Kamis, 07 Januari 2010

Kisah masa laluku - 1



Aku adalah seorang lelaki yang berumur 24 tahun, lahir di suatu kota di Sumatera-Utara. Dan ini adalah untuk pertama kali aku mengirimkan cerita ke situs 17Tahun.com ini. Sebelumnya aku sudah pernah mencoba untuk menulis kisahku ini, tapi aku tidak pernah berhasil mencapai batas minimum 10.000 huruf, sehingga tulisanku hanya bisa ku simpan di disket dan akhirnya kali ini aku baru bisa kembali menulis kisahku ini.

*****

Aku terlahir sebagai seorang anak lelaki, di usiaku yang masih kecil sampai aku sekolah di tingkat SMP, aku mempunyai sifat seperti perempuan, hal ini bisa di lihat dari caraku berbicara dan juga gaya tubuh. Banyak teman-teman dan yang lainnya memanggilku dengan sebutan "Banci". Aku merasa benci sekali terhadap diriku, tapi syukurlah kalau sekarang aku bisa berlaku layaknya sebagai seorang lelaki sejati, meski terkadang disaat aku bercanda dengan temanku, sifat asliku terkadang muncul, aku bisa terkesan sangat cerewet sehingga kelihatan sekali aku mirip dengan anak perempuan.

saat aku masih duduk di bangku SD, aku suka bermain dengan beberapa teman lelakiku, dan biasanya mereka bermain di rumahku yang kebetulan setiap hari selalu sepi kare4na ayah dan ibuku bekerja di luar rumah. Suatu hari aku mengajak mereka main dokter-dokteran, aku berperan sebagai dokter dan mereka pasienku. Dan di saat itu sudah muncul naluri ke-"Gay"-anku, aku suka sekali untuk memegang penis kedua teman-temanku, tetapi yang aku lakukan saat itu hanya sekedar memegang penis mereka, aku belum bisa membedakan apa itu lagi ereksi atau bukan.

Setiap hari kami selalu bermain bersama, sampai akhirnya kami mulai saling suka memegang penis satu dengan yang lainnya. Kemudian kami mulai suka saling menggesek-gesekkan kedua penis kami, dan hanya itu yang sebatas itu yang kami lakukan, karena pada saat itu kami bertiga belum puber, belum bisa mengeluarkan pejuh dari penis kami. Jadi kami hanya saling mengonani tanpa merasakan orgasme.

Dan dari kami bertiga, aku merasa hanya aku saja yang mempunya naluri gay yang lebih besar, karena aku tidak bisa menyukai perempuan sedangkan kedua temanku suka menggoda teman perempuan, dan mereka juga berpacaran dengan teman perempuan tersebut.

Kemudian saat aku mulai duduk di bangku SMP, aku sudah puber, dan aku sudah mengetahu kalau dalam mengonani, aku bisa mengeluarkan cairan putih yang belum kuketahui apa namanya. Dari sana aku merasa bahwa naluri sex ku begitu mendalam, aku suka sekali memegang penis orang lain, tidak perduli siapapun dia.

Aku mulai suka memanfaatkan situasi, di tempat ayahku berdagang, kami mempunya beberapa orang pegawai lelaki, satu dari mereka sudah berumur 40 tahunan, aku suka mengajak dia ngobrol dan kemudian aku suka mulai memegang penisnya, meski hanya memegang dari luar celananya, aku sudah merasa senang sekali. Kemudian aku mulai memberikan dia uang dengan imbalan dia mau membuka celananya dan membiarakan aku memegang penisnya. Dia menyetujuinya karena dia juga butuh uang dari aku. Dan kejadian itu berlangsung setiap hari karena di waktu sore, tinggal kami berdua sehingga aku selalu dapat memegang penisnya yang lumayan besar untuk orang asia.

Awalnya aku hanya suka memegang penisnya dan mengocokknya dengan berbagai macam gaya, kemudian aku mulai ingin untuk mengoral penisnya dan dia diam saja sambil menikmati apa yang aku lakukan. Aku hanya suka mengoralnya sampai aku merasa puas sendiri, aku tidak menunggu dia orgasme karena saat itu aku tidak mengetahui kalau di dalam berhubungan sex, aku juga harus memuaskan pasanganku itu.

Saat itu aku memiliki keingin yang besar untuk melihat penis setiap lelaki yang aku jumpai, dan karena itu aku selalu membuka topik pembicaraan dan ujung-ujungnya aku suka menempelkan tanganku di gundukan celana lelaki yang aku temui. kalau aku merasa mereka memberiku lampu hijau, maka aku akan terus membuka resleting celana mereka, kemudian memegang penis mereka dan mengocoknya sesuka hati. dan kalau memang keadaan sekita mengijinkan, maka aku tidak akan segan-segan untuk mengoral penis mereka sampai mereka mengeluarkan sperma mereka.

Dan hal-hal tersebut aku lakukan hanya beberapa kali, karena aku masih tinggal di kota kecil dan karena usiaku yang juga masih duduk di bangku SMP membuat sedikit sekali kesempatan bagiku untuk bisa berduaan dengan seorang lelaki dewasa.

Kemudian disaat aku duduk di bangku SMU, perubahan tubuh yang membuatku lebih besar membuat aku mulai mendapat kesempatan untuk berdua dengan lelaki dewasa. Saat itu aku lebih hati-hati dan aku mulai merasa harus menghilangkan image kegenitanku dan mulai membentuk image lelaki sebenarnya pada diriku. Saat aku bisa berdua dengan lelaki dewasa aku dapatkan dimana saat itu aku sudah mulai membantu orang tuaku berdagang. Setiap ada pembeli lelaki yang datang dan ingin melihat barang yang ada di gudang penyimpanan, aku yang selalu menawarkan diri untuk mengantarkan mereka malihat di gudang tersebut yang jaraknya lumayan jauh dari kantor kami dan keadaan sepi di gudang itu membuat aku bisa sedikit merayu para pembeli yang datang, bukan merayu mereka untuk membeli, tetapi merayu merayu mereka untuk bersedia mengijinkan aku memegang penis mereka.

Dan aku punya cara sendiri untuk merayu mereka,
"Sudah menikah Pak?", tanyaku memulai pembicaraan.
"Sudah dik", jawabnya.
"Wah asyik donk 'adiknya' ini tiap malam masuk sarang", sambungku sambil meletakkan tangan kananku tepat di gundukan penis yang masih terbalut celana jeansnya.
Dan kalau lelaki yang aku pegang penisnya tidak terlihat mencoba menepis tanganku maka aku akan berbuat lebih berani. Aku akan terus meletakkan tanganku di sana dan akan mulai meremas pelan.
"Besar sekali ya Pak?", candaku biasanya.
"Ah, Adik bisa aja".
"Besar nih, aku buka ya Pak?", kataku sambil membuka resleting nya.
"Jangan dik, nanti dilihat orang".
"Sepi kok disini, nggak ada yang bakal datang".

Kemudian aku akan mulai mengeluarkan penisnya dan mulai meremas penisnya sampai mengeras, seperti biasa jika kesempatan sudah di depan mata, maka aku tak akan ragu lagi, aku akan mulai berjongkok dan akan mulai mengoral penisnya sampai dia merasa puas dan mengeluarkan spermanya.
"Enak nggak Pak?".
"Enak banget dik".
"Lain kali kalau pingin lagi, kesini lagi yah Pak!".
"Oke deh, makasih yah".

Dan aku mengeluarkan sapu tanganku kemudian membersihkan sisa air ludahku yang menempel di penis bapak tersebut dan kemudian menutup resleting mereka, dan setelah mengambil barang dari gudang tersebut, kami akan kembali ke kantor seperti tidak terjadi apa-apa diantara kami. Dan saat-saat menyenangkan itu aku dapatkan dalam banyak kesempatan, terutama saat ketika kedua orang tuaku pergi berlibur ke Luar Negeri selama dua minggu. Saat itu aku yang harus mengurusi kantor mereka dan aku mempunyai banyak kesempatan untuk merayu setiap lelaki yang datang untuk membeli produk yang kami jual.

Sampai akhirnya aku lulus SMU dan aku harus pindah ke kota 'X' untuk kuliah disana. Di kota 'X' tersebut aku tinggal bersama keluarga Adik ayahku. Awal di kota 'X' ini membuat aku bosan karena aku kehilangan kesempatan-kesempatan untuk merayu lelaki-lelaki yang bisa memuaskan nafsu sex aku yang begitu besar. Dan dikota ini aku memulai kuliahku, bertemu teman-temahn baru sambil mengincar teman-teman baruku. Tetapi tidak ada yang aku sukai diantara mereka, dan lagi pula kalau aku bisa menemukan teman baru yang aku sukai, aku ragu karena aku merasa tidak punya tempat untuk melakukan hal tersebut.

Dan ternyata aku menemukan ide-ide yang bisa membuat aku mendapatkan kepuasan. Setiap malam hari ketika hujan tiba, aku suka permisi kepada pamanku untuk keluar rumah dengan berbagai alasan. Dan aku akan mulai mencari tukang becak yang biasanya bisa aku jumpai di jalan raya. Aku akan memilih mana tukang becak yang aku sukai, tentunya mereka yang kelihatan bersih dan juga wajahnya menarik. Aku akan menyetop becaknya kemudian dengan menawarkan sejumlah uang, aku akan menyuruh mereka untuk membawa aku keliling-keliling kota ini. Becak di kotaku ini bukan seperti becak di pulau jawa yang biasanya pengemudinya ada di belakang sedangkan penumpangnya di depan, tetapi becak yang ada di kotaku adalah becak yang pengemudinya duduk di samping kita untuk mengemudikan becaknya. dan ketika hari hujan, maka mereka akan menutup becaknya dengan tenda sehingga yang tampak hanyalah wajah tukang becak itu sedangkan aku akan berada didalamnya. Dan duduk di dalam becak tersebut membuat aku bisa memperhatikan gundukan penis tukang becak tersebut tanpa di ketahui tukang becak itu sendiri.

Setelah beberapa lama becak berjalan dan hujan masih deras, maka aku akan memulai pembicaraan dengan berteriak kecil karena aku ada di dalam becak sedangkan kepala tukang becak tersebut berada di luar maka kalau aku berbicara pelan, maka tidak akan kedengaran apa yang aku bicarakan. Untuk memulai aksiku agar bisa langsung memegang penis tukang becak tersebut tanpa membuat dia terkejut, maka aku akan memulai pembicaraan yang menjurus kehal-hal berbau sex.
"Bang, hujan-hujan begini kok bukannya pulang kerumah? Kan enak, abang bisa menyenangkan 'adiknya' he he he heh e", kataku sambil langsung mendaratkan tanganku di gundukan penis abang becak tersebut untuk memperjelaskan arti kata 'Adik' yang aku katakan.

Kemudian seperti biasa, aku akan merayu dengan yang lebih lagi sementara tanganku tentunya tidak menghentikan aksiku. Aku akan mulai mengeluarkan penis dari celananya, kemudian meremasnya sampai mengeras, sementara abang becak itu terus mengemudikan becaknya dengan perlahan, sehingga orang di sekitar tidak akan curiga. kemudian aku akan mulai mengoral penis tukan becak tersebut, sambil berbisik kepadanya agar mencari jalan yang lebih sepi. Biasanya di tempat yang lebih sepi, tukang becak tersebut akan menghentikan becaknya di tepi kemudian mulai menikmati oral yang aku lakukan terhadap 'adiknya'. tentunya bisa di tebak akhir kisah ini kalau dia kemudian akan mengeluarkan spermanya.

Biasanya setelah itu, aku akan menutup resletingnya kembali dan aku akan mulai untuk mengocok penisku yang sudah menegang dari tadi. Kemudian setelah selesai, maka aku akan menyuruh tukang becak tersebut mengemudikan becaknya kembali ke tempat asal. Hal tersebut aku lakukan beberapa kali, tentunya bukan dengan tukang becak yang sama melainkan tukang becak yang lain.

Kejadian itu sedah berlalu 2 tahun yang lalu, dimulai dari informasi tentang penyakit AIDS yang aku peroleh. Aku menjadi ketakutan akan diriku, aku mulai memeriksakan diri ke dokter dan syukurlah aku dinyatakan bebas dari penyakit kelamin AIDS ataupun penyakit kelamin lainnya. Sejan saat itu juga aku berusaha untuk menghentikan aksiku yang liar itu dengan cuma beronani di kamar saja atau hanya dengan melihat-lihat gambar porno lewat internet kemudian melampiaskannya dengan beronani juga.

Syukurlah sudah dua tahun ini aku bisa bebas dan tidak pernah sekalipun aku berhubungan badan dengan sembarangan orang lagi. Kalaupun aku benar-benar haus sentuhan lelaki, maka aku akan pergi ke panti pijat tuna netra dan kemudian membiarkan diriku di pijat sambil merasakan sentuhan dari seorang lelaki yang aku rindukan dan tentunya kami tidak melakukan hal lain.

Saat ini aku cuma ingin menjalin hubungan dengan pria yang dewasa, yang bisa menyayangi aku apa adanya diriku. Dan juga mapan, dalam arti bisa menghidupi dirinya sendiri. Saya tidak suka dengan lelaki yang masih suka meminta kepada orang tuanya, walau hanya untuk beli rokok sekalipun.

Bersambung . . . .

Kenikmatan dan kesengsaraan - 2



Setelah aku berpakaian, aku keluar dengan perasaan takut. aku melihat dia lagi duduk sambil merokok di samping pintu keluar.
Aku memutuskan untuk bicara baik baik dengan dia, "Mas, tolong donk, balikkin KTP dan foto yang Mas ambil tadi, aku enggak akan cerita ke siapa siapa, dan aku berjanji akan selalu siap kalau Mas mau main sama aku"
Sambil tersenyum, "Kamu pulang saja, besok datang lagi ke sini, jangan sampai kamu buat aku marah lagi, sono."

Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku keluar dari rumahnya, dengan perasaan kacau dan enggak tahu harus berbuat apa, aku manggil taksi yang kebetulan lewat dan langsung pulang. Sesampai di rumah, aku langsung ke kamar.. Rebahan.. Badan aku terasa sakit sekali, begitupula bool aku.. Perasaan aku sangat kacau sekali, aku enggak pernah ngalamin masalah begini, aku sangat takut dan enggak tahu harus berbuat apa. Dengan pikiran kalut dan kacau, akhirnya aku ketiduran..

Tiba tiba aku terbangun dan secara refleks melihat jam (sudah kebiasaan).. Gile.. Ternyata sudah jam 7.30.. aku kaget, langsung saja aku bangun terus cuci muka, gosok gigi dan mandi seadanya, aku harus buru-buru karena hari ini aku harus nyerahin laporan buat atasan aku.

Setelah siap, aku langsung naik bus, yang untungnya kebetulan lewat tanpa harus menunggu. aku nyampe di kantor sekitar jam 8 lewat beberapa menit. Tanpa memikirkan macam-macam aku langsung nekan tombol lift dan menunggu. Tiba-tiba ada seseorang menepok punggung aku dari belakang dan segera noleh ke belakang. Gile.. aku kaget banget, ternyata yang nepok aku itu cowok yang kemaren menyiksa aku!! Saking kagetnya aku enggak bisa ngomong apa-apa .

