Senin, 21 Desember 2009

Aku dan sopir-sopir truk - 1



Sering sekali aku berkhayal kontol-kontol supir truk yang terkenal suka "jajan" itu nancep di lobangku, terkadang kalau aku sedang berada di jalan dan melihat mereka suka kencing di pinggir jalan dengan kontol terlihat kemana-mana rasanya pengen aku samperin dan aku emut, sayangnya aku nggak punya keberanian itu.

Aku sama sekali nggak nyangka bahwa semua keinginanku ini terwujud. Hari sabtu yang menyebalkan, seharusnya semalem aku bisa pesta pora ngocok kontolku sambil nonton VCD gay yang kubawa dengan fantasi-fantasi liarku saat menatap kontol-kontol bule yang gede-gede itu. Tapi dasar sial, keluarga kakak ayahku datang dan menginap di rumah, dan karena kamar di rumahku tidak terlalu banyak jadi terpaksa kakak sepupu tidur di kamarku, batal deh.

Hari ini aku harus kembali ke kota tempatku bekerja karena besok aku malas kalau harus subuh-subuh berangkat dari rumah orang tuaku yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan ke kota. Sambil menunggu bis yang emang agak-agak susah aku memandangi kendaraan yang lewat. Sampai ada sebuah truk yang lewat, sebenarnya truk itu biasa saja karena dari tadi juga banyak yang lewat, tapi mereka menjepit celana jeans dan celana dalam di depan mobil, mungkin baru mereka cuci biar kering.

Timbul ide dalam otak mesumku. Selama ini para supir truk terkenal suka ngeseks, dan aku yakin kalau ada dinatar mereka yang gay atau biseks. Karena tempatku menunggu hanya ada aku seorang, maka aku berdiri disisi jalan menunggu truk yang lewat. Beberapa sudah lewat tapi mereka tidak berhenti, sekedar tahu saja aku melambai untuk menumpang dengan meletakkan tangan kiriku di gundukan selangkangan sebagai kode. Sekitar 20 menitan tidak sukses, tiba-tiba truk yang barusan lewat berhenti dan kemudian mundur.

Degg.. Antara takut dan senang aku menunggu apa yang akan terjadi.

Seseorang membuka pintu penumpang, lalu muncul wajah yang nggak terlalu ganteng tapi dilihat sekilas sangat laki-laki sekali. Ia menanyakan tujuanku dan kemudian aku sebutkan, lalu dia mengajakku naik ke truknya karena kebetulan arahnya sama. Truk akhirnya jalan dan aku mulai sering curi pandang, ternyata supir truk ini cuma memakai celana boxer yang tipis dan kaus oblong warna hitam. Kulitnya agak gelap dan kulihat pahanya penuh bulu, seketika kontolku ngaceng melihat bulu-bulu itu karena aku sangat suka dengan bulu-bulu di paha dan jembut.

"Namanya sapa Mas?" tanya supir itu, dari logat bicaranya dia seperti orang batak.
"Yudi," jawabku.
"Mas sendiri?"
"Luhut,"

Kami terdiam sebentar karena dia konsentrasi ke jalan, kesempatan aku gunakan untuk melihat tonjolan di boxernya, sepertinya dia sedang ngaceng.

"Tadi ngapain berdiri sambil megang selangkangan?" tanyanya. Wah mulai nih pikirku.
"Biasa, pagi-pagi gini kontol pada ngaceng, gatel pengen kocok," jawabku berani.
"Sama, nih kontol aku juga sudah ngaceng," ujarnya sambil memegang tonjolan di daerah kontolnya.
"Biasanya kalo dah ngaceng gitu diapain Mas?" tanyaku lagi.
"Kalo nggak dikocok, paling-paling mampir di warung nyari lobang," jawabnya sambil cengengesan.
"Kalo ngocok emang bisa sambil nyupir?"
"Yah dibisa-bisain lah,"

Kemudian tangannya mengelus-elus kontolnya dari luar celana, ia konsentrasi sebentar ke jalan, kemudian tangan kirinya masuk ke dalam boxer dan membuat gerakan keluar-masuk.

