Menampilkan entri yang lain dengan label Sesama Pria. Tampilkan entri lawas
Menampilkan entri yang lain dengan label Sesama Pria. Tampilkan entri lawas

Senin, 15 Februari 2010

Persahabatan tiga ABG gay - 4



"Ya.. yah, terus Tomi, teruskan.. akh.. nikmat sekali rasanya. Masukkan lidahmu ke pantatku.. oh.. ah, oh.." desah Iwan tak terkendali saat ia merasakan ada sesuatu yang lembut coba menerobos memasuki anusnya.
Dengan reflek, Iwan mengendurkan otot-otot anusnya, sehingga anus perawan yang semula tertutup rapat itu mulai mengendur. Kondisi itu makin memudahkan lidah Tomi membuka permukaan mulut anus Iwan. Namun, lidah Tomi tidak bisa terlalu dalam menjangkau lubang anus Iwan. Iwan sendiri tampak mulai tak sabar merasakan sensasi kenikmatan sex yang lebih dalam lagi. Pinggulnya mulai bergoyang-goyang, seolah memancing lidah Tomi agar lebih berani menjelajahi lebih dalam rongga pantatnya. Tomi juga tampak tidak mau menyerah. Kemudian ia mengalihkan aktivitas tangan kanannya yang semula sibuk meremas-remas bongkahan pantat Iwan. Jemari tangan kanannya kini sudah berada di depan liang anus Iwan.
Sesaat, Tomi mengulum dan membasahi jari telunjuk kanannya dengan ludahnya. Sesaat kemudian, jari telunjuk itu diarahkannya menuju bibir anus Iwan. Sejenak, Tomi mempermainkan telunjuknya di bibir anus Iwan yang sudah basah oleh air liurnya tadi. Kini jari itu menggantikan aktivitas lidah dan bibirnya dalam memberikan kenikmatan sex pada Iwan. Begitu telunjuk itu menyentuh bibir anus yang lembut, Iwan kembali terpekik dan tubuhnya menggelinjang keenakan. Pekikan lirih itu kemudian berubah menjadi desahan dan rintihan panjang, ketika jari telunjuk Tomi berusaha menembus permukaan anusnya. Kontan Iwan merasakan ada kenikmatan yang lebih kuat lagi, saat jari Tomi sudah membuka liang anusnya. Tapi, kemudian Iwan memekik keras dan membuka matanya.
"Aduh.. sakit Tomi, perih Tomi" rintih Iwan memelas.
"Rileks saja Wan.. kendurkan otot anusmu sekarang. Kamu akan merasakan kenikmatan yang tiada taranya" ujar Tomi dengan penuh kesabaran, sambil menarik lagi jari tengahnya dari mulut anus Iwan.
Tomi menyadari, ini adalah hubungan sex pertama bagi Iwan. Karena itu, ia harus bertindak hati-hati agar Iwan tidak merasakan sakit pada anusnya. Sebab ia takut rasa sakit itu akan menimbulkan trauma pada diri Iwan saat melakukan hubungan seks lagi dengannya. Dan Iwan yang sudah benar-benar pasrah, menuruti saja perkataan Tomi dengan bernafas panjang sambil mengendurkan otot-otot anusnya. Setelah Iwan benar-benar rileks, Tomi mulai lagi mencoba melakukan penetrasi jarinya ke anus yang kini mulai tampak longgar itu.
"Ok Tomi, aku siap sekarang, masukkan lagi jarimu" ujar Iwan lirih.
"Baiklah Wan, kalau masih sakit bilang ya" sahut Tomi lembut.
Kemudian, Tomi kembali membasahi jarinya dengan ludahnya, lantas mengarahkannya ke mulut anus Iwan. Masih dengan penuh kesabaran, Tomi menggelitikkan jarinya di bibir anus Iwan. Hal itu membuat Iwan kembali merasakan sensasi kenikmatan pada bibir anusnya, dan membuatnya semakin rileks. Mulut Iwan kembali mendesis-desis kenikmatan, dan matanya sudah terpejam kembali. Melihat kondisi Iwan yang tampak sudah siap, jari Tomi mulai menerobos kegelapan anus Iwan. Kali ini Iwan sudah benar-benar rileks, sehingga otot-otot anusnya tidak melawan saat jari Tomi menguak mulut anusnya. Dengan pelan-pelan jari itu mulai menyusup masuk dan menembus mulut anus Iwan.
"Akh.. uh en.. naakk Tomi.. terus masukkan sayangku.." lenguh Iwan yang semakin jauh menyusuri kenikmatan demi kenikmatan yang menghampiri tubuhnya.
"Gimana Wan, sakit gak?" tanya Tomi saat mendengar lenguhan Iwan.
"Akh.. enak Tomi gak sakit kok terusin aja, masukkan semua tanganmu" sahut Iwan sambil menggeliat-geliat keenakan.
Mendengar jawaban Iwan itu, Tomi pun tak ragu lagi meneruskan memasukkan jarinya ke anus Iwan. Tak terasa sudah setengah jarinya amblas dalam kegelapan lorong anus Iwan. Dan semakin dalam jari itu menembus anus Iwan, goyangan dan desahan Iwan semakin kuat. Rupanya Iwan mulai menuai kenikmatan yang lebih hebat lagi. Akhirnya, seluruh jari telunjuk Tomi sudah tenggelam dalam liang anus Iwan. Sejenak Tomi mendiamkan jarinya yang kini sudah tersekap dalam dekapan hangat liang anus Iwan.
Dalam kondisi itu, Tomi menggerakkan kepalanya menuju batang kontol Iwan yang masih berdiri tegak ngaceng, dengan kepala kontol yang sudah basah kuyup oleh lender bening. Begitu banyaknya lendir bening yang keluar, sampai mengalir ke sepanjang batang kontol itu, dan kemudian menggenang di sekitar pangkal batang kontol serta membasahi bulu-bulu jembut yang tumbuh lebat di sekitarnya. Lidah Tomi kemudian menyapu sepanjang batang kontol dan jembut yang basah oleh pre cum Iwan. Terasa asin dan gurih pre cum itu. Dan baunya yang khas makin membuat birahi Tomi meledak-ledak.
Menatap kontol yang ngaceng dan sekeras baja itu, Tomi semakin gemas. Kontolnya sendiri juga sudah dari tadi mengalirkan pre cum yang banyak, sampai membasahi kain sprei tempat tidurnya. Meski sebenarnya sudah tidak sabar lagi, namun demikian, Tomi tetap sabar memberikan kenikmatan-kenikmatan birahi pada kekasihnya. Tomi ingin benar-benar menuntaskan tugasnya sampai Iwan benar-benar sampai pada puncak kenikmatannya. Karena itu, Tomi kemudian mulai menggerakkan jarinya keluar masuk lubang pantat Iwan. Gerakan jari itu menimbulkan gesekan-gesekan panas yang penuh sensasi, membuat mulut Iwan tidak berhenti mendesah dan melenguh.
"Akh.. ah.. enak sekali jarimu Tomi.. aku suka sekali. Teruskan Tomi, masukkan lebih dalam lagi akh akh enak Tomi akh.." desah Iwan setiap kali Tomi menggerakkan jarinya keluar masuk.
Dan bersamaan dengan gerakan-gerakan jarinya itu, dari lubang kontol Iwan mengalir dengan deras pre cum. Setiap kali jari Tomi bergerak masuk, dari lubang kontol itu mengalir pre cum dengan deras. Dan setiap tetes pre cum yang keluar langsung disambut oleh sapuan lembut lidah Tomi, dan begitu seterusnya, yang memberikan kenikmatan ganda pada Iwan. Sementara di bagian bawah anusnya dikocok-kocok jari Tomi, dan pada saat yang sama kepala kontolnya juga digelitik dan diusap oleh lidah Tomi. Kondisi itu membawa Tomi semakin jauh terbang ke angkasa yang penuh kenikmatan. Dengan mata terpejam, Iwan menikmati saja seluruh permainan Tomi pada dirinya. Tiba-tiba mulut Iwan menjerit keras dan membuat kaget Tomi.
"Ah.. hah kenapa Wan? Sakit ya?" tanya Tomi setengah panik, sambil berusaha menarik keluar jarinya dari lubang pantat Iwan.
"Akh.. jangan, jangan kamu keluarkan jarimu Tomi teruskan saja. Tadi itu enak sekali jarimu dalam pantatku" desah Iwan.
Rupanya, tanpa sengaja jari Tomi menyentuh dan menekan prostat Iwan. Saat itulah, Iwan merasakan kenikmatan yang sangat hebat. Karena itu, Tomi kembali memasukkan jarinya lebih dalam ke liang anus Iwan. Saat kembali jari itu menekan dan menyentuh prostat Iwan yang sensitif, lagi-lagi Iwan memekik dengan nada erotis. Hal itu membuat Tomi penasaran. Karena itu, ujung jarinya sengaja bergerak memutar-mutar tepat pada daerah prostat Iwan yang sangat sensitif terhadap rangsangan. Karuan saja, gerakan ujung jari Tomi itu membuat Iwan makin keras memekik dan mendesah tiada hentinya. Semakin keras Iwan memekik, semakin kuat Tomi menekan daerah prostat Iwan. Sekitar dua menit Iwan melakukan hal itu, sampai Iwan mendekati puncak kenikmatannya. Tanpa memberikan rangsangan oleh mulutnya pada kontol Iwan, kemudian ia mendengar Iwan hendak mencapai orgasmenya. Kali ini Tomi tidak mau menghentikan kegiatan jarinya. Ia membiarkan Iwan mencapai puncak kenikmatan seksnya.
"Akh.. ah Tomi enak sekali. Teruskan, teruskan. Tomi aku udah mau keluar nih, pejuku rasanya sudah di ujung kontolku, ah.. enak.. akh.. uuh.. aku pejuku keluar sekarang Tom.." kata Iwan.
"Ayoo.. Wan, nikmati seluruh puncak kenikmatanmu, Wan. Keluarkan saja semua pejumu. Aku ingin menikmati kesegaran pejumu sekarang Wan.." balas Tomi.
Berkata begitu, Tomi semakin mempercepat gerakan jarinya keluar masuk liang pantat, sambil memberikan tekanan-tekanan pada prostat Iwan. Hal itu membuat Iwan makin merasakan nikmat dan makin kuat menggelinjang, serta mempercepat proses Iwan menuju puncak kenikmatan. Tiba-tiba dari ujung kontol Iwan menyemburkan peju dengan kuat. Padahal kontol itu tidak mengalami rangsangan yang berarti dari mulut Tomi kecuali usapan lembut lidah Tomi saat menyapu pre cum yang keluar dari lubang kontol itu. Ternyata tekanan jari Tomi pada prostat Iwan yang merangsang Iwan mencapai orgasmenya. Untungnya mulut Tomi sudah siap menampung semburan peju hangat dari kontol Iwan.
"Akh.. Tomiee.. aku.. keluar.. sekarang! Ah.. ah.. oh.. akh.. nikmat sekali! Akh.. ah.. uhh.." jerit Iwan panjang, saat kontolnya pertama kali menyemburkan peju.
Inilah semburan peju sekaligus orgasme pertama Iwan melalui hubungan sex. Tubuh Iwan meregang dan mengejang dengan hebat saat ia mencapi orgasmenya. Bersamaan dengan semburan-semburan pejunya yang deras itu, Iwan terus mendesah dan mengerang penuh kenikmatan. Tangannya mencengkram erat kain sprei, sedangkan tangan kanannya juga mencengkram erat rambut Tomi yang tengah sibuk menyedot kontolnya. Nafas Iwan pun tampak terengah-engah seperti baru saja lari maraton, dan tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat birahi yang mengalir makin deras saat ia mengalami ejakulasi.
Mulut Tomi langsung disibukkan oleh semburan peju yang bertubi-tubi dari kontol Iwan. Sementara jarinya terjepit erat oleh bibir anus Iwan yang mengalami kontraksi hebat saat mencapai orgasme. Karena itu, Tomi tidak dapat menarik keluar jarinya dari anus Iwan yang hangat dan lembab itu. Sekitar tiga menit Iwan mengalami orgasmenya yang sungguh nikmat, dan baru sekali ini ia merasakan kenikmatan seindah itu. Semburan-semburan peju yang dahsyat dari lubang kontol Iwan seperti ledakan magma panas dari puncak gunung berapi. Air mani Iwan pun segera memenuhi rongga mulut Tomi, dan segera mengalir membasahi kerongkongan Tomi yang memang sudah kering dan kehausan. Aliran sperma segar itu segera menyegarkan tenggorokan Tomi. Tetapi sperma Iwan sangat banyak. Tomi sempat menghitung terjadi sembilan kali semburan kuat dari kepala kontol Iwan. Dan semburan itu semuanya tertampung pada mulutnya.
Bersambung . . . . .