Sambil tersenyum tanpa dosa, "Pagi, kok keliatannya kusut banget hari ini, sini deh bentar, aku mau bicara"
Aku langsung ditariknya pergi dan berhenti di tempat yang sepi
"Oy, jangan bengong gitu donk, kaget ya liat aku disini? Aku juga kerja di gedung ini kok, cuma kita beda lantai, kamu di lantai 18 kan? Aku di lantai 19, aku tuh sudah lama perhatiin kamu, cuma kamu doank yang enggak nyadar, Anyway, aku mau kamu nunggu aku disini pas jam makan siang, dan jangan sampai telat ok? kalau telat ato enggak datang, kamu tahu donk konsekuensinya"

Deg.. Jantung aku langsung kayak berhenti saja, beban pikiran yang kemaren langsung kembali menyerbu aku, tapi karena aku sudah telat dan bisa dimarahin atasan aku, aku terpaksa harus menyingkirkan terlebih dahulu semua itu. Sesampai di kantor, ternyata atasan aku sudah menunggu di meja aku, dan aku sempat ditegor karena telat, untungnya seh enggak parah-parah amat.

Setelah semua urusan diserahkan kepada atasan aku dan mereka sudah memulai rapatnya, aku sudah agak lowong dan enggak ada kerjaan. aku cuma bisa duduk.. Termenung dan memikirkan kembali apa yang terjadi kemaren malam dan tadi pagi dengan seksama. Akhirnya aku menyadari kalau aku nih di posisi yang sangat bahaya. Dia mempunyai sesuatu yang bisa membuat aku melakukan apa yang dia mau. Semua beban pikiran ini benar-benar membuat aku down dan ingin membicarakan dengan seseorang untuk mencari jalan keluar, tapi itu tentunya tidak mungkin. Tapi nggak tahu kenapa, kejadian tersebut membuat penis aku ngaceng!! Aku sebenarnya malu akan diri aku sendiri dan bertanya-tanya, kenapa aku bisa mempunyai perasaan itu, padahal hidup aku dalam bahaya.

Tanpa sadar, pintu meeting room terbuka dan para atasan mulai keluar satu persatu, ternyata sudah jam makan siang, dan ketakutan aku juga semakin menggila. aku harus ketemu dengan dia atau dia akan melakukan hal-hal yang akan membuat aku malu seumur hidup!! Segera aku turun ke lobi utama dan menunggu di tempat yang ditentukan, ternyata dia belum datang juga. Sambil pasrah dan nyandar di dinding, tiba-tiba aku dipanggil sama seseorang.

"Halo, gimana pekerjaan kamu? baik-baik saja?" Sapanya ramah seakan-akan tidak ada masalah apa-apa.
"Baik, ada apa nyari aku, tolong ktp en klise nya balikin ke aku donk," jawab aku agak ketus.

Dengan mendekatkan ke telinga aku, dia berbicara dengan suara pelan, "Wa wa wa.. Jangan emosian gitu donk, kan kemaren aku sudah bilang dengan sangat jelas, aku enggak suka ngulang-ngulang apa yang aku bicarakan, jadi ini untuk yang terakhir kali nya aku bilang, kamu itu adalah budak aku, aku mau ngapain, kamu harus nurut, kalau nggak, kamu sendiri bisa membayangkan akibatnya, gimana kalau tiba tiba di kantor kamu terdapat foto-foto kemaren? Atau bahkan tetangga tetangga kamu? Atau orang tua kamu? Dan ingat, KTP kamu ada di tangan aku"

Mendengar dia ngomong begitu, penis aku langsung ngaceng! aku merasa sangat biadab dalam hal ini.. Bagaimana aku bisa mempunyai perasaan seperti ini pada situasi begini.

"Ayo, kita ke WC lantai 5, disana sepi, cuma ada 1 kantor, itupun lagi diservice, jadi praktis enggak ada orang"
"Ha? ngapain Mas?" jawab aku agak takut
"Emang mau ngapain lagi??"
"Tapi Mas, ini kan di kantor, berbahaya sekali Mas, tolong donk Mas, ntar malam saja Mas ya"
"Hey, kamu tuh sadar enggak seh posisi kamu sekarang? sudah jangan banyak omong, ikutin aku, atau kamu akan menyesal"

Dengan perasaan berat dan sekaligus"turn on" aku mengikuti dia. Sampai di Lt 5, dia langsung menuju ke WC, ternyata benar kata dia, di sana emang sepi dan enggak ada orang sama sekali, Dia langsung masuk ke toiletnya, dan menyuruh aku masuk, kemudian dia duduk di toilet, dan suruh aku kunci pintunya dan jongkok di depan aku, karena toiletnya agak sempit, jadi aku deket banget ke penisnya yang tercetak dengan jelas dari balik celana kerjanya, begitu juga penis aku yang sudah ngaceng abis!

"Tunggu apa lagi? buka dan isep"

Aku mengikuti apa yang diperintahkannya, aku buka reslteing celananya dan celana dalamnya, kecium bau penis yang sangat pekat sehingga membuat aku seperti ingin muntah. Dia melihat sikap aku dan bilang,

"Kenapa? Enggak suka baunya? Aku sengaja enggak cuci penis aku sejak kemaren malam, khusus buat kamu, seharusnya kamu berterima kasih, sudah enggak usah banyak tingkah, buka kulupnya dan bersiin, itu sudah menjadi tugas kamu setiap hari, jadi sebaiknya kamu biasakan diri kamu"

Sambil menahan nafas, aku buka kulupnya dan keliatan kepala penisnya yang agak keriput dan banyak smegma dan berlendir, aku dekatkan mulut aku yang terbuka dengan ragu ragu dan menahan mules di perut aku. Tiba-tiba dia memegang belakang kepala aku dan langsung disodokkannya penisnya ke muka aku, rasa asin dan baunya ya.. Teman teman tahu sendiri bau penis. Lama-kelamaan aku terangsang juga dengan baunya, aku jilatin lubang kencingnya dan kulupnya, aku sedot dan dia keenakan. Dia menyodok penisnya ke dalam mulut aku sampai ke tenggorakan aku sehingga membuat aku tercekik. Dilakukannya hampir 15 menit, kemudian aku didorongnya sampai terduduk jatuh dan menabrak pintu

Dia berdiri dan membuka celana aku dengan agak kasar, aku sangat takut dia membuatnya robek, jadi aku buka sendiri ikat pinggang dan celana dalam aku. aku disuruh jongkok rapat ke toilet duduknya dan dia juga jongkok di belakang aku. Tanpa banyak bicara dia langsung nyodok penisnya ke lubang aku. Rasanya sakit sekali dan perih, dia tidak memakai pelumas, ataupun ludah, jadinya seret dan bekas sakit kemaren masih ada.

Dengan kesakitan yang luar biasa, sangatlah membingungkan karena penis aku ngaceng banget! DIa ngefuck aku dengan kasar, dibukanya tempat duduk toilet di depan aku dan dengan cepat kepala aku didorongnya masuk ke lubang toilet!! aku enggak tahu apakah toiletnya bersih atau tidak, aku kaget, mulut dan hidung aku semuanya kemasukan air. Tanpa rasa kasihan rambut aku dijambak kemudian kepala aku diangkat dan dimasukkan kembali ke dalam toilet untuk beberapa kali, sedangkan sodokan penisnya semakin cepat dan keras.

Setelah beberapa menit dalam posisi itu, akhirnya aku merasakan sodokannya semakin dalam dan akhrinya aku merasakan semprotan sperma hangat di dalam lubang aku. Kemudian rambut aku dijambak dan kepala aku diangkat, aku megap megap bernafas, kemudian aku merasakan lubang aku dipenuhi oleh air kencingnya yang hangat. Buru-buru aku nahan otot anusku biar enggak berantakan dan mengotori celanaku.

Setelah selesai, dia mencabut penisnya, perut aku mules banget, dan aku langsung duduk di toilet ingin membuang air kencing di dalam perut aku. Tapi tangan aku ditahan sama dia dan ditamparnya sekali.

"Hey, apa aku bilang kamu boleh melakukan itu? Kamu lhiat penis aku? Coba kamu bilang ke aku apa yang kamu liat! Cepet!"

Muka aku ditamparnya sekali lagi dengan keras. Dengan ketakutan aku liat penisnya dia, "Masih ngaceng Mas"

Tiba-tiba perut aku ditonjok dan aku enggak bisa nahan otot anus aku dan sedikit air kencingnya keluar dari lubang aku, sehingga mengalir turun ke paha aku, coklat dan bau..

"Liat yang jelas dan katakan persis apa yang kamu liat, atao aku tonjok lagi dan kencing aku pasti keluar dan berantakan semua"
Aku melihat sekali lagi dengan jelas, "Penis Mas masih ngaceng, kulupnya setengah terbuka, berlendir, basah dan agak kecoklatan"
"Kamu tahu artinya apa??"
Tiba-tiba aku sadar apa yang dia maksud, "Maaf Mas, hari ini aku bangun kesiangan, tidak sempat membersihkan lubang aku, maaf Mas"
"Aku bodo amat sama alasan kamu, dan sebenarnya enggak masalah bagi aku, soalnya kamu juga yang akan bersiin kotoran yang kamu buat itu"

Dia langsung jongkok di toilet duduk dan aku didorong sampai jongkok pas di depan penisnya dia.

"Nah sekarang, lakukan tugasmu"

Karena perut aku mules dan hampir enggak bisa ditahan lagi, akhirnya dengan enggan aku jilat dan isepin penisnya yang kotor itu.

"Jilatin yang bersih, aku enggak mau ada kotoran apapun setelah itu, dan aku liat, kamu juga seneng kan diperlakukan begitu, buktinya penis kamu tuh ngaceng en basah banget tuh, kamu tuh emang suka dipelalukan sebagai budak, dan kamu harus berterimakasih sama aku karena itu!"

Penisnya rasanya asin dan pahit dan yang pasti bau, perasaan ingin muntah mual sekaligus horny semua bercampur jadi satu. Pas aku lagi isepin penisnya, tiba tiba kecium bau tai yang amat sangat, dan tanpa sadar, ada sesuatu yang jatuh ke dalam toilet dan airnya muncrat mengenai mulut dan bibir aku selagi aku isep penisnya dia!!

Secara refleks aku langsung menarik muka aku dari penisnya dia tapi ditahan sama tangan dia.

"Kenapa sih kamu takut amat, aku bukannya beol di muka kamu kok, lagian kamu juga sudah 2 kali nyicipin sisa sisa tai dari lubang kamu sendiri" Sambil bicara begitu, dia tetap melakukan kegiatannya itu sehingga aku benar benar mual.

Setelah dia selesai, aku didorongnya sampai terduduk dan diambilnya tissue dan dilap sampai bersih, kemudian dia turun dari toiletnya, dengan tak tertahankan, aku langsung muntah di toilet dan terlihat banyak hasil kegiatan dia tadi. Dia tertawa pelan melihat kelakukan aku.

Setelah muntah dengan sepuas puasanya, aku langsung duduk dan mengeluarkan semua isi perut aku yang mules. Anehnya, setelah semua yang aku alami, penis aku masih ngaceng berat!! Dia kemudian jongkok di depan aku, dan dikocoknya penis aku dengan kasar, rasanya nikmat sekali.. Cuma dikocok semenitan, penis aku sudah keluar kemudian, dengan cepat celana dalam aku diambil dan ditampung sperma aku yang keluar dari penis.

"Ayo sekarang lap rambut kamu en muka kamu pake celana dalam ini, apa kamu mau teman kerja kamu nanya kamu kenapa bisa basah seperti itu"
"Tapi Mas, itu kan sudah kena sperma aku"
"Jangan berani membantah aku, pake ini!"

Kemudian aku dengan terpaksa melap muka dan rambut aku dengan celana dalam bagian pantat karena hanya bagian itu saja yang masih kering.

"Ok, sudah, sekarang kamu pake kembali celana dalam kamu, en entar malam kita pulang bareng. Hari ini jumat, jadi kamu nginep di rumah aku! Ayo jangan kayak cewek berlama lamaan berpakaian"
"Tapi Mas, celana dalam ini kan sudah kotor dan bau, nanti teman teman aku pasti tercium baunya Mas" kata aku dengan perasaan takut dan hampir nangis.
"Ah, kalau teman kamu nyadar, itu bukan urusan aku, dan ingat posisi kamu, pokoknya aku mau kamu pake itu sekarang dalam 5 menit dan aku tunggu di luar" Kemudian dia keluar dari WC dan menutup pintunya.

Dengan cepat aku ngambil tissue dan berusaha membersihkan celana dalam aku (walaupun aku tahu itu tidak akan memecahkan masalah), kemudian aku merapikan pakaian aku dan berkumur dengan cepat di wastafel WC. Celana aku agak lembab dan agak tercetak basah sesuai bentuk celana dalam aku. Untung celana yang aku pake hari ini tidak ngepas, sehingga tidak memperparah keadaan.

Aku keluar dari WC dan ternyata dia sudah menunggu. Ditatapnya aku kemudia diliriknya celana aku, dia tersenyum puas melihat keadaan celana aku.

"Inget sore ini aku tunggu di tempat pertama kita ketemu"

Kemudian lift terbuka dan dia langsung masuk dan menutup lift tanpa menunggu aku. Aku berdiri sendirian, bingung atas yang baru terjadi.. Dan apa yang akan terjadi dengan teman temanku yang dikantor dan malam di rumahnya..

Tamat

Kenikmatan dan kesengsaraan - 1



Kantor sudah sepi, teman teman sekantor sudah pada pulang, hanya tinggal beberapa orang yang sedang ngebrowse internet di kantor. Biasa.. Online gratis, termasuk aku ehehehe. Setelah berjam-jam online di irc dan enggak ada orang yang menarik untuk diajak ngobrol, maka aku quit saja dan bersiap siap untuk pulang ke rumah. Jam sudah menunjukkan jam 6, pekerja kantoran yang sedang menunggu bus juga sudah berkurang.

Aku berdiri di tempat biasa, dibawah jembatan, lagi nungguin bus ac menuju rumah. Seperti biasanya, bus jurusan aku emang agak jarang, jadi terpaksa nunggu lebih lama. Sambil menunggu, aku duduk di kursi warung bawah jembatan sambil minum teh botol yang baru kubeli. Setelah beberapa menit aku duduk, aku baru sadar, ternyata cowok yang duduk disamping aku tuh sangat menarik. Dengan baju kantoran yang agak ngepas dan celana katunnya yang agak ngepas, bentuk tubuhnya agak keliatan, apalagi dengan gaya duduknya yang macho banget.

Tiba-tiba ada 1 cewek juga datang dan duduk disamping cowok tersebut, jadinya cowoknya terpaksa lebih mepet ke arah aku. Hati jadi aku deg-degan dan enggak tahu kenapa penis aku juga mulai ngaceng ehhehehe. Pas lagi asyik-asiknya menikmati perasaan itu, eh bus aku datang, terpaksa deh aku berdiri dan naik ke bus itu. Penumpang dalam bus lumayan padat, dan hanya tinggal 1 tempat duduk di baris kedua dari belakang, langsung saja aku duduk, takut didudukin orang. Penumpang yang naik makin lama makin padat saja, dan waktu itu aku benar benar kaget dicampur rasa gembira banget, ternyata cowok yang disamping aku tadi juga naik bus jurusan ini, malah karena penumpang makin banyak dan dia nggak kebagian tempat duduk, dia berdiri pas disamping aku!

