Menampilkan entri yang lain dengan label Sesama Pria. Tampilkan entri lawas
Menampilkan entri yang lain dengan label Sesama Pria. Tampilkan entri lawas

Senin, 18 Januari 2010

Satpam baru di kantorku



Pagi itu seperti biasanya aku datang kekantorku pagi-pagi sekali karena memang banyak pekerjaan yang belum selesai kemarin dan harus kuselesaikan dengan secepatnya agar pekerjaan hari ini tidak makin bertumpuk lagi. Ketika sampai dipintu gerbang kantorku, aku disapa oleh seseorang yang belum pernah kukenal sebelumnya.

"Selamat pagi, pak" katanya sambil berdiri tegap dengan sikap penuh hormat.

Akan tetapi aku tidak membalas salamnya tersebut, malahan aku melongo dengan rasa terpesona yang begitu hebat, ternyata di depanku telah berdiri sesosok mahkluk yang begitu sempurna, gagah, ganteng, mempunyai bodi yang atletis, berkumis sangat rapi penuh wibawa dan menjadi pujaan para wanita apalagi aku yang juga merasakan getar-getar itu sehingga aku jadi salah tingkah dihadapannya. Umurnya masih sangat muda sekali kira-kira 23 atau 24 tahun. Akhirnya aku tersenyum padanya setelah terpana untuk beberapa saat dan segera kulangkahkan kakiku untuk memasuki kantorku.

Hari itu aku begitu gelisah terbayang akan wajahnya, penampilannya yang begitu mempesona sehingga hari itu yang seharusnya aku menyelesaikan pekerjaanku kemarin akhirnya jadi kacau balau karena aku tidak bisa konsentrasi, karena disatu sisi aku hendak segera menyelesaikan pekerjaanku namun disisi lain bayangan satpam baru dikantorku itu begitu membekas dalam ingatanku, akhirnya aku jadi serba salah dan salah tingkah dalam tindakanku hari ini.

Jam istirahat siang akhirnya datang juga, aku segera cepat-cepat makan siang, dengan harapan masih ada waktu yang tersisa pada jam istirahat sehingga ada kesempatan untuk mencari informasi atau sekedar say hello padanya. Dan kesempatan itu akhirnya datang juga, ketika aka melangkahkan kakiku memasuki kantorku, aku tertegun lagi dengan senyumnya yang mengembang dihiasi kumis yang menawan dan kudengar,

"Selamat siang, pak"
"Siang" jawabku singkat.
"Eh kamu orang baru ya?" tanyaku.
"Eh, iya pak, baru hari ini saya bertugas disini" jawabnya.
"Kamu dari pendidikan akabri ya" tanyaku memancing.
"Oh, nggak pak, hanya pendidikan satpam saja selama enam bulan"
"Oh, kukira kamu dari akabri"
"Masak ada potongan sih pak, kalau saya ini jadi tentara"
"Lho, kenapa nggak, bodi boleh, tampang meyakinkan, wajah keren, kumis yahut terus apa yang kurang" cerocosku.
"Duitnya pak, yang kurang" jawabnya dengan tertawa, dan kelihatannya dia sudah makin akrab saja dalam obrolan kami siang hari itu. Tanpa terasa waktu setengah jam telah berlalu dan aku segera kembali melangkah ke dalam sambil bertanya, "Nanti pulang jam berapa?"
"Oh nanti jam 14.00, pak" jawabnya sambil tersenyum manis sekali yang makin membuatku tergila-gila.

Setelah aku mengadakan pendekatan setiap siang selama dia dinas jaga pagi sampai sore, maka suatu siang aku memberanikan diri untuk mengajaknya nonton sore nanti selepas dia tugas jaga pada pukul 14.00, yang berarti masih ada waktu dua jam sebelum aku pulang kerja pada pukul 16.00. Yang pasti kami sudah janjian disuatu tempat yang tidak jauh dari kantor kami. Siang itu rasanya jarum jam berjalan begitu lambatnya bagiku, seolah jalan jam hari ini seperti cacing yang sedang merayap. Begitu jarum jam menunjukkan pukul 16.00 tepat aku segera meninggalkan tempat dan segera menuju tempat redevous kami, dan ternyata dia sudah menungguku dengan pakaian preman yang lebih sportif kurasakan dan dia benar-benar cakep dan ganteng dengan

T-shirt dan celana jeans belelnya, makin nampak dadanya yang padat dan bidang itu, sehingga tanpa terasa aku segera merangkulnya dan aku segera ngamplok diboncengan motornya itu. Dan kami segera menuju studio 21 untuk nonton bareng, yang penting pokoknya bisa pergi dengannya perkara film yang diputar bagus atau nggak tidak jadi masalah, dan memang ketika didalam gedungpun aku tidak bisa konsentrasi untuk mengikuti alur ceritanya, karena dalam benakku seolah ada sebuah film yang sedang diputar dan yang menjadi pelakunya adalah aku dan dia, gimana yaa rasanya kalau dipeluk dia, dicium dia dan oh, kalau aku bisa ngemot penisnya dan menelan pejuhnya dan..

Dan.. Masih banyak lagi bayangan-bayangan indah bersamanya, sampai tanpa terasa tangan kiriku mulai meraba pahanya dan dia diam saja ketika tanganku membuat gerakan mengelus-elus pahanya dan segera kuhentikan setelah aku sadar dari lamunanku, ketika kulirik dia, tidak ada reaksi hanya senyumnya yang memukau dalam keremangan suasana gedung bioskop. Aku tidak berani lagi untuk melangkah lebih jauh walaupun suasana gelap itu cukup mendukung untuk memulai yang jadi impianku selama ini. Kutahan hasratku sekuat-kuatnya dengan mencoba konsentrasi mengikuti alur cerita film itu. Ketika film telah usai, kutawarkan kepadanya untuk makan malam bersama dan diapun setuju, dan segera kami hampiri pujasera yang ada dilantai bawah dari gedung studio itu, ketika kami makan bersama iseng-iseng aku tanya padanya,

"Eh, kamu sudah punya pacar yaa?"
"Ah, mana ada orang yang mau sama saya, pak" jawabnya.
"Lho, masak nggak ada yang mau sama cowok seganteng dan secakep kamu gini, kalau misalnya aku jadi cewek gitu sudah kukejar terus tanpa kasih ampun" sambungku.
"Emangnya ada cewek yang kayak gitu, setahu saya cewek-cewek sekarang pada jual mahal tuh, pak" jawabnya lagi.
"Kalau misalnya ada seseorang yang mengharapkan kamu menjadi sahabatnya, kawannya, tempat curahan hatinya dan tempat berbagi suka dan duka, apakah kamu mau menerimanya tanpa ada pamrih akan tetapi dengan ketulusan hati yang paling dalam" kataku mulai romantis.
"Ah, mana ada yang mau berkawan dengan saya ini, pak" "Saya khan cuma satpam, gaji saya berapa sih pak?" jawabnya lagi.
"Kalau misalnya aku mau jadi sahabat kamu gimana?" tanyaku, sambil aku mencari jawaban dalam matanya yang terbelalak karena terkejut.
"Ah, yang benar sih pak" tanyanya lagi.
"Lho, emangnya aku punya bakat berbohong, apalagi sama kamu" lanjutku.

Dia tidak bisa menjawab hanya diam saja, dan tertunduk mukanya, entah apa yang dipikirkan dan aku sendiri juga belum berani untuk memulainya lebih jauh lagi karena aku juga belum tahu bagaimana profil dia yang sebenarnya dibalik keramahan, keakraban yang telah kita bina selama ini, siapa tahu nanti setelah dia mengetahui aku punya maksud yang lain dibalik kebaikanku padanya, malahan dia akan meninggalkan aku dan membenci aku, aku sendiri jadi gundah menghadapi semua ini. Tapi hati kecilku berontak "Semuanya harus dicoba dulu, apapun resikonya nanti urusan belakang, pokoknya berusaha dulu, dan kalau gagal yaa cari yang lain"

Mataku bersinar kembali seolah mendapat kekuatan baru dan semangat baru yang dipompakan ke dalam jiwaku, ketika kulihat dia masih tertunduk segera kuberanikan diriku untuk menyentuh tangannya dan sekaligus menggenggamnya, reaksi mulai terlihat ketika dia menatapku dengan pandangan mata yang kosong, ketika kuremas tangannya ada sedikit senyum yang dipaksakan tersungging dibibirnya.

"Ada apa?" tanyaku "Koq kamu kelihatan binggung sih?"
"Ah, nggak tahulah pak, saya jadi serba salah nih terhadap bapak, bapak begitu baik, penuh perhatian dan menghargai saya sebagai manusia seutuhnya tanpa membedakan derajat dan jenjang kedudukan" kemudian "Saya jadi terharu pak, baru kali ini saya benar-benar merasakan saya dihargai dan mendapat tempat dihadapan bapak" lanjutnya.
Agar suasana tidak beku dan kaku seperti itu terus menerus, akhirnya aku berkata "Yook, kita pulang aja, sudah malam nih"

Dia menggangguk dan segera berdiri menghampiriku dan kami berjalan seiring sambil tanganku memeluk pundaknya, kalau tadinya aku merasakan kecanggungan dalam dirinya ketika kupeluk, tetapi sekarang sudah mulai hilang rasa canggung dan segan itu, dan ketika sampai dilapangan parkir kurasakan tangannya sudah berani memeluk pinggangku dan oh bagai melambung rasanya ketika itu.

Ketika aku sudah diboncengan motornya, aku beranikan untuk memberi usul padanya, "Gimana kalau untuk malam ini kamu nginap aja dirumahku, aku tinggal sendirian koq, dan lagi hari sudah larut malam, besok kita bisa berangkat kerja barengan" tanyaku

Dan kulihat anggukan kepalanya sambil menoleh kebelakang dan tersenyum, tapi aku tidak bisa menafsirkan arti senyumannya itu, yang makin membuatku jadi panas dingin nggak karuan merasakan kejadian demi kejadian sepanjang sore sampai malam ini. Ah nggak tahulah pokoknya what happened will be will be, apapun yang terjadi terjadilah.

Sampai perjalanan malam yang dingin berakhir di depan rumahku, rasanya aku enggan turun dari boncengannya karena tanganku masih erat merangkul pinggangnya dari belakang sambil memeluk punggungnya yang terasa hangat dan kokoh itu. Akhirnya dengan rasa ogah-ogahan akhirnya aku turun juga dan kupersilahkan dia masuk dan memarkir motornya digarasi rumahku. Setelah masuk kutawarkan minuman kepadanya, tapi dia menolak katanya khan kita baru saja makan dan minum. Malah dia menyarankan untuk nonton TV sambil tiduran dan ngobrol, ok itu ide yang bagus juga dan segera dia kuajak ke dalam kamarku karena memang satu-satunya TV yang ada dirumah itu hanya ada didalam kamar tidurku. Segera kubuka seluruh bajuku dan aku segera mandi dengan air hangat, dan kurasakan badanku segar sekali setelah selesai mandi dan aku juga menyarankan kepadanya untuk mandi juga dan dia setuju untuk mengikuti jejakku yaitu mandi dengan air hangat agar badan jadi segar. Ketika dia mandi aku memakai sarung saja tanpa celana dalam dan itu sudah menjadi kebiasaanku setiap malam, karena kalau harus memakai celana dalam rasanya risih semua.

Kemudian kudengar pintu kamar mandi dibuka dan kulihat dia keluar kamar mandi hanya dengan memakai celana pendek saja tanpa baju, sehingga dadaku berdesir dalam hati aku berkata "Oh my good, sungguh sempurna betul bodi yang dimiliki mahkluk yang satu ini, dan itu merupakan idamanku, dada bidang dengan rambut yang melebar didada menyempit dipusarnya kemudian melebar lagi dan makin melebat di. Di. Dibalik celana pendeknya itu pasti sangat lebat sekali, karena dikaki yang kokoh dan pahanya yang padat berisi itu, bulu yang tumbuh juga begitu lebat.

Aku jadi bengong dan melamun lagi dengan pandangan mataku yang kosong menatapnya, hingga aku tersadar ketika kudengar suaranya

"Ada apa, pak?"
"Apa bapak sedang tidak enak badan?" tanyanya lagi.
"Oh, nggak" jawabku.
"Cuma sedikit pegal ini pinggang dan tengukku" lanjutku.
"Boleh saya memijat bapak" katanya memberanikan diri.
"Boleh, kalau kamu mau" kataku lagi.

Akupun segera menelungkupkan badanku dan dia mulai memijat tenggukku, kemudian turun kepunggungku dan begitu kurasakan hangatnya tangan yang begitu kokoh dan yang menjadi idolaku. Sampai tak terasa, aku merasakan kalau penisku sudah mulai menggeliat bangun dan tegang, tapi tentunya dia tidak mengetahui kalau aku lagi BT karena aku dalam posisi telungkup, hingga kurasakan tangannya mulai menjalari pinggang dan pinggulnya dan turun lagi kepantatku yang kenyal itu, dan oh ini yang paling bikin aku nggak kuat diperlakukan seperti itu, tapi aku masih tetap bertahan. Sampai kudengar permintaannya untuk telentang, dalam hati aku berkata, "Mati aku, padahal aku nggak pakai celana dalam dan penisku lagi ngaceng penuh, gimana nih"

Tapi aku pura-pura aja cuek, kubalikkan badanku dan otomatis selakanganku membentuk sebuah tenda dengan satu tiang. Kulirik dia, aku ingin tahu reaksinya, ternyata dengan cueknya dia mulai memijit kakiku dari bawah dan mulai ke atas, dan hal ini makin membuatku blingsatan karena nggak tahu apa maksudnya dia memperlakukan aku seperti itu, sebetulnya dia itu mau apa nggak sih, tapi jangan siksa aku seperti ini dalam gejolak berahiku yang makin tak tertahan ini. Tapi aku nggak tahu permainan apa yang sedang dia jalankan, kurasakan pijitannya sampai dipahaku dan dia juga mulai menyingkap sarungku sampai hanya tiangku saja yang masih tertutup sarung, akhirnya aku tak tahan dan hanya bisa memejamkan mataku saja mencoba untuk menepis semua angan dan gejolakku sendiri. Sampai kurasakan ada tangan hangat yang menggenggam penisku yang ngaceng dan bergerak maju mundur sambil dipijit-pijit, aku hanya bisa melenguh dan dia mungkin tahu yang kukehendaki selama ini, kudengar suaranya "Ih, penisnya bapak gede juga yaa?"

Karena aku tidak tahan diperlakukan seperti itu akhirnya tanganku meraih lehernya dan kubaringkan dia disisiku dalam keadaan telentang, dan tanpa berpikir lebih jauh lagi segera aku bangkit dari tidurku dan langsung nongkrong diatas tubuhnya yang padat berisi itu, dan mulai kuciumi pipinya, lehernya, telinganya dan kudengar suara lenguhannya, dan kembali lagi kebibirnya dan kunikmati rangsangan kumisnya yang menyentuh bibirku aku semakin tambah horny saja apalagi dengan kesegaran tubuhnya yang baru saja mandi. Kutelusuri lehernya, dadanya yang berbulu lebat dengan putingnya yang coklat kemerahan yang sempat kukagumi dan membuatku melongo sekeluarnya dia dari kamar mandi, sekarang sudah ada dihadapanku dan sedang kukecupi. Lalu turun lagi sampai kepusarnya yang berbulu lebat dan kasar itu yang makin membuatku terangsang hebat, dan dengan lidahku kutelusuri buku-buku kasar yang mengecil dipusar dan mulai melebar lagi dibawah pusar sampai tersembunyi dibalik celana pendeknya yang masih menjadi misteri itu.

