juga mahasiswi yang diciduk dari Bandung karena demonstrasi. Lia baru masuk sekitar satu bulan yang lalu, dan juga sudah habis-habisan dikerjai oleh para penjaga penjara. Vita dan Lia bekerja di bidang tanah yang lain. Hari itu amat sangat panas. Vita dengan segera telah terengah-engah kehausan. Menjelang tengah hari Vita mendengar Lia berbisik kepadanya.
"Vita, Vita.." ia memanggil dengan suara lirih. Vita mengangkat kepalanya dan melihat mata Lia membesar.
"Apa?" tanya Vita.
"Lihat! Para penjaganya nggak ada!"
Vita memperhatikan sekelilingnya dan ia terkejut ternyata Lia benar. Tidak ada seorang pun penjaga yang terlihat. Ia memandang kembali pada Lia dan langsung dapat menebak pikirannya. Mereka akan berusaha melarikan diri.

Lia langsung melemparkan cangkulnya dan berlari masuk ke dalam hutan. Vita juga langsung menyusul di belakangnya. Akar-akar yang bergantungan menghalangi pandangan Vita, tapi ia masih bisa melihat Lia yang berlari di depannya, entah menuju ke mana yang penting menjauhi neraka di belakang mereka.

Setelah beberapa saat nafas Vita makin berat dan terputus-putus. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin sulit berlari dengan cepat. Sebuah dahan mengayun dan memukul pipi Vita hingga berdarah. Makin lama, pakaian yang dikenakan mereka berdua semakin terkoyak-koyak karena tersangkut dahan dan akar. Sekarang mereka hanya mengenakan serpihan kain yang sama sekali tidak menutupi tubuh mereka, Vita dapat melihat bahu Lia yang tersayat dahan dan memerah sementara ia terus berlari.

Akhirnya, karena letih dan kehabisan nafas mereka berdua jatuh tersungkur di bawah pohon yang besar. Selama beberapa menit mereka hanya bisa terengah-engah menarik nafas sementara keringat membanjir keluar dari sekujur tubuh mereka.

Lia berbaring telentang, dan buah dadanya yang mengacung bergerak naik turun seirama dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Kita berhasil!" kata Lia dengan senyum penuh kemenangan.
Wajahnya lebih berseri, walaupun ada darah yang menetes dari dahi dan pipinya.
"Semoga kamu benar", kata Vita tenang.
"Kita masih harus keluar dari hutan ini dan mencari jalan kembali ke kota. Aku sendiri nggak tau kita ada di mana. Kamu tau?"
Saat itulah terdengar gonggongan anjing. Mereka langsung berdiri dan berlari lagi, mereka berlari tanpa mengetahui arah mereka. Anjing-anjing itu terdengar semakin dekat dan gonggongan mereka terdengar makin keras. Vita dapat mendengar suara teriakan penjaga-penjaga di sela gonggongan ajing itu, dan itu membuat ia makin ketakutan dan berlari makin cepat. Hutan itu makin gelap dan mereka sekarang sama sekali tidak tahu sedang menuju ke arah mana. Yang mereka inginkan hanya melepaskan diri dari regu pencari di belakang mereka.

Ketika mereka sampai di sebuah daerah kecil yang terbuka tiba-tiba saja mereka sudah dihadang oleh sekelompok penjaga, dan setiap kelompok memegang rantai yang mengikat seekor anjing doberman yang besar dan hitam. Doberman itu menggonggong dan melonjak-lonjak berusaha mendekati Vita dan Lia tak terkendali. Salah seorang dari penjaga berteriak dan doberman tadi langsung diam dan duduk di depan masing-masing kelompok. Lia dan Vita langsung jatuh berlutut ketakutan. Usaha mereka untuk melarikan diri gagal total.

"Betul juga kata komandan!" kata salah seorang penjaga.
"Yang dua ini pasti berusaha lari!"
"Ya benar, kita semua pasti dapet hadiah malem nanti!" kata yang lain.
"Iket mereka lalu seret balik ke penjara."
"Tunggu!" kata penjaga yang tadi menenangkan doberman.
"Masa anjing-anjing ini nggak dapet bagian. Mustinya mereka dapet hadiah, kan mereka yang nemuin cewek-cewek ini!"
Rasa mual langsung menyerang perut Vita, karena ia bisa menebak maksud penjaga itu. Sambil ditertawai oleh penjaga-penjaga itu, Vita dan Lia didorong hingga jatuh tersungkur di atas siku dan lutut, dan kaki-kaki mereka ditarik membuka lebar-lebar. Sementara dua penjaga memegangi tubuh Vita, penjaga yang ketiga menggiring seekor doberman mendekati tubuh Vita dari belakang. Vita dapat merasakan hembusan nafas ajing itu di pantatnya dan ia mendengar anjing itu mendengus-dengus. Tubuh Vita mengejang ketika lidah anjing itu menjilati lubang kemaluannya yang mengirimkan sensasi ke seluruh tubuhnya. Dan tiba-tiba kaki depan doberman itu menghujam ke pinggulnya dan batang kemaluan binatang itu masuk ke dalam lubang kemaluan Vita. Dengan perut mual Vita hanya bisa diam tak bergerak ketika doberman itu mulai bergerak memperkosanya dari belakang. Sementara penjaga-penjaga itu mulai tertawa lagi melihat adegan di depan mereka.

Perlahan tubuh Vita mulai bereaksi atas gerakan doberman itu dan tubuhnya mulai bergerak seirama dengan gerakan doberman. Lubang kemaluan Vita perlahan mulai terangsang ketika gerakan Vita makin seirama dengan gerakan doberman di belakangnya. Tubuh Vita mulai berkeringat lagi dan nafasnya makin tersengal-sengal. Vita mulai mengerang sembari menelan ludah dan pandangannya mulai kabur. Tubuh Vita mulai menuju orgasme yang makin lama makin memuncak di sekujur tubuhnya. Dan ketika doberman itu melolong, Vita merasakan sperma anjing memenuhi lubang kemaluannya dan ia menjerit dan mengerang nikmat. Doberman itu lalu mundur dan seekor anjing lain menggantikan posisinya. Kembali Vita merasakan sebuah daging panas masuk ke dalam lubang kemaluannya dan doberman itu mulai menyetubuhinya. Dengan tubuh makin bergejolak mendekati orgasme Vita masih sempat melihat Lia yang ada di seberangnya, ia melihat Lia yang meronta-ronta karena seekor doberman lain sedang menyetubuhinya juga.

Vita seperti sedang bermimpi melihat itu semua, yang nyata baginya hanyalah orgasme dalam tubuhnya yang makin mendekati puncak. Dan ketika doberman kedua menyemburkan spermanya, Vita menjerit dihantam gelombang orgasme yang kedua. Vita tidak tahu lagi berapa doberman lagi yang menyetubuhinya, tapi ketika anjing terakhir selesai, tubuh Vita langsung tersungkur kelelahan. Dari lubang kemaluan Vita mengalir sperma anjing dan di pinggulnya juga dilumuri oleh sperma mereka. Vita terus berbaring tak bergerak selama beberapa menit, terengah-engah dan gemetar ketika gelombang orgasme yang tersisa masih mengalir ke seluruh tubuhnya. Dengan mata terkejap-kejap ia melihat ke arah Lia, dengan seekor doberman di depannya dan batang kemaluan anjing itu di mulutnya, berusaha mengulum dan menjilati hingga akhirnya anjing itu menggeram dan sperma menyembur ke wajah Lia.