Bagi yang sering naik bus pasti tahu donk.. Posisi orang duduk itu pas dengan penis orang berdiri hehehehe dan cowok itu, berdiri nya dengan posisi penis menghadap ke muka aku!! Gila.. Bayangin saja perasaan aku.. Cowok cakep dengan celana katun ngepas, berdiri di depan muka kamu, kayak mau nyodorin penisnya saja. Pokoknya waktu itu aku bagaikan dineraka deh.. Ada 'hidangan' yang begitu dekat, eh.. Tapi enggak bisa disentuh.. Untungnya penumpang yang duduk disamping aku badannya agak gede, jadi aku punya alasan untuk duduk lebih keluar, jadinya kadang kadang, bahu bahkan muka aku bisa kegesek sama penisnya dia he.. he..

Selama perjalanan aku menikmati sensasi yang aku rasakan. aku enggak tahu perasaan aku doank atau memang benar, aku tuh merasakan kalau tonjolan di celana dia makin gede, dan pas kegesek sama bahu aku, makin keras.. Di halte berikutnya, sebagian penumpang pada turun, termasuk cewek bongsor yang duduk disamping aku. Terus cowok itu langsung saja duduk disamping aku. Deg-degan juga aku, soalnya aku kan pake celana kerja, dan aku ngaceng berat, kalau aku berdiri pasti kelihatan sama dia, untung saja ada jaket yang nutupin.

Tiba-tiba dia menyapa aku, "Abis ngantor nih Mas?" kaget juga sih, tapi seneng banget bisa at ngobrol sama dia.
"Iya nih, capek ya tiap hari harus berebutan tempat duduk di bus," jawab aku.
"Iya nih, untung aku hari ini bisa dapat, biasanya seh sampai tujuan aku berdirinya," dia jawab aku.

Aku nekad mengambil langkah dengan mengajak dia ngobrol yang menjurus jurus ke sex, "Tapi kan ada enaknya juga Mas, pas ada cewek cakep bisa mepet mepetan di bus"
"Bisa saja kamu, tapi benar juga seh, tadi aku kan sudah ambil kesempatan gesek gesekan sama kamu," jawabnya.

Nah lho.. aku terdiam.. Enggak nyangka dia bakal ngomong begitu.. Kalau aku punya cermin, pasti deh muka aku sudah pucat kayak kertas!!

"Hahaha, enggak usah malu Mas, aku tahu kok, dari sebelum naik bus, Mas nyuri nyuri pandang ke aku, dan aku suka kok dengan acara gesek-gesekan kita tadi, nih pegang saja kalau enggak percaya," diambilnya tangan aku langsung ditaruh di atas penisnya dia.. Gila!! ini pertama kali aku ketemu orang yang terus terang kayak gini, ditempat umum lagi. Buru-buru aku tarik tangan aku, takut keliatan penumpang lain yang masih padat.

"Malu Mas diliat orang lain," jawab aku dengan gemetaran gitu..
"Iya deh ehhehe, lucu juga kamu hahahaha, ntar mampir ke kontrakan aku yok, aku ingin lanjutin acara gesek-gesekan tadi"

Kaget aku yang tadi belum reda, aku ditanyain lagi pertanyaan yang enggak bakal kepikiran di otak aku, tapi aku kepengen juga seh, apalagi sama cowok yang cakep begini..

"Boleh nih.." aku nekad saja nantang dia.
"Boleh donk, kan aku yang nawarin.. Jadi mau ya"
"Ok deh hehehehehe"

Selama dalam perjalanan kita kebanyakan diam seh, aku sibuk dengan perasaan deg degan aku, dan aku enggak tahu sudah, dia mikirin apa, tapi yang pasti, selama perjalanan itu, tangannya sudah nyelusup ke bagian pantat aku dan ngeremes remes, bikin aku merem melek deh..

"Turun yok" tiba tiba dia negor.
"Ayuk"

Setelah turun dari bus, kita masuk ke gang yang agak sepi dan gelap, jadi takut deh aku, terus aku nanya,
"Mas, emang kontrakannya di mana Mas?"
"Itu tuh, di ujung gang, kenapa takut ya? Enggak usah takut lah, aku kan cuma ingin ngefuck kamu saja," jawabnya sambil ngeremas pantat aku.

Ternyata benar, kontrakannya itu pas di ujung gang, enggak besar.. Ya.. Seperti tipe studio aparteman deh kira-kira. Sampai di dalam kamarnya dia, aku langsung dipeluknya dan diciumnya dengan agak kasar.. Wah.. Orangnya agresif juga nih pikir aku, dan kebetulan aku seneng orang yang agresif agak agak kasar gitu hehehehe lebih seru mainnya.

Aku juga enggak mau kalah, aku balas ciuman dia dan tangan aku berusaha membuka ikat pinggang celananya. Tapi sebelum sempat aku buka, tangan aku ditepis dan dikunci dibelakang badan aku, terus dia bilang, "Jangan terburu buru.. Kamu keberatan enggak, kalau kita main agak kasar, kamu aku iket, dan ngelakuin apa yang aku perintahkan?"

Wow.. Hari ini merupakan hari keberuntungan aku, semua fantasi yang pernah aku mimpiin ternyata terwujud, gile..

"Boleh juga, sudah lama aku ingin coba sesuatu yang baru," jawab aku.
"Hahahah, bagus kalau gitu, tunggu sebentar," terus dia ke belakang, dan kembali membawa tali rafia.
Tanpa banyak ngomong, tangan aku langsung diiket dibelakang badan aku, dan kaki aku diiket rapet. Terus aku ditendang hingga jongkok depan penis dia, kaget juga seh.. Tapi aku coba menikmatinya..

"Sekarang cium celana aku.. Buka dengan gigi kamu.. Kemudian jilatin celana dalam aku sampai basah dan kamu boleh isep penis aku!"

Langsung saja aku nurutin perintah nya dia, dari luar celana aku jilat dan ciumin penis dia, aku gigit penis dia, akhirnya dia suruh aku buka celana nya dia, dengan susah payah, akhirnya resteling celananya terlepas dan ternyata dia make celana dalam putih yang ketat banget sehingga penisnya keliatan banget, gede dan bengkok. Sebelum aku mendekatkan muka aku ke celana dalamnya, sudah tercium aroma cowok yang macho banget.. aku makin agresif saja, aku isepin sampai basah semua, akhirnya dia enggak tahan dan buka celana dalamnya.

Akhirnya aku bisa melihat penisnya yang enggak sunat dengan kulup yang panjang dan basah banget sama precumnya dia. Sambil mendekatkan penisnya ke muka aku, dia buka kulupnya pelan pelan.. Hm.. Aromanya benar benar enak banget.. Bagi yang suka aroma penis cowok yang enggak sunat pasti deh bisa membayangkan apa yang aku maksud.. Langsung saja aku emut penisnya. Dipegangnya kepala aku dan dihantamnya penis aku sampai ke ujung tenggorkan aku.. Gile.. Sampai mau muntah deh waktu itu.. Tapi aku enggak bisa ngelawan, kaki tangan aku terikat dan enggak bisa bergerak dan aku tetap dalam posisi jongkok.

Hampir 15 menit aku difuck mulut aku, dan aku sudah enggak tahan, mata aku sudah berair. Akhirnya dia berhenti dan tanpa ngomong apa-apa, dia buka ikatan kaki aku dan masing-masing kaki aku diiket di kaki kursi yang dibelakang aku, didorongnya aku sampai jatuh, dan posisi aku duduk dikursi dengan mengangkang memperlihatkan lubang aku. Aku tahu apa yang bakal terjadi, aku agak takut juga karena aku jarang difuck, paling-paling cuma difinger doank..

"Mas pelan-pelan ya Mas, aku jarang anal sama orang nih"

Dia seperti enggak denger apa-apa, langsung jongkok dan ngeludah tepat di lubang aku. aku ngerasain ludahnya yang belendir dan hangat diluar lubang aku.. Langsung saja dia menyorongkan penisnya yang gede masuk ke lubang aku.. Gile.. Sakit sekali dan aku yakin dia kaget kalau aku teriak kenceng banget. Terus aku ditamparnya dengan keras, dan dikeluarin penisnya dari lubang aku.. aku teriak sekali lagi. Dia ngambil celana dalamnya yang basah sama ludah aku itu dan langsung disumpelin ke mulut aku.

Aku masih menangis dan teriak pelan, tapi karena mulut aku ditutupin, jadi enggak ada suara yang keluar dari mulut aku. Sekali lagi penisnya langsung dimasukin dengan kasar ke lubang pantat aku dan sekali lagi aku ngerasain sakit yang terasa amat. Setelah masuk, aku langsung difuck dengan kencang. Aku difuck hampir 1/2 jam dan aku sudah sangat tidak menikmatinya, aku merasa sangat sakit dan perasaan kepengen beol. Tapi dari wajahnya, aku bisa melihat bahwa dia sangat menikmati keadaan itu.

Kemudian, dia tiba tiba berhenti dan mengeluarkan penisnya dari lubang aku.

"Gila kamu, kamu gay bukan sih, kok enggak tahu membersihkan diri, pantat kok enggak dibersiin, nih liat penis aku jadi kotor sama tai."

Dia mendadak marah dan menampar aku, aku kaget dan agak bingung enggak gitu ngerti maksudnya, terus disodorin penisnya ke muka aku, dan aku liat.. Penisnya agak kotor karena tai aku yang nempel.. Aku ditamparnya dengan keras dan celana dalamnya dikeluarin dari mulut aku.

"Kamu harus diajarin cara jadi homo yang benar, Kamu harus jilat dan isep sampai bersih penis aku!" Belum sadar apa yang akan dilakukan, dia langsung ngefuck mulut aku seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Waktu itu aku benar benar nangis, aku disuruh bersiin penis yang penuh tai dengan mulut aku.. Dan difuck dengan keras sehingga aku mau muntah. Setelah puas dengan apa yang dia lakukan dia ngeludah ke muka aku dan masukin kembali celana dalam ke mulut aku. Sesudah itu, dia mulai ngefuck bool aku lagi, emang waktu itu sudah enggak gitu sakit karena telah difuck dengan keras sebelumnya, dan terus terang aku sudah agak menikmati fuckingnya itu.

Setelah beberpa lama, dia mempercepat goyangannya dan akhirnya aku ngerasain semburan sperma panas di dalam lubang pantat aku. Penis aku sudah ngaceng banget tapi nggak bisa ngocok karena tangan aku yang terikat. Akhirnya dia rebahan di atas tubuh aku sambil menggigit leher aku. Celana dalamnya dikeluarin dari mulut aku langsung aku mohon ke dia.

"Mas, aku ingin ngocok, tolong lepasin tangan aku donk please"
"Wa.. Kamu itu slave aku, aku yang nentuin kapan kamu boleh ngocok, untuk sekarang ini kamu enggak aku kasih izin karena lubang yang kotor dan bau itu! Tapi karena aku master yang baik, akan aku bersiin lubang itu"

Aku enggak gitu ngerti apa yang dia maksud, tapi tiba tiba, aku ngerasain cairan hangat memenuhi lubang aku, aku kaget dan dia bilang.
"Diam, aku kencing di dalam lubang anal, kalau berani ngeluarin air itu di lantai, kamu akan aku suruh jilat sampai bersih"
Karena takut disuruh jilatin, makanya aku kencengin otot anus aku biar airnya enggak keluar, terus sehabis dia kencing, dia keluarin penis dia dan bilang,
"Diam sebentar disini"

Perut aku mules banget.. Aku sudah hampir enggak tahan, tiba tiba dia muncul dengan membawa kamera dan aku difoto dengan keadaan bugil terikat dan kotor.
"Ini akan menjadi jaminan buat aku, Jadi.. Kalau kamu berani macam macam sama aku, foto ini akan tersebar di mana mana"
Aku benar benar takut sekarang tapi perut aku yang mules lebih memenuhi otak aku.
"Mas, tolong donk, aku sudah enggak tahan Mas, aku mules banget"

Kemudian dia membuka ikatan kaki aku, tapi membiarkan ikatan tangan aku, aku dituntunnya ke kamar mandinya dan ada WC jongkok, langsung saja aku jongkok dan ngeluarin isi perut aku yang penuh dengan air kencing dan sperma dia Pada saat aku lagi mengeluarkan isi perut aku, dia berdiri di depan dan mengambil beberapa foto aku yang lagi melakukan 'kegiatan aku'.

Setelah semuanya berlalu, aku dimandiin, dikeramas, dan disabunin, bahkan aku dicium dengan lembut.
"Kamu kalau baik baik dan enggak bertingkah, kamu akan selamat, foto-foto kamu tuh akan aman ditempat aku, tapi.. Kalau kamu macam macam sama aku, kamu bisa bayangin sendiri akibatnya"
"Sekarang berpakaian dan setelah itu kamu boleh pulang. Tapi sebelumnya, KTP kamu, sini biar aku tahan.. Besok kamu ke sini lagi dan aku balikin KTP kamu, cepat aku tunggu di luar"
Setelah itu aku ditinggal di kamar mandi.. Dengan perasaan cemas dan enggak tahu apa yang bakalan terjadi lagi..

Bersambung . . . .

Kenanganku bersama Jimmy - 2



Sementara ia mandi, kusiapkan gunting, krim bercukur dan pisau cukur yang tajam yang kubeli semalam serta sebuah kamera. Semuanya kusembunyikan di bawah majalah.
Tidak lama kemudian, ia sudah selesai mandi dan keramas, kemudian ia kuajak ngobrol-ngobrol sampai rambutnya kering dan kemudian kukatakan padanya, "Karena kamu dulu melakukan perbuatan yang sangat berlebihan dan tidak senonoh padaku, maka hari ini kamu akan kuhukum. Jangan khawatir aku tidak akan menghukum secara fisik."
Kulihat wajahnya sedikit tegang, lalu kuteruskan, "Kamu harus menerima hukuman dengan bentuk yang lain." Wajahnya semakin tegang dan memucat.
"Kamu harus bersedia kehilangan rambut di kepalamu dan juga jembutmu (pubic hair), kalo kamu tidak mau, terpaksa aku.." sengaja kuputus kata-kataku.
Sahut Jimmy, "Maksud Mas rambutku ini harus dipotong pendek dan jembutku harus dicukur..?"
Dengan mantap kujawab, "Ya. Rambutmu itu akan kupotong habis, bukan hanya dipotong pendek."
"Jangan Mas.." pinta Jimmy, "Setiap dua minggu sekali aku creambath dan aku belum pernah potong pendek, apalagi plontos. Dari dulu temen-temenku senang dengan gaya rambutku, mereka bilang aku sangat cocok dengan gaya itu dan mirip Jimmy lin, saya pun berhati-hati untuk sekedar merapikan rambut saya ini di salon, apalagi potong plontos, please jangan lalukan itu Mas, bagaimana wajahku nanti..?" katanya sambil memegang rambutnya.

Kemudian Jimmy diam beberapa saat, lalu dengan sedikit keras kukatakan, "Itu resiko perbuatanmu, atau.."
Sebelum kulanjutkan kalimatku, tidak lama kemudian ia mengangguk dengan lemah. Segera kuminta ia duduk dan melepaskan pakaiannya. Lalu ia kufoto dengan berbagai posisi dengan rambutnya yang tersisir rapih. Ia agak keberatan ketika kufoto, namun begitu kuingatkan janjinya, ia dengan enggan bersedia. Setelah itu, kusisir rambutnya, kupegang, kurasakan betapa bagusnya rambutnya, sangat terawat, lalu kuusap dan kubelai, kucium rambutnya, harum. Tanganku sibuk menari-nari di rambutnya yang agak lemas dan hitam serta tebal itu. Sungguh pintar ia merawat rambutnya. Merangsang libidoku. Seketika itu juga burungku mulai agak menegang. Aku memang benar-benar hair fethish namun hanya pada orang yang tampan dan imut-imut saja.