Lalu aku melakukan cumbuan makin menurun sampai dikaret celana pendeknya dan kugigit karet itu sampai kebawah, dengan demikian makin nampak jelas tonjolan otot yang tegang perkasa itu dibalik celana dalamnya, karena aku sudah nggak sabar lagi segera kupelorot celana pendeknya sampai terlepas dan segera kutangkap tonjolan dibalik celana dalam itu dengan mulutku yang seperti sedang kehausan itu dan menemukan sumber air yang begitu segar. Kupermainkan untuk beberapa saat dan kulihat dia makin menggelinjang keenakan dengan cumbuanku itu, dan segara kugigit lagi celana dalamnya dengan gigiku ke arah bawah, lalu kurasakan tamparan dipipiku ketika aku membuka celana dalamnya, ternyata penisnya yang ngaceng tegak berdiri itu memantul kena kejutan dari tarikanku tadi dan terlepas bebas mengenai pipiku, kurasakan hangat, kaku dan ohh.. Is't fantastic.. Oh ternyata otot kokoh itu begitu besarnya kira-kira panjangnya 21 cm dan garis tengahnya 5 cm, yang makin membuatku tambah gila dan makin bersemangat lagi untuk menggulum ujungnya yang sudah merembes basah dengan cairannya yang keluar dan warnanya kemerah-merahan yang makin membuatku terangsang hebat.

Tanpa menunda-nunda waktu lagi segera kukulum, kuhisap dan kumasukkan ke dalam mulutku sehingga rasanya mulutku tidak mampu lagi menerima penis yang segede itu walaupun aku sudah menggangga selebar-lebarnya, yang bisa masuk hanya kepalanya saja sedangkan batangya tidak sampai seperempatnya, mulutku terasa sudah begitu penuh. Tapi nggak apa-apa, demi dia akan kuberikan servis yang sebaik-baiknya dan akan kukerahkan seluruh kemampuanku untuk memuaskan dia. Setelah aku puas mencumbui seluruh badanya dan penisnya, maka sekarang aku yang ganti tidur telentang disampingnya, dan rupanya dia juga ingin berbuat sama seperti yang telah kulakukan padanya, dia mulai menelungkup diatas pahaku dan setelah itu kurasakan ada rasa hangat dan lembut diujung kepala penisku dan ketika mataku kubuka, ternyata dia sedang menghisap penisku dengan tenangnya dan tanpa ada rasa ragu-ragu lagi dan dengan penuh kelembutan dijilatinya daerah V yang sangat enak sekali untuk dirangsang itu. Aku bertambah menggelinjang keenakan dan kegelian yang makin membuatku tambah terangsang hebat.

Akhirnya aku berinisiatif sendiri tanpa persetujuannya terlebih dulu, kuambil lotion, kuoleskan pada penisnya yang ngaceng tegak berdiri dengan angkuhnya dan besar itu, sambil kukocok-kocok naik turun, sedangkan tanganku yang satunya lagi mengambil lotion dan kuoleskan pada lobangku sambil memasukkan jariku, satu jari sampai lancar, dua jari dan tiga jari, walaupun aku sebetulnya ngeri juga melihat gede penisnya yang seperti itu jangan-jangan lobangku nggak mampu untuk dimasuki, dan gimana rasanya, apakah sakit, enak, nikmat atau oh nggak tahulah yang penting dicoba dulu pikirku dalam hati.

Setelah aku merasa sudah siap, segera aku naik ke atas tubuhnya dengan posisi duduk diatas selakangannya dan segera kubimbing penisnya dengan tanganku untuk memasuki lobangku, mulanya terasa enak, ada benda hangat yang mencoba untuk menerobos masuk, tapi makin lama kurasakan sakit sekali saat benda itu mulai menembus masuk sampai kurasakan kepala penisnya sudah masuk semua, aku menghentikannya untuk beberapa saat sampai rasa sakit itu berangsur-angsur hilang, kuteruskan lagi, berhenti lagi, kumasukkan lagi dan berhenti sejenak sampai tak terasa seluruh batangnya sepanjang 21 cm itu masuk seluruhnya dalam lobangku, aku diam sejenak untuk merasakan nikmatnya dan hangatnya penis segede itu didalam lobangku. Kemudian aku mulai mengambil gerakan naik turun diatas tubuhnya, kulihat dia juga menikmatinya dengan mata terpejam dan dada turun naik dengan nafas yang tersengal-sengal, sekali-kali diiringi dengan desisan dari mulutnya yang dihiasi kumis tebal itu.

"Oooh, ooh enak, pak"
"Enak sekali pak, rasanya kayak dapat perawan saja" lenguhnya

Aku sudah nggak peduli dengan segala ocehannya itu, setelah cukup lama aku dalam posisi seperti itu, akhirnya kucabut penisnya dari lobangku, dan seakan dia merasa menyesal dengan kejadian itu. Aku segera mengambil posisi terlentang sambil mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi dan kusuruh dia untuk mengentot aku dari atas agar dia bisa bergerak bebas menurut gayanya, dan dia mengerti apa yang kuinginkan. Segera dia bangkit dari posisi tidurnya dan jongkok di depan lobangku sambil memegang penisnya, dia masukan perlahan-lahan penisnya yang gede itu dan bless, amblaslah semua penisnya dalam lobangku, dan segera dia melakukan gerakan maju mundur sambil memanggul kedua kakiku dibahunya agar seluruh penisnya bisa masuk semuanya. Akupun tidak tinggal diam, segera kukocok penisku sendiri dengan tanganku sambil melenguh-lenguh keenakan.

"Aoohh, oohh"
"Auucchh, ayo cepet kamu keluarin, aku mau keluar nih" kataku.
"Iya, bentar lagi sudah mau nih" katanya lagi.
"Kita keluarin bareng-bareng yaa" kataku lagi.
"Iya" jawabnya singkat.
"Ooohh, oohh, sudah mau keluar nih"
"Ok, tunggu sebentar, oohh, yuupp, aayyoo" kocokan tambah keras pada penisku dan "Aaahh"

Cret, cret, cret, pejuhku menyembur diatas perutku dan dadaku dan kulihat dia segera mencabut penisnya dan dikocoknya dengan cepat diatas perutku dan cret, cret, cret, cret menyemburlah pejuhnya yang sangat banyak sekali diatas perutku dan dadaku bahkan ada sebagian yang mengenai mukaku. Bercampurlah pejuhku dan pejuhnya, kemudian dia memelukku dan badan kami serasa licin oleh pejuh kami berdua sambil digesek-gesekan diantara badan kami yang basah oleh keringat, basah oleh pejuh dan oh nikmatnya malam itu.

Kami segera bangkit dan masuk kekmar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat kalau tadinya kami mandi sendiri-sendiri, sekarang kami mandi berduaan, sambil saling menggosok, saling menyabuni dan kadang-kadang dengan manja kupegang penisnya yang besar itu walaupun sudah tidak tegang lagi dan kukecup ujungnya dengan bibirku.

Akhirnya, sejak malam itu dia pindah kerumahku yang memang kutempati sendirian daripada dia kehilangan uang lagi untuk kontrak kamar dan biarlah dia menjadi satpam dikantorku dan juga satpam pribadi buat diriku kalau dia tidak sedang dinas jaga malam.

Tamat

Renjana cinta



Dengan tergesa-gesa aku merapikan lembaran kertas kerja yang baru saja kuselesaikan. Di ujung pintu, IF, tersenyum berdiri menanti diriku.

"Hai, bagaimana perjalanannya tadi, macet kah? Aku berkemas-kemas dulu ya?" Sahutku membuka pembicaraan.
"Biasa, Surabaya. Tanpa macet, bukan Surabaya namanya" kata IF sambil berjalan masuk dan melihat-lihat tampilan foto-fotoku yang tergantung di dinding.
Asal tahu saja, aku senang di foto. Untuk menyalurkan hobby ini, aku sudah membuat beberapa portofolio berisi kumpulan foto-fotoku dalam berbagai pose. Masing-masing dalam satu tema. Agar tambah gaya, ada beberapa foto yang kubuat seolah cover majalah. Selaksa penampilan seorang model terkenal. Kuberi pigura dan kugantung di ruang kerjaku.

He..he..he.., lucu juga ya? Kadang aku tertawa sendiri apabila mengingat hal ini. Tapi percayalah, aku belum gila hanya karena aku terlanjur tertawa sendiri. Begitu juga untuk ikut ke terjun ke modelling. Tidak, aku belum punya pikiran ke arah itu. Selain pada dasarnya, aku memang tidak suka dengan kesan gaya hidup yang dicitrakan profesi kelompok itu. Namun, tidak tertutup kemungkinan pandanganku akan berubah nantinya.
Nah, foto dengan baju baju merah itu, aku paling suka. Kau bisa melihat model jambulku seperti penyanyi Tony Curtis, penyanyi tahun 50-an. Kalau sekarang ini bisa dimisalkan seperti penyanyi Ricky Martin. Awalnya, aku kaget juga melihat hasil pemotretannya. Aku bisa terlihat seperti itu, cute and boys banget. Pantes saja, IF, kekasihku, sangat kesengsem dengan foto itu. Karena itu, kemarin aku kirimkan lembar copy pic tersebut kepadanya.

Sebenarnya, aku terlahir sebagai seorang yang pemalu dan introvert. Sejak kecil sampai saat ini, aku belum pernah bisa untuk memulai sekedar suatu percakapan ringan sekalipun kepada orang yang belum kukenal. Bahkan untuk ucapan kata pembuka suatu perhubungan antar pribadi. Seperti, misalnya, ucapan kata "Hai.., apa kabar?".
Oleh sebab itu, banyak pihak yang kemudian menganggapku sebagai seseorang yang sombong dan dingin. Untuk membuat pledoi bahwa anggapan itu tidak benar, aku tidak punya cukup nyali. Konsekuensi dari hal ini adalah sedikitnya kawan atau sahabat yang kumiliki.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan IF, seorang fresh graduate muda berbakat. Aku mengatakannya demikian, sebab aku telah terpikat, tidak hanya oleh tutur kata dan sikapnya yang elegant namun juga oleh pemikirannya yang brillian. Selain juga oleh bentuk fisik dan tampilan rupa yang menawan.

Tidak munafik, kesempurnaan sosok tubuhnya merupakan pelengkap akumulasi potensi pada dirinya. Didasari keinginan kuat untuk mengenal dan mendapatkan IF–lah yang membuatku mampu melepaskan himpitan rasa malu dan perasaan introvet-ku. Sehingga aku tidak sekadar berhasil mengenalnya. Bahkan menjadikannya sebagai belahan jiwaku, kekasihku.

Aku dapat menghabiskan waktu bersamanya dengannya tanpa terasa. Dari bermula diskusi soal cita-cita, politik, budaya, arsitektur, hingga soal culinary, busana, dan asmara. Duiele.., segitunya. Tapi bener loh, dari IF aku jadi belajar banyak. Kisah ini hanya penggalan pengalamanku dalam baku asmara dengan IF.

Awalnya, aku bertemu IF dalam liburanku di San Moreno, Italia. Kota berhawa sejuk pegunungan, seperti pucak pass, batu, atau bukit tinggi-nya Indonesia. Memang, untuk pilihan tempat, aku lebih menyukai sesuatu yang tidak terlalu ramai, seperti misalnya Milan, atau Roma yang sangat metropolitan itu. Ternyata, IF pun punya selera sama dalam memilih tempat berlibur. Karena itulah kami dapat berkenalan dan berlnajut sampai saat ini.
Setelah menerima pecahan lira sebagai uang kembalian cappuccino yang kami minum, aku mengundang IF bertandang ke caravan-ku. Aku memang, sengaja, membawa caravan sendiri yang aku tinggalkan di camping ground (aku lupa nama tempatnya), yang banyak terdapat di Italia dan juga negara-negara Eropa lainnya.

Dalam mengisi vakansi aku memang senang bepergian dengan menyewa caravan. Meski agak repot, namun aku dapat menikmatinya. Sebab bisa berhenti disembarang tempat yang aku suka. Yang lebih penting, aku bisa bersikap just the way I am. Seperti apa adanya. Mengalir begitu saja. Sama keadaanya seperti ketika kau pertama kali mengenal IF. Meski aku harus berjuang keras mengalahkan rasa malu dan debar-debar saat pertama kali sayang hello to him. Sekadar alasan pembuka percakapan saja. Dan, ternyata I made it.

Tinggal di areal perkemahan (camping) merupakan salah satu pilihan gaya liburan yang cukup populer di negara-negara Schengen. Tarif sewa kapling, tidak jarang, menyamai rate kamar hotel berbintang. Harga yang harus dibayar hanya untuk sekedar retribusi lokasi parkir caravan dan mobil, dua titik stop kontak untuk mendapatkan arus listrik serta pemakaian fasilitas kamar mandi dan dapur umum sesuai jumlah orang yang ikut.

Dalam perjalanan pulang ke camping ground, kami singgah ke supermaket. Selain untuk berbelanja, juga untuk membeli vaginal lubricating jelly dan kondom. Aku tidak membawanya. Sebab, aku tidak berfikiran dalam perjalanan ini akan ketemu dan menjalin cinta dengan seseorang. Apalagi yang seperti IF.

Terus terang, aku sangat pemilih dan memang tidak mengira akan bertemu seseorang seperti dia. Hal ini, aku lakukan sebagai concern-ku terhadap sex safe, saja. Lain tidak. Oh ya, vaginal lubricating jelly, sebenarnya, hanya merupakan cairan bening. Tidak berwarna dan tidak berbau. Mirip seperti odol. Fungsinya untuk melumasi liang vagina agar tidak terlalu kering dan menyebabkan rasa sakit pada saat penetrasi penis ke dalam vagina. Aku biasa menggunakannya untuk melumuri penis dan permukaan asshole apabila sedang ingin melakukan hubungan anal. Selain berfungsi sebagai disenfektan, juga mereduksi bau tak sedap, dan tidak menimbulkan rasa panas pada penis atau liang dubur. Berbeda halnya apabila menggunakan hand body lotion, shampo atau minyak jelantah bekas pakai menggoreng ikan peda.

Tanpa peralatan itu pun sebenarnya juga tidak apa-apa. Namun, entahlah alam bawah sadarku selalu mensyaratkan hal itu, walau dalam praktek, malah sering tidak terpakai. Apalagi kalau sudah terlalu bernafsu. Seperti ketika aku bersama IF. Untungnya, IF, juga mengerti dan tidak tersinggung karenanya. Sebab, ada juga yang merasa tersinggung ketika aku menyarankan penggunaan kondom pada anal intercourse.

Setelah menyimpan semua barang belanjaan di dalam caravan, aku menyiapkan makan malam. Dan IF membantu menata meja. Selesai dengan pekerjaannya, kemudian IF pergi ke pemandian umum untuk bersih-bersih badan, sementara aku menyelesaikan masakan. Begitu IF datang mengambil alih pekerjaanku, menyiapkan makan malam, aku pergi mandi.

Usai mandi aku melihat meja sudah tertata rapi, dengan satu botol wine di sana. IF duduk seraya tersenyum penuh arti menatapku. Aku membalasnya dengan kedipan sebelah mata. Denting gelas wine mengakhiri rangkaian makan malam di dalam caravan.

Di luar, kulihat lampu taman sudah mulai menyala. Pertanda hari beranjak gelap. Setelah mengecek keadaan di luar dan menutup vitrage dan mengunci pintu caravan, kami melanjutkan mengobrol.

Sampai kemudian, aku tidak tahu entah siapa yang memulainya, karena saat sadar, ternyata, kami sudah saling berpagutan dan melumat. Desah romatis suara IF makin membuatku bergairah. Kutelusuri leher belakang dan daun telinganya dengan sapuan basah lidahku. Membuat badannya jadi menggelinjang meliuk-liuk.

Tanganku merayap menelusup di balik t-shirt yang dikenakannya. Kuremas-remas dadanya yang gempal. Terasa olehku puting susunya yang mengeras. Kupermainkan puting itu dengan jepitan lembut jemariku. Desah suaranya yang parau adalah isyarat ia telah terbakar panasnya api percumbuan pembuka.