Setelah itu seorang penjaga mendekat dan menarik kepala Vita sambil mendekatkan batang kemaluannya ke mulut Vita. Tanpa bisa berpikir jernih lagi Vita membuka mulutnya dan mulai mengulum dan menjilat batang kemaluan laki-laki itu. Vita terus mengulum sementara batang kemaluan lain juga masuk ke lubang kemaluannya dan mulai bergerak. Vita sudah tidak menyadari keadaan sekelilingnya lagi. Semuanya tampak kabur sampai akhirnya gelap gulita. Vita mengulum batang kemaluan yang besar itu dengan penuh nafsu, lidahnya menjilati batang kemaluan hingga pangkalnya. Nafas Vita tersentak ketika sebuah batang kejantanan lain menghunjam ke anusnya. Vita sedang dalam posisi merangkak. Buah dada Vita mengayun-ayun ketika tubuhnya mulai bergerak didorong oleh gerakan batang kemaluan di anusnya. Tubuh Vita segera berkeringat ketika Vita dengan sekuat tenaga membuat dua orang itu mencapai klimaks. Vita sendiri telah mengalami dua kali orgasme sepanjang hari itu, dan ia sadar dirinya masih akan mengalami orgasme demi orgasme sebelum akhirnya ia kembali ke penjara lagi.

Sekarang Vita sudah menjadi pelacur bagi penjara itu. Ia harus melayani setiap orang yang sanggup dan mau membayar tubuhnya. Penjara itu ternyata memiliki kegiatan pelacuran kelas tinggi. Bisnisman dari manca negara yang pernah mendengar tentang penjara itu kebanyakan mengetahui tentang kegiatan terselubung itu, tak terkecuali juga pejabat-pejabat negara kelas tinggi yang kadang juga menggunakan tubuh Vita dan tubuh gadis lainnya yang sudah dipilih sendiri oleh komandan penjara.

Malam itu Vita harus melayani dua orang dari Inggris yang sudah membayar US$ 1.000 kepada komandan untuk dapat menggunakan tubuhnya selama delapan jam. Tiga minggu yang lalu Vita melayani seorang pejabat dari Brunei. Ia membayar US$ 2.000 agar ia dapat memecuti tubuh Vita yang menjerit dan mohon ampun, selama enam jam berturut-turut. Vita tidak dapat bergerak selama enam hari setelah peristiwa itu.

TAMAT

Budak nafsu - 1



Nama lengkapnya adalah Vita Anggraeni. Umurnya 24 tahun, dan sebagian besar mahasiswa mengatakan Vita adalah gadis yang cantik, pintar sekaligus berani. Rambutnya hitam legam terurai hingga bahu. Buah dadanya berukuran sedang dan kenyal hingga mampu mengacung tegak walaupun ia tidak mengenakan BH. Perut Vita rata, pinggulnya bulat, pinggangnya ramping. Dan sepasang kaki yang ramping hasil fitness dan olah raga tampak mempercantik tubuhnya. Selama perjalanan dari kantor polisi di kotanya hingga penjara ini Vita masih dapat melihat jalan-jalan yang dilaluinya. Penjara ini benar-benar terpencil, ia sendiri tidak mengetahui ada penjara di tempat seperti ini. Dan ketika ia melihat jarak yang ditempuh ternyata jarak penjara itu dengan batas kotanya saja sudah lima puluh kilometer lebih dan penjara itu terletak di tengah hutan.

Lamunan Vita terputus ketika sebuah piring seng berisi makanan didorong masuk ke dalam selnya lewat jeruji. Ia tiba-tiba tersadar bahwa dirinya belum makan dalam waktu 24 jam ini, sejak ia dipindahkan dari kantor polisi ke penjara ini. Ketika mengambil piring itu, Vita melihat makanannya hanya nasi kering dan sebuah tempe goreng. Tapi karena perutnya yang tiba-tiba terasa begitu lapar, Vita langsung menghabiskan makanan itu dan kemudian ia dengan terpaksa meminum air di ember tadi untuk menghilangkan rasa hausnya.

Tengah malam ketika Vita tertidur ditutupi oleh selembar selimut, seorang penjaga masuk ke dalam selnya. Sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Vita, penjaga itu lalu menarik dan menyeret Vita keluar dari selnya. Vita berjalan sambil sesekali didorong-dorong oleh penjaga itu menyusuri gang demi gang sampai akhirnya ia sampai di sebuah tanah lapang yang dikelilingi tembok tinggi.

Di tengah lapangan itu sudah berdiri lima orang pejaga lain dan seorang tahanan wanita. Gadis itu tampak cantik sekali walaupun di sekelilingnya nyaris gelap, hanya ada beberapa api unggun yang menerangi tempat itu. Vita dengan tangan dilipat ke belakang oleh penjaga yang pertama tadi didorong terus hingga ia berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dari gadis tadi.

"Buka baju!" Perintah itu bagaikan tamparan keras di wajah Vita. Vita ragu-ragu dan kaget setengah mati mendengar perintah tadi. Vita melihat gadis di depannya sudah membuka kancing bajunya. Sebuah pukulan mendarat di pundak Vita membuatnya terdorong maju.
"Gue bilang buka baju!" Masih termangu tak percaya Vita melepaskan satu-satunya kancing yang ada di bajunya dan melepaskan baju itu hingga dengan sendirinya terjatuh di kedua kaki Vita. Vita sudah menyadari apa yang akan terjadi pada dirinya. Ia akan diperkosa oleh keenam penjaga itu. Ia pernah membaca berita tentang tindakan aparat keamanan yang tidak senonoh kepada tahanan wanita, tapi waktu itu ia tidak percaya.

Tapi sekarang Vita sudah berdiri telanjang ditatap dengan penuh nafsu oleh para penjaga itu. Vita sendiri masih perawan, ia dan pacarnya belum pernah berhubungan lebih jauh dari sekedar petting, dan sekarang Vita berdiri gemetar berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dengan tangannya. Gadis di depan Vita juga sudah telanjang bulat, dan Vita melihat tubuhnya yang sempurna, jauh lebih terawat dari pada dirinya. Gadis itu terlihat lebih tegar dan kuat daripada Vita, ia berdiri tak bergerak di tengah para penjaga dan matanya tidak menyiratkan rasa takut.

Penjaga yang membawa Vita berdiri di tengah mereka.
"Malam ini kita punya program latihan buat kamu semua. Kamu berdua harus melawan satu sama lain sampai salah satu dari kalian tidak bisa bangun lagi. Yang menang boleh balik ke selnya. Yang kalah musti menghibur kita di sini. Kalau kalian tidak serius, kalian berdua akan kena hukuman masing-masing tiga puluh kali pecutan. Jelas!"

Vita shock sekali mendengar perkataan itu sambil melihat gadis di depannya menganggukkan kepala. Sementara Vita masih berdiri karena terkejut, gadis di depannya sudah mendekat dan melayangkan pukulan ke perut Vita sekuat tenaga. Nafas Vita terhentak keluar ketika ia tersungkur jatuh berlutut sambil memegangi perutnya. Kemudian Vita melihat kaki gadis itu terangkat dan mengayun kemudian menghantam dagunya, membuat kepala Vita tersentak ke belakang dan tubuh Vita terjengkang ke belakang, tergeletak di atas tanah setengah sadar. Vita mendengar para penjaga bersorak-sorak ketika ia berguling ke atas perutnya dan berusaha bangun dengan susah payah. Vita kemudian merasakan tubuh gadis itu menyergapnya dari belakang dan melingkarkan tangannya ke leher Vita membuatnya susah bernafas. Dengan satu usahanya yang terakhir Vita mendorong tubuh gadis itu agar ia lepas dari tubuhnya.

Sekarang mereka berdua berdiri berhadapan satu sama lain. Gadis itu lalu langsung mendekat lagi sambil mengayunkan tinjunya, dan kembali menghajar Vita tepat di dagunya. Pandangan Vita berkunang-kunang berusaha keras menjaga keseimbangannya. Sebuah pukulan kembali mendarat di perut Vita membuat ia jatuh terjengkang lagi. Gadis itu langsung menindihnya dan terus mengayunkan pukulan ke wajah Vita sampai Vita hampir tak sadarkan diri. Vita masih bisa merasakan penjaga menarik gadis itu dari atas tubuhnya sementara ia sendiri terbaring tak berdaya. Setelah itu gelap.

