Menampilkan entri yang lain dengan label Sesama Pria. Tampilkan entri lawas
Menampilkan entri yang lain dengan label Sesama Pria. Tampilkan entri lawas

Selasa, 02 Februari 2010

Ex Army vs Body Builder - 2



Aku segera mengeluarkan seragam tentara lengkap dengan segala aksesorinya yang kusimpan di lemari dan mulai kupakai satu persatu. Seragam ini sebenarnya adalah buatan salah satu kenalanku yang memiliki usaha butik, sedangkan seragamku yang sebenarnya tentunya sudah tidak ada lagi. Pemilik butik itu adalah cowok gay juga. Aku mengenalnya karena kami pernah kerja sama saat aku menang tender pengadaan seragam karyawan salah satu perusahaan minyak di Riau. Aku cuma menganggapnya sebagai teman biasa karena ia bukan tipeku. Ia adalah tipe cowok 'sissy' yang terang-terangan sangat menyukaiku dan selalu berusaha memikatku. Tapi aku selalu cuek saja dan pura-pura bego. Seragam ini pun dibuatkannya dengan gratis. O ya, seragam ini sangat berguna sekali dan seringkali teman plusku ingin melihat penampilanku dengan seragam. Jadi cukup berguna juga untuk membakar nafsu lawan mainku hingga mereka tambah 'buas' dan aku yang jadi tambah 'puas' tentunya:). Bagi anda yang suka gay sex, walau anda bukan tentara sebaiknya boleh juga punya cadangan seragam, baik seragam tentara ataupun hanya sekedar seragam satpam. Kujamin pasti 'berguna' deh buatmu ;).
Aku mulai melepaskan kaosku diganti dengan kaos loreng yang dipadukan dengan seragam luar. Kemudian aku memakai aksesori lainnya. Kurapikan diriku sekali lagi di depan cermin besar kamarku. Saat aku sedang mengenakan sepatu Roy masuk dengan hanya memakai G-Stringnya saja sambil menenteng botol minyak sayuran yang biasa kugunakan untuk sekedar menggoreng makanan kecil. Penampilan Roy cukup membuat gairahku terbakar.
"Boleh tolong pakaikan minyak ini nggak?", kata Roy sambil menyerahkan botol di tangannya.
Matanya tidak berkedip menatapku.
"Boleh. Berbaring saja di ranjang", kataku dengan nada suara yang kubuat sewajar mungkin.
Saat itu nafasku mulai sesak oleh nasfu yang membara yang kutahan-tahan. Roy menelungkupkan badannya di ranjangku hingga punggungnya yang kekar berotot menghadapku. Aku menuangkan minyak ke tanganku dan mulai mengusapkannya ke punggung Roy. Usapanku semakin lama semakin turun hingga sampai ke daerah pantat Roy. Roy kelihatannya masih tenang-tenang saja. Aku memutar mutar telapak tanganku di bukit pantatnya beberapa saat lalu terus turun ke paha dan kaki.
"Belakang sudah OK, sekarang balikkan badanmu", kataku setelah usapanku sampai ke mata kakinya.
Roy membalikkan tubuhnya menghadapku. Matanya kelihatan sedang menerawang entah ke mana. Aku mulai membalurkan minyak ke daerah favoritku yaitu di bagian dada dan perut. Aku sengaja memutar-mutar telapak tanganku di sekitar puting Roy seperti gerakan message. Roy kelihatan sangat menikmatinya. Matanya mulai sayu menatapku. Tanganku yang berada di dadanya juga dapat merasakan deburan jantungnya yang makin kencang. Tonjolan dibalik G-stringnya juga mulai tumbuh.
"Oh. kamu gagah sekali dengan seragammu itu", Roy agak menggumam saat mengucapkan kata-kata itu.
"Ah, bohong tuh", aku memasang muka tidak percaya.
"Sungguh. Aku sudah sejak lama mengimpikan teman berseragam yang gagah seperti kamu". Entah sengaja atau tidak Roy mulai membuka isi hatinya.
"Kalau begitu kamu mau apa?", aku mencoba menantangnya.
"Oh.. Aku ingin sekali memelukmu..".
Roy yang sudah nafsu semakin berani menjawab tantanganku.
"Lakukan saja", kataku sambil duduk di tepian ranjang.
Roy bangkit lalu benar-benar memelukku dengan kuatnya. Otot-ototnya yang besar dan berkilat oleh minyak sayur itu terasa sekali melingkari sekujur tubuhku. Rasanya beda sekali, nyaman gitu, seolah-olah aku tenggelam ke dalam body yang besar itu.
Hawa kamarku makin dipenuhi aroma sex. Saat itu tanpa diomonginpun kami sudah tahu sama tahu kalau kami saling menginginkan. Semboyannya NIKE sangat terasa disini, JUST DO IT begitu kira-kira:). Aku mulai menyungsepkan sambil mendusal-dusalkan wajahku ke dada Roy, kemudian pindah ke daerah sekitar ketiak Roy yang bersih sama sekali dari bulu-bulu. Lidahku mulai menari-nari di sana yang membuat Roy menggelinjang kegelian.
"Uh.. Ah kita foto saja dulu ya.. mumpung masih rapi..", kataku agak terengah sambil dengan lembut melepaskan diri dari pelukan Roy yang enak itu.
Roy hanya menganguk saja. Aku segera mempersiapkan kamera dan setelah mendapatkan angle yang pas aku lalu menyetel agar kamera dapat dengan otomatis menjepret sendiri 5 kali. Aku cepat cepat pindah ke samping Roy yang sudah standby. Roy segera merangkul bahuku dan blitz kamera menyala-nyala melakukan tugasnya.
"Sudah selesai ya? Mari lanjut..", kata Roy sambil menarikku ke ranjang lagi.
Rupanya ia sudah tidak sabar lagi hingga tidak melihat lagi hasil jepretan kamera barusan.
"Sini", kata Roy sambil mendudukkanku di pangkuannya.
Saat itu g stringnya kelihatan sudah tidak bisa menahan cuatan kontolnya yang cukup besar itu. Aku duduk di pangkuan Roy sambil tanganku melingkar di leher Roy. Roy membenamkan wajahnya ke dadaku sambil menarik nafas mengendus seragam yang masih kukenakan sambil tangannya mengelus-elus daerah sensitifku yang makin berdenyut tegang. Aku membarenginya dengan ciuman di kepala Roy, lalu aku mulai diam sengaja menunggu apa yang akan dilakukan Roy selanjutnya.
Roy membopongku dan dengan lembut membaringkanku ke ranjang, lalu dengan perlahan penuh penghayatan ia mulai membuka seragamku satu persatu dimulai dari sepatu, berikutnya seragam luarku. Ia selalu mencium-cium seragam yang ada ditangannya setiap selesai melepaskannya dari tubuhku. Ia kelihatan begitu menikmatinya hingga pernik seragam yang terakhir:) Hingga kemudian aku hanya mengenakan CD saja. Roy kemudian naik ke ranjang menindihku di bawah tubuhnya yang gede itu. Tangannya memelukku dengan erat sambil menari-nari di punggungku. Aku mengimbanginya dengan menciumi wajahnya yang halus itu sambil tanganku aktif menjelajahi lekuk-lekuk otot di tubuhnya. Untuk beberapa lama kami bergulingan saling libat plus raba plus cium hingga keadaan makin memanas saja. Kemudian saat posisi Roy ada di bawah aku mulai melepaskan diri dari pelukannya yang kuat itu dan mulai menciumi dadanya yang besar itu.
Aku semakin senang dengan memainkan putingnya dengan ciuman dan jilatan lidahku yang sudah ahli lalu kusedot pinggiran putingnya hingga meninggalkan bekas merah (cupang). Dadanya yang besar bidang juga kucupangi beberapa kali hingga meninggalkan bekas-bekas merah yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu. Roy sangat menikmatinya dan ia menegang-negangkan otot dadanya hingga ototnya yang gede itu bergerak -gerak di depan mataku yang membuatku jadi gemas. Saking gemasnya lalu kugigit-gigit kecil dadanya yang masih bergerak itu tidak ketinggalan putingnya juga.
Roy makin mendesah menikmati gigitanku. Ciuman, sedotan plus gigitanku sampai ke daerah perut Roy yang punya deretan otot yang menonjol dan terus merambah turun hingga sampai ke daerah ternikmatnya. Kulihat g string roy sudah basah di dekat bagian kepala kontolnya. Segera kutanggalkan g stringnya hingga kontol Roy bebas tegak berdenyut-denyut menantang nafsuku yang kian membara. Kontol Roy walaupun kalah gemuk dengan punyaku namun ukurannya ternyata lebih panjang dengan warna merah muda yang menggemaskan. Sejenak kukagumi bentuk kontol Roy yang kepalanya sudah licin basah oleh cairan precum yang masih terus keluar. Rupanya Roy memiliki cairan precum yang cukup banyak juga. Aku kontan mendusalkan wajahku ke selangkangan Roy yang gundul tanpa bulu hingga cairan bening precumnya ada yang menempel di wajahku.
"Oh.. enak.. Bob.. ahh..", desahan Roy makin kencang saat aku mulai menjilat lalu mengulum kantong kontol beserta bijinya di dalam mulutku sambil tanganku mengocok-ngocok batangnya.
Setelah selesai mencicipi kantongnya, giliran kepala kontol Roy yang kupermainkan dengan mulutku. Pertama-tama kujilat-jilat kepala kontolnya layaknya orang yang sedang makan loli dan hap.. akhirnya kepala kontol Roy masuk ke dalam mulutku. Kumajukan kepalaku hingga kontol Roy yang panjang masuk lebih dalam kedalam mulutku hingga mencapai kerongkonganku hampir mencapai pangkalnya. Lalu sambil menyedot kuat aku mundurkan kepalaku hingga tersisa bagian kepalanya saja dalam mulutku sambil ujung lidahku memainkan lubang di kepala kontol Roy lalu secara terus menerus kumajumundurkan kepalaku dengan cara yang sama.
"Ahh.. Ohh.. God.. Enak Bob, akh..", Roy mendesah desah sambil tangannya memainkan putingnya sendiri.
Aku terus melakukannya hingga..
"Cukup, Roy.. Aku hampir keluar.. Sekarang giliranku..", kata Roy parau sambil bangkit dari rebahannya.
Rupanya Roy tidak ingin keluar duluan yang membuatku senang karena ini menandakan kalau Roy bukan tipe cowok egois yang hanya mementingkan kenikmatan sendiri. Sekarang giliran Roy yang menggarapku. Tanpa basa-basi lagi Roy segera menanggalkan CDku yang masih menempel. Seperti halnya Roy selangkanganku juga bersih dari bulu. Kulihat ada sinar kekaguman di mata Roy saat melihat kontolku.
"Beautiful..", desis Roy tidak kentara.
Sama seperti yang kulakukan, Roy mulai melakukan aksi serupa terhadap kontolku. Aku meram-melek merasakan kehangatan mulut Roy. Sedotannya semakin membuatku melayang-layang hingga tanpa sadar aku mendesah-desah dengan gencarnya sambil tanganku mencengkeram pundak Roy yang keras berotot.
Setelah Roy beraksi sekian lama, aku mulai merasakan sedikit sensasi yang menandakan kalau aku akan nembak tidak lama lagi. Aku menyetop aksi Roy yang makin buas menyedot kontolku, lalu kami pindah ke posisi 69. Kami mulai saling menyedot kontol lawan sambil bergulingan di ranjangku yang luas. Sensasi nikmat di selangkanganku terus dan terus menguat hingga pelukanku di pinggang Roy juga makin mengencang. Roy juga berkeadaan sama denganku. Tubuhku mengejang dan crott.. crott.. crott.. akhirnya tak kuasa menahan lebih lama lagi aku nembak duluan di dalam mulut Roy tanpa sempat permisi lagi karena mulutku penuh oleh kontol Roy. Kurasakan mulut Roy yang makin menyedot kontolku dengan lahap sekali.
Crott.. Croot.., akhirnya Roy nembak juga beberapa detik setelahku. Maninya sangat kental dan banyak sekali. Aku bagai orang kehausan terus menelannya dan tidak membiarkannya terbuang setetespun juga. Akhirnya aku berbaring di sebelah Roy dengan senyum puas sambil menenangkan nafasku yang memburu.. Roy juga menatapku dengan pandangan puas dan ia meraihku untuk berbaring di dadanya yang lebar luas itu sambil mendekapku. Itu baru pertama kalinya aku berbaring di atas dada lawan mainku karena biasanya aku tidak suka bermanja-manja, lagipula dada mereka tidak seluas punya Roy. Rasanya cukup nyaman juga. Cukup lama juga kami dalam keadaan seperti itu sambil pikiranku menerawang kemana-mana.
Aku mulai horny lagi hingga tanganku yang satu mulai mengelus dada Roy sambil tangan lainnya memilin-milin putingnya. Rupanya puting Roy sangat sensitif hingga ia juga mulai terbakar. Deburan di dadanya makin kencang dan kelihatan kalau kontolnya juga mulai tegak berdenyut-denyut. Punyaku sendiri saat itu sudah tegang penuh siap kapan saja untuk segera digunakan. Aku segera duduk di atas perut Roy sementara Roy masih berbaring. Aku mendekatkan wajahku ke wajah Roy dan kukecup bibirnya dengan nafsu sambil tanganku terus memainkan putingnya. Masih duduk di atas perut Roy, aku mulai menggeser agak ke bawah.
Sambil mengangkat pantatku aku mulai mengarahkan kontol Roy masuk ke anusku. Roy hanya memandangku dengan pasrah. Dan kurasakan kontol Roy secara perlahan mulai tenggelam ke dalam lobang pantatku hingga ke pangkalnya. Perutku agak mulas karena mungkin ukuran kontol Roy yang panjang itu telah mencapai usus besarku. Saat itu posisiku jongkok/duduk di selangkangan Roy. Setelah kurasa cukup aku mulai menaikkan pantatku sambil menegangkan otot dubur. Aku terus menaik turunkan pantatku dengan cara sama hingga kontol Roy keluar masuk dari lobangku dengan lancarnya.
"Ohh.. ah.. aah..", Roy mendesah-desah menikmati aksiku.
Aku sendiri makin gencar menaik turunkan pantatku seiring dengan sensasi nikmat yang kurasakan saat kontol Roy bergesekan dengan dinding anusku.
"Akh.. teruskan dong Bob.. Please..", Roy agak merengek saat aku menghentikan aksiku dan mengeluarkan kontol Roy dari lobangku.
Aku tidak ingin Roy keluar duluan karena aku juga ingin menikmati lobang anusnya yang saat oral tadi sekilas kulihat masih perawan. Kalau dibiarkan keluar duluan maka Roy pasti ogah kalau aku ingin menikmati lobang pantatnya.
"Nanti pasti kulanjutkan sayang.. tapi sekarang kamu nungging ya Roy..", instruksiku.
Roy sepertinya mengerti mauku dan sambil menungging ia berkata lagi, "Pelan-pelan ya Bob.., soalnya aku belum pernah digituin..".
Mendengar itu hatiku sangat girang karena tepat seperti dugaanku kalau pantat Roy ternyata masih perawan yang tentunya lebih nikmat dientot ;).
Pertama-tama kumasukkan jari tengahku ke anus Roy. Mulanya Roy meringis kesakitan sambil menegangkan otot duburnya.
"Kalau aku masuk jangan tegangkan otot duburmu ya sayang.. Biar nggak terlalu sakit..", aku memberi petunjuk pada Roy.
Tampaknya Roy cukup patuh dan tidak mengencangkan otot duburnya lagi saat aku mulai menggerakkan jari tengahku keluar masuk dari anus Roy. Roy agak meringis tapi mulai bisa menikmati permainan jariku di lobangnya. Melihat Roy sudah agak tenang aku segela meludahi kontolku agar licin dan mulai mengarahkannya ke lobang Roy. Kepala kontolku secara perlahan mulai masuk ke lobang Roy yang sempit. Roy mulai meringis dan menegangkan otot duburnya lagi saat merasakan kepala kontolku memasuki lobangnya. Aku segera menghentikan aksiku dan dari belakang tanganku mulai memainkan dada dan puting Roy agar ia lebih tenang.
"Akh.. sakit..", Roy mulai mengaduh saat aku memulai kembali aksiku yang tadi.
"Tenang sayang.. Nanti pasti nikmat deh..", kataku sambil menyetop lagi aksiku memasukkan kontolku.
Dengan lembut aku terus start stop hingga memakan waktu lebih kurang setengah jam baru kontolku masuk hingga ke pangkalnya. Selama itu aku tetap memainkan puting sensitif Roy agar ia 'high'. Aku membiarkan sebentar kontolku terbenam di lobang Roy agar ia lebih terbiasa lagi.
"Mulai saja Bob..", ucap Roy.
Rupanya ia cukup penasaran juga. Mendengar itu tanpa ayal aku segera menarik kontolku lalu memompanya masuk lagi. Awalnya Roy mengaduh-aduh kesakitan sambil mengencang-ngencangkan otot duburnya yang membuat kontolku serasa dipijat-pijat kuat dan dilingkari oleh cincin hangat. Memang itulah rasanya lobang yang masih perawan, sempit dan nikmat.. ;).
Tidak lama kemudian Roy mulai menikmati entotanku dan suara erangan nikmatpun mulai keluar dari mulut Roy.
"Auh.. enak.. oh.. God.. enak.. sshh.. truss.. ahh..", erang Roy sambil tangannya dengan kuat mencengkeram seprei ranjangku yang sudah awut-awutan.
Plak.. pak.. pakk.. pek.. bunyi selangkanganku yang beradu dengan pantat Roy dikombinasikan dengan erangan Roy merupakan simphoni yang sangat merdu di telingaku hingga goyanganku makin cepat, kuat dan bersemangat. Nafasku terus memburu dan keringat sudah membanjiri tubuhku, hingga beberapa saat kemudian..
"Oohh.. Aku mau keluar Roy..", Hampir berteriak aku makin menghentak menusuk pantat Roy dengan gencarnya.
Untung kamarku sudah dipasangi peredam yang cukup hingga tidak perlu khawatir ada yang mendengarnya.
"Truss.. Bob.. truss.. ahh..". Roy masih meneruskan erangan nikmatnya.
"Ooohh.. crott.. crott.. croott", aku melolong kepuasan disertai dengan tembakan maniku di dalam anus Roy.
Aku keluar banyak sekali.. Oooh.. I feel so high.. ;).
Kukecup punggung Roy lalu giliranku yang menungging. Roy segera memasukkan kontolnya yang sudah terlalu 'excited' ke dalam anusku lagi dan segera mulai memompa dengan cepat sekali. Giliranku yang mengerang kenikmatan merasakan kehebatan kontol Roy.
"Auh.. teruss.. teruss Roy..", erangku.
Lama juga Roy mengentoti pantatku dan selama itu aku merasakan beberapa kali tembakan kecil yang menghangat di dalam anusku. Aku pernah membaca kalau ada orang yang dapat mengendalikan hingga klimaksnya belum dicapai walau telah sempat menembak beberapa kali. Mungkin Roy telah menguasai teknik itu pikirku. Aku makin kagum saja sama Roy.
"Hosh.. hoshh.. ahh..", suara nafas Roy yang makin memberat disertai desahan nikmatnya makin jelas terdengar di telingaku dan akhirnya..
"Aaakh.. crott.. crett.. crrott..", Roy berteriak melenguh panjang puas dan kali ini mani yang ditembaknya sangat banyak sekali dan terasa mengalir hangat di dalam anusku menciptakan sensasi nikmat yang kusuka.
Rupanya ia sudah mencapai titik puncak kepuasannya. Kami sama-sama terhempas di ranjang dengan kontol Roy masih menancap dalam pantatku. Posisi kami saat itu aku berbaring menyamping membelakangi Roy sedang Roy dengan mesra memelukku dari belakang.
"Terima kasih Bob.. Aku puas sekali..", bisik Roy di telingaku.
"Aku juga Roy, permainanmu hebat sekali..", jawabku dengan suara menggumam.
Sesat kemudian kami sama-sama tertidur pulas dengan senyum kepuasan menghiasi wajah masing-masing.
*****
Keesokan paginya barulah kami punya kesempatan melihat hasil jepretan kamera yang telah membuka peluang terjadinya gay sex semalam. Kami sama-sama tertawa melihat ekspresi kami di dalam foto itu yang sangat lucu karena jelas kelihatan muka kami yang penuh nafsu sex dengan tonjolan di selangkangan kami masing-masing. Akhirnya Roy mengambil 2 foto untuknya sedangkan sisanya kusimpan baik-baik di dalam lemari yang nantinya akan kusatukan dengan 'koleksi' fotoku yang lain.
Roy pamit pulang dan setelah itu kami sempat beberapa kali bertemu dan mengulangi gay sex di rumahku. Namun sayang karena liburan Roy sudah usai dan ia harus kembali ke Jakarta. Aku menghadiahinya beberapa potong koleksi CDku yang diterima dengan senang hati oleh Roy. Roy juga meninggalkan alamat dan nomor teleponnya di Jakarta dan kami saling berjanji untuk melakukannya lagi jika ada kesempatan lainnya. Aku sama sekali tidak mengantar saat Roy berangkat ke Bandara karena ia sudah ditemani oleh keluarganya hingga mungkin malah bisa dicurigai jika aku melakukannya. Aku hanya mengirimkan SMS selamat jalan kepadanya. Dan.. hari-hariku pun kembali seperti biasanya, tentunya sambil menunggu petualangan yang lebih asyik dengan penggemar gay sex lainnya:).
Sekian ceritaku yang memang agak panjang ini. Harap anda tidak bosan atau keberatan karenanya. Dan seperti biasa kirim email tanggapan anda beserta pic ke: arm_buddy@yahoo.com .
Sekali lagi untuk anda yang di Riau khususnya Pekanbaru, aku telah membuka group di yahoo. Silakan join di: http://groups.yahoo.com/group/gay_pekanbaru, akan ada kejutan yang menanti anda ;).
Just keep your browser on this great site, see you later and again, please vote.. vote.. vote.. vote..:)
Tamat

