Menampilkan entri yang lain dengan label Tukar Pasangan. Tampilkan entri lawas
Menampilkan entri yang lain dengan label Tukar Pasangan. Tampilkan entri lawas

Minggu, 26 Oktober 2008

Perselingkuhan ibuku - 2



Besok sorenya, lagi-lagi aku mandi di sungai bareng Akbar.
"Tadi malam kemana lo?" pancingku.
"Biasalah, tugas." Jawabnya.
"Tugas apa?"
"Nyari uang-lah. Ada Ibu yang gatal pengen ku entotin, kan lumayan uangnya."
"Memangnya berapa Ibu sih yang biasa kau entotin?"
"Cuma satu kok."
"Dimana ngentotnya?"
"Kau ini mau tau aja. Rahasialah."
"Ya, bagi-bagi pengalaman kenapa sih."
"Kecuali yang ini, bahaya."
"Kapan kau ajak aku ketemu sama temanmu yang bias dipake?"
"Malam minggu ini aja, gimana?"
"Malam ini aja."
"Nggak bisa, aku masih ada tugas."
"Tugas lagi, sama Ibu itu?"
"Iya, nafsunya gede lo, makanya suka nggak puas, tadi malam aja aku nggak sempat orgasme kok, mau ngelanjutin malas, nggak bawa pelicin sih, aku mau ngentotin pantatnya, kalo memeknya udah blong, nggak enak. Makanya begitu dia kelar, aku selesai juga."
"Nanti malam dimana?"
"Ya ampun, ya rahasialah, nanti kau ngintip pula."
"Ya udah."
Lalu kami mandi berdua, telanjang, kuperhatikan kontolnnya yang sering diisap Ibuku.

***

Malamnya aku udah bersiap-siap dengan kamera. Jam delapan aku udah masuk kamar. Jam sembilan malam kudengar suara telepon, mungkin itu dari Akbar pikirku. Setengah jam kemudian kudengar lagi pintu belakang dibuka. Aku pikir mereka mau melanjutkan yang tadi malam di pondok. 5 menit setelah ibuku keluar, aku langusng keluar dengan menenteng kamera.

Tapi di pondok tidak kudapati suara-suara maupun cahaya lilin. Aku ke belakang pondok dan melihat nyala senter di kejauhan. Aku tahu itu jalan menuju ke sungai yang melewati sawah dan kebun. Aku langsung bearnjak mengikuti cahaya itu. Untung malam purnama, jadi aku masih bisa melihat jalan. Aku semakin dekat dengan cahaya itu, kulihat Ibuku jalan sendiri, mungkin Akbar menunggu di suatu tempat. Tapi dimana, aku juga masih bingung. Mungkin di salah satu pondok di sawah. Semakin dekat ke sungai setelah melewati sebuah kebun membuat aku semakin bingung. Mau apa mereka di sungai?

Jalan itu terus ku lalui, itu jalan ke sungai tempat aku dan Akbar mandi sore. Lalu kulihat Ibuku turun terus ke sungai, aku mengambil jalan lain dan mengintip dari atas. Kulihat ada nyala rokok di bawah, lalu nyala senter. Ibuku dan Akbar. Ternyata di rumput di pinggir sungai sudah ada sebuah tikar dan Akbar tengah duduk disana. Ibuku langsung menghampiri. Aku beranjak lagi sedikit ke timur supaya dapat melihat dengan jelas. Jarakku dengan mereka Cuma sekitar 6 meter. Untung suara air meredam suara derak kayu yang kuinjak.
Akbar memakai celana pendek, sedangkan Ibuku seperti biasa memakai daster.

Bulan diatas membuat segalanya terlihat jelas dan terang. Mereka mengobrol pelan.
"Jangan-jangan anakmu tahu tentang hubungan kita." Kata Akbar.
"Kok bisa?" Tanya Ibuku.
"Yah siapa tahu aja, dia kan sudah dewasa, mungkin logikannya bisa sampai kesana, apalagi waktu malam di pondok itu aku mendengar langakh-langkah orang."
"Kalau dia tahu, kenapa dia nggak bilang?"
"Mungkin dia takut, atau malu."
"Udah ah, nggak usah bahas itu." Kata Ibuku manja sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Akbar. Akbar mengelus rambut Ibuku sambil membuang rokoknya.

Lalu dia membaringkan tubuh Ibuku di tikar, dia terbaring disampingnya. Lalu Akbar mulai mengulum pelan bibir Ibuku yang membalasnya pelan. Tangan akbar bergerilya di payudara dan vagina Ibuku. Dasternya ditarik hingga terlihat CDnya. Tangan Akbar merogoh dan mengelus-elus vagina Ibuku yang masih dibalut CD. Cumbuan akbar turun ke leher dan sekitar kuping dalam Ibuku yang melenguh pelan. Rmabut Akbar diremas-remas.
Cumbuan Akbar turun ke payudara Ibuku yang dilapisi daster, terus turun ke bawah, tangannya menyingkap daster Ibuku dari bawah ke atasa, ibuku sengaja mengangkat badannya hingga Akbar dengan mudah membuka seluruh daster lepas dari Tubuhnya.

Kini Ibuku Cuma memakai CD dan Bra saja. Akbar membuka baju kaos dan celananya sekaligus menyisakan CD yang penisnya seolah sudah mau mneyeruak keluar. Lalu dia mencumbu kaki Ibuku pelan, menciuminya kearah atas dan bagian dalam Paha Ibuku. Semakin kedalam membuat Ibuku menggelinjang pelan. Melenguh pelan. Kaki Ibuku satu diangkat akbar dan diciuminya sampai ke pangkal paha. Sesekali digigitnya paha Ibuku. Lalu Akbar menggigit CD ibuku dan menariknya hingga terbuka lepas dari kaki.

Akbar berlutut dihadapan Ibuku dan menarik kedua kakinya hingga selangkangan Ibuku menempel di selangkangannya yang menggumpal. Akbar mengeluarkan penisnya dari CD dan menggesek-gesekkannya ke vagina Ibuku pelan. Dengan kepala penis dia memainkan klirotis Ibuku. Ibuku mencoba menyodok penis Akbar, namun akbar memang sengaja Cuma menggesek-gesekkan saja.

Aku sudah membuka celana pendekku hingga penisku muncrat keluar. Kamera dan tripod sudah stand by. Sesekali aku memotret pose mereka dan setelah itu sibuk dengan penisku sendiri.

Setelah itu, Akbar menjilati vagina Ibuku yang sudah basah, semakin membuat dia menggelinjang dan mengerang hebat.

"Akbarr.. hhmmhhmm.." erangnya membuat Akbar semakin binal. Lidahnya dijulurkan kedalam vagina Ibuku sementara tangannya meraih payudara. Setelah puas dan Ibuku terlihat hampir orgasme, giliran payudara yang dikulum Akbar. Putting susu ibuku dijilati dan diemut perlahat. Sesekali digigit dan ditarik keatas. Lalu kembali mereka berkuluman mesra. Penis Akbar yang sejak tadi sudah keluar dari CD, menempel di perut Ibuku.
Akbar beranjak dari tikar, berdiri dan membuka CDnya, lalu berjalan ke arah sungai, diikuti Ibuku yang membuka Branya lalu jalan telanjang ke arah sungai.

Akbar menceburkan dirinya di sungai yang dalamnya cuma sebatas lutut itu. Lalu duduk disana menunggu Ibuku yang berjalan kearhanya. Ibuku menceburkan dirinya juga di dekat Akbar. Setelah sama-sama basah, Akbar memeluk Ibuku, mereka saling berhadapan. Ibuku duduk diatas paha Akbar. Aku membayangkan penis Akbar yang menempel di selangkangan Ibuku di dalam air dan membayangkan sensasi badan mereka yang basah dan licin.

Mereka saling berkuluman sambil tangan masing-masing bergerilnya di berbagai tempat. Ibuku mencondongkan tubuhnya ke belakang saat Akbar mencumbui perut dan payudaranya. Lalu akbar membalikkan posisi. Dia berada di belakang Ibuku dan meremas payudaranya dengan mesra sambil mencumbui leher belakang Ibuku. Tangan Akbar meremas-remas payudara Ibuku dengan geraka memutar dan sesekali mencubit pentilnya. Satu tangan memainkan klirotis Ibuku di dalam air.

Mereka berbalik lagi, Akbar berlutut dihadapan Ibuku hingga penisnya terlihat jelas, Ibuku mengerti, lalu meraihnya dan mengelus pelan sambil menjilati bibir Akbar. Lalu cumbuan terus turun ke leher dan dada Akbar yang bidang menuju penisnya yang menantang. Ibuku menunduk dan menjilati kepala penisnya yang merah kecoklatan.

Seperti menjilati es krim, sesekali buah pelir Akbar diisapnya pelan. Akbar mencengkeram rambut Ibuku. Lalu pelan Ibuku memasukkan seluruh penis Akbar kemulutnya dan Akbar mulai mengocoknya pelan. Pinggulnya digoyang-goyangkan. Ibuku memegangi pinggang Akbar. Kupandangi wajah Akbar yang menikmati kuluman.
Lalu dia melepas penisnya dari mulut Ibuku dan menuntun Ibuku berjalan ke pinggir sungai yang agak tinggi. Lalu ibuku dituntun untuk duduk disana, lalu kudua kakinya.

***
3 hari sesudah kejadian di sungai, Ayahku pulang. Karena libur, aku dan adikku biasanya bangun jam 9 atau jam 10 pagi setiap hari. Tapi hari itu aku kudu bangun pagi karena mau pergi jalan-jalan barengan temanku termasuk si Akbar. Makanya jam 5 pagi aku terbangun dan langsung mau mandi. Kamar mandi rumahku dekat dengan dapur.

Waktu aku mau melewati dapur kulihat ibuku sedang masak, sementara ayahku ada dibelakanganya sedang memeluk Ibuku yang menghadap meja, mungkin sedang mengoles roti, mereka membelakangiku. Kulihat ayahku menciumi tengkuk Ibuku dan tangannya memeluk dan sepertinya meremas payudara Ibuku. Aku langsung mengambil posisi yang enak untuk mengintip kelanjutan kegiatan mereka.

Kudengar suara kecupan-kecupan ayahku di leher dan tengkuk ibuku. Lalu Ibuku berbalik dan mereka berciuman dengan liar. Tangan ayahku meremas kedua belah payudara ibuku yang hanya memakai daster. Tangan ibuku masuk ke dalam celana pendek yang dipakai ayahku dan meremas bokongnya.

Mereka terus berciuman, ayahku menciumi leher ibuku sambil tangannya masuk ke selangkangan ibuku yang dasternya diangkat keatas. Lalu ayahku menarik daster ibuku ke bawah hingga nampak payudaranya menggantung dan langsung dilahap ayahku. Putingnya dijilat dan dihisap membuat ibuku menggelinjang kegelian. Mulutnya mendesah-desah sementara tangannya meremas rambut ayahku yang semkain ganas manciumi perut ibuku dan terus turun ke selangkangannya yang juga ternyata nggak pake CD. Ayahku melahap vagina ibuku sambil tangannya meremas payudaranya.

Lalu ayahku berdiri dan mengambil selai kue dari meja dan mengoleskannya di vagina ibuku, kemudian menjilatinya pelan. Ibuku semakin menggelijang hebat.
Ayahku menarik semua daster dari tubuh ibuku dan menaikkan tubuh ibuku ke meja, lalu mengangkangkan kakinya. Ia sendiri membuka celana pendek yang dipakainya, lalu CD putih yang sedikit basah diujung penisnya. Penis ayahku hitam kecoklatan dan nggak terlalu besar, masih besar punya Akbar dan punyaku juga.
Ibuku memegang pundak ayahku waktu ayahku mendekat dan mencoba menusukkan penisnya ke vagina ibuku yang kakinya mengangkang.

Lalu pelan ayahku mulai mengocok penisnya pelan. Tubuh mereka bergoyang-goyang, juga meja. Sambil menggoyang, ayahku memegang paha ibuku dan sambil menjilati payudaranya yang terguncang-guncang. Tangan ibuku menumpu ke belakang. Tubuhnya terguncang-guncang oleh goyangan pantat ayahku di selangkangannya. Ia mendesah-desah.

Lalu tiba-tiba kaki ibuku memeluk tubuh ayahku yang terus menggoyang-goyang, ibuku memeluk ayahku dan ayahku sepertinya tahu kalau ibuku mau orgasme, lalu dia menghentikan kocokannya dan menciumi bibir ibuku pelan. Mereka berciuman, namun kali ini pelan dan penuh perasaan. Lalu ayahku menggendong tubuh ibuku dan membawanya ke ruang tamu, aku cepat-cepat sembunyi di balik tirai supaya tidak ketahuan.

Ayahku lalu duduk di sofa dan membiarkan ibuku naik ke pangkuannya. Aku melihat pemandangan itu dari posisi samping, hingga bias kulihat jelas waktu penis ayahku masuk ke vagina ibuku.

Dengan posisi saling memangku dan berhadap-hadapan, ibuku menggoyangkan pantatnya di atas ayahku yang sibuk menjilati payudaranya. Tangan ibuku menumpu pada pegangan sofa, ayahku memegani punggung ibuku dan mengusap-usapnya. Ibuku terus mengocok vaginanya di penis ayahku sambil melenguh dan mengerang.
Goyangan ibuku semakin kecang dan membuat ayahku melenguh keras dan menggigit payudara ibuku yang tepat dihadapannya.

Lalu tubuh ibuku mengejang dan dia menjerit tertahan, lalu kocokannya berhenti. Ternyata dia sudah orgasme. Tapi ayahku belum. Ibuku bangkit dari tubuh ayahku dan duduk disampingnya. Lalu menunduk dan mengulum penis ayahku yang masih tegak. Ayahku mengangkangkan kakinya, ibu pindah ke bawah kursi persis diantara kedua kaki ayahku.

Bersambung...

Perselingkuhan ibuku - 1



Sudah lebih satu tahun aku kuliah di Yogya sejak tahun 2001 lalu dan liburan semester kemarin aku berkesempatan pulang ke daerah asalku di sebuah kota kecil di Sumatra.
Di rumah hanya tinggal aku, kedua orang tua dan adikku yang masih sekolah si SMU. setiap hari ayahku sibuk usaha. kadang-kadang pergi seminggu dan cuma beberapa hari dirumah, itupun cuma sebentar saja.

Aku tidak pernah menyangka kalau ibuku termasuk perempuan yang libidonya tinggi, hingga dengan seringnya ayahku pergi, jelas nafsunya tak tersalurkan. Aku tahu, ayahku juga punya pacar di kota-kota yang sering disinggahinya, karena aku pernah pergi dengannya beberapa hari dan malamnya aku tahu dikamar sebelahku (yang diinapi ayahku) terdengar suara-suara erangan. Paginya aku masuk ke kamar ayahku dan mendapati mereka tengah mandi sambil bercinta.

Kembali ke masalah Ibuku, sejak seminggu aku tiba dirumah, ayahku sedang pergi ke luar kota. Malamnya aku pergi dengan beberapa temanku, kebetulan malam itu malam minggu. Adikku juga pergi ngapelin pacarnya. Ibuku tinggal sendirian di Rumah.

Belum jam 9 aku memutuskan untuk pulang ke Rumah untuk menemani ibuku. Perlu ku jelaskan rumahku ada disebuah desa yang penduduknya tidak terlalu banyak. Dekat rumahku ada sebuah sungai dan dikelilingi sawah. Rumahku dikelilingi tembok setinggi 2 meter di samping dan belakang.

Setibanya di rumah, aku mendapati pintu depan dikunci. Aku lalu berjalan ke belakang, tapi begitu tiba disamping kamar ibuku kudengar suara-suara orang bercakap-cakap pelan. Ada suara laki-laki. Kupikir ayahku sudah datang. Tapi kudengar suara itu suara laki-laki yang ku kenal dan bukan ayahku. Aku berjalan mendekati jendela kaca lebar yang tertutup gorden putih. Lampu didalam remang-remang. kucoba mencari celah gorden untuk melihat kedalam dan kutemukan di tengah pertemuan antara dua gorden.

Aku lalu jongkok sambil mengintip ke dalam. kulihat ibuku sedang ngobrol mesra dengan laki-laki muda yang sudah sangat ku kenal karena dia temanku. Namanya Akbar. Dia anak tetanggaku yang putus sekolah karena orang tuannya miskin. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa menjalin affair dengan Ibuku, tapi yang ku tahu kontolnya besar dan cokelat. Aku pernah beberapakali mandi telanjang di sungai waktu SMU sama dia dan beberapa teman sambil onani dengan sabun mandi. Kami berteman akrab dengan orang lain dan pernah mengurutkan ukuran kontol yang paling besar. Akbar, aku, Iwan dan Adi.