"Repot nanti Mas, sini saya bantuin ngocok," kataku.
Ia menatapku sambil kemudian tersenyum, "kok nggak bilang dari tadi,"

Kemudian tangannya keluar, lalu dengan yakin aku merunduk ke dekat selangkangannya. Aku memasukkan tangan kananku ke dalam boxer dan baru saja masuk jemariku langsung bersentuhan dengan kepala kontolnya yang segera ku genggam dan ku elus-elus. Aku keluarkan tanganku lalu menarik boxernya sampai sedengkul dan sekarang kontolnya sudah terlihat jelas olehku.

Kepala kontolnya gede dan batangnya berurat dengan panjang seperti milikku, dan jembutnya lebet banget. Aku menjadi gemes dan segera aku usap-usap serta kusibak rimbunan jembutnya dengan jemariku. Batang kontolnya berdenyut-denyut tanda dia terangsang hebat.

Aku menggenggam batang kontolnya dan aku mulai kocok, saat itu aku kaget ternyata dia belum disunat dan inilah kontol pertama yang belum sunat yang aku pegang. Aku tarik kulupnya ke atas hingga menutupi kepala kontolnya, aku mendengar dia mengerang-erang. Kini posisiku tengkurap dan wajahku tepat di atas kontolnya. Aku masih terkagum-kagum dengan kulupnya, dan kulupnya yang masih menutupi palanya aku gigit pelan sampai kurasakan dia menggelinjang.

"Aduh.. Enak banget. Suka kulup ya?"
"Iya, sedep."

Aku menyedot kulupnya agak kuat dan sesekali aku sesap-sesap. Kemudian kulit kulupnya aku turunkan sehingga kepala kontolnya muncul lagi. Aku angkat batang kontolnya ke atas hingga menyentuh perutnya sehingga bagian bawah batangnya kini menghadapku. Ini adalah bagian kesukaanku, aku mendekatkan wajahku ke batang kontolnya dan aku jilat bagian frenulumnya (bawah dekat lobang kencing) hingga ke lobang kencingnya, lalu ujung lidahku sedikit kumainkan di lobangnya sampai dia sedikit melompat dari tempat duduknya mungkin karena kaget dan enak. Aku turunkan lagi lidahku perlahan-lahan hingga kepangkal batang bagian bawah.

Urat-urat kontolnya juga mempesona, berkali-kali aku rasakan urat-uratnya menyentuh lidah dan bibirku. Aku jilat lagi keatas hingga frenulumnya, kemudian ujung lidahku aku peletkan di pinggiran topi bajanya dan memutar beberapa kali hingga kemudian berakhir lagi di lobang kencingnya yang kembali aku mainkan dengan ujung lidahku. Aku melihat lendir bening keluar dari lobang kencingnya dan tanpa ragu aku jilat habis.

Lalu dari topi kontol bagian atas aku mulai menelusuri senti demi senti batang bagian atasnya hingga ke pangkal kontol yang tertutup oleh rimbunan jembut. Aku jilati jembutnya yang super lebet itu, ahh sedep banget, buat yang suka jembut seperti aku ini adalah sensasi yang paling nikmat.

Aku benamkan hidungku di hamparan hitam jembutnya dan kugosokkan berkali-kali hidungku dan berkali-kali dia mengeluarkan erangan. Lalu aku merasa mobil berhenti.

"Kenapa Mas?"
"Nggak apa-apa, susah nyupir kalo kontol diginiin," ujarnya.

Jadi aku kembali melanjutkan aksiku, kali ini malah semakin nikmat ada sensasi tambahan saat dia melihat aksiku. Aku sekarang sudah di bagian kepalanya dan aku jilat-jilat seluruh helm daging itu kemudian memasukkannya ke dalam bibirku dan kusedot dengan kuat-kuat hingga dia kelojotan di bangkunya sambil meracau kata-kata tak jelas. Mungkin lonte-lonte yang selama ini dia entot nggak pernah ngisep kontolnya. Aksi sedotku tetap aku teruskan dan kulihat matanya terpejam menahan enak.

Kami terhanyut oleh suasana itu sehingga sama sekali tidak memperhatikan sekeliling ketika tiba-tiba muncul seseorang di pintu jendela tempatku berada.

"Gila kau Hut!," suara itu tiba-tiba muncul.