Ex Army vs Body Builder - 1



Oke, pada kesempatan ini aku akan menceritakan pengalamanku dalam sosokku yang sekarang ini. Cerita-cerita sebelumnya merupakan kejadian saat aku SMA atau saat aku masih tentara. Sedangkan aku yang sekarang ini sudah bergelut di bidang wiraswasta dengan berbisnis kecil-kecilan dan telah memiliki rumah dan kendaraan sendiri walaupun tidak terlalu mewah. Aku yang sekarang sudah mulai bisa menerima gay-nya aku sehingga sudah tidak pantang ngesex lagi dengan sesama cowok yang kusenangi tentunya selama cowoknya mau, tidak banyak menuntut dan tidak terikat komitmen atau kusebut istilah temanan plus:). Gimana ceritanya? Begini..
*****
Kejadian ini terjadi kira-kira setahun yang lalu, tepatnya di tempat fitness yang kukunjungi secara rutin untuk memelihara kondisi tubuhku. O ya, sebagai informasi buat anda yang ingin gay sex, jika anda ingin mencari pasangan maka tempat fitness atau gym merupakan tempat dengan kans yang tinggi. Kenapa demikian? Soalnya gym merupakan tempat berkumpulnya orang-orang (cowok tentunya) yang suka/menginginkan tubuh seksi proporsional sehingga kemungkinannya besar sekali diantara mereka yang gay dan dapat diajak berhubungan jika dengan pendekatan yang tepat. So.. rajin-rajinlah fitness karena selain membuatmu seksi juga akan dapat pasangan kencan ;). Aku berani bilang ini karena kebanyakan 'teman plus' ku didapat di sana.
OK, kembali ke cerita ini. Saat itu di gym aku sudah menukar pakaianku dengan kaos tanpa lengan dan celana boxer. Saat sedang melakukan pemanasan aku melihat ada seorang cowok yang badannya gede yang sedang asyik mengangkat barbel. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Otot-otot lengan dan dadanya menggelembung besar setiap ia mengangkat barbelnya. Kalau ditaksir-taksir boleh dibilang hanya selisih sedikit dengan Ade Rai yang sering kulihat di TV itu. Kulitnya putih bersih dengan rambut cepak. Wajahnya ganteng dengan alis yang tebal.
"Wah, ada orang baru nih..", batinku saat itu karena aku sama sekali belum pernah melihatnya di gym itu.
Saat itu aku cuma sedikit berdebar saja dan kontolku juga hanya berdenyut sebentar lalu normal lagi soalnya aku dapat mengendalikannya. Aku dapat melakukannya karena dia sama sekali bukan tipe yang bisa membuatku 'liar' dan ereksi habis. Tipe yang bisa membuatku demikian adalah cowok dengan tipe body tidak berselisih jauh denganku yaitu yang memiliki otot bak binaragawan namun gedenya harus seperti perenang atau yang kusebut sebagai body tipe kombinasi perenang-binaragawan.
Aku mulai cuek lagi dan mengambil barbel yang ada lalu berbaring di bangku dan mulai melakukan 'bench press'. Setelah melakukannya sebanyak 2 set aku melakukan sit-up dan 'crunch'. Latihan yang kusebutkan tadi merupakan favoritku karena membentuk otot yang juga menjadi favoritku:).
Setelah itu berturut-turut aku melatih otot pahaku lalu otot punggung dengan menggunakan peralatan yang ada, lalu push up dan banyak lagi gerakan lainnya. Suatu ketika secara tidak sengaja aku melihat kalau cowok yang kuceritakan tadi sedang memperhatikanku. Saat itu dia sedang berada di atas treadmill. Dia kelihatan agak salah tingkah dan cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dariku. Mungkin takut ketahuan, ia lalu pindah agak jauh mengambil dumbbell. Dari feelingku yang sudah tajam:) aku merasa kalau dia pasti gay.
"Wah.. Kayaknya dia gay nih..", aku tersenyum di dalam hati lalu pura-pura tidak tahu, cuek dan terus melanjutkan latihanku.
Tiba-tiba saja terlintas dibenakku untuk menjadikannya sebagai 'teman plus' ku.
"Kayaknya asyik nih.. mencoba body segede itu", batinku saat itu.
Memang aku belum pernah melakukan gay sex dengan cowok berbody sebesar itu, karena biasanya aku selalu mencari tipe yang minimal mendekati syarat-syarat ideal yang kusebutkan tadi.
Singkat cerita, mulailah aku melancarkan jurus-jurus 'menebar pesona'. Jurus pertama aku mulai menanggalkan kaosku sambil pura-pura mengelap keringat yang membasahi wajahku sekedar memamerkan otot-otot tubuhku. Saat itu dari ekor mataku aku tahu kalau dia diam-diam selalu curi pandang. Ibaratnya lagu Naif, dianya selalu curi ke kiri.. curi ke kanan..:) heh.. heeh.. heh.. Sorry, just joking. Hope u don't mind ;). Jurus kedua aku tidak memakai kembali kaosku dan mulai latihan angkat beban lagi. Dari ekor mataku kulihat kalau dia mulai gelisah dan.. ia lalu pindah lagi ke treadmill. Mungkin agar lebih leluasa mencuri pandang ke arahku.
Sialnya, rupanya pertunjukanku tidak hanya disaksikan oleh cowok gede yang kutaksir tadi. Ada cowok lain yang memandangku secara terang-terangan dengan mata buas bernafsu. Bodynya yang agak kurus karena sepertinya ia baru saja menjadi anggota di gym itu. Aku baru beberapa kali melihatnya di sana dan juga bukan pertama kalinya dia melihatku dengan penuh nafsu. Aku jadi geram dan mendelik memperlihatkan ketidaksenanganku. Rupanya ia agak takut juga dan buru-buru menjauh dari sana.
Pembaca sekalian, sorry ya, aku sama sekali bukan memandang hina dirinya atau merasa diriku lebih perfect dibanding cowok krempeng tadi. Ketidaksenanganku lebih disebabkan oleh pandangan matanya yang menjilat-jilat yang membuatku seolah-olah dilecehkan. Ceritanya akan lain kalau si krempeng tadi melihatku dengan cara lebih 'sopan'. Aku pribadi selalu berprinsip untuk tidak melakukan sesuatu yang berbau 'nafsu sex' pada orang lain yang tidak mau/tidak menginginkannya. Kalau aku melakukannya berarti aku telah melakukan pelecehan sex and that's bad..
Kembali ke cerita, untung aksiku mendelik marah tidak diketahui oleh cowok gede yang menjadi targetku karena posisi dia dan cowok krempeng tadi berseberangan. Tibalah saatnya aku melancarkan jurus mautku sambil berharap..:) Saat itu aku masih rebah di bangku sambil melakukan 'bench press'. Tiba-tiba saja aku pura-pura kesulitan mengangkat barbell yang ada di atas dadaku. Melihat itu cowok gede tadi cepat-cepat menghampiri dan membantuku mengangkat barbell dan meletakkannya di penyangganya.
"Kena.. deh", batinku saat itu.
"Thanks ya.. Untung kamu membantuku, soalnya tadi tiba-tiba saja merasa lemas gitu", aku berkata sambil menebar senyum padanya.
"Never mind. Latihan ini memang membutuhkan sparing partner disampingmu hingga dapat membantumu sewaktu-waktu. Kenapa tidak mencari satu saja?", kata cowok gede itu sopan.
"Wah, ide yang bagus juga. Namaku Bobby", aku berkata sambil mengulurkan tanganku.
"Aku Roy", Ia menjabat tanganku dengan genggaman yang mantap.
Dari dekat baru kelihatan kalau cowok ini ternyata OK juga. Wajahnya bersih kelimis dan cukup simpatik. Otot-otot tubuhnya yang gede menyembul disana-sini dan mengkilat karena basah oleh keringatnya. Jantungku mulai berdebur lagi yang segera kukendalikan.
Dari obrolanku selanjutnya dengan Roy kuketahui kalau ternyata Roy asalnya tinggal di Jakarta. Dia adalah famili dari pemilik gym ini. Kebetulan saja dia sedang liburan ke Pekanbaru. Roy masih cukup muda. Umurnya saat itu cuma 24 tahun dan masih mahasiswa. Dia adalah salah seorang atlet binaraga dan pernah mengikuti beberapa kejuaraan binaraga di Jakarta dan walau bukan juara pertama ia pernah menjadi juara favorit.
Roy tampak 'excited' saat mengetahui kalau aku adalah bekas tentara. Roy sangat fleksibel orangnya khas orang kota besar hingga obrolan kami terasa makin akrab yang diselingi canda tawa. Yang kusuka dari Roy adalah suara tawanya yang menurutku sangat seksi. Saat itu sikapku masih biasa saja, tidak menunjukkan kalau aku mulai nafsu dengannya. Akhirnya aku mengakhiri obrolan kami dan sebelum pulang aku meninggalkan alamat dan nomor HP-ku padanya.
"Malam ini boleh ke rumahmu nih..", kata Roy dengan penuh senyum.
"Boleh-boleh saja. Malam ini aku juga tidak kemana-mana kok. Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kejuaraan binaraga yang kamu ikuti", kataku dan diam-diam hatiku girang sekali.
"Wah.. kebetulan nih, aku membawa foto-foto saat kejuaraan. Nanti sekalian kubawakan", kata Roy dengan antusias.
"OK, that's a deal. See you later".
Aku lalu beranjak keluar dari gym untuk segera pulang dan 'mempersiapkan' malam itu ;).
*******
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumahku.
"Ting tong..". Bel rumahku berbunyi tak lama kemudian saat jam menunjukkan lebih kurang pukul 8.30 malam.
Dari lubang pintu kelihatan rupanya Roy yang datang.
"Silakan masuk, susah ya mencari rumahku?", aku membuka pintu sambil mempersilahkannya masuk ke dalam.
"Sulit juga sih, soalnya aku kan cukup asing dengan Pekanbaru. Untung aku bertanya di sepanjang jalan hingga tidak kesasar", Roy berkata sambil masuk. Tercium wangi parfumnya yang maskulin saat ia melintas di depanku.
Wah, tidak mengganggu nih", kata Roy lagi sambil matanya menyapu seisi rumahku.
"Ah.. Nggak, soalnya aku tinggal sendirian. Jadi tenang aja", kataku lagi.
Malam itu penampilan Roy menurutku cukup seksi dengan memakai jeans ketat yang dipadukan dengan kaos playboy ketat yang lagi ngetrend saat itu. Bodynya yang penuh sesak dengan otot yang gede-gede itu tercetak jelas di kaosnya.
"Nah silakan kalau mau duduk atau apa aja. Anggap aja seperti rumah sendiri".
"Nih.. foto-foto yang kujanjikan", kata Roy menghempaskan diri ke sofa sambil menyerahkan sebuah album foto.
"Minuman dan makanan ringannya ada di kulkas belakang sana. Ambil saja sendiri. Jangan malu-malu ya", kataku sambil menerima album foto itu.
"Oke deh..". Roy segera berlalu ke belakang.
Saat Roy kembali aku sedang asyik membolak-balik album fotonya. Makin dilihat ternyata body gede seperti Roy itu ternyata menarik juga.
"Gimana.. Apa pendapatmu tentang diriku jika dibandingkan dengan peserta lain yang ada?", tanya Roy ingin tahu.
"Ehm.. Bagiku kamu kelihatan paling OK kok", aku berkata sejujurnya karena memang itu yang kurasakan.
"Sungguh?", mata Roy kelihatan agak berbinar.
"Sungguh. Kalau kejuaraannya diadakan di Pekanbaru aku pasti akan hadir menjadi pendukungmu", kataku sambil menatapnya.
"Thanks ya..". Roy kelihatannya sangat senang sekali mendengar ucapanku.
"O ya.. Bolehkan aku melihat foto-fotomu saat masih tentara?", tanya Roy penuh harap.
"Boleh. Ayo ikut aku ke kamar", jawabku singkat sambil beranjak menuju kamarku.
"Wah kamarmu luas ya? Lebih luas dari ruang tamu", komentar Roy sambil duduk di tepian ranjangku yang berkasur empuk.
"Nih", kataku sambil menyerahkan sebuah album foto besar.
Roy segera membolak-baliknya.
"Wah, gagah sekali..", Roy tidak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat foto-fotoku saat tentara dulu.
"Suka ya?", aku mulai memberikan pertanyaan yang menjebak.
"Ya.., Oh.. Eh.. maksudku aku sangat suka dengan penampilanmu", Roy agak salah tingkah ketika menjawab pertanyaanku.
"Sungguh? Gimana kalau sekarang aku memakai seragam tentara, kebetulan aku masih punya", aku semakin memancingnya.
"Wah.. Sungguh nih, tentu aku sangat senang sekali. Kalau boleh aku ingin foto bersama, soalnya aku sejak lama ingin sekali foto bareng sama tentara", Roy tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
Di sudut ruanganku memang ada kamera polaroid yang terpasang di atas tripod. Kamera itu memang biasa kugunakan untuk menjepret foto teman plusku dan saat itu sebenarnya sudah dalam keadaan standby karena sudah kupersiapkan sebelumnya dengan maksud untuk menjepret gambar Roy tentunya.
"Tapi aku bukan tentara lagi lho..", kataku lagi.
"Nggak apa-apa tuh, yang penting bisa foto sama yang berseragam". Roy kelihatannya makin 'excited' aja.
"Wah, ini cowok rupanya terobsesi pada tentara berseragam rupanya", batinku saat itu.
"Kamu apa juga bawa seragam kamu?", tanyaku kalem.
"Maksudmu?". Roy agak terheran dengan pertanyaanku.
"Aku juga ingin sekali foto bersama binaragawan. Gimana kalau kita siapkan seragam kita masing-masing? Nanti kita foto bersama", aku menjawab sambil membuka lemari pakaianku.
"Oke deh. Seragam binaragawan kan cuma simple aja. G-String doang juga OK. Tapi kamu punya minyak tidak?", tanya Roy.
"Minyak? untuk apa?", tanyaku heran.
"Lho.. katanya kita pakai seragam masing-masing. Minyak adalah salah satu seragam binaragawan lho. Untuk dioleskan ke tubuh hingga otot lebih jelas kelihatan", jelas Roy panjang lebar.
"Yang ada cuma minyak sayur. Di dapur sana. Apa boleh?", ia bertanya.
"Boleh jugalah. Aku ambil segera", kata Roy sambil beranjak keluar menuju ke dapur.
"Wah, bakalan seru nih", batinku girang saat itu.
Bersambung . . . .