Segera kuambil sisir, lalu kuambil sebagian rambutnya di sebelah sisi kiri dan dengan kujepit di jari tanganku yang kupepetkan ke kulit kepalanya dan kupermainkan rambutnya lalu kress, rambut Jimmy mulai kugunting dan jatuh ke lantai. Terlihat jelas kulit kepalanya yang putih bersih dan aku semakin terangsang. Kemudian kuambil bagian rambutnya di dekat bagian yang telah kugunting tadi, dan kress, lalu kuambil guntingan rambut itu dan kutaruh di pangkuannya. Ia memandanginya dan wajahnya kelihatan sekali kalau sedih. selanjutnya kress, kress dan kress. Kini bagian samping kiri rambutnya dari belahan rambut (dia menyisir rambutnya dengan belahan kiri ke kanan) ke bawah sudah pendek sekali, mungkin sekitar dua centi meter saja dan kulit kepalanya makin terlihat jelas. Lalu kuambil foto dan segera kujepret moment itu. Kulihat di cermin wajah Jimmy memerah.

Hal yang sama kulakukan pada sisi kanan, namun tidak dengan kujepit di tangan, tapi langsung dengan sisir, kupepetkan sisir itu di kulit kepala dan segera bunyi kress kembali terdengar. Guntingan ini lebih pendek dan mungkin hanya tinggal setengah centi meter saja panjang rambut yang tersisa. Ia memandangiku di cermin, seolah-olah berharap aku tidak akan melanjutkannya.

Setelah selesai bagian samping kanan, lalu kembali kujepret. Lalu bagian demi bagian kugunting sampai rambut bagian belakangnya habis, kini hanya bagian atas dan bagian mahkota. Kali ini kujepret lagi Jimmy dari posisi depan, samping kanan dan samping kiri, wajahnya terlihat sedih namun tetap tampan dengan rambut sependek itu. Setelah selesai memotret Jimmy, aku ambil sisir dan kuangkat rambut Jimmy bagian mahkota, kumainkan lagi rambutnya, kurasakan rambutnya yang tidak agak lemas itu. Setelah itu kutarik sedikit sampai kulit kepalanya terangkat sedikit dan kress, kupotong rambut itu sampai nyaris mengenai ke kulit kepalanya. Botak segera terlihat di kepala Jimmy dan Jimmy sedikit terhenyak, matanyanya memerah. Kuambil lagi kameraku dan kujepret.

Kuteruskan cara ini sampai rambut Jimmy bagian atas benar-benar botak dan dengan guntingan yang tidak rata. Lalu kujepret lagi. Kini aku meneruskan mengguntinginya tanpa sisir ke seluruh rambut Jimmy yang tersisa, sehingga hasilnya benar-benar buruk dan botak. Sementara aku menggunduli Jimmy, burungku tegang sekali dan hampir saja aku tidak kuat menahan untuk tidak kukocok. Setelah selesai dengan gunting, lalu kujepret lagi Jimmy dari tiga sudut, depan, samping kanan, dan tiga perempat kiri. Kelihatan sekali Edi alias Jimmy menahan tangis, matanya memerah dan berkaca-kaca. Ia kelihatan murung sekali. Mungkin ia memang belum pernah potong crew cut apalagi digunduli. Namun aku tidak peduli karena ini memang rencanaku dari semula.

Kini segera kuambil krim pencukur, lalu kuoleskan ke kepala Jimmy.
Kukatakan, "Jangan bergerak sedikit pun, pisau ini sangat tajam. Aku tidak tanggung jika Kamu terluka bila bergerak-gerak."
Ia mengangguk dan segera kuambil kameraku dan kujepret lagi sampai akhirnya pisau itu kugunakan di kulit kepalanya, hati-hati sekali aku melakukannya, mulai dari bagian atas, sedikit demi sedikit, dan akhirnya bagian samping kiri dan kanan. Setelah selesai, baru bagian belakang kukerjakan. Lebih dari 25 menit kuhabiskan untuk membuat kulit kepala Edi kelihatan licin, smooth, dan putih bersih. Lalu kucium kepala Jimmy. Kepalanya benar-benar licin seperti Kojak (film seri TV). Segara kujepret lagi sampai 4 kali jepretan dari berbagai sudut.

Ritual pertama telah selesai, lalu kumulai ritual kedua, kuminta ia mencopot celananya, celana dalamnya yang putih ketat terlihat dan burungnya yang tidak begitu besar tersembul dari celana dalamnya itu.
Tiba-tiba ia berkata, "Aku tidak mau difoto pada saat aku telanjang."
Karena kasihan, aku setuju. Kusuruh ia tiduran di kasur dan aku mulai melumuri bulu kemaluannya yang jarang itu dengan krim pencukur tadi dan segera kucukur dengan alat cukur jenggotku. Tidak lama kemudian, terlihat bersih dan Jimmy tergolek tanpa busana selembar pun dan polos. Tanpa sehelai rambut pun sehingga nampak ia seperti bayi. Imur-imut sekali. Nafsuku bergelora kembali.

Kini ritual kedua telah selesai, kukatakan, "Nah, sekarang hukuman untukmu telah selesai, kalo kamu mau mandi silakan, tapi aku ingin mandi dulu."
Sambil berkata demikian, kusimpan kameraku dan alt-alat cukurku ke dalam lemari, lau kusuruh Edi keluar. Aku takut ia mengambil kamera itu dan juga pisau cukurnya, "Jangan-jangan nanti ia menusukku." kataku dalam hati.
Setelah Edi alias Jimmy masuk ke kamarnya, aku segera ke kamar mandi. Sedang asyik-asyiknya membersihkan badan dengan menggosok badanku pakai sabun, tanpa kuketahui, Jimmy sudah di belakangku. Ia mendekamku dan mendorongku ke tembok kamar mandi (pintu kamar mandi tidak ada gerendelnya dan juga tidak bisa dikunci dari dalam, sehingga ketika Jimmy membuka pintu, aku tidak tahu karena membelakangi pintu dan aku yakin ia membukanya dengan sangat hati-hati, sebab tidak kudengar suara pintu dibuka), belum sadar apa yang dilakukannya, dan ketika aku hendak membuka mulut, tangan Edi alias Jimmy sudah memegang mulutku.

Tidak lama kemudian, ia melepaskannya dan dengan bernafsu, bibirku diciumnya. Aku terhenyak kaget apalagi ia sangat bernafsu. Kurasakan bibirnya yang merah dan tipis, lembut, namun pada awalnya aku merasa agak aneh juga dicium cowok. Kemudian lidahnya dengan nakal menyapu mulutku. Aku kegelian, namun terus terang rasanya enak sekali. Segera aku hentikan sikapku yang rada munafik (dengan pura-pura marah, serti pada cerita awal), aku pun bersikap aktif. Tidak lama kemudian, kami saling berciuman dengan sangat bernafsu, Jimmy benar-benar pandai mempermainkan suasana. Ketika burungku sudah mengeras, dia mundur, lalu mengeringkan badanya dengan handuk (ia basah terkena air dari shower).
Setelah selesai, kemudian ia memberikan handukku itu dan memintaku mengeringkannya, "Ayo kita kekamarku..!" katanya.
Seperti kerbau dicocok hidungnya, aku menurut saja.

Di tempat tidur Jimmy, aku merebahkan badanku. Permainan berlanjut, ia memegang burungku dan mulai menjilati bagian kepalanya.
"Ach.. Jimmy.. enak..!"
Terus ia menjilati dan menyedot sampai hampir semua masuk ke dalam mulutnya. Dengan irama yang teratur, mulutnya turun naik perlahan. Rasa nikmat yang luar biasa segera menerpaku lagi. Kemudian permainan dilanjutkan di daerah atas lagi, dada, perut, leher, wajah dan bibirku. Suhu tubuhnya meningkat pesat, begitu hangat pertanda dia sudah mulai on. Bibir ketemu bibir, kulumat habis bibirnya, lidah kami saling bertemu, aku pun kegelian.

Kemudian kami berganti posisi, aku melihat batang kemaluannya begitu kokoh seperti soko guru. Aku segera pegang dan kukocok terus dengan gerakan maju mundur, membuat dia mengerinjang keenakan.
"Mas Ferry.. Enaak.. sekali.." katanya.
Lalu kumasukkan burungnya ke mulutku dan kuhisap dan kukulum sambil kumainkan lidahku di pucuk kemaluannya. Kuputar lidahku , lalu kujilati lubang kencingnya. Terlhat ia menikmatinya. Tubuhnya bergetar, ketika ia bilang mau keluar, segera kulepas dan ganti ia kembali yang berperan aktif, kembali burungku dilumatnya dan dimainkan di mulutnya. Aku tidak tahan dan akhirnya lava yang terbendung meledak sudah, begitu hangat spermaku mengalir di mulutnya, sebagian ditelannya. Lalu ia menjilati sisanya, sepertinya sudah profesional sekali.

Tiba-tiba ia menggeretku. Kakiku ditumpangkanya di pundaknya sementara aku masih berbaring, lalu dia membasahi jari tangannya dan hendak dimasukkan ke dalam anusku. Kucegah dia.
"Jangan Jimmy, aku belum pernah sampai ke tahap itu."
Tanpa peduli dengan kataku, jarinya dimasukkan ke dalam anusku, yang belum pernah disodomi sekalipun.
"Aduh, Jimmy, sakiit.."
Ia lalu menyahut, "Diamlah.. entar juga hilang."
Kemudian Jimmy membuat gerakan maju mundur dan rasa sakit itu hilang menjadi nikmat. Belum sempat aku menikmatinya, ia memasukkan dua jarinya. Kembali rasa sakit menerpaku. Ia melepaskannya sampai ototku kendur, kemudiaan memasukankannya lagi dan membuat gerakan maju mundur seperti tadi. Lalu ia memompanya berulang kali dan akhirnya aku pun bisa menikmatinya. Tanganku yang bebas berpegangan pada sisi spring bed-ku.

Tidak lama kemudian, Jimmy memegang pantatku dan mengangkatnya sedikit dan pelan-pelan burungnya dimasukkan ke dalam anusku, aku berteriak sakit.
"Aduh, aduh.. jangan Jimmy.., aku nggak tahan, sakiit.."
Ia berhenti, katanya, "Diem, nanti juga terasa enak, tahanlah.."
Lalu ia memasukkan kembali burungnya ke anusku, lalu dengan pelan-pelan ia memompanya. Berulang kali sampai akhirnya aku bisa menikmatinya.
Setelah berjalan cukup lama, Jimmy berteriak, "Aaachh.., Aaachh.." dan kurasakan spermanya menyembur ke dalam lubang pantatku. Hangat rasanya.
Kemudian kami terengah-engah dan saling berpandangan, lalu kami membersihkan badan dan kemudian tidur sampai pukul 8:00 malam (ingat, aku menggundulinya pukul 3:00 siang lebih sedikit dan selesai hampir pukul empat sore).Setelah bangun, kulihat Jimmy masih tergolek seperti bayi, bayi yang tampan, lalu aku pun memotretnya, lalu kusembunyikan lagi kameraku. Kemudian kubangunkan dia dan kutanyakan.
"Aku yakin kamu sudah biasa melakukan ini, kamu kelihatan sudah sangat lihai dan profesional."
Ia menyeringai dan keluar pengakuannya, "Sejak setahun yang lalu, ketika aku kelas tiga SMA, seorang temanku, Robby, sering mengajakku dolan bareng. Ia sangat tampan, anak orang kaya namun kurang perhatian. Kami sering mengerjakan PR bersama dan karena rumahku jauh akau sering menginap. Pada saat itulah kami menonton film porno dan kemudian kami berciuman dan selanjutnya seperti yang kita lakukan tadi."

Setelah mengambil nafas sebentar, Jimmy melanjutkan keterangannya, "Awalnya aku merasa aneh dan takut, namun kemudian aku merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya. Aku ketagihan, dan kami pun sering melakukannya. Sayangnya, kakakku mengetahui, karena laporan seorang cewek yang naksir padaku, namun tidak aku tanggapi. Sejak itu, aku dihukum, bahkan aku sempat dipukul kakakku, Lalu keluargaku mengawasiku dengan ketat dan aku tidak boleh bergaul lagi dengan Robby. Aku dipindahkan dari sekolahku. Hatiku merasa sepi sekali, berbagai cara kulakukan untuk menghilangkan bayangan Robby, namun tidak berhasil. Bahkan sampai sekolah di Yogja pun, awalnya aku tidak diijinkan, namun setelah aku berjanji tidak mengulanginya, baru aku diperbolehkan, itu pun pada awalnya aku harus tinggal di rumah tanteku, namun aku tidak mau. Setelah berhasil meyakinkan janjiku, mereka setuju, namun tetap dengan pengawasan tanteku termasuk ibu kost sini."

"Itulah sebabnya, aku takut sekali kalo Mas Ferry melaporkan pada ibu kost disini, karena aku yakin ia telah diberitahu oleh kakakku nomor telpon dan alamat rumahku di Sidoarjo."
Kemudian Edi melanjutkan ceritanya, "Saya kost disini, karena saya lihat foto Mas Ferry."
"Foto..?" tanyaku heran.
"Iya, menurut Ibu kost, foto itu diambil waktu ulang tahun Andi, cucunya."
Aku pun teringat, waktu itu aku memang membantu Ibu kost memeriahkan ulang tahun cucunya. Jadi benar, memang ada fotoku di album keluarga Ibu kost yang ditaruh di ruang tamu.
"Mas Ferry seperti Robbi orangnya, ganteng, kalem namun bisa tegas. Itulah yang kusuka dari seseorang, dan Saya berharap tidak meleset. Syukurlah Mas Ferry seperti yang Saya inginkan, apalagi masih lugu soal begituan, walau Saya juga membayar mahal dengan kepala botak ini." katanya sambil megelus-elus kepalanya.
"Ini sungguh pertama kali aku dibotakin."
Dalam hati, aku berkata, "Brengsek anak ini, sekalipun juga mengiyakannya."

Setelah saling bercerita dan mengetahui diri masing-masing, hubunganku dengan Jimmy menjadi sangat erat. Sayang, dua tahun kemudian, aku harus meninggalkan Jogya dan ke Jakarta untuk bekerja. Terakhir ketemu 3 bulan yang lalu, itu pun di sebuah hotel di Jogya, karena Edi sekarang tinggal dengan kakaknya. Ia kelihatam lebih kurus namum tetap tampan, rambutnya sudah berubah, agak gondrong, cara berpakainnya pun sudah tidak rapih seperti dulu.

"Kenapa kamu berubah Jim..?" kataku.
"Aku kesepian Mas, Aku sangat kehilangan Mas. Aku tidak menemukan seorang seperti Mas Ferry. Disamping itu, kakakku sangat curiga dengan setiap teman pria yang ke rumahku, walaupun Aku tidak tertarik sama sekali."
Kutelan ludahku, aku merasa sedih, lalu kami berpelukan lama sekali. Kemudian kami melepaskan kerinduan kami. Esoknya kami pun mengulanginya lagi. Setelah itu, aku pamit dan berjanji untuk mengajaknya ke Jakarta jika telah selesai kuliah, sehingga kami dapat bersama lagi. Setiap kagen dia, kutelpon HP-nya atau kupadangi foto-foto yang kubuat.