IF menjulur-julurkan lidahnya ke atas langit-langit mulutku yang segera pula kusambut dengan hisapan kuat pada ujung lidahnya. Kulihat mata IF mengerjap-ngerjap.
Kami saling melumat dan memagut. Satu satu pakaian yang melekat mulai terlepas dari tubuh. Harum alami tubuh IF, ditunjang oleh bentuk badanya yang padat 175/65, membuatku semakin hilang akal dan pikiran.

Bagai kucing liar yang kelaparan aku menjilati tubuh IF yang tergolek bugil dihadapanku. Kusedot-sedot puting susu IF seraya meremas-remas dadanya. Kuhirup aroma khas rerimbunan bulu rambut di bawah lengannya dengan sesekali menjilat dan menggigit sambil terus menggosok-gosok penisnya membuat IF tersengal-sengal menuju ke titik tujuan.

Kembali ku lumat bibirnya dan kuhisap saliva dari mulutnya sambil tanganku bergerilya ke sekujur tubuhnya makin membuat tubuh IF memanas terbakar. Butir-butir keringat terlihat muncul dan jatuh bergulir menggenangi lekuk-lekuk tubuhnya.

Perjalanan menyeberangi lautan birahi membawaku ke titik episentrum ketika menyaksikan batang kemaluan IF yang berdiri tegak menyeruak dari kerimbunan pubic-nya yang hitam ikal dan lebat. Memberikan kontras pemandangan yang bagus dengan kulitnya yang putih bersih. Thanks God, kau berikan aku seseorang yang sangat sempurna.
Dengan rakus kupermainkan glans dan batang penisnya lewat sapuan dan belitan lidahku. Kedua tanganku dengan jalang bergerak berpindah-pindah tempat dari satu titik rangsang ke titik yang lainnya. IF semakin meracau, mendesis-desis dan menggelinjang tak tentu arah.
Ketika ujung lidahku singgah dan beranjangsana di bibir asshole-nya, IF, sempat terkejut.

Mungkin, ia tidak mengira aku akan berlaku sejauh itu. Kulihat cara ia menatapku dengan penuh keheranan. Namun itu hanya berlangsung sebentar. Karena tak lama kemudian, ia bahkan melebarkan bukaan kedua pahanya. Memudahkan aku mengendus aroma khas, menggapai dan menelusuri lebih dalam lorong cintanya. Desah dan lenguhan suaranya bersahutan dengan bunyi degup jantungku.

Hingga akhirnya, aku tersentak ketika tangan IF tiba-tiba mencengkram erat kepala dan bahuku seraya tubuhnya terguncang hebat. Terasa olehku penisnya yang berdiri tegak bagai tiang pancang yang dipakukan ke bumi dalam pembuatan bangunan dengan konstruksi beton bertulang menyemburkan lahar cinta dari liang kepundannya. Pada saat itu, semua hitungan persamaan matematis diferensial integral, hilang berantakan, kecuali teori relativitas-nya Albert Einstein.

Aku hampir saja tersedak oleh derasnya pancaran air mani yang keluar dari ujung penisnya, yang kemudian, segera kusambut dengan refleks kenyot dan sedotan pada glans-nya yang memberi efek sensasi empot-empotan serasa lilitan vagina dalam persenggamaan hetero.
Dengan limbah residu peluh yang bersimbah di kening dan dadanya, IF masih terbaring terlentang.

Setelah menempuh perjalanan panjang mengayuh bahtera syahwat. Kedua tangan IF terlipat di bawah kepalanya. Memberikan pemandangan indah savana warna jelaga di belahan lengannya yang kokoh. Pubic-nya yang tumbuh berserak di sekitar selangkangan, bagaikan lukisan alam naturalis. Tumbuh seperti apa adanya. Tanpa sentuhan guntingan dan baluran wewangian artificial yang beku dan palsu.

Aroma tubuh alaminya mengundang diriku untuk menghirup wangi kesegaran IF. Senyum dan tatapan mata IF selaksa pelangi yang berpendar disekelilingku. Bibir IF yang merah merekah ditingkah oleh larikan gurat hijau dari kumis dan jenggotnya yang tercukur menjadikan kesempurnaan ciptaan ilahi.

Dengan lembut kusapu dengan ujung lidah basahku bongkahan bibir IF yang membuka. Dada ini menjadi serasa sesak oleh suatu perasaan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata. Kecuali kemaluanku semakin menegang menginginkan suatu penyelesaian.

Kurasakan tangan IF menggapai dan menjelajahi lekuk tubuhku. Aku memejamkan mata menikmati setiap titik persentuhan. Aku menggelinjang ketika lidahnya memainkan puting susuku. Bermain-main di leher, dada, lengan dan perut. Kemudian perlahan turun hingga melumat habis batang kemaluanku. Wajahnya bergerak maju mundur ke arah selangkangan memberikan blow job/felatio/sepongan untukku.

Selanjutnya kami mengubah posisi badan menjadi body contac. Dengan keadaan bugil ini berpelukan menjadi semakin menggairahkan. Dua batang kemaluan yang sudah keras saling bergesekan memberikan sensasi kegelian yang nikmat. Begitu pula dengan gesekan-gesekan yang terjadi antar pubic kami memberikan efek getar listrik yang semakin membakar semangat.

Mulut kami bersentuhan saling memuntahkan hasrat melalui juluran dan hisapan lidah. Tidak ada lagi kesantunan atau kebimbangan lagi dalam berbuat, kecuali mencapai penyerahan total dan memberikan kepuasan pasangan.
Peluh bercucuran kembali ketika kami saling berguling memadu cinta. Memberikan rangsang dan gairah yang melebihi dari sekedar persetubuhan yang dulu pernah kulakukan dengan penjaja cinta komersil.

Buatku, persenggamaan dengan IF ini, adalah pergulatan batin yang diramu apik dalam belangga asmara. Dengan bumbu kerinduan, kasih sayang, cinta, rasa memiliki, kesetiaan, penyaluran hasrat seks, pengorbanan, dan banyak hal, yang tidak dapat aku lakukan dengan perasaan sebebas ini. Berbeda dengan cara one night stand yang hanya sekadar melepas hajat birahi semata, seolah membuang urine di kloset umum atau di taman-taman.
Aku beringsut ke arah bawah tubuh IF yang tengah membungkuk membelakangiku.

Kuusap-usap ke dua bongkah pantatnya yang gempal. Dengan kedua tangan kurentangkan bongkahan itu sampai aku melihat dengan jelas – meski disekililingnya di penuhi oleh deretan pubic yang tumbuh melingkar – warna merah keunguan tepi rectum IF yang memberikan aroma khas penuh sensualitas. Pemandangan luar biasa. Lebih indah dari sekedar lubang vagina. Aku terpesona oleh bentuknya yang eksotis.

Kujulurkan ujung lidah menyusuri tepi rectum seraya menyibak helai-helai pubic disekelilingya. Kugelitik dengan ujung lidah asshole IF yang masih terkatup itu. Nampak kemudian guratan berdenyut-denyut seolah bibir kita menyebut kata "mulai..mulai..mulai.." Aku semakin bernafsu menelusurinya. Sementara, aku mendengar IF mengucapkan rentetan kata-kata yang tidak jelas arti dan maknanya, seperti berikut ini ".. achh.. ufghs.. nghgsk.. shh.. ouch.. ach.. enyak..ouh ah.."

Asshole IF mulai terlihat membuka ketika dua jari kiri dan kanan menguak tepi rectum-nya. Agak kemerah-merahan. Kutekan ujung lidahku, dan berhasil menembus masuk sedalam dua sentimeter. IF melenguh dan melolong kecil saat lidahku melakukan rimming di kawasan itu. Aku merasakan kedua kaki IF bergetar manakala aku menghirup cairan yang menggenang di asshole-nya.

Dengan rangsangan yang bertubi-tubi ini menyebabkan jepitan rectum IF mulai terasa melunak. Aku dapat dengan mudah menggigit dan menarik-narik kulit rectum-nya. Setelah kurasakan ketiga jariku dapat terbenam seluruhnya di asshole IF maka aku segara menambahkan lumuran cairan bening vaginal lubricating jelly pada bagian batang dan kepala penisku. Meskipun kulit luar kondom sebetulnya juga sudah mengandung pelumas. Begitu pula dengan lingkar asshole IF kububuhi jelly yang sama.
Dengan menyandarkan kedua tangannya di meja makan dalam caravan IF membelakangiku seolah menyodorkan kedua bongkah pantatnya untukku. Kulihat bayangan asshole-nya di balik beningnya olesan jelly di atasnya sudah sedikit membuka mengarah ke kemaluanku. Perlahan kubimbing kepala penisku untuk menembus liang anal IF.

Dengan beberapa gerakan yang tidak terlalu berarti batang kemaluanku telah melesak terbenam seluruhnya menembus ke dalam rongga tubuh IF melalui lubang duburnya. Hal ini disebabkan oleh foreplay yang cukup serta pemberian vaginal lubricating jelly tadi. Membuat semuanya jadi licin, mulus dan lancar. Dengan cara inilah aku menyenggamai IF.

IF bereaksi dengan memutargoyangkan pinggulnya membuat diriku makin bernafsu menaikinya. Penisku terasa berdenyut-denyut dihisap oleh sesuatu kekuatan aneh yang sulit dilukiskan denga kata-kata. Aku memundur-majukan pinggulku yang menyebabkan penisku terdorong dan tertarik keluar masuk dalam genggaman asshole IF.
Setelah agak lelah dengan posisi doggy style kami mencoba beberapa posisi persenggamaan umum hetero seperti diajarkan dalam buku kamasutra. Termasuk posisi klasik missionaries. Aku benar-benar dibawa terbang tinggi oleh IF melewati beberapa titik persinggahan yang membuat luluh lantak segalanya.

Ketika aku sudah hampir sampai dititik tujuan dengan gerak cepat aku meraih tissue, mencabut penis dan melepas kondom serta membersihkan batang kemaluanku. IF menengadahkan wajah dan membuka mulutnya ke arah penisku. Kusodorkan batang penisku yang sudah bersih dari limbah lubricating jelly.

Tanpa membuang waktu IF segera menangkap, melahap dan menghisap kepala kemaluanku yang kemudian memuntahkan cairan kental, tanda cinta kasih dan sayang kami berdua yang dipertautkan oleh persamaan hasrat cinta sejenis. Badanku tergucang hebat kala ejakulasi tiba. Orgasmus yang sangat sempurna.

Sesudah persenggamaan ini, kecuali dengan IF, yang terkasih, sepertinya, aku tidak ingin melakukan persetubuhan semacam ini lagi. Meskipun jika mau, kesempatan itu terbuka lebar. Sangat lebar. Apalagi di kota metropolitan yang serba ada ini. Mudah bagiku menemukan dan membayar penjaja cinta yang makin banyak tersebar.

No way, bagiku, IF adalah anugerah. Aku mensyukuri itu. Aku sudah menemukan pelabuhan hati. Biarlah yang merah menjadi pink dan yang hitam menjadi kelabu. Namun, aku, tetap harus merah di antara pelangi warna. Dan aku harus tetap hitam diantara sejuta pilihan warna gelap. Biarlah itu menjadi masa lalu.

IF datang membawa pencerahan bagiku, yang sedang dalam penantian dan pencarian di dalam dunia hayal yang penuh fatamorgana ini. Aku tetap menganggap ini adalah petualangan fantasi yang kutelusuri dengan sadar. Bersama IF, kekasihku. Dunia hayal yang bersifat sementara. Pasalnya, ada dunia nyata yang tidak dapat kami ingkari. Berketurunan, yang tidak akan diperoleh dengan bentuk kebersamaan semacam ini.

Walaupun cintaku kepada IF setinggi puncak Himalaya dan sedalam lautan atlantik. Walaupun kami saling bersetubuh tanpa jeda sepanjang hari. Salah satu dari kami tetap tidak bisa mengandung. Akan tetapi, esensi rasa cintaku kepada IF tidak akan kalah dengan calon ibu anak-anak IF kelak. Demikian pula, aku percaya cinta IF kepadaku tidak akan kalah pula oleh cinta calon ibu anak-anakku kepadaku.

Inilah hipotesa naïf, insan tuhan, yang penuh keterbatasan akal dan pikiran. I love you If, selebihnya, biarlah waktu yang membuktikan. Niatku hanya untuk keagungan cinta itu sendiri, bahwa aku punya IF, seseorang yang membuatku bergairah mengisi hidup dan hari-hariku.

Tamat

Reborn



Aku terkadang masih sering bertanya sendiri, termasuk dalam kelompok apakah aku ini dengan kecenderungan ketertarikan berkelamin sesama jenis. Pada beberapa rubrik kesehatan aku selalu membaca artikel yang mengupas soal itu. Namun ulasannya biasanya hanya sedikit. Karenanya tidak dapat memenuhi hasrat keingintahuanku tentang dunia ganjil yang kugeluti. Hingga akhirnya aku membaca buku berjudul Perawatan Kesehatan Tanpa Rasa Malu, karangan dari Charles Moser, Phd, MD; yang diterjemahkan dari judul aslinya Healt Care Without Shame. Tak sengaja aku menemukan buku tersebut di rak pamer toko buku Gramedia pada penghujung tahun 2000-an ini. Satu lagi adalah buku berjudul Gay: dunia kaum homofil terbitan Grafiti Press tahun 1987; kuangap sebagai cikal bakal referensi pencarian jati diri.

Kini aku semakin confidence dalam menghadapi hidup di dunia margin. Kusebut demikian karena dari hasil studi literature aku menemukan diriku tergolong dalam kelompok yang disebut sebagai Bisex. Aku dapat menikmati keasikan berkelamin dengan sesama jenis dan juga dengan lain jenis. Walaupun secara parameter, mungkin kualitasnya lebih banyak kudapatkan dari yang sejenis. Hal ini kemudian kuanggap menjadi keberuntunganku pula untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya siapa diriku sebenarnya.

Aku lebih beruntung dari mereka yang benar-benar tidak punya pilihan lain – sebagai aktulisasi diri – tampil sedemikian apa adanya melalui wira laku, wira suara, ataupun wira busananya sehari-hari. Sehingga hanya sekilas memandang sudah dapat diketahui orientasi seksual yang bersangkutan. Namun dalam tatanan pergaulan sosial tidak jarang fakta itu kemudian diralat oleh yang bersangkutan apabila hadir dalam komunitas masyarakat hetero; bila perlu dengan press confrence.

Untuk alasan menjaga reputasi, kiranya dapat dimaklumi sikap tersebut mengingat kebiasaan umum yang masih menabukan soal yang demikian. Itulah kehidupan yang diliputi kepalsuan dan kemunafikan. Sayup-sayup dikejauhan kudengar alunan lagu “..dunia ini panggung sandiwara……., ceritanya mudah berubah…….dst”

Buatku yang mengasikan dalam berkelamin sejenis adalah saat bergumul saling mencumbu, menjilat, menelusuri lekuk tubuh atau menghirup aroma alami kejantanan, termasuk di dalamnya adalah penerapan dari istilah-istilah seperti body contact, blow job, felatio, rimming, cumshots, maupun anal intercourse yang familiar dalam komunitas masyarakat penggemar seks sejenis.

Pada awalnya, sudah tentu ada rasa kecanggungan – lebih tepat malu – dalam berhubungan seks sejenis. Namun, biasanya, perasaan itu berangsur lenyap manakala nafsu sudah menjalar ke seluruh relung tubuh; dengus nafas yang mulai tidak beraturan dan denyut jantung yang semakin cepat. Pandangan mata pun mulai berubah menuntut suatu penuntasan, seperti yang terjadi berikut ini:

Pada suatu ketika aku, Danny dan Panca – seorang hetero – memutuskan untuk bersantai disuatu karaoke. Kebetulan kami memang senang bernyanyi. Karena keesokan harinya libur maka kami memutuskan stay up di salah satu hotel di ibu kota. Dari Danny aku tahu kalau Panca gemar minum karena itu sebelum cek in kami mampir dulu ke geray minuman membeli beberapa botol minuman serta makanan kecil.