Dokter mesum - 4



Puting sang asisten terasa enak sekali di mulutku. Setiap kali lidahku menyapu kepala putingnya yang tegang melenting, kontolku terangsang. Apalagi di sekitar putingnya terdapat bulu-bulu halus, membuatnya semakin seksi saja. Slurp! Slurp! Air liurku melapisi putingnya. Saat putingnya yang basah kutiup-tiup, sang asisten menggeram dengan penuh kenikmatan. Kontolku yang tegang dipegang dengan kasar. Aku mengerang, tentu saja. Sang asisten rupanya senang bermain kasar. Kontolku ditarik-tarik dengan gerakan mencoli yang kasar. Namun rasanya tetap saja nikmat.
"Hhoohh.. Aahh.. Uugghh.."
Mendengar desahan nikmatku, dia malah semakin bersemangat mengerjai kontolku. Tak ayal lagi, precumku mengalir keluar dengan deras. Cairan licin itu melicinkan permukaan kulit kontolku. Sesekali pegangan sang asisten selip.
"Hhoohh.. Kamu begitu menggairahkan.. Aahh.. Mau 'kan aku entot?" tanya sang asisten, napasnya menderu-deru.
Tetesan precum dari kontolnya menggenang di perutku. Kulihat tubuh atletisnya menjauh dariku. Mengambil posisi berdiri, asisten itu kemudian menarik tubuhku sehingga pantatku berada tepat di sisi ranjang. Dengan kasar, kakiku dikangkangkan selebar-lebarnya dan diletakkan di atas pundaknya. Tak terbayangkan betapa nikmatnya meletakkan kaki di atas pundak berotot miliknya itu. Oohh.. otot dadanya berkontraksi seiring dengan setiap gerakan yang dia buat. Astaga, kontolku hampir muncrat. Dan tanpa aba-aba, tiba-tiba asisten itu menghujamkan kontolnya masuk ke dalam pantatku.
"Aarrgghh!!" jeritku, keras-keras.
Rasa sakit menusuk tubuhku sampai ke ubun-ubun kepalaku. Anusku yang masih bengkak kembali dipaksa untuk menerima kontol. Namun berhubung ukuran kontol sang asisten sangat besar, aku menjadi semakin kesakitan.
"Oohh.. Sakit Bang.. Aahh.." rintihku, air mataku mengalir keluar.
"Jangan cengeng.. Aahh.. Kamu 'kan homo yang doyan kontol.. Hhoohh.. Rasakan kontolku.."
Tanpa belas kasihan, sang asisten itu menggenjot pantatku dengan keras. Kepala kontol yang besar itu menghajar isi perutku sambil meninggalkan jejak precum di mana-mana. Sisa semburan sperma sang dokter yang masih berada di dalamku teraduk-aduk. Sebagian mengalir keluar dari bibir anusku.
"Oohh yyeeaahh.. Enak banget.. Aahh.. Pas sekali dengan kontolku.. Hhoohh.."
Lubang anusku dapat dibilang sudah longgar akibat disodomi dokter itu. Namun ketika dimasuki kontol besar milik sang asisten, anusku terasa sempit lagi. Baru kali ini duburku 'disiksa' separah ini. Tanpa kusadari, bercak-bercak darah memerahkan cairan sperma yang lolos keluar dari anusku.
"Oohh.. Fuck you.. Aahh.. Rasakan ini.. Oohh.. Fuck.."
Kontol besar itu dipompanya keluar masuk. Tubuhku terguncang-guncang, mengikuti ritme sodokan kontolnya. Meski terasa sakit, rasa nikmat menyerang tubuhku. Setiap kali prostatku disodok kontol itu, tekanan dalam bola pelirku meningkat. Aku merasa seakan-akan mau ngecret namun dorongan di dalam bola pelirku belum cukup keras untuk mengeluarkan spermaku.
Kepalaku mulai berputar-putar, mabuk dengan kenikmatan itu. Precum mengalir sangat deras dari lubang kontolku. Cairan itu mengalir menuruni batang kontolku dan lalu mencapai perut, berbaur dengan tetesan precum milik asisten itu. Namun karena penuh, cairan precumku mengalir menuruni sisi perutku dan membasahi ranjang. Aku hanya mampu mengerang-ngerang, pasrah.
"Hhoohh.. Fuck me.. Aahh.. Hhoosshh.. Kontol.. Aahh.. Uugghh.." Aku mulai meracau tanpa henti.
Rasa nikmat memenuhi kepalaku. Namun terasa menyiksa karena aku belum bisa ngecret. Aku sengaja menahan diri untuk tidak bermasturbasi agar rasa nikmat yang kurasakan bertambah. Kualihkan perhatianku pada dada sang asisten yang bidang, lebar, dan keras itu. Aahh.. Enak sekali rasanya saat kularikan tanganku di atasnya. Kuremas-remas dada itu yang saat itu sudah mulai berkeringat. Semakin lama, keringat yang mengucur dari badannya semakin banyak. Tetes demi tetes keringat menetes ke atas tubuhku. Badan asisten itu benar-benar besah dengan keringat, terlihat seperti baru saja mandi.
Selama proses ngentot itu, sang dokter hnaya tertawa mesum saja setiap kali mendengar eranganku. Dia terus memberikan semangat pada asistennya.
"Oohh yyeeaahh.. entoti pantatnya, jangan ragu-ragu. Berikan si homo apa yang dia mau.. Hhoohh.. Sodok anusnya dengan kontolmu yang besar itu.. Biar dia tahu rasa.. Yyeeaahh.. Sodomi terus.. Jangan diberi ampun.. Aahh.. Lihat dia, dia mengerang dan memohon kontolmu.. Hhoosshh.. Berikan kontolmu.. Aahh.. Hajar saja.. Oohh.. Fuck.."
Tampak sekali dokter itu terangsang lagi. Kontolnya kembali bangkit, berkilauan dengan noda precum. Sambil mencoli kontolnya, dia mulai mendekati asistennya. Dari belakang, dokter itu mengusap-ngusap dada bidang milik bawahannya itu. Sesekali tangannya bertabrakan dengan tanganku. Namun asisten itu sama sekali tidak protes saat digerayangi oleh sang dokter. Kuduga, mereka adalah pasangan homo. Sesaat kubayangkan apa yang akan mereka lakukan tiap kali tutup praktek. Mereka pasti sering berhomoseks bersama.
Seakan dapat membaca pikiranku, dokter itu berkata..
"Kami memang sering ngentot bersama. Meskipun kami berdua bukan homo, tapi kami suka ngentot bareng-bareng. Terkadang hanya ada kami berdua. Dan terkadang lagi, seperti sekarang ini, ngentot rame-rame dengan pasien priaku. Lebih mudah memperkosa pasien pria dewasa karena mereka takkan berani melapor. Siapa sih yang mau mengaku di depan polisi kalau dia baru saja disodomi oleh sesama pria? Mau ditaruh ke mana mukanya? Harga dirinya sebagai seorang pria akan runtuh."
Dokter itu kembali menggerayangi tubuh asistennya, merasakan setiap lekuk otot yang menonjol.
"Tapi kalau memperkosa kaum homo seperti kamu paling gampang.. Hhoohh.. Karena kalian memang menginginkannya.. Aahh.."
Tanpa malu, mereka saling berciuman. Kulihat bibir mereka menyatu dan lidah mereka saling menyentuh. Suara ciuman mereka bergema di dalam ruangan praktek bercampur dengan erangan nikmatku.
"Aarrgghh!!" Asisten itu tiba-tiba melolong kesakitan, padahal dia belum ngecret. Namun ketika kucermati, rupanya dia melolong kesakitan karena pantatnya sedang disodomi oleh dokter itu.
"Hhoohh.. entoti pantatku, dok.. Aahh.. Saya butuh kontol dokter juga.."
Astaga, mereka benar-benar pasangan homo. Meskipun mereka masih bersikeras bahwa mereka bukan homo, bagiku mereka adalah homo, sama sepertiku. Dari posisiku, aku tak dapat melihat dokter itu dengan jelas, sebab tubuhnya terhalang tubuh sang asisten. Namun di dalam otakku yang mesum, kubayangkan rupa kami semua. Aku berbaring di atas meja dan sedang dingentot asisten itu. Lalu asisten itu dingentot oleh sang dokter sambil berdiri. Aahh.. Kontolku makin ngaceng saja membayangkannya.
"Aahh.. Fuck me.. Oohh.. Hajar anusku, dok.. Aahh.. Banjiri perutku dnegan spermamu, dok.. Hhoosshh.."
"Aahh.." desah sang dokter, berpegangan kuat pada pinggul asistennya.
"Kusodomi pantatmu.. Oohh yyeeaahh.. Rasakan kontolku.. Oohh.. Dokter ngentotin asistennya.. Hhoosshh.."
Kontolnya yang perkasa bergerak keluar-masuk, menjebol lubang anus asistennya yang sudah tidak perjaka lagi. Di wajah sang asisten tergambar jelas rasa nikmat yang tak terkatakan. Matanya merem-melek, merasa setiap hajaran kontol sang dokter.
"Hhoohh.. Fuck you.. Pantatmu tetap rapat dan sempit.. Hhoohh.. Enaknya ngentoti kamu.. Hhoohh.." erang dokter itu, semakin keras menyodomi asistennya.
Kontol asisten itu yang sedang bersarang di dalam tubuhku berdenyut-denyut hebat. Kubayangkan, dia pasti sedang blingsatan merasakan nikmat di kedua sisi. Di pantatnya, kontol dokter itu menghajar prostatnya. Sedangkan kontolnya sendiri sedang menyodomi pantatku. Bagaimana tidak nikmat?
"Aahh.. Sodomi aku, dok.. Hhoohh.. Jadikan aku mainan seksmu.. Aahh.. Kontol dokter besar dan hangat.. Aahh.. Fuck me.. Hhosshh.."
"Aarrgghh.. Oohh.." eranganku bertambah besar tatkala tekanan dalam bola pelirku sudah tak tertahankan lagi.
Aku akan muncrat tanpa bermasturbasi! Sang asisten rupanya sadar, maka dia sengaja menggenggam batang kontolku lagi dan mencolinya sekuat-kuatnya. Tanpa bisa dicegah, aku pun ngecret. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Aku menjerit sekuat-kuatnya sebab orgasmeku terasa sangat luar biasa. Tubuhku mengejang-ngejang seperti orang kesurupan, rasa nikmat menghajar badanku tanpa ampun.
"Oohh!! Aarrgghh!! Oohh!!" Aku berpegangan pada dada asisten itu sambil merintih-rintih kenikmatan. Orgasmeku rupanya juga memicu orgasme sang asisten sebab anusku ikut berdenyut-denyut, memerah spermanya.
"Hhoohh!!" teriaknya, sekujur tubuhnya bergetar. Dan muncratlah spermanya di dalam anusku. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Asisten itu sangat blingsatan sambil menyuarakan orgasmenya.
"Aahh!! Oohh!! Uugghh!!"
Wajahnya tampak menyeringai kesakitan. Tapi aku tahu pasti bahwa bukan rasa sakit yang sedang dia ekspresikan, melainkan rasa nikmat. Ccrroott!! Ccrroott!! Kontolnya mengejang-ngejang selama hampir semenit penuh. Pejuh yang dihasilkannya pun terasa sangat banyak sampai-sampai aku merasa perutku penuh. Hampir di saat yang bersamaan, dokter itu kembali berejakulasi.
"Aarrgghh!! Shit! Aku ngecret.. Aarrgghh!!" erangnya.
Dan.. Ccrroott!! Ccrreett!! Ccrroott!! Bagai ular naga ganas, kontol dokter itu menyemburkan spermanya ke mana-mana, membanjiri setiap ruang kosong di dalam dubur asisten itu.
"Aahh!! Uugghh!! Oohh!!"
Tubuh asisten itu terguncang-guncang sebab dokter itu berpegangan pada tubuhnya untuk menahan gejolak orgasme. Ah, sungguh pemandangan yang merangsang kontol melihat dua pria seksi berorgasme. Ketika semuanya usai, kami tetap berada di posisi masing-masing, saling memeluk. Jantung kami masih berdegup kencang dan keringat menyiram badan kami.
Sepuluh menit kemudian, kami semua sudah kembali berpakaian rapi. Tak ada tanda-tanda bahwa kami baru saja berhomoseks meskipun ruang praktek itu masih berbau pejuh. Aku terpaksa berjalan agak mengangkang karena anusku kini semakin bengkak dan perih. Dokter itu memberikan padaku salep untuk meredakan perih di anusku dengan gratis. Sebelum berpisah, dia berkata..
"Datang lagi, ya. Aku dan asistenku siap mengentot kami kapan saja."
Tak perlu diminta pun, aku sudah pasti akan kembali lagi menemui dokter itu. Aahh.