Tamat

Kenanganku bersama Jimmy - 1



Kisah yang akan saya ceritakan ini adalah nyata, para pelakunya tidak saya ganti namanya, hanya lokasinya perlu saya samarkan. Kisah ini terjadi pada tahun 1997, sudah cukup lama memang, namun detil kejadiannya masih melekat kuat dalam ingatan.

Ketika itu, bulan Agustus 1997, hari Jumat, aku sedang santai di kamar kostku di lantai dua, lantai satu untuk tuan rumah, tiduran sambil mendengarkan musik. Aku hanya bertiga dengan teman kostku, seorang bernama Danar. Ia bekerja sebagai roomboy di hotel X, di kota Yogyakarta ini. Ia jarang berada di kost, tergantung sift-nya, kadang malam, kadang siang hari, sehingga saya juga tidak setiap hari bersosialisi dengannya. Satu lagi temanku bernama Budi, seorang aktivis mahasiswa, anggota senat dan seabrek organisasi lainnya. Sedangkan aku sendiri masih kuliah sambil bekerja sebagai guru atau bisa dibilang tentor bahasa asing di sebuah lembaga bahasa di Yogyakarta dan tentor fisika di sebuah bimbingan belajat di kota Yogya pula. Karena kondisi yang seperti ini, kami jarang bisa kumpul-kumpul bersama, namun aku senang, sebab memang aku tidak terlalu suka dengan situasi yang hingar bingar.

Kembali ke ceritaku, sedang enak-enaknya bersantai, maklum aku hanya off pada hari Jumat saja, tiba-tiba bel pintu rumah ditekan berkali-kali.
Setelah lebih dari lima kali, aku pun keluar sambil menggerutu, "Siapa sih..? Jam segini (kira-kira pukul 15:00) bertamu, seperti kurang kerjaan saja.."
Segera aku turun dan kubuka pintu ruang tamu. Dua orang berdiri di muka pintu, seorang pemuda dan seorang remaja.
Yang remaja, mungkin umurnya sekitar 17 tahun, dengan bahasa yang sopan, ia berkata, "Maaf Mas, mengganggu. Saya akan kost disini, beberapa hari yang lalu saya sudah ketemu Ibu kost dan sudah tercapai deal, jadi hari ini saya akan mulai menempati rumah kost ini."
"Oh ya, cuma masalahnya ibu sedang pergi." kataku, "Dan saya tidak tahu kunci kamar yang masih ada, jadi tunggu sebentar, ya.."

Sambil berkata demikian, kuajak tamu itu masuk ke ruang tamu.
Kemudian ia memperkenalkan diri, "Saya Edi, dan ini kakak saya Johan, kami berasal dari Sidoarjo, Jawa timur, lalu nama Mas siapa..?"
"Saya Ferry." kataku singkat, sambil kuamati cowok di depanku ini, bentuk mukanya oval, wajahnya tampan sekali, tidak sedikit pun jerawat ada pada wajahnya, matanya sedikit sipit, mungkin keturunan Cina, bibirnya tipis hampir tanpa kumis, hidungnya mancung dan rambutnya tersisir dari kiri ke kanan dengan rapih, hitam dan lurus. Belahan rambutnya hanya kelihatan tipis menunjukkan tebalnya rambut Edi. Modelnya seperti potongan rambut mandarin, namun tidak sekaku itu, lebih halus. Sebuah perpaduan yang sempurma antara wajah manis dan rambut yang bagus yang makin menambah manis anak ini. Kulitnya putih bersih, berat badan dan tinggi badan seimbang, mungkin tingginya sekitar 168 cm. Cara berpakaiannya rapih dan bersih. Setiap cewek yang memandang pasti terpikat padanya. Aku pun langsung jatuh hati padanya. Sedangkan Johan tidak terlalu tampan, dengan badan yang kekar dan sorot mata yang tajam. Tidak banyak yang bisa kuceritakan mengenai kakaknya.

Kami mengobrol sebentar dan kemudian Ibu kost datang.
Setelah masuk ruang tamu, ia berkata, "Oh, Mas Edi, sudah lama nunggu ya..? Maaf, Ibu baru ke warung."
"Belum kok Bu.., baru 20 menit." kata Edi.
"Begini Bu, karena Ibu tidak menitipkan kunci pada saya, maka saya tidak bisa mengajak Edi ke kamarnya.." kataku.
"Tadi Ibu lupa, soalnya Ibu kira Nak Ferry pergi." kata Ibu kost penuh basa-basi, "Mari Nak Edi, silakan naik ke kamar."
"Terima kasih." jawab Edi.

Kemudian aku dan Johan membantu Edi membawa kopernya ke kamarnya. Kamarnya persis di samping kamarku.
"Nah ini kamar Nak Edi, sebelah utara itu kamar mandinya dan sebelahnya lagi ruang cuci dan jemur, kalo ada yang perlu ditanyakan silakan hubungi Ibu." kata Ibu kost.
Setelah dirasa cukup, Ibu kost meninggal kami berdua. Mereka, Ibu kost dan Johan berbincang di ruang tamu, entah apa yang mereka bicarakan.
Giliranku berkata, "Di, kalo Kamu memerlukan sesuatu, atau mau tanya, hubungi aku saja..! Atau temen-temen yang lain. Silakan istirahat kalo capek, saya mau tiduran sebentar, Ok..?"
"Terima kasih Mas, sementara ini belum ada yang Saya ingin tanyakan." kata Edi.
Kemudian kulihat Johan masuk dan mereka berdua ke kamar Edi.

Malam harinya, kami berkumpul, aku, Danar, Budi serta Edi dan Johan. Kami saling berkenalan dan mengobrol sampai larut malam. Keesokkan harinya, pintu kamarku diketuk seseorang.
"Siapa..?" kataku.
"Edi Mas.."
"Masuk saja nggak dikunci kok."
Kemudian Edi masuk ke kamar, ia sudah rapih dan bersih, rambutnya masih basah, sepertinya baru saja keramas. Wangi baunya, kuingin sekali membelainya dan memilikinya.
"Mau pergi..?" tanyaku, ketika kulihat ia tampil dengan rapih.
"Ya, Mas. Pingin tahu kota Yogya, pinginnya sih muter-muter, Mas Ferry mau nggak nemenin saya..?" timpalnya.
"Boleh, cuma aku harus pergi dulu sebentar, paling nanti jam 10:30 aku sudah sampai. Nanti kita pergi bareng saja.." kataku.

Setelah itu, aku kemudian mandi dan pergi ke kampus. Setengah 11 lebih sedikit, aku sudah sampai di rumah, kulihat Edi sudah menungguku.
"Kita ke Malioboro saja ya, lihat-lihat situasi, aku juga sudah lama nggak kesana, ngomong-ngomong mana Johan..?" tanyaku.
"Ia baru saja ke terminal, pulang ke kampung Mas." katanya.
Aku hanya mengangguk dan kemudian kami pun berboncengan menuju Malioboro, karena hari itu Sabtu maka bisa ditebak, Malioboro cukup ramai. Bahkan berjalan di trotoar pun agak susah. Setelah agak lelah berkeliling, kami mampir ke MC. Donnald. Sambil menikmati burger, saya bertanya kepada Edi.
"Kok kamu baru tanggal sekian sudah sampai ke Yogya, memangnya kapan kuliah dimulai..?"
"Nggak lama lagi Mas, 10 hari lagi. Senin depan sudah mulai proses pendaftaran calon mahasiswa baru, ada tes kesehatan, bayar pendaftaran dan SPP, Opspek dan lain-lain. Kalo sekarang saya sudah datang, malah saya kira terlalu mepet, harusnya saya datang hari Rabu yang lalu, sehingga ada waktu untuk mengenal kota ini, khususnya rute bis yang ke kampus." katanya.

Kuamati saja ketika ia bicara, makin lama makin tertarik aku.
"Kalo soal bis gampang, di mulut gang kita, bis yang menuju arah timur, yang warnanya oranye dan kuning semuanya lewat kampus kita, jadi nggak usah bingung, pulangnya gunakan juga bis yang sama." kataku.
"Ngomong-ngomong kamu ini mirip dengan bintang film mandarin, kamu tahu nggak..?" tanyaku.
"Nggak, nanti kalo bilang tahu, dikatakan sombong lagi." katanya.
"Kamu mirip sekali dengan Jimmy Lin." kataku.
"Bagaimana kalo kamu kupanggil Jimmy, boleh nggak..?"
"Boleh saja Mas, sejak SMA aku dipanggil Jimmy oleh temen-temen." balas Edi.Kemudian kami bercakap tentang banyak hal, keluarganya, pacarnya (ternyata belum ada) sekolahnya dulu dan lain-lain. Kami makin akrab dan dekat, dan aku makin kagum kepadanya. Mungkin ia juga punya rasa padaku, sebab aku sering memergokinya sedang melihat atau menatapku, dan kadang-kadang kami jadi saling salah tingkah. Namun karena belum lama kenal, aku belum berani melakukan sesuatu untuk melampiaskan hasrat seksku kepadanya.

Seminggu kemudian, aku mencoba pancing Jimmy. Malam itu, kupinjam vCD porno, baik yang normal maupun yang homoseks. Pintu kamar sengaja tidak kututup, teman-teman yang lain sudah tidur. baru 10 menit film itu kuputar, Edi alias Jimmy masuk, dan ia menonton film itu. Duduk di sampingku. Tidak lama kemudian, tanganya memegang bahuku, aku diamkan saja, lalu gantian aku pegang pahanya, dia diam saja, lalu aku sedikit naik ke pangkal pahanya, ia pun masih diam saja. Kemudian kusenggolkan tanganku ke burungnya yang kelihatnnya sudah mengeras.
Ia memandangku, segera kutarik dan kemudian aku berkata, "Jim, nanti kamu tidur di kamarku saja, soalnya aku sudah ngantuk dan kalo kamu keluar kamar ini aku bisa terbangun dan sulit tidur lagi, jadi tidur disini saja dan aku mau tidur sekarang. Kalo sudah selesai, tolong dimatikan. Lampunya 5 wattnya nggak usah dimatiin, oke..?"
Jimmy menyahut tanpa memperdulikanku, "Oke.."

Segera kupakai kain penutup mata (dibentuk seperti kacamata, warnanya hitam) sehingga aku tidak kelihatan kalau pura-pura tidur. Setelah kutunggu agak lama, akhirnya kurasakan spring bed-ku bergerak, tanda Jimmy naik ke bed. Aku tetap pura-pura sudah tidur. Kurasakan Jimmy menyenggol tanganku, namun kudiamkan saja, lalu tangannya mencoba memegang tanganku, kudiamkan lagi. Kemudian selanjutnya mungkin ia mengira aku sudah benar-benar tidur, ia melorotkan sarungku (aku biasa tidur dengan kain sarung namun tidak kulilitkan, hanya kupakai begitu saja dan hanya bercelana dalam dan bersinglet, karena udara agak panas malam itu) pelan-pelan. Kurasakan sarungku kini sudah sebatas dengkul dan kurasakan Jimmy memegang burungku. Aku agak kaget, namun berusaha untuk tetap diam. Rupanya ia hanya memegang sebentar saja karena tiba-tiba tangannya memegang bibirku. Ia buka bibirku yang terkatup dan memeganginya, lalu kurasakan hembusan nafas begitu dekat di wajahku, rupanya ia mencium bibirku. Bibirku ditarik oleh mulutnya, lalu dikunyahnya pelan-pelan, nikmat sekali rasanya.

Sementara itu, burungku sudah mulai agak menegang. Rupanya ia khawatir kalau aku terbangun. Sebentar kemudian, ia melepaskan lumatan di bibirku, dan tangannya kembali memegang burungku. Tangannya mulai masuk ke dalam celana dalamku dan mencoba untuk melorotkannya. Kubantu sedikit dengan cara yang hati-hati, kuangkat sedikit pantatku tanpa sepengetahuannya sehingga celana dalamku kini merosot di pahaku. Tangannya mulai turun ke daerah yang kutunggu-tunggu. Perlahan dipegangnya batang kemaluanku, ia mulai beraksi, dijilati bagian kepalanya. Terus dijilati dan kurasakan hisapan sampai hampir semua masuk ke dalam mulut. Dengan irama yang teratur, mulutnya turun naik perlahan. Selang beberapa menit, diurutnya dengan lembut dari pangkal ke pucuk, lembut sekali. Aku mulai merasa nikmat dan terangsang. Burungku pun mengeras. Nikmat sekali rasanya, pada saat ini juga kubuka mataku dan bersikap seolah-olah marah.

Kuhardik Edi, "Apa yang Kau lakukan..!"
Kulihat ia telah bertelanjang, burungnya yang cukupan untuk orang Asia telah tegang dan bulu kemaluannya tidak terlalu banyak, sorot matanya menampakan mimik yang sangat ketakutan.
Lalu ia berkata, "Maafkan saya Mas, Saya sangat terangsang, Saya tidak bisa mengendalikan diri, tolong jangan beritahu siapapun."
Dengan lagak marah, kukatakan, "Enak saja, kamu keterlaluan dan kamu harus mendapat balasan atas perbuatanmu, kamu akan kulaporkan pada orang tuamu dan Ibu kost."
Kembali Jimmy merengek, "Sekali lagi, maafkan Saya, Saya akan melakukan apapun asal tidak diberitahukan ke orang lain apalagi orang tua Saya maupun Ibu kost, please.."
Kulihat matanya merah dan berkaca-kaca, rupanya ia menangis, namun aku masih pura-pura marah.

Sedetik kemudian, ketika aku bangkit berdiri dan seolah-olah ingin menghajarnya, ia berlari dan menubruk kakiku, memegangi kakiku dan kepalanya disentuhkan ke pahaku, sekali lagi ia merengek, pada saat itu pula aku tidak dapat meneruskan rasa marah yang sebenarnya hanya pura-pura itu. kubelai rambutnya, kuusap-usap dan sungguh burungku mulai tegang kembali, lalu kubimbing ia berdiri.
Kupandangi wajahnya yang sangat handsome itu, wajah yang imut-imut, wajah yang lebih cocok jadi foto model, lalu kukatakan, "Kau benar-benar menyesal dan mau melakukan apapun untuk menebus kesalahanmu itu..?". Ia hanya menggangguk.
"Baik, sekarang pergi ke kamarmu dan lihat apa yang akan kulakukan padamu nanti."
Ia segera ke kamarnya dan mengucapkan terima kasih. Dalam hati aku sangat senang karena rencana pertamaku berhasil, dan kini kutahu bahwa ia juga seorang penggemar lelaki.

Besok paginya, ketika kubangun, kulihat ia sedang termenung. Kudekati dia, dan Jimmy kelihatan kaget dengan kedatanganku.
"Ngapain pagi-pagi ngelamun, mikirin yang tadi malam..? Jangan khawatir, rahasiamu akan kujaga, asalkan kamu menepati janjimu semalam.." tegurku.
Aku sedikit geli melihat tingkahnya yang tidak lama kemudian terlihat wajahnya sedikit cerah.
"Sungguh, Mas..?"
"Tentu, kenapa tidak..?" kataku.
Lalu ia mengucapkan terima kasih berulang-ulang dan kukatakan supaya jangan sedih karena saya tidak akan melakukan hal yang buruk padanya.