Persahabatan tiga ABG gay - 3



Tanpa banyak bicara lagi, Tomi segera meneruskan aksinya. Mulutnya langsung mengarah ke puting susu Iwan. Lidahnya pelan tapi pasti mulai menggelitik puting susu kanan Iwan. Gelitikan lidah yang liar dan binal itu kontan membuat tubuh Iwan kembali menggelinjang dan menggeliat-geliat. Sementara mulutnya mulai merintih dan mendesah penuh rasa nikmat. Rintihannya makin keras dan kadang berubah menjerit lirih, ketika mulut Tomi mulai menghisap-hisap puting susu Iwan. Bergantian puting susu kiri dan kanan Iwan mendapat perlakuan menggairahkan dari mulut binal Tomi. Kadang Tomi dengan usil menggigit lembut puting susu yang menggemaskan itu, dan disertai oleh hisapan yang kuat oleh mulutnya hingga kulit sekitar puting susu itu memerah.
Mendapat perlakuan seperti itu, Iwan semakin tidak dapat mengendalikan dirinya. Tubuhnya terus menggeliat dan mulutnya merintih dan mendesah-desah. Iwan terus mereguk kenikmatan demi kenikmatan, sampai terengah-engah. Sementara Tomi terus dengan aktivitas mulutnya menelusuri seluruh lekuk liku tubuh seksi Iwan dengan lidahnya. Tomi sangat menikmati kegiatannya dan tak henti-hentinya mengagumi kemolekan tubuh Iwan yang kini telah resmi menjadi pacarnya.
Akhirnya sampai juga mulut Tomi ke bagian paling menggairahkan dan membuatnya selama ini penasaran. Itulah kontol Iwan yang memiliki panjang 16 Cm dan ujungnya sudah basah oleh cairan bening dan kental. Bau lendir itu makin memancing gairah seks Tomi. Dengan cepat, Tomi mulai menjilati lendir bening itu hingga ujung kontol Iwan yang merah ranum itu kering kembali dan ganti dibasahi oleh ludah Tomi. Tak puas menjilati ujung kontol yang sudah ngaceng itu, mulut Tomi langsung melahapnya. Pelan tapi pasti, kontol itu sedikit demi sedikit masuk dalam mulut Tomi.
"Oh Tomi sungguh enak Tomi. Teruskan Tomi. Aku sungguh mencintaimu Tomi" desah Iwan tak kuasa menahan diri saat sengatan kenikmatan seks yang terjadi dari gesekan bibir Tomi dengan kulit ujung kontolnya itu makin kuat mengaliri tubuhnya.
Desahan dan rintihan Iwan membuat Tomi semakin bersemangat. Dengan penuh nafsu, lidah Tomi menyapu seluruh permukaan kepala kontol Iwan yang sudah memerah itu. Lendir bening yang mengalir makin dari deras dari celah kepala kontol itu tak luput dari sapuan lidahnya. Asin dan gurih rasanya, ditambah aroma khas dari precum Iwan membuat lidah dan mulut Tomi semakin liar dan buas. Mulut Tomi makin kuat menyedot dan makin cepat bergerak maju mundur, membuat Iwan makin keras merintih dan mendesah tak putus-putus.
Badan Iwan pun tak bisa diam lagi. Tubuh mulus dan sedikit berbulu itu makin kuat menggeliat erotis ditingkahi hentakan-hentakan lembut pada pinggulnya. Tak kurang dari delapan menit Iwan merasakah kenikmatan sex yang mengaliri sekujur tubuhnya. Saat itu, Iwan mulai merasakan desakan yang kuat dari seluruh syaraf pada tubuhnya, dan desakan itu mengalir ke arah kontolnya. Tanda-tanda Iwan hendak mencapai orgasmenya semakin kuat. Tubuhnya makin kuat menggeliat, dan mulai mengejang. Nafasnya semakin memburu seperti orang habis berlari jauh. Keringat birahinya makin deras mengalir, sementara dari celah pada kepala kontolnya juga mengalir precum yang tak kalah derasnya. Denyutan kepala kontolnya juga semakin keras terasa.
"Akh Tomi.. sayangku ak.. ak.. u ma.. mau keluar.. akh teruskan.. en.. nnaakk sekallii.. ah.." rintih Iwan yang tengah hanyut menuju puncak kepuasan sexnya.
Mendengar desahan Iwan, Tomi bukannya memperkuat sedotan dan gerakan mulutnya pada kontol kesayangannya itu. Sebaliknya Iwan justru melepaskan kontol gagah itu dari sekapan kehangatan mulutnya yang binal.
"Akh ayo Tomi teruskan saja. Pejuku udah hampir muncrat nih Kenapa kamu malah berhenti" ujar Iwan penasaran dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Wan, kamu jangan keburu keluar dulu. Aku masih ingin bermain lebih lama dengan kontolmu. Sabar ya sayang" sahut Tomi juga dengan nafas terengah-engah. Peluh tampak membasahi dahi dan punggungnya yang putih mulus.
"Tapi aku udah gak sabar lagi.. pejuku udah hampir muncrat tadi" keluh Iwan dengan sedikit cemberut.
"Sabarlah sebentar, kamu kan belum merasakan jilatanku yang lebih nikmat lagi. Pokoknya aku ingin memberikan yang terbaik buatmu membuatmu benar-benar berada pada kepuasan tertinggi" janji Tomi coba menghibur Iwan yang tampak cemberut.
"Benarkah Tomi? Kenikmatan apa lagi yang masih kau sisakan untukku?" tanya Iwan penasaran, sementara kontolnya masih tetap ngaceng dan terus mengalirkan lendir bening yang kini membasahi bagian bawah perutnya.
"Nikmati sajalah permainan lidah dan bibirku di tubuhmu. Sekarang kamu angkat kakimu" kata Tomi, sambil mengangkat kedua kaki Iwan, sehingga kini Iwan dalam posisi terlentang dengan kedua kakinya mengangkang di udara.
Posisi seperti itu segera memperlihatkan anus Iwan yang kemerahan. Nafsu birahi Tomi langsung kembali menggelora saat matanya menatap tajam ke arah anus perawan milik Iwan. Posisi Iwan yang mengangkang seperti itu sungguh erotis. Sementara anusnya yang masih tertutup rapat seolah tampak menantang kontol Tomi untuk segera menembusnya. Tomi sendiri sebenarnya sudah tak sabar ingin memecahkan keperawanan anus kekasihnya itu. Tapi dia tidak mau bertindak kasar dan terburu-buru. Dia benar-benar ingin memberikan kenikmatan dan kepuasan sex pada Iwan. Maklum, Tomi tahu, inilah untuk pertamakalinya Iwan menikmati hubungan sex dalam hidupnya. Dan Tomi memang bukan tipe remaja gay yang menyukai hubungan sex yang kasar dan terburu-buru.
Melihat kondisi Iwan yang sudah terlentang pasrah dan sungguh mengharapkan puncak kenikmatan, Tomi tak tega untuk berlama-lama menikmati pemandangan menggairahkan itu. Segera saja ia kembali tengkurap dengan kepalanya persis berada di selangkangan Iwan, sehingga mulutnya tepat menghadap pada bibir anus perawan itu. Sejenak kemudian, Tomi mulai menjulurkan lidahnya ke arah pinggiran mulut anus Iwan. Lidah itu perlahan mulai kembali beraksi liar. Dengan lincah lidah itu mulai menyapu dan menggelitik kulit di bawah buah zakar Iwan.
Dengan tangan kirinya, Tomi mengangkat dua buah zakar Iwan agar lidahnya memiliki keleluasaan yang lebih lebar untuk memberikan rangsangan birahi pada Iwan. Begitu lidah Tomi menyentuh kulit bagian bawah buah zakar yang menggelantung ranum itu, kontan tubuh Iwan menghentak-hentak lembut. Sentuhan halus lidah itu seperti mengalirkan setrum listrik ribuan volt pada tubuh Iwan. Sengatan kenikmatan itu membuat Iwan bereaksi cepat, tubuhnya langsung menghentak dan mengejang.
"Akh.. akh, hahh.. kau apakan diriku Tomi? Enak sekali rasanya, aku belum pernah merasakan kenikmatan semacam ini" desah Iwan lirih mengomentari kenikmatan itu.
Tomi tak menanggapi desahan erotis itu. Dia mulai sibuk dengan keasikan lidahnya menjelajahi setiap titik kenikmatan pada bagian selangkangan Iwan. Puas menyapu dan menggelitik kulit bagian bawah zakar Iwan, mulut Tomi pindah ke dua buah zakar Iwan. Seperti tadi lidahnya kembali beraksi liar dan buas menjilati dan menggelitik dua buah zakar Iwan. Dan reaksi Iwan pun tetap sama, tubuhnya terus menggelinjang dan menggeliat-geliat, sementara mulutnya terus mendesah-desah berkepanjangan menikmati setiap sengatan arus kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhnya.
Kemudian secara bergantian, mulut Tomi mulai mengulum dan menyedot lembut buah zakar Iwan. Pertama yang dikulumnya adalah zakar kanan yang disedot-sedotnya dengan mendalam. Kemudian, puas dengan zakar kanan, mulutnya pindah ke zakar kiri, dan kembali menyedot dan mengulumnya sampai puas. Liurnya tampak membasahi dua buah zakar itu, sehingga tampak mengkilat dan semakin menggiurkan. Sedotan dan kuluman mulut Tomi pada buah zakar Iwan terasa sungguh nikmat. Semula Iwan merasakan agak ngilu saat zakarnya disedot Tomi. Itu yang membuatnya semakin kuat menggeliat dan menggelinjang erotis, sementara mulutnya semakin keras mendesah dan merintih. Bahkan, Iwan sempat melenguh keras saat merasakan dua buah zakarnya disedot dan diemut sekaligus oleh mulut Iwan. Meskipun sempat merasakan ngilu, namun Iwan tak kuasa untuk menolak kuluman mulut Tomi pada dua buah zakarnya. Sebab, ternyata rasa ngilu itu dengan cepat berubah menjadi rasa nikmat yang sama sekali belum pernah dirasakannya.
Setelah puas bermain-main dengan dua buah zakar yang ranum itu, Tomi memindahkan aksi mulutnya kembali ke sekitar anus perawan Iwan. Sementara Iwan semakin pasrah dan tetap tergolek dengan posisi kedua kakinya masih mengangkang di udara. Nafasnya tampak terengah-engah dan keringat makin deras membasahi tubuhnya. Tiba-tiba, Iwan memekik lirih dan matanya tampak mendelik sesaat. Tanpa disadarinya, lidah Tomi sudah menyentuh bagian permukaan lubang anusnya yang masih tertutup rapat itu. Iwan merasakan ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuh kulit anusnya. Kemudian, ia merasakan sentuhan yang sungguh nikmat itu berubah menjadi usapan-usapan lembut dan hangat. Dan bersamaan dengan perubahan itu, kenikmatan yang menjalari tubuhnya semakin meningkat.
"Akh.. Tomi enak sekali lidahmu" desah Iwan singkat, sebelum ia kembali terseret arus kenikmatan sex yang menggelora.
Iwan pun kembali memejamkan matanya, berkonsentrasi menikmati setiap sentuhan dan gelitikan lidah Tomi pada bibir anusnya. Sementara Tomi semakin gemas mempermainkan tubuh kekasihnya. Tangan kanannya tampak dengan gemas meremas-remas pantat Iwan yang montok, sementara tangan kirinya meremas-remas lembut buah zakar sambil sekali-sekali mengocok batang kontol Iwan. Gerakan-gerakan dua tangan itu dan gelitikan lidah pada bibir anus menghadirkan kombinasi kenikmatan seksual yang sungguh sensasional bagi Iwan. Inilah pengalaman pertama kontak seksual yang benar-benar membuat Iwan ketagihan.
Dengan penuh perasaan Iwan menikmati terus kenikmatan yang semakin jauh melambungkan dirinya menuju puncak kenikmatan asmara. Sedangkan Tomi juga sudah asik bermain-main dengan lidah dan bibirnya pada anus Iwan. Aroma keringat kejantanan yang muncul dari selangkangan dan celah pantat Iwan telah menghipnotis Tomi untuk terus menikmatinya dan semakin memacu gelora nafsu birahinya. Sekali-sekali lidah Tomi coba menerobos kepekatan lubang anus Iwan. Lidah itu coba menembus anus perawan Iwan yang masih tertutup rapat.
Bersambung . . . .