Vita tidak mengetahui berapa lama ia tak sadarkan diri. Ia tersadar lagi setelah penjaga menyiramkan seember air ke wajahnya membuat Vita bangun terduduk dan tersedak. Keenam penjaga itu berdiri mengelilingi Vita. Gadis tadi sudah tidak kelihatan. Ketika Vita melihat wajah penjaga-penjaga itu, ia melihat wajah yang penuh nafsu dengan lidah yang menjilati bibir mereka. Vita tersadar bahwa kekalahannya tadi hanya merupakan awal dari mimpi buruknya malam ini.

Dua orang penjaga memegangi tangan Vita dan menyeretnya kembali ke bangunan utama. Setengah dipapah setengah diseret, Vita dibawa masuk ke kamar mandi pria. Dengan tubuh penuh keringat dan lumpur Vita didorong di bawah shower dan air sedingin es langsung menyembur membuat Vita berjongkok sambil menggigil di depan penjaga tadi. Seorang penjaga memasang sebuah borgol di tangan Vita dan mengaitkannya ke sebuah pipa di tembok. Vita menatap dengan panik ketika keenam laki-laki itu mulai melepaskan pakaian mereka. Ketika mereka telah telanjang bulat, dua orang penjaga memegangi kaki Vita dan membuka lebar-lebar. Vita meronta-ronta tapi tak berdaya. Penjaga yang lain mulai meremas dan menarik buah dada Vita sementara yang satu lagi meraba paha Vita setelah itu memasukkan jarinya ke lubang kemaluan Vita. Vita mengerang dan menangis ketika tangan-tangan mereka terus meraba tubuhnya tanpa henti.

Kemudian seorang penjaga berdiri di hadapan Vita, batang kemaluannya sudah tegang dan keras ketika ia tersenyum menyeringai pada Vita. Sambil meraih pinggul Vita dengan kedua tangannya, ia mengangkat tubuh Vita sedikit dari atas lantai sementara ia sendiri menekuk kakinya mengarahkan batang kemaluannya ke belahan kemaluan Vita. Dengan satu dorongan keras batang kemaluan itu merobek masuk ke lubang kemaluan Vita. Tubuh Vita terasa tersobek-sobek terutama lubang kemaluannya ketika batang kejantanan itu masuk ke dalam lubang senggamanya yang kering dan sempit. Vita menjerit-jerit keras hanya untuk menerima satu tamparan di wajahnya yang membuat Vita hampir tak sadarkan diri. Batang kemaluan yang bergerak keluar masuk liang senggama Vita, terasa seperti besi panas yang membuat nafas Vita terputus-putus.

Untuk meredam teriakan Vita seorang penjaga memasukkan segumpal kain ke dalam mulut Vita. Sekarang yang keluar dari mulut Vita hanya erangan tak jelas setiap kali penjaga yang sedang memperkosanya bergerak masuk. Setelah beberapa lama, Vita merasakan tubuh penjaga itu mengejang dan erangan nikmat keluar dari mulutnya. Sperma laki-laki itu menyembur masuk sebanyak-banyaknya ke dalam lubang kemaluan Vita. Sambil terengah-engah ia menarik batang kemaluannya yang berlumur sperma dan darah perawan Vita keluar dari tubuh Vita.

Sebelum sempat menarik nafas lagi, penjaga yang lain yang mengambil giliran selanjutnya dan dengan kasar ia juga mendorong batang kemaluannya masuk ke liang sorga Vita yang meneteskan darah bercampur sperma. Rasa sakit itu sekarang sudah berkurang tapi tetap menyakitkan sementara penjaga tadi tanpa peduli terus mendorong dan menarik batang kemaluannya. Vita memejamkan matanya berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan ngilu yang menyerang seluruh tubuhnya. Penjaga yang lain mendekat dan kembali meremas dan menarik buah dada serta puting susu Vita hingga nyeri. Suara yang dapat didengar Vita selain erangannya sendiri hanya suara pinggul penjaga itu yang menumbuk pantatnya ketika ia mendorong batang kemaluannya keluar masuk kemaluan Vita.

Ketika penjaga kedua selesai, Vita sudah bersiap untuk penjaga yang ketiga. Tapi dengan mata terbelalak kaget dan ngeri, Vita merasakan sepasang tangan membalikkan tubuhnya kemudian membuka belahan lubang kemaluannya. Vita menjerit tapi tak ada suara yang keluar selain erangan. Vita sempat merasakan kepala batang kemaluan penjaga itu menempel di liang anusnya sebelum seluruh rasa sakit kembali menyerang sekujur tubuh Vita. Vita tidak pernah merasakan rasa nyeri yang tak tertahankan seperti ini sebelumnya. Penjaga itu bergerak dengan brutal merobek-robek liang anus Vita, hingga ia pingsan kesakitan.

Sesaat kemudian Vita kembali tersadar dan ia merasa gumpalan kain yang ada di mulutnya ditarik keluar. Tetapi setelah itu seorang penjaga langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vita sambil menarik kepala Vita kebelakang. Vita tersedak dan terbatuk ketika batang kemaluan yang keras itu memotong aliran udaranya membuat ia tidak bisa bernafas. Batang kemaluan di anus Vita masih terus bergerak keluar masuk dengan keras sementara mulut Vita juga dimasukan oleh batang kemaluan yang lain. Buah dada Vita terus disakiti oleh tangan keempat penjaga yang lain. Tubuh Vita bergerak maju mundur seirama dengan gerakan batang kemaluan yang keluar masuk di anus dan mulutnya.

Perkosaan itu berlanjut terus, hingga keenam penjaga itu mendapat giliran sedikitnya dua kali memperkosa Vita. Vita sekarang tergeletak tak bergerak di lantai kamar mandi, dengan sperma mengalir keluar dari lubang kemaluan dan mulutnya. Tubuh Vita kesakitan seperti baru saja dipukuli selama berhari-hari. Ia mengerang lirih ketika dua orang menarik tangannya berdiri dan melemparkan baju penjaranya.

Tak berdaya berjalan sendiri, mereka menyeret tubuh Vita ke selnya dan melemparkannya masuk ke dalam. Dari celah kecil di atasnya Vita dapat melihat sinar matahari pagi mulai memancar. Ia merangkak menuju ember berisi air dan dengan sekuat tenaga berusaha membersihkan dirinya. Kemudian ia kembali merangkak menuju matrasnya dan tersungkur tidur.

Bersambung...

Birahi para kuli



Sudah dua jam lebih Upit menunggu lewatnya bus jalur 6A yang biasanya mengantarkannya pergi pulang sekolah. Ya, hanya bus rakyat itulah satu-satunya sarana transportasinya dari Godean ke SMP Negeri favorit di bilangan dekat perguruan tinggi negeri. Tapi sejauh ini, bus itu belum nongol-nongol juga. Padahal kakinya sudah semutan terus berdiri di depan proyek bangunan berlantai tiga yang rencananya untuk restoran ayam goreng terkenal dari Amerika itu. Upit yang kelas satu dan belum sebulan ini masuk sekolah barunya, melirik sekali lagi jam tangannya hadiah dari kakaknya yang kerja di Batam. Pukul lima siang lewat sepuluh menit. Inilah arloji hadiahnya jika masuk SMP favorit. Gadis 12 tahun bertubuh imut tapi tampak subur itu memang pintar dan cerdas. Tak heran jika ia mampu menembus bangku sekolah idamannya.

Cuaca di atas langit sana benar-benar sedang mendung. Angin bertiup kencang, sehingga membuat rambut panjang sepinggangnya yang lebat tapi agak kemerahan itu berkibar-kibar. Hembusannya yang dingin membuat gadis berkulit kuning langsat dan berwajah ayu seperti artis Paramitha Rusady itu memeluk tas barunya erat-erat untuk mengusir hawa dinginnya. Berulang kali bus-bus kota lewat, tapi jalur yang ditunggu-tunggunya tak kunjung lewat juga. Sejenak Upit menghela nafasnya sambil menebarkan pandangannya ke seluruh calon penumpang yang berjejalan senasib dengannya. Lalu menengok ke belakang, memperhatikan pagar seng bergelombang yang membatasi dengan lokasi pembangunan proyek tersebut. Tampak puluhan pekerjanya yang tengah meneruskan kegiatannya, walaupun cuaca sedang jelas hendak hujan deras. Hilir mudik kendaraan yang padat kian membuat kegelisahannya memuncak.