Aku kontan kaget dan kurasa luhut juga seperti aku kagetnya. Aku menghentikan jilatanku dan menatap ke arah suara yang ternyata datang dari sebuah wajah yang terlihat keras dengan kumis tipis dan rambut yang keriting. Kutaksir ia berusia 26-an.

"Kupikir mobil kau kenapa-napa, tak tahunya lagi asik kontolmu di sedot," ujarnya.
"Ah kau Ben bikin aku kaget saja. Kau tak tahu enak kali kontol diginikan, mau coba?"

Luhut kemudian memegang kepalaku dan didorong pelan ke selangkangannya tanda ia ingin aksi dilanjutkan. JAdi aku kembali melanjutkan aksiku dan mulai menyedot-nyedot kontol luhut. Pintu mobil tempatku berada terbuka, lalu orang yang tadi naik dan dia memperhatikan apa yang kami lakukan. Aku sengaja membuat suara ribut dengan mulutku, berharap orang ini terangsang juga.

"Enak hut?"
"Enak Ben, kamu coba juga lah,"
"Hei, kamu mau nggak isep kontolku juga?" tanya orang itu. Aku melepaskan isapanku dan menatapnya.
"Mau banget, tapi tempatnya sempit,"
Orang itu terlihat berfikir, lalu ia berkata, "Hut, gimana kalo kita ke rumah Bonar aja, sepi paling-paling cuma ada Bonar,"
"Ya bereslah, mau nggak kau?" tanya luhut kepadaku

Aku mengangguk dan kembali mengisap kontol luhut. Orang tadi masih di tempat yang sama memperhatikan aksiku dan Luhut. Sementara tangan kananku sibuk memegang batang kontol Luhut, sekarang tangan kiriku bergerak ke belakang dan menuju selangkangan orang itu. Dia memakai celana jeans, tapi bisa kurasakan kontolnya sudah mengeras dan kontol itu aku remas-remas.

"Hut aku tak tahan juga nih, kita ke depan aja di dekat lembar (tempat reklamasi pantai yang rimbunan pepohonan) aku pengen ngerasain juga,"
"Agghh, kau ini Ben, ya sudah kau turunlah,"

Bersambung . . .

Iswani - Kebersamaan - 3



Berbaring tiduran sambil nonton TV kutunggu waktu hingga pukul 10 pagi. Setelah berganti pakaian aku keluar kamar dan memulai jalan-jalan tanpa arah yang jelas. Kususuri jalan-jalan di kota Banjarmasin dibawah naungan mendung. Bermodal selembar foto kopi peta kota Banjarmasin yang kuperoleh di Balikpapan, aku takkan khawatir tak dapat kembali ke penginapan. Kunjunganku ke kota ini adalah yang ke-2 kalinya setelah kurun waktu yang cukup lama, akibatnya aku samasekali tak tahu jalan.

Tersesat adalah bagian dari rencana jalan-jalanku ini, yang penting adalah bisa kembali balik dan tak menjadi soal berapa lama waktu yang kuperlukan untuk menemukan kembali jalan yang benar. Semakin aku tersesat, semakin lama pula aku menemukan jalan yang benar meskipun sudah ada peta di tanganku, tapi itulah asyiknya rencanaku ini. Entah petanya yang salah atau aku yang keliru memilih jalan tapi yang jelas banyak jalan kecil yang kulalui tak tercantum di peta. Bila cuma mengikuti jalan besar yang ada di peta bisa kupastikan aku takkan tersesat tapi jika kulakukan hal itu berarti membuat jalan-jalanku ini tak ada tantangannya dan menjadi tak menarik.

Waktu luang yang kumiliki benar-benar kunikmati seorang diri untuk memperhatikan kesibukan kota. Pemandangan dan kesibukan orang-orang disekitar sungai yang berada di tengah kota sangat menarik perhatianku karena merupakan hal yang tidak pernah kutemui di kota-kota pulau Jawa. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Perutku yang hanya terisi kopi sejak pagi terasa lapar. Kulihat sebuah restoran terapung di depan kantor gubernuran yang menghadap ke arah sungai. Keinginanku untuk mencoba makan di restoran berbentuk perahu kayu yang berukuran besar tersebut sudah tak tertahankan lagi. Kulangkahkan kakiku memasuki restoran tersebut dan dapat kurasakan ayunan seperti diatas sebuah perahu dan memang restoran itu awalnya adalah sebuah perahu kayu besar yang sudah diroMbak dalamnya. Kupilih meja yang berada di lantai atas agar dapat melihat lalu-lalang berbagai jenis kendaraan air seperti perahu dan speed boat secara lebih langsung karena lantai ini tidak memiliki jendela sehingga kelihatan terbuka. Tiap kali ada kendaraan air melewati restoran, terasa ayunan akibat dari gelombang yang menghantam lambung restoran. Hal ini benar-benar mengingatkanku pada pekerjaanku 5 tahun yang lalu di sebuah kota kecil di Propinsi Kalimantan Tengah.