Beberapa hari kemudian, ia mengikuti penataran P4 pola 45 jam, ia pulang setiap sore dan ketika bertemu denganku sudah terlihat biasa walau aku tahu ia menjadi berhati-hati.
Hari itu Jimmy sudah tidak kulihat akan ke kampus, lalu kubertanya, "Sudah selesai penataranya..?"
"Sudah Mas, sekarang saya libur dan besok ada briefing opspek, setelah itu baru Opspek." katanya.
"Baguslah kalo begitu, kamu akan pergi atau tidak..?" tanyaku.
"Ya, cuma sebentar. Paling nanti jam 10 sudah sampai ke rumah, Mas Ferry ada perlu dengan Saya..?" tanya Edi.
"Ya, ada sedikit perlu dan berkaitan dengan malam itu, aku harap kamu tidak pergi setelah aku pulang nanti. Kita perlu bicara 4 mata tentang janjimu itu, mumpung Budi pulang ke kampungnya dan Danar tugas malam, kamu mau kan..?" jawabku.
"Baik Mas, Mas Ferry pulang jam berapa..?"
"Aku pulang sekitar jam satu siang, Aku harus menghadap dosen pembimbing dan mengajar sebentar."

Karena baru saja UMPTN, maka tugasku mengajar di bimbingan test berkurang cukup banyak, sedangkan tugasku mengajarkan bahasa asing tidak terlalu terpengaruh. Jam setengah dua, aku baru sampai ke rumah, kulihat Jimmy sedang tiduran dan sedangkan Danar Sudah bersiap-siap ke kantornya. Setelah Danar pergi, Edi alias Jimmy kupanggil ke kamarku, kemudian ia masuk ke kamar dan segera aku tanya dia.
"Kamu masih ingat janjimu waktu itu tidak..?"
"Masih Mas.." singkat jawabnya.
"Apa janjimu waktu itu..?" tanyaku lagi.
Jawabnya, "Saya akan melakukan apapun asalkan Mas Ferry tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapapun."
"Bagus kataku. Sekarang mandilah yang bersih dan keramaslah, setelah itu kembalilah kamu kemari."
Dengan wajah sedikit curiga ia menuruti kata-kataku.

Bersambung . . . . .

Kehidupanku - 2



Setelah tulisanku yang pertama di muat, aku menerima beberapa email yang masuk ke dalam inbox emailku. Dan kebanyakan dari mereka menyatakan kalau kisahku itu mirip dengan kehidupan mereka, cuma mungkin mereka tidak punya waktu atau kemampuan untuk menulisnya disini. Dan ada beberapa yang juga menyatakan keinginan mereka untuk mengenalku lebih jauh dan berharap bisa menjadi pangeranku seperti yang aku inginkan pada kisahku sebelumnya.

Dan aku berterima kasih untuk semua email yang telah dikirimkan untukku dan tentunya semua sudah menerima balasan dariku. Aku berharap kita bisa bertahan dalam menjalin pertemanan yang baru kita lakukan dan untuk masalah "pangeran," aku rasa itu adalah sesuatu yang butuh waktu. Jadi Kita jalankan saja hidup ini mengikuti waktu yang terus berjalan dan lihat apa yang akan terjadi nantinya.

Berbicara mengenai cerita-cerita dalam situs ini, kadang aku merasa iri dan cemburu, membayangkan begitu mudahnya seseorang itu menemukan pasangan gay-nya, bukan untuk masalah pasangan untuk making-love tetapi lebih kepada masalah menemukan teman hidup. Aku iri sekali saat membaca kalau ada seseorang yang sudah menemukan pacarnya, hidup bersama dalam arti bukan serumah, tetapi dalam menjalankan hidup ini berdua, ada yang perhatian, ada teman untuk aktivitas dan teman untuk berbagi disaat senang atau saat duka melanda.

Aku sudah ingin sekali memiliki hubungan itu, menemukan seseorang yang aku sayangi dan menyayangi aku, tapi entah kapan akan kutemukan. Selama ini tentunya aku lebih banyak merasakan cinta "bertepuk sebelah tangan", menyukai seseorang, tapi dia tidak menyukai diriku. Entah apa yang salah dengan diriku.

Mungkin di karenakan aku juga terlalu berhati-hati dalam memilih pasangan dan terlalu banyak dalam memilih. Enggak tahu kenapa, aku lebih banyak mengikuti feelingku saat melakukan sesuatu. Tapi terkadang aku merasa benar dalam mengikuti feelingku itu. Seperti pengalamanku dengan seorang pria, dia aku kenal dari sebuah chat room dan dia juga tinggal di kota yang sama denganku. Setelah chat beberapa saat, dia meminta nomer handphoneku dan sepeerti biasa, aku memintanya untuk memberikan nomernya duluan kepadaku, baru aku akan mengirimkan SMS kepadanya, aku tidak mau tertipu. Yah akhirnya kami telah sama sama memberikan nomer masing masing. Dan perkenalan kami tetap berlangsung lewat SMS ataupun telepon. Dia meneleponku duluan dan kemudian setelah beberapa hari, kami memutuskan untuk bertemu. Yah aku bersedia karena dari suaranya aku merasa dia cukup baik, cukup care dan suaranya juga manly banget, nggak ada nada sissy atau keriting.

Kemudian pada hari yang di tentukan, kami bertemu di suatu tempat. Pada pandangan pertama, aku sudah merasa tidak suka dengan dirinya, entah mengapa. Wajahnya cukup oke, cuman gue rasa tidak menyukai penampilannya dan aku rasakan ada sesuatu yang membuatku tidak merasa nyaman dengan orang ini setelah bertemunya. Tapi aku tidak begitu saja meninggalkannya, aku masih berdamai dengan diriku, mencoba mengikuti komitmen yang telah kuperbuat dalam diriku sendiri yaitu, JANGAN MELIHAT ORANG DARI PENAMPILAN LUARNYA, TETAPI LIHAT APA YANG ADA DIDALAMNYA.

Dan setelah berdamai dengan diriku sendiri, aku mencoba bersikap wajar, menunggu apa yang akan dia katakan atau lakukan. Tetapi semakin dia berbicara, aku semakin merasa tidak nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk ke rumahnya, karena dia mengatakan kalau dia ingin mengambil barangnya yang ketinggalan. Tetapi aku sudah tahu apa maksud dia sebenarnya. Lalu sesampai di rumahnya, kami menuju kamarnya dan anda tentu tahu apa yang kami lakukan di dalam.

Setelah itu, aku permisi untuk pulang ke rumahku dan aku tetap merasa kalau dia bukan pasangan untuk diriku tetapi aku tetap berdamai dengan diriku untuk tetap menjalin hubungan. Aku tahu kalau mendapatkan pasangan itu susah dan masa gara-gara tidak menyukai penampilannya saja, aku harus meninggalkannya, itu nggak fair menurutku.

Lalu setelah sampai di rumah, aku menemukan dalam handphoneku ada panggilan tidak terjawab dari cowok tersebut dan aku merasa heran mengapa aku tidak mendengar panggilan itu, padahal seharusnya aku mendengar kalau handphoneku berbunyi. Tetapi aku tidak mempersoalkannya dan lalu aku menelepon balik dan bertanya mengapa dia meneleponku, dan dia menjawab,

"Sorry yah Her, tadi cuman miss call, soalnya pulsa gue sudak hampir habis, jadi aku menelepon kamu karena aku ingin minta kamu belikan dulu voucher pulsa untuk handphoneku."

Lalu aku meminta maaf kepadanya dan berkata kalau aku sudah di rumah dan tidak punya rencana untuk keluar rumah lagi. Dan dia tetap meminta tolong dengan dalih kalau dia malas untuk keluar rumah untuk membeli voucher tersebut soalnya tempatnya jauh dari rumahnya. Dan aku cuma bilang akan aku usahakan.

Dari hasil menelepon itu, akhirnya aku merasakan kalau firasat burukku terhadapnya itu adalah firasat yang benar, dia menginginkan materi. Dan aku juga bukan cowok yang bodoh, aku tahu betul jalan di sekitar rumahnya dan tahu ada toko-toko apa saja di dekat rumahnya, dan aku juga tahu kalau sekitar 50 meter di dekat rumahnya ada toko yang menjual handphone, berikut pulsa dan aksesoris. Jadi dari sana, aku bisa mengetahui mengapa dari tadi aku merasa tidak nyaman berada dekat orang itu.

Mungkin anda akan memberikan komentar, mungkin saja orang itu sudah ke toko handphone untuk membeli pulsa dan ternyata tidak ada, jadi menyuruh aku untuk membelinya. Itu alasan yang lebih buruk lagi, dia tinggal di pusat kota dan beberapa mall letaknya dekat dari rumahnya sementara dia tahu betul kalau rumahku sedikit jauh dari pusat kota. Jadi tidak ada alasan untuk menyuruhku membelinya selain itu juga, baru pertama kali kenal, sudah menyuruh aku untuk membelikan ini-itu. Itu hal yang paling tidak aku sukai, lain kalau kami sudah ketemu beberapa kali dan lebih mengenal. Dan setelah kejadian itu, aku tidak mau lagi menerima teleponnya dan membalas sms-smsnya seadanya. Sampai akhirnya dia bosan sendiri.

Jadi inti yang ingin aku bahas disini adalah kadang kita berkomitmen pada diri sendiri, untuk tidak melihat orang dari penampilannya, jadi setiap ketemu orang kita mencoba untuk menerimanya (tentunya setelah beberapa point terpenuhi, misalnya nggak sissy, manly, dll) apa adanya. Mencoba menolak firasat buruk yang ada di hati dan tidak mau mengganggap itu adalah suatu penolakan dari diri kita. Dan poinnya adalah, guys ikuti kata hatimu. Jangan karena selama ini jomblo, terus terima saja apa yang datang, tanpi mengikuti isi hati.

Yah ini cuman salah satu dari begitu banyak masalah yang pernah aku alami, dan dari pengalaman itu aku jadi lebih berhati-hati untuk menemui teman-teman sehati.

Jadi memang susah sekali hidup menjadi gay, banyak problema dan dilema yang harus kita hadapi. Kadang timbul rasa penyesalan dalam diriku, mengapa aku tidak di lahirkan menjadi seseorang yang normal, menyukai wanita, berpacaran dengan wanita, memikirkan pernikahan, punya anak dan lainnya.

Sebagai seorang gay, susah sekali dalam mencari pasangan, apalagi di negara kita tercinta ini, belum semua bisa menerima makhluk seperti kita (sorry bahasanya kacau), sehingga orang-orang seperti kita, juga saya tentunya, tidak berani untuk memproklamirkan dirinya as a gay. Sehingga kita tidak tahu yang mana gay dan bukan, harus menebak-nebak dahulu, mengikuti insting ke-gay-an kita dan sebagainya. Kalaupun nantinya kita menemukan pasangan kita, atau pacar tepatnya, kita juga nggak bisa mesra-mesra di luaran, merangkul pasangan kita, menggenggam tangan mereka di jalanan, dan kalau kita menginginkan hal itu, kita cuman bisa melakukannya di bioskop, rumah dan toilet tentunya hahaha.

Aku pernah mencoba untuk mengubah orientasiku sendiri, ingin menjadi pria normal, menyukai wanita dan berpacaran dengan mereka, menikah dan seterusnya. Di mulai dari saat aku beronani, aku mencoba untuk membayangkan untuk make love dengan seorang wanita bertubuh sexy, kubayangkan aku tengah bercumbu dengan Britney Spears, Shakira, Dian Satro, J-Lo dan lainnya, tapi di akhir pertempuranku itu, tanpa kusadari Britney tiba-tiba berubah menjadi Tom Cruise ataupun Ben Afflect dan aktor hollywood lainnya. Rencana pertamaku pun gatot alias gagal total.

Hal kedua, aku mencoba untuk berpacaran dengan seorang wanita, aku merencanakan untuk lebih dekat dengan beberapa teman perempuanku yang selama ini dekat denganku (yeah! Seperti jargon di film Arisan, GAY adalah teman baik bagi perempuan). Yah aku merasa aku lebih dekat dengan beberapa teman wanita, mungkin karena aku bisa lebih mengerti mereka karena naluri ke-gay-anku. Dan aku berpikir, tentunya gampang banget untuk bisa menggaet salah satu dari teman wanitaku untuk menjadi pacarku. Dan hal ini tentunya bukan hal yang sulit bagiku. Tapi semakin aku berpikir, aku semakin takut sendiri, aku tidak mau kalau akhirnya aku pasti akan putus dengan mereka, menyakiti hati mereka, dan aku takut kalau suatu hari aku mendapatkan pasangan lelaki-ku, aku juga di campakkan begitu saja.

Jadi aku memutuskan untuk tidak lagi mengubah diriku, karena aku takkan bisa berubah lagi, berpacaran dengan wanita hanya akan merupakan topeng bagi diriku untuk menutupi siapa diriku sendiri dan kemudian akhirnya aku sendiri yang akan sakit karena akan menyakiti hati wanita itu.

Akhir kata, jadilah dirimu apa adanya, nak. Bersabarlah dalam menemukan pasangan hidupmu, jangan pernah menyakiti orang lain hanya demi untuk menutupi ke-gay-anmu. Seperti diriku, aku juga akan tetap sabar untuk menemukan pasangan hidupku. Meski urgent juga sih sekarang. Pengen banget berbagi kasih sayang dengan seseorang, saat ini juga. Ada yang tetap disampingku saat aku sedih dan senang, dan aku juga akan lakukan hal yang sama. Tapi entah kapan??

Buat yang telah mengirimkan emailnya buat aku, Terima kasih banyak. Aku berharap kita bisa jadi teman yang baik, ataupun salah satu dari kalian akan pasangan hidupku.

Bagi yang ingin sharing pengalaman, curhat, butuh dorongan moriil, jadi teman aku ataupun pengen jadi kekasihku. Layangkan email anda kepadaku.

Tamat

Kehidupanku - 1



Menjadi seorang gay, bukanlah kemauan setiap orang. Seperti diriku ini, aku juga tidak mengharapkan kalau aku di lahirkan untuk menjadi seorang gay, seorang lelaki yang menyukai sejenisnya, bukan menyukai lawan jenisnya. Kalau ada pertanyaan mengapa seseorang itu bisa menjadi gay, aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Banyak hal yang bisa membentuk seseorang menjadi gay, tapi aku tidak ingin membahas hal ini karena banyak sekali kemungkinan yang bisa menjadi dasarnya.

Kalau di tanya mengapa aku menjadi seorang gay? Aku juga tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, kemungkinannya ada beberapa hal, bisa saja karena sejak lahir aku telah mempunyai kelainan genetik atau mungkin karena pengaruh keluargaku.

Sejak kecil, aku lebih banyak mendapatkan perhatian dari ibuku dibanding ayahku. Hal ini bisa di karenakan ayahku sudah cukup berumur saat aku di lahirkan dan hal lainnya aku juga bukanlah anak yang pertama ataupun kedua tetapi anak yang kesekian. Dan di usia ayahku itu, mungkin dia udah lelah untuk memanjakan anaknya. Jadi singkatnya, aku lebih banyak merasakan perhatian dari ibuku dan kakak-kakak perempuanku dan hasilnya aku bersikap jadi kewanita-wanitaan.

Sewaktu kecil, aku lebih senang bermain boneka di banding mobil-mobilan, di sekolah aku lebih banyak bergaul dengan teman-teman perempuan dan mungkin juga gayaku saat itu juga rada kemayu sehingga tak pelak lagi, sebutan banci atau bencong melekat padaku.