Di kamar hotel kami ngobrol biasa sambil minum. Aku bantu meracik minuman juga menyalakan rokok untuknya. Kulihat Danny sudah sempoyongan, karena itu aku membiarkan ia untuk tidur. Sementara, Panca, masih tetap tegar dan asyik bercerita soal pekerjaannya sebagai account manager di salah satu Bank ibukota. Bau alcohol memancar dari mulut Panca dan terus terang, aku menjadi terangsang, maka secara tiba-tiba aku melumat bibir Panca. Awalnya dia tampak terkejut dengan kejadian yang mendadak itu. Aku memang cuma sebentar melumatnya, dan itu hanya kumaksudkan sebagai shock terapy buatnya. Selanjutnya kami bersikap seolah tidak ada apa-apa.

Aku takjub dengan kekuatan Panca minum alcohol. Bayangkan dua setengah botol dry gin murni dihabiskan sendiri, padahal di karaoke tadi juga sudah minum. Oleh sebab itu tidak heran apabila Panca kemudian ngJoprak. Muntah-muntah. Wah, terpaksa ku bangunkan Danny untuk membantu mengangkat tubuh Panca yang berdimensi 175/70 itu. Kami membersihkan muntahan Panca yang berceceran di karpet serta mengangkat tubuh Panca ke atas dipan. Panca mabuk berat.

Dengan pertolongan Danny aku membuka kemeja dan celana panjang Panca agar lebih nyaman berbaringnya. Kemudian kulihat Panca hanya tinggal mengenakan celana dalam saja. Di atas dipan tergolek sosok jantan Panca dengan sebuah tonjolan besar dibalik celana dalam yang dikenankannya. Didasari keingintahuan melihat sesuatu yang tersembunyi itu maka aku lepas sekalian celana dalam Panca. Astaga, aku hampir terpekik kaget menyaksikan kemaluan Panca yang besar menyeruak dikehitaman pubicnya yang lebat. Aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak berbuat sesuatu.

Aku menelunkup di atas selangkangan Panca. Wangi aroma kejantanan pria menebar dari selangkangannya itu makin membuat gairahku melambung. Kujilat dan kukulum kemaluan Panca sembil meremas-remas pubicnya yang ikal lebat itu. Tak lama kemudian kemaluannya mulai meregang dan menampakan bentuknya yang semakin mempesona. Aku menjadi gila dibuatnya. Dengan liar mulut dan lidahku menjelajah seluruh lekuk selangkangan Panca. Sayup-sayup kudengar Panca melenguh, mendesah serta meracau “…owhf…enyak….enyak…sshss…ogh……gglek .”sambil ia menggoyang-goyangkan pinggulnya. Releks kulihat Panca menekuk kakinya dan sedikit menggangkat bongkahan pantatnya yang gempal itu. Maka lidahku dengan mudahnya menyapu lingkar rectumnya yang dikelilingi pubic. Hal itu rupanya membuat sensasi tersendiri bagi dirinya.

Disaat yang sama Danny juga menelungkup di atas badan Panca. Lidahnya bergerilya menyapu seluruh lekuk badan atas dan wajah Panca. Terkadang menghisap dan menggigit puting Panca. Tidak jarang menyapu ketiak panca yang ditumbuhi bulu yang lebat itu. Dengus tiga nafas kami semakin mengaburkan kejelasan ucapan Panca.

Aku melumasi lubang rectumku dengan gel K-Y yang kubeli di apotik sebelumnya. Demikian pula dengan batang dan kepala penis Panca. Aku ingin diinsert olehnya. Danny sedang melumat bibir Panca ketika aku mengarahkan lubang rectumku ke penis Panca yang tegak berdiri itu. Hinga kemudian dengan sekali sentakan seluruh batang penis Panca telah tenggelam di dalam cengkraman lubang kenikmatanku. Aku mengalami kenikmatan yang luar biasa saat penis Panca tuntas menembus liang tubuhku.

Dari penuturan Panca sesudahnya aku mendengar bahwa ia merasakan kehangatan dan sensasi yang hebat saat penisnya menjelajah menelusuri terowongan ass-hole. Betapa ia merasa ada sesuatu yang memilin, mencengkeram serta menghisap penisnya yang mengakibatkan rasa denyutan dan senut-senut yang aneh namun mengasyikan. Apalagi ketika kemudian ia memuntahkan erupsi lahar panas asmara yang telah bergejolak di kepala penisnya. Itulah sebabnya, aku tadi sengaja – walaupun berakibat resiko buatku – tidak menggunakan kondom agar Panca dapat merasakan langsung sensasi persentuhan organ kelaminnya dengan bagian dalam tubuhku. Sejujurnya Aku berani begitu karena aku yakin Panca belum terkontaminasi.

Ia tidak marah kepadaku; malah berucap terima kasih telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Walau pada kalimat terakhir ia tidak secara langsung mengucapkan hal itu namun pandangan matanya telah berbicara banyak dari apa yang ingin ia katakan secara lisan. Body Language. Ya, bahasa tubuh. Sama seperti saat bila ia menginginkan kembali persetubuhan atau cumbuan itu. Tidak perlu dengan kata atau kalimat. Cara ia menatap dan gerak tubuhnya sudah berbicara ketika ia minta tambah. Aku bisa menangkap bahasa isyarat-nya. Tak lama kemudian kami sudah bergumul kembali. Akan halnya dengan Danny, ia sahabat terbaikku. Kami sudah biasa berbagi cinta – three some. Sesudah itu kami tetap berlaku biasa seperti halnya kaum hetero lainnya. Panca memiliki gadis dan semuanya berjalan wajar. Demikian pula aku dan juga Danny.

Karena aktifitas ini berkaitan dengan organ tubuh yang paling rahasia tentunya hal ini menjadi sangat pribadi sekali. Karena itu, yang paling penting adalah senantiasa menjaga sanitasi tubuh agar tetap higienis dan siap saji. Sebab, hanya karena masalah tersebut bisa saja appetite seseorang langsung hilang

Rambut sebaiknya berpotongan rapi dan dijaga jangan sampai bau apek. Telinga agar sering dibersihkan sehingga tidak terlihat kotoran menggumpal di lubang telinga. Kebersihan gigi dan mulut perlu mendapat perhatian sehingga tidak menebarkan aroma yang aneh. Bulu ketiak sebaiknya dijaga kebersihannya dan tidak menggunakan pewangi artificial yang semakin membuat aroma menjadi tidak karuan. Glans penis selayaknya sering dicuci untuk membuang smegma yang menimbun di lingkar glans tersebut. Demikian pula dengan bulu pubic yang juga menuntut perawatan dan perhatian; artinya selalu dikeramas supaya tidak bau karena lembab. Biasakan mencuci scrotum dan rectum sampai bersih dengan sabun; jika perlu dibilas pula dengan larutan disenfektan semacam dettol. Kaki dijaga kebersihannya agar tidak berbau; demikian pula dengan kukunya. Terakhir adalah perlindungan tubuh dengan pemberian vaksin anti hepatitis B apabila anda belum memilikinya; gunakan kondom dan ‘selektif’ tidak asal mau sama siapa saja, terlebih apabila anda seorang recipient atau bottom tipe.

Kecenderungan yang terjadi pada komunitas ini adalah berganti pasangan berkelamin (promiscuity). Itu sah-sah saja. Namun hendaknya tidak dilakukan dengan sembrono, mengingat akibat akhir yang akan ditanggung nantinya, misalnya tertular penyakit kelamin atau kulit; yang lebih menakutkan adalah terkena HIV.

Dengan salah satu pertimbangan itulah maka aku sedapat mungkin menghindar berkelamin dengan individu dari komunitas yang sama. Aku lebih memilih dengan mereka yang hetero. Buatku ini lebih mengasikan karena ada perjuangan penaklukan. Tentu saja dengan kesanggupanku dengan perjanjian menjaga kode etik tidak menceritakan hal ini kepada orang lain. Buatku itu adalah syarat yang mudah. Apalagi, aku memang sengaja tidak bergaul di habitat komunitas ini. Tidak ada alasan lain kecuali memang aku tidak mau saja.

Disini aku cuma ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tidak pula aku bermaksud mengguruimu. Utamanya kisah ini ditujukan bagi para pendatang baru komunitas penggemar seks sejenis. Aku pernah mengalami perasaan dan ketakutan yang sama untuk bertanya kepada orang lain perihal serba-serbi penyimpangan orientasi seks. Biasalah, soal martabat dan kehormatan diri. Apalagi di mayarakat luas dianggap sebagai sesuatu yang nyleneh yang lebih tepat disebut sebagi aib atau cela. Karenanya harus ditutupi. Begitulah, setidaknya, menurutku, masyarakat punya andil dalam membentuk komunitas kita menjadi munafik.

Ada lagi pengalaman lain; dengan Aldi. Aku harus berterima kasih kepadanya ketika ia mngingatkanku perihal penyakit kulit yang diindapnya. Mulanya aku tidak tahu kalau ia tidak bercerita soal rasa ‘kegatalan’ di daerah lipat pahanya. Sehingga ketika aku akan felatio (blow job) kepadanya ia mencegah. “Jangan..deh aku lagi gatal…” Untungnya aku sempat mendengar ucapannya itu.

Kemudian aku nyalakan lampu yang tadi kupadamkan. Di tengah nyala pendaran lampu kulihat tubuh twiggy Aldi tergolek bugil dengan kemaluannya yang lumayan besar. Glans-nya mengkilat menyeruak dari kulit kulupnya yang tidak di circumcisi. Warna kulit tubuhnya yang putih memberikan kontras yang bagus dengan pubicnya yang berwarna jelaga.

Aku menelungkup lagi ke arah selangkanganya guna melihat lebih dekat. Kulihat ada lesi kulit primer berupa lepuh-lepuh kecil berisi cairan jernih dan berkelompok – istilah medisnya adalah vesikel – yang ada di sekitar pangkal batang penisnya.. Bagi Aldi rasanya gatal dan panas seperti terbakar.

Dari literatur aku tahu kalau itu adalah penyakit Herpes Simpleks yang dapat juga ditularkan oleh kontak orogenital. Menurutku, kondisi tubuh Aldi saat itu tidak layak untuk suatu hubungan badan. Karenanya aku membatalkan sepihak. Untungnya, Aldi menyetujui juga. Untuk hal ini, aku berhutang budi pada Aldi yang telah menyelamatkanku dari tertular penyakit Herpes-nya itu. Malam itu, akhirnya kami tidak melakukan apa-apa.

Sesudah kencan yang gagal – tapi malah aku syukuri – itu aku mengcopykan literature soal penyakit tersebut serta memberikan saran pencegahan dan penyembuhan – termasuk obat untuk penyembuhannya. Puji tuhan, penyakitnya sekarang sudah sembuh dan Aldi sudah sehat kembali.

Lain lagi kisahku dengan Juan, juga seorang hetero. Selain mengundangnya ke rumahku aku juga biasa melakukan kencan dengannya di hotel. Memang dari segi biaya menjadi high cost. Namun kemahalan itu menjadi impas apabila dibandingkan dengan privacy yang didapat. Bagaimanapun aku harus melindungi juga nama baik dan kehormatan Juan di mata rekan gaulnya. Bahwa ia tetap seorang yang dikenal badung, cuek dan jauh dari berkesan anak mami seperti kebanyakan streotipe penikmat seks sejenis yang aku temui. Kami sama-sama punya kebutuhan menyalurkan hasrat seks yang menggebu. Semacam hubungan simbiosis mutualisma itulah yang menjadi komitmen awal dari perhubungan ini.

Juan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur begitu kami chek-in di sebuah hotel. Ketika aku membukakan pakaian dan celananya ia tetap bersikap kooperatif. Sehingga aku tidak mengalami kesulitan yang berarti. Benar saja, ketika celana dalamnya kulepaskan nampak kemaluannya sudah menegang keras seolah hendak mengatakan say hello kepadaku. Aku menjilat glansya yang sudah merah mengkilat itu. Juan tersenyum. Wouw, pandangannya sangat mengundang.

Aku segera bangkit dan melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku sehingga kami menjadi sama-sama bugil. Tapi aku tidak ingin segera main msekipun kutahu Juan sudah menginginkannya. Dia tidur terlentang dengan menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepalanya. Sangat seksi penampakannya dalam posisi seperti itu. Kulit tubuhnya yang putih bersih – tahu sendirikan tipikal kulit etnis seberang – di warnai dengan aplikasi warna hitam bulu ketiak yang tumbuh lebat bagaikan genggaman sapu ijuk serta deretan bulu pubic yang menjalar dari bawah pusar memenuhi episentrum di pangkal pahanya. Amazing.

Terus terang, aku paling suka sekali menghirup aroma bulu ketiak. Buatku aroma ketiak Juan begitu dahsyat sehingga mampu membakar hormon testoteronku. Kehebatan Juan adalah ia tidak memerlukan pewangi artificial yang malah akan membuat diriku mual. Beruntung sekali, aroma tubuh Juan termasuk ‘sopan’ sehinga tidak perlu dikamuflase dengan sapuan pewangi tubuh. Akupun menjadi bebas menjelajah tanpa takut terkena alergi kontaminasi parfum dan sejenisnya.

Di dalam bath up kami berendam setelah tadi bergumul di tempat tidur. “Bersih-bersih…..” begitu kata bintang iklan Dado. Ternyata kemudian disitupun kami bercinta lagi. Berendam dalam air hangat ternyata mudah membangkitkan gairah. Aku menelusuri seluruh lekuk tubuh Juan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ya, betapa Juan menggelinjang ketika jemari dan telapak kakinya aku hisap dan jilati; sama sensasinya ketika jemari tanganku kemudian dihisapnya pula. Di bath up itu kami melakukan body contac dengan berbagai posisi; duduk, berdiri maupun berbaring.

Saat terakhir aku mewujudkan fantasiku melakukan urine theraphy buat diriku. Setelah mengosongkan isi bath up itu aku minta Juan mengencingi diriku. Awalnya dia menolak, namun setelah kujelaskan aku hanya ingin merasakan gimana sih rasanya dikencingin. Maka aku segera duduk bersila di bath up. Juan berdiri di bibir bath up dan mengarahkan kemaluannya ke arah wajahku. Sesaat kemudian dari penisnya memancar air kencingnya dengan deras ke arah kepala, wajahku dan jatuh memberikan aliran kehangatan di seluruh tubuhku. Aku meratakan kucuran air kencingnya itu keseluruh tubuhku. Kalau aku tidak keberatan menelan spermanya kenapa pula aku harus menolak minum air kencingnya. Karena itu, aku menyeruput juga air kencingnya yang mengucur dari kepala penisnya. Aku melihat rasa keheranan dari Juan tapi itu bukan urusanku.

Aku membiarkan beberapa saat sampai air kencing Juan mengering di tubuhku dan meninggalkan residu bau khas yang langsung hilang ketika aku membilas tubuhku dengan shampoo dan sabun.

Orogenital adalah kontak seksual antara mulut dan alat kelamin dan ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ritual hubungan perkelaminan sejenis empat sehat lima sempurna. Karena itu, penting sekali menjaga dan merawat daerah itu agar siap pakai.

Kabayang gak sih apabila nafsu terpaksa padam manakala hidung menangkap aroma tak sedap yang menebar dari glans yang dipenuhi smegma atau bulu pubic yang tidak dikramasin, ass-hole yang tidak bersih.