Tamat

Dokter mesum - 3



Ternyata sosok itu adalah sang asisten. Jantungku yang tadi berdegup kencang kini normal kembali. Namun, gara-gara peristiwa tadi, orgasmeku terhambat sehingga aku harus mulai dari nol lagi. Asisten itu hanya tersenyum mesum melihatku disodomi dokter itu. Tonjolan besar di balik celana panjangnya seakan menantangku. Begitu pintu ditutup, dia berjalan menghampiri kami.

"Ruang praktek sudah kukunci. Saya juga sudah memasang tanda 'TUTUP' di depan pintu. Takkan ada yang mengganggu kita, dok," katanya. Dokter itu hanya menggeramkan isyarat 'ya', tak mau aktifitas sodominya terganggu.
"Halo manis," sapa sang asisten padaku. Daguku dibelai seperti membelai dagu anjing.
"Suka dientot ya? Nanti saya ngentot kamu juga, ya?"

Di hadapanku, dia mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Kemeja putih dan celana panjangnya jatuh ke atas lantai, berikut celana dalamnya. Aku terpana melihat ukuran kontolnya. Besar sekali. Ukuran kepala kontolnya sungguh besar, bahkan lebih besar daripada semua kontol yang pernah kulihat. Bentuknya agak pipih dan panjang sehingga tampak seperti kepala ular gemuk. Seperti kebanyakan pria pribumi lainnya, asisten itu memiliki kontol yang bersunat. Untuk ukuran panjang batang kontol, saya mengira-ngira mungkin mencapai 18 cm. Jika digabung dengan panjang kepala kontolnya, panjang total kontol sang asisten bisa mencapai sekitar 22 cm. Sungguh sebuah kontol yang unik. Ketika asisten itu mendekatkan kontolnya padaku, aroma pejuh kering yang sangat menusuk hinggap di dalam hidungku. Noda basah precum tampak menyelimuti kepala penisnya. Rupanya dari tadi dia sudah terangsang.

"Buka donk, say. Hisap kontolku, ya," bujuknya seraya membelai-belai punggungku.
"Tau nggak? Saat kamu duduk di ruang tunggu tadi, saya lagi mencoli kontolku, loh. Kamu pasti nggak sadar melihat lenganku yang bergerak-gerak di bawah meja," tambahnya sambil tertawa mesum.

Sang asisten memberi isyarat pada dokter itu untuk berganti posisi. Setelah mendapat anggukan, dokter itu menarik tubuhku ke belakang menjauhi ranjang sementara kontolnya masih tertanam di dalam anusku. Asisten itu kemudian buru-buru duduk di atas ranjang dengan kaki terkangkang lebar. Kontolnya yang menegang berdiri tanpa malu. Tubuhku lalu diarahkan maju ke depan sehingga kontol sang asisten berada tepat di depan hidungku. Aroma kejantanan menusuk-nusuk hidungku, membuatku semakin bernafsu.

Tanpa diminta dua kali, aku membuka mulutku dengan patuh dan menelan kontol itu. Aamm.. Rasa asin langsung menyambutku. Asisten itu langsung bermain kasar. Dia menggunakan mulutku seperti pantat dan langsung menyodomiku. Kontolnya bergerak-gerak dengan kecepatan tinggi, menyodok-nyodok tenggorokanku. Berkali-kali aku tersedak. Air mataku mengalir keluar secara refleks. Seringkali aku kehabisan napas.

Kontol sebesar itu hampir merombak ulang anatomi dalam mulutku. Berhubung mulutku sempit dan sementara kontolnya besar, pergesekan dengan gigiku tak terhindarkan lagi. Tiap kali gigiku mengenai kepala kontolnya, asisten itu akan melolong seperti serigala. Namun hal itu justru malah membuatnya semakin bernafsu. Gawat sekali, bagaimana aku dapat menangani pria bernafsu besar seperti dia? Air liurku mengalir keluar dari sisi mulutku, bercampur dengan precum dari kontolnya.

"Hhoohh.. Enak banget.. Aahh.. Hampir ngecret.. Aahh.. Bersiaplah homo.. Hhoohh.. Telan pejuhku.. Aahh.." racau asisten itu, matanya terpejam.

Sementara itu, sang dokter juga hampir mencapai klimaks.

"Hhoohh.. Aahh.." Kontolnya benar-benar telah merombak ulang isi duburku. Semua organ dalamku terkena hajaran kontolnya yang dahsyat.
"Aarrgghh.. Oohh.." erangnya.
"Aku kkeluuaarr.. Aarrgghh!!" ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!" Semburan pejuh yang panas membanjiri duburku. Rasanya panas sekali.
"Aarrgghh!! Hhoohh!! Oohh!! Hhoosshh!!" erangnya sambil tetap mengentot pantatku. Sodokan kontolnya yang menguat membuatku terpekik kesakitan bercampur nikmat. Kontolku sendiri sudah basah sekali, meneteskan precum ke atas lantai.
"Hhoohh.. Aahh.."

Pada saat yang hampir bersamaan, kontol sang asisten juga ikut menyemburkan sperma. Hal itu sungguh sangat mengagumkan mengingat dia baru saja bergabung namun dengan cepat sudah mencapai orgasme. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Sperma yang menyemprot keluar terasa hangat di mulutku. Begitu menyentuh lidahku, rasa pahit dari spermanya memenuhi mulutku.

"Oohh!! Aahh!! Uugghh!!" erangnya.

Badannya mengejang-ngejang, menahan nikmat. Erangannya terdengar keras sekali seakan dia sedang kesakitan. Tapi sebenarnya, dia sedang dikuasai oleh rasa nikmat yang tak tertahankan. Ccrroott!! Ccrroott!! Pejuhnya terus-menerus membanjiri mulutku sehingga sebagian mengalir keluar. Terburu-buru, aku menelan semuanya. Mm.. Aku paling doyan minum sperma. Dan sperma sang asisten ini sangatlah enak. Slurp!

"Ooh.. Yyeeaahh.. Telan semuanya, homo.. Aahh.. Telan.." desahnya sambil mengelus-ngelus kepalaku.

Aku mendesah dengan penuh kekecewaan saat kontol sang dokter ditarik keluar dari anusku. Aku ingin dientot lagi namun dokter itu tampaknya sudah terpuaskan. Saat kontolnya tercabut, spermanya meleleh keluar dari anusku yang menganga. Lelehan sperma itu jatuh ke atas lantai. Sementara sang dokter pergi ke toilet untuk mencuci kontolnya, sang asisten sibuk bermain dengan tubuhku.

Saat itulah aku baru dapat meneliti bentuk tubuh si asisten ganteng itu. Rupanya tubuhnya tak jauh berbeda daripada tubuh sang dokter. Badan asisten itu juga atletis, dadanya bidang dan kencang. Kedua putingnya berdiri menegang, di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Bulu halus juga tumbuh di bagian tengah dada dan perut six-packnya. Sungguh menggetarkan kontolku, apalagi aku belum ngecret. Nafsuku kembali berkobar. Kontolnya kembali kuemut, menyedot habis sisa-sisa pejuh yang belum sempat kujilat. Slurp! Enak sekali. Namun asisten itu kemudian menghindar saat melihat sang dokter kembali. Aku agak kecewa karena kontol yang enak itu terlepas dari mulutku.

"Kamu selalu haus sperma, yach?" tanya dokter itu sambil menepuk-nepuk pantatku. Tangannya masih mengenakan sarung tangan plastik.
"Mm.. Kontolmu masih tegang," komentarnya sambil mengocok-ngocok kontolku.

Dikocok seperti itu, kontolku hampir saja memuntahkan sperma namun kocokan itu berhenti tepat di saat aku mau muncrat. Tentu saja aku frustrasi sekali, aku hanya mau muncrat. Dengan bernafsu, jari-jari dokter itu menembus masuk ke dalam lubang pantatku yang agak longgar. Aku mendesah saat jari-jari itu menerobos masuk. Tiga jari sudah berada di dalam anusku. Aku mulai menggelinjang-gelinjang kesakitan bercampur kenikmatan saat jari-jarinya mulai menyodomiku.

"Ah, kamu suka, yach? Homo seperti kamu memang tak pernah puas dientot." ujarnya. Sambil menepuk punggung asistennya, dia berkata padanya..
"Entoti dia. Biar dia tahu rasa. Buat dia kesakitan dengan kontolmu. Fuck him."

Mendapat lampu hijau dari bosnya, asisten itu langsung menggerayangiku dengan penuh nafsu. Dengan kasar, tubuhku dibalikkan sehingga aku kini berhadapan dengannya. Sorot matanya berkobar-kobar dengan api birahi. Dan aku harus melayani kuda pejantan seperti dia. Asisten itu memang sungguh seorang pejantan, mengingat asisten itu baru saja muncrat. Dan sekarang kontolnya sudah bangkit kembali, siap untuk menembakku dengan cairan spermanya.

Kehangatan tubuhnya membuatku terangsang. Apalagi saat otot dadanya menempel di badanku, aku merasa bahwa aku hampir muncrat! Asisten itu memelukku sambil mencium-cium leher dan wajahku. Oohh.. Bagaimana mungkin dia bukan gay? Seorang pria heteroseksual murni takkan mau mencumbu sesama pria sepanas itu. Dia pasti juga pria homoseksual yang masih menyangkal jati dirinya sendiri. Desah napasnya terdengar begitu kencang di telingaku. Saat bibirnya memaksakan ciuman pada bibirku, aku tidak menolaknya. Kubalas ciumannya dengan sangat bernafsu. Gairahku sudah sangat besar karena dari tadi aku belum juga sempat ngecret.

Aku digiring ke ranjang dan dibaringkan di situ. Seperti pria pengentot sejati, asisten itu naik ke atas ranjang dan menggerayangiku. Sambil mencium dan menjilat setiap jengkal tubuhku, dia berusaha mendekatkan kontolnya pada lubang anusku. tampaknya dia masih ingin menggodaku sebab dia sengaja mendekatkan kontolnya tapi menolak untuk menyodomiku. Setiap kali napas panasnya berhembus di kulitku, aku menjadi semakin terangsang. Ereksi kencang sekali sehingga aku hampir merasa kesakitan. Aku mau dipuaskan, saat itu juga.

"Entoti pantatku.. Hhoohh.. Ayo, masukkan kontolmu.. Aahh.. Aku butuh kontolmu.." desahku, menggeliat-geliat akibat disentuh-sentuh oleh sang asisten.
"Hhoohh.. Fuck me.. Aahh.." desahku, sangat terangsang.

Tubuh telanjang sang asisten sangat menggoda birahiku. Dadanya yang bidang itu kuremas-remas dengan kuat, membuatnya mendesah keenakan. Jari-jariku sengaja memain-mainkan kedua putingnya. Puting sang asisten itu agak kecil namun tegang melenting. Warnanya coklat tua, sangat kontras dengan warna tubuhnya yang agak terang.

"Hhoohh.. Kamu suka puting, homo? Aahh.. Mainin putingku.. Oohh yyeeaahh.." racaunya sembari berusaha mendekatkan dadanya ke mulutku.

Tentu saja aku tak menolaknya. Dengan lahap, kujilat-jilat putingnya itu. Mm.. Enak sekali. SLURP! SLURP! Sapuan lidahku malah membuat sang asisten semakin tegang. Kontolnya meneteskan cairan precum ke atas paha dan perutku, sesekali beradu dengan kontolku yang juga ngaceng.

"Hhoohh.. Mulutmu enak banget.. Yyeeaahh.. Jilat putingku.. Hhoosshh.."

Bersambung . . . . .