Sewaktu masa SD, SMP, aku mungkin tidak terlalu peduli akan sebutan itu, tetapi di masa SMU aku mulai gerah menerima sebutan itu, dan perlahan aku mulai mengubah sikapku dalam bergaul, mulai dari cara ngobrol, cara bersikap dan banyak hal lain. Tapi sebutan bencong itu tetap melekat dalam diriku hingga aku SMU, karena teman-temanku mengenalku sejak kecil. Dan setamat SMU, aku mulai kuliah di sebuah universitas di kotaku.

Dan aku merasa beruntung karena di kampusku itu, aku tidak bertemu lagi dengan teman-teman SMU-ku yang dulu, sehingga aku mulai bisa berubah sikap untuk menjadi seorang lelaki yang jantan, dan macho dan tidak ada lagi yang menyebutku dengan sebutan "banci".

Tetapi satu hal yang tidak bisa ku ubah dari diriku, yaitu rasa menyukai sesama jenis. Hal ini sudah kurasakan sejak aku masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Saat itu aku sudah mulai suka sekali untuk melihat yang namanya penis dan aku beruntung mendapatkan teman sekolah yang bisa memuaskan keinginanku saat itu. Dari temanku itu, aku merayunya hingga mereka membiarkan diriku untuk boleh memegang penisnya bila mereka bermain di rumahku.

Awalnya, setiap ketemu kami hanya saling memegang penis, memegang tubuh pasangan dan belum tahu yang namanya oral apalagi anal. Kemudian setelah duduk di bangku kelas 3 SMP, saat itu teman-teman mulai suka ke rumahku untuk menonton blue film karena kebetulan rumahku sepi. Dan dari pengalaman menonton film biru itu, kami berdua mulai suka membuka baju masing-masing dan mulai suka untuk mencium badan pasangan masing-masing, menjilatin puting dan saling ciuman tetapi belum berani untuk melakukan oral.

Sampai suatu waktu, saat kami berdua nonton film biru lagi, tiba tiba timbul keinginan bagi kami untuk mengikuti adegan yang ada di layar. Dan baru saat itu kami mulai saling mengoral satu sama lainnya dan kemudian saling menggesekkan penis kami berdua sampai kami berdua sama-sama orgasme dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencucinya. Hal itu sering kami lakukan apalagi di dukung oleh keadaan rumahku yang selalu sepi setiap hari. Dan hal itu tetap berlanjut hingga aku duduk di perguruan tinggi. Setiap kami bertemu di rumahku dan keadaannya mendukung, maka kami akan kembali melakukan hal itu.

Herannya, meskipun kami berteman sejak kecil dan melakukan hal itu berdua sejak kecil, tetapi kami tidak pacaran. Dan temanku itu boleh di bilang biseksual, karena dia masih bisa memacari cewek-cewek dan aku tidak pernah cemburu. Mungkin itu karena aku punya targetku sendiri yaitu cowok-cowok lainnya. Aku seorang yang punya nafsu besar dan ingin selalu melakukan hal itu dengan siapa saja yang aku temui.

Kemudian kami berpisah, aku sibuk dengan kuliahku dan dia juga, kami tinggal di satu kota tetapi berlainan jalan dan aku jarang mengkontaknya lagi. Dan saat itu untuk memenuhi nafsu birahiku yang besar, aku tiap hari melakukan onani sambil membayangkan bisa bermain seks dengan mereka. Kemudian aku suka sekali berenang dan hampir setiap hari aku pergi ke kolam renag, sampai suatu hari setelah siap berenang, aku menuju ke kamar mandi untuk mandi dan membilas badanku di shower.

Saat itu kurasakan ada seseorang yang selalu menatapku dan berusaha mengajakku ngobrol. Yah sebagai seorang yang bisa cepat akrab dengan siapa saja, kami mulai terlibat percakapan ringan. Sampai akhirnya dia memegang badanku dan mengatakan kaau badanku bagus, aku hanya tersenyum dan membalas ucapannya,

"Nggak usah ngejeklah, masa perut berlemak begini di bilang bagus."

Tetapi dia terus meraba badanku dan akhirnya memegang penisku, aku sempat tersentak, tapi dia punya jawaban yang bagus, katanya ada kotoran di penisku dan dia mengambilnya. Yah sebenarnya aku sudah tahu apa mau-nya dan aku cuman pura-pura saja dan akhirnya, kami berdua menuju toilet, mengunci pintu dan yah kalian tahu apa yang terjadi.

Hidupku begitu liar pada masa-masa tahun pertama, kedua dan ketiga saat duduk di bangku kuliah. Saat itu aku masih belum di berikan fasilitas honda ataupun mobil dari perusahaanku bekerja, sehingga praktisnya aku lebih banyak naik angkot ataupun taxi. Dan yang paling kusukai adalah naik Taxi ataupun becak untuk pulang-pergi ke kampus. Oh sebelum lupa, aku kuliah pada waktu sore hari karena siangnya aku bekerja.

Bila hari-hari biasa aku pergi ke kampus dengan angkot, maka pada waktu-waktu hujan deras, aku lebih memilih naik becak ataupun taxi, meskipun harganya lebih mahal, tapi aku punya keuntungan dobel. Yang pertama aku tidak kena hujan dan yang kedua tentunya aku bisa berkenalan dengan supir-supir taxi tersebut. Dengan cuaca yang saat hujan, di saat perjalanan, aku akan langsung memberikan beberapa pertanyaan menjurus ke supir taxi tersebut. Seperti,

"Wah hujan-hujan begini enaknya ngapain yah Mas?". Atau
"Sepulang antar saya, Mas pasti langsung pulang ke rumah untuk memuaskan adik kecil Mas, tul nggak?".

Dan bila kurasa jawaban yang di berikan adalah lampu hijau, maka tentunhya aku akan segera mendaratkan tanganku di gundukkan penisnya serambi berkata, "Wah udah naik nih Mas, hahahaha pengen ya?".

Dan bila supir taxi itu tidak mengelak, maka aku akan mulai membuka resleting celananya dan memegang langsung penisnya, kemudian mengarahkan supirnya untuk memakai jalan-jalan yang sepi kemudian aku mengeluarkan sapu tangan dari saku celanaku dan membersihkan penisnya dan yah memberikan oral padanya sampai dia merasa puas.

Tapi tak banyak kesempatan seperti itu datang padaku, selain ada beberapa supir yang tidak mau melakukannya denganku, juga terkadang kalau aku merasa tidak suka dengan supir taxi yang kutumpangi, biasanya aku akan duduk diam saja di taxi. Biasanya, aku lebih selektif memilih taxi, aku akan memilih yang berperawakan bersih dan enak di lihat.

Tapi yah itu semua masa laluku. Dan dua tahun belakangan ini, aku lebih bisa mengendalikan nafsu-ku, aku mulai tahu bahaya penyakit AIDS, dan aku tidak ingin menjadi salah satu korbannya. Aku tidak seliar dulu, mulai tahu memilih pasangan one night stand. Biasanya aku mau melakukan one night stand dengan lelaki yang aku suka, berpenampilan bersih dan ya berharap aku bisa memberikan service yang terbaik sehingga dia mau menjadi pacarku, tetapi aku sering kecewa, karena mereka hanya mengharapkan seks sesaat denganku.

Dan saat ini aku merasa hidupku lebih baik dari kehidupanku yang dulu, lebih teratur, tidak seliar dulu. Aku lebih banyak menghabiskan waktu luangku untuk chatting dengan teman-teman sehati, berharap menemukan seseorang yang mau menjadi pangeran dalam hidupku. Sebetulnya sudah sejak lama aku mengharapkan untuk segera mendapat pacar, tetapi ternyata mendapatkan seorang pacar di dunia gay ini sungguh sulit. Penampilan tidak merupakan masalah bagiku, karena aku sendiri juga bukan perfect person, wajahku juga biasa saja.

Hal yang membuat aku susah mendapatkan pacar, mungkin karena aku orangnya rada aneh. Aku suka chatting, suka berkenalan dengan teman-teman sehati, tetapi aku sulit untuk memberikan nomor handphoneku, di tambah aku juga orangnya sekarang sangat hati-hati, tidak berani melakukan copy darat, selain nggak pe de, aku juga takut bertemu dengan orang yang salah.

Aku ingin tidak banyak yang mengetahui kalau aku seorang gay, aku hanya ingin saat ini ada seorang pria dewasa dalam hidupku, menemaniku, itu sudah cukup, tapi yah mau cari dimana pangeran itu? Sebelumnya aku punya beberapa temen gay disini, kita sering share, tapi karena aku selalu menolak saat diajak jumpa, akhirnya mereka nyerah dan tidak pernah menghubungiku lagi, yap aku sedikit aneh. Tapi bagus juga mereka berbuat begitu, dengan begitu aku tahu kalau mereka memang bukan pasangan bagiku, karena mereka tidak punya kesabaran hahaha, aku ingin mendapatkan seseorang yang sabar sehingga kelak aku akan tertulari ilmu sabarnya.

Kapankah akan kudapatkan seseorang yang akan menemani hari-hariku, berbagi suka dan duka, saling membangun untuk hidup lebih baik dari sebelumnya, bukan hanya sebatas untuk seks, yah aku siap menikah dengan lelaki juga, tapi tentunya bukan disini.

Terakhir, bagi yang ingin berkenalan denganku, berbagi pengalaman hidup, menjadi teman ataupun ingin menjadi pangeranku, bisa mengirimkan email buatku. Aku, lelaki berumur 25 tahun, 175 65, straight act.

Bersambung . . .

kang Saridjo, pelampiasan syahwatku - 3



"Duh.. Den, istriku saja nggak mau macam Aden gini.. Duh, enak bangett.. Sseehh.," dia meracau.

Ludahku membuat ketiak itu kuyup. Dan asin keringat ketiak yang larut dalam ludah itu kuambil kembali melalui isepan dan sedotan bibir dan lidahku.

"Amppuunn.. Deenn..." rintih nikmat Kang Saridjo.

Kulakukan sama pula pada sebelah ketiak lainnya. Kutinggalkan bekas kecupan pada dadanya. Aku benar-benar seperti kadal yang bergerak menggeliat-geliat merambah dada hingga perut Kang Saridjo.

Saat aku mencium dan melumati perutnya yang macam papan cuci karena otot-ototnya yang bergumpalan tanganku mulai merambahi pinggul dan turun mengarah ke bokongnya. Kemudian saat ciumanku tenggelam ke arah selangkangannya tangan-tanganku melepaskan jari-jarinya untuk merabai celah bukit bokongnya. Ini sensasi baru lagi bagi Kang Saridjo.

Jari-jariku dengan halus merabai pembuangan tainya. Kurasakan bulu-bulu lebat menutupi bibir duburnya. Saat jari-jariku mulai mendesak bibir dubur itu, teriakan kecil Kang Saridjo terdengar, "Ad.. Dden..!! Acchh..." itu pertanda kenikmatan baru menerjang dia. Kang Saridjo tentu tidak mengelak. Bahkan dia mengangkat sedikit bokong dan pahanya untuk memberi jalan lebih terbuka bagi jari-jariku untuk bermain pada lubang tainya itu. Bagiku juga sungguh membakar nafsu. Saat jari-jari berusaha menusuk lubang duburnya terasa sesak, kukulum dulu jari-jariku untuk mendapatkan basah ludahku. Sepintas aroma dubur Kang Saridjo menerpa hidungku.

Akhirnya Kang Saridjo benar-benar melipat kakinya hingga pahanya nempel ke dadanya. Aku dari arah bawah merangkaki dan menindih nyungsep di selangkangannya. Aku semakin menggila menjilati kontol Kang Saridjo. Batang dan kepalanya yang terus mendapatkan lumatan dari lidah dan bibirku terus mengalirkan deras precum-nya mengasinkan lidahku.

Ketika aku mulai mengulum biji-biji pelirnya, jari tanganku sudah mulai menembusi duburnya.

"Acchh.. Achh... Deenn.. Acch..." suara itu sungguh semakin merangsang nafsu seksualku.

Setiap terasa agak sesek jariku kukulum untuk membasahkan pakai ludahku. Setiap kali semen dubur Kang Saridjo yang terbawa jari-jariku kujilat dan kurasakan sepatnya. Ketika jari-jariku mulai keluar masuk lubang itu Kang Saridjo terus merintih kenikmatan.

"Deenn... Adenn.. Ampun Denn.. Enak Den.. Teruzz ddeenn.."

Berikutnya kudorong miring lipatan kakinya hingga rebah ke kasur. Kemudian kudorong lagi hingga Kang Saridjo tahu bahwa aku ingin dia nungging. Dia tahu mauku. Dia berusaha membuka lebih lebar belahan pantatnya dengan cara meletakkan kepalanya ke kasur sehingga bokongnya nungging tinggi.

Dan kusaksikan betapa pantatnya yang coklat hitam penuh bekas-bekas luka lebat tertutupi bulu-bulu badannya. Tepat pada lubang duburnya nampak bulu itu gelap melebat. Duuhh.. Sungguh mempesona libidoku. Aku tak mampu menahan diri. Dengan cara merangkaki dari belakangnya, kubenamkam wajahku ke belahan pantatnya itu. Kuendus aroma khas dari tempat itu. Hidungku membenam dan lidahku mencari-cari.

Sambil menjilati lubang duburnya, tanganku meraih batang kontolnya yang ngaceng menggelantung. Kuelusi dengan sesekali mengocok-ocoknya. Dalam tengkurep nunggingnya Kang Saridjo terus menerus merintih dan mendesah seperti orang kepedasan. Menjilati lubang tai Kang Saridjo sungguh memberikan kepuasan sensasional bagiku. Lidahku yang menusuku-nusuk menyentuh celah yang licin halus di tengah rimbunan bulu duburnya. Terkadang aku menyedotinya. Ludahku yang menyatu dengan bulu-bulu lebat itu melarutkan segala sesuatu yang tertinggal untuk kusedoti.

Ketika birahiku tak lagi tertahan aku bangkit. Penisku yang telah demikian tegang rasanya cukup keras untuk menembusi pantat Kang Saridjo.

"Kang... aku pengin ngentot pantat kamu. Bolehh..??"
"Saya belum pernah. Tetapi terserah.. Adeenn.. Sajaa.."

Laiknya macam anjing kawin aku mendatangi Kang Sardi yang telah nungging demikian sempurna dari arah belakang. Kucocok-cocok-kan ujung penisku ke pantatnya dan kudesakkan.

"Dduhh.. Zzaakitt.. Dduhh.. Deenn.. Nggak ppaa-Pa khan.. Den?"

Aku tak perlu menjawabnya. Kuludahi kepala kontolku sebagai lumasan sdan kusodokkan kembali. Sedikit demi sedikit akhirnya.. Blezz..

"Adduuhh.. Duhh.. Ampunn.. Ddenn..." suara Kang Saridjo sambil menyeringai.

Hanya sekitar 10 detik berikutnya suaranya sudah beda,

"Teruzz ddenn.. Enhakk bangett.."

Sambil terus aku menggenjot-genjot, ku peluki tubuhnya dari arah belakang hingga spermaku muncrat di dalam lubang duburnya. Aku langsung kembali jatuh lemas terkulai di kasur. Kang Saridjo yang tahu aku sudah memuncratkan air maniku di lubang duburnya ikut rebah di sampingku,

"Enak Den..?" sambil merabai perutku, kemudian selangkangan dan kontolku.

Aku hanya menganguk angguk. Aku memerlukan bernafas sejenak sebelum memuasi Kang Saridjo. Mungkin dengan cara mengisepi kontolnya hingga air maninya kembali tumpah ke mulutku.