Aku pernah kehilangan selera untuk rimming manakala kulihat masih ada kerak faeces di tepi rectumnya atau mencium aroma aneh karena proses fermentasi bakteri akibat sanitasy yang tidak bagus.

Demikian juga dengan lubang telinga yang tidak bersih yang menghilangkan selera pasangan untuk menjilati daun telinga manakala melihat cureg menumpuk dilubang itu; atau kebersihan tubuh (kepala, mulut, badan, kaki) yang tidak terjaga sehingga menebarkan oudor yang membunuh gairah seksual.

Kubereskan kembali buku-buku yang berserak di atas meja. Bagaimanapun cerita ini hanya antara aku dan kau. Nama-nama tersebut di atas juga nama samaran dan tentu saja, ceritanya tidak fiktif karena memang ini kisah nyata tentang diriku. Jika kau teliti maka kau akan dapat menemukan cerita perdana karanganku diantara cerita-cerita yang lain. Aku tidak menyangka bahwa cerita itu sudah dibaca lebih dari dua belas ribu orang atau setara dengan empat kali cetak ulang sekiranya satu cerita dianggap sebagai satu edisi cetakan buku. Sudah dulu ya sampai ketemu di cerita berikutnya.

Tamat

Pengalamanku - 2



Sore itu sepulang kerja, aku mandi dan untuk menghilangkan kejenuhan aku iseng-iseng nonton film di Sarinah 21, maklum hari itu hari senin biasanya harga tiketnya pahe, lumayan murahlah dari pada hari-hari biasanya dan kebetulan film yang sedang diputar adalah "Virus", yang walaupun aku sebetulnya nggak berniat nonton film tersebut karena menurutku tidak terlalu bagus, akan tetapi sudah kepalang basah sampai disitu dan mau pulang balik juga malas, akhirnya aku melangkahkan kaki ke loket tempat penjualan tiket dan kubeli tiket masuknya dengan posisi deret tengah paling belakang sendiri tepat dibawah proyektor. Dan memang aku sering memilih tempat itu, sampai film diputar yang menayangkan film ekstra, aku masih duduk seorang diri karena yang nonton film sore itu tidak terlalu banyak sehingga masih banyak kursi yang kosong.

Setelah film ekstra selesai dan beralih ke film utama mulai diputar, tiba-tiba masuk seseorang yang langsung nyelonong duduk dikursi sebelahku tanpa permisi atau ba bi Bu terlebih dulu, langsung duduk dan kulihat dia melirikku dalam suasana gelap itu. Kalau dilihat tampangnya sih biasa-biasanya saja, dan tampangnya kelihatan sangar sekali dalam kegelapan gedung bioskop itu, karena terpampang kumis yang lebat, mata bulat berkilat, ada sedikit cambang dipipinya dan ada jenggot juga didagunya. Karena aku merasa diawasi akhirnya aku membuka diri untuk berbasa-basi saja.

"Sendirian aja, Mas?" tanyaku.

Tapi pertanyaanku tidak dijawabnya dan dia tidak merespon niat baikku untuk berbasa-basi itu, sehingga aku putuskan untuk diam aja daripada aku dicuekin orang mendingan aku juga bersikap cuek juga. Hal seperti ini berjalan kurang lebih sampai sekitar sepuluh menit, lalu tanpa kuduga sebelumnya. Tiba-tiba tangannya nyelonong diatas pahaku, dan kukira itu hanya kebetulan saja tangannya terulur dari sandaran kursi. Untuk selanjutnya tangannya mulai mengelus-elus pahaku dan makin lama makin ke atas sampai akhirnya kupegang tangannya dan sekarang ganti tanganku yang diremas-remasnya dan dipilin-pilin. Aku jadi tanggap dengan apa yang dikehendakinya, maka akupun mulai merespon semua kegiatannya dalam kegelapan gedung bioskop itu.

Kalau tadi tangannya yang mulai menjamah penisku yang sudah mulai menggeliat tegak, sekarang ganti tanganku yang bergerak ke arah selakangannya dan memang aku lebih terampil kalau harus membuka celana untuk mendapatkan isinya, mulai dari kubuka ikat pinggangnya hanya dengan menggunakan sebelah tangan saja kemudian kegesper celananya, kemudian ke arah pegangan retsletingnya yang segera kugesr kebawah sampai mentok, kemudian tanganku kumasukkan kedalan celana dalamnya dan mulai kuraba penisnya yang sudah ngaceng tapi belum begitu keras sampai kukocok-kocok. Kemudian kupelorot celana dalamnya dan celananya dan diapun mengerti akan maksudku sehingga dia agak mengangkat pahanya agar aku bisa lebih mudah melorotkan celananya sampai ke paha.

Setelah itu aku bisa dengan bebas memainkan penisnya yang tegak mengacung itu, dan tidak tinggal diam tangannyapun juga sudah menyelinap ke dalam celana dalamku akan tetapi aku tidak mau memelorotkan celanaku karena aku memang tidak bisa bermain ditempat umum seperti itu walaupun dalam suasana gelap, karena aku selalu menginginkan cumbuan-cumbuan dulu sebelum memulai untuk mencapai kepuasanku, jadi walaupun penisku ngaceng akan tetapi aku tidak konsentrasi dan akupun juga tidak menginginkan untuk mencapai orgasmeku ditempat seperti ini.

Akhirnya hanya aku sendiri yang bertindak aktif untuk mengocok penisnya yang makin lama makin tegang dan berdenyut-denyut sampai akhirnya dia memegang tanganku untuk berhenti sejenak karena mungkin dia sudah ingin mengeluarkan isinya, akhirnya kuhentikan gosokan tanganku pada penisnya untuk beberapa saat dan setelah dia bisa mengontrolnya lagi akupun mulai gesekanku pada penisnya dan kurasakan badannya mulai mengejang dan akupun mengerti bahwa dia akan menyemburkan pejuhnya dan akupun mengerti agar baju dan celananya tidak basah semua dengan pejuhnya, maka telapak tanganku kutempatkan tepat diujung kepala penisnya dengan harapan kalau pejuhnya menyembur maka akan tertampung semua ditelapak tanganku, dan mungkin dia juga mengerti maksudku itu maka diapun juga mulai menggeliat dan kurasakan cairan hangat kental ditelapak tanganku dan segera kulepaskan peganganku pada penisnya untuk membuang pejuhnya tadi.

Setelah itu tanganku yang tadi mengosok-gosok penisnya tadi dan masih ada sisa-sisa pejuhnya segera dipegang dan dicium serta dijilati sisa-sisa pejuhnya bahkan jari-jariku satu persatu dimasukkan ke dalam mulutnya dan dipermainkan dengan lidahnya, seolah-olah dia ingin memainkan penisku dengan lidahnya, dan baru sekarang kurasakan kasarnya kumis dan jenggotnya yang membuatku terangsang akan tetapi suasanya yang tidak mengijinkan. Jadi hanya sebatas dia mencumbui tangan dan jari-jariku, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya demikian juga dengan aku juga tidak ingin memulai berbicara dengannya, dan biarlah rabaan dan jamahan tangan-tangan kami yang saling beradu itu bisa berbicara lebih banyak lagi.

Sampai film berakhirnya tangan kami masih saling bertautan dan aku berharap untuk bisa menjalin hubungan sekeluar dari gedung itu, akan tetapi setelah keluar dari pintu keluar ternyata dia mengambil arah yang berlawanan dengan arahku menuju keluar dan kulirik dia dengan harapan dia akan menoleh ke arahku, akan tetapi tidak terjadi. Dan pupuslah harapanku untuk bisa mengulangi saat-saat indah didalam gedung bioskop tadi. Karena nama dan alamatnyapun aku tidak mengetahuinya, dan biarlah semuanya berlalu searah aliran waktu, kalau ada kesempatan biarlah kita akan bertemu lagi.

Siang itu hari Sabtu aku pulang kerja sekitar pukul 12.00, karena hari Sabtu memang hanya setengah hari saja jam kerjanya. Aku bekerja pada sebuah ekpedisi didaerah Perak, Surabaya sana, kelihatannya siang itu mendung bukan main gelapnya seperti sudah setengah enam sore saja layaknya. Karena aku baru keluar dari kantorku dan baru beberapa kilo meter menuju ke arah rumahku, tiba-tiba kurasakan ada setitik air yang jatuh dan dengan cepat kupacu motorku untuk mencari tempat berteduh dari lebatnya hujan yang bakal terjadi.

Akhirnya kutemukan sebuah pos penjagaan dari sebuah instansi yang aku tidak aku sebutkan namanya. Dan didalamnya ada seorang yang sedang jaga disana mempersilahkan aku untuk masuk saja ke dalam posnya.

"Ayo, Dik masuk saja ke dalam, nggak apa-apa koq, daripada diluar teras nanti basah semua kena hujan"
"Ya Pak, terima kasih Pak" jawabku.

Karena memang usianya lebih tua dari aku sehingga aku memanggilnya Bapak, tapi mungkin juga selisih usianya hanya dua atau tiga tahun diatasku, dan lagi dia khan sedang dinas jaga dengan seragamnya yang kelihatan keren itu. Wajahnya begitu ganteng, maskulin, walaupun kulitnya tidak terlalu putih akan tetapi bersih, dan wajahnya dihiasi dengan kumis yang dipotong dengan rapinya sehingga sedikit banyak membangkitkan gairahku. Akan tetapi aku nggak berani macem-macem dengannya yang kelihatan sangar tapi cukup ramah dan sportif itu. Sehingga aku hanya bisa duduk dihadapannya sambil ngobrol dan mataku tak habis-habisnya menjelajahi seluruh permukaan tubuhnya yang benar-benar sangat kudambakan, apalagi dengan tonjolan diantara dua pahanya yang kelihatan begitu padat itu.

Sehingga tanpa sengaja akupun mendesis,

"Ooohh"
"Kenapa dik?" tanyanya, "Kedinginan yaa"
"Ah, enggak koq Pak"
"Benar lho dik, nggak apa-apa?"
"Ya, Pak, saya nggak apa-apa koq"

Kemudian kami ngobrol lagi dan hujan diluar bukannya bertambah reda melainkan sebaliknya bertambah deras seperti air yang dicurahkan dari langit.

"Dik, hujannya tambah deras, kita ke dalam saja yaa"
"Disini terlalu sempit dan banyak air yang menembus masuk ke dalam, bisa-bisa kita nanti basah kuyub"

Aku bagaikan kerbau dicocok hidungnya mengikuti dia dari belakang, setelah masuk ke dalam kantor yang sudah sepi karena semua karyawan disitu sudah pada pulang semuanya tinggal dia sendirian saja, sampai aku baru sadar kalau selama ini aku belum berkenalan walaupun aku bisa mengenal namanya lewat baju seragam yang dikenakannya itu yaitu Rudy.

"Oh ya Pak, nama saya Agung" kataku sambil mengulurkan tanganku.
"Saya Rudy," sambutnya.
"Ayo masuk aja dik, disini khan lebih enak," ajaknya.

Dan kamipun duduk dikursi ruang tamu dikantor itu yang kelihatan gelap sekali karena memang tidak ada lampu yang dinyalakan karena masih siang walaupun mendung diluar begitu gelapnya.

Dari obrolan yang tadi terputus, kita lanjutkan kembali, sampai aku benar-benar sangat terkejut dengan suatu ucapan kata-katanya yang tidak kuduga sama sekali terlontar dari mulutnya. Karena kulihat dia sebagai anggota dari salah satu angkatan pastilah orangnya straight dan nggak mungkin macem-macem yang seperti kurasakan saat ini.

"Dik, aku lihat adik ini koq senang yaa, kulitnya putih, halus, mulus dan adik kelihatan imut-imut sekali, sayangnya koq bukan cewek" katanya.
"Kalau cewek gitu sudah kucium dari tadi karena sekarang aku lagi kepengin nih, apalagi diluar lagi hujan deras kayak gini, kalau bisa tidur bareng khan anget nih badan" lanjutnya lagi.

Setelah mendapat sign seperti itu gairahku yang tadi menghentak-hentak dan berhasil kutahan dengan sekuat-kuatnya, akhirnya sekarang timbul lagi dan makin bergelora. Aku mulai memberanikan diri dengan memindah dudukku yang tadi dikursi yang untuk satu orang, berpindah kesofa panjang yang sedang didudukinya dan aku langsung duduk disebelahnya karena aku tahu dikantor itu tidak ada siapa-siapa lagi kecuali kami berdua. Ternyata dia tahu yang menjadi maksudku. Tangannya kanannya yang kekar mulai melikar dipundakku yang duduk disebelahnya dan mulai merengkuhku untuk lebih mendekat lagi sampai kudengar dengus nafasnya yang memburu dan tercium olehku bau maskulin yang menjadi dambaanku selama ini.

Tanpa permisi atau basa-basi sedikitku bibirnya yang berkumis itu mendarat dipipiku dan terus ke arah telingaku yang makin membuatku makin salah tingkah, sampai tak terasa tanganku juga makin berani menyemtuh benda padat yang jadi dambaanku tadi, dan kurasakan begitu hangat, kenyal dan mengeras. Tanpa perintahnya langsung kubuka ikat pinggang baju dinasnya itu dan terus kutarik retsleting celananya, lalu kurogoh benda padat kenyal dibalik celana dalamnya, dan Woo ternyata gede banget sampai rasanya jari telunjuk dan ibu jariku tidak muat untuk menggenggamnya dan panjangnya kurang lebih ada 18 cm. OH ini benar-benar surprise bagiku bisa mendapatkan barang segede itu.

Tanpa kusadari, baju yang kukenakan juga sudah terbuka semua kancingnya sambil dia terus menciumi pipi, leher, punggungku dan terus menyelusur masuk ke arah dadaku yang memang mulus tanpa bulu sama sekali. Sampai dirasakan dia mulai gelisah ingin mengeluarkan pejuhnya. Aku dibimbingnya menuju sebuah kamar dengan tempat tidur yang ala kadarnya untuk tempat istirahat dan pakaianku mulai dilucutinya dan dia dengan sigap pula mulai melucuti pakaiannya sendiri sampai kami berdua benar-benar bugil. Kemudian dia mulai mencumbui aku lagi dan kudengar bisikannya.

"Aku pengin ngentot kamu"
"Oh, nggak mau Pak"
"Saya belum siap pak, gini aja aku hisap aja yaa "

Akhirnya aku duduk disisi tempat tidur itu dan dia berdiri dengan gagahnya dengan penis yang ngaceng penuh, aku masih sempat mengagumi keindahan bentuk tubuhnya yang mungkin saja sering latihan dengan ketatnya sehingga membentuk tubuh yang padat, liat, kekar dan gentle. Kemudian kumasukan batangnya yang besar dan panjang itu ke dalam mulutku sambil terdengar suara kecipak seperti ikan kehabisan air, karena memang begitu besarnya sehingga rasanya mulut ini tidak mampu lagi untuk menerima penisnya itu. Kudengar lenguhannya.

"Ooohh, dik, terus dik"
"Enak sekali dikk, oohh"

Sebetulnya aku sih nggak tega menolak permintaannya untuk mengentot aku, akan tetapi begitu melihat barangya yang super itu gede dan panjang, aku jadi ngeri deh. Walaupun lobangku sudah sering dimasukin penis, akan tetapi yang seukuran ini belum pernah kurasakan, sehingga aku memerlukan persiapan penuh untuk menerimanya.

Karena aku tidak mau dikentot, dan diapun tidak memaksanya, maka dia punya inisiatif dengan menelentangkan aku ditempat tidur dan kemudian diambilnya lotion dan dioleskan diantara kedua pahaku dan juga kepenisnya yang sudah ngaceng penuh itu, kemudian dia merebah diri diatasku dan menyuruhku untuk menjepit penisnya dengan kedua belah pahaku, dan diapun kelihatannya menikmati cara ini walaupun aku bertindak sebagai pihak yang pasif dan kurang bisa merasakan rangsangan yang hebat karena hanya bulu-bulu kasar diatas penisnya saja yang mengelitik penisku.