Kulihat mereka berhenti bercakap-cakapa sambil pelan Akbar mencium bibir Ibuku (usia ibuku sekitar 40 tahun). Ibuku membalas pelan dan merek terlihat romantis sekali. Tangan Akbar meremas payudara Ibuku yang masih terbalut daster merah yang bertali. Tangan Ibuku mengelus-elus kontol Akbar yang terbalut celana jeans. Tosisi mereka terbaring berhadap-hadapan. Akbar dan Ibuku saling menjulurkan lidah dan menghisap lidah dan bibir masIng-masing sambil tangan terus bergerilya. Tangan Akbar sudah masuk ke daster Ibuku yang talinya sudah merosot dan menampakkan payudaranya yang dibalut BH. Lalu Akbar pelan menurunkan ciumannya ke leher Ibuku sambil tangannya melepas kait BH. Dengan mulut dia melepas kait BH dari punggu Ibuku hingga menampakkan payudaranya yang mulai kendor.

Ibuku terduduk dengan bersandar di ujung ranjang. Akbar membuka baju kaosnya dan duduk disamping kanan Ibuku sambil terus menciumi payudara dan meremas vaginanya. Baju ibuku sudah turun sampai paha, ternyata dia sudah tidak Pakai CD. Vaginanya terus dielus-elus oleh Akbar. dia menggelinjang dan mengerang-erang pelan sambil tangannya mencari-cari penis Akbar. Tangannya mencoba membuka celana jeans Akbar yang bagian depannya sudah menyesak menggumpal. Akbar menghentikan ciumannya dan turun dari ranjang. Di depan ibuku yang meraba-raba vagian dan payudaranya sendiri, Akbar membuka celana Jeansnya, meninggalkan CD putih yang penisnya sudah menyeruak keluar dan sedikit berlendir.

"Ayo, sayang" erang Ibuku pelan. Akbar berjalan dan naik lagi ke kasur, kali ini dia berlutut disamping ibuku dan membiarkan Ibuku mengeluarkan penisnya dan bermain dengannya. Pelan ibuku mengeluarkan penis dari CD dan mengelusnya pelan, lalu Akbar bergeser kedepan, persis di depan Ibuku. Lidah Ibuku pelan menjilati penis Akbar yang tegang, hitam kecoklatan. Lidahnya menjilati ujung penis Akbar seperti makan es krim, lalu pelan-pelan memasukkan penis Akbar ke mulutnya. Akbar mengerang dan meremas rambut Ibuku yang terurai.

Pelan-pelan akbar menggoyangkan pantatnya dan membuat penisnya keluar masuk di mulut Ibuku yang duduk tegak dengan kaki mengangkang diantara tubuh akbar yang berlutut dihadapannya. Kulihat Akbar dan Ibuku begitu menikmati permainan mereka dengan erangan dan sentuhan.
Aku yang sejak tadi ngintip sambil jongkok kini berlutut dan mengeluarkan penisku dari sarangnya sambil mengelus pelan terus melihat adegan didalam kamar.

Kulihat Akbar mengerang sambil melepaskan penisnya dari mulut Ibuku dan mengocoknya hingga sperma muncrat di wajah ibuku yang menjilati penis Akbar.
Akbar lalu berbaring di ranjang, ibuku turun dari ranjang mengambil tissue dan melap penis akbar yang mulai lemas terkulai. Lalu ia beranjak ke kamar mandi dengan telanjang bulat.

Ibuku terbalut handuk waktu keluar dari kamar mandi dengan wajah bersih dari sperma sambil membawa segelas minuman dan mengangsurkannya ke Akbar.
Aku menghentikan kocokan di penisku dengan harapan show akan berlanjut.

Kulihat ibuku beranjak menghidupkan TV, suaranya terdengar sayup-sayup keluar dan kudengar suara rintihan dan erangan, langsung ku tebak itu VCD porno. Lima menit ibuku nonton sambil duduk di bibir ranjang. Akbar juga menonton sambil masih berbaring telentang. Sepuluh menit kemudian kuliahat penisnya mulai membesar lagi sambil tangannya mengelus-elus sampai ukuran maksimal. Lalu dia beranjak kebelakang ibuku dan memeluknya sambil menciumi punggu dan melepas handuk dan meremas payudara ibuku. Ibuku memeluk leher Akbar dari depan sambil berciuman. Akbar sambil terus mencium Ibuku beranjak turun dari ranjang dan menghadap ibuku yang masih duduk di pinggir ranjang, dia berlutut dihadapan ibuku dan mengarahkan wajahnya ke vagina ibuku.

Ibuku langsung mengangkangkan kakinya hingga akbar leluasa mengarahkan lidahnya ke vagina ibuku. Akbar menjilati vagina ibuku yang menggelinjang dan mengerang pelan. Ibuku semakin mengangkangkan kakinya dengan tangan menyangga tubuh di ranjang. Akbar terus menjilati dan mengulum vagina Ibuku sampai dia mau orgasme, terlihat dengan tubuhnya yang menegang dan ia memegang kepala Akbar yang berada diselangkanagnanya. Akbar melepas cumbuannya dan membiarakan Ibuku tenang dulu dengan menciumi bibirnya pelan dan mesra sambil merebahkan tubuh Ibuku di ranjang dengan kaki masih menjulur ke lantai. Penisnya menempel di paha ibuku yang memeluknya sambil mengelus punggung Akbar.
Aku juga diluar yang mengintip sambil onani nyaris orgasme, tapi kutahan untuk adegan selanjutnya yang kutunggu-tunggu.

Akbar masih mencumbu bibir Ibuku dengan mesra dan lembut, tangannya menopang pada kasur hingga tidak menempel di tubuh ibuku, penisnya digesek-gesekkan di sekitar selangkangan Ibuku. Akbar beranjak menuju meja rias dan mengambil sesuatu yang ternyata adalah cairan pelicin. Dia melumuri penisnya dengan pelicin dan juga vagina Ibuku. Lalu akbar berlutut di depan ranjang dan menarik tubuh Ibuku ke depan penisnya. Kaki ibuku mengangkang di bahu Akbar yang tengah memain-mainkan penisnya di liang vagina Ibuku. Setelah siap, Akbar menekan pelan penisnya memasuki vagina Ibuku yang merekah dihadapannya. Lalu setelah masuk semua, ia mulai mengocok penisnya di vagina Ibuku. Tanganya memegangi kedua paha Ibuku yang ada dipunggungnya. Akbar mengocoknya pelan dan romantis sambil tanganya coba meraih payudara ibuku.

Beberapa menit kemudian, Akbar mengepitkan kedua paha Ibuku dengan kakinya hingga kaki Ibuku ada di dalam kedua kakinya. Lalu ia bertumpu pada ranjang persis di hadapan ibuku. Penisnya mengarah ke Vagina Ibuku yang tertutup rapat dengan paha. Mungkin vagina Ibuku sudah lebar makanya dia coba dengan merapatkan paha supaya vaginanya merapat lagi. Dengan sebelah tangannya dia mengarahkan penisnya ke vagina Ibuku. Pelan dia menekan dengan kakinya tetap merapatkan paha Ibuku. Ternyata susah. Akbar meraih pelumas di samping ranjang dan melumuri vagina ibuku juga dengan penisnya, lalu kaki ibuku sedikit direnggangakan. Akbar kembali menekan penisnya di vagina Ibuku pelan. Setelah masuk setengahnya dia mengocok pelan-pelan, lalu memasukkannya semua sambil terus mengocok pelan.

Mulailah terdengar erangan dan dengusan nafas dari kedua orang tersebut. Setiap Akbar mengcok penisnya ke bawah Ibuku membalas dengan menggoyangkannya ke atas. Akbar memejamkan matanya sambil terus bertumpu pada kedua tangannya. Keduanya terus saling menggoyangkan pantat. Akbar pertama terlihat mau orgasme dan langsung mencabut penisnya dari vagina Ibuku. Lalu dia duduk di bibir ranjang. Ibuku bangkit dan berdiri dihadapannya. Akbar menarik tubuh ibuku dan menaikkannya ke pahanya dengan posisi berhadapan.

Ibuku mengarahkan vaginanya ke Penis Akbar yang memegangi tubuh ibuku. Setelah masuk, Ibuku kembali menggoyangkan pantatnya diatas tubuh Akbar. Ibuku senagaj mendorong tubuh Akbar hingga terbaring di Ranjang hingga dia bebas memegang kendali diats. Akbra meraih payudara Ibuku dan meresnya perlahan seirama dengan Kocokan pantat ibuku di penisnya.
Aku diluar semakin kencang mengocok penisku sendiri sambil kulihat ibuku mengerang hebat dan semakin mempercepat kocokannya. Lalu semakin melemah dan akhirnya berhenti. Tubuhnya jatuh di tubuh Akbar yang terbaring.

Akbar lalu membalikkan posisi mereka dan membalikkan tubuh Ibuku, lalu mengambil pelumas dan melumuri penis dan pantat Ibuku. Penisnya didorong pelan di lubang pantat ibuku pelan, lalu mengococknya pelan. Ibuku bangkit dengan posisi merangkak. Akbar semakin leluasa mengocok penisnya dengan memegani tubuh ibuku, sesekali dia merunduk dan menciumi punggung Ibuku dan meremas payudaranya.

Aku mencapai orgasme di luar begitu Akbar kocokan penis Akbar semakin kencang dan dia akhirnya sampai klimaks juga. Mereka berdua terbaring di ranjang. Tangan Ibuku mengelus dada Akbar. Lima menit kemudian, Akbar berdiri dan beranjak ke kamara mandi. Keluar dari sana dia sudah bersih dan mengenakan CDnya, lalu buru-buru berpakaian. Ibuku berdiri dan menyelipkan selembar uang seratus ribu di kantongnya.

Besok sorenya aku diajak mandi di sungai sama Akbar. Sambil merokok dan ngobrol kami duduk di pinggi sungai sebelum mandi.
"Gimana cewek-cewek jogja". Tanya Akbar sambil membuka kaosnya.
"Biasa aja." Jawabku.
"Udah berapa yang kau perawani?"
"Belum adalah."
"Kenapa? Kan banyak yang bias dipake disana. Masak kalah sama aku yang disini, udah merawani 3 cewek, belum lagi Ibu-ibu yang gatal memeknya pengen kontol anak muda."
"Yang bener, kau udah pernah ngentot?" pancingku.
"hahauahaha.." dia tertawa."Udah biasa itu. Untuk apa punya kontol besar tapi nggak pernah nikam."
"Siapa aja cewek itu?"
"Rahasialah. Kalau kau mau, nanti aku kenalkan sama temenku yang pernah kuentoti juga. Gratis kok. Lagian kontol kamu kan lumayan gede, dia pasti suka."
"Kau pernah ngentot sama Ibu-ibu juga? Siapa?"
"Itu lebih rahasia lagi. Kalau cewek-cewek untuk kepuasan, kalau Ibu-ibu untuk uang. Mana enak ngentot sama Ibu-ibu, memeknya udah blong, susunya udah kendor."
Dia berdiri membuang puntung rokok dan membuka celana jeasnnya menyisakan CD yang membalut penisnya yang menggumpal di selangkangan sambil dielus-elus.
"Ini asset, harus dijaga dan dirawat." Katanya sambil membuka CD dan beranjak ke sungai mandi.

***

Tiga hari setelah malam itu, aku sedang nonton TV waktu kulihat Ibuku memanggil Akbar dengan kedok untuk memperbaiki Saluran kamar mandi yang rusak. Masih jam 4 sore.

Malamnya aku sengaja masuk kamar jam 8 malam dengan alasan capek. Adikku sedang pergi camping. Malam sekitar jam 10, aku yang sejak tadi terjaga mendengar pintu belakang dibuka. 5 menit tanpa ada suara. Aku keluar kamar dan tidak mendapati siapa-siapa di dapur. Waktu pintu belakang kubuka ternyata tidak terkunci. Aku melihat keluar dan melihat nyala senter diantara pohon-pohon yang ada di kebun belakang rumahku.

Aku tahu, Ibu dan Akbar janjian di pondok tempat penyimpanan kapas untuk kasur yang salah satu bisnis ayahku. Aku menunggu sampai nyala senter hilang dan aku keluar dari dapur menuju pondok itu. Kulihat Ibuku masuk ke pondok. Aku segera beranjak ke samping dan mencari lubang untuk mengintip ke dalam. Tak susah karena pondok ini memang dibuat seadanya. Kudengar suara laki-laki didalam. Lalu sebuah lilin menyala menerangi ruangan itu. Kulihat Akbar yang mengenakan jeans dan kaos. Sementara Ibuku Cuma memakai daster yang bertali di pundak.

"Halo sayang." Kata Akbar sambil duduk diatas kasur yang siap dijual bersandar pada kasur yang ditumpuk dibelakanganya. Ibuku ikut naik ke kasur dan duduk di sampingnya.
"Rindu sama ini?" lanjut Akbar sambil mengelus penisnya. Ibuku tersenyum sambil merebahkan kepalanya di dada Akbar yang langsung memeluk dan mengelus rambut ibuku.
Tanpa banyak bicara Ibuku langsung mengelus penis Akbar. Akbar membiarkan ibuku membuka resliting celananya.
"Sebentar." Kata Akbar sambil mengambil sebuah buku dari samping kasur. "Ini buku gaya-gaya kamasutra, nanti kita praktekkan." Katanya sambil membuka halaman pertama. Ibuku ikut melihat sambil telungkup di kasur. Lama mereka membuka-buka buku sambil bercakap-cakap.

Akbar lalu berlutut dan pindah kebelakang ibuku yang telungkup. Kakinya dikangkangkan diantara tubuh Ibuku dan memijat punggungnya pelan. Lalu tangannya naik dan membuka ikatan daster Ibuku yang ternyata sudah tidak pakai BH. Akbar terus memijat punggu dan turun ke pantat sekaligus membuka baju Ibuku yang juga ternayata sudah tidak pakai CD, bokongnya diremas-remas Akbar pelan, bergerak kearah perut untuk menarik Baju. Ibuku menaikkan sedikit badannya untuk mempermudah melepas baju. Akbar langsung menarik daster Ibuku lepas. Sambil berlutut Akbar membuka baju kaosnya. Lalu dia rebah di punggung Ibuku, dadanya yang bidang digesek-gesekkan di punggung Ibuku, pantatnya nungging. Lidahnya menjilati leher belakang Ibuku dan punggungnya. Ibuku menaikkan badannya sedikit keatas sehingga Akbar leluasa meremas payudara ibuku yang menggantung. Ibuku melenguh pelan.
"Sayangg..mhhmmi..oohh"

Akbar menggigit punggung Ibuku yang membuatnya menggelinjang pelan. Lalu Akbar kembali berlutut dan membuka resliting celana jeasnya. Penisnya yang terbalut CD lalu digesek-gesekkan di pantat Ibuku yang kembali telungkup. Lalu Akbar menurunkan sedikit CDnya hingga penisnya muncul keluar. Coklat kehitaman. Tangannya menumpu pada kasur dengan tubuh telungkup membuat penisnya menempel di bokong Ibuku. Lalu penisnya digesek-gesekkan pelan di bokong Ibuku, kepala penisnya mengayun-ayun di tubuh Ibuku. Akbar merangkak naik dengan penis tetap digesekkan ditubuh ibuku yang telungkup, naik ke punggung lalu di leher penisnya digeser ke arah mulut ibuku yang sedikit mendongak. Ibuku langsung berbalik dan meraih penis Akbar yang menggantung tepat diatas mukanya.

Pelan Ibuku mulai menjulurkan lidahnya ke penis Akbar. Akbar memainkan penisnya di mulut Ibuku yang membasahi penis Akbar dengan air liurnya. Lalu Akbar memasukkan penisnya ke mulut Ibuku dan mulai mengocoknya pelan. Pantatnya digoyang-goyangkan pelan. Kulihat penis Akbar keluar masuk mulut Ibuku.

Tangan Ibuku mencoba membuka celana jeans yang masih membalut kaki Akbar, tapi ia kesusahan karena posisi Akbar yang mengangkangi badannya. Akbar mengerti dan melepaskan penisnya dari mulut Ibuku. Ia beranjak ke samping Ibuku berdiri dan membiarkan Ibuku melucuti celannya. Ibuku pelan menarik celana jeans Akbra ke bawah membiarkan CDnya tinggal dan membalut penis Akbar yang kepalanya sudah menonjol keluar dari CD.