Dokter mesum - 2



"Aarrgghh.." desahku saat jarinya kembali menyiksaku dengan kenikmatan. Kain seprei di bawah kontolku sudah basah, ternoda dengan cairan pra-ejakulasiku.
"Enak ya?" tanyanya. Suaranya terdengar memabukkan, membuatku semakin horny saja. Dokter itu malah semakin giat menyodomi anusku dengan jarinya.
"Aarrgghh.. Oohh.. Aahh.." desahku, kepalaku berputar-putar dengan nafsu.
"Aahh.. Iya, dokter.. Oohh.. Enak banget.. Aahh.."
"Lebih enak mana? Jariku atau kontol cowok yang menyodomimu hingga begini?" tanyanya lagi, kali ini lebih menjurus.

Dalam hati, aku bertanya, 'Kok pertanyaannya begitu? Apa maksudnya? Apa dia juga homo kayak gue?' Namun kuputuskan untuk menjawab saja secara jujur.

"Aahh.. Jari dokter enak.. Oohh.. Kayak kontol.. Aahh.. Lebih enak lagi kalo dokter bisa.. Aahh.. Sodomi aku ama.. Hhoohh.. Kontol dokter.. Aahh.."

Urat maluku mendadak putus begitu saja. Aku tak peduli apakah perkataanku bakal memancing masalah atau tidak. Yang kutahu adalah aku terlalu bergairah akibat digoda si dokter itu dan aku harus memuaskan gairahku.

"Kamu yang minta, loh," ujarnya.

Dan tiba-tiba saja jarinya mundur keluar. Lubangku seketika itu juga terasa kosong dan menganga lebar. Aku mengerang dengan penuh rasa putus asa, ingin dikerjai lagi. Namun saat aku menoleh ke belakang, aku melihat dokter itu sudah bertelanjang bulat. Kontolnya ngaceng dan panjang, mungkin sekitar 18 sentimeter, bersunat. Kepala kontolnya yang berwarna kemerahan basah dengan precum. Rupanya dari tadi dia juga sudah terangsang.

"Kaget, ya? Sebelum tadi aku memeriksa anusmu, aku sudah telanjang duluan. Kamu saja yang tidak sadar," katanya penuh senyum.

Mataku menjalari tubuhnya, dari puncak kepala sampai ke jempol kaki. Badannya sungguh sempurna. Memang tidak sebesar binaragawan, namun lumayan berotot seperti petinju. Lehernya kokoh menyangga kepalanya. Di dasar lehernya, tersambung badan yang luar biasa seksi. Bahunya lebar dan kekar. Dadanya bidang, padat, dan hampir bengkak dengan otot. Di bawah dada seksi itu ada otot six-pack yang lumayan. Sekilas dia sama sekali tak tampak seperti dokter jika sedang bertelanjang bulat seperti itu. Sungguh, pria sempurna dengan badan yang sempurna pula. Ketika dia mendekatiku, aku nyaris kehabisan napas karena tegang! Selama ini aku hanya bisa mebayangkan bercinta dengan pria atletis seperti dia di dalam benakku, namun tak pernah menyangka bahwa fantasiku itu akan terwujud.

"Bagaimana? Suka dengan badanku?" tanyanya menggodaku. Aku hanya mengangguk-nganguk seperti orang bodoh.
"Kamu cakep sekali. Aku paling suka pemuda seusia kamu. Muda, boyish, langsing, putih dan mulus. Aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang. Aku bukan homo, kok. Tapi aku juga sangat doyan cowok." Aku bingung mendengar penjelasannya. Bagaimana mungkin dia bukan homo jika dia menyatakan bahwa dia suka cowok. Dokter itu membuatku pusing.
"Hampir semua pasien cowokku, kalau aku suka, telah kugagahi. Tentu saja aku sengaja memilih pasien yang tak terlalu sakit dan masih agak kuat. Kalau homo, mereka langsung jatuh berlutut di bawah kakiku. Walaupun ada yang protes karena mereka hanya mau menyodomi dan tak mau disodomi. Tapi akhirnya, dengan keseksianku, mereka jatuh juga. Sedangkan, kalau yang straight, biasanya kuiming-imingi biaya berobat gratis. Karena kamu homo, kamu mau 'kan kugagahi? Ditanggung puas," katanya.

Kontolnya yang keras ditempelkan di bibir anusku yang bengkak. Aku hanya bisa mendesah sebagai jawaban ya. Hanya satu yang kumau, kontolnya! Dengan lembut namun bertenaga, dokter itu memposisikan tubuhku sehingga kini aku berdiri di lantai dengan badan membungkuk di atas ranjang. Pantatku terekspos untuk dia entot. Tanpa dapat ditahan, anusku berkedut-kedut dengan tak sabar.

"Kamu yakin mau kontolku? Kontolku gede, loh. Kamu pasti akan kesakitan. Sekarang saja anusmu sudah bengkak begitu. Setelah kuentot, anusmu bakal lebih bengkak dan perih lagi."
"Gak 'pa-pa. Asal bisa merasakan hajaran kontol dokter, saya sudah senang. Aahh.. Cepat, dok. Entot pantatku. Saya mau kontol dokter. Ayo.." rengekku.

Tentu saja kata-kataku saat itu terlontar karena aku sedang di bawah pengaruh nafsu birahi sesaat. Begitu aku mencapai klimaks, aku yakin aku akan sangat menyesalinya karena anusku akan menjadi jauh lebih perih lagi. Namun jika kontol sudah mengambil alih pikiran, apa yang dapat kuperbuat?

"Oohh.. Fuck me.. entot pantatku.. Oohh.. Ayolah, dok.. Aahh.."

Kudorong pantatku ke belakang berharap agar kontol sang dokter akan menyambutnya namun dokter itu rupanya masih mau mempermainkanku dulu. Dokter itu hanya membenamkan kontolnya di dalam belahan pantatku kemudian menggesek-gesekkannya, membuatku gila dengan nafsu. Aku terus memohonnya untuk segera mengentot duburku namun dia hanya tertawa mesum saja.

"Nanti dulu donk. Saya mau merasakan tubuhmu dulu."

Dia memelukku dari belakang dan langsung saja melarikan tangannya di sekujur tubuhku. Dadaku dibelai-belai, diremas-remas dan diraba-raba. Perlakuannya membuat kedua putingku berdiri menegang. Dadaku sangat sensitif sehingga aku tak dapat menahan diri untuk tidak menggeliat-geliat. Rasanya sungguh geli tapi juga nikmat.

"Oh, badanmu halus dan lembut. Saya suka banget.. Oohh.. Saya plintir putingmu.. Aahh.. Kuremas dadamu.. Aahh.. Yyeaahh.. Kucumbu kamu sampai kamu kehabisan napas.. Hhoohh.." Napasnya menderu-deru di telingaku.
"Hhoohh.. Dok.. Fuck me.. Aahh.. Ngentot donk.. Aahh.. Aku butuh kontolmu, dokter.. Aahh.. Hhoohh.."

Aku mendesah-desah dan memohon-mohon seperti gigolo homo murahan. Tapi aku memang sungguh tak dapat menahan gejolak birahiku. Dokter itu terlalu menyiksaku. Rupanya dia senang mendengarku memohon kontolnya.

"Hhoohh.. Fuck me.. Aahh.."

Kuarahkan tanganku ke belakang, kuraba-raba badannya. Oh, setiap lekuk otot atletisnya sungguh terasa. Seperti kataku tadi, badan si dokter itu lebih mirip badan seorang petinju. Alangkah bahagianya aku bisa menjadi pasien dokter yang seksi seperti itu.

Tiba-tiba, benda keras dan kenyal mulai menusuk masuk ke dalam pantatku. Aku mengerang kesakitan saat anusku dipaksa membuka untuk membiarkan benda itu masuk. Rasa sakit itu semakin bertambah dikarenakan anusku masih terluka akibat disodomi teman gayku beberapa waktu yang lalu. Saat kutolehkan kepalaku ke belakang, ternyata sang dokter itu sedang menyodomiku! Kontolnya yang besar dan panjang itu sedang memasuki diriku.

"Oohh.. Sempit banget.. Aahh.. Bagaimana kalau pantatmu nggak perih.. Aahh.. Pasti lebih sempit lagi.. Uugghh.. Kamu suka kontolku? Hhuuhh.." Sambil mengerang-ngerang keenakan, dokter itu akhirnya berhasil juga menancapkan kontolnya masuk dalam-dalam.
"Aarrgghh.." bblleess..

Badanku bergetar menahan sakit, kakiku hampir tak kuat menopang berat badanku. Entah mengapa, aku menjadi lemas, seakan-akan kontol dokter itu menyedot energiku. Tanganku berpegangan erat-erat pada ranjang, takut terjatuh. Di dalam tubuhku, kurasakan kehangatan menyebar dari batang kontol itu. Bibir anusku yang bengkak terasa semakin sakit saja. Tak tahan menahan perih, aku menangis terisak-isak, air mataku mengalir keluar. Namun rasa sakit itu malah menaikkan libidoku. Kontolku menegang, berdenyut-denyut. Precum mulai mengalir keluar dari lubang kontolku yang menganga.

"Hhoohh.. Sakit, dok.. Aahh.. Sakit.. Aarrgghh.."

Beberapa kali, secara refleks, aku berusaha menghindarkan diri dari hajaran kontolnya. Namun dokter itu menahan pinggulku kuat-kuat sehingga aku tak dapat kabur. Aku dipaksa untuk menerima kontolnya tanpa protes.

"Aahh.. Fuck me.. Oohh.." Sakit bercampur nikmat mendera tubuhku bergantian.

Kontol yang hebat itu menghajar prostatku berkali-kali, membuatku melonjak-lonjak. Di sela-sela acara ngentot itu, dokter itu berbisik..

"Aahh.. Enak 'kan kontolku? Aahh.. Aku bakal mengentot kamu sampai pantatmu sobek.. Aahh.. Rasakan kontolku.. Uugghh.. Dasar homo.. Aahh.. Fuck you.. Aahh.."

Kontol itu keluar-masuk lubang anusku dengan kecepatan tinggi. Aku hanya bisa mengerang-ngerang kesakitan. Keringat mmebanjiri tubuh kami. Aroma kejantanannya menyebar di ruangan itu. Kepalaku pusing dengan gairah yang tak tertahankan. Di satu sisi, aku ingin berhenti disodomi, namun di sisi lain kontolnya memberikan begitu banyak kenikmatan. Aku hanya bisa mengerangkan rasa nikmat dan sakitku.

"Aarrgghh!! Oohh!! Aahh!!"

Sambil tetap membor pantatku, dokter itu mengoleskan gel dingin di bibir anusku. Gel itu terasa begitu dingin dan menyejukkan. Selama sesaat, rasa sakit itu hilang. Gel itu juga berfungsi sebagai pelumas sehingga mengurangi pergesekan. Kontol itu pun menjadi lebih mudah menyodomiku. Precum sang dokter mengalir dalam jumlah banyak, melumasi kanal duburku. Kurasakan bagian dalam pantatku menjadi lengket, terlumuri gel dan precum.

"Aahh.. Pantatmu enak banget.. Hhoohh.. Aku suka negntot ama kamu.. Aahh.. Fuck you.. Aahh.. Aku bakal nge-fuck kamu terus.. Terus.. Dan terus.. Hhoohh.."

Deraan kenikmatan demi kenikmatan menghujani tubuhku. Prostatku serasa lembek, dihajar habis-habisan oleh kepala kontol dokter itu. Tekanan dalam bola pelirku sudah hampir mencapai puncaknya. Sebentar lagi, spermaku akan muncrat berhamburan.

"Hhoohh.. Dok.. Mau keluar.. Aarrgghh.." Kontolku sudah mengalirkan precum seperti air ledeng dan kini sudah hampir akan menyemburkan pejuh.
"Aarrgghh.."
"Hhoohh.. Aku juga hampir sampai.. Aarrgghh.. Fuck! Terima ini.. Aahh.. Spermaku.. Hhoohh.."

Gerakan ngentotnya menjadi semakin bertenaga dan cepat. Anusku hampir sobek, disodomi dengan sekasar itu. Dokter itu mengerang-ngerang dan badannya yang atletis itu terguncang-guncang. Sebentar lagi, 'gunung berapi' itu akan meletus! Namun tepat di saat kami berdua sedang hampir berada di puncak kenikmatan, pintu ruangan praktek tiba-tiba terbuka lebar. Dan sesosok pria berdiri di ambang pintu!

Bersambung . . . .