Persahabatan tiga ABG gay - 2



Itu sebabnya, ketika sedang threesome dia selalu menjadi rebutan Iwan dan Tomi. Iwan dan Tomi selalu ingin mendapat kesempatan pertama mengulum dan disodomi kontol Johan. Alhasil setiap kali threesome, Johan nyaris selalu paling akhir mengalami orgasme, karena ia harus lebih dulu memuaskan dua kekasihnya. Atau, bila tidak mampu menahan ejakulasi terlalu lama, maka akhirnya Johan akan mengalami ejakulasi paling sering.
Tetapi, bukan berarti Johan harus meraih orgasmenya sendirian. Sebab dua kekasihnya dengan setia selalu berusaha membantunya meraih kenikmatan dengan melakukan rangsangan-rangsangan ke berbagai g spot di sekujur badannya. Biasanya, sembari merangsang Johan, Iwan maupun Tomi juga sibuk merangsang diri mereka masing-masing. Alhasil, setelah Johan memuntahkan semua pejunya, kontol Iwan dan Tomi sudah ngaceng lagi. Kalau sudah begitu, giliran Johan yang harus menyediakan lubang anusnya untuk disodomi Iwan dan Tomi secara bergantian. Biasanya, saat Iwan sedang menyetubuni dirinya, mulut Johan tak mau tinggal diam dengan terus sibuk mengenyot kontol Tomi.
Demikian pula sebaliknya, Johan akan bergantian mengulum kontol Iwan yang saat ngaceng panjangnya mencapai 16 Cm dan kontol Tomi yang panjangnya 16,5 Cm. Setelah Iwan dan Tomi mencapai orgasmenya yang kedua, mereka segera membalas memberikan kenikmatan sex untuk Johan, dengan saling berebut mengulum, menjilat, dan mengenyot kontol panjang Johan yang sudah ereksi lagi. Dengan badan yang tergeletak lemas karena baru saja digenjot habis-habisan oleh dua kekasihnya, Johan akan menikmati jilatan, kuluman dan hisapan mulut Iwan dan Tomi pada kontolnya hingga ia mencapai orgasmenya yang kedua. Peju gurih dan segar yang keluar dri kontol Johan selalu menjadi rebutan Iwan dan Tomi, hingga tak setetes pun dari peju itu yang terbuang sia-sia, semuanya habis direguk oleh Iwan dan Tomi yang selalu haus peju Johan.
Begitulah, mereka bertiga selalu haus akan kenikmatan sex. Dan permainan cinta yang penuh gelora birahi itu selalu mereka lakukan bersama hingga masing-masing mencapai orgasme minimal dua kali dalam satu kali permainan. Permainan akan berlangsung lebih seru dan panas, memakan waktu hingga berjam-jam bila mereka melakukannya di malam minggu atau sedang berlibur di kebun orang tua Iwan. Bahkan pernah mereka melakukan threesome hingga semalam suntuk, ketika sedang merayakan pesta tahun baru 2000. Ketika itu, mereka sampai ngcrot hingga lebih dari enam kali dalam semalam, sampai-sampai pada orgasme terakhir, kontol mereka masing-masing tidak bisa lagi memuncratkan peju.
*****
Sebenarnya, persahabatan dan percintaan tiga cowok ABG itu tidak terjadi pada saat yang sama. Awalnya hanya Iwan dan Tomi yang terlihat akbrab satu sama lain. Keakraban di antara mereka berdua sudah terjalin sejak hari pertama memasuki bangku SMU. Kebetulan mereka satu kelas dengan Johan, dan bangku yang mereka tempati bersebelahan dengan bangku Johan. Maka setiap hari sejoli Iwan dan Tomi selalu bertemu dengan Johan di sekolah. Maka keakraban di antara ketiganya mulai terjalin. Namun persahabatan antara Iwan-Tomi dengan Johan baru sebatas teman biasa. Sebab, di antara mereka belum saling terbuka mengenai orientasi sex yang menyukai sesama jenis kelamin itu. Meski demikian, Iwan dan Tomi sudah lebih dulu saling terbuka mengenai orientasi sex mereka.
Iwan mengetahui Tomi seorang gay saat dia mampir ke rumah Tomi seusai sekolah. Ketika memasuki kamar Tomi, Iwan langsung mendapati meja belajar Tomi yang penuh bertaburan gambar porno dari majalah gay Tropic Guy yang terbit di Thailand.
"Wah, ternyata kamu suka ngeliat cowok telanjang ya Tomi?" tanya Iwan keheranan sembari membalik-balik lembar demi lembar majalah Tropic Guy.
"Emm.. Iya. Aku suka banget ngeliatin cowok Thailand yang seksi, apalagi kalau kontolnya lagi ngaceng" Tomi mengaku dengan polos.
Dalam hati, Iwan pun bersorak kegirangan. Akhirnya dia mendapatkan seorang sahabat yang memiliki orientasi sex homoseksual seperti dirinya. Sudah lama ia memimpikan dapat menyalurkan hasrat birahinya dengan sesama cowok. Selama ini, hasrat itu selalu terpendam, dan hanya tersalurkan melakui khayalan sambil onani seorang diri.
"Ohh.. pantesan kamu suka ngintip kontolku kalau kita sedang kencing di sekolah" balas Iwan.
"Kamu suka ya sama kontolku" lanjutnya memancing reaksi Tomi lebih jauh.
"I.. iya.. Wan, kamu.. kamu.. gak marah kan tahu aku suka ngintip kontolmu" sahut Tomi terbata-bata.
"Ya gak masalah Tom asal kamu juga mau ngeliatin kontolmu buat aku" sahutnya sambil senyum-senyum.
Iwan yang mulai tidak sabar lagi, ingin melampiaskan hasrat birahinya siang itu. Dia berpikir, inilah saat yang selama ini ditunggunya. Ini merupakan kesempatan emas untuk mewujudkan khayalan dan mimpi-mimpi erotisnya selama ini. Saat itu Iwan memang sudah benar-benar bernafsu. Melihat gambar cowok cakep telanjang dengan kontol ngaceng, membuat nafsu birahi Iwan menggelegak dan kontolnya langsung ngaceng menuntut penyaluran.
Mendengar jawaban Iwan, Tomi yang memang telah merasa menjadi seorang gay sejak SMP langsung melucuti seluruh pakain seragamnya, sehingga tubuh putih mulusnya tak tertutup sehelai benang pun. Dan, ketika Iwan sedang asik memeloti gambar-gambar indah itu, tiba-tiba Tomi memeluk tubuh Iwan dari belakang. Mulut Tomi dengan liar dan buas menciumi tengkuk, leher dan telinga Iwan. Mendapat rangsangan sex yang demikian hebat dan nikmat, membuat Iwan tidak mampu menguasai dirinya lagi. Dengan cepat Iwan membalikkan badannya. Dan saat itulah, Iwan mendapati tubuh Tomi sudah telanjang bulat dengan kontol yang ngaceng sepanjang 16,5 Cm.
"Wah! Tomi, ternyata kamu punya tubuh yang indah, dan kontolmu panj.." belum tuntas Iwan menumpahkan kekagumannya, bibir Tomi sudah menyumpal mulut Iwan.
"Akh.. Wan akh.." Tomi pun makin tak dapat menahan diri lagi.
Nafsunya semakin tak terkendali dan langsung tenggelam dalam hangatnya ciuman pertamanya dengan sesama cowok. Dua cowok ABG itu pun semakin dalam tenggelam dalam pusaran arus kenikmatan sex. Bibir dan mulut mereka saling menghisap, sementara lidah Tomi sudah semakin jauh memasuki rongga mulut Iwan yang menganga pasrah. Sekejap kemudian, lidah Iwan mulai mengimbangi keliaran lidah Tomi. Lidah dua cowok itu saling bergelut mengalirkan kenikmatan demi kenikmatan. Mereka saling menghisap dan mereguk manisnya air liur mitra sexnya. Kontol Iwan sudah semakin keras ngaceng, dan mulai mengeluarkan lendir bening yang langsung membasahi celana dalam mininya yang membungkus erat penis itu. Hampir 10 menit mereka terbenam dalam kenikmatan ciuman penuh gelora asmara itu, sampai nafas mereka terengah-engah.
"Ough akh.. yes.. teruskan Tom, teruskan, beri ak.. ku kepuasan.." desah Iwan terputus-putus, saat bibir Tomi sudah berpindah ke lehernya.
"I.. iya Wan nikmatilah hingga kamu puas" bisik Tomi di telinga kiri Iwan, sambil langsung mengulum dan menghisap telinga itu.
"Ah.. Ah.. uh.. ah.. Enak sekali Tom." Iwan kontan merintih panjang dan keras, saat merasakan sengatan kenikmatan yang luar biasa akibat sedotan mulut Tomi pada telinganya. Tubuh Iwan langsung menggelinjang dan mengejang saat kenikmatan sex semakin kuat menyengat sekujur tubuhnya.
"Kamu akan merasakan kenikmatan yang lebih hebat lagi Wan" ujar Tomi, sembari membimbing tubuh Iwan ke ranjang besar miliknya.
Iwan pun terlentang dengan pasrah di ranjang empuk. Ia dengan penuh harap, pasrah menantikan serbuan penuh nafsu dari Tomi. Segera Tomi kemudian menghampiri tubuh Iwan yang tergolek pasrah. Tomi membaringkan tubuh bugilnya di sisi kanan Iwan. Sejenak kemudian, Tomi sudah berada di atas tubuh Iwan. Tomi menindih tubuh Iwan yang sudah memejamkan matanya dan mulut terbuka menanti ciuman panas mulut Tomi.
"Ayo.. Tom teruskan permainanmu.. aku sungguh tak sabar lagi" rintih Iwan sembari menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatnya, sehingga kontolnya yang sudah ngaceng terbungkus celana beradu dan bergesekan dengan kontol ngaceng Tomi.
"Sabar ya Wan.." bisik Tomi di telinga kanan Iwan.
"Wan.. aku cinta kamu sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Aku ingin membahagiakanmu, karena aku tahu kamu memang menginginkan kenikmatan ini. Maukah kamu menerima cintaku Wan?" kata Tomi sambil tetap berbisik.
Mendengar bisikan penuh kemesraan itu, Iwan seolah tak percaya pada pendengarannya. Dengan mata membelalak penasaran ia menatap tajam ke arah mata Tomi yang masih menindih tubuhnya.
"Akh.. sungguhkah kamu mencintaiku Tomi?" ujar Iwan dengan nada tidak percaya.
"Sepenuh hatiku aku mencintaimu Wan. Aku janji untuk selalu membahagiakanmu. Aku siap setiap saat melayanimu, memberimu kenikmatan sex seperti tadi" ujar Tomi penuh percaya diri.
"Oh.. Tomi ahh terima kasih Tomi. Aku juga cinta kamu. Sejak pertama kali mengenalmu, aku sudah merasakan cintaku padamu" ujar Iwan sambil memeluk erat tubuh mulus Tomi.
"Wan aku cinta kamu. Wan.. terima kasih kamu mau mencintaiku" ujar Tomi sambil mencium kening Iwan.
Ciuman di kening itu pun segera pindah ke mulut Iwan yang sudah haus nafsu birahi. Kembali mereka terlibat adegan ciuman yang sangat panas dan menggairahkan. Kemudian, Tomi mulai bergerak turun. Dengan penuh perhatian, Tomi mulai mempreteli satu persatu baju Iwan, sampai Iwan pun telanjang bulat.
"Ah.. wan, ternyata kamu memiliki badan yang indah. Bulu-bulumu membuat ku makin bernafsu dan sungguh menggairahkan. Ah.. kontolmu sungguh kekar dan besar.." kata Tomi sambil kedua tangannya sibuk menggerayangi sekujur badan Iwan yang ditumbuhi bulu halus dan lembut.
"Iya Tomi.. badanmu pun juga seksi dan menggairahkan" kata Iwan, sembari tangannya mengelus-elus punggung Tomi.
Kedua tangan Iwan pun terus bergerak semakin liar, hingga sampai pada bongkahan pantat Tomi yang seksi. Saat sampai di belahan pantat itu, jemari Iwan semakin asik memberikan rangsangan birahi. Giliran bibir anus Tomi yang kemudian menjadi sasaran jemari Iwan yang bergerak lincah menggelitiknya.
"Ough.. oh.. akh.. enak sekali Wan. Teruskan Wan, jangan berhenti, nikmat sekali rasanya" desah Tomi panjang saat merasakan permukaan anusnya digelitik jemari Iwan yang semakin nakal.
Bersambung . . . .

Persahabatan tiga ABG gay - 1



Cerita berikut ini merupakan pengalaman hidupku, sewaktu aku masih sekolah di sebuah SMU di Malang Jatim. Tentu saja nama-nama yang ada dalam cerita ini bukanlah nama sebenarnya. Jalan ceritanya -terutama adegan sex-memang banyak mengalami improvisasi, sesuai dengan fantasi seksualku yang berkembang ketika aku menuliskan cerita ini. Tetapi, cerita mengenai proses hubunganku dengan dua sahabatku sebagaimana tertuang dalam cerita ini adalah cerita yang sesungguhnya terjadi. Aku menceritakan proses hubungan kami itu secara apa adanya, sesuai dengan yang terjadi dan tentu sesuai dengan batas daya ingatanku sendiri.
Apa yang aku ceritakan dalam cerita bersambung ini merupakan masa-masa paling indah dalam kehidupanku. Paling indah karena saat itu aku pertama kali mengenal rasa cinta, mengenali jati diriku yang sebenarnya sebagai seorang gay, saat-saat pertama aku menjalani kehidupan sebagai seorang gay, dan tentu saja, hari-hari pertama kali aku mengenal dan melakukan hubungna sex sesama cowok. Dan karena semua itulah, aku tidak akan pernah melupakannya. Selamat membaca. Peace n love for gay people! Saran dan komentar sangat dinantikan.
*****
Johan, Iwan, dan Tomi merupakan tiga sahabat yang selalu terlihat akrab. Mereka tercatat sebagai siswa SMU kelas 1 di satu SMU favorit di kota Malang. Persahabatan di antara mereka begitu erat, sampai-sampai sulit melihat mereka berjalan atau bermain sendiri-sendiri. Di mana ada Johan, di situ juga ada Iwan dan Tomi. Demikian pula, di mana ada Iwan, maka akan terlihat pula Johan dan Tomi di sampingnya. Pokoknya mereka bertiga seperti tidak mungkin dipisahkan lagi.
Kebetulan mereka bertiga duduk dalam kelas yang sama, dan memiliki kegemaran yang sama pula. Mereka bertiga hobi menyanyi dan bermain musik. Ekstrakurikuler yang mereka ikuti pun sama, yaitu olah raga renang. Melalui ekstrakurikuler renang inilah, mereka bertemu dalam satu dunia rahasia. Rahasia karena hanya mereka bertiga yang mengetahuinya. Rahasia ini pula yang membuat persahabatan di antara mereka begitu erat, dan menjadikannya berbeda dengan pola persahabatan remaja pada umumnya.
Persahabatan mereka tidak hanya sebatas hubungan akrab secara fisik antara tiga remaja cowok. Tetapi, ikatan dan bentuk persahabatan mereka sungguh jauh melebihi hubungan antara tiga cowok normal. Mereka bertiga adalah sesama cowok ABG gay. Dan kesamaan orientasi seksual yang menyukai sesama jenis kelamin itu, mendapatkan penyaluran yang tepat dan sanggup memuaskan hasrat birahi mereka. Maka di antara bentuk aktivitas fisik persahatan mereka itu, salah satunya adalah hubungan sex sejenis di antara mereka bertiga. Dalam berbagai kesempatan, mereka selalu memanfaatkannya untuk menyalurkan hasrat birahi mereka secara bersama hingga meraih kepuasan yang mendalam. Waktu-waktu luang yang mereka miliki, selalu penuh dengan kehangatan sex yang mampu memuaskan rasa dahaga akan kenikmatan sex.
Tempat mereka melakukan aktivitas sex itu juga tidak selalu tetap. Mereka biasa melakukan hubungan sex saat pulang sekolah dengan mengambil tempat bergantian di rumah orang tua masing-masing. Kebetulan di rumah masing-masing, mereka memiliki kamar sendiri-sendiri, sehingga bebas melampiaskan gejolak sexsual mereka. Tetapi mereka lebih sering melakukannya di rumah Tomi. Bukan apa-apa, karena kamar tidur Tomi yang paling luas dengan tempat tidur ukuran king size dan ada kamar mandi yang langsung terhubung dengan kamar tidurnya. Lagi pula, orang tua Tomi yang pengusaha papan atas di Malang sering tidak berada di rumah, baik siang maupun malam hari. Bahkan setiap akhir pekan, kedua orang tua Tomi selalu keluar kota, untuk berbagai urusan bisnis maupun pribadi. Maka hampir tiap malam minggu pula, mereka bertiga bisa puas melakukan pesta sex, bukan hanya di kamar tidur Tomi, melainkan bisa di ruang tamu, ruang keluarga, di taman belakang, bahkan di kolam renang Tomi.
Tetapi ada kalanya mereka melakukan aktivitas sex bertiga itu di kebun milik orang tua Iwan. Di kebun luas yang terletak di luar kota Malang, itu tepat di bagian tengahnya terdapat sebuah pondok sederhana namun hangat di saat malam yang dingin menyergap kota Malang. Di tengah keremangan malam dan sela kerimbunan pohon-pohon yang ada, mereka bertiga sering melampiaskan gelora sex hingga mencapai kepuasan yang teramat nikmat. Panasnya asmara sex di kebun itu mereka lakukan saat liburan sekolah, di mana mereka bisa menginap di kebun dan melakukan aktivitas sex setiap saat di sana selama empat hingga tujuh hari.
Mereka selalu berusaha saling memberikan kenikmatan dan kepuasan saat melakukan hubungan sex bertiga alias threesome. Tidak ada dominasi di antara persahabatan mereka, baik di sekolah, saat bermain maupun saat threesome. Karena usia mereka sebaya, maka di antara mereka tidak ada yang memiliki posisi menonjol dalam bersahabat. Demikian pula saat melakukan hubungan sex, tidak satu pun di antara mereka yang memiliki posisi dominan. Dengan demikian, saat melakukan threesome, mereka bisa bergantian mengambil peran, berinisiatif maupun memimpin permainan hingga sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Tidak adanya dominasi dalam hubungan sex itu didukung oleh kesamaan orientasi posisi saat melakukan hubungan sex yaitu, mereka sama-sama flexy.
Jadi, mereka dengan leluasa bisa berganti posisi sebagai top atau bottom sesuai keinginan masing-masing saat melakukan hubungan sex. Dan posisi hubungan sex yang paling mereka sukai adalah sandwich. Dengan posisi itu, Tomi, misalnya bisa berada pada posisi di tengah, dengan Johan ada di belakang memasukkan penisnya ke anus Tomi, sementara pada saat yang sama, Tomi juga melakukan penetrasi penisnya ke pantat Iwan yang tidur mengangkang di hadapannya. Dalam posisi seperti itu, mereka bertiga bisa mereguk kenikmatan demi kenikmatan secara bersamaan dan mencapai orgasme pada saat yang nyaris bersamaan pula.
Berbagai posisi sex, sudah pernah mereka lakukan. Dan setiap posisi yang mereka lakukan selalu memberi mereka kepuasan dan kenikmatan. Sering kali mereka sengaja memutar VCD porno gay bersama-sama, sebelum melakukan hubungan sex. Setelah puas menonton VCD porno gay itu, mereka pun segera mempraktikkan berbagai gaya yang telah mereka saksikan sebelumnya di VCD itu. Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan suplai VCD porno gay, karena mereka dapat memesannya melalui internet yang langsung dikirimkan ke rumah Tomi.
Tetapi, jangan dikira, hubungan di antara mereka hanya karena sex. Meskipun mereka sangat sering melakukan threesome, tetapi hal itu mereka lakukan bukan sekadar menyalurkan nafsu birahi belaka. Di antara mereka bertiga, sesungguhnya, terdapat hubungan emosi yang sangat kuat. Ternyata di antara mereka ada perasaan yang saling mencintai, ya cinta antara tiga cowok gay. Itu sebabnya, semua hubungan sex yang mereka lakukan juga melibatkan dan menumpahkan emosi cinta di antara mereka, selain tentu saja nafsu sex yang menggebu.
Hubungan cinta kasih antara mereka begitu kuatnya, bahkan sampai-sampai di antara mereka bisa saling cemburu. Apalagi bila salah satu di antara mereka dipergoki sedang ngobrol atau jalan berdua dengan cowok lain, pasti dua cowok sisanya langsung manyun dan cemberut karena terbakar rasa cemburu. Tapi rasa cemburu itu justru makin membuat tali cinta di antara mereka makin kuat. Dan, persoalan cemburu itu selalu bisa diselesaikan dengan baik, tentu saja di atas ranjang dengan melakukan threesome.
*****
Iwan, Johan, dan Tomi, saat ini duduk di kelas 1 SMU terkenal di kota Malang. Usia mereka sebaya, hanya terpaut beberapa bulan satu sama lain. Di antara mereka, Johan adalah yang paling muda, dengan usia belum genap 16 tahun. Sedangkan Tomi berusia 16 tahun atau lebih tua 3 bulan dari Johan, dan lebih muda 2 bulan dari Iwan. Tomi yang seorang Tionghoa itu memiliki badan paling tinggi, dengan tinggi 175 Cm dengan berat 60 kg. Badan Tomi sangat atletis, dengan dada bidang dan hidung yang mancung.
Dengan kulit putih mulus, wajah bebas jerawat, menjadikan Tomi cowok yang paling digandrungi di sekolahnya. Tomi sangat rajin menjaga badannya. Selain renang, dia juga rajin fitness seminggu dua kali. Badan Tomi sungguh mulus, dengan pinggang ramping serta tangan dan kaki yang halus karena tidak ditumbuhi bulu-bulu. Tomi paling senang memamerkan kemulusan bodinya di hadapan dua kekasih cowoknya. Itu sebabnya, setiap kali hendak ML, dia paling dulu menelannjangi dirinya, sembari memamerkan lekuk liku tubuhnya dengan melakukan gerakan-gerakan erotis.
Sedangkan Iwan meskipun berusia paling tua di antara mereka bertiga, justru memiliki badan paling imut. Tinggi badannya hanya 168 Cm dengan berat badan 52 kg. Berbeda dengan Tomi yang miskin bulu, badan imut Iwan justru ditumbuhi banyak bulu, terutama di lengan, paha dan kakinya. Bulu-bulu jembutnya tumbuh lebat di sekitar selangkangan dan pangkal penisnya. Bulu-bulu jembut itu tumbuh hingga di sela-sela belahan pantat dan sekitar anusnya. Ke arah atas, bulu-bulu jembut Iwan tumbuh rapi membentuk pola garis lurus hingga ke pusarnya, dan terus tumbuh agak lebat di dadanya yang bidang. Tubuh bugil Iwan dengan kulitnya yang sawo matang selalu memancing hasrat birahi dua cowok yang sangat dicintainya. Dia paling suka bila dua cowok pacarnya meraba-raba sekujur tubuhnya, menikmati kelembutan bulu-bulu yang menumbuhi sekujur badannya.
Johan seolah merupakan perpaduan sempurna antara kelebihan tubuh Iwan dan Tomi. Seperti halnya Tomi, Johan juga memiliki kulit tubuh yang putih, meskipun tidak seputih Tomi. Johan juga memiliki bulu-bulu lembut yang tumbuh di sekujur badannya, tetapi tidak selebat yang dimiliki Iwan. Badannya tidak setinggi Tomi, tetapi dengan tinggi 171 Cm, Johan memiliki postur tubuh yang tak kalah indahnya. Dengan berat badan 56 kg, Johan tampak seksi bila sedang telanjang bulat. Meskipun yang paling muda di antara mereka bertiga, namun Johan ternyata memiliki kontol paling panjang. Saat masih lemas saja, panjang kontolnya sudah 10 Cm menggelantung di depan dua buah zakarnya yang juga ranum dan besar. Kontol Johan bisa melar sampai 17Cm ketika dalam kondisi ereksi. Kontolnya yang panjang itu selalu membuat dua kekasihnya tergila-gila dan selalu ketagihan untuk mengulumnya.
Bersambung . . . .

Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 4



Sementara pinggulnya naik turun, kontolnya menembusi mulutku. Aku tahu Anto ingin ejakulasi dalam mulutku. Aku terima. Aku jemput dengan memompakan mulutku pada kemaluannya itu. Hingga..
"Aarrcchh.. Maass.. Amppuunn.. Maass.. Aarrcchh..." genjotan pinggulnya mengencang, sodokkan kontolnya menyentuh gerbang tengorokanku. Aku menahan dengan sikuku agar tak tersedak. Sperma Anto muncrat keras dan panas dalam mulutku. Kurasakan 6 atau 7 kedutan kontolnya pada setiap kali menyemprot.
Kukeluarkan rokok Jarumku sambil istrirahat ngobrol menunggu semangat lanjutan berasyik masyuk ini. Kami tetap salin raba dan pijit. Aku bilang paling senang dengan ukuran kontol macam dia punya ini. Akujuga bilang paling senang menciumi ketiak dan lubang pantat.
"Mau nggak kamu nembak aku?" tanyanya.
Dia pengin aku melakukan penetrasi pada pantatnya. Dan sesudah istirahat itu kami kembali memulai. Aku kembali telentang dan kutarik dia untuk berposisi duduk pada wajahku. Analnya yang terbuka langsung mengenai hidung kemudian bibirku. Aroma anal yang khas macam inilah yang selalu aku rindukan. Aku mengendus-endusi, menjilat dan menyedoti lubang tainya.
"Hh.. Hhcch.. Uucchh.. Aarrhh..." demikan dengus atau desah Anto menerima nikmat jilatan dan ciuman di pantatnya. Aku membuat lubang tainya membasah oleh ludahku.
Kemudian aku bangkit dan menyuruh Anto telentang. Aku langsung menindih untuk melakukan penetrasi pada lubang pantatnya. Kakinya kulipat dan kuminta ditakupka ke punggungku. Dengan cara ini kemaluanku terasa pas dan tepat di mulut analnya. Dengan ludah yang kubalurkan pada jari-jariku aku mulai melicinkan bibir-bibir anal Anto ini.
Kini kudesakkan kemaluanku ke lubang nikmat Anto. Dia menjerit sambil meringis,
"Dduuhh.. ssaakiitt.. Dd..." suara macam itu sungguh merdu di telinga yang sedang dilanda nafsu syahwat macam aku kini. Aneh minta 'ditembak' namun berteriak sakit. Itulah kenikmatannya.
Aku memang nggak bisa kelamaan iseng macam begini. Besok mesti ngantor. Sekitar jam 8 malam kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
*****
[Gunting Rambut]
Mangkal Aman dan Gratis
Sudah lebih sebulan aku telat potong rambut. Rasanya sudah risih. Saat pulang kantor aku mampir di Mall Ciputra Slipi. Di lantai 3 ada salon Rudy. Aku sering melihat tukang cukurnya keren-keren. Sebelum aku masuk mendaftar aku ngintip dulu di kaca etalase. Rupanya jam begini tak banyak orang potong rambut. Kuperhatikan ada sekita 20 kursi cukur hanya 3 yang sedang terisi. Praktis para pemotong rambutnyapun pada nganggur menunggu pelanggan. Aku perhatikan satu-satu di antara mereka hingga kulihat dia, belakangan kutahu namanya Farhan, pria muda tampan jangkung. Akhirnya kutetapkan masuk. Saat mendaftar aku pesan minta dia yang mencukurku. Dan terjadilah.
Pada awalnya aku tak banyak bicara. Pasang stel pendiam.
"Mau potong gaya apa Oom?" tanya Farhan.
"Kalau gaya Clay Aiken masih pantas nggak buat aku?" jawabku bercanda.
"Beres Oom. Pantes banget deh. Sejak Oom ngintip tadi aku juga mikir, tuh Oom koq ngganteng amat. Potongan macam Clay pasti ciocok buat Oom," Woow.. Ternyata dia senang nyerocos.
"Oo, jadi kamu sudah ngelihat aku tadi, ya? Aku juga milih yang paling tampan loh. Aku minta sama reseptionis tadi,"
"Ah, bsa aja Oom. Terima kasih, Oom. Mau minum apa nih?"
"Ehhmm.. Coca Cola deh. Tapi bener khan? Kamu paling tampan?"
Suasana dan komunikasi sudah semakin memanas. Pemburu dan buruannya sudah semakin mendekati kesepakatan. Tangan Farhan sudah berani menjepit gundukan di selangkanganku saat menjumput kain penutup potongan rambut. Aku memang sudah ngaceng. Wewangian yang keluar dari tubuh Farhan. Aroma tahunerapi dari keringatnya sangat membangkitkan gairah libidoku.
"Aku pengin ngajak makan kamu Farhan," aku menyerang dengan desakan.
"Nanti aku pulang jam 5, Oom. Aku tunggu di depan MD lantai bawah?" respon positip yang langsung kuterima.
Pulang kantor aku bergegas. Tepat jam 5 sore itu aku sudah berada di depan MD. Mana si Farhan? Ah, itu dia. Rupanya baru turun dari salonnya. Kulambaikan tanganku. Dia melihatnya. Saat di mobil aku langsung tanya,
"Bagaimana kalau kita makan Steak Abuba di Kebayoran? Dari sana kita ke Motel Pulo Mas. OK?" Dia setuju dan aku meluncur ke sana. Sepanjang jalan kami saling elus, raba dan remas. Hal ini justru membuat rencana jadi berubah. Farhan yang jadi sangat ngebet dan usul,
"Oom, makannya di kamar saja. Kita langsung ke Motel Pulo Mas saja," aku jelas setuju. Kugenjot mobil masuk Tol menuju arah Tanjung Priok. Keluar di Cempaka Putih berputar balik menuju Motel Pulo Mas. Dduhh.. Nafsu birahi yang tak sabar.
Ternyata Motel Pulo Mas sangat laris. Kami ngantre dan parkir di taman. Apa boleh buat. Sementara menunggu, 'foreplay' berjalan terus. Kami saling melepas kancing celana dan menarik keluar kemaluan-kemaluan kami. Saling pijit, elus, raba, remas, peras. Dan pada akhirnya juga saling menjilat, menggigit dan kulum. Dan apa yang kemudian terjadi?
Kami relah berasyik masyuk dan meraih kepuasan. Kami saling mengalami ejakulasi yang nyemprot muncrat dan tumpah ke mulut-mulut kami. Aku menikmati sperma segar Farhan dan sebaliknya Farhan menikmati spermaku. Dan akibatnya rasa lapar langsung menimpa kami. Sekali lagi, apa boleh buat. Kami meninggalkan motel tanpa pernah masuk ke kamarnya. Kami mendapatkan tempat aman dan nyaman dengan gratis. Dan pada akhirnya kami berpisah di Abuba Steak sesudah masing-masing melahap 2 porsi sherloin 200 gram dari New Zealand.
*****
[Bioskop Ajang Kencan]
Toleransi Yunior untuk Senior
Inilah pertama kalinya aku kencan sesama pria di bioskop. Yang ngajak seorang bapak-bapak. Pak Wena, usianya hampir 60 tahun. Kami bertemu beberapa menit yang lalu di toilet lantai 4 Atrium Senen.
Setelah saling pandang mata dan mengernyitkan alis,
"Dik, kita nonton di seberang yok" Aku tahu itu adalah Bioskop Mulia tempat para gay Jakarta berasyik ria saling peras, remas, lumat, isep, kulum dan teguk sperma. Pak Wena nampak sangat 'ngebet' melihati aku. Belakangan aku baru tahu bahwa dia adalah staf ahli salah satu departemen RI. Dia adalah profesor dalam bidang ilmu sosial.
Sesudah ngantre (Pak Wena minta aku yang antre, khawatir bawahannya yang melihatnya), kami memasuki ruang gelap untuk mencapai kursi kami. Seorang petugas dengan lampu senternya mengantar hingga kami duduk. Aku sengaja pilih deretan kursi kosong. Namun siang itu ternyata tak banyak penonton. Dari sekitar 100 kursi rasanya hanya sekitar 10 atau 15 kursi saja yang terisi.
Begitu duduk Pak Wena langsung mengamplok aku. Dia ciumi leherku, bahuku, tengkukku dan kemudian melumat-lumat bibirku. Tangannya sangat terampil. Sambil mencium dia lepasi kancing zip celanaku dan menariknya ke bawah. Dengan sedikit mengangkat pantat aaku membantu agar memudahkan celanaku merosot. Tangan Pak Wena langsung merogohi kemaluanku,
"Gede banget, Dik. Boleh dong aku jilat-jilat?!," katanya sambil melepas kacamatanya dan kemudian merunduk menjemput arah selangkanganku. Dia menjilati dan mulai mengisep, menjilat dan mengulum kontolku. Aku serasa terbang. Syahwat dan jilatan Pak Wena memberikan nikmat tak terhingga. Orang tua macam Pak Wena sangat sabar. Kurasakan ujung lidahnya menggelitik pelan di ujung lubang kencingku.
Untuk memberikan sensasi padanya aku remasi kepalanya. Kujambak tarik rambutnya untuk menunjukkan birahiku yang melanda. Aku mengeluarkan desahan ke dekat kupingnya. Jilatan Pak Wena pada batang kontolku nampak semakin menggila.
Sesudah cukup pegal menunduk Pak Wena bangkit dan memberikan kesempatan padaku. Aku raba dan remasi selangkangannya. Kurasakan kontol Pak tua ini masih seperti batu panas. Aku lepaskan resluitingnya dan kutarik merosot celananya. Kini aku ganti melumat. Kontol Pak Wena kuhela keluar dari celana dalamnya dan ku kulum. Precumnya terasa sangat asin. Aku mengerang penuh nikmat. Pak Wena ganti mengelusi punggung dan rambutku.
Akhirnya kurasakan kontol Pak tua ini semakin tegang dan membesar. Pasti keinginan untuk tumpah sudah mendesaki syahwat Pak Wena. Aku memompa lebih kencang dan mempersempit jepitan bibirku.
Dengan geliat dan desahan tak tertolak Pak Wena meremas punggungku. Aku bersiap untuk menerima tumpahan sperma Pak tua. Dan.. Aarrcchh.. Nikmatnyaa.. Mulutku yang penuh terjejali kontol Pak tua kini menerima lahar panas sperma kentalnya. Aku merasakn gurihnya, pahitnya, asinnya, lengket dan kentalnya. Semua sperma Pak Wena kutelan ludas tanpa cecer. Aku sangat menyukai situasi macam begini.
Sesudah istirahat sejenak kembali Pak Wena merangsang nafsuku. Kontolku dielusi, diremas dan dikocok-kocoknya hingga kembali tegar berdiri. Namun aku merasakan Pak Wena tidak lagi bergairah sebagaimana awalnya tadi. Aku agak kasihan juga. Sebaiknya aku toleransi dan memaklumi faktor usianya,
"Kalau bapak capek, sudah saja. Kita kembali saja ke Atrium, OK?" ternyata dia langsung setuju. Namun kami sepakat langsung berpisah begitu keluar dari bioskop itu. Aku sendiri kembali ke Atrium untuk kembali memburu atau diburu pria lain.
Sekian dulu, lain waktu nyambung lagi
Tamat

Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 3



Aku meluncurkan mobil ke arah Cempaka Putih. Begitu masuk ke mobil Pak Badrun langsung merabai. Meremas, merogoh dan akhirnya menurunkan kancing celanaku. Dia elusi kontolku. Dia ingin menunduk untuk mencium namun buncit perutnya mengganjal. Terpaksa dia bersabar.
Motel Cempaka Putih nampak lengang. Banyak kamar kosong. Aku minta VIP Room. Memang sudah seharusnya aku mesti men-service Pak Badrun. Dalam ketegangan oleh hasrat birahiku, aku tetap 'concern' dan berharap agar Pak Badrun benar-benar memenuhi harapanku.
Tak ayal lagi. Begitu masuk kamar dan aku mengunci pintu Pak Badrun langsum menerkamku. Diciuminya pipiku, bibirku, kupingku, jidatku kemudian turun ke leher, bahu dada sambil tangannya melepasi kancing-kancing kemejaku. Aku menikmati kepasifanku selaku 'mangsa' yang masuk perangkap 'predator'. Aku hanya merespon. Saat lidahnya menyusur ke mulutku aku menjilat dan menyedotinya. Saat dia melepasi kemejaku aku juga melepasi kemejanya. Saat dia mulai menggigiti dadaku dan mengisep-isep puting susuku aku meraih kepala botaknya dan mengelusi untuk mendongkrak liar libidonya. Saat dia menggigiti lembah ketiakku aku menjerit kecil dan mendesah. Kutunjukkan pada Pak Badrun bahwa apa yang dia lakukan padaku sungguh memberikan nikmat syahwat yang dahsyat untukku.
Pak Badrun benar-benar melahap tubuhku. Setelah akhirnya aku berbugil ria dia balik tubuhku untuk tengkurap. Dia kembali mulai mengendus dan menciumi arah belakang tubuhku. Dia jilat tengkukku. Kemudian turun untuk menciu dan menggigiti kedua belikatku. Waadduuhh.. Sunguh ganas nafsu Pak Barun. Dan sangat nikmatnya menjadi orang yang dikalahkan sebagai mangsa macam sekarang ini. Aku hanya mengerang, mendesah merintih atau berteriak kecil mengikuti alur nafsu birahinya Pak Badrun.
Ketika ciumannya bergerak membelah celah bokongku aku tak mampu menahan diriku lagi. Bakaran birahi yang menyala dalam darahku mengobarkan hasrat syahwatku tanpa bendung. Aku ingin Pak Badrun lebih 'memakan' aku lagi. Aku ingin dia menelan aku bulat-bulat. Aku bergerak menungging dengan pantat yang kuangkat tinggi. Celah pantatku terbuka dan lubang duburku menjemput lumatan bibir Pak Badrun. Dan itu seketika. Kurasakan sapuan macam amplas lidahnya pada bibir analku. Pak Badrun dengan rakusnya menciumi dan menyedot lubang taiku.
Aku merasakan betapa Pak Badrun benar-benar terbakar nafsunya. Puas menjilati pantatku dia merangsek kembali ke atas. Dengan memeluk erat tubuhku dia pagut kudukku. Tanpa kusadari ternyata Pak Badrun telah sepenuhnya bugil. Aku merasakan gesekkan kulit dada dan perutnya yang berbulu lebat menggelitiki seluruh tubuh belakangku yang sama-sama berbugil. Aku merasakan kasar dan rumabi bulunya menyapu permukaan kulitku. Adduuhh.. Pak Badruunn.. Kamu sungguh macam orang yang sering aku khayalkan. Berbugil dan berasyik masyuk dengan lelaki berkulit gelap dan bulu lebat, dengan perutnya yang buncit. Merasakan bau keringatnya, merasakan gesekkan gatal bulu-bulu dada dan perutnya. Sedotan bibir tebalnya.
Dengan mendengus-dengus laiknya macan lapar atas mangsanya dia melepaskan gigitan pada leherku. Kemudian dia lumat-lumat anak rambut pada leher dan belakang kupingku. Aku sungguh 'bergidik'. Saraf-saraf birahiku bergolak membakar darah syahwatku. Namun aku sebatas menunggu. Dalam posisi menunggu ini yang aku buat adalah respon harmonis atas alur hasrat birahi Pak Badrun. Yang kunikmati dari posisi ini adalah aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Pak Badrun berikutnya. Sungguh, aku sangat menikmati posisi menungguku ini.
Dan kini hampir kupastikan kontol Pak Badrun telah tidak sabar untuk menembusi lubang duburku. Kepalanya terasa terus menggosok dan mendesaki gerbangnya. Aku mesti melicinkan jalannya. Ini ternyata juga sebagian dari prinsip bisnis. Aku tahu, posisi 'leader' berada di tangan Pak Badrun. Aku mesti 'support'. Akhirnya aku ambil inisiatip. Aku lumuri lubang anusku dengan ludahku untuk membuat pintu anal menjadi licin.
Terus terang hasratku juga sudah mendorong aku untuk bisa selekasnya menikmati tembusan kontol Pak Badrun pada lubang pantatku. Dan kini sesudah lumuran ludahku dengan menyosorkan pantatku aku menjemput agar selekasnya kontol Pak Badrun amblas tertelan duburku. Dan inilah akhirnya. Tangan kokoh Pak Badrun membetot rambutku dan menghela tubuhku bak kuda tunggangnya. Hal itu dia lakukan menyertai amblasnya kontolnya ke haribaan duburku. Bless..
"Dduuhh.. Ampuunn.. Pak Badruunn.. Ampuunn..." desah dan rintihku.
Mendengar desah dan rintihku itu Pak Badrun seperti bensin kena api, hasrat birahinya langsung melonjak. Dengan nafasnya yang terdengar ngas-ngos seperti lokomotip diesel dia genjoti pantatku dengan cepatnya. Dia tak peduli apa tangisku. Dia tak peduli betapa dinding pantatku seakan hendak robek-robek dibuatnya. Kontolnya meyodok-nyodok hingga jauh ke dalam analku.
"Ampuunn Pak Baruunn..." aku menyerah kesakitan. Inilah risiko dari buruan dalam genggaman pemangsa. Pak Badrun melampiaskan seluruh gelora nafsunya pada pantatku.
Saat puncaknya hendak lewat, dimana kehendak birahi telah menyentuhi semua saraf-saraf libido tubuhnya, sambil meremas pedih daging-daging punggung belikatku Pak Badrun berteriak keras namun tetap tertahan,
"Ooaarrcchh.. Dik Ronii.. Enhak bangeett.. Enhaakk bangett..." suara itu mengingatkan aku akan gorilla yang berhasil melumpuhkan lawannya di hutan Tarzan.
Kedutan-kedutan besar aku rasakan pada lubang analku. Kontol Pak Barun mengangguk-angguk menyemprotkan sperma yanga aku rasakan sangat panasnya. Entah berapa banyaknya.
Usai itu dia langsung rubuh ke ranjang. Keringatnya nampak mengucur deras. Nafasnya tersengal panjang. Dia berusaha menangkap sebanyak oksigen yang bisa dihirupnya. Udara AC dalam kamar sempit ini rasanya tak cukup untuk kami berdua.
Demi proyek masa depanku hari itu aku melayani Pak Badrun hingga larut malam. Dia puas-puaskan dirinya dengan menjilati seluruh tubuhku. Dia tinggalkan cupang-cupanya di dadaku, punggungku, leherku, perutku, pahaku, di seputar lubang pantatku. Entah dimana lagi lainnya. Dan entah bagaimana nanti aku mesti mem-pertanggung-jawab-kan pada istriku, pada sekretarisku. Entahlah.
Sebelum berpisah,
"Begini Dik Roni, besok saya tunggu disini lagi deh. Sekalian bawa draft MOU-nya. Nanti saya teken di sini. OK?" Yaa.. Itulah risiko bisnis. Setidaknya aku selalu memiliki harapan.
Dan yang jelas sudah untung memang Pak Badrun. Dan pasti akan untung lagi besok saat aku membawakan draft MOU itu.
*****
[Halte Kencan]
Di balik perdu Monas
Sekitar jam 5 sore sepulang kantor aku senang ber-iseng ria di sepanjang jalan yang kulalui. Aku istilahkan 'tonda'. Itu istilah nelayan yang memancing ikan dengan cara melepas dan menarik umpan di belakang perahunya sementara perahunya terus melaju. Siapa tahu aku juga dapat 'ikan' sepanjang aku melaju dengan motorku.
Biasanya pada waktu pulang kerja ini halte-halte dipenuhi orang-orang yang menunggu kendaraan pulang. Namun diantara mereka juga tidak sedikit yang menunggu macam umpan 'tonda' yang aku lepas ini. Dalam hal begini aku maupun mereka punya bahasa dan trik khas yang saling bersambut. Tunggu saja..
Saat aku melewati halte depan Sarinah tahunamrin kulihat kerumunan orang menunggu. Aku sedikit bikin pelan jalan motorku sambil mataku jelalatan ke arah kerumunan itu. Dan kena! Tuh dia, seorang pemuda. Dia telah melempar angkatan alisnya dan melambai. Dan aku menjawab dengan melambai pula. Mengendorkan gas, menepi dan menunggu pemuda itu menyusulku.
Layaknya seorang sahabat, sekitar 5 s/d 10 detik kami berbasa-basi ngobrol. Kemudian dia naik ke boncengan dan aku kembali meluncur.
"Kemana Dik?" tanyaku dari balik helmku.
"Terserah Mas," jawabnya.
Hari masih terang. Untuk parkir dan berasyik masyuk di taman-taman kota masih belum bisa dilakukan. Sebaiknya aku ajak makan atau minum dulu di deretan tukang makanan di pinggir jalan Sabang. Dia, si pemuda itu, belakangan dia mengenalkan namanya Anto, setuju saja usulan makan minumku. Selama di warung kaki lima itu kami saling mengakrabkan dengan cara saling raba atau genggam. Aku yakin kemaluannya cukup gede. Biasanya lelaki berpostur macam dia, kerempeng dan jangkung, menyimpan kemaluan gede dan panjang.
Sekitar jam 18.30 hari telah gelap. Lampu jalanan benderang di mana-mana. Aku bersama Anto meluncur ke Monas. Dengan motor aku bisa masuk hingga ke rerimbunan tanaman perdu di dekat patung Diponegoro. Dibalik lampu di belakang perdu itu sungguh cukup gelap dan tanpa ada orang yang bisa melihatinya. Dalam hari gelap, jarak 20 m sudah tidak lagi nampak apa yang jelas sedang terjadi. Kami duduk di bak taman batu dan langsung saling meraba dan meremasi. Kontolku sudah sangat ngaceng, demikian pula kontol Anto. Ternyata benar, kontol Anto gede dan panjang. Aku sangat bernafsu untuk kontol macam begini.
"Boleh diisep ya?" pertanyaanku berlagak pilon.
"Boleehh..." kudengar suaranya bergetar.
Ah, ternyata giginya juga gemelutuk. Pasti Anto sangat berberahi namun tertahan. Kurasakan dadanya gemetar. Aku mulai perosotkan kancing zip-nya hingga nampak celana dalamnya yang berwarna terang. Aku mengelesotkan diriku ke lantai untuk menyongsong selangkangannya. Aku menciumi celana dalam dan sekitar paha serta selangkangannya itu. Aroma kelekakian Anto sungguh membuat syahwatku terdongkrak.
"Maass.. Enaakk.. Banggeett..." katanya sambil tak sabar dia angkat pantatnya untuk menarik lepas celana dalamnya. Anto pengin aku selekasnya menciumi kontolnya.
"Dduuhh.. Mmaass..." dia menjambak rambutku saat mulutku mulai mengulum kepalanya yang bulat berkilatan itu. Mulutku penuh disesakinya. Rasa asin menebar dalam rongga mulutku. Aku langsung tenggelam dalam nikmatnya mengulum-ulum kontol gede Anto.
"Teruss.. Mmaass..." dia sedikit mengangkat pantatnya agar aku lebih mudah menelan dan menjilati batang kontolnya itu. Dan ketika suhu birahinya panas dan meledak dia renggut kembali kepalaku dan mekannya agar aku menelan lebih dalam.
Bersambung . . . . .

Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 2



Edan 'Irgi' ini. Untungnya aku memang merindukan pantatnya sejak awal lihat dia di konter tadi. Tanpa 'ba Bi Bu' aku langsung merosotkan celananya hingga terserak ke lantai dan sebagaimana khayalan awalku aku membenamkan hidung ke belahan pantatnya kemudian menjilati lubang anusnya. Aduh nikmatnyaa.. Jangan berhenti kamu sayaanngg..
Sesudah aku puas dan dia juga semakin terbakar aku berdiri. Kupeluk erat tubuhnya dari belakang. Kudaratkan ciuman dan sapuan lidahku pada tengkuknya. Kulepaskan beberapa gigitan kecilku. Aku mulai pepet-pepetkan kontolku ke analnya. Tangan "Irgi' langsung menyambar dan mengarahkannya ke lubang anusnya. Dengan beberapa kali dorongan yang disertai seringai pedih nikmat dari wajah 'Irgi' kontolku dengan 'smootahun' amblas keharibaan lubang dubur 'Irgi'.
Sungguh nikmat surgawi jepitan dan cengkeraman lubang anus teman kilatku ini. Aku asyik menggenjot maju mundur merasai betapa setiap senti dinding anus 'Irgi' memberikan kenikmatan tak terhingga padaku.
Rasanya tak terlalu lama, juga karena sudah demikian kebelet nafsuku, kontolku memuntahkan air maniku ke lubang dubur 'Irgi'. Rasanya seluruh cairanku terkuras habis. Aku langsung lunglai. Rasanya badanku seperti dilolosi otot-ototnya. Aku terduduk kembali di kloset.
Masa bodoh dengan aku yang nampak masih kecapaian "Irgi' yang 'haus'nya belum tersalurkan memaksakan kontolnya dalam mulutku. Sesudah dia cukup mengocok-ocok dengan cepat dia langsung sodokkan batang kontolnya tepat di mulutku. Dengan memegang tahan kepalaku dia goyang pantatnya maju mundur merasai betapa nikmat ngentot mulutku. Hasrat syahwatku dengan cepat hadir kembali. Aku menikmati batang kenyal dengan bonggol yang memenuhi rongga mulutku ini menebarkan aroma yang membuat aku melayang dalam birahiku kembali.
Kini aku menantikan saat-saat yang paling aku nantikan. Goyangan 'Irgi' semakin kenceng disertai jambakan pada rambutku yang juga semakin kenceng dan menyakitkan. Aku mendengar dengus nafasnya yang semakin tak beraturan. Aku sepenuhnya telah siap menerima limpahan air maninya. Dan aku tak menunggu lama..
Dalam 2 atau 3 menit berikutnya sperma panas dan kentalnya telah muncrat-muncrat tumpah dalam rongga mulutku. Secra refleks lidhku mengecapinya. Ada gurih, ada pahit dan ada asinnya. Rasanya pekat lengket menyertai goyangan lidahku. Aku menelan seluruh tumpahan itu.
Belum juga aku selesai menikmati dalam telanan spermanya kulihat dia mau bergegas menutup kembali celananya. Tentu saja aku tak menahannya,
Anak cakep itu membetulkan celananya dan bergegas pergi tanpa ngomong 'ba Bi Bu' padaku. Dasar 'hombreng' egois.
Namun aku tersenyum puas. Tanpa mengenal nama atau siapa sesungguhnya 'Irgi'-ku itu aku telah menelan spermanya dan menjilati lubang tainya.
*****
[Seks dan Bisnis]
Pengusaha ketemu Pengusaha
Hari ini ada 2 appoinment dalam catatanku. Pertama jam 11 siang dengan petugas pajak. Aku pikir untuk ini bisa kuserahkan Wina sekretarisku. Sesudah aku beri arahan secukupnya Wina mengerti dan siap melaksanakannya.
Yang kedua ketemu dengan sesama pengusaha. Dia adalah Pak Badrun, pengusaha sukses dari Balikpapan, Kalimantan. Acaranya membahas kemungkinan kerjasama konsorsium dalam menggarap proyek tambang batubara di Kalimantan. Posisi Pak Badrun merupakan kata kunci untuk suksesnya kerjasama ini. Sudah lama aku punya obsesi untuk melebarkan sayap ke Kalimantan ini. Aku sangat mengimpikan kesempatan macam ini. Aku mulai membuat catatan.
Aku minta Wina untuk melakukan konfirmasi jam dan tempat pertemuannya. Wina langsung mecari hubungan dan melapor padaku bahwa pertemuan jam 15.00 di Cafe MR Kemang. Aku agak kaget. Itu kafe para gay. Beberapa kali aku kencan dengan 'pria seksi' di tempat ini. Kenapa tamuku memilih kafe itu, ya? Mungkin dia nggak tahu. Maklum orang Kalimantan.
Atau..? Masak dia gay sih. Ah, sebaiknya aku nggak membayangkan kesana. Yang penting dan ini sangat penting, nantinya aku harus bisa meyakinkan pada Pak Badrun tentang proyek kerjasama ini. Apapun yang menjadi keinginan Pak Badrun aku usahakan bisa memberikan solusi yang tepat dan memuaskannya.
Tepat jam 14.30 dengan BMW-ku aku meluncur ke Kemang. Aku nggak mau terlambat. Sesampainya di Cafe MR aku berikan selembar Rp. 100 ribu pada sopirku. Kusuruh dia pulang dulu. Mungkin aku akan sampai malam nanti. Biar aku akan bawa mobil sendiri.
Saat aku memasuki ruangan kulihat beberapa meja telah terisi. Aku tidak asing dengan tempat ini. Nampak beberapa tamu menengok ke arahku. Mungkin mereka naksir aku. Pada resepsionis aku pesankan kalau ada orang yang mencariku. Aku sebut namaku sambil minta sebotol Coca Cola.
Sementara menunggu aku iseng-iseng aku membuka laptop-ku. Kubuka folder rahasiaku. Tadi malam aku banyak nge-down load situs gay. Aku kolek gambar-gambar pria macho penuh otot dengan kontol yang gede. Beberapa adalah orang Negro yang sangat merangsang libidoku.
Beberapa saat kemudian seseorang berkulit gelap dengan perawakan perutnya yang buncit mendekat ke resepsionis. Kutaksir usianya telah lewat 50 tahunan. Kemudian kulihat petugas itu menunjuk ke mejaku. Aku pastikan itu adalah Pak Badrun relasiku. Ah, ternyata dia pria yang berwajah keras namun nampak charming dan sangat seksi. Dia melangkah ke arah mejaku. Aku yang telah tahu berdiri menyambutnya. Kami bersalaman dan saling memperkenalkan diri.
"Roni,"
"Badrun," sambil kami bertukar kartu nama pula.
Tangannya meremas kuat tanganku. Inilah gaya orang Kalimantan, pikirku. Pembicaraan kami langsung akrab dan encer. Sambil menunggu pesanan minuman dan snack kami lewatkan dengan ngobrol 'ngalor-ngidul' mengenai berbagai hal.
"Bapak tahu tempat ini dari siapa?" ramahku sambil memperhatikan jam tangannya yang keemasan melilit tangannya yang berkulit gelap penuh bulu.
"Ah, saya suka saja tempat ini. Saya kalau ke Jakarta selalu nongkrong di tempat ini," jawabnya sambil mengamati mukaku dengan nuansa selidik. Aku merasakan sepertinya ingin tahu banyak tentang diriku. Aku maklumi sebagai pengusaha sukses Pak Badrun tidak akan begitu saja mempercayai orang yang baru dikenalnya.
"Enak khan tempat ini?" lanjutnya sambil matanya ke arah leher dan kemudian turun ke dadaku seakan seorang interogator sedang memeriksa pesakitannya.
Terus terang aku sendiri terpukau pada penampilan Pak Badrun. Dengan kepalanya yang agak botak dan jidat licin mendukung wajahnya yang nampak angker penuh wibawa.
"Maklum Dik, aku banyak kerja di lapangan yang pertambangan yang keras. Kalau aku ke Jakarta Cafe MR ini menjadi tempatku untuk relaks dan ketemu kawan-kawan"
Ah.. Mata itu kenapa semakin menusuk-nusuk rasanya. Aku mulai merasakan bahwa Pak Badrun ini mempunyai kesukaan yang sama denganku. Suka dengan 'pria cantik" Dan kali ini aku yang kebetulan relasinya mungkin dia pandang 'berkenan di hati'-nya. Terus terang aku menjadi agak grogi.
Agar aku bisa lebih relaks dan menyingkat waktu aku langsung membuka acara pokok mengenai maksud pertemuan ini. Kutawarkan bentuk kerjasama penambangan batubara yang proposalnya telah aku baca. Aku minta pembagian hasil masing-masing 50%.
"Ah, gampang itu Dik," jawabnya nampak enteng, "Semuanya bisa diatur. Aku percaya dan simpati pada usaha Dik Roni koq.," tiba-tiba tangan berlilit jam keemasan itu meraih tanganku dan meremasnya pelan. Aku terkaget namun bisa menahan diri. Aku tetap berpikir agar proyek ini bisa terlaksana. Untuk sementara aku diam sementara dia meneruskan genggaman dan remasannya sambil matanya tak lepas-lepasnya menembusi mataku. Mata yang haus akan responku.
Akhirnya sepenuhnya aku yakin. Pak Badrun memang seorang gay dan pemburu pria. Nampaknya gaya Pak Badrun adalah gaya 'predator' yang siap memangsa aku sebagai korbannya.
"Kalau Pak Badrun setuju saya siapkan MOU (Memorandom Of Understanding) nya,"
"Sudahlah, adik atur saja. Aku percayakan semuanya pada adik" Duuhh.. Remasan ini..
Dan yang terjadi kemudian, aku memandangnya balik sebagai mangsa yang tertaklukan sambil melepaskan senyum 'kekalahan'ku serta tanpa ayal membalas remasannya. Sungguh aku seorang 'kolaborator' sejati. Hasrat syahwatku tiba-tiba hadir dan membayangkan diriku telanjang dalam pelukannya. Aku yakin Pak Badrun akan melahap seluruh tubuhku. Aku akan menikmati dominasinya. Aku akan menikmati bagaimana luluh menjadi mangsanya.
Dia mengajukan kepalanya dan matanya makin dalam menembusi mataku. Aku sudah terperangkap dalam sihir matanya,
"Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan kita di tempat lain. Saya percaya adik bisa memberikan solusi yang tepat. Hasrat saya untuk bekerjasama tak mungkin kubendung lagi" Kata-kata yang penuh bersayap mengalir deras dari wajah yang keras penuh wibawa itu. Aku tahu solusi yang dia maksud. Kupanggil pelayan dan kuberikan Dinners Card-ku.
Selama menunggu kembalinya pelayan saling remas antara aku dan Pak Badrun tanpa jeda,
"Dik, aku sudah ngaceng," bisiknya dengan parau.
Demikianlah nafsu birahi yang besar mendesak-desak akan membuat suarapun menjadi parau. Aku tergetar. Aku yang sudah sepenuhnya dalam sihirnya setuju dengan apapun ucapannya.
Bersambung . . . .

Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 1



Jakarta, Jakarta, Jakarta. 86.400 detik atau 1.440 menit atau 24 jam sehari, 7 hari seminggu 30 hari sebulan, jantung Jakarta berdegup tak pernah henti. Asap mobil menyesaki atau sinar lampu mobil berseliweran menyilaukan mata memenuhi panjang jalan-jalan Jakarta. Hiruk pikuk manusianya, hingar bingar peristiwanya menjadi wujud pesona ibukota Republik Indonesia yang ber-rakyat 250 juta ini.
Di tengah-tengah gegap gembitanya 12 juta penduduk Jakarta, gegap gembita pula sudut-sudut jalan, pojok-pojok diskotik, relung-relung mall, taram temaramnya kafe atau taman-taman di kala hari bergerak malam. Atau di tengah bisik desah berlantaikan tikar plastik di tepian kali Malang, atau di balik semak taman-taman kota atau di motel-motel atau hotel-hotel 'kresek' yang menebar di seantero Jakarta. Mereka itulah para 'pria pecinta pria'. Mereka pria yang mencari pria dan pria yang dicari pria.
Mereka memiliki 'konvensi' sendiri dalam hidup masyarakatnya. Mereka sejenis dan saling berasyik masyuk, saling memberikan dan menerima puncak syahwat. Mereka melepas liar dahaganya akan belaian 'cinta sejenis'. Orang istilahkan 'gay'. Terjemahan harfiahnya adalah 'bersenang-senang'. Ya, memang ini bicara tentang bersenang-senang.
Dan bagi aku yang terlarut dalam sebagian dari mereka, Jakarta-lah sorga bagiku. Aku atau mereka datang dari segala segmen. Baik segmen geografi, demografi ataupun psikografi. Itu macam segmen naik turun, tinggi rendah dan kanan kiri depan belakang. Terkadang teraduk-aduk. Yang atas turun ke bawah, yang bawah naik ke atas. Yang jangkung nyari si gemuk. Yang putih nyari hitam, Yang priyayi nyari kuli, yang kuli melahap priyayi. Yang tua menerkam yang muda yang muda menikmati yang tua dan seterusnya dan seterusnya.
Aku, demikian juga lainnya bisa diburu ataupun memburu. Dan terus terang aku merasakan nikmat pada keduanya. Nikmat betapa dalam jeratan dia. Nikmat aku berhasil menundukkannya setelah sebelumnya menendang perutku. Nikmat dikalahkan ataupun mengalahkan. Kami adalah sejenis predator sekaligus korban. Kami saling memangsa atau dimangsa.
Demikianlah pada hari Selasa bulan September saat istirahat makan siang. Aku mencari makan di 'Happy Times' Sogo tahunamrin tempat yang paling prestise di Jakarta. Saat memasuki gedung aku langsung tertumbuk seseorang dengan tampang Timor Leste. Aku sudah rasakan getarannya. Kami biasanya sudah memiliki naluri untuk itu. Dia memandang aku dan aku memandangnya. Dia melepas senyum, aku mengembalikannya. Kami lantas ngobrol.
Rupanya dia adalah akuntan dari Biro Dagang di jalan Tanah Abang. Obet, begitu aku memanggilnya. Kami langsung akrab dan sepakat untuk makan siang bersama. Karena masih berurusan dengan kewajiban, kami janji untuk jumpa nanti sore di tempat yang sama, Sogo tahunamrin, jam 5 sore sepulang kantor.
Sore itu kami memilih meninggalkan parkir mobil kami di Sogo. Kami menuju motel Cempaka Putih dengan taksi. Sopir taksi tahu tanpa banyak tanya. Aku yakin dia tahu segalanya. Begitu sampaia di sasaran tanpa ragu dia berbelok masuk kecelah halaman Cempaka Motel yang setengah tersembunyi.
Sungguh surprise bagiku. Obet benar-benar pria idaman bagiku. Aku langsung ingin menikmatinya sesaat dia melepas kemejanya. Dada coklat penuh bulu dan otot itu memberikan aku puncak fantasi seksualku. Aku sangat keranjingan dengan ketiak penuh bulu, kontol gede yang dibaluti otot dan sperma kental panas muncrat-muncrat di mulutku. Semuanya kudapatkan dari Obet..
Ternyata demikian pula Obet. Dia telah begitu lama mendambakan ketemu orang China macam aku. Dia pengin merasakan menjilati pantatku yang 'kuning langsat' macam batu jade. Dan dia terpenuhi pula bisa ngentot pantat batu jadeku ini.
Hari pertama perjumpaan ini kami lampiaskan seluruh obsesi kami. Kamar sempit Cempaka Motel ini riuh dengan desah, rintih dan jeritan-jeritan nikmat dari kedua mulut kami. Kami sempat beberapa kali mengulang kenikmatan birahi kami. Entah berapa kali kontol Obet menyemburkan spermanya ke mulutku maupun mulut pantatku.
Dalam obrolan menjelang menonggalkan motel aku dan Obet sepakat bahwa tidak terbiasa dan tidak suka terikat. Kita hanya jumpa saat saling butuh. Sampai kini, sudah sekitar 3 bulan sejak jumpa, kalau lagi sepi, kutelpon dia dan bisa ketemu di mana saja sesuai selera.
*****
[Cinta Kilat]
Kebelet di Maruzen
Aku jumpa 'Irgi' di Blok M. Habis cari buku di Maruzen, saat turun ke parkir area aku iseng turun ke basemen lihat komputer shop. Aku memang sedang kebelet butuh, nih. Libidoku mendesak untuk cari sasaran. Sambil jalan kontolku sudang terus ngaceng berat hingga terpaksa tanganku terus dalam kantong celanaku untuk menahan tonjolannya tidak nampak di tengah banyak orang.
Di konter elektronik seorang anak lelaki sangat tampan, kutaksir sekitar 19 tahunan, sedang membayar belanja sesuatu. Aku tak bisa mengelak untuk terus mengamati dengan penuh khayal seksual. Posturnya mirip Irgi yang pembawa acara Indonesian Idol. Jangkung, mungin sekitar 180 cm, dan sangat enak dipandangan mataku dengan celana jeans-nya yang ketat itu. Pantat 'Irgi' ini sangat mempesona hasratku. Alngkah nikmatnya bisa menenggelamkan hidung dan lidahku di sana.
Nampak tungkai pahanya demikian panjang. Sangat nikmat apabila bisa melatakan lidah dan meninggalkan bekas sedotan bibir di sebentang pori-pori betis, paha hingga keselangkangannya. Liur di lidahku sudah tak bisa kubendung. Bagaimana dayaku..? Dalam bengong dan lamunanku aku terkejut saat dia berbalik. Ternyata dia tahu aku mengamatinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Kurang asem. Tentu saja aku gugup setengah mati. Semuanya tak kuduga.
"Eehh..... Ngg.. Gakk," sambil aku berbalik untuk cepat menghindar. Namun,
"Mas, Mas. Tunggu" Aku rem lengkahku.
"Boleh tanya, ya? Tempat peralatan pesta kebun di mana? Saya dengar katanya di sini ada toko yang menjual alat-alat lengkap pesta kebun. Macam panggangan B'beque dan sebagainya, gitu?" tanyanya.
Aku berkesempatan kembali untuk menikmati ketampanannya. Melihat dia bicara, mengamati bibirnya, aku semakin terpesona. Rasanya aku akan sangat bahagia seandainya dia mau meludahi mulutku.
"Oohh... yaa.. Aku juga suka melihat-lihat di sana. Yookk.. Sama-sama saja. Kalau nggak salah di lantai 5," kami seiring. Saat bersentuhan di eskalator, rasanya aku disengat listrik. Kurasakan basah keringatnya di ruang AC yang sejuk ini. Sepintas aku meliriknya. Mungkinkah dia juga gugup macam aku kini?
Begitu menginjak lantai 5,
"Aku pengin kencing dulu. Sudah kebelet banget, nih"
Aahh.. Bukankah ini kebiasaan para gay yang ingin Cek dan Recek kondisi seseorang yang diminatinya. Aku membebek di belakangnya. Aku sudah jatuh cinta pada tampang Irgi ini. Betapa seksinya anak ini. Dadanya, pinggulnya, jangkungnya..
Ruang toilet pria di Maruzen sepi. Dan benarlah. Ternyata kami cepet cocok dan saling merespon. Sambil saling melihati kemaluan temannya pada saat kencing ini kami bertumbuk pandang. Aku sudah ahlinya. Kutarik alis mataku ke atas dan dijawabnya dengan cara yang sama. Suara yang menyusul berikutnya adalah,
"Mas mau ngisep?" dalam bisikkan 'jassy' yang singkat dan penuh energi. Ya nggak mungkin kutolak, dong.
"Dimana?" jawabku. Dia hanya mengerlingkan matanya ke arah WC.
Oohh.. Aku tahu. Cinta kilat. Rupanya ini yang dia maksud 'sudah kebelet banget' tadi. Dan dia sudah bergerak sebelum aku mengiyakannya. Sebelum mengikutinya aku menunggu sesaat untuk memastikan tak ada orang lain yang memperhatikan kami.
Dia sudah mulai membuka kancing celananya saat aku masuk. Sesudah mengunci pintu aku langsung duduk di kloset dan dia juga langsung mengasongkan kontolnya ke mulutku yang telah siap mengulum dan mengisep-isepnya. Kontolnya nggak sunat. Tidak begitu besar, normal sebagai ukuran Asia. Namun kontol itu sangat tegang sehingga kepalanya berkilatan. Saat menyentuh bibirku langsung rasa asin precumnya menerpa lidahku.
Dia raih kepalaku dan memaju mundurkan menjemputi kontolnya. Aku setengah merangkul pinggulnya yang juga sedikit bergoyang. Tangan-tanganku menegelusi dan meremasi wilayah pinggul dan bokong seksi itu. Aroma prafum pria masa kini merebak dalam setiap tarikan nafasku. Hasratku semakin meninggi. Ingin benar aku mengelusi kontolku yang juga telah demikian mendesak-desak celanaku.
Sementara dalam nikmat yang nampak melandanya kontol 'Irgi' ini semakin keras dan sangat kaku. Kurasakan dalam mulutku, kepala penisnya begitu membonggol. Aku rasa tak lama lagi dia pasti memuncratkan air maninya. Namun dia mau yang lain,
"Aku nggak mau keluar dulu. Mau nggak kamu ngentot pantatku?" sambil berbalik setengah nungging dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding WC.
"Kamu jilat-jilat dulu lubangnya. N'tar aku pasti nafsu banget"
Bersambung . . . . .