Lalu Ibuku menciumi paha dalam Akbar yang masih berdiri mengarah ke atas ke selangkangan bagian dalam. Akbar mengangkangkan kakinya hingga Ibuku leluasa bergerak dibawahnya. Sedikit Ibuku menggigit buah peler Akbar yang masih terbalut CD, lalu Ibuku sedikit menarik CD hingga buah peler Akbar keluar. Ibuku menjilatinya pelan. Kulihat akbar melenguh pelan sambil memejamkan matanya menikmati jilatan Ibuku. Tangannya meremas rambut Ibuku.

Tanpa sadar tanganku sendiri sudah bergerilya di sekitar selangkangan. Aku Cuma memakai celana pendek hingga penisku yang sudah tegang terasa menempel di dinding pondok. Aku memelorotkan celananku sampai lutut dan membiarkan penisku menikmati udara luar sambil tanganku meremasnya pelan.

Didalam kulihat Ibuku menarik penis Akbar keluar dari CD dan menjilatinya pelan. Lalu memelorotkan CD akbar hingag ia berdiri bugil. Dengan ganas ibuku menjilati dan menghisap penis Akbar. Ia menggelinjang dan melenguh, badannya menggeliat pelan menikmati sensasi isapan Ibuku. Penis Akbar masuk perlahan di mulut Ibuku yang langsung menguncinya dan Ibuku menggerakkan kepalanya pelan mengocok penis Akbar. Akbar membalas dengan menggoyangkan pantatnya maju mundur. Tangannya memegangi pundak Ibuku.

"SSHhh..n ahh.. ohhmm.."
Ibuku semakin mempercepat kocokannya dan Akbar mengimbangi juga. Kulihat tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram bahu Ibuku dan tubuhnya sedikit menunduk.
"Ohh.." Goyangan pantat Akbar berhenti begitu juga kocokan mulut Ibuku. Penis Akbar lepas dan sperma langsung muncrat ke sekitar leher Ibuku.

Akbar terbaring di kasur, Ibuku mengambil tissue yang ternyata sudah tersedia disana juga sebotol air mineral. Ia melap sperma yang tumpah di lehernya dan memberikan air kepada Akbar sekaligus membersihkan penis Akbar yang layu penuh dengan sperma.

Mereka bedua masih telanjang dan berbaring bersebelahan. Kontolku yang sejak tadi tegang perlahan-lahan juga mengendur melihat aktivitas mereka yang masih ngobrol. Aku melihat jam tanganku. Pukul 10.30. aku memutuskan pulang sebentar untuk mengambil kameraku yang memang sengaja kusiapkan untuk mengabadikan gambar mereka.
Begitu kembali dari rumah kudengar didalam pondok suara erangan dan lenguhan juga derit papan. Aku buru-buru mengintip kedalam dan melihat Akbar sedang ngentotin Ibuku.

Aku buru-buru memasang tripod kamera dan mencari lubang yang lebih besar. Aku dapat lubang sebesar cangkir dan kameraku langsung mengarah ke dalam. Kulihat Ibuku tidur telentang dengan pantatnya ditumpu bantal, kakinya dipunggung Akbar yang berlutut dihadapan Ibuku. Penisnya menancap di vagina Ibuku dan mengocoknya dengan ganas. Langsung aku menjepret adegan itu. Sesekali Akbar menciumi Bibir Ibuku dan menjilati payudaranya, tangan akbar menumpu pada kasur, pantatnya terus mengenjot penisnya di vagina Ibuku yang menggelinjang dan mengerang-erang. Ibuku lalu merangkul bahu Akbar. Akbar menyesuaikan posisi dengan menjulurkan kakinya hinggak posisi mereka berganti, Akbar dibawah dan Ibuku diatas. Penis Akbar terlihat maksimal penetrasinya hingga bulu jembut mereka bersatu. Lagi-lagi aku mengabadikan posisi mereka. Ibuku langsung mengenjot vaginanya di penis Akbar.

Akbar merebahkan Tubuhnya dan Ibuku dengan leluasa mengatur gerakan diatas. Tangan Akbar meraih payudara Ibuku dan mengelusnya pelan. Sesekali putingnya dicubit membuat Ibuku menggelinjang sambil terus mengenjot. Kulihat genjotan Ibuku semakin kencang sekaligus erangannya semkin keras.

"MHhhmm.. oohh.."
Lalu genjotannya semakin pelan.
"Sayang..sayang..sayang.." igau ibuku yang tubuhnya lalu terbaring di atas tubuh Akbar.
Akbar mengelus punggu Ibuku dan pelan membalikkan Tubuh Ibuku lalu melepaskan penisnya yang basah oleh tumpahan air lendir vagina Ibuku. Akbar lalu menciumi payudara Ibuku yang masih terbaring lelah, lalu perlahan Akbar bangkit dan melap penisnya dengan Tissue, lalu berpakaian.

Diluar aku bahkan belum sempat onani. Lalu aku buru-buru beranjak pergi.

Bersambung...

Perselingkuhan 19 jam - 10



Dengan posisi memunggungi sang tamu, istriku rebah di pangkuannya dengan tangan-tangannya meraih leher lelaki itu. Dengan posisi macam itu hal yang paling gampang dilakukan sang tamu adalah merogoh blus, merangkulnya sambil tangan-tangannya memerasi susu putih lembut istriku.

Duduk berpangkuan macam itu memang tidak untuk diam, tenang. Duduk macam itu menuntut tubuh selalu bergerak merubah posisi agar keseimbangan tubuh terjaga. Istriku selalu menggeser pantatnya ke kanan atau kekiri atau maju atau mundur. Situasi macam itu, ditambah aroma parfum yang mengalirkan imajinasi erotis dari tubuh halus mulus, tangan yang menikmati empuknya buah dada perempuan haus, musik romantis sungguh menjadi katrol yang paling efektif untuk mendongkrak nafsu birahi si tukang madu. Dia menciumi ketiak istriku. Tangannya bergerak turun dan meremasi bibir vaginanya yang rasanya semakin mengencang.

Kontol lelaki itu tak bisa di tahan lagi. Celana pendeknya yang membuat terasa menjadi sempit dan menyakitkan dilepaskan kancing dan resluitingnya, sehingga barangnya langsung mencuat keluar menantang langit-langit ruang tamu. Istriku memang menantikan semua ini. Dia sigap turun dari pangkuan. Dia rebahkan tubuhnya untuk menjangkau dada lelaki itu. Bibirnya langsung menciumi dan menggigiti daging-daging gempalnya. Puting susunya disedoti dan jilat hingga kuyup oleh ludahnya. Lelaki itu mengerang-erang. Istriku semakin liar. Jilatannya naik ke ketiaknya. Hidungnya yang menyergap bau ketiak dia benamkan dalam cekungan berbulu milik sang tamu. Tak pelak lagi desah dan rintihan tukang madu bersahutan dengan desah dan suara-suara clup, clup, clup dari kecupan bibir istriku.

Mereka sudah memasuki ambang kenikmatan. Tangan kiri istriku memegang tongkat panas di selangkangan tukang madu dan mengocoknya. Daging panjang dan keras ini telah menjadi obsesi istriku yang mampu membuang kesetiaan pada suaminya yang telah dia pertahankan sepanjang lebih 20 tahun. Tetapi sekaligus yang juga membuktikan bisa memberikan kepuasan hingga menghadirkan 8 kali orgasme sejak 18 jam terakhir. Kali ini dia harapkan meraihnya kembali sebelum tukang madu ini pergi meninggalkannya.

Ya, 20 tahun dan 18 jam, sungguh tak bisa diperbandingkan. Selama ini orgasme baginya hanyalah semacam dongeng dari negeri tetangga, negeri teman gosip. Dia nggak mengimpikan untuk benar-benar meraihnya, mewujudkannya. Tetapi 18 jam terakhir ini .., sofa ini menjadi saksi, kamar mandi, dapur, kamar tidur, pakaian suaminya, makanan dari lemari es dan lainnya yang ada di dalam rumah ini bisa menjadi saksi. Orgasme itu bukan lagi impian. Orgasme itu telah menjadi kenyataan. Sekarang perselingkuhan istriku dengan tukang madu memasuki 19 jam. Mungkin dia akan meraihnya lagi hingga mencapai 10, 11 atau 12 kali sampai saatnya sang tamu pulang nanti.

Kali ini sang tamu sudah nggak bisa sabar. Dan inilah dambaan istriku, "lelaki yang menyerang". Diangkatnya tubuh istriku kepangkuannya menghadap punggungnya. Kulotnya yang telah lepas sejak tadi memudahkan lelaki ini menemelkan kepala kontolnya langsung ke lubang vagina istriku. Dan tidak terlampau sulit, bless.., kontol yang panjang itu langsung membenam. Dan istriku langsung merasakan adanya daging panas menembusi kemaluannya yang langsung saraf-saraf birahi dalam dinding vaginanya mencengkeram. Rasa kegatalan menjalar pada seluruh dinding itu. Dan saraf-saraf itu setiap kali memperketat cengkeramannya hingga sang tukang madu merasakan kontolnya seperti ditarik-tarik disedoti. Wwaadduuhh.., enak bangeett.., begitu yang dia desahkan.

Semua yang sedang berlangsung mendesak sang tamu untuk menyodoki kemaluan itu. Dari arah samping nyata banget bagaimana pantatnya berirama naik turun mengangkat beban pantat bahenol istriku yang juga demikian keenakkan hingga desahan dan rintihannya tak terbendung.

Genjotan yang terus menerus dan makin cepat mengocok dinding birahi dalam vagina membuat orgasme istriku hadir kembali untuk yang kesekian kali. Teriakkannya nggak bisa dicegah. Dengan wajah seperti kemasukkan setan, rambut yang awut-awutan dan tubuh yang terus menaik dan turunkan pantatnya mulutnya tak henti-henti meracau meneriakkan enaknya kontol lelaki itu.

Tapi kali ini sang tamu nggak lagi memberikan ampun. Pada kesempatan menjelang dia mesti keluar dari rumah ini dan kembali ke jalanan menjajakan madunya, dia justru mendapatkan dorongan nafsunya menggelora bagai gelombang tsunami yang menyerang pantai-pantai indah di lautan Teduh. Kontolnya terus dirangsang kegatalan yang amat. Dia masih jauh dari orgasmenya. Suara-suara istriku tidak menggoda untuk secepatnya menumpahkan air maninya. Dia terus memompa. Bahkan saat istriku meneriakkan tumpahnya cairannya, lelaki ini dengan cepat merubah posisi. Dia bangkit, istriku di tengkurepkan ke sofa kemudian ditindihnya. Tangannya langsung meraba kemaluan istriku untuk mengarahkan kontolnya kelubangnya. Dan kena. Kemudian kembali dia memompa. Cepat, makin cepat. Seluruh tubuh istriku bergoncang. Sofa itu juga bergoncang. Teriakan aduh-aduh istriku dia abaikan. Dialah sekarang yang kemasukkan setan.

Perilaku lelaki asing penjual madu ini sangat menyakitkan lubang vagina istriku. Tetapi aneh, pada kondisi macam itu tiba-tiba orgasme berikutnya datang. Dan menjelang kedatangannya itu, rasa pengin kencing yang mendesak telah menghapus semua rasa perih di dinding vagina. Kembali kenikmatan dia songsong dengan kembali menunjukkan goyangnya pada pantat dan pinggulnya. Kemudian dia cengkeram kuat-kuat kulit jok sofa. Orgasme itu meledak. Vaginanya membanjir. Bibir-bibir vaginanya berbusa oleh cairan yang terpompa keluar mengikuti keluar masuknya kontol lelaki itu. Diantara keringat yang membanjir dan sodokkan yang belum juga reda, istriku masih bisa mengingat, ini adalah orgasmenya yang ke sepuluh.

Tahu bahwa istriku kembali mendapatkan orgasmenya, sementara dia masih jauh dari kemungkinan menyemprotkan spermanya, diangkatnya pantat istriku.

Kini istriku nungging. Kepalanya bersandar pada bantalan sofa. Jari-jarinya berpegangan pada tepi jok dimana terletak lipatan jahitan kulit yang cukup tebal untuk dicengkeram. Terlintas ada kecemasan pada wajah istriku. Posisi macam ini tadi sewaktu bangun pagi sudah dilakukannya. Pada posisi begini hampir dia kehilangan kesadaran karena menahan kesakitan. Kini lelaki ini kembali menarik pantatnya agar dia nungging seperti tadi pagi.

Sepintas lelaki itu menjilati anusnya. Kemudian meludah. Diludahinya anus itu. Tak pelak lagi, dia akan menembusi duburku lagi, begitu batin istriku. Dia berusaha menolaknya, berontak dan menggeliat-geliat, keluar suara ketakutannya yang disertai permohonan untuk tidak melakukan pada lubang itu. Tapi mana mau dengar ..

Dijambak dan tariknya rambut istriku seperti menarik tali kekang kuda. Dan kata-kata itu meluncur; 'Diam anjing! Diam pelacur, perempuan murahan!!', sambil menarik lebih kuat lagi rambut istriku hingga lehernya mendongak persis anjing kampung yang kena jerat hansip. 'Kamu khan mau rasakan kontol gedeku, nih!', sambungnya. Dan dia lakukan itu. Nggak pakai gerakkan lambat lagi. Kali ini seperti menumjamkan pedang, kontol gede panjang itu langsung menembus dubur istriku.

Rasanya, istriku benar-benar kelengar. Mungkin hanya sekitar 3 detik. Saat duburnya menerima tusukkan kontolnya, rasanya seperti besi panas membara yang menembus pada lubang itu. Sepertinya ada suara trocos, trocos, trocos pada dinding analnya. Itu kemungkinan putusnya saraf-saraf lembut pada dinding peka itu.

Selanjutnya dia rasakan besi panas itu memompa menusuki anusnya. Dengan rambut yang menjadi tali kekang, lelaki itu ngentotin pantat istriku penuh kenikmatan. Suaranya terus mencaci dan mengumbar kata-kata kotor dan menghinakan. Dalam posis itu istriku masih bisa berfikir. Bukankah dia mau yang seperti ini?! Bukankah saat dia berdandan tadi hal seperti ini justru yang dia harapkan, dambakan. Dan sekarang sedang dia alami. Dihina, dicaci, dientot pantatnya. uuhh.. panasnya, pedihnya, pedasnya. Tapi saat-saat mendengar ucapan-ucapan kotor lelaki itu, ada yang dia merasa tidak mau dikalahkan. Dia merasa tidak mudah dikalahkan. Bukankah dulu dia biasa menghadapi tantangan?! Bukankah dia memang memiliki jiwa yang suka tantangan? Jiwa petualangan? Mana jiwa itu?

Ahh, yang berkembang berikutnya justru aneh. Cacian, hinaan dan rasa sakit pada dubur itu pelan-pelan dia terima. Dia terima sebagai tantangan. Dia terima sebagai hal yang seharusnya bisa dinikmati. Tiba-tiba adrenalinnya mengalir. Rasa takut dan sakitnya berubah menjadi semacam syarat yang memang sudah disiapkan sebelumnya untuk mencapai nafsu petualangannya. Kali petualangan seksual, penyelewengan dan pengkhianatan pada hal-hal yang selama ini dia cintai dan hormati sempurna sudah. Pada dasarnya dia melawan dirinya sendiri. Dan yang kemudian terjadi adalah sama sekali diluar jangkauan nalarnya. 'Ooo, amppunn..', lenguhnya hampir nggak terdengar. Dia mendapatkan orgasmenya yang ke sebelas. Kemudian menjatuhkan seluruh tubuhnya ke sofa saat lepas dari pegangan lelaki itu hingga tubuhnya merosot ke lantai.

Istriku benar-benar lemas sesudah orgasmenya yang terakhir ini. Dia betul-betul pasrah. Antara rasa kalah dan menang itulah adanya. Yang tersisa adalah lubang pantat yang tetap perih dan pandangan matanya seperti ngantuk yang berat sekali. Segalanya samar-samar. Terasa ada keringat yang mengalir dari dahinya, turun ke mata, kehidung, kemulut, dia jilat sedikit, kemudian tidak ingat lagi. Semuanya gelap, tenggelam dalam ketidak sadaran. Kantuk karena kelelahan dan kesakitan yang amat sangat menyerangnya membuat istriku langsung tertidur.