Kubaca menu makanan lalu kepesan ikan bakar khas masakan Banjar yang sudah lama tak kurasakan. Tak lama kemudian pesananku tiba dan segera kulahap sampai tak tersisa sedikitpun. Selesai makan kunyalakan rokok dan kunikmati tiap kepulan asap dengan santai sambil merasakan sentuhan angin dari hawa sungai pada wajahku. Cuaca yang sudah mendung sejak siang tadi berubah makin gelap. Tiba-tiba datang angin kencang yang disertai hujan deras. Arah angin mengarah ke dalam perahu dan sebagian masuk membasahiku. Khawatir akan basah kuyup aku pindah ke lantai bawah dan memesan kopi panas sambil menunggu hujan reda. Kurasakan hujan akan lama jadi kusulut kembali sebatang rokok sambil menikmati kopi panas. Tak beberapa lama setelah menghabiskan sebatang rokok dan secangkir kopi, hujan reda. Setelah kubayar aku kembali melanjutkan perjalananku.

Lanjutan perjalananku setelah makan di restoran terapung tadi adalah kembali menuju penginapan. Kali ini aku harus benar-benar memperhatikan langkahku karena banyak genangan air di tepi jalan. Aku mencoba melewati jalan yang lain dari sewaktu aku berangkat tadi. Kusempatkan pula mampir disetiap agen perjalanan yang kulewati untuk mencari informasi harga tiket perjalanan balik ke Surabaya serta jadwalnya.

Langkah demi langkah kuayunkan menuju ke pengipanku. Bayangan Iswani muncul dalam setiap langkahku, mengundang 1001 pertanyaan yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Mengapa suaminya mengijinkan dia pergi seorang diri? Mengapa Iswani berani mengajakku, orang yang belum pernah dikenalnya, menginap bersama? Apakah urusannya di Banjarmasin? dan masih banyak lagi pertanyaan yang tak bisa kutebak kepastian jawabannya. Kecuali satu pertanyaan, Mengapa aku tergoda olehnya? Jawabannya karena aku seorang bujang yang belum pernah punya pacar dan sering sibuk oleh pekerjaan, jadi sebuah kesempatan di waktuku yang luang akan benar-benar kumanfaatkan untuk menikmatinya.

Tak terasa aku sudah kembali masuk ke penginapanku dan berada tepat dimuka kamarku. Kumasuki kamar kulihat tak ada tanda-tanda keberadaan Iswani dan kuanggap dia akan balik malam. Aku menyempatkan beristirahat sebentar sebelum mandi. Setelah mandi kulihat jamku menunjukkan pukul 7 malam, waktuku untuk mencari makan malam yang enak. Bergegas aku keluar dari penginapan dan mencegat sebuah kendaraan umum yang rutenya kuperkirakan akan melewati depot sate kijang di pojok perempatan Jl. MT Haryono. Dugaanku meleset, ternyata angkutan umum yang kutumpangi tidak melewati jalan yang kumaksud dan segera aku minta turun pada sopirnya. Dipinggir jalan yang agak terang kubuka foto kopi peta kota yang selalu terbawa dalam kantong jaketku. Rupanya aku salah pilih angkutan umum, aku berada jauh dari perkiraanku. Disaat aku tidak membutuhkan tantangan, secara tak terduga tantangan itu muncul.