Mendadak hujan turun dengan derasnya. Spontan saja, Upit dan tiga orang calon penumpang bus kota yang di antaranya dua pasang anak SMA dan seorang bapak-bapak secara bersamaan numpang berteduh masuk ke lokasi proyek yang pintunya memang terbuka dan di sana terdapat bangku kayu serta teduh oleh tritisan beton. Sedangkan belasan orang lainnya memilih berteduh di depan toko fotocopy yang berada di sebelah bangunan proyek itu. "Numpang berteduh ya, Pak!" pinta ijin bapak-bapak itu disahuti teriakan "iya" dari beberapa kuli bangunan yang turut pula menghentikan kerjanya lalu berteduh di dalam bangunan proyek. Tapi dalam beberapa menit saja, bapak tua itu telah berlari keluar sambil berterima kasih pada para kuli bangunan setelah melihat bus kota yang ditunggunya lewat.

Tak sampai lima menit kedua anak SMA itupun mendapatkan bus mereka. Kini Upit sendirian duduk menggigil kedinginan.
"Aduh..!" kaget Upit yang tersadar dari lamunannya itu tatkala sebuah bus yang ditunggunya lewat dan berlalu kencang. Tampak wajah gelisah dan menyesalnya karena melamun.
"Mau pakai 6A, ya Dik?" tanya seorang kuli yang masih muda belia telah berdiri di sampingnya Upit yang tengah mondar-mandir di depan bangku.
Upit sempat kaget, lalu tersenyum manis sekali.
"Iya Mas. Duh, busnya malah bablas. Gimana nih?!"
"Tenang saja, jalur 6A-kan sampai jam tujuh malam. Tunggu saja di sini, ya!" ujarnya sambil masuk ke dalam.

Upit hanya mengangguk ramah, lalu duduk kembali di bangkunya, yang sesekali waktu dia menengok ke arah timur, kalau-kalau terlihat bus jalur 6A lewat. Setengah jam lewat. Tak ada tanda-tanda bus itu lewat. Upit melihat ke dalam gedung yang gelap itu, tampak sekitar lima puluh kuli sedang istirahat. Sebagian asyik ngobrol, lainnya merokok atau mandi di bawah siraman air hujan. Lainnya terlihat terus-menerus memperhatikan Upit. Perasaan tak enak mulai menyelimuti hatinya.

Belum sempat otaknya berpikir keras untuk dapat keluar dari lokasi proyek, mendadak sepasang tangan yang kuat dan kokoh telah mendekap mulut dan memiting lehernya. Upit kaget dan berontak. Tapi tenaga kuli kasar itu sangatlah kuat, apalagi kuli lainnya mengangkat kedua kaki Upit untuk segera dibawanya masuk ke dalam bangunan proyek.

"Diam anak manis! Atau kami gorok lehermu ini, hmm!" ancam kuli yang telanjang dada yang menyekapnya itu sambil menempelkan sebilah belati tajam di lehernya, sedangkan puluhan kuli lainnya tertawa-tawa senang penuh nafsu birahi memandangi kemolekan tubuh Upit yang sintal padat berisi itu. Upit hanya mengagguk-angguk diam penuh suasana takut yang mencekam. Tak berapa lama gadis cantik itu sesenggukan. Tapi apalah daya, suara hujan deras telah meredam tangis sesenggukannya. Sedangkan tawa-tawa lima puluh enam kuli usia 16 sampai yang tertua 45 tahun itu kian girang dan bergema sembari mereka menanggalkan pakaiannya masing-masing.

Upit melotot melihatnya.
"Jangan macam-macam kamu, ya. Hih!" ancamnya lagi sambil membanting tubuh Upit di atas hamparan tenda deklit oranye yang sengaja digelar untuk Upit. Tas sekolahnya diserobot dan dilempar ke pojok. Upit tampak menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi menyaksikan puluhan kuli itu berdiri mengelilingi dirinya membentuk formasi lingkaran yang rapat.
"Tolong.. tolong ampuni saya Pak.. jangan sakiti aku.. kumohon.. toloong, ouh.. jangan sakiti aku.." pinta Upit merengek-rengek histeris sambil berlutut menyembah-nyembah mereka.

Tapi puluhan kuli itu hanya tertawa ngakak sambil menuding-nuding ke arah Upit, sedangkan lainnya mulai menyocok-ngocok batang zakarnya masing-masing.
"Buka semua bajumu, anak manis! Ayo buka semua dan menarilah dengan erotisnya. Ayo lakukan, cepaat!" perintah yang berbadan paling kekar dan usia sekitar 30 tahun itu yang tampaknya adalah mandornya sambil mencambuk tubuh Upit dengan ikat pinggang kulitnya.
"Cter!"
"Akhh.. aduh! Sakit, Pak.. akhh..!" jerit kesakitan punggungnya yang kena cambuk sabuk.
Tiga kali lagi mandor itu mencabuk dada, paha dan betisnya. Sakit sungguh minta ampun. Upit menjerit-jerit sejadinya sambil meraung-raung minta ampun dan menangis keras. Tapi toh suaranya tak dapat mengalahkan suara hujan.

"Cepat lakukan perintahku, anak manja! Hih!" sahut mandor sambil melecutkan sabuknya lagi ke arah dada Upit yang memang tumbuhnya belum seberapa besarnya, bisa dikatakan, buah dadanya Upit baru sebesar tutup teko poci. Upit kembali meraung-raung.
"Iya.. iya Pak.. tolong, jangan dicambuki.. sakiit.. ouh.. ooh.. huk.. huuh.." ucap Upit yang telah basah wajahnya dengan air mata.
Ucapannya itu disahuti oleh gelak tawa para kuli yang sudah tak sabar lagi ingin menikmati makan sore mereka.
"Aduuh, udah ngaceng nih, buruan deh lepas bajunya."
"Iya, nggak tahan lagi nih, mau kumuntahkan kemananya yaa?"
Perlahan Upit beranjak berdiri dengan isak tangisnya.
"Sambil menari, ayo cepat.. atau kucambuk lagi?" desak mandor mengancam.
Upit hanya mengangguk sambil menyadari bahwa batang-batang zakar mereka telah ereksi semua dengan kencangnya.

Upit perlahan mulai menari sekenanya sambil satu persatu memreteli kancing seragam SMP-nya, sedangkan para kuli memberikan ilustrasi musik lewat mulut dan memukul-mukulkan ember atau besi. Riuh tapi berirama dangdut. Sorak-sorai mewarnai jatuhnya bajunya. Upit kian pucat. Kini gadis itu mulai melepas rok birunya. Kain itu pun jatuh ke bawah dengan sendirinya. Kini Upit tinggal hanya memakai BH dan CD serta sepatu. Sepatu dilepas. Upit lama sekali tak melepas-lepas BH dan CD-nya. Dengan galak, mandor mencabuk punggungnya.
"Cter!"
"Auukhh.. ouhk..!" jerit Upit melepas BH dan CD-nya dengan buru-buru.
Tentu saja dia melakukannya dengan menari erotis sekenanya. Terlihat jelas bahwa Upit belum memiliki rambut kemaluan. Masih halus mulus serta rapat. Tepuk tangan riuh sekali memberikan aplaus.