Dokter mesum - 1



Siang itu, aku berjalan tertatih-tatih dengan perasaan tak menentu menuju ruang tunggu seorang dokter. Saya mendapatkan alamatnya dari temanku. Katanya dokter ini hebat sekali dalam ilmu pengobatan. Dan saat itu aku memang benar-benar membutuhkan dokter yang hebat. Anusku berkedut-kedut agak nyeri. Semua gara-gara ulah salah satu teman gayku. Kami bertemu, merasa cocok, dan berakhir dengan seks yang luar biasa. Namun karena kontolnya besar, anusku dihajarnya habis-habisan sampai berdarah-darah. Dia memang jago sekali dalam hal mengentot. Aku dibuatnya kehabisan napas. Namun aku sangat menikmatinya. Sudah hampir satu minggu berlalu namun anusku masih juga tetap sakit, terasa seperti terbakar api. Karena takut infeksi, saya memberanikan diri untuk menemui seorang dokter. Jadi itulah awal mulanya bagaimana saya bisa sampai duduk di ruang tunggu itu.
Jumlah pasien pada siang itu sedikit sekali, hanya ada aku, pasien satu-satunya di ruangan itu. Seorang pria muda yang seksi dan tampan duduk di depan ruang praktek. Dia adalah asisten sang dokter dan bertugas untuk mendaftar para calon pasien. Pakaiannya rapi dan tampangnya oke. Sekilas wajahnya agak mirip dengan wajah Irgi, pembawa acara Indonesian Idol. Tapi pemuda ini berambut cepak dan tampak ada brewok tipis tumbuh di rahangnya. Sungguh tampak seksi dan maskulin. Aku harus berjuang keras untuk menjaga agar kontolku tidak tegang. Badannya memang tidak besar namun tampak kuat dan atletis. Tangannya kokoh sekali dihiasi otot dan urat. Sambil menunggu giliranku, diam-diam aku mencuri pandang ke arahnya.
"Nama Anda?" tanyanya, suaranya terdengar tegas namun seksi.
Aku hampir pingsan saat pemuda ganteng itu menatapku, matanya seolah-olah memanggilku untuk mendekat. Aku bergegas bangun dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya. Kukatakan padanya namaku dan juga semua informasi lainnya yang dia minta. Pria muda itu segera mencatatnya di buku daftar pasien. Dan tiba-tiba dia menanyakan pertanyaan yang membuatku tidak nyaman.
"Keluhan Anda?" Wajahku memucat. Aku merasa malu sekali untuk memberitahukannya bahwa anusku perih akibat disodomi. Tapi aku tak punya pilihan lain.
"Mm.. Anu.. Pantat saya perih," jawabku pelan, kepalaku tertunduk malu.
"Kamu homo? Abis dientot ama cowok?" tanyanya kembali sambil tersenyum mesum.
Tiba-tiba saja gaya bicaranya berubah mesum. Kata-kata kotor keluar begitu saja dari mulutnya. Ditanya seperti itu, aku hanya terdiam, tak mampu berkata-kata. Dan tampaknya kebisuanku sudah merupakan jawaban yang memuaskan baginya. Pemuda ganteng itu hanya tertawa saja.
"Tenang, saya cuma bercanda, kok. Gak perlu khawatir. Saya sangat terbuka dengan para pria homoseksual. Sebenarnya banyak juga pria homoseksual yang sering datang ke sini. Jadi, aku sudah terbiasa." Dia tersenyum lebar, senang melihatku sempat kebingungan.
"Kapan-kapan mau nggak aku sodomi? Tapi aku bukan homo, loh," tambahnya lagi. Pria muda itu memang iseng!
"Silakan duduk dulu. Nanti kupanggil," sambungnya, masih tertawa. Aku mendadak merasa sangat bodoh telah mengira bahwa dia juga gay. Tapi dalam hati, saya berharap bahwa pemuda straight itu diam-diam menyukai pria homo.
Rasanya lama sekali, harus duduk menunggu di bawah tatapan sang asisten. Sesekali, dia menyuarakan siulan nakal seakan aku adalah obyek seks yang panas. Aku hanya berani menatapnya secara sembunyi-sembunyi. Pemuda itu memang sangat ganteng. Aku tak keberatan disodomi olehnya jika dia memang mau. Lima menit kemudian, namaku dipanggil. Pemuda itu membukakan pintu ruangan praktek sang dokter dan mempersilakanku untuk masuk. Sambil menahan perih di anusku, aku berjalan masuk ke ruangan itu. Dan tiba-tiba saja pemuda itu menepuk pantatku sambil mengedipkan matanya ke arahku. Astaga, sebenarnya dia juga homo atau hanya iseng saja? Namun aku tidak protes, malah aku sangat suka.
"Awas. Dokternya ganteng, loh," bisiknya, nakal. Setelah aku masuk, pemuda kembali ke mejanya setelah menutup pintu. Tinggallah aku di sana dengan sang dokter.
Begitu mataku melihat sang dokter itu, aku langsung terpesona. Usia dokter itu masih lumayan muda, mungkin di awal 30-an. Rambutnya terpotong pendek dan rapi, nyaris cepak. Wajahnya memancarkan aura kejantanan dan keseksian seorang pria sejati. Badannya tampak tegap di balik jubah dokternya. Saat dokter itu tersenyum padaku, aku nyaris pingsan!
"Kata asistenku, anusmu perih karena disodomi, ya?" Aku hanya mengangguk-ngangguk seperti orang bodoh. Namun keramahan dokter itu menenangkan hatiku.
"Silahkan buka pakaian Anda. Saya ingin Anda bertelanjang bulat, lalu duduk di ranjang pemeriksaan," katanya sambil sibuk mengambil peralatan yang akan digunakannya untuk memeriksaku.
Aku sebenarnya malu sekali, apalagi kontolku sedang tegang. Pakaianku mulai jatuh ke atas lantai, hanya tersisa celana dalam putih yang masih melekat di tubuhku. Tonjolan kontolku tampak sangat jelas, tercetak di bagian depan. Noda basah menghiasi bagian itu. Selain itu, ada pula bekas noda sperma kering yang sudah menguning. Wajahku memerah seperti tomat. Rupanya aku lupa mengganti celana dalamku dengan yang baru. Aroma sperma kering dan air seni mulai menyebar dari celana dalamku. Berhubung aku berdiri sambil membelakangi sang dokter, dia tak melihat tonjolan kontolku.
Namun tiba-tiba sepasang tangan yang kekar memegang pundak telanjangku dan kemudian memutar tubuhku. Semua terjadi sangat cepat sehingga setelah aku menyadarinya aku telah berdiri di hadapan dokter ganteng itu dengan tonjolan besar dan basah. Dia hanya tersenyum saja.
"Tegang ya? Gak pa-pa, kok. Itu tandanya kamu sehat. Sekarang, buka ya?"
Seperti boneka yang tak berdaya, aku membiarkan dia melucuti celana dalamku. Kontolku yang tegang langsung terekspos. Tanpa malu, batang kejantananku berdenyut-denyut dengan bangga di hadapan sang dokter.
"Wah, ukuran yang bagus," komentarnya.
Tiba-tiba saja tangannya melesat ke depan dan menggenggam kontolku erat-erat. Genggaman itu segera berubah menjadi belaian. Jantungku berdegup kencang, menahan gejolak nafsu birahi. Mataku terpejam agar aku bisa merasakan kehangatan dari sentuhan tangannya. Aahh.. Hangat sekali sentuhannya. Kontolku berdenyut-denyut dengan nikmat di bawah kendali belaian tangannya.
"Kamu benar-benar homo, ya?" tanyanya tiba-tiba.
Aku membuka mataku dan kutatap wajahnya. Kulihat sorot matanya penuh dengan birahi. Saat dia melepaskan kontolku, aku merasa sangat kecewa. Ingin rasanya memintanya untuk memegangnya kembali.
"Naik ke atas ranjang. Ambil posisi merangkak seperti bayi dan hadapkan pantatmu ke arahku. Aku akan memerika anusmu."
Dengan agak kikuk, aku menuruti perintahnya. Berada dalam posisi seperti itu membuatku merasa sangat rawan untuk digagahi. Bayangkan saja. Seorang pemuda seksi seperti saya menunggingkan pantatku di atas ranjang agar dokter itu bisa memeriksa pantatku, seperti adegan di film porno homoseksual. Kontolku masih saja tegang, bergantung di selangkanganku. Di depanku adalah tembok putih, kutatap dengan pandangan kosong seraya menanti sang dokter melakukan tugasnya. Sayup-sayup kudengar suara sarung tangan karet dipakaikan pada kedua tangan dokter itu. Kemudian tiba-tiba kurasakan gel kental yang dingin dioleskan pada anusku. Aku meringis-ringis saat tangannya bersentuhan dengan anusku yang perih. Dan tanpa peringatan, jari sang dokter memaksa masuk ke dalam anusku.
"Aarrgghh!!" erangku. Sungguh sakit rasanya, seakan-akan aku kembali disodomi. Jari itu terasa gemuk dan panjang, mirip kontol!
"Oohh!!" erangku lagi. Namun, meskipun kesakitan, kontolku tetap ngaceng dan malah semakin ngaceng. Precum mulai mengalir keluar dari lubang kontolku, membasahi area kepala penisku.
"Aahh.." jeritku kali ini.
Dokter itu memutar jarinya hingga hal itu membuatku semakin kesakitan. Aku hanya dapat mengerang kesakitan sambil tetap mempertahankan posisiku. Sekujur tubuhku bergetar menahan sakit. Namun, anehnya, rasa sakit itu malah membuatku semakin bergairah. Mungkin karena sakit yang kurasakan masih ada hubungannya dengan anus, ditambah lagi orang yang sedang memeriksa anusku adalah seorang dokter ganteng.
"Wah, anusmu bengkak. Pasti kontol yang masuk ke dalam pantatmu adalah kontol yang besar dan panjang," komentarnya.
Aku hanya meringis-ringis saja. Saat jarinya menyentuh prostatku, aku hampir terlonjak. Gelombang kenikmatan mendera tubuhku, memaksaku menuju jurang kenikmatan. Eranganku kembali terdengar saat jarinya menabrak prostatku lagi.
"Aarrgghh.. Hhoohh.." erangku.
Gairahku naik. Api nafsu membakar diriku. Kontolku berdenyut semakin keras, hampir saja memuncratkan pejuh keluar. Namun jari dokter itu malah semakin mengerjai prostatku. Tak ayal lagi, aku harus berjuang untuk menahan deraan kenikmatan. Memang nikmat sekali, namun sekaligus terasa menderita sebab aku tak boleh merayu dokter itu. Lain halnya jika dia juga homo. Tapi melihat tampangnya yang macho dan berotot, mana mungkin jika dia gay? Memang, pria gay tidak harus lemah lembut dan feminin. Di film-film porno homoseksual, diperlihatkan bahwa banyak pria gay yang macho serta berbodi aduhai, kekar bagaikan pahatan patung Yunani. Namun, aku sendiri belum pernah bertemu dengan pria gay yang bertubuh kekar.
Bersambung . . . .