Kupikir tak ada gunanya menyesal, bila memang rejeki malam ini aku akan dapat makan sate kijang bila tidak ya cuman makan angin, tapi masih ada hari esok. Aku berjalan sambil sesekali melihat peta. Tiba-tiba HPku berdering dan ternyata Iswani. Dia menanyakan keberadaanku dan kuterangkan dimana aku sesuai dengan tanda-tanda yang ada di jalan. Setelah menutup HPku, kulanjutkan perjalananku. Beberapa menit setelah berjalan kurasakan sebuah kendaran berjalan pelan dibelakangku. Kutoleh kebelakang dan kuhentikan langkahku, lampunya yang menyilaukanku membuatku menghindar dengan menoleh ke arah lain. Tanpa kutahu maksudnya, sedan itu berhenti tepat disampingku. Dengan perasaan terkejut, kulihat orang yang ada dibelakang kemudi ternyata adalah Iswani.
"Ayo cepat masuk Tok!" katanya.

Setelah menutup pintu, Iswani langsung tancap gas. Belum sempat membuka omongan, Iswani sudah memberondongku dengan omelan yang tak ada habisnya.
"Kamu gila Tok, malam-malam begini kenapa jalan sendirian didaerah rawan seperti itu?".
Setelah omelannya reda kuterangkan semuanya dengan malu-malu lalu terdiam seribu bahasa sambil mendengarkan nasihatnya yang bertele-tele. Perhatianku tertuju pada cara Iswani mengendari sedan yang kutumpangi, sedangkan nasihatnya hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak lama kemudian Iswani membuat belokan dan langsung parkir, aku yang masih bingung arah bertanya padanya.
"Mbak, kita ini berhenti dimana?".
"Katanya pingin makan sate kijang!", jawabnya.
Dengan rasa tambah bingung kuperhatikan sekeliling jalan tempat Iswani parkir dari kaca depan mobil. Bersamaan dengan Iswani membuka pintu, aku mulai mengerti arah.
"Lha bener Mbak, sate kijangnya dibalik situ!", teriakku kegirangan dan tanpa kusadari teriakanku mengagetkan Iswani.
Mungkin jengkel oleh teriakanku yang mengagetkannya, Iswani mengurungkan turun dan mencubit lengan yang kupakai untuk menunjukkan letak depot sate kijang.
"Aduh Mbak, aduh Mbak, sakit!", keluhku tanpa dihiraukannya.
"Rasain kalau suka ngagetin orang!", katanya dengan menambah daya cubitnya.
Dengan ratapan meminta belas kasihan aku berkata, "Mbak, Mbak, aduh.. kapok..".

Di meja makan depot sate kijang, aku duduk menjauh dari Iswani, khawatir terkena lagi cubitannya yang sangat menyakitkan kulitku. Aku menunggu pesananku dengan diam seribu bahasa dengan perasaan masih jengkel pada Iswani.
"Kemana aja seharian? Kok diam aja Tok! Ngambek ya.. Seperti anak kecil saja", goda Iswani padaku dengan tersenyum.
Berpura-pura pulih dari rasa jengkel, kubuka suatu bahan pembicaraan, "Eh, Mbak.. mm.. tadi di penginapan ada cowok yang menanyakan Mbak, katanya pingin sekali kenalan sama Mbak", gurauku dengan nada serius yang sangat meyakinkan.
"Ah, kamu ada-ada saja!", balasnya agak tak percaya dengan muka tersipu.
"Bener Mbak, kalau nggak percaya ya nggak apa-apa, nanti kubilang saja kalau Mbak sudah punya suami, beres kan", jawabku santai.
"Eh.. Jangan bilang seperti itu dong, cakep nggak orangnya Tok?", tanyanya penasaran.
"Masih muda, wajahnya mirip bintang TV", jawabku santai.
"Aku pernah lihat tampangnya, apa nggak Tok?", tanyanya semakin pingin tahu.
"Rasanya pernah, coba deh Mbak ingat-ingat..", jawabku terpotong oleh datangnya pesananku.
Sambil mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat, Iswani kembali bertanya, "Terus tadi kamu ngomong apa saja pada dia?".
Aku mulai mengaduk bumbu sate sambil berkata, "Aku cuma cerita sedikit kalau Mbak adalah kakakku dan lagi ke Banjar Baru". "Terus..", kejarnya.
"Terus aku mau makan dulu soalnya sudah lapar banget", jawabku santai sambil memasukkan sesuap nasi ke mulut.
"Uhh..", keluhnya tak sabar.