Jumat, 12 Februari 2010

Pengalamanku dengan sesama pria - 3



Hallo pembaca, ini Bobby lagi. Sudah baca ceritaku yang ke dua? Pengalamanku Dengan Sesama Pria - 2. Bacalah segera jika anda belum melakukannya:). Bagi yang sudah membacanya tentu masih ingat kalau aku meminta pembaca sekalian untuk membayangkan sendiri sex anal yang kualami. Nah, aku menerima beberapa e-mail yang meminta agar aku menceritakan detail sex anal tsb saking penasarannya (thanks buat emailnya). Karena lagi mood, pada bagian ke 3 ini silakan simak detail cerita 2 yang selengkapnya. Begini ceritanya..
*****
Kita mulai saja dari bagian saat Anto selesai mengenakan CD yang diambilnya dari lemariku yang membuatku terangsang.
"Boleh bermalam di sini", tanya Anto lagi dengan senyumnya yang seksi plus penuh 'nakal bermakna'. Aku tersenyum mengiyakan dan masuk lagi ke kamar mandi. Saat itu aku masih mengenakan kaos playboy ketat favoritku yang mencetak tubuh seksiku dengan jelas. Kuambil CD Anto dan kuperas airnya hingga tidak begitu basah lagi lalu kukenakan. CD merah Anto sangat pas kukenakan karena sangat serasi dengan bentuk pantatku. Aku lalu keluar menemui Anto yang saat itu sudah duduk di tepian ranjang tuaku yang berkasur cukup empuk walau sudah tidak terlalu baru lagi. Kulihat mata Anto agak membesar melihat penampilanku saat itu dan tonjolan yang membayang di CD yang dikenakan Anto juga mulai 'tumbuh'.
Aku lalu duduk disamping Anto dan kami saling bertatapan sejenak dengan nafsu yang semakin membara. Tanpa dikomando kami mulai saling mendekatkan wajah dan cup.. cpott.. kami mulai saling berciuman. Anto memelukku dan aku memegang kepala Anto sambil saling melumat bibir dengan lembut, kemudian lumatan kami makin lama makin cepat, liar dan makin menjalar ke mata, hidung, telinga, leher, dahi. Pokoknya wajah kami benar-benar 'lumat' ;). Kemudian aku mengangkat kedua tanganku dan Anto dengan lembut membuka kaos yang kukenakan dengan menariknya ke atas. Anto lalu bermaksud membuka CDku yang sudah penuh sesak dengan kontolku yang menegang.
"Tidak perlu dibuka To, kita lakukan sambil pakai CD saja ya?"
Aku segera mencegah maksud Anto. Anto tidak jadi membuka CD yang kukenakan. Giliranku membuka kaos Anto. Seperti halnya denganku, Anto juga masih memakai CD. Kemudian aku mulai mencium dada Anto yang kekar menonjol dan bersih tanpa bulu. Aku memang sangat menyukai bagian dada dan perut cowok yang kekar berotot, apalagi yang tipenya seperti Anto yang boleh dibilang sebagai kombinasi antara body perenang dengan body binaragawan yaitu body yang bangunnya berbahu lebar atletis, tidak terlalu besar seperti perenang namun memiliki otot yang menonjol bak binaragawan.
"Oh.. Ah.. hah..", Anto mendesah nikmat saat kumainkan putingnya yang menggemaskan itu. Desahan Anto membakar semangatku hingga aku makin bernafsu menjelajahi dada hingga perutnya dengan sapuan lidahku. Anto menggelinjang geli saat kumainkan ujung lidahku di pusarnya. Anto makin 'high' hingga tangannya tanpa sadar mulai menjambak rambut cepakku dan juga mengelus-ngelus plus meremas punggungku. Aku lalu menindih Anto dan dengan posisi 'misionaris' aku mulai goyang dengan menaik turunkan pantatku hingga kontolku yang masih terbungkus CD bergesekan dengan sekitar perut bawah dan paha Anto. Kontol Anto yang berkondisi sama juga bergesekan dengan perutku di bawah pusar. Dapat kulihat ekspresi Anto yang sangat menikmati goyanganku dan remasannya di punggungku juga makin kuat.
Goyanganku membuat ranjang tuaku ikut berderit-derit dengan irama yang dinamis yang merupakan bumbu yang membuatku tambah semangat. Kemudian giliran Anto yang goyang di atas. Anto dengan semangat menghentak dengan kuat menaik turunkan pantatnya hingga kontol kami kadang-kadang saling bergesekan dengan dibatasi oleh CD masing-masing. Cukup lama Anto menghentak hingga akhirnya aku mulai merasakan sensasi nikmat di selangkanganku yang menandakan kalau aku hampir sampai ke puncak. Aaah.. crott.. crott, aku mendesah lega sambil menembak beberapa kali di dalam CD. Kurasakan tubuh Anto juga mulai menegang dengan hentakan yang makin menggila dan Anto akhirnya klimaks tidak beberapa lama setelahku. Anto mendesah lega dan berbaring terlentang di sebelahku dengan nafas yang agak memburu.
"Enak.. kan Sayang..", aku berbisik di telinganya.
Anto hanya melihatku sambil tersenyum puas. Tubuh kami sat itu basah licin mengkilat oleh keringat kami yang membaur. Aku juga tersenyum puas. Rasanya beda dan sangat nikmat sekali sex dengan cara ini..
Sejenak kami beristirahat. Kemudian aku bangkit sambil menanggalkan CDku yang basah oleh cairan mani sambil mengelap sisa sisa cairan yang menempel di selangkanganku. Saat itu posisiku menungging sambil membelakangi Anto. Saat aku menolehkan kepala kulihat Anto sedang menatap pantatku dengan mata berbinar dan kulihat kontolnya mulai bergerak berdenyut-denyut di dalam CDnya yang belum dilepaskan. Rupanya ia sangat terangsang melihat pantatku saat aku menungging tadi. Aku sendiri juga sebenarnya sudah 'on' lagi. Tapi aku pura-pura cuek dan segera menghempaskan diri si samping Anto dengan posisi terlungkup.
Kulihat Anto bangkit sambil melepaskan CDnya yang dilempar begitu saja ke sudut ruangan. Kemudian Anto mendekat dan mulai menyapukan lidahnya di punggungku.
Aku menggelinjang geli merasakan kehangatan lidah Anto yang menari-nari di sela-sela otot punggungku. Rupanya berbeda denganku yang menyukai bagian dada dan perut, Anto sangat suka dengan bagian belakang tubuh cowok, tertama bagian pantat. Dari obrolanku dengan Anto di kemudian hari kuketahui kalau Anto rupanya sudah terobsesi dengan pantatku sejak lama sebelum kejadian hari itu. Hal ini terbukti dengan jilatan Anto yang makin rakus di sela bukit pantatku. Aku merasakan geli nikmat yang luar biasa saat Anto menyapukan ujung lidahnya di lobang pantatku. Anto terus melakukannya di lobangku sambil diselingi dengan ciuman dan sedotan mautnya yang membuat meram melek saking nikmatnya.
"Truss.. To.. terrus.. akh", aku mendesah nikmat.
"Sekarang menungging, Bob..", instruksi Anton. Aku segera menurutinya.
Kulihat Anto membasahi jarinya dengan mani yang yang masih menempel di selangkangan dan di kontolnya yang tadi dikeluarkan saat sex CD dan masih belum sempat di lapnya. Ia lalu mulai memasukkan jarinya ke lobangku. Sebenarnya aku sangat takut dengan yang namanya anal sex. Tapi saat itu aku pasrah saja berhubung sudah sangat nafsunya.
"Aduh.. sakit To..", aku mengaduh saat kurasakan jari tengah Anto memasuki lobangku hingga aku terus mengencangkan otot anusku.
"Santai aja Bob.. Nanti pasti nikmat..", kata Anto dengan suara agak parau.
Kemudian giliran jari telunjuknya yang masuk.
"Sssh..", aku meringis kesakitan sambil memejamkan mata saat Anto mulai menggerakkan jarinya keluar masuk lobangku.
Tak lama kemudian rasa sakitnya mulai berkurang dan aku mulai bisa menikmati gerakan jari Anto yang menghasilkan sensasi nikmat di dalam lobang pantatku. Melihat aku yang mulai rilex Anto mengeluarkan jarinya dan mulai mengarahkan kontolnya yang licin oleh lepotan mani ke sasaran.
"Pelan-pelan To..", aku agak ngeri juga membayangkan kontol Anto menjebol lobangku.
Anto mulai memasukkan kontolnya pelan-pelan. Dapat kurasakan kepala kontolnya yang besar secara perlahan bergerak masuk yang membuatku meringis lagi sambil menegangkan otot dubur.
Anto sejenak menghentikan aksinya dan saat aku mengendurkan otot dubur tiba-tiba saja Anto menghentakkan pantatnya hingga kontolnya masuk seluruhnya ke dalam.
"Aakh..", aku hampir menjerit merasakan sakit yang cukup hebat. Perutku juga rasanya mulas melilit-lilit. Untung mentalku cukup kuat sebagai seorang tentara.
"Tenaang.., janji deh pasti nikmat", desah Anto sambil tangannya yang satu memainkan putingku dan meremas-remas dadaku.
Aku mulai tenang menikmati tangan Anton yang ahli dalam membakar gairahku yang sempat surut tadi. Kemudian Anto mulai menarik dan memompa kontolnya yang membuatku merasa sangat mulas sekali hingga tanpa dapat kukendali aku mulai menegang-negangkan otot duburku.
"Enak.. Bob, lobangmu benar-benar masih perawan".
Sambil berucap Anto mulai memajumundurkan pantatnya lagi.
Dari rasa sakit dan mulas lama kelamaan aku mulai merasakan sensasi nikmat yang makin menghebat.
"Teruss.. To.. Enak.. Ohh.. umph.. akh..", lepas kontrol aku mulai mengeluarkan suara lenguhan dan desahan nikmat yang membuat goyangan Anto makin hebat.
Saat itu tanganku juga aktif mengocok kontolku dengan cepat. Makin lama lobang pantatku makin terasa nikmat-nikmat pedas. Tubuh Anto juga mulai menegang dengan entotan yang makin cepat dan..
"Aaah..", Anto mendesah sambil mendongakkan kepalanya seraya menembak di dalam anusku.
Kurasakan cairan maninya yang mendatangkan sensasi hangat panas pedas nikmat di dalam pantatku.
Anto kemudian menungging sambil menunjuk pantatnya memintaku memasukkan kontolku. Kulihat lobang anus Anto agak besar hingga aku menduga kalau Anto sudah pernah melakukan anal juga atau minimal ia selalu memasukkan sesuatu ke dalamnya:O.
Aku membasahi kontolku dengan ludah lalu mulai mengarahkannya ke lobangnya Anto. Tanpa basa-basi lagi aku mulai memasukkan kontolku. Mulanya agak susah dan membuat Anto meringis karena walaupun lobangnya besar, kontolku malah lebih besar lagi ;).
Aku mulai mengentoti pantat Anto. Aku merasa kontolku seperti dilingkari cincin hangat yang berdenyut-denyut. Sensasi itu sangat nikmat sekali. Anto mendesah pelan menikmati sodokanku sambil memperhatikan ekspresi wajahku. Rupanya Anto sangat menikmati itu.
Setelah beberapa lama mengentoti pantat Anto"Oh.. Aku mau keluar To..", aku mendesah.
"Keluarkan, keluarkan di dalam Bob.." kata Anto.
Dan akhirnya crott.. crott.. aku benar-benar nembak di dalam anus Anto.
Aku terhempas di sebelah Anto dengan kontol masih menancap di pantatnya. Sambil memeluk Anto aku berusaha menenangkan nafasku yang masih memburu itu.
Sekali lagi kami beristirahat sejenak sambil ngobrol dari ringan hingga akhirnya sampai ke obrolan panas tentang pengalaman gay kami. Rupanya Anto lebih aktif jika dibandingkan dengan diriku, cuma Anto sangat pandai sekali menyembunyikan rahasianya. Ceritanya membuat kami sama-sama panas lagi hingga kami melakukannya lagi.. dan lagi.. Totalnya 2 ronde. Satu ronde dengan posisi 69 dan satunya lagi ronde terakhir yaitu blowjob saat kami mandi lagi bersama-sama.
Sekali lagi.. Detilnya silakan bayangkan sendiri.. ;) Ronde terakhir selesai saat subuh tiba dan aku kemudian siap berangkat dengan seragam yang sudah lengkap. Anto sudah terlebih dahulu berangkat lapor ke tempat latihan dan rupanya dia mendapat hukuman karena tidak pulang ke asrama tanpa izin. Untung Anto dapat mengemukakan alasan bohongan yang dapat diterima hingga 'hanya' dihukum bentakan plus push-up saja. Akhirnya aku mengajak Anto untuk tinggal bersamaku namun Anto menolaknya karena ia sangat berhati-hati sekali. Takut terbongkar atau digosipin macam-macam begitu pendapat Anto (profesional juga tuh anak ya..?:)). Ia lebih memilih mengontrak sendiri. Singkat cerita seperti yang aku tuturkan di PENGALAMANKU DENGAN SESAMA PRIA 2 kami lebih bebas 'melakukannya' lagi.
*****
Sekian ceritaku.. Seperti biasa jika ada tanggapan silakan email along with your pic ke: arm_buddy@yahoo. com
Dan sekali lagi maaf untuk e-mail yang tak terbalas olehku. c u.. and please vote.