Sampai kudengar "Aaahh, aahh"
"Aduh dik, enak dik, aku mau keluar nih dik"

Sambil dia mempercepat gerakan naik turunnya diantara pahaku dan tak berapa lama kurasakan kejutan-kejutan dan rasa hangat, basah didaerah sekitar pantatku dan dia menggelosor menikmati orgasme yang baru dicapainya. Setelah beberapa saat dia rupanya baru sadar kalau menindihku dengan seluruh badannya yang kekar itu. Dan tahu kalau aku masih belum apa-apa, rupanya dia bukanlah tipe orang yang egois yang setelah keluar ya sudah, melainkan ganti dia yang mengocok penisku walaupun dia tidak mau menghisap penisku ataupun merangsang daerah lobangku, yang dilakukan hanya mencumbuku untuk daerah dada ke atas saja, walaupun aku tidak bisa merasakan kepuasan yang maksimal tapi aku sudah merasa bersyukur bisa bermain dengan orang yang mempunyai postur tubuh yang begitu kudambakan selama ini.

Dengan kocokan tangannya yang kekar dan hangat itu akhirnya membuatku juga mengelinjang-gelinjang keenakan dan mulai mendekati akhir perjalanan panjang dari pejuhku yang akhirnya memancar keluar diatas perutku, setelah melihat hal itu rupanya dia terangsang lagi dan penisnya yang tadi sudah mulai lunglai kini tegak menantang kembali dan aku harus mengempitnya untuk yang kedua kali, dan kali ini lelbih lama dari yang pertama tadi.

"Aaauucchh"
"Uuuhh, aahh"

Dan cret.. cret.. cret.. untuk yang kedua kalinya yang kurasakan dikempitan pahaku. Dan kepuasan itu berangsur-angsur menghilang dan aku bangun kukenakan pakaianku dan kulihat dia mash terkapar ditempat tidurnya dengan badan telanjang bulat.
Setelah rapi kembali dan kulihat hujan yang deras itu sudah reda, entah sejak kapan aku tidak tahu, tapi dalam hati aku berkata

"Hujan yang bersahabat denganku dan tahu akan keinginanku"
"Terimakasih hujan yang lebat, dan sekarang setelah selesai keinginanku dan terpuaskan dahagaku, jadi reda" lanjutku.

Segera kuhampiri Rudi yang masih ogah-ogahan bangun itu dan kubisikan ditelinganya, "Semoga sering hujan yang lebat seperti tadi yaa, supaya aku bisa berteduh disini lagi" katanya.
"Nggak nunggu hujan lebat juga nggak apa-apa, asal situasinya mengijinkan datang aja kesini," jawabnya.
"Boleh aku sering-sering kesini"
"Nggak mengganggu tugas jaga kamu"
"Ok, boleh, any time, kapanpun boleh kamu datang kesini," lanjutnya.

Setelah dia mengenakan pakaian dinasnya kembali, lalu dia mengantarkan aku sampai pintu depan dan segera kustater motorku dan kujalankan dan kulambaikan tanganku dan dia membalasnya dengan mencium telapak tangannya dan melambai padaku. Dalam perjalananku pulang aku nyanyi-nyanyi kecil dan bersenandung mengingat pengalaman yang baru saja kurasakan dan senyumkupun mengembang tanda puas atau apa lagi yaah. Nggak tahulah, pokoknya yaa itu tadi, enak banget.

Tamat

Pengalamanku - 1



Kisah ini bermula ketika aku masih duduk dibangku SMA kelas 3, yang pada saat itu aku menjadi anak kost dan ditempat kostku tinggal 5 orang cowok yang berasal dari sekolah yang berlainan dua orang temanku sekolah di STM dan dua orang lagi sekolah di SMAK dan aku sendiri sekolah di SMEA. Dari 5 orang itu menempati dua kamar yang disewakan aku menempati kamar yang lebih kecil dengan kapasitas dua orang sedangkan yang lainnya menempati kamar yang lebih besar dengan kapasitas 4 orang akan tetapi baru terisi 3 orang saja.

Aku tinggal dengan kawanku yang bernama Olan, akan tetapi hubungan kami biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa walaupun kami tinggal sekamar hanya berdua, jadi walaupun tinggal sekamar selama beberapa bulan tidak terjadi hal-hal yang membawa kenangan tersendiri dalam hidupku, karena pada waktu itu aku memang menjaga privasiku walaupun aku sebetulnya ingin lebih akrab lagi, akan tetapi memang Olan bukanlah orang yang menjadi tipe idolaku saat itu sehingga aku dan dia tetap aman-aman saja.

Sehingga suatu hari dia pulang kampung sehingga aku tinggal sendirian aja di kamar dan kebetulan kamar sebelahku yang terisi tiga orang yang masing-masing bernama Antok, Yossi dan Yohan sedang ramai bersenda gurau, maka akupun ikut nimbrung kesana dan ternyata si Antok malam utu sedang tidak enak badan dan ingin beristirahat akan tetapi selalu digodai oleh si Yossi yang memang terkenal agak usil itu bila dibandingkan dengan yang lainnya. Dan nggak tahu bagaimana awalnya sehingga malam itu aku tidur bersama dengan mereka, karena memang kapasitas tempat tidurnya memang untuk 4 orang.

Dan malam itu seperti biasanya si Yossi yang paling usil itu membuat acara dengan menggodai si Yohan dengan cara meremas penisnya, kemudian ditinggal lari sambil tertawa terkekeh-kekeh, demikian diulanginya sampai beberapa kali sehingga si Yohanpun akhirnya mulai panas juga dan kebetulan badan si yohan memang lebih besar bila dibandingkan dengan Yossi. Akhirnya Yossi direbahkan ketempat tidur dan dikunci dengan kakinya sehingga tidak bisa bergerak dan mulai melucuti pakaiannya dan pada saat itu aku yang sedang berada disanapun akhirnya juga merasa gemas juga dengan ulah Yossi sehingga akhirnya aku ikut membantu Yohan untuk melucuti pakaian Yossi, mulanya dia meronta-ronta dengan segala kekuatannya karena tidak mau ditelanjangi.

Akan tetapi karena yang melucutinya dua orang maka akhirnya dia tidak berdaya sampai akhirnya dengan penuh perjuangan Yossi dalam keadaan polos telanjang bulat tanpa selembar pakaianpun dengan penisnya yang mulai ngaceng karena memang sengaja aku kocok-kocok beberapa kali. Akan tetapi dia tidak tinggal diam, sekarang yang jadi sasarannya adalah Yohan yang ganti kami telanjangi, mulanya meronta-ronta, tapi setelah itu dia diam saja dan menjadi pasrah ketika satu demi satu pakaiannya mulai terlepas dari tubuhnya sehingga dua orang yang ada dihadapanku menjadi polos, dan ketika itu sebetulnya penisku sudah ngaceng sedari tadi ketika melucuti Yossi, sekarang mereka ganti mengejar aku untuk ditelanjangi, akan tetapi aku mengatakan kepada mereka.

"Oke, kalian nggak usah repot-repot menelanjangi aku"
"Aku akan membuka sendiri pakaianku"

Kemudian mulai kutanggalkan satu demi satu pakaianku sehingga akhirnya akupun dalam keadaan polos tanpa pakaian dengan penis yang ngaceng penuh, dan kuhampiri mereka. Kami bertiga akhirnya bergumul bersama saling menyupang, saling mengocok dan memang pada saat itu aku masih belum pernah melakukan hisap menghisap penis, yaa akhirnya hanya saling mengocok saja. Memang pada waktu itu aku sering nonton bf, akan tetapi yang main cowok-cewek, hingga pada suatu saat aku pernah nonton seorang cewek yang disodomi, sehingga pada waktu itu aku ingin mencoba merasakan gimana sih rasanya disodomi itu. Maka kuambil minyak pelumas secukupnya kulumurkan pada penis Yohan yang lebih kekar dibanding dengan penis Yossi yang lebih besar akan tetapi kelihatan lebih lembek, ketika kucoba untuk memasukkannya dalam lubangku, betapa saat itu aku menjerit karena kesakitan, sehingga akhirnya aku tidak berani untuk meneruskannya karena begitu sakit dan panas yang kurasakan dilubang anusku, Yohanpun tidak memaksaku untuk meneruskannya dan sebagai gantinya akhirnya aku mengocok penis Yohan dan Yossi mengocok penisku sedangkan penis Yossi dikocok oleh Yohan, sampai kami bertiga mencapai kepuasan bersama dan malam itu kami bertiga tidur dalam keadaan telanjang bulat sampai pagi dan saling berangkulan.

Sejak peristiwa itu kami bertiga kalau ada kesempatan saling bermain bersama, kadangkala juga aku bermain dengan salah satunya kalau tidak dengan Yohan ya dengan Yossi, sedangkan terhadap Olan dan Antok aku tetap menjaga privasi kami masing-masing. Hingga pada suatu sore semua penghuni tempat kostku entah kemana semuanya yang aku tahu tinggal aku sendirian di kamarku, dan tiba-tiba kudengan suara kunci pintu dibuka di kamar sebelah, karena memang aku lagi kesepian maka akupun keluar untuk melihat siapa yang datang, ternyata Antoklah yang datang.

"Eh, kamu toh Tok?"
"Yupp"
"Mana yang lainnya?"
"Nggak tahu tuh, pada kluyuran kali," jawabnya dengan seenaknya.

Aklhirnya aku masuk kekamarnya yang sepi itu, aku duduk di depan cermin sambil menyisir rambutku yang awut-awutan karena habis tidur-tiduran di kamarku, tanpa kuduga Antok menghampiri aku dari belakang karena aku bisa melihatnya dari cermin di depanku, kemudian dia membelai rambutku dari belakang dan memang aku paling senang kalau dibelai rambutku. Kemudian setelah beberapa lama dia membelaiku dan aku nggak ada reaksi alias kubiarkan saja dia membelai-belai rambutku, terus dia makin berani juga dengan memelukku dari belakang dan kemudian menciumi cuping telingaku dari belakang, sehingga aku tak tahan dan kudongakkan kepalaku karena aku dalam keadaan duduk sedangkan dia berdiri dibelakangku.

Dia langsung melumat bibirku sampai lama sekali sami saling berpagutan, ketika aku sudah tak tahan lagi akhirnya aku berdiri dan mebalikkan badanku dan langsung berhadapan dengannya kemudian kami lanjutkan pagutan kami sambil tanganku mengerayangi punggungnya, pahanya dan kemudian tanganku mengarah kepenisnya yang ternyata sudah ngaceng, kemudian kubuka kancing celananya, kulorot dan kurebahkan dia ditempat tidurnya, kemudian kulucuti satu persatu pakaiannya hingga polos kemudian akupun juga melucuti pakaianku sendiri. Setelah sama-sama dalam keadaan polos maka kamipun bergumul dengan saling memagut dan bertautan mulut-mulut kami. Setelah kami puas berciuman maka tangan-tangan kami beralih kepenis kami masing-masing sambil mengocok kami kadangkal berciuman sampai kami mencapai puncaknya secara bergantian.

Setelah semuanya selesai kutanya pada Antok, tentang bagaimana dia mengetahui aku kalau mau diajak main-main.

"Eh. Tok darimana sih kamu tahu kalau aku mau diajak gituan?" tanyaku.
"Apa kamu nggak ingat ketika aku sakit, kalian bertiga khan main bareng-bareng khan," jawabnya.
"Bukannya kamu malam itu tidur pulas?"
"Siapa bilang aku tidur, karena badanku sakit semua sehingga aku nggak bisa tidur. Sehingga aku bisa mendengar perkataan kalian bertiga dan apa yang kalian lakukan malam itu aku mendengarnya semua" jawabnya.
"Kenapa kalau tahu kamu nggak ikutan sekalian, biar tambah rame," tanyaku.
"Seandainya aku nggak sakit maka akupun akan ikut nimbrung"

Sejak peristiwa itu aku, Antok, Yossi dan Yohan sering bermain baik itu bareng-bareng atau bergantian akan tetapi dengan Olan aku masih merahasiakan dan itu sudah menjadi komitmen kami berempat untuk saling menjaga rahasia dan hanya kami berempatlah yang boleh berbicara secara bebas tentang apa yang saja yang kami lakukan, jadi sudah nggak ada rahasia lagi seandainya aku main sama Yohan, maka Yossi dan Antok juga tahu karena memang kami saling bercerita kalau habis melakukannya. Sehingga aku jarang sekali tidur di kamarku sendiri, akan tetapi selalu bergabung dengan mereka di kamar satunya lagi, karena sewaktu-waktu bisa main dengan yang lagi membutuhkan untuk melepaskan hasrat.

Sampai pada suatu hari ada penghuni baru di kamar mereka, dan penghuni baru itu bernama Ali yang sekolah di SMAM, dan dia tidak bisa terlibat dengan hobbi kami, maka sejak saat itu kami tidak lagi melakukan baik bersama-sama ataupun secara bergantian, dan tidak ada lagi cerita-cerita seru lagi diantara kami, sesuai dengan komitmen kami semua, sampai akhirnya kami saling berpisah satu dengan yang lainnya karena ujian akhir telah usai dan kami sibuk untuk mencari sekolah lanjutan kami masing-masing. Tinggallah kenangan manis yang hanya bisa kutuangkan dalam tulisan ini.

Dimanakah kamu sekarang Yossi, Yohan dan Antok, apakah merekapun masih mengenang masa-masa manis seperti itu lagi atau sudah lupa dan terkubur dalam-dalam tanpa kenangan sedikitpun. Karena sejak kami berpisah tidak pernah saling kontak satu dengan yang lainnya.

Dan pada saat yang lain aku juga punya pengalaman berfantasi lewat telepon dengan orang yang belum pernah bertemu muka dengan muka dan inilah kisahnya:

Phone Sex

Aku mengenal dia dari e-mail yang masuk kemail boxku, dan dia tahu alamat mail boxku juga dari membaca cerita-ceritaku yang nampang disalah satu situs yang ada di internet, karena asyik atau karena terkesan dengan ceritaku, akhirnya dia memberikan komentar atas ceritaku lewat e-mail. Sebetulnya banyak sekali e-mail yang masuk ke dalam mail boxku untuk memberikan komentar atas cerita-ceritaku, akan tetapi kebanyakan hanya sekedar basa-basi saja setelah kubalas sekali dua kali akhirnya tidak ada kabar beritanya lagi. Sedangkan yang satu ini lain daripada yang lain. Disamping dia tetap setia membalas e-mail yang kukirimkan juga selalu membalasnya setiap ada kesempatan.

Hingga suatu saat dalam e-mailnya dia meminta nomer telepon atau nomer HP-ku, dan akhirnya aku memberikan nomer HP-ku. Aku tidak menyangka kalau malam itu juga dia menghubungi aku setelah sorenya aku membuka mail-boxku dan memberikan nomer HP-ku. Dalam pembicaraan telepon interlokal yang biasanya dilakukan hanya beberapa menit saja, akan tetapi kali ini aku menerima telepon interlokal selama kurang lebih 40 menit lamanya. Karena posisiku ada di Malang sedangkan dia ada di Jakarta. Hampir setiap hari aku menerima telepon darinya, dan akupun merasa jadi salah tingkah kalau tidak menerima telepon darinya dan mendengar suaranya.

Waktu berjalan dengan sangat cepatnya, dan kalau malam hari kadang aku merasakan kesepian yang amat sangat, maka kucoba untuk menghubunginya sekedar mendengar suaranya dan kalau kebetulan dia sedang berada ditempat akhirnya kami ngobrol berlama-lama karena tidak ingin saling mengakhir pembicaraan. Walaupun kita belum pernah berjumpa muka dengan muka akan tetapi kami merasakan begitu akrab dan sudah tidak ada yang perlu disembunyikan lagi dalam pembicaraan kami.