Dalam hitungan menit aku telah menghabiskan sepiring nasi dan 15 tusuk sate kijang sementara Iswani hanya makan sedikit. Kebiasaanku merokok sehabis makan sulit kuhilangkan, kali inipun demikian. Pada hisapan ke-4 Iswani kembali teringat pada cowok yang kuceritakan.
"Siapa sih Tok cowok yang kamu ceritakan tadi?", tanya Iswani.
"Itu lho Mbak, Si Sin Chan, bintang acara kartun yang sering muncul di TV", jawabku tanpa rasa bersalah sambil tertawa.
Wajah Iswani kembali bersungut dan sudah bersiap mencubitku lagi.
"Mbak, Mbak, sudah Mbak, nggak usah pakai nyubit, yang tadi saja masih sakit", bujukku sambil menahan tangannya yang sudah bersiap-siap.
"Awas ya!", ancamnya.
Mencoba mengalihkan kemarahannya, aku membuka beberapa pertanyaan yang ada dibenakku tapi tak satupun dijawabnya.
"Ngambek ya.. Seperti anak kecil saja", godaku menirukan kalimatnya tadi.
Dengan agak tersipu, Iswani berkata, "Oh ceritanya ini tadi membalas ya".
Tanpa meladeninya lagi aku langsung berdiri dan menuju ke meja kasir, membayar bon makanan.
"Coba lihat bonnya Tok!", pinta Iswani padaku.
Setelah melihatnya dia melakukan tanya-jawab dalam logat dan bahasa Banjar pada penjual sate tersebut. Setelah keluar dari depot itu aku mengomentari tanya-jawab yang dia lakukan dengan penjual sate tadi.
Dengan keheranan Iswani bertanya, "Darimana kamu bisa bahasa Banjar?".
Kujelaskan padanya kalau aku hanya ngerti bahasanya tapi logatnya susah kutiru karena pernah kerja agak lama di Kalimantan Tengah.
"Coba Tok kamu bicara bahasa Banjar, aku ingin dengar", kata Iswani.
Baru 5 kata dan belum selesai kalimatku dalam bahasa Banjar, Iswani sudah terpingkal-pingkal. Dengan muka masam aku berjalan cepat meninggalkannya, ke arah mobilnya diparkir.

Didalam mobil yang berjalan kearah penginapan, aku tanyakan perihal Toyota Starlet yang dikendarainya. Iswani menerangkan kalau ini mobilnya yang ia titipkan di rumah ibunya di Banjar Baru karena belum sempat membawanya ke Balikpapan. Jalanan kota Banjarmasin sudah sepi padahal waktu masih belum menunjukkan pukul 22. Sesampai di penginapan aku langsung turun dan cepat-cepat menuju kamar untuk segera buang air kecil di kamar mandi. Iswani tampak tertawa melihatku keluar dari kamar mandi.
"Untung, kemarin naik bus Balikpapan-Banjarmasin bukan Mbak yang nyetir, kalau Mbak yang nyetir pasti tak hanya sandal yang berserakan tapi penumpangnya juga ikut", ejekku padanya.
Iswani hanya melempar senyum tanpa sedikitpun berkomentar lalu masuk ke kamar mandi.

Iswani keluar dari kamar mandi dengan hanya dibalut selembar handuk sebatas dada hingga paha. Seusai melipat pakaiannya dan mengambil body lotion dari dalam tasnya ia memintaku untuk memijatnya karena kecapekan. Dengan serta merta aku meloncat ke ranjangku, menarik selimut hingga ke kepala dan pura-pura tidur. Tapi usahaku menghindar jadi tukang pijat sangat terlambat dan tampak terlalu menyolok.
"Ayo, nggak usah pura-pura tidur, atau kepingin kucubit lagi?", ancam Iswani.
Mendengar kata "cubit", aku langsung terduduk dan mencari alasan, "Mbak, seharian aku jalan kaki, aku sendiri sudah capek sekali".
"Jangan banyak bicara, ayo!", perintah Iswani.
Berlagak malas kuterima perintahnya dengan ditandai dengan kuterimanya body lotion yang diulurkan padaku.
"Tok, lepasin dulu celanamu!", perintah Iswani berikutnya sambil menelungkupkan tubuh di ranjangnya.