Bayar cowok untuk ngentot



Sudah lama saya mengalami depresi. Depresi yang kualami ini unik sebab berhubungan erat dengan seks. Saya sudah cukup stress dengan kenyataan bahwa saya ternyata adalah seorang homoseksual. Tapi kini ditambah dengan hasratku untuk ngesex tapi tak ada seorang pria pun yang dapat kuajak berhomoseks.
"Kenapa susah sekali untuk menemukan pria homoseks di Indonesia?" pikirku dengan perasaan yang sangat sedih.
Pada sore itu, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan sore saja daripada tinggal di rumah dalam keadaan stress. Saat sedang melewati tempat makan kaki lima di jalan raya, saya melihat beberapa pria pribumi sedang sibuk menyusun tenda makan kaki lima. Pria-pria itu masih muda dan tampan, dan semuanya bertelanjang dada! Dada mereka nampak indah, penuh otot, dan berkilat-kilat karena keringat. Kontolku naik melihat pemandangan yang sungguh indah itu.
Berpura-pura ingin makan, kudekati mereka. Meskipun mereka semua tampan-tampan dan merangsang nafsu, mataku tertuju pada seorang pria saja. Entah kenapa, dia begitu menarik hatiku dan saya ingin sekali memilikinya walau hanya semalam saja.
Belakangan kami pun berkenalan dan saya pun mengetahui namanya: Budi. Budi masih muda, 24 tahun, bertubuh tegap, otot-otot menyembul keluar dari tubuhnya, rambutnya cepak, senyumnya menawan, wajahnya tegas da berwibawa. Pemuda itu hanya mengenakan celana panjang hitam, bertelanjang dada. Saya menikmati sekali melihat gerakan otot-otot dadanya saat dia sedang sibuk bekerja.
Singkat kata, saya mengatakan terus-terang bahwa saya ingin menghisap kontolnya dan rela membayar untuk itu. Saat ditanya akan dbayar berapa, saya menunjukkannya selembar uang dua puluh ribu (saya memang sejujurnya bukan anak orang kaya). Entah kenapa, Budi menyetujuinya sambil mengambil uang itu dari tanganku. Setelah meminta izin pada majikannya, Budi pun mengajakku ke rumah kontrakannya.
Di sana, Budi segera melolosi pakaiannya, kali ini celana panjang dan celana dalamnya juga ikut dilepas. Benar-benar sungguh pemandangan yang sangat indah! Sambil menikmati tubuh ketat Budi dengan mataku, saya pun segera melepas semua pakaianku. Nafsuku meledak-ledak dan ingin sekali segera kulahap dia. Budi menghampiriku dan memelukku.
Tanpa ragu dan malu, dia langsung menciumiku, seakan menikmatinya. Jangan-jangan Budi juga homoseks, tapi dia perpura-pura straight, pikirku. Namun bibirnya yang terus-menerus menyerangku mmebuatku lupa akan segalanya. Dengan penuh nafsu, Budi melumat bibirku; lidahnya mnenyerang masuk dan air liurnya menyerbu masuk. Saya menyerah di hadapannya. Kubiarkan dia menikmati bibirku.
"Oohh.. Bibir yang indah," komentar Budi.
"Loe pasti penasaran. Kenapa gue nampak nafsuan sekali, kan?" tanyanya seakan bisa membaca pikiranku.
"Gue doyan cewek sebenarnya. Tapi seminggu kemarin gue baru aja nonton film porno homo. Cowok-cowok itu keliatannya menikmati banget hubungan seks sejenis. Gue jadi penasaran. Dan tiba-tiba pucuk dicinta, ulam tiba. Terus terang, udah seminggu, gue belum ngecret"
Selesai berbicara, Budi kembali menenggelamkanku dalam ciumannya. Oh, kini saya mengerti. Pantas saja Budi bernafsu sekali padaku. Dia penasaran dengan gay seks. Tapi nampaknnya dia sangat menikmatinya.
"Mm.. Gue suka bibir loe.. Mm.." SLURP! SLURP! SLURP! Budi terus menjilatiku. Astaga, mimpi apa aku semalam? ;)
Tiba-tiba Budi melepaskanku dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Kedua kakinya mengangkang, terbuka lebar-lebar, dan mempertontonkan kontolnya yang sudah ngaceng. Dengan tatapan nakal menggoda, Budi memintaku untuk mendekatinya. Jantungku berdebar-debar saat saya berlutut di hadapannya. Tubuhnya begitu menggoda; saya tak dapat melawan hasratku. Dengan tangan yang sedikit gemetaran (akibat rasa tegang), kuelus-elus dadanya. Ah.. Untuk pertama kalinya, saya bisa memegang dada seorang pria secara homoseksual. Saya penggemar dada dan puting cowok. Bagian tubuh itu sangat merangsang nafsu birahiku.
Budi terlihat sangat menjaga kebugaran tubuhnya meskipun dia hanya berkerja di tempat makan kaki lima saja. Bentuk dadanya indah sekali, keras berotot. Lengannya bengkak-bengkak dengan otot. Sedangkan perutnya memang agak datar, mungkin karena dia tidak banyak mengerjakan perkerjaan berat yang berhubungan dengan otot perut. Dada yang bidang itu kuremas-remas seakan susu segar akan mengalir keluar jika kuperlakukan dadanya seperti itu. Khusus pada putingnya, mula-mula kutarik-tarik. Bagaikan hidup, kedua puting itu mulai mengeras dan timbul. Langsung saja kupelintir keras-keras.
"AAHH!!" Budi mengerang, namun dia menyukainya. Kontolnya pun mengatakan hal yang sama, terus berdenyut-denyut.
Puas memainkan putungnya selama bermenit-menit, saya mulai operasi penjilatan. Dimulai dengan dada seksi itu. Setiap jengkal kulit daerah itu kujilati habis-habisan, membuatnya berkilauan tertimpa cahaya matahari sore. Bagaikan bayi yang sedang menyusu, kuhisap putingnya kuat-kuat. SLURP! SLURP.
"Mmpphh.. Mm.. Mmpphh.."
Ah, nikmat sekali. Kupandangi wajahnya yang tampan, dia nampak lebih dari puas. Kuteruskan misiku, dari dada, saya turun ke perut, kemudian sampai pada kontol ngacengnya. Ah, kontol pertama yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Sebelumnya hanya dapat kunikmati lewat foto-foto porno di Internet. Tapi kontol Budi sangat nyata, dapat kuraba dan kusedot.
Seperti kebanyakkan kontol pribumi lainnya, kontol Budi bersunat. Kepala bajanya yang agak kemerahan itu berdenyut-denyut, seksi sekali. Tiba-tiba, hal yang paling indah terjadi di hadapanku. Pelan-pelan, dari dalam lubang kontolnya, muncul setitik cairan. Cairan itu semakin lama semakin banyak dan terlihat seperti sebuah mutiara kecil yang duduk di atas lubang kontol Budi. Tanpa permisi, saya langsung menjilat cairan itu dengan sekali sapuan lidah. SLURP! Mm.. Asin tapi nikmat. Kuusap-usap leher dan dadaku untuk menunjukkan betapa saya sangat menikmati setetes precum-nya itu.
"Gue suka banget ama tingkah laku loe yang mesum. Loe bikin gue semakin ngaceng," kata Budi, mengusap-ngusap kepala kontolnya.
"Hisapin donk kontol gue, seperti di film-film. Hisap yang kuat dan buat gue ngecret di mulut loe. Ayo donk sayang," bujuknya, menjelajahi dadaku dengan jarinya.
Saya pun tunduk padanya. Dengan menggenggam batang kenikmatan milik Budi, saya mulai memasukkannya ke dalam mulutku yang lapar. Mm.. Hangat dan nikmat. Seperti memakan sosis! Dengan lembut, kontol itu kujilat dan kuhisap. Aahh.. Budi pun semakin terangsang, terdengar dari erangannya.
Semakin dia mengerang, semakin saya bersemangat. Tak kusangka menyepong kontol bisa senikmat ini. SLURP! SLURP! Sementara itu, Budi semakin menjadi-jadi. Erangannya terdengar keras sekali, seperti banteng yang sedang menggerutu.
"HHOOHH.. AAHH.. OOHH.. AAHH.. HHOOSSHH.."
Tangannya menggapai-gapai liar dan kemudian bersarang di atas kepalaku. Rambutku diremas-remas tapi saya tidak merasa kesakitan. Saya senang sekali bisa memberikan kepuasan padanya.
"OOHH.. Enak sekali.. AAHH.. Sedot terus.. AAHH.. Hisap kontol gue.. UUHH.. Enak banget.. AAHH.. Dihisap homo.. AAHH.."
Semakin mendengar erangannya, saya menjadi semakin bersemangat. Kontol itu terus saja kusedot-sedot. Mm.. SLURP! Sampai akhirnya kontol itu pun berdenyut-denyut dengan ganas dan mulai menembaki mulutku dengan pejuh.
CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Mash memegangi kepalaku, Budi mengangkat pinggulnya agar kontolnya lebih masuk ke dalam mulutku seraya menjerit kenikmatan.
"AARRGGHH..!! UUGGHH!! AAHH!! OOHH!! AAHH!!" Dengan panik, saya berusaha menelan semua pejuhnya, namun terlalu banyak yang masuk ke dalam mulutku sedangkan mulutku kecil. Tumpahlah sebagian pejuh itu dan turun melumuri leher dan dadaku.
Setelah orgasme Budi selesai, dia membungkuk dan menciumiku. Di dalam mulutku masih terdapat sisa pejuhnya, tapi dia tidak peduli. Dengan laparnya, dia menjilati rongga mulutku, mencari pejuhnya. Mm.. Seksi sekali. Kami pun kembali saling berciuman dan berbagi pejuh. Harus kuakui, pejuh Budi terasa sangat enak. Sambil menciumiku, tangan Budi dengan sensual menjalari dadaku. Cairan pejuh yang sempat tertumpah ke tubuhku diusap-usapnya agar menyebar merata. Aahh..
Kontolku berkedut-kedut, meneteskan precum, ingin dipuaskan. Tanpa malu-malu, saya berkata.
"Budi, ngentotin gue donk. Gue butuh kontol loe di pantat gue. Ayolah, ngentotin gue."
Budi agak terkejut mendengar kataku. Baginya oral seks merupakan hal biasa, namun anal seks masih asing. Selama ini dia selalu ngentot dengan cewek. Belum pernah sekalipun dia menusukkan kontolnya ke dalam anus seseorang, apalagi anus seorang pria. Saya sendiri juga belum pernah dianal, tapi saya bernafsu sekali padanya. Saya harus memiliki kontolnya di dalam pantatku.
Budi nampak ragu-ragu.
"Entahlah. Apa loe yakin, loe mau kontol gue nancap di dalam situ? Gue sih belum pernah nyoba. Sepertinya kotor sekali jika kontol gue ditusuk ke situ."
"Kan bisa dicuci, Bud," jawabku.
"Ayolah, kumohon. Lagipula loe 'kan udah gue bayar untuk mengentotin gue. Jangan ragu, Bud. Tancapkan aja kontol loe dalam-dalam. Buat gue kesakitan dengan kontol super milik koe. Ayolah, Bud," saya terus memohon-mohon.
"Baiklah. Kelihatannya gue gak bisa melawan keinginan loe. Oke deh, sesuai perjanjian, gue bakal ngentotin loe. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, loe gak boleh kabur di tengah acara ngentot Oke? Loe mesti bersedia gue ngentotin sampai gue ngecret di dalam pantat loe."
Saya langsung tersenyum; akhirnya Budi ingin juga menyodomiku. Dengan bernafsu, Budi mengusap-ngusap kepala kontolnya. Pejuhnya yang masih menempel di kontolnya mulai tersebar merata sampai ke dasar kontolnya, siap tempur. Tiba-tiba saja Budi bangkit dari sofa, mencengkeram badanku, dan memindahkannya ke atas sofa.
Berbaring telentang dan telanjang di situ membuatku makin terangsang saja. Budi kemudian naik ke sofa dan memposisikan kontolnya di depan anusku. Kedua kakiku diletakkan di atas bahunya yang bidang. Ah, saya merasa begitu rawan untuk dikerjain. Tapi saya memang mengharapkan agar Budi mau mengerjain anusku.
Saat kepala kontol Budi mulai memaksa masuk, saya mencengkeram sofa itu sekuat-kuatnya. Rasa sakit mulai menusuk tajam saat lubang anusku dipaksa untuk membuka selebar-lebarnya.
"AARRGGHH!!" erangku. Tak kusangka rasa sakit pertama kali dianal akan sebegini sakinya.
"AARRGGHH!!" erangku lagi.
PLOP! Kontol itu pun akhirnya masuk. Napasku terengah-engah, menahan sakit yang masih membakar anusku. Belum sempat saya mempersiapkan diriku, Budi sudah mulai menggenjot. Nampaknya dia sama sekali tak memperhatikan penderitaanku. Dia hanya ingin menikmati nikmatnya mengentotin pantatku. Begitu kontolnya itu ditarik mundur, saya pun mengerang kesakitan. Begitu pula saat kontolnya dimasukkan ke dalamku..
"AARRGGHH!!"
Keringat mulai membasahi tubuhku sementara kepalaku kugoyang-goyangkan untuk mengusir rasa sakit. Namun rasa sakit masih tetap menyiksaku. Meskipun demikian, kontolku tetap tegak, menikmati semuanya.
"Hhoohh.. Ternyata.. Anus cowok.. Aahh.. Lebih enak.. Hhoohh.. Gue suka ngentotin loe.. Aahh.. Hhoosshh.." komentar Budi, terus menerus menyodokkan kontolnya.
Kulihat dadanya yang bidang juga sudah mulai tertutup butiran-butiran keringat. Tiap kali dia menarik napas, dadanya naik turun. Aahh.. Saya terangsang sekali hanya dengan melihat dadanya saja.
"Hhoohh.. Ngentot loe.. Aahh.. Hhoohh.. Ngentot.. Aahh.."
Sodokan kontol Budi mulai terasa nikmat. Pelan-pelan rasa sakit itu memudar dan digantikan rasa nikmat yang tak terkatakan. Seperti seorang pelacur yang sedang 'kepanasan', saya menggeliat-geliatkan badanku seraya melemparkan kata-kata jorok.
"Hhoohh.. FUCK ME! aahh.. Bud, kontol loe.. Aahh.. Gede banget.. Hhohh.. Gue suka.. Aahh.. Ngentotin gue, Bud.. Hamilin gue.. Aahh.. Pake anus gue.. Aahh.. Pake bodi gue.. Aarrghh.."
Tak kuasa menahan kenikmatan yang semakin lama menjadi semakin besar, saya segera menggenggam kontolku dan mulai mengocoknya.
"Hhohh.. Hhooshshh.. Aahh.. Uuhh.."
Kami berdua menaiki puncak orgasme dan kini telah berdiri di tepi jurang orgasme. Yang harus kami lakukan hanyalah melompati jurang itu.
"AARRGGHH!!" Budi mengerang kuat-kuat, tangannya menggenggam pinggulku. Dapat kurasakan kepala kontolnya membesar dan kemudian menembakkan pejuh bertubi-tubi.
CCROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Kontan saja, badanku dibanjiri pejuh.
"AARRGGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!!"
Tubuh Budi yang perkasa menghentak-hentak seperti kuda liar, kontolnya terus menyerangku sampai tetes pejuh penghabisan. CCRROOTT!
"Hhoohh.." desahnya dan dia pun melemas. Namun semua belum tuntas sebab saya belum mendapatkan orgasmeku.
"Hhoohh.. Gue ngecreett.." Erangku dan memperkuat remasan kontolku. Dan.. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCROOTT!
"AARRGGHH..!!" Dengan satu erangan panjang, pejuhku muncrat ke atas seperti air mancur.
Lelehan pejuhku turun membasahi dada dan perutku, dan juga batang kontolku. Rasanya hangat dan licin di kulitku. CCRROOTT!! CCRROOTT!
"UUGGHGH!! HOOHH!! AAHH!! UUHH!!"
Sementara badanku mengejang-ngejang, Budi tetap di posisinya. Kontolnya yang mulai mengempis masih berada di dalam lubang kontolku, teremas-remas kontraksi otot anusku. Wajahnya sedikit meringis saat kepala kontolnya yang sensitif dikerjain oleh lubang anusku.
"AAHHh.." Saya mendesah panjang saat sudah tidak ada lagi pejuh yang keluar.
Budi menundukkan kepalanya dan menciumiku lagi. Spermaku yang menempel di badanku digosok-gosokkannya secara merata. Aahh.. Saya tak dapat berkata apa-apa, hanya tersenyum puas. Saya juga lega bahwa Budi menikmatinya. Jadi, dia tidak merasa terpaksa harus mengentotin saya. Butuh waktu hampir 15 menit sampai napas dan energi kami akhirnya kembali normal. Setelah kami berpakaian kembali, Budi menciumi bibirku dan kemudian mengeluarkan uang lembaran 20 ribu dari saku celananya.
"Ini, gue kembali'in duit loe. Gue gak pantas mengambilnya. Lagian gue tau loe gak kaya. Gue cukup enjoy berhomoseks ama loe. Jadi berhubung gue juga enjoy dan gak merasa dipaksa, gue gak pantas ambil duit loe."
Jarang sekali menemukan pria seperti Budi: tampan, jujur, dan juga horny. Kami pun berciuman kembali sambil berangkulan. Kurasa lain kali, jika saya sedang butuh pelampiasan seksual, saya akan menemui Budi-ku yang tampan dan berotot agar dia ngentot pantatku dengan kontolnya.
Tamat

Baru kusadari bahwa aku gay - 2



Gawat, kami tersandung jatuh. Kami berdua terjatuh, terjerembap di lantai. Posisi saya pas di atas Gilbert, saya amat terkejut. Tubuh Gilbert tidak kalah hangat dengan tubuh Mas Rudi. Saya tidak mau melepasnya. Saya ingin terus begini tetapi tiba-tiba satpam yang mendengar keributan ini segera menghampiri kita. Gilbert menatapku dengan mata disipitkan dia tidak jadi bilang deengan satpam tentang semua kejadian ini. Kami berdua bangun dibantu Pak Satpam.
"Hey, kalian tidak apa-apa? Seperti anak kecil saja! Jangan berlarian di dalam ruangan!" Satpam tersebut memperingatkan.
Saya hanya tersenyum nakal dan mengacungkan jari telunjuk menutupi bibir merahku pertanda agar Gilbert tidak memberitahukan satpam tentang kejadian yang baru saja ia saksikan. Saya sendiri pun masih shock akan kejadian yang terjadi padaku.
Gilbert membuang muka dan pergi begitu saja. Tampaknya dia tidak akan membocorkan rahasia ini jadi kubiarkan saja dia pergi.
Kalaupun dia mau membocorkan rahasia ini, dia tidak punya Bukti. Saya kembali ke ruangan Badminton dan menceritakan semuanya. Mas Rudi hanya tersenyum layaknya seorang maskulin yang berwibawa. Saya memintanya agar kami tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Mas Rudi tidak menjawab ia hanya menawariku mau tidak mulai latihan. Saya menganggukan kepala. Dan saya terus latihan sampai sore tiba.
Latihan tetap saya lanjutkan kadang hari saya merelakan lapangan untuk kakak saya kadang untuk pemain lain, tetapi kalau selagi sepi kami serius latihan. Dan semakin hari teknik bermainku semakin bagus dan mantap.
Suatu hari kemudian, saya berjumpa lagi dengan Gilbert. Ia sudah lama tidak masuk klub Badminton sejak peristiwa itu. Ia datang seperti biasanya dengan angkuh. Akhirnya pertama kali ia melakukan percakapan dengan saya..
"Oi Joe ingusan! Saya sudah mendapat video rekaman pada hari "H" kamu dengan Mas Rudi." Ia berkata demikian membuat saya dan Mas Rudi amat terkejut. Mas Rudi membujuk agar video tersebut diserahkan kembali kepada kami tetapi dia menolak.
"Jadi apa maumu?" Ucap saya memberanikan diri.
"Sebuah single match antara aku dan kamu! Di lapangan ini." Ucapnya dengan berlagak.
Saya tidak yakin kalau saya akan menang karena saya tahu Gilbert bukan pemain yang kacangan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima tantangannya.
Mas Rudi sedang berada di posisi wasit. Saya yang mulai menservis shuttle cock. Servis saya berhasil dibalasnya, saya kewalahan menerima sentakkan dari pukulan-pukulan Gilbert yang kecang dan mantap tetapi saya masih bisa menahan dan membalas shuttlecock yang dia kirim ke saya. sampai akhir sesi pertama saya kalah 10-4. Saya mulai putus asa. Tapi Mas Rudi tetap memberiku dukungan.
"Terimakasih Mas Rudi, dukunganmu sangat saya perlukan sekarang." kata saya, Mas Rudi hanya menebar senyum pesonanya.
Senyumnya membuatku semangat lagi, stamina saya kembali stabil dan saya siap berjuang lagi.
Pertandingan ke dua dimulai, saya semakin oke dan stabil. Dan kulihat Gilbert yang semakin kewalahan, saya berhasil melakukan smash sebanyak 3 kali berturut-turut. Ia telak tapi saya masih kalah banyak. Menjelang penutupan sesi ke dua hari semakin sore dan semakin banyak orang yang berkumpul untuk menyaksikan kami. Saya dibuatnya kewalahan karena saya semakin lelah.
Tetapi saya masih bisa mempertahankannya. Hasil pertandingannya sesi kedua saya berhasil menang 8-6. Menuju sesi terakhir, saya bisa melihat banyak orang dari berbagai klub berkumpul dan menyaksikan. Mereka memberikan support pada kami. Mas Rudi yang saya sayangi, selama saya latihan, status kami selain guru-murid, kami juga seorang kekasih..
Tapi kami tidak melakukan hubungan seksualitas lagi karena takut ketahuan oleh orang lain dan akhir-akhir ini tentang penyebaran Virus HIV/AIDS yang gencar menghantui saya, tapi saya tidak tahu apa yang dipikirkan Mas Rudi, ia memperlakukan saya layaknya seorang kekasih. Dan hubungan ini pun terus berlanjut.. Saya tidak ingin semua ini hancur berantakkan hanya
karena Gilbert yang nakal itu! Saya harus memenangkan pertandingan ini.
Sesi pertandingan ketiga dimulai. Gilbert memulai servis shuttlecock, pukulan-pukulannya semakin kencang dan dahsyat. Saya berusaha menangkisnya beberapa kali tapi gagal. Saya mulai panik, kulihat score-board, saya kalah 10-3, sungguh Hopeless.
Riuh ramai orang membuat konsentrasiku pecah. Walaupun sempat melakukan smash beberapakali saya masih belum dapat menutupi kekalahanku. Sekarang hasilnya 13-8. Saya sudah mulai putus asa.
Apakah cinta yang saya pupuk bersama Mas Rudi akan lenyap di meja hukum dan segalanya berakhir begitu saja. Saya tidak berani membayangkan masa depan seorang G A Y seperti saya bisa bertahan di meja hukum. Pikiranku mulai berdenyut dan hampir pass-out. Pritt..! Suara peluit Mas Rudi yang tak berdaya berbunyi, tanda sesi terakhir ini ditutup. Saya kalah telak. Mas Rudi mengangkat kedua tangan yang dilipat lemas pertanda tidak tahu apa yang akan dilakukannya lagi.
Gilbert menghampiri saya, "Permainan yang bagus, rekaman ini akan saya serahkan ke poltabes. Dan kalian akan berakhir". Saya shock berat. Jatuh terduduk melihat Gilbert yang jahat pergi keluar dengan lantang memecah keramaian, berangsur-angsur riuh ramai kembali tenang. Beberapa anggota klub semua bubar dan anggota klub badminton sendiri ada yang masuk dan ada yang pergi.
Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi. Antara saya dan Mas Rudi dan ..Gilbert. Ancungan jempol dari anggota klub lain sudah tak ada gunanya lagi. Mas Rudi menghampiriku untuk menghiburku, saya diam saja dan tidak memperdulikannya. Saya tidak mau memperdulikan apa-apa lagi. Yah, iya saya akan bunuh diri. Pikiran itu sempat terngiang di kepala saya.
Bunuh diri adalah solusinya, saya tidak bisa menanggung segala penderitaan ini lagi. Saya pulang ke rumah mengeluarkan sebuah pisau silet dari laci tempat tidur. Sebelum saya sempat melakukannya saya ingin mengatakan pada Mas Rudi saya sangat mencintainya walaupun dia tidak pernah mencintaiku saya tahu itu.. Dia hanya mencintai Gilbert, saya tahu itu. Gilbert juga mencintai Mas Rudi jadi dia melakukan segala ini untuk menjebakku, dia ingin menyingkirkan saya dari percintaan segitiga ini.
Ding.. Dong.. Suara bel rumah berbunyi. Malam-malam begini semua sudah tidur, masih juga ada yang datang. Saya pergi membuka pintu, ada yang mengirim pos. Surat yang berisi video saya buka. Saya tidak melihat pengirimnya. Pintu saya tutup, ada surat di dalamnya. Dan saya baca..
"Joe! Kamu memang menyebalkan. Kenapa kamu harus melakukan semua ini. Saya tidak mengirimkan video itu ke poltabes. Kenapa kamu yang dicintai oleh Mas Rudi, bukannya saya. Kamu memang beruntung. Malam ini saya akan berangkat ke HongKong bersama keluarga saya, saya doa'kan kamu dan Mas Rudi bisa hidup berbahagia."
NB: Dan begitulah akhir ceritanya. Terserah anda ingin percaya atau tidak, walau kosa-kata saya hancur-hancur karena saya tidak pandai menulis dan mendeskripsikan keadaan, sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan sebuah pesan.
"Wahai para GAY yang ada di mana saja yang sedang membaca artikel ini, tetaplah hidup sebagai seorang GAY, kamu tidak bersalah, kodrat kamu sudah GAY. Hidup sebagai seorang GAY memang lebih berat tetapi kita semua pasti bisa mempertahankan diri juga menjaga harga diri. Jangan buat kita dianggap rendah. Kita juga berhak untuk hidup, dan kita juga manusia!"