Ada tangan yang meraih wajahnya, dan suara itu, 'Ayoo, mbaakk, telann.. Minum pejuhku.., makan spermaku.., ayoo', terasa ada tangan yang menampari pipinya dan kemudian ada daging keras membulat yang mendorong-dorong ke bibirnya. Heran pada saat-saat seperti itu mulut itu masih siap menganga. Dalam keadaan setengah sadar itu istriku masih dikuasai obsesinya untuk menelan sebanyak mungkin sperma yang keluar dari lelaki tukang madu. Kecuali rasa hangat-hangat panas, mulutnya tidak lagi menangkap rasa lainnya. Dalam keadaan setengah sadar itu pula, lidahnya masih menari-nari menjilati ceceran sperma disekitar mulutnya dengan rakus. Bukankah setiap hal yang keluar dari tubuh pemilik kontol gede selalu bisa dinikmati, begitu samar-samar keyakinan dalam pikiran istriku saat itu. Sesudahnya, tangan-tangan yang meraih wajahnya tadi melepas begitu saja, hingga tubuh cantik itu rubuh ke lantai. Istriku kembali tertidur.

*****

Pukul 09.35, Rabu

Nggak tahu berapa lama ia merasa seperti tertidur dengan kelahan yang amat sangat. Masih menggeletak di lantai saat seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya, 'Mbak, mbaakk.., bangun makk.., saya mesti pulangg..'.

Dengan kelopak yang tetap memberat istriku bangun, melayang, dan samar-samar melihat tukang madu itu telah berpakaian lengkap. Dan itu adalah pakaiannya saat dia datang kemarin. Baju kotak-kotak dengan celana khakinya.

Dia jadi ingat semuanya. Pikirannya cepat kembali utuh. Dia bangkit pelan-pelan sambil yangannya bertumpu ke meja sofa, 'Ahh, sorry mass, aku ketiduran .., bentar ya mas..'.

Nampak terseok, istriku bangun dan bergegas ke belakang. Kekamar mandi untuk sekedar mengusap mukanya agar mendapatkan kesegaran dan matanya melek, kemudian ke kamar tidurnya.

Dia ambil beberapa lembaran uang dari dompetnya. Mencari amplop dari laci meja kerjaku dan memasukkan uang tadi kedalamnya. Kedepan menemuai tamunya, menyodorkan amplop itu. 'Ini mas, tinggal saja 5 botol untuk persediaan saya', 'Terima kasih ya, mau nemenin disini.. Mudah-mudahan madunya laris'. Begitulah istriku, pada saat seperti itu dia bisa saja tiba-tiba menjadi orang asing banget bagi siapapun. Dengarkan omongannya tadi. Tanpa emosi, tanpa basa-basi. Seakan nggak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Kering.

Untung tukang madu inipun cepat menyesuaikan diri. Dia juga sudah siap kembali ke dunia nyatanya. Diterima amplop itu, dihitungnya, uuhh.., ternyata jauh lebih dari harga yang semestinya, 5 lembar 100 ribuan. Tetapi dia ingin jujur saja, 'Bu, ini lebih.., cuma 100 ribu saja koq?!', 'Iyaa, nggak pa pa, buat nambahin ongkos jalan'. Sempat geli juga istriku, lelaki ini ternyata cepat kembali ke statusnya, dia kembali memanggil 'bu'. Dan pikirannya melintas sesaat, '19 jam kami saling menggumuli, nggak terlintas sedikitpun untuk saling tanya nama. Keasyikkan syahwat ternyata lebih merampas pikiran mereka. Tenggelam dalam nafsu birahi macam hewan, liar dan tak terkendali jauh lebih nikmat dari nama-nama. Perasaan tetap asing antara mereka sadar atau tanpa sadar mereka rawat. Dan kondisi macam itulah yang memberikan kekuatan mereka untuk berpacu dalam impian erotik tanpa batas.

Istriku sebentar menengok jalanan dari kaca jendela, sepi. Orang-orang pada ke kantor, para istri di dapur. 'Ok, mas, selamat jalan.., mumpung sepi nihh..!'. Tukang madu itu paham, bergegas, diraihnya botol madu sisanya, keluar, kejalanan. Sebentar dia tengok ke kaca jendela. Dia nggak bisa lihat ke dalam silau. Kemudian dia melihat ke depan. Pikirannya langsung kembali, rumah berikutnya mana yang mau ditawarin madu hari ini?! Ahh, sebaiknya dia cari makan dulu. Kerja keras sejak kemarin belum diimbangi makan yang cukup. Makanan orang gedongan nggak membuatnya kenyang.

*****

Pukul 09.45, Rabu

Dan istriku dengan langkah-langkah terseok menuju ke kamar tidur dan langsung melemparkan tubuhnya ke kasur. Berharap rasa pedih pada vagina dan duburnya sudah sembuh saat bangun nanti. Masih sempat berhitung sebelum terlena, edan, 20 tahun nggak bias kuraih dari suami, 19 jam dengan lelaki tak kukenal kudapatkan 11 kali orgasmeku. Wajah lembut itu pipinya menyentuh bantal lembut, dari bibirnya menyungging senyum memasuki mimpinya.

Jakarta, Maret 2003

Perselingkuhan 19 jam - 9



Pukul 07.15, Rabu

Sementara sang tamu mandi, istriku membuat makanan. Dengan bahan yang tersedia dia buat bubur sereal, telor setengah matang campur simpanan madunya sendiri, yang ini asli madu Kuwait yang aku beli seharga 100 dollar per botol, woo.., kopi susu dan orange. Rupanya nggak kalah dengan American breakfastnya Hilton. Dia tata di meja untuk berdua.

Pagi itu istriku nampak sangat cantik dan bugar. Nampaknya orgasmenyalah yang membuatnya segar dan ceria. Walaupun belum mandi, dengan celana pendek mini bertbahan jeans dan blus Armani yang halus lembut, sungguh dia nampak 15 tahun lebih muda. Orang bilang wanita nampak cantik saat bangun tidur, itulah istriku kali ini.

Selesai mandi istriku memberikan celana pendek juga bersama T.shirt pada tamunya. Melihat tampilan cantik istriku, lelaki asing itu terpesona. Sejak kemarin dia belum sempat benar-benar memperhatikan tampilan istriku ini. Pagi ini, sesudah mandi dan segar pula, lelaki asing itu nggak segan-segan memuji kecantikan istriku. Dibetotnya pantatnya, kemudian dia tarik kepangkuannya di kursi meja makan. 'Mbakk.., kamu cantik sekali..', dan mulutnya langsung membungkam mulut istriku. Mereka berpagut dan melumat sesaat. 'Aku mandi dulu ya maass..', istriku bangkit dan lelaki itu melepasnya. 'Silahkan mulai makan saja, nanti aku nyusul', demikian omong istriku sambil meraih handuk menuju kamar mandi.

*****

Pukul 07.35, Rabu

Selama sarapan lelaki itu berkesempatan memikirkan kembali bagaimana pagi ini dia berada disini. Jauh dari tempat pondokkannya. Jauh dari lingkungan miskinnya. Dia merasa seperti orang kaya yang sebentar lagi akan berangkat kerja ke kantornya. Dia merasa seperti seorang direktur dengan istrinya yang cantik di sampingnya. Dia bukan tukang madu, bukan tanpa alamat tetap, bukan pengangguran yang terpaksa mengasongkan botol madu dari rumah kerumah. Ahh, mungkinkah aku menjangkau hidup macam ini? Tetapi lamunan itu dibantahnya sendiri. Sekolahmu itu apa? Kalau hanya jebolan SMP bisa jadi apa kamu? Aahh, udahlah .. Dia nggak mau berfantasi lebih panjang. Sekarang pikirin saja, bagaimana nanti nyonya ini mau memborong madunya.

'Mass..', terdengar istriku memanggil dari kamar mandi, 'Yaa..', 'Masuk sajaa..', saat masuk istriku masih telanjang. 'Sini mass, aku pengin dicium di sini, hi, hi, hi..'. Lelaki itu cepat paham, dipeluknya tubuh basah istriku dan langsung berpagut. Dan tangan istriku langsung mencet bagian depan celana lelaki itu. Dia pencet-pencet hingga dengan cepat daging dalam celana itu membengkak memanjang. Kemudian dengan cekatannya tangan-tangan halusnya membuka kancing celana dan menarik resluiting lelaki itu. Dan lepaslah. Belalai panjang besar dan kehitaman setengah menggelantung keluar dari sarangnya. Istriku langsung jongkok pada lututnya. Diraihnya kontol itu dan diisapnya. Dia jilati dan kulum. Kemudian kepalanya nergerak maju mundur, bibirnya memompa.

Sang tamu memberi respon dengan cepat. Berasa gatal nikmat pada kontolnya, dipegangnya kepala istriku, dimaju mundurkan. Dan dia gerakkan pula maju mundur pantatnya untuk mendorong dan menarik kontolnya sesuai dengan irama dan kuluman istriku. Desahan istriku membangkitkan gairah bersama. Tangan kiri lelaki itu mulai meraih puting susu istriku dan jari-jarinya membuat plintiran yang sungguh merangsang birahi istriku. Pemompaan semakin cepat. Istriku pengin minum sperma lelaki itu untuk yang kesekian kalinya. Lelaki itu tahu, tetapi dia merasa tidak akan semudah yang diharapkan istriku. Sesudah sekian kali sperma terkuras sebelumnya, butuh waktu leih panjang untuk mengurasnya kembali.

Tetapi untuk memenuhi harapan istriku ada jalan. Diraihnya tubuh istriku bangkit. Dia balik ke arah bibir kolam. Diangkatnya satu kaki istriku dan ditahan oleh tangan kirinya. Secara otomatis istriku berpegangan pada bibir kolam. Dan dia arahkan kontolnya menuju kemaluan istriku. Dan jadilah. Istriku disebadani sambil berdiri di kamar mandi. Dia pompa kemaluan istriku. Gerakkan keluar masuk bertubi-tubi kontolnya yang terjepit vagina istriku membuatnya birahinya terkatrol. Dengan cara itu dia akan mampu memeras keluar lagi spermanya.

Dan memang, sesudah beberapa menit berlangsung, terasa oleh lelaki itu bahwa tak lama lagi akan ejakulasi. Pompanya dipercepat. Istriku merintih dan mengerang. Lelaki itupun mendesah-desah. Makin cepat, makin cepat ..dan..,'Mmbaakk aku mau keluarr.. isepin yaa, isep yaa, isepp..', dia copot kontolnya dari vagina istriku, kemudian dia pegang kepala istriku dan tekan agar dia jongkok kembali. Istriku yang memang haus sperma itu langsung jongkok dan mendongakkan wajahnya ke selangkangan lelaki itu. Sementara itu tangan kanan lelaki itu sibuk mengocok-ocok kontolnya yang ujungnya tepat mengarah ke muka istriku. Reaksi istriku adalah menganga, membuka mulut serta menjulurkan lidahnya bersiap untuk menangkap puncratan sperma dari kontol itu. 'Telan nihh.., telan niihh, makan yaa mbbakk, makan pejuhku ya mbbakk.. telann yaa..', gumamnya yang diikuti kocokkan yang semakin cepat.

Gumam-gumam itu benar-benar membuat istriku semakin bernafsu. Mulutnya dibuka lebih lebar lagi dan lidahnya dijulurkannya lebih panjang. Dia asongkan lebih ke depan lagi mulutnya hingga ujung kontol itu persis di antara dua bibirnya. Dan tak lama ..

Dari kontol lelaki itu muncrat-muncrat sperma panas dan segar langsung masuk ke rongga mulutnya. Nampak juga lelehan jatuh ke lidahnya. Istriku tetap menganga hingga puncratan itu reda. Sekitar 7 kali puncratan air mani kental milik lelaki itu. Istriku mengenyam-enyamnya. Nampak seakan nggak dibiarkan untuk tertelan. Ingin rongga mulut itu menikmatinya lebih lama. Ingin agar saraf perasa di mulutnya merasakan asin, pahit dan gurihnya air mani ini lebih lama sebelum pada gilirannya tenggorokannya basah dialirinya.

Usai itu, kontol lelaki itu roboh terkulai. Istriku menjilati sisa-sisa sperma di ujung kulupnya. Pasti dia masih dirundung nafsu birahi. Peristiwa barusan yang mendongkrak libidonya perlu diakhiri dengan orgasmenya. Dia berbisik kepada tamunya, 'Maass, boleh nggak kalau aku nyiumin ini sampai aku puas..?', lelaki itu kurang ngerti maksud istriku, tetapi dia mengangguk saja. Saat melihat istriku mengambil ketimun jepang, yang ternyata telah disiapkannya sejak mula, lelaki itu mulai paham. Dilihatnya dengan tangan kirinya istriku berusaha memasukkan ujung ketimun tadi ke kemaluannya, sementara tangan kanannya meraih kontolnya untuk di ciumi dan lumat-lumat. uuhh.. nafsunya perempuan ini, demikian dalam pikiran lelaki itu.

Dan yang nampak kemudian adalah tangan kiri yang siuk menahan ketimun sementara pantanya naik turun mendorong kemaluannya melahap ketimun itu, dan di atas sini bibirnya mengecupi, mencium dan menjilat-jilat kontol, ujungnya, bijih pelernya dengan penuh nafsu dan kerakusan. Desahan. erangan dan rintihan nikmat terdengar terus menerus dari mulutnya. Istriku benar-benar ingin mendapatkan kepuasan yang selama ini nggak pernah ia dapatkan.

Lambat tapi pasti, birahinya bergerak memuncak. Adegan erotik yang dilakukannya memberikan rasa penuh bara erotik. Kegatalan pada dinding-dinding vaginanya yang menyeruak menggiring menuju puncaknya. Mulai terasa ada yang akan hadir. Rasa pengin kencing mendesak seluruh otot-otot di seputar kemaluannya. Dengan energi yang sepertinya tak habis-habis istriku mempercepat naik turunnya bokong dan kemaluannya. Ketimun itu dia ayangkan menjadi kontol gede yang menusukinya. Pandangannya mengabur. Kesadarannya ikut mengabur. Rasa malu, sungkan, enggan pada tamunya tak tersisa lagi. Orgasmenya telah berada di ambang.

Dengan teriakan 'Aarrcchh.., hhuuzzhh, ..mmaazzhh, aakk..aakkuu kkelluuaarr..', 'Hoohh..hhoohh, hhoohh..hhoohh..hhoohh', 'Maass ..hhoohh .. kkelluuarr ..'. Lelaki itu iba hati. Tetapi dia juga terpancing, kontolnya sempat tegak sesaat melihat adegan erotik itu. Tapi langsung redup. Istriku telah mendapat yang dia inginkan. Dia terduduk di lantai basah. Tangannya menggelayut pada paha lelaki itu. 'Maaf, ya maasszz.. aku jadi nafsu terus niihh sejak ketemu masnyaa..'.

Beberapa saat kemudian mereka telah kembali ke ruang makan. Istriku sarapan. Semua yang tersedia dia makan habis. Tenaga yang terkuras itu memerlukan kembali energinya.

Beberapa saat kemudian ..

*****

Pukul 08.18, Rabu

'Mbakk.., saya mesti pulang nihh', penjual madu mulai angkat bicara.
'Iyaa, ntar aku beli madunya. 5 botol saja yaa', sambut istriku.
'Wah, terima kasih banget', jawabnya lega.
Tapinya, ada syarat lho', istriku senyum-senyum penuh arti, 'Mas mesti kasih hadiah aku', sambil alisnya sedikit diangkat dan beranjak dari kursinya langsung minta dipangku.

'Aku minta sekali lagi. Boleh yaa..', lelaki itu paham. Perempuan satu ini memang nafsunya gede banget. Tangannya merangkul leher lelaki itu dan bibirnya langsung mencium.

Lelaki itu membalas dengan tak kalah hangat. Dia sendiri juga memiliki tenaga dan semangat yang berlimpah. Ciuman istriku disambut dengan lumatan. Kembali bertukar lidah dan ludah.

Tangannya mulai meremas-remas susu istriku. Jari-jarinya memilin-milin pentilnya. Istriku kembali memperdengarkan desahnya. Pagutan semakin lekat seakan tak terpisahkan. Geliat istriku sebagai bentuk respon gelitik jari-jari lelaki pada pentilnya membuat duduk lelaki itu sedikit oleng. Sadar kursi di ruang makan itu nggak kuat untuk duduk berdua istriku bangkit. Dibimbingnya lelaki itu ke meja dapur yang kokoh. 'Mas, kaya di kamar mandi lagi, yuuk', pinta istriku.

Tanpa menunggu jawaban dia plorotkan celananya hingga tinggal celana dalamnya. Demikian pula sang tamunya. Dia buka kancing celana dan resluitingnya. Celananya dia buang ke lantai. Kontolnya belum ngaceng benar, tetapi dorongan nafsunya sudah mengembang.