Sedetik kemudian, rambut Upit dijambak untuk dipaksa berlutut di depan mandor. Upit nurut saja.
"Ayo dikulum, dilumat-lumat di disedoot.. kencang sekali, lakukan!" perintahnya menyodorkan batang zakarnya ke arah mulut Upit.
Upit dengan sesenggukan melakukan perintahnya dengan wajah jijik.
"Asyik.. terus, lebih kuat dan kencang..!" perintahnya mengajari juga untuk mengocok-ngocok batang zakar mandor.
Upit dengan lahap terus menerus menyedot-nyedot batang zakarnya mandor yang sangat keasyikan. Seketika zakar itu memang kian ereksi tegangnya. Bahkan mandor menyodok-nyodokkan batang zakarnya ke dalam mulut Upit hingga gadis itu nyaris muntah-muntah karena batang zakar itu masuk sampai ke kerongkongannya.

Di belakang Upit dua kuli mendekat sambil jongkok dan masing-masing meremas-remas kedua belah buah dadanya Upit sembari pula mempintir-plintir dan menarik-narik kencang puting-puting susunya itu.
"Ouuhk.. hmmk.. aauuhk.. hmmk..!" menggerinjal-gerinjal mulut Upit yang masih menyedot-nyedot zakar mandor.
Tak berapa lama spermanya muncrat di dalam mulut Upit.
"Creeot.. cret.. croot..!"
"Telan semua spermanya, bersihkan zakarku sampai tak tersisa!" perintah galak sambil menjambak rambut Upit.
Gadis itu menurut pasrah. Sperma ditelannya habis sambil menjilati lepotan air mani itu di ukung zakar mandor sampai bersih.

Mandor mundur. Kini Upit kembali melakukan oral seks terhadap zakar kuli kedua. Dalam sejam Upit telah menelan sperma lima puluh enam kuli! Tampak sekali Upit yang kekenyangkan sperma itu muntah-muntah sejadinya. Tapi dengan galak mandor kembali mencambuknya. Tubuh bugil Upit berguling-guling di atas deklit sambil dicambuki omandor. Kini dengan ganas, mereka mulai menusuk-nusukkan zakarnya ke dalam vagina sempit Upit. Gadis itu terlihat menjerit-jerit kesakitan saat tubuhnya digilir untuk diperkosa bergantian. Sperma-sperma berlepotan di vagina dan anusnya yang oleh sebagian mereka juga melakukan sodomi dan selebihnya membuang spermanya di sekujur tubuhnya Upit. Upit benar-benar tak tahan lagi. Tiga jam kemudian gadis itu pingsan. Dasar kuli rakus, mereka masih menggagahinya. Rata-rata memang melakukan persetubuhan itu sebanyak tiga kali. Darah mengucur deras dari vagina Upit yang malang.

TAMAT

Bertemu wanita misterius



Sebenarnya dengan menceritakan kisahku ini, aku flash back ke masa kecilku yang seharusnya tidak boleh terjadi pada usia anak-anak, karena akibatnya sangat buruk seperti yang sudah kuceritakan di situs ini juga dengan judul "Berburu Burung". Mungkin ini yang disebut orang dengan pengaruh kejiwaan dari suatu pelecehan seksual pada anak, dan berakibat nyata ketika menginjak masa remaja. Oh ya, bagi yang belum tahu, namaku Fik, umurku 15 tahun, dan kisah yang kuceritakan di "Berburu Burung" sebenarnya merupakan bagian terburuk hidupku yang selalu membayangiku sehingga aku ceritakan sebagai kisah pertamaku, meski seharusnya kalau diruntut kebelakang ada yang melatari kisah itu, yaitu kejadian yang akan kuceritakan berikut ini.

Waktu itu aku berumur 10 tahun, lebih sedikit, pokoknya kelas IV SD, cukup kecil mungkin, tetapi saat itulah kejadian yang akan mengubah hidupku terjadi. Sebenarnya, seperti anak-anak SD pada umumnya, tentunya belum tahu apa itu alat kelamin, dan belum punya perasaan atau prasangka macam-macam apabila seseorang memperlihatkan atau menunjukkannya pada kita, aku yakin itu, namun suatu hari, hal itu berubah setelah kejadian itu.

Suatu hari setelah usai belajar kelompok dengan teman-teman, aku bermaksud mengantar pulang salah satu temanku cewek, yang rumahnya agak jauh, sementara kami biasa belajar mulai habis maghrib hingga selesai yang kadang sampai pukul 21:00 WIB, sehingga tidak berani pulang sendirian. Dia biasa kupanggil Na, umurnya sebaya denganku, cewek terpandai di kelasku, sehingga banyak kelompok belajar yang memperebutkannya, dan beruntung dia mau menjadi anggota kelompok kami.

Kisah ini berawal dari sini, aku boncengkan dia pulang ke rumahnya dengan sepeda kecilku. Kukayuh pelan-pelan, santai saja lagian belum terlalu malam untuk ukuran desaku, karena baru pukul 20:00 lebih sedikit, dan malam itu rupanya agak ramai. Hingga akhirnya memasuki jalan yang kanan-kirinya banyak ditumbuhi bambu. Ya, tempat ini yang ditakuti oleh Na, aku sih biasa saja kalau ada teman, tetapi kalau sendirian yang paling-paling ngebut saat melintasi jalan itu, ngeri sih. Namun, rupanya malam ini tidak demikian, karena terlihat sebuah mobil akan melintas ke arah kami. Tetapi tiba-tiba mobil itu berhenti di depan kami dan segera keluar seorang wanita dari pintu kemudi, kuhentikan sepedaku, sepertinya wanita itu mau menanyakan sesuatu kepada kami.

Rupanya dugaan kami keliru, wanita itu mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan menodongkannya kepada kami. Berdua kami terperanjat dan mau berteriak, tetapi urung terlaksana kami sudah diancam dengan nada serius, sehingga kami pun menuruti saja apa maunya. Sepedaku pun dilemparkan ke semak-semak, sehingga tidak mencurigakan, dan kami disuruh masuk ke mobilnya. Di dalam mobil Panther itulah kami berdua kehilangan kesucian.

Awalnya dia menyuruh kami duduk di kursi yang sudah direbahkan, kami tidak tahu akan diapakan, yang jelas kemudian dia melepaskan bajunya satu persatu sambil terus menatap kami berdua. Kami pun diam saja karena memang tidak tahu maksudnya. Setelah lepas semua baju dan telanjang bulat, dia menyodorkan kedua puting susunya kepada kami. Kami tidak mau, tetapi segera mendapat ancaman lagi, sehingga kami pun terpaksa melakukannya juga. Aku dan Na pun mengisap puting susunya bersamaan. Dia pun sepertinya menikmati hisapan kami berdua sambil tangannya mengelus-eluskan selakangannya. Kami pun terus melakukannya seperti yang dia mau, sementara payudaranya semakin membesar saja, dengan sesekali dia meremas-remasnya sendiri, hingga benar-benar mengeras.

Kami tersentak ketika tiba-tiba kedua tangannya meraih selakangan kami, tapi tidak ada yang bisa kami perbuat selain menurut. Aku pun merasakan penisku diremas-remasnya sehingga menegang, sementara mulutku masih mengisap puting payudaranya. Tak lama kemudian dia menyuruh kami berhenti mengisapnya. Tapi apa yang diperbuatnya, tangannya beralih ke Na yang sedang telentang, dibukanya pakaiannya satu persatu hingga telanjang bulat, demikian juga terhadapku. Sehingga kami bertiga telanjang semua. Dia pun beraksi, mulai dengan Na dia menciumi sekujur tubuh Na, mengisap payudaranya, menjilati seluruh tubuhnya dan mengisap dalam ketika tepat di selakangan Na. Na pun hanya dapat mendesis pasrah, sambil sesekali menjerit kecil, bahkan menggelinjang seiring jilatan-jilatan wanita itu di tubuhnya. Aku sendiri disuruhnya mengocok penisku, aku tidak tahu harus dikocok segala, sementara kurasakan penisku semakin keras saja.