Hanya dengan celana dalam dan kaos oblong, aku mulai memijat kakinya yang indah. Kupijat dulu kedua telapak, tumit dan pergelangan kakinya bergantian. Dengan tenaga yang kuat aku pijat bagian belakang kaki kanannya hingga paha bawah lalu berganti kekaki kiri. Kemudian kutumpahak body lotion secukupnya pada kaki kiri dan meng-urutnya. Aku urut dari bawah hingga ke atas, sampai menerobos pangkal paha yang ada dibalik handuknya. Kaki kanan juga tak ketinggalan.
Setiap kali kedua tanganku sampai pada pangkal paha Iswani mendesah, "Mmh, enak Tok!".

Gerakan kedua tanganku yang terbatas oleh balutan handuk bila mencapai pangkal paha dapat dirasakan oleh Iswani, tanpa kuperintah Iswani langsung melepas handuknya hingga telanjang bulat. Seusai bagian lutut kebawah aku pijat, aku pindah ke bagian paha hingga pantat. Tiap kali melewati selakangan, tanganku sengaja kugeserkan dengan daerah kemaluannya meskipun tak menyolok. Pantatnya kuberi pijatan yang menyerupai remasan dan kuurut sampai ke pinggul. Semakin ke arah punngung, posisi duduk yang ada disebelah Iswani agak menyulitkanku. Kuputuskan untuk menindih tubuh belakangnya dengan duduk dipantatnya. Setelah memberi pijatan bertenaga pada bagian pundak hingga punggung, aku tumpahkan lagi body lotion di punggungya lalu kuusap rata.
"Tok lepasin pakaianmu biar nggak kena lotion", perintahnya.
Sewaktu kulepas pakaian dan celana dalamku, batang kemaluanku sudah dalam keadaan tegang berdiri. Kembali aku duduk diatas pantatnya dan batang kemaluanku merasakan kenyamanan bergeser dengan belahan pantatnya. Sementara tanganku terus memijat tengkuk, pundak dan punggungnya, geseran belahan pantat dengan batang kemaluanku dan pahanya dengan pahaku terus terjadi.
"Mmh.. Ssh.. Ssh", desah Iswani.

Merasa cukup, Iswani memintaku untuk memijat lebih kebawah. Kuturuti saja kemauannya dan mengalihakan pijatan lebih banyak ke pinggul hingga paha. Terhenti pulalah gesekan nikmat pada batang kemaluanku tapi aku tak kehabisan akal, kujepitkan batang kemaluanku diatara kedua pahanya yang kutindih dan kukunci diantara kedua pahaku. Batang kemaluanku yang sudah licin terkena lotion dapat bergerak mudah maju-mundur mengikuti arah pijatanku pada pinggul hingga ke paha. Gerak maju yang kulakukan menyebabkan batang kemaluanku yang sudah tegang luar biasa bergesek dengan daerah kemaluannya yang makin lama makin basah. Diikuti oleh desahan Iswani yang makin menjadi membuat semangatku bagai terpompa. Tak lama kemudian Iswani sedikit menaikkan pantat dan tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya sambil menoleh padaku dengan pandangan mata berbinar dan bibir yang terbuka. Kutatap pula matanya sambil kuarahkan batang kemaluanku pada liang kenikmatannya.

Keluar desahan panjang dari mulut Iswani sambil memejamkan mata. Pelan tapi pasti batang kemaluanku masuk seluruhnya kedalam liang kenikmatan milik Iswani. Kemudian kutarik pelan dan kudorong masuk kembali, semakin lama semakin cepat, lalu kupelankan kembali untuk mengatur nafas. Sewaktu kuistirahatkan gerakanku, Iswani mengisinya dengan memaju mundurkan pinggulnya. Meredam gerakannya yang dapat mempercepat klimaksku, kutindih punggungnya dengan dadaku. Kumasukkan tanganku kedadanya dan kuremas-remas kedua payudaranya. Kucumbu tengkuk dan punggungnya sambil kubuat lagi gerakkan maju-mundur yang makin lama makin cepat.
Dan, "Ahh..aku keluar Tok", desah Iswani menggelinjang.
Berusaha menancapkan batang kemaluanku lebih dalam lagi ke liang kenikmatannya akupun tak kuasa menahan klimaksku. Denyut otot-otot vaginanya seakan meremas-remas batang kemaluanku. Dalam keadaan tubuh Iswani yang terkulai lemas, aku mencabut batang kemaluanku yang berangsur-angsur lemas.