Dari arah belakang dirogohkannya tangannya ke blus istriku dan kembali tangannya meremasi buah dadanya. Istriku menempatkan dirinya. Tangannya ertumpu pada meja dapur hingga tubuhnya menjadi sedikit nungging. Lelaki itu menggosok-gosokkan kemaluannya ke pantat istriku. Nampak kemaluan istriku sudah ranum menunggu sodokkan. Tetapi kontol lelaki itu belum sepenuhnya siap untuk menembusinya.

Istriku tahu, dia harus aktip merangsanganya. Pertama-tama dicobanya menggerakkan pantatnya menyambut gosokkan kontol itu. Dan desahannya mulai dijadikan jurus perangsang nafsu lelaki. 'Mass, akkuu mau terus-terusan ngentot sama Mas lhoo', rangsang istriku dengan kata-kata kotornya. 'Aku mau lhoo jilatin pantat mass..', jurus berikutnya.

Lelaki itu belum menunjukkan sepenuhnya untuk ngentot istriku. Sesudah 6 kali menguras sperma selama hampir 17 jam, libidonya menurun. Masih memerlukan waktu untuk mengangkatnya kembali.

'Sebaiknya aku nggak paksakan. Tunggu beberapa saat lagi', demikian kesimpulan istriku. Mesti diciptakan suasana yang bisa membangkitkan rasa dan memancing birahi. 'Mass, aduuhh.., masih perih nihh..', istriku melempar masalah sambil tangan kanannya menahan tubuh dan genjotan lelaki tamunya itu. 'Adduhh..', lelaki itu mendengarnya dan gembira dalam hati. Ah, untunglahh.., 'Yaahh.., nggak pa pa, kita duduk-duduk dulu yok, di ruang tamu..', dia mengajak pindah ke depan.

'Ok, aku bikin minuman. Kita dengerin musik. Mas tunggu yaa..'. Istriku sigap, menyiapkan minuman dan kemudian ke ruang depan ngutak-utik sound system. Tak lama kemudian terdengar lantunan lagi-lagu romantis yang langsung membuat suasana berubah.

Nampaknya tamunya menikmati banget suasana ini. Badannya disenderkan ke sofa, dan kakinya pelan berdendang. Mungkin pikirannya mulai hanyut.

Pukul 08.35, Rabu

Beberapa menit istriku masuk ke kamar. Dia ganti baju. Dia pakai baju yang dia rasa terbaik. Terbaik saat itu adalah yang paling mempesona birahi para lelaki. Blus tipis tanpa BH dengan ketiak yang terbuka dan 'rok kulot' hingga diatas lutut. Dengan pakaian macam itu artinya dia siap menerima jamahan tangan-tangan kasar lelaki asing itu. Dia siap menerima perlakuan kasar atau penghinaan dari pemilik kontol gede itu. Dia siap jadi budak nafsunya. Wwwoo, dia langsung terbakar oleh bayangannya. Kembali jari-jarinya memainkan pentilnya sendiri. Dia bergelinjang.

Tak lupa parfum. Di pahanya, ketiaknya, memeknya, lehernya. Parfum ini sangat terkenal. Suaminya membelikan sepulang dari Eropah. Baunya sangat lembut tetapi sungguh tak terlupakan. Bau itu akan lekat se-akan selamanya. Bau itu akan selalu dikenang oleh lelaki itu. Bau yang lembut itu akan langsung mendongkrak birahinya.

Dalam alunan musik stereo yang romantis, istriku keluar kamar menuju ruang tamu. Lelaki asing itu masih menaruh kepalanya di sandaran sofa. Matanya setengah meram, tapi bukan ngantuk. Pikirannya sedang melayang dibawa alunan musik romantis itu.

Saat istriku tampil keluar dengan pakaiannya yang sungguh mempesona, kemudian hidungnya disergap oleh parfum yang sangat menghanyutkan, lengkaplah susana romantis di ruang tamu ini.

'Mass, aku kangen terus ssiihh..', suara itu langsung disambung dengan rebahnya tubuh istriku di pangkuannya. Secara otomatis tangn-tangan kekarnya meraih tubuh cantik itu. Dan yang kemudian langsung nyambung dengan dekapan dan pagutan. Sungguh mereka berdua ini sangat hewani, nafsu birahinya nggak habis-habis walaupun selama 18 jam terakhir mereka telah melakukan lebih dari 9 kali hubungan badan.

Bersambung...

Perselingkuhan 19 jam - 8



Dia baru sadar dan melihat bagaimana kontol orang dewasa yang nggak disunat. Godaan besar datang. Tangannya nggak tahan untuk diam. Pelan-pelan kontol yang terkulai itu dielus-elusinya. Diangkat dari rimbunan jembut kemudian jari-jarinya menarik kebawah kulup itu hingga terbit ujung.. dan kemudian nampak utuh jamur itu. Lelaki asing ini nampaknya nggak terganggu tidurnya. Istriku asyik mengamati kontol itu, bahkan tak lama kemudian sudah mendekatkan lagi wajahnya, mencium kontol itu, kemudian menjilat, menjilat-jilat, menjilat-jilat, menjilat-jilat ..

Aneh, kontol itu lama-lama berdiri tanpa membuat bangun pemiliknya. Makin lama menegang dan istriku makin asyik menjilati. Saat berdiri menegang, kulupnya kedesak jamurnya, seperti bunga yang tumbuh dari kuncupnya, jamur gede itu merekah. Istriku makin semangat dan birahinya makin meninggi. Dia memutar-mutar kepalanya untuk meraih jilatan lebih banyak hingga ke batang-batang dan pangkal kontol yang saat ini ada dalam genggaman tangan kirinya. Terdengar desah kecil dari lelaki tidur itu, mungkin mimpi nikmat. Sementara istriku sudah demikian semangat. Sesudah melumati selangkangan yang juga penuh bulu, kembali istriku mengemot-emot batangan gede panjang yang saat ini sudah benar-benar mendekati ukuran sempurnanya.

Istriku kepingin kontol itu memuncratkan spermanya. Dia menjilati kepalanya, ternyata dia sudah merasakan precum di ujung jamur itu. Precum itu dia jilatin dan kemudian melutnya menganga memasukkan menelan kontol itu, dia mulai memompa. Batangan besar panjang itu menembusi mulutnya hingga mentok ke pintu tenggorokkan. Lelaki itu mendesis pelan. Nampaknya dia merasakan ada kenikmatan di bawah sana, tetapi kantuknya membuat enggan untuk bangun. Dia biarkan saja apa yang terjadi dan merasakan kenikmatan melayang dalam setengah tidur ..

Tampak muka istriku menggeleng ke kanan dan ke kiri untuk mendapatkan ritme pompa yang nikmat. Tangan kirinya menahan batangan kontol itu agar tidak lepas dari mulutnya, sementara tangan kanannya merabai pinggul kemudian pantat, menikmati bulu-bulu yang tersebar pada wilayah itu. Suara desah istriku terus beruntun seirama dengan pemompaan. Dan ..makin cepat, makin cepat, makin cepat. Istriku semakin tidak sabar untuk menyedoti sperma lelaki ini yang walaupun setengah tertidur kontolnya tetap meregang maksimal sempurna.

Rupanya usaha istriku membuahkan hasil. Pantat lelaki itu kini bergerak naik turun menikmati pompa istriku. Kontolnya yang kaku tegak, makin cepat menembusi mulut istriku. Tangannya turun meraih kepala dan meremasi rambut istriku. Desahnya mengeras, makin keras, makin keras .. hingga..crot crot crot.. saluran sperma di sepanjang kontol itu nampak berdenyut keras. Spermanya terpompa. Delapan kali denyutan besar menumpahkan delapan puncratan besar. Istriku menjadi gelagapan. Mulutnya berusaha menangkap semua yang tumpah, jangan ada setetespun yang terbuang. Walau tak terhindari, dari mulutnya nampak meleleh sebagian sperma itu karena nggak lagi tertampung dalam mulut mungil itu. Syaraf-syaraf rasa dalam rongga mulutnya sibuk merasai sperma yang tumpah bertubi. Dikenyam-kenyamnya dan ditelannya. Sebanyak yang bisa ditelannya, tenggorokkannya menikmati basah teraliri cairan hangat itu. Diusapnya keringatnya yang sempat mengucur di pagi dini yang dingin itu.

Sesaat kemudian tubuh telanjang istriku jatuh kelelahan. Wajahnya terbenam di selangkangan sang lelaki asing. Tangannya terkulai lemas, merangkul pahanya. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Dia puass.. Kini dia pengin istirahat. Dia tidak merubah posisi. Keadaannya sudah nyaman. Dia pengin tidur lagi.

Sementara itu, bagi sang tamu, lelaki asing itu, walaupun dalam setengah ngantuk, dia menikmati pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Saat lelap tidur di malam hari, ada perempuan cantik yang mempermainkan kontolnya, menjilati kemudian mengisapinya hingga spermanya keluar tak terbendung. Ahh.., dia akan kenang panjang. Dia sendiri tetap enggan bangun. Kantuknya masih menyerang. Dia biarkan perempuan itu tidur di selangkangannya. Dan tak lama kemudian dia kembali lelap.

*****

Pukul 06.02, Rabu

Tukang bubur ayam membangunkan tidur sang jantan dan betina dari ranjang pengantinnya. Teriakan dan deru motornya membuat anjing tetangga menyalak-nyalak walaupun suara itu saban pagi hadir. Dasar anjing.

Pertama istriku yang menggeliat bangun. Kemudian lelaki itu. 'Masszz.., koq ini ikut bangun', istriku membuka suara sembari tangannya langsung mengelusi kontol yang terlihat sejak sebelum pemiliknya bangun, kontol itu sudah lebih dahulu bangun menegang keras.

'mm ..mbakk, uuhh tidurku 'bleg zeg' banget. Nggak ngimpi, nggak bangun, jam berapa ini'. Istriku tidak menyahut, tangannya terus mengelusi kontol lelaki itu. 'Tadi malam sedap nggak masszz..?', dia coba mengingatkan, 'Ooo, yaa.., aku ngimpi ada bidadari cantik mengenyot-enyot ini..', sembari menunjuk batangnya. Kemudian mereka bersama tersenyum.

Inilah sarapan mereka. Sambil tengkurap disamping lelakinya yang tergolek disampingnya istriku terus mengelusi kontol ngaceng itu. Dia permainkan lubang kencingnya dengan ujung-ujung jarinya. Nikmat di pagi hari, begitu batin sang lelaki sambil menggeser tubuhnya lebih melekat ke istriku. Tangannya dipelukkan ke pinggul dan mengusap-usap pinggul serta bokong istriku. Kedua-duanya saling asyik mengusap. Sesekali istriku mengecup pentil tamunya.

Tangan lelaki ini mulai menggerayang lebih ke bawah. Tangannya menguak belahan pantat istriku dan jari-jarinya mengusap daerah peka di pantat, yaitu lubang anus istriku. Jari-jari itu terkadang menusuk sedikit, berusaha menembusi anus. Istriku merasakan adanya sensasi erotis. Saat jari-jari mengusap dan menyentuh cincin analnya, woo.., koq nikmat banget .. Istriku sedikit mendesah sebagai tanda dia mendapatkan kenikmatan dari ulah lelaki itu.

Sang lelaki, begitu mendengar desah istriku langsung bersemangat. Dengan cara membasahi ujung jarinya dengan ludahnya terlebih dahulu, dia berusaha menembusi anal itu lebih masuk. Dan tak pelak lagi istriku mengaduh, kesakitan tapi nikmatnya sangat sensasional, dia tidak menghindar. Sang lelaki berusaha lebih lembut lagi hingga istriku tidak lagi merasakan sakit kecuali nikmat yang ..' Mass.. enak banget ssiihh..'.

Kemudian si tukang madu pindah kebelakang punggung istriku. Tangannya mengangkat kaki kiri istriku jauh ke atas hingga dalam posisi miring selangkangan dan kemaluan istriku terpampang. Dari arah belakang lelaki ini menyorongkan kemaluannya yang panjang itu ke arah memek istriku. Nggak ada masalah, karena ukuran panjangnya dengan mudah menjangkaku bibir vaginanya. Istriku yang sudah mulai kehausan langsung meraih kontol di selangkangannya dituntun untuk menembusi gerbang vaginanya. 'Ooocchh.., aacchh..', begitu desah dan rintihnya saat dari arah punggungnya lelaki itu menyebadani dia.

Dan desah rintihan itu semakin sering dan keras ketika kontol panjang gede itu mulai memompa dengan intensip. Suara lelaki itu, 'huh, huh, huh, huh..', setiap kali mendorong batangnya menembusi vagina istriku. Inilah sarapan mereka, seorang istri yang telah membuktikan kesetiaannya selama lebih dari 20 tahun, runtuh saat melihat dan merasakan sentuhan kontol gede panjang, entah milik siapa itu, tukang madu yang sama sekali tidak dikenalnya.

'Mbbaakk, mau nggak nungging.., kaya anjing gitu lho..', lelaki itu berbisik, kata 'kaya anjing' itu memiliki kekuatan erotis. Semacam kata yang merendahkan, menghina. Tetapi kali ini dia merasakan kenikmatan ketika kata itu diucapkan untuk dia. Dia bahkan merasa ingin ada kata-kata lain lagi yang lebih hina lagi, misalnya 'pelacur, budakku, anjingku' atau lainnya. Dia merasakan nikmat yang menjalar dalam jauh di lubuk hatinya, nikmat birahi karena dihina, karena direndahkan. Dan dia toh pantas mendapatkannya sesudah dengan jelas dia menyeleweng dari suaminya sekarang ini.

Dia bangun untuk nungging. Kepalanya dia taruh di atas bantal yang dipeluknya, pantatnya diangkat ke atas sehingga menantang wajah lelaki itu.

Dan tak dipungkrinya lagi, pantat dan lubang dubur istriku yang sangat bersih mulus itu sungguh sangat merangsang lelaki itu. Sebelum dia memasukkan kembali kontolnya ke lebang vagina istriku, bibirnya mampir untuk menjilati dan menciumi pantat dan lubangnya itu. Istriku menjadi histeris. Dengan suaranya yang parau dia menjerit dan mengaduh. Tangannya meremasi bantal, bahkan kemudian susunya sendiri, pentilnya dipelintirin menahan kenikmatan jilatan lelaki itu.

Ketika anal istriku sudah kuyup oleh ludahnya, lelaki itu bangun seperti anjing jantan mau kawin sama anjing betina. Dari arah belakang kontolnya didorong menembusi memek istriku dan terus memompa. Istriku langsung kelimpungan. Dia gerak-gerakkan pantatnya menyambut setiap doronngan kontol menembusi kemaluannya. Ada rasa pedih, tetapi nikmatnya lebih besar. Pada kesempatan itu istriku mendapatkan orgasmenya yang ke delapan. Dia dengan nyaring mengaduh dan merintih nikmat.

Tahu istriku sudah mendapatkan orgasme, dia cabut kontolnya. Nafsu lelaki ini justru baru mulai. Kontolnya yang tegang kaku itu dia pindahkan sasarannya, anus istriku. Diludahinya kontolnya sebagai pelicin. Kemudian diludahinya pula lubang anal istriku. Dan sesudah yakin kepala kontolnya berada yepat di lubang anus, dia mendorong kontolnya untuk menembusi.

Istriku sudah menebak sebelumnya. Saat tangan lelaki tadi menusuk-nusuk pantatnya, dia tahu keinginan tamunya ini. Dan dia sendiri, sesudah merasakan tusukan jari pada lubangnya tadi, timbul keinginanya untuk melakukan persetubuhan dengan lelaki asing ini seperti anjing di musim pancaroba. Dia tidak menolak.

Ternyata timbul rasa sakit tak terhingga. 'Maass.. Sakkiitt.., ammpunn.. Jangann mass, sakiitt, uuhh jangann..', sambil tangannya berusaha meraih kontol itu yang dengan sigap ditepis sang lelaki. Bahkan saat istriku mau bangkit menghindar, lelaki itu cepat menangkapnya dan memeluknya erat-erat dari belakang sambil pantatnya tetap maju mundur mendorong kontolnya terus menembus anal istriku.

Tak dipungkirinya. Kontol gede panjang itu sangat menyakitkan pantatnya. Tetapi pegangan lelaki itu sungguh sangat kuat. Kekuatan dia tidak bisa melawan kekuatan lelaki itu. Dan tusukkan itu tak mampu dia hindari. Dia merasa diperkosa. Dipaksa untuk melayani nafsu lelaki tamu asingnya ini.