Sesaat kemudian dia beralih ke arahku. Setelah puas dengan Na, langsung saja dia menciumiku, hingga aku merasakan kegelian di seluruh tubuhku. Akhirnya dia berhenti di pangkal pahaku, mempermainkan penisku yang sudah mengeras dan kemudian melumatnya. Aku merasakan perasaan lain saat dia tiba-tiba menghisap penisku. Aku pun hanya dapat mengerang dan berkelojotan kegelian, sementara deru nafasnya pun semakin tidak karuan saja.

Kemudian dia berhenti dan beralih posisi. Kini dia yang berbaring, sementara kami yang berdiri. Dia menyuruh Na duduk di perutnya membelakangi aku, Na pun menurut saja. Kemudian disuruhnya Na merebahkan tubuhnya, sehingga tepat di payudaranya agar nanti menghisapnya lagi bergantian, sementara aku, dengan agak kasar dan sambil memegang penisku, dibimbingnya penisku ke arah selakangannya. Kemudian aku disuruh memasukkan penisku ke lubang di selakangannya dan menggerakkan tubuhku maju mundur di vaginanya. Dan tanganku diletakkan pada dada Na supaya aku meremas dadanya saat dia memberi aba-aba untuk memulai secara bersamaan nanti.

Setelah semua telah diaturnya, dia pun menyuruh kami memulai. Sesuai apa yang disuruhnya tadi, Na pun mengisap bergantian payudaranya yang mengeras dan aku pun mengocokkan penisku di vaginanya. Kali ini wajahnya yang tadi serius berubah total saat kami melakukan seperti apa yang disuruhnya. Dia mendesis, menggelinjang menikmati apa yang kami lakukan secara bersamaan, beberapa kali dia memekik tertahan sambil menggelinjang menggoyangkan tubuhnya. Mulutnya menganga dan sesekali tangannya memegang pinggangku dan merapatkannya di tubuhnya. Sementara tanganku meremas-remas buah dadanya, sehingga dia pun kadang-kadang mengerang kegelian. Aku sendiri merasakan sesuatu yang aneh merambahi sekujur tubuhku. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, apalagi saat kubenamkan penisku di vaginanya, rasanya seperti geli tapi di seluruh tubuhku, sehingga dalam mobil itu yang terdengar hanya nafas yang terengah-engah yang kadang diselingi erangan penuh kenikmatan.

Tapi itu tak bertahan lama, karena sesaat kemudian kurasakan tubuh wanita itu mengejang, menggelinjang tak karuan dan mengerang dengan nafas berkejaran. Kemudian tiba-tiba dia menjepitkan kakinya di tubuhku, sedangkan kedua tangannya memeluk erat kami berdua sambil mengerang panjang dan tubuhnya melemas. Sesaat kami dalam pelukannya, dan keringat kami pun membasahi tubuh kami bertiga, kurasakan vaginanya mengeluarkan cairan dan mengenai penisku yang masih di dalam vaginanya. Dia kemudian melepaskan pelukannya sambil tersenyum simpul penuh makna.

Kemudian dia menyuruh kami berganti posisi lagi, kali ini Na yang ada di kursi, sementara aku berdiri dan wanita itu ada di belakangku. Dia kemudian menyuruhku memasukkan penisku ke vaginanya Na. Aku pun tidak dapat menolaknya. Aku pun memasukkan penisnya ke tubuh Na, Na pun menjerit kesakitan. Dengan sigap dia menyodorkan puting susunya ke mulut Na, sehingga Na tidak menjerit kesakitan lagi, dan aku pun menggoyangkan tubuhku sesuai perintah wanita itu, sementara terlihat darah mengalir dari vaginanya Na.

Sementara kami melakukan adegan itu, wanita itu duduk di belakang kami memperhatikan gerak penisku maju-mundur di vaginanya Na, dan kemudian membersihkan darahnya Na. Sedangkan kami pun tetap melakukan adegan tadi hingga kurasakan semakin enak saja, sepertinya Na juga merasakan hal yang sama sepertiku, karena dia tidak lagi menjerit, tapi mengerang dengan nafas naik turun. Tiba-tiba dari belakang Wanita itu menghentikan apa yang kami lakukan, sesaat dia menjilati penisku yang benar-benar lain rasanya dan menjilati juga vaginanya, kemudian kembali memasukkan penisku ke vaginanya Na dan menepuk bokongku untuk meneruskan lagi mengocok. Hingga tak lama kemudian kulihat Na semakin terengah-engah dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke kanan ke kiri sepertinya tak tahan lagi menahan sesuatu yang mau keluar, sedangkan mulutnya menganga mengeluarkan suara erangan-erangan kecil.

Wanita itu melihat apa yang terjadi pada Na, langsung dia ikutan menjilati payudara Na, sehingga Na semakin tak karuan menggelinjang, dan akhirnya dia pun mengerang panjang sambil tubuhnya mengejang tak karuan. Aku pun semakin mempercepat kocokan penisku di vaginanya, dan dia pun kemudian kurasakan tubuhnya mengendur lemas dan terbaring di kursi. Kurasakan vaginanya basah oleh cairan yang mengalir dari dalam. Aku pun kemudian disuruh wanita itu mengeluarkan penisku dari vaginanya. Aku pun sudah dari tadi sebenarnya merasakan kenikmatan dari apa yang kulakukan, tapi ternyata rasa itu lama bertahan dalam tubuhku.

Kemudian wanita itu menyuruh Na untuk mengocok penisku dengan mulutnya dan mengisapnya. Ternyata rasa nikmat itu kembali merasuki tubuhku dan semakin memuncak, sementara hisapan-hisapannya semakin panjang saja, rupanya dia juga menikmatinya. Hingga saat dia mengisapnya sangat panjang, aku pun tak tahan lagi. Dan aku pun mengingatkan Na agar menghentikan apa yang dilakukannya, karena kukira aku mau kencing. Ternyata setelah Na menghentikan sedotannya, malah penisku kemudian diraih oleh wanita itu, dan dimasukkannya ke mulutnya. Dimasukkannya penisku hingga tak tersisa, kemudian dihisapnya dalam-dalam, hingga aku tak tahan lagi.

Seiring erangan panjangku, aku merasakan hal yang luar biasa, tubuhku menggigil merasakan kenikmatan yang tiada tara. Penisku yang sudah dikeluarkan dari mulut wanita itu menyemburkan cairan putih kental yang langsung dicegat oleh mulutnya lagi dan ditelannya. Bahkan cairan yang tak lain adalah sperma pertamaku itu yang masih tersisa di penisku pun dijilatinya hingga tak tersisa. Setelah itu kurasakan lemasnya tubuhku, demikian pula yang kulihat pada Na maupun wanita itu.

Kemudian dengan kasar dia menyuruhku segera berpakaian kembali. Setelah itu kami diberi minuman seperti jus jeruk, tetapi setelah beberapa saat kami minum, kami merasa ngantuk berat, kemudian tertidur dan tak sadarkan diri. Kami baru terjaga saat banyak orang mengerubungi kami sambil membawa lampu yang sangat terang. Kami bingung melihat kejadian itu, karena kami berdua tidak lagi di dalam mobil, tetapi sudah berada di semak-semak dekat rumpun bambu bersama sepedaku.

Aku pun bertanya kepada mereka, katanya kami baru saja dibawa gondoruwo. Tapi sebenarnya tidak, karena besoknya kami berdua merasakan kesakitan pada alat kelamin kami, dan ketika kembali ke tempat itu, di sana memang aku menemukan bekas ban mobil. Untung saja kejadian itu tidak diketahui oleh masyarakat yang lainnya. Hanya saja kejadian tersebut membuatku menjadi seperti mendapatkan tekanan perasaan bersalah terhadap Na. Bahkan setelah itu, kadang-kadang timbul keinginan untuk mengulanginya, sehingga sering aku melampiaskannya dengan onani, atau melamun sendiri di kamar karena dihantui perasaan itu.