Sampai akhirnya pada suatu malam dia menghubungi aku lagi disaat aku benar-benar mengharapkan telepon darinya dan saat aku merasakan kesepian, bagaikan pucuk dicinta ulampun tiba. Karena malam itu aku sudah mau tidur akan tetapi tidak bisa memejamkan mata karena begitu kangennya padanya, maka sambil melamun aku mengocok-ngocok penisku yang sedari tadi terus menegang dan setelah aku mendapatkan telepon darinya maka aku tidak dapat mengendalikan diri untuk terus meracau mulutku dengan desahan-desahan penuh berahi yang membangkitkan nafsunya juga, maka pada malam itu terjadilah yang dinamakan phone-sex, desahan demi desahan nafas penuh berahi saling berpacu lewat telpon dan tangan kami masing-masing saling mengocok penis kami, sehingga akhirnya aku tak kuat lagi dan..

"Ooohh, oohh, yaanngg"
"Cepet doonngg sayyaanng"
"Aku mau lagi sayang"
"Oke, kocok lebih cepet lagi sayang" kataku.
"Bentar lagi keluar, yaangg"
"Aku mau lagi sayang, aku sudah tegang lagi sayang"
"Kita keluarin bareng-bareng lagi yaa yaangg" kataku lagi.
"Oke sayaanngg"
"Aaauucchh, oohh, oohh"

Akhirnya dia keluar juga dan tak berapa lama akupun juga ngecrot lagi, setelah saling memberikan cumbuan dan ngobrol lagi akhirnya kami saling mengakhir pembicaraan lewat telepon dan pada HP-ku tertera waktu bicara selama 51 menit, dengan kepuasan yang dapat kami rasakan walaupun hanya melalui suara-suara di telepon, akan tetapi kerinduanku sudah terobati dan malam itu aku bisa tidur dengan nyenyak dan keesokkan harinya aku bangun pagi dengan badan yang agak lemas akan tetapi merasa sangat puas dengan pertemuan dan ML lewat telepon yang kami lakukan semalam.

Setelah kami sering bertemu lewat telepon dan juga lewat e-mail, maka kami berjanji untuk saling bertemu muka bila ada kesempatan diantara kami. Kalau ada kesempatan ada tugas ke Jakarta maka aku akan mengunjunginya dan sebaliknya dia akan datang ke Malang kalau ada kesempatan untuk cuti dari tempat kerjanya. Hari demi hari berjalan dengan amat lambat menunggu akan datangnya kesempatan untuk dapat saling bertemu, akan tetapi harapan-harapan itu seakan sirna ditelan kenyataan. Karena setiap waktu yang kami janjikan untuk bertemu terus berjalan dan berlalu tanpa ada kenyataan, sehingga kadangkala aku makin tersiksa dengan keadaan ini, akan tetapi karena kita masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri ditempat kerja kami. Sehingga mau tidak mau harus mengalahkan kepentingan pribadi untuk saling bertemu.

Bersambung . . . .

Pecinta ABG - 2



Sementara itu Andrew dan Dimas sudah semakin jauh, kulihat Dimas sudah menghisap kemaluan Andrew yang celananya belum dibuka penuh hanya kancingnya saja. Aku dan Dani melihat hal itu. Adik kelasku semakin bingung, tapi tiba-tiba Dani memeluk Heru dari belakang dan menjilat telinganya, Heru meronta, tapi tidak cukup serius untuk menolak, karena kulihat dia mulai terangsang juga, lalu kuhampiri dan kupegang badannya dan bibirnya kuangkat dan kucium, ternyata Heru juga tak menolak bahkan semakin panas dan membalas dengan lidahnya. Aku juga semakin terangsang, tanganku memegang celananya dan kubuka. Terlihat kemaluannya yang sudah membesar dan kulepaskan celana dalamnya, besar sekali tapi masih polos anaknya, kujilati dan kuhisap kelaminnya dan Heru semakin menggeliat, akupun juga membuka seluruh celanaku, begitu juga Andrew dan Dimas sudah tidak memakai celana sama sekali atau sudah telanjang, hanya seragamnya saja.

Dani masih saja memeluk Heru dengan bernafsu dari belakang lalu Dani minta kepadaku untuk menggesek kelaminku di pantatnya dan kuturuti. Pantat Dani yang seksi juga erangan dan desahannya yang semakin menjadi menambah nafsuku. Kulihat kelaminku semakin besar.
"Masukin Ry, ayo dong, gue mau dimasukin.."
Aku tak tahan mendengarnya, akhirnya kumasukkan juga perlahan ke anus Dani, sambil lubangnya kuludahi dulu agar tidak keras dan licin.
"Gue masukin Dan, ahhk.., ahhkk .."
Dani mengerang kesakitan tapi merasa senang akhirnya kelaminku sudah masuk ke anusnya. Kudorong-dorong terus, Dani menungging di kasurku kenikmatan. Andrew dan Dimas juga melihat apa yang kulakukan dan mereka bergabung ke atas kasur dengan kami lalu Andrew dan Dimas menghampiri Heru dan mengajaknya lagi.
"Ayo Her, jangan malu-malu".
Dan Andrew menidurkan badan Heru di kasur dan memegangi tangannya, lalu Dimas memegang kakinya dan memasukkan kelamin Heru ke mulutnya. Heru menggeliat nikmat, badannya yang juga polos tampak seksi. Andrew memasturbasi kelaminnya sendiri.

Keadaan bertambah panas, lalu Andrew menyuruhku agar selesai dengan Dani dulu. Dalam keadaan bernafsu kami semua sudah tidak ada yang memakai celana lagi hingga semuanya sudah dapat melihat kelamin masing masing.
Kemudian Andrew berkata, "Gue mau masukin Heru".
Tiba-tiba Heru agak berontak, tapi karena terangsang dia hanya berontak ringan, kulihat Andrew mengangkat kedua kaki Heru dan mulai memasukkan kelaminnya ke Anus Heru.
"Ahh, jangan Drew, gue nggak mau dianal, jangan..", teriak Heru.
Tapi Andrew tak peduli dan terus memasukkannya sementara tangan Heru dipegangi Dimas, aku juga mengarahkan kelaminku ke mulut Heru yang telentang. Tak disangka dia pun mau menjilatnya, aku kenikmatan, Dani meminta juga pada Dimas agar menghisap kelaminnya.
"Dimas, sepong gue dong, ahhkk, hh.. ahh.."
Dimas langsung memasukkan ke mulutnya. Heru masih kesakitan, tapi Andrew juga mengerti hingga hanya ujung kelaminnya saja yang dimasukkan ke anus Heru, lalu kuhisap kelamin Heru sementara anusnya dimasuki oleh Andrew.

Aku berposisi 69 dengan Heru. Kelamin Heru yang panjang dan bulunya yang halus tampak seksi karena dia baru kelas 1 SMU jadi bentuknya yang panjang tapi tidak besar diameternya dan buah kelaminnya yang kecil menegang, tiba tiba juga Dimas memasukkan kelaminnya ke anusku tapi kuminta jangan terlalu dalam karena aku kesakitan. Aku terkejut karena baru pertama kali. Akhirnya kelamin Dimas masuk ke anusku, sementara Dani juga ikut bersamaku menghisap kemaluan Heru bergantian denganku.
Andrew tiba tiba berteriak, "Aahh, gue mau keluarr, ahh.."
Dan muncratlah air mani andrew di sekitar anus dan kelamin Heru yang sedang kuhisap bersama Dani, basah dan tak kusangka air mani Andrew banyak sekali. Sewaktu muncrat pertama kukira sudah habis tetapi ternyata masih keluar lagi sambil terus dikocok olehnya. Bayangkan, aku sedang menghisap kemaluan Heru bersama Dani dan tiba tiba ada air mani Andrew yang terpaksa masuk ke mulutku dan Dani yang sedang menghisap kemaluan heru, sementara itu anusku juga terus diludahi Dimas yang sedang berusaha memasukkan kelaminnya ke anusku sementara dani menjilati sperma Andrew yang basah di sekitar anus Heru dan yang membuatku terkejut ternyata sperma tersebut ditelan oleh Dani bahkan dia seolah minta lagi dan langsung menghisap kelamin andrew lagi yang sudah basah tapi belum juga terlihat lemas.

Heru ekspresinya semakin menunjukkan kenikmatan, tiba tiba kurasakan pantatku basah oleh air Mani Dimas, ia mengeluarkannya di luar pantatku, lalu dani menghampiri kelamin Dimas dan melakukan lagi hal yang sama, meminum sperma Dimas baik yang ada di pantatku maupun yang masih ada di kelamin Dimas. Kupikir menjijikan sekali apa yang dilakukan Dani ini, tapi karena air maniku belum keluar dan Heru masih terus mendesah, sedang Dani juga belum keluar air maninya. Jadi tinggal aku, Dani dan Heru yang belum keluar. Andrew dan Dimas lalu duduk di kursi lunglai lemas sambil melihat kami bertiga masih bergumul di kasur. Kulihat Dani memasturbasi kelaminnya dengan tangannya sendiri, sementara aku mngambil posisi di atas badan Heru, sambil memandangi wajahnya yang cute, rambutnya yang dipotong pendek, dan kulitnya yang putih bersih dan seragam sekolahnya yang basah oleh keringat, otot lengannya yang sering main basket yang berbentuk tapi tidak besar semakin terlihat seksi di seragam itu. Matanya yang polos juga memandangku seolah ia menungguku untuk menciumnya lagi, tak terasa ada perasaan hangat dalam diriku terhadap Heru adik kelasku itu yang sudah kukenal sejak 3 SMP itu. Tetapi saat aku memandangi wajahnya, tiba tiba Dani mengeluarkan air maninya di depan kami berdua, lalu muncratlah air mani Dani di wajah Heru dan ada juga yang kena ke wajahku. Aku merasa jijik sekali, begitu juga Heru yang berusaha menghindar tapi tetap terkena juga dan dilapkannya air mani yang terkena di mukanya ke kasurku, Dani lemas dan berdiri menuju kursi bersama Andrew dan Dimas yang sudah lemas.

Seolah aku merasa berdua saja dengan Heru di atas kasur, lalu kuajak Heru untuk juga duduk di kasur dalam kondisi masih terangsang satu sama lain, kemudian kucium leher dan mulutnya dengan lebih baik dan tidak asal-asalan dan penuh kehangatan, aku memeluknya lagi begitu juga Heru yang memeluk leherku dengan kedua tangannya. Kami terus berciuman, dalam hatiku memang Heru, adik kelasku ini yang kukenal adalah anak manja di rumahnya. Kakaknya semua cewek, jadi dia sering dimanja oleh mereka, dan mungkin dia merasa ingin disayang dan dibelai olehku. Heru orangnya memang baik, lucu dan funky, dia juga disukai oleh teman-teman wanitanya, tetapi menurutku karena dia terbiasa disayang mungkin dia menjadi kaku karena lebih terbiasa untuk diperhatikan dan dimanja, sedangkan teman-teman cewek pasti inginnya disayang dan dimanjakan. Tapi walaupun begitu, tetap saja dia adalah orang yang ramah pada semua orang. Mukanya yang imut membuatku semakin tertarik padanya. Pastilah Heru merasa dimanja olehku selama ini yang kuingat-ingat sering juga aku main dan ngobrol ke rumahnya. Kakaknya mempunyai teman wanita yang kini menjadi pacarku. Sehingga akupun kenal dengan kakaknya. Dari perilakunya sehari-hari di sekolah normal saja, ia berteman dengan siapa saja termasuk dengan teman-temanku, tapi sepertinya pengalaman ini adalah yang pertama baginya, dan ia merasakannya dengan senang hati. Anak basket, putih, cute, dan badannya yang seksi.

Setelah berciuman aku memeluk Heru hingga dia terangsang lagi. Kucium bau badannya yang segar dan hangat, kucium juga ketiaknya di seragam sekolahnya, lalu kujilati perutnya yang mulus. Dia menggeliat, tangannya terentang ke atas, lalu kuhisap lagi kelaminnya yang panjang itu dengan bulunya yang halus. Kuelus pahanya yang putih bersih.
"Her, gue masukin yah..", tanyaku.
"Ayo..", jawabnya.
Kumasukkan kelaminku ke anusnya yang kecil tapi padat secara perlahan lahan. Tak kusangka aku sekarang memasukkan kemaluanku pada seorang pria adik kelasku. Ini adalah yang pertama kalinya bagiku melakukan hal itu tapi aku merasa senang dan nikmat, begitu juga Heru yang memang awalnya kesakitan menjadi kenikmatan. Dia masih tidur telentang sambil mengocok kelaminnya sementara aku memegangi kedua kakinya yang kuangkat ke atas dan terus kumasukkan kelaminku ke anusnya, lalu aku menuju mulutnya yang seksi dan merah itu, lalu kujilati dan lidah kami saling bertemu dan kutelan ludahnya, begitu juga dia menelan ludahku, kucium rambut dan ketiaknya di seragam sekolah seperti apa yang dilakukan Dani padaku waktu itu, badan Heru yang seksi dan berkeringat dengan seragam sekolah anak kelas 1 SMU. Luar biasa.

Aku semakin terangsang bahkan aku mendesah, demikian juga dengan Heru.
"Gue mau keluar.., sshh.."
Kukeluarkan juga kelaminku dari anusnya yang sudah basah dari tadi oleh air mani Andrew dan air ludahku, lalu kumasukkan kelaminnya ke dalam mulutku hingga kurasakan denyut denyut kelamin Heru, lalu keluarlah air mani Heru yang panas dan kental dan cukup banyak, bahkan semprotan pertama yang muncrat itu terlalu jauh masuk ke mulutku hingga tertelan sebagian. Terasa sekali air mani anak cowok yang umurnya 16 tahunan adik kelasku ini, lalu yang ada sisa di mulutku kujilati lagi di kemaluan Heru. Sekarang giliranku yang akan mengeluarkan air mani. Kutarik kepala Heru menuju kelaminku, dan dihisap oleh Heru dengan penuh nafsu hingga akhirnya setelah satu menit keluarlah air maniku. Ternyata dia menelan juga sebagian air maniku, lalu setelah keluar aku memeluk dia lagi di kasurku yang sudah berantakan itu, dan berciuman lidah lagi dengan Heru, di mulutku ada air maninya dan dimulut Heru ada air maniku.

Andrew, Dimas dan Dani hanya melihatku sambil tersenyum nakal. Mereka sudah mengenakan lagi celana seragamnya, sementara VCD porno yang tadi kupasang masih menyala. Setelah itu Heru dan aku bangkit ke kamar mandi membersihkan badan bersama. Di dalam kamar mandi, aku dan Heru saling membersihkan dan menyabuni. Setelah itu kami keluar dalam keadaan telanjang, lalu memakai seragam lagi dengan lengkap.
Waktu di kamar mandi kukatakan, "Her, lo cute sekali sih, gue jadi suka sama lo"
"Wah gue juga baru pertama kali beginian, tapi enak juga yah"
Aku tersenyum dan kupeluk lagi dari belakang badannya yang seksi.

Setelah kejadian itu aku justru lebih sering bercinta dengan Heru, sementara aku tahu Andrew, Dimas dan Dani masih sering juga melakukannya. Heru menjadi lebih sering ke rumahku dan begitu juga aku kalau ada kesempatan, tentunya yang kulakukan dengan Heru setelah yang pertama ini lebih merangsang dan nikmat sekali.

Sekarang aku sudah kuliah, tapi kadang-kadang masih juga bercinta dengan Heru. Temanku Andrew, Dani dan Dimas juga sudah kuliah. Hingga kami berempat lulus SMUN dan sekarang saat kuliah pun, tidak ada dari kami yang saling mengganggu dan bahkan tetap berteman, Andrew dan Dimas kuliah di Australia, Dani tetap di Jakarta tapi aku tahu dia sudah punya pasangan wanita juga sama sepertiku.