Rasa sakit itu tetap berlangsung setiap kali kontol lelaki itu menusuk ke dalam. Permainan tusuk tarik ini berlangsung demikian lama. Rasanya istriku mau pingsan. Dia belum mendapatkan rasa nikmat dari pantatnya. Dia hanya mengeluarkan air mata menahan rasa panas dan pedas di duburnya. Blup, blup, blup, blup, demikian suara dari paduan kontol dan anal itu. 'Maass, aammpunn.. saakkiitt, mmaass, sakiitt.., ssakkitt', ternyata erang dan tangis istriku itu justru menjadi pemacu nafsunya. Dengan semangat yang paling tinggi lelaki itu mempercepat tusukkan. Ditariknya jauh-jauh kemudian ditusukkannya dalam. Kontol itu benar-benar seperti tomak yang menusuk korbannya. Makin cepat, makin cepat.

Dan saat istriku merasakan bahwa lelaki ini sudah tidak lagi bisa dikendalikan, matanya berkunang-kunang. Rasanya dia menghadapi pingsan. Dan pada detik berikutnya samar-samar suara teriakan kemenangan seorang pejantan, 'aarrcchh.., hah, hah, hah..aachh', dan jauh di lubang pantatnya dirasakan ada cairan hangat yang menyemprot-nyemprot. Di samar-samar tahu lelaki itu sudah mencapai orgasmenya. Dan yang lebih penting, kontol pedih itu tidak lagi menusuk, bahkan cairan hangat itu sedemikian memberikan kenikmatan, pantatnya tidak lagi pedas. Cairan itu seketika menyembuhkan seperti obat semprot. Pedihnya langsung surut. Dan.. samar-samar pula, dia merasakan nikmat. Kontol gede yang masih tertanam dalam vaginanya, rasa legit licin hangat yang ditumpahkan kontol itu ternyata memberikan akhir siksaan pedih yang nikmat sekali. Dia telah merasa seperti anjing sesungguhnya.

Kehinaan yang dilontarkan lelaki tadi menjadi lengkap dan tuntas dengan tumpahnya sperma sang tamu dalam anusnya. Dia nggak menyesal. Rasa sakit yang baru saja dilewatinya, bahkan hampir membuatnya pingsan telah berubah menjadi kepuasan seksual. Bahkan sudah tersirat, suatu saat dia akan minta macam ini lagi. Dia akan merindukan sakit yang nikmat ini.

Bersambung...

Perselingkuhan 19 jam - 7



Dia memasuki ambang impian kenikmatan yang sejak siang tadi menjadi obsesi utama dalam rangka menikmati malam panjang penyelewengannya. Hidungnya mulai mengendusi bau ketiak tamunya. Bau asem itu pada situasi macam ini sungguh menjadi dambaan birahi. Libido istriku langsung terdongkrak. Sekarang bukan lembut lagi. Lidahnya sudah sampai ke tepi-tepi wilayah nikmat. Hidungnya terus mengendusi. Sesaat kemudian wajah istriku sudah tenggelam dalam ketiak lelaki itu. Hidungnya terus mengendus-endus untuk meraih aroma ketiaknya sebanyak yang bisa diraih.

Dengan terus mengangguk-angguk kecil dan meliuk, wajah itu merambah ceruk-ceruk berbulu milik lelaki itu. Lidah istriku dengan cepat membuat bulu-bulu ketiak itu kuyup oleh ludahnya. Dia isap semua rasa. Asin atau manis atau asem yang membangkitkan gairah dan birahi yang terus memburunya. Desahannya berubah menjadi dengusan. Istriku kegilaan. Terkadang nampak geregetannya datang. Kepalanya digeleng-gelengkankan secara cepat hingga rambutnya nampak bergoyang ombak, seperti babi yang menekan moncongnya yang mengaduk lubang di tanah. Dan memang yang tersisa hanyalah sifat hewaniahnya. Dan dengan pantatnya yang saat ini sudah nungging, dengusan dan gelengannya itu membuat sang lelaki berbalik-balik, ke kanan, kekiri yang disertai dengan regangan kaki-kakinya menahan nikmat. Nampak otot-otot kakinya itu bertonjolan. Dan tak kalah sengitnya, kontolnyapun mencuat kaku. Mengkilat dengan jamur rekah di ujungnya, kontol itu dilingkari oleh jaringan urat-urat darah yang memompa daging kontolnya melesak keatas, tegak, seakan meriam yang mau meledakkan pelurunya.

Istriku melirik ke kontol itu. Tapi membiarkannya. Dia bergeser ke ketiak lainnya di sebelah kiri. Dia ulangi pula hal-hal sebagaimana telah ia lakukan pada ketiak kanan tadi. Kali ini tubuh istriku menindih lelaki itu. Buah dadanya lekat pada buah dada sang lelaki.

Lantas karena menahan amukan birahinya, sang lelaki menaik-naikkan pantatnya hingga kontolnya setiap kali menusuk-nusuk langit. Sekali lagi lirikan mata istriku dilepas. Dan kemudian tangan istriku bergerak turun, mulai mengelusi perut yang berambut menyambung ke jembutnya. Jari-jarinya menggapai dan meremas-remas. Sesekali kembali mengelus. Rasanya bisa diperkirakan. Wilayah itulah yang akan dirambah bibir istriku pada urutan berikutnya.

Kembali istriku mencari posisi yang pas. Dengan tetap nungging dengan tubuh telanjangnya istriku bergeser kanan sang lelaki. Tangannya terus meremas-remas penuh gereget. Bibirnya meluncur kebawah, mengulang jilatan dan gigitan sesaat pada dada, kemudian turun lagi.

Begitu bibirnya menyentuh bulu-bulu perut di bawah puser, langsung melumat-lumat. Tak pelak lagi perut berbulu sang tamu kuyup oleh ludahnya. Terdengar erang dan desis tamunya yang disertai seringai di wajahnya. Otot-otot perutnya mengencang menahan kegelian. Ber-menit-menit istriku terus menjilati perut penuh bulu, sebelum bergeser lebih bawah lagi.

Sekarang tangan istriku sudah merambah ke wilayah selangkangan. Dielus-elusnya selangkangan kanan kemudian kirinya. Dan akhirnya juga genggaman, pijatan dan remasan untuk bijih pelernya. Ooocchh.. suara desahan itu .., begitu nikmat ditelinga ini, demikian batin istriku mendengar gelinjang desahan lelaki asing itu.

Kini istriku sudah berada di antara paha lelaki itu. Dengan tetap nungging, istriku membenamkan mukanya ke rerimbunan jembut sang tamu. Bau lelaki dengan kuat menyergap hidungnya. Nafsu irahi istriku semakin meledak-ledak. Untuk cara-cara macam ini yang sama sekali belum pernah dia lakukan pada suaminya selama lebih 20 tahun mereka menikah.

Dengan genggaman tangan kanan yang mengelus naik turun batang kontol yang 22 cm itu, bibir, lidah dan gigitan istriku meratai batang dari pangkal, tengan hingga ujungnya. Dengan penuh rasa dan birahi kepala jamurnya dia jilat dan isap-isap. Ludahnya telah membasah di selangkangan lelaki itu. Bau lelaki dan ludahnya sendiri bercampur menjadi bau yang membuat vagina mengempot-empot minta di remasi.

Ketika semua sudut dan titik di selangkangan tamunya sudah nggak ada yang lewat dari jilatannya, secara reflek lelaki itu mengangkat kedua pahanya ke atas, hingga tubuhnya melipat sampai betisnya menyentuh kanan dan kiri telinganya. Dan akibatnya adalah wilayah pantat hingga anus lelaki itu seperti ditawarkan untuk dirambah pula oleh bibir dan lidah istriku.

Sesaat nampak istriku ter-jengak. Bagi dia pemandangan macam ini sama sekali nggak pernah ter-impikan. Paha yang juga dipenuhi bulu-bulu, bijih peler, pantat dan anusnya yang juga penuh bulu terpampang langsung di depan wajahnya. Tapi jengak itu langsung berubah menjadi kegilaan birahi. Dengan menggoyang kepalanya untuk menyibak rambutnya, istriku merebah tengkurap dari nunggingnya, tangannya diasongkan ke depan meraih pantat itu. Kemudian dengan penuh bara nafsu istriku kembali mengecup dan menjilat.

Dari gundukkan daging bawah peler, turun lagi hingga lubang anus dia lumati habis. Lidahnya menari-nari mendesaki anus lelaki itu dan merasai semen anus itu. Hidungnya berusaha menangkap aromanya. Wwwoo.., sungguh eksaiting. Bau dan semen anus itu membuat dia menjadi begitu binal. Wajahnya digoyang-goyangkan untuk lebih terbenam lagi menyeruak ke bokong dan anus tamu asingnya. Dan dari atas sana terdengar suara merintih dan sekaligus seperti mengemis, 'Terruuzz mmbakk , ttee..tteerruuzz, ayyoo mbakk, ..teruss.. jilatin yang banyakk.. oohh enakk..', suara itu tak pernah lagi berhenti, 'lidahnyaa.. maasszzuukkiinn.., tteerruuzz..oocchh.. aacchh'.

Dan tak terhindarkan lagi, kontol lelaki itu menyeruak dan mencuat menembaki langit-langit kamar pengantinnya. Nampak jamur dan lubang kencingnya yang merekah, mengkilat-kilat. Kontol itu sudah siap untuk menembusi memekku, demikian pikir istriku. Dan dengan kebinalan birahinya yang juga sudah berada dipuncaknya, istriku dengan sigap bangun, menurunkan kaki lelaki dari lipatannya kemudian menumpaki tamu asingnya ini. Dia duduk seperti naik kuda di perut lelaki itu dengan kaki-kakinya yang terlipat ke belakang sementara pantatnya, atau lebih tepat lubang kemaluannya dipernahkan ke arah kontol lelaki itu. Lantas sedikit menungging sambil tangan kirinya meraih batang 22 cm itu dan mengepaskan jamur merekahnya ke lubang vaginanya. Sesudah dirasakan pas ujung kontolnya menyentuh bibir-bibir kemaluannya, dia turun ke arah duduk mecoba mendesakkan kontol itu kelubang kemaluannya. Beberapa kali dia lakukan ulang-ulang sebelum kontol gede itu berhasil ditelan vaginanya.

Saking gedenya kontol itu saat melesak menembusi bibir-ibir memek istriku ikut tertekan melesak ke dalam. 'Aacchh.. Maasszz, enak bangett.. uuchh', terdengar desah istriku. Dia sesaat merasakan batang kontol itu dalam cengkeraman vaginanya. Dia rasakan setiap mili kontol tamunya menggosok saraf-saraf kemaluannya. Dia rasakan denyutan darah yang mengalir dalam batang gede panjang itu. uuhh.., nggak akan hal macam ini bisa dia dapatkan dari suaminya.

Kemudian pelan-pelan dia mulai tarik. Dia angkat pantatnya. Dia rasakan batang kontol itu menjalar keluar, dah uuhh.., gatalnya.. Kemudian dia masukkan lagi. Rasa semakin gatal menyerang vaginanya. Dia tarik lagi pantatnya. Masuk lagi. Keluar lagi. Masuk, keluar, masuk, keluar. Dan jadilah kocokkan. Yang satu batang menusuk, yang lain lubang menelan. Dan jantan betina di ranjang pengantin itu saling memompa. Terkadang bokong istriku nampak seperti mengulek. Pantatnya ditekan habis kemudian tubuhnya di tarik kedepan dan didorong kebelang berulang 2 atau 3 kali sebelum keduanya kembali saling pompa. Tempat tidur dan gambar di dinding ikut ber goyang-goyang. Riuh rendah desahan dan rintihan saling bersahut. Ruang sempit itu menyaksikan puncak-puncak penyelewengan istriku. Menyaksikan bagaimana dia tidak lagi mengabaikan suaminya. Bagaimana dia dengan lahap menjilati, mengisap-isap, mencium dan menggigiti bagian-bagian peka birahi tamu asingnya.

Saat-saat ledakkan kepuasan mendekat. Lelaki itu mempercepat kocokkan dengan pantatnya yang naik turun dan kontolnya yang menembusi kemaluan istriku terlihat seperti mesin hidrolik. Demikian kaku dan tegar. Basahnya batang kerana cairan birahi istriku membuat batang itu mengkilat dan menunjukkan lingkaran urat-uratnya.

'Mbbakk.. aku mau keluarr, mmbaakk akuu mau keluarr .. Terruusszz mbakk, eennakk, eennaakk .. Teruuss', yang dijawab dengan parau oleh istriku, 'Maass.. Aku jugaa, akuu mau keluarr.. Bareengg yaa. Keluarr barengg .. baarreengg.. aasszzhh..', dan tak terelakkan lagi simponi rintihan dan erang nikmat yang kemudian di akhiri teriakkan kemenangan dari jantan dan betina ini gegap gempita memenuhi ruang pengantin yang sempit itu. Keduanya bersama-sama meregang. Keduanya menumpahkan cairan-cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Pemompaan yang belum kunjung berhenti itu membuat cairan-cairan keduanya terdesak keluar. Busa dan lelehan sperma muncrat akibat dari jepitan antara kontol dan dinding vagina di bibir kemaluan istriku. Cairan itu muncrat-muncrat saat kontol mendorong kedalam liang vagina. Bibir vagina terseret keluar bersama tarikan batang kontol membawa busa dan cairan yang langsung menebar ke kanan dan kiri bibir vagina. Kocokkan tak kunjung henti mengikuti kegaduhan yang keluar dari mulut istriku dan lelaki itu.

Ketika tiba saatnya reda, yang terdengar hanyalah tarikan nafas-nafas panjang. Istriku meletakkan kepala lelahnya di dada tamu asingnya. Dan lelaki itu membuka tangan dan kaki telanjangnya untuk mencari dingin. Keringat keduanya membasahi tempat tidur. Nampak spreinya basah dan berserak terangkat dari jepitan kasur. Bantal-bantalnya jatuh ke lantai. Kegaduhan lenyap diganti keheningan di antara nafas-nafas jantan betina itu. Mereka telah meraih puncak kepuasan birahi. Bagi istriku, itu merupakan puncak penyelewengannya yang paling memuaskan.

Pukul 20.20, Selasa

Keheningan itu berlalu panjang. Mereka yang lelah tertidur. Menjemput mimpi indahnya. Kadang-kadang salah satunya bergerak-gerak berubah posisi. Tenang.

Istriku tengkurap telanjang. Tangannya memeluki bantal. Sang lelaki ngangkang. Nafas-nafas mereka berhembus penuh damai dan kepuasan. Mungkin dingin malamlah yang membuat mereka terlena. Sesekali di luar anjing menggonggong. Suara kaleng yang dipukul tukang pijat buta lewat. Ada deru mobil di kejauhan. Atau tukang nasi goreng, siapa tahu ada yang kelaparan di malam hari. Lelaki itu memperdengarkan dengkur kecilnya. Mulutnya sedikit terbuka. Istriku bergerak telentang dengan tangan di dadanya. Nampak susunya masih ranum. Ada bercak-bercak merah, pasti karena sedotan nikmat dari lelaki di sampingnya itu.

*****

Pukul 02.08, Rabu

Istriku menggeliat terbangun. Lampu kamar yang terang nyalanya menyadarkan dia. Pertama yang dilihatnya adalah lelaki telanjang di sebelahnya. Dia diam sesaat mengumpulkan kesadaran sambil bberkedip-kedip matanya tidak melepaskan dari tubuh telanjang lelaki itu. Diingatnya bahwa sejak kemarin siang dia bercengkerama saling mengumbar birahi dengan lelaki ini.

Kemudian mukanya mencari-cari jam di dinding. Pukul 2 pagi lebih. Telah berapa jam dia ber-asyik masyuk dengan tamu asing ini? 12 jam. uuhh, sepanjang waktu itu rasanya hidupnya sangat memiliki arti. Hanya dalam waktu 12 jam dia telah mendapatkan orgasme 7 kali. Orgasme yang tidak pernah dia dapatkan dari hubungan kelaminnya dengan suami selama 20 tahun perkawinan mereka. 12 jam dibanding dengan 20 tahun. Wwwoo.

Istriku bergeser mendekat. Dia mendengar nafas lelaki itu. Dia lebih mendekat lagi. Dia perhatikan paras lelaki itu. Alisnya, dagunya dan oo.. bibirnya seksi sekali. Mulutnya yang setengah menganga membuat bibir lelaki itu sangat seksi. Dia pengin menciuminya, tetapi jangan, kasihan, capek sesudah beberapa jam menggenjot menyetubuhinya. Dia perhatikan lebih dekat lagi. Dari wajah turun ke dadanya. Dada gelap dan gempal lelaki tamunya ini sungguh mempesona istriku. Bukit-bukit susunya dihiasi dengan puting ditengah lingkaran hitam, ukurannya cukup besar untuk jadi sasaran gigitan, nampak naik turun yang disebabkan nafasnya.