TAMAT

Bar - 2



Setelah menarik lepas celana dalam dan BH Selly, Rony menyuruh orang-orang yang memegangi Selly melepaskannya. Selly berusaha meronta dan menendang Rony, tapi ia kalah cepat. Rony langsung memegang kedua pergelangan tangan Selly yang ramping dengan satu tangan dan menekannya di atas meja dekat kepala Selly, sementara ia menempatkan pinggulnya diantara kedua kaki Selly. Rony kemudian berusaha membuka kaki Selly dengan kedua lututnya dan mengarahkan penisnya yang sudah keras ke vagina Selly dengan bantuan tangannya yang masih bebas. Dengan satu kali dorongan, Rony dengan keras memasuki vagina Selly. Selly menjerit sekeras-kerasnya, dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Rony memperkosa dirinya. Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Selly. Ia menyeringai setiap kali Selly menjerit kesakitan.

Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Selly dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Selly. Mereka mulai dengan memainkan buah dada Selly dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Seseorang menutup mulut Selly dengan tangannya sehingga seluruh jeritan Selly hanya berupa erangan tak jelas. Kaki Selly diangakat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Selly. Seseorang berusaha membuka belahan pantat Selly dan sesuatu yang basah dimasukkan ke liang duburnya. Dua buah penis menampari wajah Selly, mengenai pipi dan matanya.

Beberapa menit kemudian jeritan Selly hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Rony memperkosa Selly tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Selly, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga. Kepala Selly terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Selly yang masih tertutup oleh tangan. Rony mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Selly. Sperma, bercampur dengan darah, mulai mengalir keluar dari vagina Selly. Sperma Rony menyembur tanpa henti, hingga mengalir dan tergenang di atas meja bola sodok. Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan mereka pada diri Selly dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.

Selly hanya bisa berbaring tak bergerak ditindih oleh Rony, kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Satu-satunya yang telah Selly jaga, mulai dari SMA, universitas, hingga kini, adalah keperawanannya. Selly ingin menyimpan keperawanannya itu untuk malam pertama di hari pernikahannya. Ia telah diperkosa dan keperawanannya telah hilang.
"Gila! Dia masih perawan! Gue taruhan si Roy pasti nggak tau soal ini! Artis kayak lo masih ada yang perawan juga ya Selly, gue pikir lo udah kasihin ke produser lo!" kata Rony.

Ia menatap Selly yang masih terus menangis.
"Udah dong Selly, jangan nangis terus! Perawan lo udah ilang sekarang, nasi udah jadi bubur! Lo mustinya bangga ama diri lo, soalnya punya lo masih sempit banget! Pokoknya paling sempit dari semua yang udah pernah gue pake! Lagipula kita baru aja mulai!" katanya pada Selly.

Rony kemudian menarik penisnya keluar. Semua orang melihat bagaimana vagina Selly menjepit penis itu ketika penis itu perlahan keluar dari vagina Selly. Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Ia tidak terlalu terburu-buru. Sekarang, Selly dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Selly, ketika ia merasa tubunnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.
"Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!" bentak orang itu.

Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Selly akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Selly hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai. Sekarang Selly hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.

Selly kemudian berusaha berpikir bagaimana membuat semua siksaan ini semakin cepat berakhir. Ia berusaha mengingat adegan-adegan film-film erotis yang pernah dilihatnya. Ia berusaha mengingat apa yang harus dilakukan untuk mendorong seorang pria cepat mencapai orgasme.

Selly kemudian melingkarkan tangannya ke leher laki-laki yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu. Selly lalu melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu dan menggosokan kakinya yang terbungkus stocking ke pinggul dan pantatnya. Walaupun rasa sakit masih terus menyerang kewanitaan Selly, Selly terus saja melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis laki-laki itu masuk lebih dalam ke dalam vagina Selly, dibarengi oleh Selly dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Selly mengusapi rambut laki-laki itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan seakan-akan ia menikmati semuanya. Selly berusaha mengingat semua adegan erotis yang pernah dilihatnya, berusaha membuat laki-laki yang sedang memperkosanya segera mengalami orgasme.

Berhasil! Ia menyemburkan spermanya ke dalam vagina Selly yang sudah terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Selly. Selly berusaha membuat mereka orgasme secepat mungkin, tapi akhirnya Selly tidak bisa lagi menahan semua itu. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Selly lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya. Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Selly keras-keras hingga Selly menjerit kesakitan.
"Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!" bentaknya pada Selly.

Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Selly. Selly sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya. Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Selly. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Selly membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Selly. Seseorang memegangi kepala Selly, hingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu. Ketika orang itu puas ia menarik rambut Selly dan menamparkan penisnya ke wajah Selly.
"satu-satunya yang boleh lo mohon cuma ini tau? Lo sendiri yang masuk ke sini pake pakaian kayak gini dan lo mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti" Orang itu membentak Selly.

Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Selly sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Selly, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Selly kemudian menarik rambut Selly untuk membersihkan penis mereka. Dan ketika orang yang terakhir selesai Selly berbaring hampir tak sadarkan diri.

Wajah, buah dada, dan puting susu Selly seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Selly. Selly tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Selly harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya. Rambut Selly yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Selly hanya berbaring di atas meja bola sodok, kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya. Vagina Selly tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.

Dua orang menarik tubuh Selly turun dari meja bola sodok itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Selly dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Selly melihat meja bola sodok tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan. Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Selly didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya. Selly merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendoorng dan mengangkat tubuhnya. Ketika Selly membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.

Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Selly kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Selly diturunkan mengarah ke penis Rony. Denga sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Selly. Dan Selly sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit walaupun tidak lagi menyengat ketika pertama kali ia diperkosa oleh Rony tadi. Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Selly dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Selly dan berhenti tak bergerak. Selanjutnya Selly merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Selly panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Selly membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.
"Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!" kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Selly sambil tersenyum.

Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Selly yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Selly, kembali menyengat seluruh tubuhnya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Selly sebelumnya. Pikiran Selly menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Selly seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya. Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Selly hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Selly, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan. Kemudian dua orang terkahir tadi menarik tangan Selly, melingkarkan jari-jari Selly di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Selly, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.

Sekarang Selly sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Selly untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Selly sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Selly.

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Selly. Selly terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Orang di anus Selly lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Selly. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Selly tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu. Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Selly berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak. Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Selly. Selly kemudian merasakan getaran dari tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.

Orang-orang tadi bergantian memperkosa Selly di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Selly. Ketika Selly melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Selly, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.

Penis lain kembali masuk ke vagina Selly. Selly kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Selly melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya. Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.

Sepanjang malam Selly terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali. Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Selly, tubuh Selly tetap tak bergeming dalam posisi merangkak, Selly lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap dan tubuhnya jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

TAMAT

Bar - 1



Bar itu terletak di sudut kota, bagian paling gelap dari Jakarta. Bar itu bisa buka mulai dari pagi hingga pagi lagi, tanpa pernah kelihatan tutup. Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, pembuat onar. Wanita, sangat jarang, atau bisa dikatakan tidak pernah datang atau mengenali tempat itu. Mulai dari pukul 12 siang, sejumlah preman sudah mulai minum-minum, membuat pengunjung yang peminum biasa cepat-cepat pergi meninggalkan bar itu. Empat dari mereka bermain bola sodok dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony. Sekitar pukul tujuh malam seorang sosok wanita masuk. Ia sama sekali tidak cocok dengan tempat itu.

Selly, wanita itu, sudah dijanjikan akan dijemput oleh pacarnya sekitar pukul tujuh, dan pacarnya mengatakan agar ia berpakaian seksi dan sensual. Bagi Selly sendiri, itu bukan masalah. Ia menghabiskan sepanjang sore berbelanja dan berdandan. Ia kemudian mengenakan gaun malam hitam. Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya terlihat, tapi tidak terlalu banyak. Buah dada Selly tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun malam itu. Selly terlihat tinggi karena di kakinya ia memakai sepatu dengan hak setinggi sepuluh senti. Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut Selly, membuat kaki Selly yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, Selly harus berjalan perlahan, masuk ke dalam bar itu. Rambut Selly yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya. Secara keseluruhan penampilan Selly membuat bar itu semakin terasa panas.