Kuminta Kang Saridjo bangun untuk jongkok seperti hendak menduduki wajahku. Dengan kembali nungging dia arahkan kontoplnya untuk 'menembaki' mulutku. Aku sudah siap untuk mengulumnya. Kumulai kembali dengan menjilati dan menggigit-gigit kecil batangnya yang liat itu. Kepalanya kusapu dengan lidahku. Tepian topi bajanya sangat peka saat lidahku menyentuhnya,

"Duuhh.. Duh.. Dduuhh..." Kang Saridjo terus meracau sambil memompakan kontolnya ke mulutku. Untuk memberikan rangsangan dan rasa nikmat yang lebih tinggi beberapa kali tangan-tanganku juga kembali mengelusi lubang pantatnya.

Tak sampai 2 menit kemudian..

"Ddeenn.. Saya mau kk.. Keluarr.. Ddenn.. Enhaakk bangett.. Telan pejuh saya 6ya ddenn.. Aden mau telan khan.. Den mau telan pejuhku khann..??!!" rupanya itu cara Kang Saridjo meningkatkan birahinya saat spermanya terasa hendak muncrat menumpakhi rongga mulutku..

Sodokkannya semakin cepat. Kontol gede panjang itu demikian kuat menusuki mulutku hingga sering menyentuh tenggorokanku. Beberapa kali aku dibuatnya tersedak. Aku terpaksa menggunakan siku tanganku agar tusukkan itu tak terlampau dalam menembusi mulutku.

Yang kurasakan kemudian adalah semprotan panas yang rasanya tak habis-habisnya. Berliter-litetr air mani Kang Saridjo tumpah muncrat dalam rongga mulutku. Kali ini tak ada yang tercecer. Kurasakan cairan itu demikian kental macam dawet yang hangat di mulutku. Aku berusaha menikmatinya dalam kunyahan-kunyahanku.

Kang Saridjo kembali rebah ke sampingku.

"Terima kasih Denn.. Aden mau melayani aku hingga aku merasakan kepuasan yang tak pernah kudapatkan dari istriku..." sambil merangkul kemudian sedikit menindih untuk menjemput bibirku dalam lumatannya. Lama kami saling melumat bertukar ludah. Kami saling memeluk tubuh dengan penuh birahi. Aku juga mengelusi rambutnya laiknya mengelusi rambut kekasihku. Aku merasakan betapa nikmat mengasihi orang macam Kang Saridjo.

Malam itu kami terus berasyik birahi hingga menjelang pagi. Entah berapa kali aku makan minum spermanya. Di tengah malam kami merasa sangat lapar. Kami makan mie instan yang tersedia di lemari dapur. Kang Saridjo semakin santai menghadapi aku. Kami saling tahu kesukaan lawan mainnya. Dia paling suka saat aku menjilati pantatnya. Dan dia tahu aku paling suka menelani spermanya.

Menjelang pagi dia minta aku nunging. Kang Saridjo ingin ngentot aku dari arah belakangku. Aku rasakan saat-saat batang liat besarnya mulai menembusi analku. Uuchh.. Rasanya seperti anak pompa sedang mengisi rongga analku. Aku berusaha sedikit menggoyang agar bisa menelannya lebih dalam dan.. Blezz.. Kontol segede pisang tanduk Kang Saridjo itu amblas dan pelan-pelan mulai memompa. Ducchh.. Kang Saridjo sudah lihai sebagai pemain seks sejenis. Dia dengan penuh nafsunya memompa pantatku sambil sesekali menariki rambutku seperti joki pada kudanya. Perlakuan itu sangat merangsang libidoku. Aku menikmati kekasarannya.

Ketika saat puncaknya mulai mendekat, Kang Saridjo memeluki tubuhku dari belakang sambil mempercepat laju pompaannya. Jleb, jleb, jleb, jleb.. Dan aku terangguk-angguk oleh sodokannya. Hingga tiba-tiba dia cepat mencabut kontolnya dari lubang analku..

Dengan cepat dia raih kepalaku dan ditariknya aku menghadap ke kontolnya yang siap memuncratkan pejuhnya. Dia sodokan kontol ngaceng berkilatan itu langsung ke mulutku. Dia paksakan aku menelan kontolnya yang baru keluar dari lubang analku.

"Ayo Den.. Telan pejuhku.. Ayoo ddenn.."

Dan muncratlah spermanya ke mukaku dan sebagian besar ke mulutku. Aku merasakan kembali pejuh kental bak dawet dari kontol Kang Saridjo. Aku menelaninya dengan penuh kerakusanku. Sepertinya sangat menikmati dan tak puas-puasnya Kang Saridjo menjejalkan kontolnya ke mulutku,

"Ayyoo Denn.. Minum pejuhku.. Telan Denn.. Makan tuuhh.. Enak kan pejuhku..??"

Tamat

kang Saridjo, pelampiasan syahwatku - 2



Sambil bibir melumati dadanya, tangan-tanganku pelan merosotkan celana itu ke lantai. Aku melirik dari lumatan di dadanya. Yang tinggal hanyalah gundukkan besar dibungkus celana dalam katun coklat. Mungkin sudah dekil. Tetapi tanganku yang tak peduli langsung mengelus, mencemol dan meremas-remas gundukkan besar itu.

Aku terkesima pada hangat dan liatnya gumpalan otot itu. Kontol Kang Saridjo memang luar biasa besar. Aku tak sabar untuk selekasnya menjamahi. Tetapi Kang Saridjo justru meraih mukaku, mengamati. Dari bibirnya yang tebal dengan lingkaran kumisnya yang berantakkan dia berucap, "Achh... Aden cakep banget..."

Dan bibir tebal itu langsung memagut bibirku. Aku menyambutnya dengan penuh nafsu. Aku rasakan duri-duri rambut di dagu dan pipinya menusukki pipiku, bibirku. Aku juga terangsang banget dengan bau keringatnya yang merebak dari tubuhnya. Aku pepetkan tubuhku lebih lengket ke tubuhnya. Aku benamkam mukaku ke mukanya, lehernya. Aku berusaha menghirupi bau tubuh itu.

Semuanya itu seperti simponi birahi. Kenikmatan syahwat melanda dari celah tangan-tanganku yang terus meremas dan membetoti kontolnya, dari mukaku yang tenggelam ke lehernya sambil bibir memagut, dari tubuhku yang lengket keringat dengan tubuhnya. Ahh.. Kang Saridjo.. Kenapa nikmat banget siihh.. Aku melenguh sementara kudengar Kang Saridjo demikian juga. Kini kami sama-sama telah tenggelam dalam syahwat 'cinta sejenis'.

Untuk lebih leluasa aku giring bergeser menuju tempat tidur. Tepat ditepiannya kudorong tubuhnya hingga terduduk dan kudorong lagi untuk telentang dengan kedua kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Aku menindih tubuh kekar itu dan mulutku langsung menjemput mulutnya yang dia sambut pula dengan penuh nafsunya. Dia memeluki tubuhku sambil menggeram-geram lirih melampiaskan desakan birahinya.

Tangan-tanganku tak mau tinggal. Terus meraba-rabai bagian tubuhnya dan merogoh kontolnya di balik celana dalamnya. Genggamanku terasa sangat mantap. Batang gede milik Kang Saridjo terasa berkedut-kedut dan hangat dalam tanganku. Aku meremas-remas pelan penuh perasaanku.

Akhirnya Kang Saridjo sendiri yang mencopot celana dalamnya. Dengan sedikit mengangkat bokong kemudian melipat pahanya dia tarik lepas celana dalam dekil itu. Aku terus memagut dagunya, lehernya, dadanya dan terus turun hingga ke otot-otot perutnya. Bulu-bulu yang melebat terhampar dai bagian depan tubuhnya membuat aku sangat keranjingan. Sedotan dan ciuman bertubi tak putus-putus kulepaskan pada tubuh penuh keringat dan bau lelaki itu.

Kang Saridjo nampak tak mampu menahan kenikmatan yang dia dapatkan. Dia mengaduh-aduh pelahan takut didengar temannya, sambil tangannya mulai mendorong kepalaku agar terus meluncur ke bawah. Aku merasakan dan tahu, dia pengin merasakan betapa mulutku menciumi dan mengulum kontolnya. Acchh.. Kangg.. Jangan khawatir.. Aku siap menjemput batang panasmu..

"Ayoo.. Dd.. Denn... saya udah nggak tahan nihh..!," dia mendesis. Tangannya semakin kuat mendorong kepalaku.
"Ayyoo.. Den.. Saya mau keluarr..!"

Wah, gawat. Rupanya desakan syahwat Kang Saridjo demikian menggebu. Peristiwa pertama bagi dia pasti merupakan sensasi yang hebat. Aku cepat menjemputnya. Sebelum mengulumnya aku ciumi terlebih dahulu jembutnya kemudian batang dan bijih pelernya. Bau kelelakiannya benar-benar menengelamkan aku dalam syahwatku sendiri.

Saat itu kulihat pada lubang kencingnya nampak membasah bening. Precum Kang Saridjo menunggu jilatan lidahku. Dan tanpa lagi disuruh lidahku sudah menjulur menjemput cairan bening asin itu. Lidahku bermain mengebor lubang kencing Kang Saridjo. Akibatnya..??

Dia mendesis keras menahan nikmat sambil tangannya dengan pedas meremas kepalaku. Kang Saridjo tak mampu menahan kenikmatan yang luar biasa saat lidahku menjilat. Pada saat itu juga dari kontolnya menyembur sperma panas. Sperma itu sangat kental dan kenyal. Serasa aku bisa menggigitnya. Mengangguk-angguk sekitar 6 kali lebih kontolnya menyemburkan spermanya ke wajahku.

"Addeenn.. Deenn.. Denn.. Maapin saya dd.. Eenn.. Maapin saya yaa ddeenn..." sepertinya orang menyesal Kang Saridjo mengeluarkan sperma sambil desahan iba telah berlaku macam begitu padaku. Aku tahu. Peristiwa ini sangat membuatnya 'merasa salah' pada dirinya. Dia pikir telah berlaku 'kurang sopan' padaku.

Namun justru suaranya itu pula yang membuat aku semakin keranjingan. Kujemput kontolnya masuk dalam kulumanku. Kumainkan jilatan-jilatanku pada lehernya, lubang kencingnya, batangnya. Kusedoti spermanya yang tercecer di jembutnya. Juga dari pipi dan daguku. Kumakan semua sperma Kang Saridjo yang muncrat itu.

"Jj.. Jaangann.. Dee.. Nn. Kotorr..."

Tetapi siapa yang bisa menahan gelora nafsuku pada saat seperti ini. Ciumanku juga melatai selangkangannya kemudian pahanya. Kontolku terasa ingin memuncratkan isinya pula. Aku tidak menunggu apa yang akan dilakukan Kang Saridjo. Dengan menciumi kemaluan, jembut, selangkangan dan pahanya birahiku memuncak dan meledak.

Spermaku muncrat tumpah di tubuh Kang Saridjo dan kasurku. Aku berteriak histeris tertahan bak anjing yang meregang nyawanya untuk kemudian jatuh lemas ke kasur di samping tubuh telanjang Kang Saridjo. Untuk beberapa saat kami saling terdiam.

Sore menjelang pulang kutahan Kang Saridjo agar menemani aku yang di rumah sendirian. Teman-temannya nggak ada yang curiga. Semula Kang Saridjo menampakkan keraguannya.

"Saya belum pamit orang rumah, Den," katanya.
"N'tar gue bilangin bini lu, Djo," sergah temannya membuat Kang Saridjo terpaksa mengikuti keinginanku.

Aku yakin sesungguhnya dia juga ingin. Mungkin untuk menunjukkan kepada teman-temannya bahwa nggak ada apa-apa di balik permintaanku itu. Begitu teman-temannya meninggalkan halaman rumah segera kututup pintu halaman dan sekaligus kugerendel. Aku rangkul Kang Saridjo menuju kamar tidurku kembali. Aku ingin puas-puaskan syahwatku bersama tukang AC yang kekar dan gempal ini.

Kenikmatan yang kami awali sejak siang tadi ternyata membakar nafsu syahwat kami menjadi berkobar. Begitu memasuki kamar kami langsung berguling dan saling memagut. Kang Saridjo tak merasa canggung lagi. Malahan dia yang mulai ngomong,

"Isepan Aden tadi siang bener-bener hebat, Den. Saya belum pernah merasakan kenikmatan macam itu. Rasanya pengin lagi, nih"
"Jangan kewatir Kang, aku juga belum pernah nemu pejuh kentel macam kamu punya. Rasanya macam dawet, bisa di seruput dan di gigit-gigit. Pejuhmu gurih banget Kang. Boleh kasih lagi, dong"
"Pokoknya, Den, apa yang Aden mau saya boleh kasihkan untuk Aden"
"Bener, nih..."

Terus terang memang aku yang lebih 'jemput bola' dari pada Kang Saridjo. Dia akan ngikut saja apa yang kumau. Kami langsung menelanjangi diri masing-masing. Kang Saridjo rebah telentang di kasurku. Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa didepanku kini ada tubuh kuli kecoklat hitaman yang gempal, keker, penuh bulu yang siap aku menikmatinya.

Kami masih saling melumat. Tanganku terkadang gemas meremasi bagian daging-daging punggung atau lengan atau paha atau betisnya. Sungguh tampilan Kang Saridjo benar-benar membakar nafsu libidoku. Rasanya aku mau menelan seluruh tubuhnya. Kalau dibanding ukuran tubuhnya, aku yang 168 cm, 62 kg dibanding dengan Kang Sarijo yang mungkin 170 cm dengan beratnya yang hampir 80 kg. Sungguh aku sedang berhadapan dengan raksasa berbulu. Kucemoli pahanya. Kang Saridjo meringis sambil melumat-lumat bibirku. Duh.... Pedihnya bibir ini..

Tiba-tiba dia berhenti. Matanya menutup. Dia mengeluarkan bisikkan serak menahan gelora...

"Terserah Aden, dah.. Saya ngikut..."

Nampaknya dia ingin mengulangi kenikmatan yang dia dapat siang tadi. Aku sangat bernafsu. Kuamati sesaat tubuh raksasa itu sebelum kuangkat kedua lengannya ke atas kepalanya. Kini kusaksikan lembah gempal ketiaknya yang lebat berbulu. Aku mulai melata, menciumi dari tulang iganya naik menuju ke ketiaknya. Aku lakukan dengan sepenuh gairah nafsuku. Dengan penuh merasakan mili demi mili lidahku melata.

Bau tubuh berbulu itu mengiringi dan mendorong rangsangan libidoku tanpa batas. Lidahku terus menjilat untuk menyapu rasa asin dari setiap pori tubuhnya. Kang Saridjo tak henti-hentinya melenguh, merintih terkadang seperti mengigau karena menanggung nikmat jilatan dan gigitanku.

Sampai pada puting-putingnya gigiku menggigit-gigit kecil yang menimbulkan gatal birahi pada dada Kang Saridjo. Tanganku terus menahan agar ketiak Kang Saridjo terbuka menunggu jamahan lidah dan bibirku. Sangat mengairahkan bila tiba saatnya hidung pada tepian ketiak itu. Aromanya yang menyergap membuat darahku mengalir cepat. Tak sabar rasanya lidah dan bibirku melumati ketiak seksi itu. Kang Saridjo baru merasakan hubungan seksual macam ini.

Bersambung . . . . . .
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com