Kemudian turun ke perut dan pusernya. Bulu-bulunya melebat di seputar pusernya mengawali rimbunan bulu jembut di bawahnya lagi. Entah berapa gigitan dan kecupan yang telah ia berikan di daerah ini. Dan pandangannya tergoda untuk terus ke bawah. Dia perhatikan seakan belalai yang terkulai. Bukan main.

Kontolnya yang sedang dalam posisi terkulaipun ukurannya sudah lebih gede dari milik suaminya. Woo.. fantasinya datang. Bagaimana dia bisa pelan-pelan menyaksikan bagaimana kontol ini bergerak tumbuh hingga tegang ngaceng ke langit-langit.

Dia jadi melek total, gairahnya membangkit. Dia bangun turun dari kasur untuk kembali naik dari arah selangkangan lelaki asingnya hingga wajahnya tepat menghadap ke selangkangannya. Tangannya sedeku kekasur. Aroma kemaluan lelaki mulai menyergap hidungnya. uuhh.., kini baru nampak jelas. Ternyata kontol itu tidak sunat. Ujungnya meruncing. Daging tipis menjadi kulup yang membungkus jamur besar yang selama ini menjadi sasaran lumatan bibir dan lidahnya.

Bersambung...

Perselingkuhan 19 jam - 6



Sesudah kontol itu tertelan kelubang vaginanya, mulailah lelaki itu memompa. Bokongnya digerakkan maju mundur. Setiap kontol itu didorong maju jutaan saraf-saraf vaginanya merasakan kegatalan yang tak terhingga, demikian pula saat ditariknya mundur. Tanpa berfikir panjang lagi dia menggoyang-goyang pantatnya untuk menggaruk rasa gatalnya itu. Dan terdengarlah suara slup, slup, slup dari pemompaan kontol pada kemaluan itu. Dan dari mulut istriku dan lelaki asing itu terus menerus terdengar lenguh, desah dan rintih nikmat yang berkepanjangan.

Kemudian terlihat kedua tangan lelaki itu meraih puting-puting susu, memelintir-pelintir dengan jari-jarinya. Waahh, bukan main, istriku menggelinjang dan langsung menggeliat-geliat. Kepalanya seperti orang kemasukkan setan. Dengan rambutnya yang langsung awut-awutan kepalanya digeleng-gelengkannya dengan cepat ke kanan dan kiri. Kegatalan pada dua titik, lubang vagina dan puting susu, benar-benar membuat istriku sangat histeris. Kemudian lelaki itu menunduk, menggantikan tangannya dengan mulutnya, puting-puting susu itu disedotinya dan digigitannya, sambil tanpa henti kontolnya terus memompa. Makin cepat, makin cepat. Slup. slup, slup. Dan .., 'aachh..', terdengar suara istriku merintih keras, '..maasszz, aa..kkuu.. nyampaii, orgasme lagii..', benar, cairan-cairannya kembali tumpah dalam lubang vaginanya.

Dan lelaki itu tidak menghentikan pompanya. Rupanya dia sendiri dalam keadaan kegilaan nikmat yang nggak akan menghentikan apapun yang terjadi. Gerakan maju mundurnya makin cepat. Nampak seperti lokomotip yang lari kencang dengan hidrolik yang memompa mesin dan membuat rodanya berputar, kontol lelaki itu memompa lebih kencang lagi. Dia tidak memperhatikan istriku yang megap-megap, juga tidak mengacuhkan bibir-bibir vagina istriku yang ber-busa-busa karena cairan birahinya tersedot keluar. Kenikmatan karena sempitnya vagina itu ternyata tidak berkurang oleh membanjirnya cairan-cairan itu.

Dalam keadaan setengah merem dan melek, istriku menyaksikan busa-busa itu. Kembali kesadaran petualangannya hadir. Walaupun sudah terasa ngilu dan pedih-pedih, saat melihat busa-busa yang keluar akibat gesekkan pompa pada kemaluannya, dia tidak berusaha menahan gerakan lelaki tamunya itu. Dia biarkan batangan 22 cm itu meneruskan pompanya. Dan dia tambah pula kecepatan goyangnya. Dia menikmati bagaimana wajah lelaki itu blingsatan kenikmatan, dan bibirnya yang berpeot-peot mengaduh-aduh. Sementara dari tubuhnya bercucuran keringatnya membasahi dada dan perut istriku.

Dan rupanya lelaki itu belum juga ingin menyelesaikan permainannya. Diturunkannya kaki istriku dan ditariknya membujur searah sofa. Kaki sebelah kanannya dia sampirkan ke sandaran sementara kaki kirinya dia biarkan jatuh ke lantai hingga kemaluan istriku lebih terbuka.

Kemudian kembali disodokkan batang 22 cmnya menembusi kemaluan itu. Kali ini lelaki itu sungguh mendapatkan kesenangan. Dengan bokongnya yang terus maju mundur, dia merebahkan tubuhnya ke atas tubuh istriku. Mulutnya langsung menerkami leher istriku, ketiaknya, susunya, puting-puting susunya dengan penuh kegilaan. Slup, slup, slup, slup. Entah untuk yang berapa ratus kali.

Dan akhirnya datang juga. Lelaki itu merasakan spermanya akan muncrat. Sejak awalnya dia ingin menyaksikan lagi spermanya langsung muncrat ke mulut istriku. Dia akan merasa puas melihat istriku gelagapan menerima limpahan berliter-liter spermanya. Dan dengan sigap dia cabut kontolnya dari kemaluan istriku, kemudian bergerak ke samping sofa. Tangan kirinya secara kasar menjambak rambut istriku dan menariknya, sementara tangan kanannya mengasongkan jamur kontolnya yang basah oleh cairan vagina itu ke mulut istriku. Dan walaupun ada rasa pedih disebabkan tarikan pada rambutnya, istriku secara reflek mengangakan mulutnya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar. Dia merasakan nikmat atas perlakuan kasar lelaki itu.

Perasaan itu sudah mulai hadir sejak kontol gede lelaki tamunya menembusi kemaluannya hingga menimbulkan rasa pedih, kemudian saat kontol itu mulai memompa dengan cukup kasar hingga busa-busa birahinya tersedot keluar meleleh di seputar bibir vaginanya, dan sekarang.. rasa pedas di kulit kepalanya karena jambakan kasar tangan lelaki itu. Dia membayangkan dirinya menjadi budak kenikmatan sang lelaki dan sedang dipaksa untuk menerima sperma itu muncrat ke mulutnya. Itulah yang mungkin disebut sebagai kenikmatan 'multi dimensi'.

Tangan lelaki itu mengocok-ocok batang kontolnya dengan cepat, mulutnya meracau, nafasnya terus memburu, sementara keringat dari dagunya, tubuhnya terus menetesi dada dan perut istriku. Kocokkan itu semakin cepat, pada saat segalanya akan hadir, lelaki itu mendongakkan wajahnya ke-langit-langit. Suara paraunya berteriak 'Aaccrrhh.. aarrcchh .., keluarr .., keluarr, ayoo telann sayangg, makan nihh kontolkuu, minumm nih pejuhku', dan .. crot, crot, crot.., muncrat-muncratlah ber-liter-liter air maninya.

Dengan teriakkan dan racauan panjang seolah melepas beban, laki-laki itu menumpahkan spermanya. Istriku merasakan ada sekitar tujuh kali semprotan panas mengisi rongga mulutnya. Dia terus menganga hingga semprotan itu reda. Sesudah itu dia merasai cairan itu. Mulutnya mengenyam-ngenyam. Kental dan pekat, ada asin, ada gurih, ada sepat dan ada pula pahitnya. Kemudian dia telan seluruhnya. Tenggorokannya ikut merasakan kehangatan air mani lelaki asing itu.

Dan selanjutnya seperti anjing yang selalu lapar, istriku menjilati pula yang tercecer di paha, jembut dan batang kontol lelaki itu. Batangnya masih diperas-peras pula khawatir masih ada yang tertinggal, dan lidahnya menjilat sisa-sisa sperma yang mengalir dari kepala jamur kontol itu. Lelaki itu tergolek dilantai bersandar sofa, lelah sesudah kerja tanpa henti tadi. Dan sesudah yakin nggak ada lagi sisa yang dijilatnya, istriku mengikuti duduk bersandar sofa disampingnya.

Suasana beku untuk beberapa saat. Hanya nafas-nafas panjang yang terdengar. Sementara di luar rumah mulai terdengar suara-suara lain. Klakson mobil, lonceng pedagang es krim, sesorang memanggil nama temannya dan hiruk pikuk lainnya saat hari berangkat malam ..

Pada saat itu, terlintas ingatan istriku pada suaminya. Dia bayangkan di sana suaminya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dasinya, handphonenya, laptopnya dan setumpuk dokumen tak pernah jauh dari dia. Sementara itu, dia, istrinya disini, telanjang terkapar kelelahan di lantai sesudah kemaluannya di entot habis oleh kontol gede panjang tamu asingnya. Ooohh, alangkah ironinya .. Kehidupan jagad terus berputar, di setiap sudut dunia lahir peristiwa-peristiwa. Harmoninya justru timbul dari berbagai ironi antara peristiwa yang satu dengan yang lainnya.

'Maass, rasanya kita perlu mandi-mandi lagi. Aku mau buat madu telor buat kesehatan kita berdua. Mas mandi dulu. Kita akan melewati malam yang woo .. Dan mesti segar dan sehat. Ok?', itulah rentetan mulutnya untuk menepis ingatan pada suaminya. Tamu asing itu mengangguk setuju. Untuk hal-hal semacam itu dia nggak mau terlampau mencampuri. Itu urusanmu, pikirnya. 'Okee ..', toh keluar juga jawabannya, untuk menyenangkan istriku tentunya. Kemudian mereka bangkit.

*****

Pukul 18.31, Selasa

Istriku membuat nasi goreng istimewa. Dia memang juga jago masak. Diatas nasi gorengnya yang dimasak bersama serpihan-serpihan daging sapi dia taruh telor mata sapi setengah matang dan tomat irisan. Dia juga suguhkan kopi susu. Dia bilang itu semua untuk memulihkan tenaga. Tamu asing itu makan dengan lahapnya. Pasti bagi dia itu merupakan makanan yang cukup mewah. Terkadang mereka saling menyuapi. Wwuu, .. kemesraan palsu yang nikmat.

*****

Pukul 19.00, Selasa

'Aku mikir lho mas, tadi siang saat aku buka pintu dan Mas nawarin jamu, aku nggak begitu dengerin, cuma perhatiin orangnya lho', istriku membuka omongan. 'Ooo, ya ..? Terus?', 'Ya aku pandangi tubuh mas, ngganteng, pikirku', 'Ma kasih? Terus?', 'Terus aku ngintip dari kamar', 'Ooo pantesan jadi galak, ha ha ha!', 'Iyaa, aku naksir berat..'. 'Kenapa sih kontolmu gede banget mas?', 'Khan udah dibilang karena madu, hi hi hi?', 'Iyaa deh, n'tar aku borong madunya'. 'Bener?', 'Benerr. Biar suamiku ketularan gede juga, hi hi hi hi?'.

Begitulah mengalirnya sebuah birahi penyelewengan. Pada bicaranya sudah selalu mengarah ke urusan libido. Kemudian mereka saling berpandangan. Tersenyum. Sesaat kemudian istriku mengasongkan tangannya yang langsung disambut oleh lelaki itu. Tangan-tangan itu saling meremas. Dan aliran listrik birahi mulai bangkit, menjalar. Sekali lagi ber-adu pandang. 'Mass .., aku nggak puas-puas lho. Aku selalu merindukan kontolmu', istriku menebar senyum. Pernyataan birahi. 'Samaa.., aku juga sangat kagum pada memekmu mbak. Enak banget. Legit'. 'Bener, niihh..'.

Istriku berdiri nyamperin tamunya secara manja. Dia langsung duduk di pangkuan lelaki itu. Tangannya merangkul kelehernya, 'Maass, ..uuhh..', wajahnya mendekat dan dia mulai mencium. Bibir disambut bibir. Kemudian saling melumat.

Wajah istriku dengan ritme yang penuh rasa berputar-putar diatas wajah lelaki itu. Bibirnya, lidahnya berusaha merasuki rongga mulut tamunya. Di-isapnya lidah tamunya. Disedotinya ludahnya. Sang tamu juga tak kalah berbalas. Dirangkulnya istriku. Dieratkannya ke tubuhnya. 'mm..', terdengar gumaman.

*****

Pukul 19.16, Selasa

Beberapa menit berlalu. Istriku nggak tahan lagi. 'Kita ke ranjang yook', dia bangun dari pangkuan dan lagi-lagi menuntun lelaki asing itu keranjang perkawinannya. Nggak nampak lagi keraguan nyeleweng dan mengabaikan suaminya pada tingkahnya itu. Dia benar-benar masuk ke wilayah petualangan tanpa hambatan. Dia menikmati banget.

Menjatuhkan diri ke kasur bareng-bareng, istriku langsung menerkam, wajahnya ngusel-usel. Diciuminya lelaki itu sambil desahnya tak henti-henti. Dia cium dan gigiti bibirnya, dagunya. Sesekali bibirnya turun ke lehernya. Lelaki itu pasrah saja. Dia mengimbangi apa mau istriku. Dia menikmati. Kedua tangannya jatuh ke bantal, hingga ketiaknya yang berbulu terbuka. Sepertinya dia ingin ciuman, jilatan dan gigitan istriku merambahi semua wilayah tubuhnya. Dan itu memang menjadi target istriku.

Melirik ketiak tamu asingnya yang penuh bulu, hhuu .., hatinya tergetar.. Dia menahan diri untuk tidak langsung merambahnya. Dia membuat urutan. Bibir dan lidah turun ke dadanya. Disini istriku menikmati aroma tubuh lelaki seutuhnya. Sambil menggigit kecil, hidungnya dilekatkan kepori-pori di dada untuk menghirup lebih banyak bau lelakinya. Begitulah betina yang kehausan. Lihat, tangannya yang memeluki tubuh lelaki telanjang yang telentang pasrah, sembari sesekali jari-jarinya merabai bagian-bagian peka atau geregetan sambil mencubit kecil, atau menusukkan ujung-ujung kukunya ketubuh liat tamunya itu. Semua hal yang berlangsung, baik dari istriku maupun reaksi tamunya, nampak mengalir dalam derasnya libido mereka yang terus membara.

Suara bibir istriku sesekali terdengar, timbul karena kecupan-kecupannya dan karena desah kenikmatan yang dilaluinya. Sesekali kepalanya bangkit menyibakkan rambutnya yang terurai.

Nampak kemudian tangan kanan sang tamu meraih rambut-rambut istriku, membantu agar rambutnya tidak merepotkan ciuman dan jilatannya ..

uuhh .., enak banget menggigiti pentilmu mas, istriku berkata dalam hatinya sambil tak puas-puasnya menggigit dan menjilati pentil itu. Kemudian juga bagian bawahnya, di arah tulang-tulang iganya. Dia dapatkan daging gempal yang sungguh nikmat jadi sasaran bibirnya. Tak pelak lagi, lelaki itu bergelinjangan menahan geli nikmat sambil mulutnya mendesah, ingin mengaduh tetapi berusaha menahannya. Yang hanyalah suara-suara eekkhh.. Menahan geli dengan menekan nafasnya.

Tangan istriku merubah posisi. Mulai mengelusi bahu bawah ketiaknya. Dengan lembut tangan itu merabai, naik turun, mengalir mengikuti ritme bibirnya yang terus menjilati buah dada lelaki itu. eekkhh.., eekkhh.. Untuk kesekian kali lelaki itu menyibakkan rambut istriku. Terkadang nampak tangannya juga meremasi dan menjambak rambut itu. Tingkah lakunya itu mendorong birahi istriku makin semangat. Kepalanya mengangguk-angguk kecil atau meliuk mengikuti lidahnya yang menyisir lekukan anatomi dada tamu asingnya.

Istriku merubah posisi. Tubuhnya bergeser kesamping kanan. Tangannya sedikit mendorong, yang langsung direspon lelaki itu, hingga tubuh lelaki itu miring ke kanan tanpa harus menurunkan tangannya sehingga ketiak berbulu lelaki itu tetap terbuka. Dengan posisi ini istriku semakin leluasa menggiring bibir dan lidahnya menjangkau wilayah ketiak itu. Lembut, bergerak terkendali, pelan tetapi jelas, gigitan kecil dan jilatan lidah itu menuju wilayah ketiak. Sekali lagi terdengar eekkhh.., lelaki itu menahan nafasnya, menahan gelinjangnya. 'Mmbaakk .. eekkhh'.