Tamat

Pengalamanku dengan sesama pria - 2



Halo.. pembaca setia RumahSeks, jumpa lagi dengan aku Bobby. Mungkin anda sudah mengenalku dari ceritaku yang sebelumnya yang oleh pengelola RumahSeks diberi judul manis "Pengalamanku Dengan Sesama Pria" (O ya, thank's buat RumahSeks yang telah memuat ceritaku, you are the best). Aku juga menerima beberapa e-mail tanggapan dari pembaca yang isinya beragam. Kuucapkan terima kasih dan maaf jika aku tidak dapat membalasnya soalnya sibuk.
*****
Jika anda masih belum membaca ceritaku sebelumnya sebaiknya anda segera membacanya karena di dalamnya banyak sekali hal yang berkenaan dengan diriku dan tentunya anda akan lebih menghayati cerita ini jika telah merasa mengenalku. Tak kenal maka tak sayang, maka aku akan memperkenalkan diriku lebih jauh lagi. Aku bukanlah orang yang suka dengan kehidupan diskotek atau kehidupan malam yang diselingi dengan narkoba dan minuman keras. Aku menjalani kehidupan seperi kebanyakan orang 'biasa'.
Aku sangat menyukai cowok yang tidak kemayu dengan tubuh OK, terutama cowok dengan rambut cepak. Sebaliknya aku kurang suka dengan cowok yang rambutnya panjang karena kelihatannya ribet sekali. Aku juga tidak suka dengan cowok yang bulunya tebal kasar plus lebat. Kesannya jorok bagiku (maaf bagi anda yang berbulu, tidak berarti anda jorok, yah.. namanya juga hanya perasaanku saja kok). Aku pribadi memiliki rambut yang cepak sejak masih tentara hingga saat ini. Demikian juga dengan rambut bawahku, aku lebih suka menggundulinya atau membuatnya cepak juga jika sudah mulai meranggas ke mana-mana (atas cepak bawah cepak/gundul):).
Pada waktu kecil aku sangat senang dengan film kartun Superman dan G.I. Joe. Mungkin G.I. Joe juga yang mengilhamiku muntuk menjadi tentara walaupun akhirnya aku berhenti karena merasa tidak cocok dengan kehidupan tentara yang kesannya berbau kekerasan. Sedangkan alasan aku menyukai Superman adalah CDnya yang dipakai di luar itu lho:). Aku sangat menyukai modelnya yang seksi sehingga sampai saat ini CDku juga selalu bermodel segitiga juga. OK, cukup sekian saja tentang diriku, sekarang silakan simak cerita pengalamanku yang kedua dengan cowok.
Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya bahwa aku pernah menjadi tentara yang setiap hari disuguhi pemandangan 'indah' cowok-cowok macho yang berlatih bersama-sama denganku. Cukup sulit untuk membuat kontolku lemas saat melihat otot-otot yang tercetak pada kaos ketat basah dan membaui keringat mereka yang jantan. Untunglah perhatianku agak teralihkan oleh latihan yang keras yang disertai bentakan dan teriakan dari komandan yang melatih kami. Celakanya adalah saat mandi tiba. Dengan kondisi tempat pemandian di asrama tentara yang cukup terbuka sehingga teman-teman sepasukanku yang memakai handuk atau hanya kolor saja cukup membuatku kelimpungan. Apalagi jika kondisi tubuhku sedang fit, kontolku pasti berdenyut-denyut minta 'jatah'. Untunglah aku menyiasatinya dengan cara onani di kakus yang tentunya tertutup, baru kemudian aku mandi dengan kondisi kontol yang sudah melemas.
Karena saat itu aku masih berusaha untuk melawan sifat gayku, daripada aku nafsu terus-terusan sama sesama teman cowok seasrama, aku memutuskan untuk menyewa rumah kontrakan kecil yang letaknya tidak begitu jauh dari kesatuanku dengan harapan agar obsesiku pada tubuh cowok bisa berkurang walaupun sebenarnya usaha itu gagal karena pada dasarnya aku memang gay. Aku semakin gundah dan mengira kalau hanya akulah yang tidak normal di dalam lingkunganku itu. Pada akhirnya aku baru tahu kalau perkiraanku salah. Sekali lagi, begini ceritanya:)..
*****
Pergaulanku dengan teman-teman sepasukan walaupun sangat akrab tapi masih dalam konteks yang sangat wajar karena aku selalu membatasi diri agar jati diriku yang sebenarnya tidak tampak dari luar. Aku tidak pernah mengenal istilah curhat ataupun ngomong dari hati ke hati dengan orang lain apalagi dengan teman sepasukanku. Malah biasanya akulah yang dijadikan tempat curhat yang kebanyakan masalah mereka adalah tentang cewek yang sebenarnya membuatku bosan. Dengan demikian aku dikenal dan dianggap sebagai teman baik yang wajar-wajar saja.
Diantara teman sepasukanku ada seorang yang kita sebut saja sebagai Anto. Wajahnya gagah dengan rambut halus cepak dan kulit yang kelihatan bersih walaupun agak kelam karena terpanggang sinar matahari. Dia orangnya sangat pendiam dan tertutup. Hubungan kami biasa-biasa saja dan obrolan kami pun sangat terbatas pada masalah ketentaraan saja. Pada waktu itu diam-diam sebenarnya aku sangat tertarik padanya. Menurutku dia sangat perfect. Perasaan sukaku terhadapnya terus meningkat dari hari ke hari yang tentunya membuatku cukup merasa cemas. Pada suatu hari kebetulan aku dan dia sedang jalan bersebelahan menuju pos piket sambil mengobrol ringan. Saat itu saking tidak tahannya aku memberanikan diri merangkul bahunya yang menurutku masih wajar dan tidak akan dicurigai. Bagaimana mungkin dua orang teman yang berjalan bersisian dan ngobrol akrab sambil seorangnya merangkul bahu temannya bisa dianggap tidak wajar? Begitu pikiranku saat itu. Yang membuatku surprise adalah saat tanganku menyentuh bahu Anto aku merasa tubuh Anto agak tergetar dan dia tiba-tiba saja menjadi agak aneh gitu. Saat itu aku mengira mungkin itu hanya perasaanku saja yang 'nafsu'. Dengan demikian, seperti hari-hari biasanya tidak terjadi apa-apa alias normal dan lancar-lancar saja.
Pada suatu malam saat selesai latihan dan tidak sedang dalam giliran jaga/piket, aku bermaksud pulang ke kontrakanku yang kira-kira dengan berjalan kaki memakan waktu lebih kurang 15 menit. Saat itulah aku melihat Anto berada di pinggir jalan dan kelihatannya ia sedang menunggu kendaraan umum.
Aku segera mendekatinya sambil menyapa, "Hei, To. Mau kemana kamu? Bukannya kamu tinggal di asrama?"
"Mau jalan ke plaza Bob, ingin membeli keperluan sehari-hari sambil cuci mata. Kebetulan hari ini lagi bebas." jawab Anto sambil tersenyum.
Bagiku senyumnya saat itu benar-benar maut dan membuat dadaku berdebur. Ingin sekali rasanya aku menubruk mengecup bibir yang seksi itu.
"Wah, boleh barengan tidak, aku juga ingin membeli beberapa keperluan".
Entah kenapa saat itu aku mengucapkan kata-kata tsb, padahal pada awalnya aku berencana untuk langsung tidur begitu sampai di kontrakan.
Anto kelihatan berpikir sejenak kemudian menjawab, "Boleh-boleh saja. Kita langsung berangkat atau gimana? Tuh, di depan ada oplet yang bisa ditumpangi."
"Aduh, badanku bau nih, soalnya belum mandi. Ke rumah kontrakanku sebentar yuk. Biar aku bisa mandi dulu. Tidak jauh kok." Aku menjawab sambil mencium lengan baju kaosku yang basah oleh keringat.
"Baik. Tapi jangan lama-lama ya. Takut kemalaman." jawab Anto.
Saat itu aku rasanya aku sangat senang sekali dan sama sekali lupa dengan usahaku untuk 'menjauhi' cowok.
"Siap.. Komandan", candaku.
Kami segera menuju ke kontrakanku.
Sesampainya di kontrakanku setelah membuatkan minuman untuk Anto aku segera menanggalkan kaosku dan sambil menenteng handukku aku masuk ke kamar mandi. Kunci kamar mandi kontrakanku sudah lama rusak sehingga hanya bisa sekedar ditutup saja. Aku tidak pernah memperbaikinya karena malas. Biasanya aku juga tidak pernah menutup pintu kamar mandi. Pikirku untuk apa diperbaiki karena aku tinggal sendirian dan siapa pula yang akan melihat aku telanjang atau tidak?
Saat aku mulai mengguyurkan air ke tubuhku sambil bernyanyi kecil dan menyabuni tubuhku tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Mulanya aku mengira karena ditiup angin. Aku sempat kaget karena rupanya Anto yang membukanya. Saat itu didepanku terpampang pemandangan yang benar-benar membuatku goyah. Anto berdiri di depan pintu kamar mandi dengan hanya mengenakan celana dalam seksinya yang berwarna merah lengkap dengan tonjolan 'kenikmatan' yang mengagumkan.
Sejenak aku terpesona lalu hampir tergagap aku bertanya, "Lho, ngapain kamu disini?"
"Mau ikutan mandi juga Bob, tidak keberatan bukan?"
Tidak menunggu jawabanku Anto langsung saja melangkah masuk.
"Hoh heh", aku tergagap dan merasa malu sekali karena saat itu aku sudah tekanjang bulat sama sekali.
Anto juga kelihatan tidak seperti biasanya.
"Malu ya? Kitakan sama-sama cowok. Jadi tenang saja", kata Anto kalem.
Ia lalu ikut-ikutan mengguyurkan air dan menyabuni tubuhnya dengan masih bercelana dalam. Melihat rambutnya yang basah dan tubuhnya yang licin oleh sabun dengan celana dalam seksi itu telah membuat kontolku tanpa dapat dicegah lagi langsung berdiri berdenyut-denyut minta pelampiasan. Rasanya aku ingin sekali langsung menubruk si seksi itu, namun saat itu aku masih terpaku dengan nafas yang agak memberat. Kemudian aku cepat-cepat membelakangi Anto walaupun kondisi kontolku sudah ketahuan.
"Bisa berabe nih', batinku saat itu.
Anto sepertinya cuek saja lalu menyabuni punggungku yang menghadap padanya. Aku semakin tersengat gairah yang meluap saat merasakan tangan Anto dan tanpa dapat ditahan lagi aku langsung berbalik dan menubruknya dan memeluknya dengan erat sambil tanganku menjelajahi punggungnya yang kekar sampai menurun ke pantatnya yang segera kuremas-remas. Aku tidak memikirkan apa-apa lagi dan rupanya Anto juga tidak menolak perlakuanku padanya. Aksiku berjalan lancar karena saat itu tubuh kami berdua masih penuh sabun yang belum dibilas. Anto malah ikutan membalas dengan aksi yang serupa. Akhirnya kami nyemplung ke bak mandi sambil masih saling raba. Kami lalu berciuman ala french kiss.
Setelah sabun di badan kami bersih, kami lalu keluar dari bak mandi. Anto segera menciumi dadaku dan kemudian memainkan putingku dengan sedotan dengan sapuan lidahnya yang hangat yang mengingatkanku pada pengalaman pertamaku itu. Ciuman Anto menjalar turun ke arah perutku yang punya tiga pasang tonjolan otot itu lalu semakin turun dan akhirnya hap.. Anto memasukkan kontolku yang sudah full tegang sejak tadi ke mulutnya dan mulai menghisap-hisap keluar masuk maju mundur yang membuatku makin menggila. Setelah merasakan akan nembak, aku segera ganti posisi. Giliranku yang jongkok dan sejenak kukagumi tonjolan yang membayang di CD seksi yang masih dipakainya. Secara perlahan kuturunkan CDnya. Kontol Anto berdiri dengan gagahnya yang membuatku blingsatan.
Ukuran kontolnya tidak kalah dengan punyaku dan sangat keras. Aku mulai menyapukan lidahku di kantong kontol, kemudian naik ke bagian batangnya dan akhirnya kepala kontol Anto yang memerah itu masuk ke mulutku dan kuhisap dengan nafsu yang menyala-nyala. Cukup lama aku melakukannya hingga akhirnya..
"Oooh.. Aku mau keluar..", desah Anton.
Mendengar itu aku semakin giat menyedot kontol Anto hingga tubuh Anto menegang dan crott.. croot.. Anto menembak di dalam mulutku. Maninya segera kuhisap dan kutelan dengan lahapnya. Rasanya enak sekali. Sementara itu tanganku terus mengocok kontolku sendiri. Aku juga merasa mau nembak. Tubuhku mulai menegang. Tanpa bicara Anto segera mengulum kontolku dan menyedotnya lagi. Akhirnya aku nembak juga dan seperti aku Anto juga menghabiskan mani yang kukeluarkan. Tanpa terasa kami saling hisap, cium dan raba selama satu jam lebih di kamar mandi.
Aku tersenyum puas dan saling berpandangan mesra dengan Anto. Kami hanya diam saja sambil mengeringkan tubuh masing-masing. Aku dan Anto sama sekali tidak menyinggung kejadian barusan karena sepertinya kami sudah saling mengerti isi hati masing-masing. Sesungguhnya perasaan inilah yang sejak lama kudambakan, ibarat bebas dari kungkungan beban berat.
"Tak jadi belanja nih", kataku sambil mengenakan kaosku yang kuambil dari lemari di samping tempat tidur.
"Kayaknya tidak deh. Boleh kupinjam CDmu? Punyaku sudah basah di kamar mandi sana", kata Anto yang juga sudah mengenakan kaosnya.
"Boleh, pilih saja di lemari sana. Ambil saja satu untukmu. Tapi punyamu untukku saja ya. Soalnya aku suka sekali yang model begitu", kataku sambil menunjuk ke lemariku.
"Oke deh. Gile.. Kamu koleksi CD ya? kok banyak sekali?". Anto terheran melihat tumpukan CD ku yang banyak itu.
Aku hanya cengengesan saja. Anto memilih salah satu CDku yang berwarna coklat tua dan langsung mengenakannya. Melihat itu aku mulai terangsang lagi.
"Malam ini aku boleh kan tidur disini?" Anto melirikku dengan senyum penuh arti.
Singkat cerita aku dan Anto ngesex beberapa kali dengan gaya dan posisi yang selama ini hanya ada dalam fantasiku. Aku bagaikan orang kelaparan yang baru menemukan makanan berlimpah. Teruss.. terus.. dan terus menikmati sex dengan Anto sampai subuh. Semua kerinduanku tersalurkan sudah. Kami sama sekali tidak bisa tidur karena terus bertanding beberapa ronde. Yang istimewa dari Anto adalah ia sangat menyukai bagian pantat sehingga fokusnya selalu ke bagian itu. Hasilnya keesokan harinya lobang pantatku terasa panas bekas sodokan Anto yang nikmat itu. Ngomong-ngomong itu pengalaman analku yang pertama. Awalnya terasa sakit tapi akhirnya menghasilkan kenikmatan tiada tara. Aku juga sempat memasukkan kontolku ke pantat Anto dan nembak di dalamnya. Detilnya silakan anda bayangkan sendiri..:).
Perbuatan yang kami lakukan tertutup rapat karena aku dan Anto sangat pandai menyembunyikannya. Sehari-harinya kami masih seperti teman biasa saja, tidak ada yang berubah. Namun bila ada kesempatan kami terus melakukannya di tempat berbeda. Paling sering kami bermalam di penginapan murahan tiap ada kesempatan dan tentunya terus berpindah dari satu ke penginapan lainnya. Hubungan kami mulai merenggang saat aku keluar dari kesatuan. Dan semakin merenggang saat Anto menceritakan kalau orang tuanya sudah mencarikan jodoh yang tidak bisa ditolaknya. Terakhir aku mendengar kalau Anto sudah pindah ke Jawa dan menikah di sana. Semoga berbahagia selalu.. Aku selalu mengingatmu dan turut berbahagia. Semoga saja Anto membaca cerita ini.
*****
Sekian saja cerita ini. Bagi pembaca yang ingin memberi tanggapan silakan kirim e-mail paling baik jika disertai foto (naked is the best) ke: arm_buddy@yahoo.com. Sekali lagi jangan terlalu mengharapkan balasan and don't forget to vote 5 star for this story. Thank you, c ya..
Bersambung . . . .

 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com