Walaupun begitu di kampus aku tidak ingin mencoba-coba mencari teman di sana yang bisa diajak, karena aku masih sering teringat pengalaman tersebut, bagiku bisa kenal dan bercinta dengan anak sekolah SMP atau SMU menyenangkan sekali, lebih terasa dan hangat. Tapi bukan berarti harus selalu anak SMP atau SMU, yang jelas kalau ada yang mau kenal silahkan saja berumur tidak lebih dari 20 tahun, dan make love buatku kalau mereka mau baru gue juga mau. Tetapi tetap dengan cara yang baik baik, safety seks dan ada respek tapi no hearts feeling karena aku sudah punya kekasih. Jelas aku suka bercinta sambil memakai seragam sekolah SMU-ku dulu, dengan saling berciuman hangat. So let its for fun right..!

For any cute boys, you can send me your email and its ok to just friend, pasti sebisa mungkin aku balas, see you again..

Tamat

Pecinta ABG - 1



Ini adalah pengalamanku ketika di SMU pertama kali waktu kelas 2 tahun 2000 kemarin, bercinta dengan teman-teman bahkan adik kelasku merupakan pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Hal itu benar benar luar biasa, bahkan hingga sekarang aku sudah kuliah di perguruan tinggi pun masih terbayang-bayang.

Di sini akan kuceritakan salah satu pengalaman bersama teman-teman dan adik kelasku waktu SMU dulu yang mungkin akan membuat anda pembaca pernah merasakan juga atau yang menyukai cowok yang cute, manis, dan baik. Bercinta dengan teman SMU dan adik kelas awalnya adalah hal yang dulu tidak kupikirkan sama sekali karena aku saat ini pun masih mempunyai seorang kekasih yang kusayangi atau dengan kata lain aku sebenarnya masih menyukai wanita.

Bercinta dengan cowok masih kulakukan juga tetapi sebagai just for fun saja mengingat kenikmatan yang dulu kualami juga. Hanya saja sekarang aku memang lebih menyukai yang masih duduk di bangku SMP ataupun di SMU saja jadi tidak mencari sembarangan (safety minded) karena dalam bercinta dengan mereka aku dapat lebih enjoy melihat kepolosan dan tampannya mereka dengan lebih menyenangkan. Selamat membaca!

*****

Tahun 2000 lalu Aku, Ery (samaran) merupakan siswa kelas 2 salah satu SMUN di Jakarta, berpenampilan menarik dan suka bergaul. Tentunya banyak juga teman cewek yang menyukaiku tapi aku lebih berkonsentrasi pada pelajaran walau ada juga teman wanita yang mencuri hatiku. Aku berteman akrab dengan teman sejak SMP yang masuk ke SMU yang sama yaitu Dimas dan Andrew sedang Dani kami kenal di SMU dan jadi akrab karena waktu awal masuk SMU kami yang harus dikerjai dulu oleh kakak kelas pernah dibantu Dani untuk meminjamkan handphonenya yang waktu itu tidak boleh dibawa, tapi dia nekat diam-diam dan kita pakai HP-nya untuk menelepon ke rumah Andrew karena ada tugasnya yang ketinggalan walau waktunya mepet.

Dimas orangnya rame, berkulit lumayan putih berbadan sedang dan memakai kacamata. Walau memakai kacamata dia termasuk cowok yang tampan. Andrew orangnya riang, tinggi kurus tapi tidak kurus sekali dan punya dada yang bidang, dia indo karena kakeknya berasal dari Inggris dan dia tampan, putih, kalau bibirnya yang merah itu basah pasti kelihatan cute sekali ditambah dengan mode rambutnya yang dipotong pendek mirip salah satu penyanyi boy band Blue. Karena dia indo maka putih kulitnya tidak seperti orang barat pada umumnya yang putih sekali, dia berkulit putih yang manis. Yang terakhir adalah Dani, dia juga cowok cute dan agak pendiam tetapi kalau sudah rame pasti dia bisa ikut rame juga. Di antara kami memang Andrew yang paling cute tapi kami berempat bisa dikatakan cowok-cowok yang lumayan top di sekolah karena termasuk cowok-cowok yang cute dan keren apalagi Andrew yang aktif di basket. Aku sendiri orangnya keren, berkulit sawo dan putih sedang.

Kami sudah kelas 2 SMU dan suatu siang yang panas, pulang sekolah, aku pulang bersama Dani dan mampir ke rumahnya di kawasan Jakarta. Sudah biasa aku main ke rumahnya tapi kali ini dia tiba-tiba menanyakan hal yang agak lain kepadaku di kamarnya di atas setelah kami ngobrol-ngobrol dan memutar CD audio.
"Eh, kebayang nggak lo ngentot sama Rina".
Aku tersenyum saja, "Kenapa, lo naksir sama dia?"
"Gue sempat ngeliatin dia tadi di kelas, orangnya manis juga".
Kemudian Dani mengeluarkan VCD porno dari lacinya dan dipasang di komputer. Kami jadinya malah nonton bareng. Aku dan Dani menonton berdua. Pada saat itu rumahnya tidak ada orang hanya ada 2 orang pembantu yang ada di lantai bawah. Pada adegan yang semakin panas tiba tiba Dani berkata, "Gesek-gesek yuk..!". Aku terdiam kaget karena hal itu yang juga pernah kubayangkan waktu nonton VCD porno di rumahku bersama yang lain tapi niatnya sekadar merangsang bareng dan tidak terlalu jauh.

Aku segera menyadari bahwa ia ingin kami saling menggesekan kelamin dan aku juga saat itu memang sudah terangsang. Aku mengiyakan saja dan kemudian aku dan dia berdiri ke kasurnya. Lalu kami berhadapan dan Dani mengangkat tanganku dan memelukku sambil menggesek kelaminnya di depan celanaku dan saling beradu kelamin tapi tidak sampai membuka celana. Ia pun tidak membuka celananya, kami masih memakai seragam SMU yang basah dan berkeringat. Sambil mendesah desah pelan, Dani lalu mencium badanku dan lidahnya menjilat seragamku yang berkeringat. Aku memang kalau sekolah tidak pernah memakai kaus dalam, begitu juga teman-temanku itu.
"Ry, gue suka sama cowok, lo jangan marah ya.."
Akhirnya aku sadar, memang benar kalau Dani suka sama cowok tetapi baru sekarang dia mengaku.
"Gue suka liat badan anak sekolah yang nggak pakai kaos dalem, seksi, ahh aahh aahh".
Aku juga terangsang mendengarnya. Badanku semakin berkeringat, begitu juga Dani yang tidak memakai kaos dalam. Dia menciumi ketiakku di seragam yang basah, kami akhirnya pindah ke kasur dan dia mulai membuka celana hingga celana dalamnya.

Aku melihat kelaminnya yang sudah memanjang sekitar 15 cm tapi tidak begitu besar, hanya panjang dengan bulu-bulu yang tidak terlalu banyak. Dia memintaku juga untuk membuka semua celana hingga celana dalamku, tapi aku hanya mau celana saja. Dia tidak menghiraukanku yang tidak membuka CD. Kami saling berpelukan lagi dan aku juga semakin terangsang melihat dia yang ternyata mempunyai wajah yang manis, bibir tipis dan kulit bersih hingga akhirnya dia kucium dan kukulum lidahnya, begitu juga dia membalasnya. Kubuka celana dalamku juga dan kelaminku pun sudah memanjang besar, dia semakin terangsang dan mulutnya yang manis menuju kelaminku dan menghisapnya dengan penuh nafsu. Aku semakin bernafsu juga dan awalnya aku tidak mau memasukkan kemaluan Dani ke mulutku, tapi aku menjadi lupa, setelah 5 menit dia mengulum kelaminku ganti aku yang mengulum batang kelamin dan buah kelaminnya dengan nafsu.

Bau khas kelamin remaja belasan tahun yang puber ternyata menambah nafsuku juga yang entah mengapa semakin tidak terkontrol. Dani mendesah kenikmatan. Pantatnya yang keras kuremas-remas hingga dia semakin mendesah. Waktu aku ingin membuka kemeja seragam Dani, ia menolak dan menyuruhku juga tetap memakainya. Aku mencium mulut Dani lagi sampai terasa olehku akan keluar air mani. Aku mendesah sambil melakukan masturbasi dengan anganku, lalu Dani berjongkok dan melepas tanganku yang sedang mengocok lalu ia masukkan lagi kelaminku ke dalam mulutnya hingga muncratlah seluruh air maniku di dalam mulutnya. Kulihat ia memainkan air maniku yang belepotan dengan mengeluarkan lagi dari mulutnya lalu dijilatinya di kemaluanku.

Aku lemas, tapi Dani belum keluar, ia memintaku untuk memasturbasinya sambil telentang di kasur, akupun menurutinya dan mengocok, ia mendesah kenikmatan, kupegang kemaluannya yang tidak besar tapi panjang dan sedikit sekali bulu-bulunya, ia semakin mendesah dan akhirnya muncrat hingga aku tak bisa menghindar sampai seragamku akhirnya kena dan basah oleh air mani Dani. Dani telentang di kasur, kelelahan juga. Setelah itu aku bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Dani untuk membersihkan air mani yang menempel di seragam sekolahku. Setelah keluar, Dani masih telentang dan melihat ke arahku sambil tersenyum kelelahan. Aku memakai lagi celana dalam dan celana abu-abu sekolahku.

Untuk sesaat aku terdiam lalu Dani berkata dengan kondisi kemaluannya yang sudah lemas dan basah oleh air mani di kasurnya sambil duduk.
"Ry, gue sebetulnya pernah beginian juga sama Andrew dan Dimas, lo aja yang tidak pernah kita ajakin soalnya gue takut Andrew dan Dimas marah sama gue, mereka bilang tidak usah ajak Ery. Awalnya juga karena gue, Andrew dan Dimas pernah nonton VCD porno di rumah gue tapi tanpa lo, dan akhirnya kita jadi sering begini habis nonton.."
Aku diam dan hampir tidak percaya ternyata Andrew dan Dimas sering beginian dan ternyata memang Dani yang pertama mengajak mereka dan akhirnya keterusan.
"Dani, lo itu memang suka sama kita-kita ya?"
"Iya, cuma gue tidak bisa bilang ke lo langsung, gue nggak mau lo pada marah sama gue.."
Dani mulai terlihat sedih.
"Gue juga suka liat anak cowok pakai seragam sekolah tapi nggak pakai kaos dalam, dari sejak gue SMP, nggak tau kenapa Ry.., kayaknya gue ini ada kelainan karena sejak SMP suka sama cowok, Andrew dan Dimas karena awalnya iseng ngikutin ajakan gue jadinya keterusan beginian, mereka suka ngelus-ngelus dan membelai gue, juga di sekolah terutama di toilet, mereka berdua yang buat diri gue serasa nyaman karena kalo lagi beginian pasti gue yang dipeluk-pelukin sama mereka dan gue suka digituin.., i feel my fantasy.. Ry..".

Aku diam dan teringat setelah kupikir pikir Andrew dan Dimas juga tidak pernah memakai kaos dalam.
"Gue suka liat lo nggak pakai kaos dalam Ry, seksi dan gue suka bau keringat..".
Terselip perasaan simpati kepada Dani, dan lalu aku menghampiri dan memeluknya lagi dengan hangat dari belakang tubuhnya. Mukanya yang cute dan bibirnya yang tipis memerah. Kulitnya yang putih dan dadanya yang juga bidang terlihat seksi di balik seragam sekolahnya. Setelah itu aku juga membelai rambutnya dan menenangkannya. Setelah ngobrol lagi, aku pulang ke rumahku dengan taksi, di perjalanan aku berpikir ternyata melihat badan cowok yang lagi memakai seragam putih yang ukurannya pas/kecil (mode tahun 2000-an hingga kini) seksi juga. Dan aku jadi mulai tertarik untuk melihat badanku sendiri pakai seragam SMU tapi tanpa kaos dalam. Hari berlanjut, pikiranku yang tadinya hanya konsentrasi untuk UMPTN jadi bercabang, antara ada perasaan yang kutahan agar tidak muncul yaitu suka sama cowok tapi di satu sisi ada keinginan untuk melakukan lagi pengalaman nikmat itu.

Pada hari Sabtu aku bertemu dengan adik kelasku bernama Heru. Anak Kelas 1 SMU, Dia anak cowok yang manis (saat ini dia kelas 3 SMU) seperti teman-temanku, berbadan kurus atletis, putih, berbibir seksi dan juga selalu memakai seragam sekolah yang seksi, polos ketat dan tanpa kaos dalam. Selama bertemu dengannya tidak pernah ada perasaan suka padanya, tapi bagiku keadaan berubah. Waktu itu hari Selasa, dia sedang main basket di lapangan dan tidak memakai baju olahraga, seragamnya yang seksi basah oleh keringat dan dengan sepatu Nike terbaru dia tampak benar-benar cute dan rambutnya yang mirip Harry Potter semakin membuatnya keren, hingga aku teringat lagi pengalamanku bersama Dani waktu itu.

Aku memanggilnya.
"Heru, ntar pulang sekolah main ke rumah gue, ada Andrew, Dimas juga Dani, kita mau ada rencana untuk Pentas Seni, lo anak kelas satu jadi bantu-bantu kita.."
"Wah, gue kayaknya nggak bisa, ada les tapi okelah gue usahain.."
"OK Her, kalo gitu ntar lo bareng sama kita.."
"OK Ry!"

Waktu berjalan, pada hari Selasa sepulang sekolah itu, aku yang mengajak mereka bertiga dan Heru adik kelasku ke rumahku yang lagi kosong, hari itu di kelas aku merasa merindukan pengalaman bersama Dani lagi. Kupikir waktunya tepat jadi kuajak teman-temanku ke rumah. Andrew, Dimas dan Dani. Hingga saat itu aku semakin merasakan suka dengan teman cowok dan ingin menyalurkan dan bercinta dengan teman-temanku. Dan ada lagi anak baru yang cute, adik kelasku yang terbayang juga belakangan ini. Aku berani karena aku sudah tahu kalau Andrew, Dimas dan Dani sering bercinta bersama yang mana kadang-kadang dari cerita Dani, mereka saling berganti posisi dan saling bercumbu mesra. Walaupun sudah mulai bermain anal, saling memasukkan jari ke anus antar mereka, saling membelai dan dibelai tetapi kata Dani mereka masih normal dan tidak jadi seperti Dani yang memang sudah ada kelainan karena hanya suka sama cowok.

Sampai di rumah, kami langsung masuk ke kamarku di lantai atas, kami berlima dalam keadaan berkeringat. Aku langsung menyalakan komputer dan kupasang VCD porno yang kuperoleh dari Dani, kami tertawa tawa menontonnya, tapi aku sudah tahu kalau kami semua sebenarnya sudah terangsang. Dimas dan Andrew semakin terlihat bernafsu. Begitu juga adik kelasku Heru yang ternyata sering juga menonton VCD porno di rumahnya tersenyum. Tiba tiba Andrew mengelus-elus badan Dimas, dan Dimas membalas memeluknya. Aku, Dani dan adik kelasku melihat mereka dengan tersenyum. Andrew memeluk Dimas dari belakang dan Dimas semakin terangsang, akupun menghampiri Dani dan Dani langsung mengerti, aku mengulurkan lidah ke mulutnya. Dia membalas dan kami saling berciuman. Adik kelasku Heru menjadi bingung. Aku lalu melepas pelukanku pada Dani dan mengarah kepadanya dan mengajak begituan juga tapi tidak memaksanya, dia bingung dan menolaknya. Aku terus mengajaknya dan Dani tersenyum padanya.

Bersambung . . . . .
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com