Pacarnya bilang bahwa ia akan menjemput Selly untuk makan malam, tapi sekarang Selly sendiri tidak yakin apakah memang tempat ini yang dimaksudkan, setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali untuk bisa sampai ke tempat ini. Selly yang tidak melihat teman kencannya, memutuskan untuk memesan soft drink dan menunggu sebentar. Selly menghampiri tempat duduk kosong di sebelah meja bola sodok, dan duduk di situ berharap teman kencannya akan segera datang dan membawanya pergi dari situ.

Keempat orang yang sedang bermain bola sodok memandanginya sejenak dan mengenali Selly, mereka berkata bahwa mereka adalah fans berat Selly dan mengajaknya untuk ikut dalam permainan bola sodok mereka. Dengan sopan Selly mengucapkan terima kasih dan menolak tawaran itu, dan mengatakan bahwa ia sedang menunggu temannya.

Masing-masing dari keempat orang itu menatap Selly untuk beberapa saat, dan Selly sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Setelah minum-minum beberapa gelas kemudian, suasana semakin menakutkan bagi Selly. Mereka berdiri di sebelah Selly sambil mengusapi selangkangan mereka menunggu giliran untuk menyodok bola. Mereka mulai melontarkan kata-kata jorok seakan-akan Selly tidak ada di situ.
"Hei Non, gimana kalo lo buka kaki lo, jadi kita bener-bener punya lubang beneran buat disodok!" seseorang dari mereka berkata.
"Gimana kalo kita nyanyi sama-sama di ranjang Non?" yang lain menimpali.

Selly berusaha mengacuhkan mereka, tapi mereka terus melontarkan kalimat-kalimat jorok itu. Selly memutuskan untuk menunggu teman kencannya di luar sehingga ia tidak harus melihat orang-orang itu. Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahu Selly serta mendorongnya duduk kembali sementara ia sendiri duduk di sebelah Selly.
"Taruhan yuk?!, Kalo gue bisa masukin bola di sudut itu, lo kulum punya gue di mulut lo!" katanya keras, sambil kemudian menjilat dan mencium telinga Selly.

Selly hanya bisa memandangi dia dengan mulut terbuka tak percaya. Ia sama sekali tidak percaya mendengar perkataan laki-laki itu. Seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berbicara sedemikian vulgar kepadanya. Ketika Selly tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Selly, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Selly. Selly meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan. Orang yang lain kemudian berteriak bahwa sekarang giliran laki-laki itu untuk main. Ketika laki-laki itu bangkit, Selly merasa lega, tapi tidak lama. Laki-laki lain menggantikan orang itu dan dua orang lainnya menghadangnya di depan. Laki-laki yang bertaruh tadi menyodok bolanya. Ia kemudian melemparkan tongkatnya ke atas meja, memandang Selly sambil menyeringai, dan perlahan berjalan mendekati Selly.
"Lo utang satu kali sama gue!" katanya singkat.

Rony segera berlari mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang menarik Selly yang meronta dan menjerit, dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata kalau Selly bisa berteriak sekuat tenaga, tapi tetap akan melayani mereka apapun yang terjadi! Wajah Selly memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya. Selly berkata, dirinya tidak membawa banyak uang, tapi mereka bisa mengambil kartu kredit dan semua uang yang ada di dompetnya kalau mereka melepaskan dirinya. Laki-laki yang menang taruhan tadi hanya tertawa dan menurunkan ritsluiting celananya.
"Gue nggak butuh duit lo! Lo bisa simpen duit lo! Tapi yang pasti lo nggak bakalan bisa nyimpen badan lo cuma buat lo sendiri!" katanya.

Selly akan segera diperkosa beramai-ramai. Selly hanya mempunyai dua pilihan. Melawan dan berharap bisa melarikan diri, atau berusaha rileks dan berdoa mereka tidak melukai dirinya. Ketika Selly melihat sepuluh orang mengeliling dirinya, Selly menyadari ia harus menyerahkan dirinya.

Tiba-tiba, Selly dipaksa untuk berlutut. Rony tadi memegang rambut dan kepala Selly hingga tidak dapat bergerak. Laki-laki yang bertaruh tadi maju mendekati Selly. Ketika ia mengeluarkan penisnya, ia memerintahkan Selly untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Selly dan melanjutkan memperkosa mulut Selly. Rony tadi mendorong kepala Selly ke depan. Laki-laki di depan Selly memajukan penisnya mendekati muka Selly. Ketika penisnya sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Selly untuk membuat Selly membuka mulutnya.

Ketika Selly kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, ia mendorong penisnya ke dalam mulut Selly. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Selly telah melingkar di penisnya dan membiarkan Rony di belakang Selly membantunya. Rony tadi mulai mendorong dan menarik kepala Selly. Kepala Selly bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Selly yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Selly tersedak, tapi Rony tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Selly. Selly dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
"Lumayan! Anget dan empuk! Tapi gue pikir dia musti banyak berlatih soal beginian." Kata laki-laki di depan Selly.
"Mungkin dia belon pernah pake mulutnya? Gimana? Lo udah pernah pake mulut lo Selly sayang?" tanya yang lain.
"Tentu aja dia pernah! Mulutnya nggak dipake buat makan doang tau?! Liat aja tuh bibir, punya lo kayak dijepit sama tuh bibir kan?" kata Rony sambil melihat dari bahu Selly.

Laki-laki pertama tadi lalu mendorong Rony untuk menjauh. Tangannya kemudian menjambak rambut Selly dan mulai menggerakannya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Selly. Semua orang dapat mendengar suara dahi Selly yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Selly yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.

Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Selly hingga hidung Selly terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Selly. Dan dari sudut mulut Selly sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Selly. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Selly ke atas gaun hitam yang dikenakan Selly. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Selly, Selly megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.

Dua orang kemudian memegangi Selly sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Selly sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock karena sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya, tapi mereka tetap memeganginya.

Ketika semuanya telah telanjang bulat, ia diangkat dan diletakan di atas meja bola sodok dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Selly terbuka lebar dan tubuhnya telentang, lampu di atas kepala Selly membuat matanya terpejam karena silau. Rony mendekat dan naik ke atas meja.

Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Selly. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Selly untuk mengangkat kepala Selly hingga Selly bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina Selly. Orang yang memegangi kaki Selly berusaha membuka kaki Selly lebih lebar, tapi terhalang oleh gaun yang dikenakan Selly. Rony langsung menarik gaun tersebut robek hingga pinggang Selly.

Orang-orang berseru kagum ketika melihat apa yang dikenakan Selly di bawah gaunnya. Ia mengenakan stocking warna hitam dengan celana dalam sutra berenda yang mirip dengan bikini. Orang yang memegang tangan Selly lalu menarik gaun bagian atas, terlihatlah BH warna hitam yang menutupi separuh dari buah dada Selly. Puting susu Selly tampak mencuat dari balik BH yang tipis dan berenda itu.

"Gila! Lo pake pakaian kayak gini dan lo musti dipaksa buat ngulum punya dia! Kata Rony.
"Mungkin lo nggak suka sama kita semua ya? Lo anggep kita nggak pantes lo layanin, gitu? Jadi lo pikir cuma Roy yang berhak nidurin lo? Lo dandan kayak gini biar Roy napsu sama lo kan? Asal lo tau aja Selly, buat sementara waktu Roy atau siapapun juga nggak bisa nidurin lo! Karena mereka semua musti nunggu lo selesai ngelayanin kita semua di sini! Sekarang kita liat seberapa hotnya lo!".

Selly terpana, menyadari nama teman kencannya adalah Roy! Roy yang mengajak dirinya makan malam! Roy yang meminta agar Selly berpakaian seksi! Roy yang memintanya agar menunggu di bar ini Roy telah menjual tubuh Selly untuk para preman ini!

Bersambung...
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com