Tamat

Baru kusadari bahwa aku gay - 1



Cerita yang akan anda segera baca merupakan pengalaman yang benar-benar saya alami sendiri. Nama saya Joe umur saya 17 tahun (170/50). Sebenarnya banyak cewek yang bilang saya ganteng dan ingin saya menjadi pacar mereka, tetapi saya selalu
merasa enggan terhadap wanita. Hal ini baru kusadari mengapa..
Pada suatu sore, di lapangan badminton di salah satu klub olahraga di Jakarta. Saya sedang menunggu kakak perempun saya Eva(nama telah disamarkan), ia sedang menyelesaikan sesi terakhirnya dengan lawan tandingnya Lia(nama telah disamarkan). Saya di sana sebenarnya bukan untuk menonton pertandingan mereka yang membosankan itu tetapi saya berada di sana hanya untuk
menjemputnya.
Beberapa saat kemudian saya terpana, seorang lelaki yang tampan dan gagah mampir di depan saya. Saya bisa melihat gumpalan otot dada yang menonjol dari baju klubnya yang tipis. Ia menawari saya untuk bermain badminton dengannya. Saya menolak karena saya sama sekali tidak punya persiapan. Dengan gentlenya ia menarik tangan saya ke tengah lapangan, Ia memberikan saya setangkai raket dan shuttlecock. Rupanya saya diminta untuk melakukan service. Saya gugup karena sudah lama sejak saya terakhir kali bermain badminton. Kakak saya dan Lia sedang duduk kecapekan di bangku, hasil pertandingan mereka seri. Entah kenapa tiba-tiba pipi saya yang putih merona merah ketika saya menatap wajah pria tampan itu.
Kupukul shuttlecocknya beberapa kali tetapi meleset. Ini membuat saya tambah tengsin saja. Saya menundukkan kepala sambil berjalan menuju pria tersebut. "Saya menyerah" ucapku. "Tak apa-apa, apa kamu mau latihan bersama saya, kapan-kapan?" ujar cowok cakep ini dengan tersenyum manis. Ini membuat jantungku berdebar-debar. Saya hanya mengangguk-anggukan kepala saya.
"OK, baiklah. Nama saya Rudi." ucapnya lugas. "Kapan kamu punya waktu untuk latihan?". Saya spontan menjawab, "Be..Besok!"
Hanya dalam beberapa saat kami sudah tenggelam dalam obrolan kecil yang akrab. Tapi pembicaraan kami dipotong.
Eva, kakak perempuan saya memukul-mukul bahuku. "Oi Joe.. Antar kakak pulang dulu nih, udah sore. Besok ada ujian sosiologi nih." ucapnya mendesah karena kecapekan. Saya mengiyakan. Saya berpamitan dengan Mas Rudi dan segera menuju pelataran parkir di luar gedung. Saya membonceng kakak saya pulang dengan sepeda motor. Dalam perjalanan pulang, yang terngiang-ngiang dalam benakku hanya wajah innocent Mas Rudi.
Di rumah, saya menanyakan banyak pertanyaan ke Eva tentang Mas Rudi. Rupanya Mas Rudi ialah senior klub badminton. Ia sedang merekrut personil-personil pria baru untuk bergabung dengan klub badminton tersebut. Kupikir ini adalah kesempatan yang pas buat saya untuk sering-sering bertemu Mas Rudi. "??" tiba-tiba saya merasa aneh dan bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Apakah saya tertarik pada Mas Rudi? Apakah saya suka padanya? Kenapa perasaan ini belum pernah saya rasakan pada wanita - wanita yang lain? Tanpa terasa hari semakin gelap dan saya sudah merentangkan tubuhku yang kurus di tempat tidur. Jantung saya berdetak-detak. Saya kembali mempertanyakan diriku. Pertanyaan yang benar-benar menentukan garis hidupkku..
APAKAH SAYA INI SEORANG GAY?! Pertanyaan ini menghantuiku dan membuat saya semalaman nggak bisa tidur, saya memaksakan diriku untuk berkata saya bukan seorang G A Y tetapi ketika terbayang wajah Mas Rudi, saya tidak berdaya. Saya ingin bersamanya, merasakan kehangatan tubuhnya yang mempesona.
Riuh burung-burung yang bersiul membuka cakrawala pagi. Saya berangkat ke sekolah seperti biasanya dengan angkutan umum. Di sekolah, saya ditegur guru-guru karena seharian kerjaku melamun saja. Lamunan tentang Mas Rudi tentunya. Setelah pulang sekolah, saya langsung berganti pakaian dan datang menuju klub badminton siang-siang bolong. Saya berharap bisa langsung ketemu Mas Rudi. Tetapi harapanku sia-sia. Sesampainya di sana, ruang badminton masih kosong. Saya duduk di bangku di ruangan
tersebut. Menunggu dan terus menunggu. Kutatap raket Badminton di Kabinet, saya mengambil satu beserta shuttlecocknya.
Saya memegang pegangan raket badminton dengan posisi Shakehand. Shuttlecocknya saya lambungkan ke udara dan disusul pukulan dasyat dari net raketku. Yes. Saya berhasil. Plok! Suara keras terdengar. Rupanya Shuttlecock tersebut menghantam hidung-? Hidung seorang pria, ia kesakitan. Saya memicingkan mata. Kulihat sosok seorang yang sepertinya pernah kulihat. Rupanya dia Mas Rudi! Saya amat bahagia. Saya segera menghampirinya dan menyapanya.
"Halo, mas. Sa..saya sudah siap dengan latihannya!" Mas Rudi menatapku dengan alis yang menungkik ke atas.
"Oh.. Joe yah kupikir siapa. Masih siang sudah gila latihan yah?" ia berkata sambil tersenyum
"Ah, nggak kok." Saya membalas, di belakang Mas Rudi ada seorang pria yang seumuran saya. Ia berjalan ke depan. Saya risih melihatnya, wajahnya yang congkak dan selalu memandang rendah saya.
"Ah-Kebetulan sekali, mari saya perkenalkan, Joe-Ini Gilbert(nama telah di samarkan), Gilbert ini Joe." Ucap Mas Rudi.
Saya mengulurkan telapak kanan saya untuk bersalaman tetapi Gilbert dengan angkuhnya membuang muka. Saya amat kesal sekali.
Mas Rudi hanya tersenyum.
"Joe, kamu akan mulai latihan begitu Gilbert selesai." Ucap Mas Rudi lagi, ini membuatku tambah kesal. Mas Rudi menggengam bahunya dengan erat dan menuju tengah lapangan. Entah kenapa perasaanku nggak begitu enak. Pertandingan pun dimulai. Beberapa
pertanyaan menghantuiku lagi, apakah ini yang namanya jealous. Melihat tampang Gilbert yang riang gembira bersama Mas Rudi saya nggak tahan dan ingin menghajar anak congkak itu. Tapi menahan kesabaranku. Beberapa pukulan shuttlecock yang berlalu lalang, tampak mereka memang pemain yang sudah tangguh dan berpengalaman. Saya tidak bisa memungkirinya. Tanpa terasa sudah setengah jam berlalu, Gilbert pun berpamitan dengan Mas Rudi. Kini ruangan ini benar-benar tinggal kita berdua saja.
Atsmosfir terasa sesak, Mas Rudi sedang beristirahat dengan duduk di bangku sebelah saya. Keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Tanpa terkecuali celananya. Saya mencuri pandangan, memberikan diri melihat-lihat dan melongo ke arah celananya. Terutama di tempat kegagahan itu tertidur.
Kurasa Mas Rudi menyadarinya, tapi dia hanya cuek dan memijati otot-otot biseps dan trisepsnya saja. Entah kenapa saya tiba-tiba ingin melontarkan pertanyaan ini tapi saya tidak kuasa menahannya, "Apakah saya boleh membantu memijati lengan Mas Rudi?". Ia hanya tersenyum pertanda mengiyakan. Saya amat bahagia. Kuangkat lengannya yang padat berisi. kuusap bisepsnya dan
kumulai pijit-pijit bagian trisepsnya yang berisi otot. Ia hanya memejamkan mata kurasa ia merasakan nikmat. Entah kenapa ia berbalik menatapku, ia merasa sudah cukup. Ia berterimakasih. Ia menatapku lagi dengan mata yang menihir. Jantung saya berdegup gencang.
"Saya ingin membuat pengakuan terhadapmu." Ujar Mas Rudi. Saya hanya terbengong.
"Kamu sungguh-sungguh ingin bergabung dengan klub ini bukan?" tanyanya. Saya mengangguk-anggukan kepala.
"Mas ini homoseks." semburnya. Saya tersentak kaget.
"Apakah kamu masih ingin bergabung dengan klub ini?"tanya Mas Rudi.
Saya terbengong dan melongo.Saya tidak percaya, God. Mas Rudi pasti hanya mengerjaiku, tapi saya nggak bisa mengontrol kata-kata yang akan saya ucapkan ini.. karena saya ingin Mas Rudi mengetahuinya.
"Mas Rudi saya juga merasa saya ini seorang.. G A Y. Saya.." sebelum saya bisa mengucapkan lebih lama, ia meniduri celana pendek yang menutupi penisku. Saya amat shock. Ia mengelus-elus bagian (X)-saya. Saya tidak tahan, batang kemaluan saya berdiri tegak. Gawat, Mas Rudi pasti tahu dan.. Di luar dugaan, ia kemudian menatapku.
"Joe, bolehkah saya..?" Saya belum pernah melihat matanya seserius itu, ia terlihat amat terangsang begitu juga saya. Saya pun mengangguk-anggukan kepala. "I..i..iya."
Mas Rudi melepaskan celana pendekku. Dan meletakkannya di bawah lantai, Ia turun dari bangku dan berjongkok di hadapanku. Ia menjilat-jilati batang kemaluan saya yang dibungkus CD warna putihku. Sementara itu, Telapak tangannya mengelus-elus ke dalam T-Shirt ku, Ia mencari-cari sesuatu ternyata puting susuku dan iapun menggelitik-gelitiknya. Saya hanya dapat menikmati
permainan ini. Oh tidak Mas Rudi melepaskan CD saya, Penny14" ("=cm) saya terlihat berdiri tegak.Ia menelusuri hutan di sekitar penny saya dan mulai memasukkan mulutnya yang hangat ke dalam pennyku. dan kemudian mengulum-ngulumnya. Nikmatnya luar biasa, seperti akan fly. saya menjambak jambak rambut Mas Rudi yang ikal dan sayapun berdiri. Mas Rudi memaju mundurkan
kepalanya, permainan semakin panas.
Tiba-tiba suara decitan suara berjalan menghampiri ruangan.
"Saya lupa mengambil sepatu Kets saya". Ujar Gilbert. Ia menjatuhkan raket badmintonnya ke lantai. Dan berlari menuju ke luar ruangan. Ia tampak amat pucat begitu pula dengan saya. Saya segera mengenakan kembali CD kemudian celanaku dengan tergesa-gesa, Mas Rudi hanya duduk di lantai dengan gelisah. "Gawat Mas Rudi, Gilbert akan memanggil satpam dan kita akan berakhir!". Mas Rudi hanya terdiam dan tersenyum. Gila! Semuanya gila! saya pun menuju ke luar ruangan berusaha mengejar Gilbert.

Bersambung . . . .

 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com