Nampak banget istriku menikmati reaksi emosi tamu asingnya. Semakin mendengar erangan, desahan atau gelinjang limbung lelaki itu, semakin dia getol, terus menjilat atau menggigit atau mengecupi. Itu semua merupakan bagian dari gejolak dalam simponi birahi. Aksi dan reaksi saling bersahutan melahirkan harmoni hubungan ranjang penyelewengan seorang istri dengan lelaki asing yang baru dikenalnya.'Ooocchh ..', terdengar istriku mulai mendesah. Nampak hitam matanya menghilang ke atas dan kukunya menancap seakan hendak melukai kulit liat lelaki itu.

Bersambung...

Perselingkuhan 19 jam - 5



Pukul 17.17, Selasa

Mereka beranjak dari tempat tidur. Ketika sang tamu meraih celananya hendak dikenakan, istriktu menahan, 'Yoo, kita bertelanjang aja semalaman ini, bebas dan hewani, seperti Adam dan Hawa, bagaimana?', usul istriku sambil ketawa kecil geli. Boleh juga nih, pikir sang lelaki, kemudian ditaruhnya kembali celananya dan mereka bertelanjang bulat menuju ruang makan.

Lelaki ini ketawa ngakak melihat istriku telanjang membawa makanan dari lemari es ke meja makan. Dia baru melihat dan mengalami pengalaman lucu macam ini. Demikian pula saat sang tamu berdiri untuk mengambil minumannya, istriku mentertawakan kontol gedenya yang bergelantungan macam bandulan itu.

Mereka makan sebagai orang bercinta. Istriku memulai menyuapkan sesendok nasi kemulut tamunya yang langsung mengunyahnya kemudian berciuman dan membagi kunyahan itu ke mulut istriku. Kembali tertawa cekikikan. Saat hendak minum istriku mengambil air gula, 'malas ah mengamil sendok, pinjam ini yan buat ngaduk ..', sambil menunjuk kontol gede panjang lelaki itu. 'Ambill ..', dan jadilah, kontol gede itu mencelup ke muk air teh dan gula menggantikan sendok sebagai adukan. Kemudian dia teguk air gula itu hingga tandas, '..hhuu.. nikmaatt..'.

eehh, kontol lelaki itu ngaceng .., maklum pada permainan di kamar tidur tadi hanya istriku yang merasakan kepuasan dengan dua kali orgasme, sementara tamunya ini sama sekali belum keluar spermanya. Pelampiasan birahinya tertunda. Dan ketika dapat senggolan tangan istriku kontolnya langsung saja ngaceng. Uhh, memang luar biasa gede dan panjangnya. Istriku beranjak ke meja tulisku mengambil mistar plastik yang selalu di meja itu, kembali dan membuat ukuran penis lelaki ini. Panjangnya 22 cm, dengan garis tengah batangnya 4 cm atau seperti pipa besi se-ukuran 1.5 inchi. 'Berapa mbakk, ..', tanya lelaki asing itu. Istriku menunjukkan panjangnya di mistar, dan menyebutkan garis tengah batangnya.

Pada kesempatan ini istriku lebih leluasa memperhatikan tubuh tamu asingnya. Dari tempat duduknya dia perhatikan dada tamu itu hitam dengan sedikit mengkilat karena dipadati oleh daging, nampak sangat sehat. Sebagai lelaki pentilnya nampak cukup besar. Ahh.. aku belum sempat mengisap puting itu. Pasti sedap mendengar rintihan tamunya saat dia melumati puting itu, dia mengkhayal lagi. Kemudian dia perhatikan pula bahunya yang bidang, bagian mana yang menampakkan kejantanan dan kegagahan pria ini. Dan turun ke lengannya, nampak sepintas bulu ketiaknya. 'Mass, ..tolong ambilin itu dong, cangkir merah di rak atas', dia dapat akal untuk lebih banyak melihat ketiaknya. Dan, bukan main, bulu-bulu ketiaknya sangat rimbun. Baru sekarang dia sepenuhnya menyadari, pada saat-saat tidak sibuk menggumuli atau di gumulinya.

Ahh, sebentar dia akan menenggelamkan diri pada wilayah-wilayah berbulu itu. Walaupun telah empat kali mengalami orgasme, dan membuat tenaganya terperas tetapi pemandangan bulu-bulu tadi cepat menyegarkan kembali semangatnya. Sementara sang lelaki asing nggak perlu dikhawatirkan. Kontolnya jelas-jelas masih kehausan untuk permainan macam apapun.

Dia teruskan makan malamnya. Dia ambil susu dari lemari es, dia tegak sepenuh gelas. Dia ambil sebatang coklat, berbagi dengan sang tamu dalam adu bibir. Mereka juga bertukar minum dalam satu mulut.

Selingan makan ini tidak memutus kesinambungan birahi mereka. Mereka memiliki banyak kreasi untuk merawat semangat dan nafsu libidonya. Terutama karena istriku memang perempuan yang pandai. Dia selalu punya jalan keluar.

Sebagai penutup hidangan, sekali lagi istriku menawarkan kopi. Mereka kembali ke sofa depan sambil memawa kopi masing-masing. Duduk saling menempel. Tangan saling menggerayang. Kemudian disusul pagutan, saling bertukar lidah dan ludah. Mereka melakukan pemanasan lagi.

*****

Pukul 17.35, Selasa

Alangkah nikmatnya berciuman. Saling mengulum menikmati ludah yang hangat. Sesekali terdengar 'clup' ketika bibir-bibir itu lepas sesaat. Irama wajah-wajah saat bibir mencari posisi untuk menyedoti nikmatnya. Mencari-cari tepian bibir dan saling menggigit. Uuhh .., libido langsung terdongkrak. Tangan istriku langsung merabai perut lelaki asing itu, turun meremasi jembutnya yang tebal. Digosok-gosokkan telapak tangannya untuk merasakan kekakuan yang nikmat dari setiap helai rambut kemaluan tamunya.

Kemudian merabai selangkangan. Digosokkan pada celahnya, naik, turun, melakukan dengan lembut. Diserempetkannya punggung tangannya ke batang kontol yang sedari tadi sudah dengan tegaknya mengacung, menunjukkan kepalanya yang seperti jamur, mengkilat dengan sobekkan menganga pada lubang kencingnya.

Kemudian dimainkannya bijih pelernya dengan remasan lembut, membuat lelaki itu mengeluarkan desisan sambil sedikit mengangkat pinggulnya. Dia ingin tangan-tangan istriku selekasnya menangkap dan mengelusi kontolnya.

Tetapi istriku tidak mau tergesa. Mungkin itu naluri betina, menggoda pejantan hingga karena nafsunya hadir menggelegak. Yang istriku lakukan justru melepas bibirnya dari bibirnya untuk meluncur ke bawah, keleher lelaki itu. Disini dia membuat lelaki itu mendongak sehingga dia bebas menyedoti batang lehernya, kekanan, kekiri, keatas dan bawah. Bau ludahnya melumati pori-pori leher lelaki itu semakin membuatnya terbakar. Dan jilatannya kembali meluncur turun.

Betapa istriku ingin melumati dada lelaki ini. Dada gempal sehat berotot itu demikian kenyal dalam gigitan. Disertai erangan dan rintihan lelaki asingnya, bibir dan lidahku melumati seluruh permukaan dadanya. Putting susunya dia sedotin, dia gigitin. Daging bawah susunya yang gempal dia gigitin. Berputar-putar disekeliling iga lelaki itu. Tentu saja sang lelaki menjadi kesetanan. Menggelinjang dan mengaduh, menahan gejolak birahi yang terus memuncak.

Dari dada bibir dan lidahku meluncur ketepian ketiak. Hidungnya menangkap aroma jantan sang lelaki yang menyebar dari ketiaknya. Uhh.. sangat nikmatnya. Dia ingin menjilati ketiak yang penuh bulu. Dia isyaratkan agar tamunya mengangkat lengannya. Dia ingin dengan terbuka dan leluasa bisa menjilati ketiak-ketiaknya. Dan sang tamu dengan senang hati bersender, melipat tangannya keatas untuk bertumpu pada kepalanya sehingga kedua ketiaknya yang penuh bulu terpampang. Istriku mengamati sejenak postur itu, oohh ..bukan main, seksi sekali.. Lihat, seorang pria asing, telanjang penuh bulu, kasar berotot, bersandar di sofa dengan sepasang ketiak berbulu yang menantang. Sementara kakinya selonjor kelantai setengah terbuka hingga nampak tegar kontolnya yang tegak ngaceng mencuat dari rimbunan jembutnya. uuhh ..alangkah nikmatnya untuk di jelajahi.

Ah.. Dia ada gagasan, mirip gagasan lelaki saat di tempat tidur tadi. Dia berdiri sesaat berhadapan dengan postur pria telanjang tersender di sofa itu, kemudian berjongkok. Bukan, bukan jongkok. Lebih rendah lagi, dia setengah berguling dilantai. Tangan-tangannya meraih kaki-kaki lelaki itu. Dia melakukan seperti tamunya yang telah lakukan padanya. Dia, istriku, ya istriku, mulai menjilati ujung-ujung jari kaki lelaki asing itu.

Mula-mula menciumi, mengkulum-kulum setiap jari kaki, dari jempol hingga kelingkingnya. Lidahnya menari diantara celah-celahnya. Kemudian pinggiran telapaknya disedoti. Kemudian telapaknya diciumi, dijilati hingga menutupi wajahnya. Telapak bersepatu no. 43-an itu sangat lebar menutupi wajah istriku yang mungil.

Dia menikmati bau sepatu pada telapak lelaki itu. Sepatu butut dan murahan yang berbau sangat menyengat. Maklumlah lelaki ini jalan dari rumah kerumah sepanjang hari. Tapi dihidung istriku saat ini, bau itu justru sangat merangsangnya. Dia lumat-lumat telapak kakinya itu seakan akan mencuci habis untuk menyedot bersih bau itu.

Karuan saja sang tamu asing ini benar-benar melayang dalam kenikmatan tak bertara. Seakan ingin ditariknya kakinya karena tak tahan kegeliannya. Tetapi itu tak dilakukan. Ini pengalaman pertama bahwa seorang perempuan, gedongan lagi, menjilati kakinya. Mencuci dengan bibirnya, menyapu-nyapu dengan lidahnya. Wwoo ..sungguh .. bukan main ..perempuan satu ini.

Selanjutnya dengan bersandar pada sofa samping, istriku duduk dengan betis kanan lelaki itu dalam rangkulannya. Dia jilati pori-pori dan bulul-bulu betis itu. Hidungnya mencium-cium mencari bau ke-laki-lakian pada betis itu. Dia pusatkan pada betis kanan saja. Ketidak seimbangan naiknya saraf-saraf pada betis akan menyiksa nikmat pada pemiliknya. Dan benar. Lelaki asing itu meronta. Dijambaknya rambut istriku untuk menghentikan sejenak kegelian di kaki yang melandanya. Dia nggak tahan. 'Aduuhh ..mbbak, geli banget sihh ..', istriku tersenyum puas mendengarnya. 'Mbak ngerti banget kelemahan saya ..', pujian yang menyemangati birahi istriku. Lelaki itu menarik nafas sesaknya, kemudian melepas jambakan rambut istriku. Dan nafsu istriku yang sudah membara kembali meraih betis itu, tidak mengulang pada wilayah yang sama tetapi bibirnya kini naik ke dengkul.

Ada semacam target dari istriku. Dia ingin melihat kontol tamunya mencapai ngaceng yang paling. Dia berharap dengan permainannya itu nafsu lelaki asing ini benar-benar meledak. Dia lirikkan matanya ke tonggak mengkilat yang mencuat dari belantara keriting, jembut lelaki itu. Dia perhatikan benar jamur mengkilat di ujung itu merekah dengan belahan ranum yang menunggu jilatan dan isapan mulutnya. Uhh.. indahnya. Itu pasti desakkan darah nafsunya. Dan lebih jauh ke atas nampak wajah tamunya yang mengerang dan merintih, merana dalam kenikmatan tak bertara yang sedang melandanya.

Dengkul itu digigitinya sesaat. Tak lupa lidahnya menyapu pori-pori dengkulnya mencari aroma ke-laki-lakian disana. Dan bibir terus naik ke sasaran utama. Paha berbulu lelaki itu dikemot-kemotnya. Bulu-bulunya sangat merangsang saraf-saraf lidahnya. Dia sedoti rasa asin keringat paha lelaki itu. Sementara itu posisi vaginanya tepat nyenggol jari-jari kaki sang lelaki. Wuuhh .. nikmatnya. Kemudian sengaja digosok-gosokan ke liang vaginanya. Dia merasakan seperti ada kontol di sana. Jilatan paha kemudian naik ke arah selangkangan. Matanya setengan merem, menikmati semerbaknya aroma selangkangan tamunya. Dan tak sabar lagi mukanya kemudian dia benamkan pada selangkangan itu. Diantara bijih peler dan sudut paha itu dia menemukan aroma yang keras keringat selangkangan lelaki itu. Disedotnya. Lidahnya menari-nari. Kembali matanya melirik kontol lelaki itu yang benar-benar telah siap menembusi vaginanya.

Sementara itu, oleh kegatalan yang sangat di bawah sana, pantatnya diangkat-angkatnya, agar jari-jari kaki itu masuk lebih menembus lubang kemaluannya. Dan akibatnya bukan main. Gelinjang tak tertahankan menyerang istriku, dia sudah sangat kehausan, matanya sudah nanar, 'Mass.. Tolongg..aa..kkuu.., maass, tolongg..', '..entot akkuu mass..'.

Lelaki itu sigap. Kini saatnya dia ambil alih kendali. Diangkatnya tubuh istriku, didudukannya ke sofa. Dia berdiri di depannya dengan kontol tonggaknya yang siap menerjang kemaluan istriku. Dia raih kaki-kaki istriku dan dinaikkannya kepundaknya. Kemaluan istriku jadi persis berhadapan dengan kontol gede panjang yang telah siap menembusinya. Dan pelan-pelan dia asongkan tepat ke lubang vagina istriku yang sudah nampak berminyak menunggu batangan itu.

Inilah saatnya kenikmatan hadir. Dengan sedikit menekan, kontol gede itu menyibak lubang vagina istriku. Nampak tidak mudah. Dia usap-usapkan dulu ujungnya, mencari cairan pelumas. Kurang. Dia meludah di tangannya. Dia usapkan ludah itu ke ujung kontolnya, sebagai pelicin. Dia kembali mencoba, ujung kontol dipaskan ke lubang vagina dan dorong. Pelan tapi ..blleess.. Sesaat berhenti. Sedikit dia tarik untuk meratakan pelumas itu. Dan kembali bless.., lebih dalam lagi. Dia tarik lagi dan bless lagi. Begitu beberapa kali. Sehingga akhirnya seluruh batangan yang 22 cm itu tertelan masuk dalam liang vagina istriku.

Pukul 17.57, Selasa

Upaya kontol tamu asing yang menembusi vaginanya sungguh membuat istriku hampir kelengar. Kontol itu demikian sesaknya, walaupun ini untuk yang kedua kalinya sejak hampir lima jam terakhir. Hal itu mungkin disebabkan urat-urat cengkeram dalam vagina istriku juga mengencang, hingga membuat lubang itu sangat mencengkeram. Ada rasa pedih dicelah-celah nikmat yang didapat. Mungkin timbul goresan. Tetapi sesudah lelaki itu meludahi kontolnya, ada sedikit pelumas. Cara memasukkan yang sedikit-sedikit dan pelan, kemudian ditariknya dan didorongkan lagi hingga pelumasnya merata tadi sungguh saat-saat yang dipenuhi gelinjang dan mendongkrak libidonya.

Dengan posisi kepala bersender di sofa, kemudian badan setengah melengkung karena kedua kakinya ditarik ke atas numpang di atas pundak sang lelaki sehingga dia bisa melihat secara nyata saat-saat ujung kontol menyentuhi bibir kemaluannya ternyata membuat sensasi erotis yang luar biasa. Dia menyaksikan bagaimana klitorisnya tersibak memberikan ruang untuk batang berkepala jamur mengkilat itu menembusi vaginanya.

Pemandangan kontol gede panjang dan kaku berwarna coklat kehitaman yang menembusi vagina berwarna kulit kuning putih itu sungguh merupakan sensasi yang belum pernah ia saksikan selama ini.

Bersambung...
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com