Kubalikkan tubuh Iswani lalu kulanjutkan pijatanku kembali ke bagian kaki. Kulihat mata Iswani masih terpejam dengan nafas yang masih berat. Kupijat kedua pahanya yang terlentang dengan posisi dudukku diantara keduanya. Kaki kanan yang kupijat dulu kuletakkan diatas pundak. Dengan kedua tangan berlotion kuurut paha kanannya keatas kebawah hingga pangkal paha. Setelah kuletakkan kembali kaki kanannya kuberi perlakuan yang sama pada kaki kirinya. Sayup-sayup mata Iswani terbuka dan tersenyum padaku. Seusai kedua paha kupijat kudekatkan dudukku pada selakangannya.

Dengan duduk kutempatkan kedua pahanya diatas kedua pahaku, hingga batang kemaluanku yang kembali terbangun menempel dan bergeser daerah kemaluannya. Bersamaan dengan itu kulihat kedua payudara Iswani menegang. Dengan pelan kupijat bagian perut dan naik ke arah payudaranya. Sesekali kumainkan puting susunya dengan jari-jariku. Rangsangan yang kuberikan pada tubuh Iswani makin membuat birahinya menggelora kembali. Bertumpu pada kedua kakinya yang terlentang ia membuat gerakan naik turun pinggulnya. Karena pantatnya berada diatas pangkuanku maka dia dapat menggesek-gesekan dearah kemaluannya pada perutku. Kudukung ia dengan pegangan kedua tanganku dikedua pinggulnya.

Tiba-tiba ia terduduk dan memegang batang kemaluanku dengan senyum yang menggoda. Makin lama ia merapat kearahku dan menduduki kedua pahakuku, menjepit batang kemaluanku dan mencumbu bibirku dengan hebat. Kedua payudaranya menempel erat dengan dadaku. Kedua tangannya memegang kepalaku dan kedua tanganku memegang pantatnya. Seakan tak ada habisnya kejutan-kejutan yang dilakukannya, tiba-tiba ia melepas cumbuannya, mundur keatas sedikit, mengarahkan penisku ke vaginanya kemudian kembali duduk, membenamkan seluruh bagian penisku kedalam liang kenikmatannya. Kembali ia mencumbu bibirku dan bergerak keatas kebawah diatas pangkuanku yang sedang terduduk. Karena lelah ia melepaskan cumbuannya dan bertumpu pada kedua tangannya yang diarahkannya belakang sambil terus membuat gerakan keatas kebawah.
Tak lama kemudian ia kembali merapat memelukku erat dan berbisik mendesah pada telinga kiriku, "Tok, aku mau keluar".
Kutolehkan mukaku kearah bisikannya tapi mukanya telah kembali lurus dengan mata terpejam. Kudapati telinga kirinya dan kujadikan sasaran kuluman bibirku.
"Tok.., oh Tok, Ah..", desahnya menghentikan gerakannya.
Pelukannya yang makin erat seiring dengan tegangnya otot-ototnya diikuti gelinjang tubuhnya.

Dalam keadaan lemas kubaringkan ia tapi batang kemaluanku masih belum tercabut. Kedua kakinya yang terlentang kurapatkan dengan jepitan dari kedua kakiku yang telah kubuat terlentang sebelumnya. Bersamaan dengan itu kurasakan jepitan yang makin erat liang vaginanya pada batang kemaluanku. Kubuat gerak menindih naik turun yang makin lama makin cepat sambil kuhisap leher kirinya membuatnya terbelalak dan menyambut irama permainanku. Sesekali kucumbu bibirnya dan kumainkan lidahnya dengan lidahku. Tak ketinggalan hisapan dan kuluman yang campur aduk tak terpisahkan. Akhirnya aku sampai pada puncakku dan meledaklah moncong meriamku mengeluarkan isinya. Denyutan demi denyutan melewati batang kemaluanku menghantarkan aliran cairan hangat kedalam liang kenikmatan Iswani. Ia rupanya tak mau kalah dan ingin mencapai klimaksnya sekali lagi. Dipeluknya dengan erat tubuhku hingga tak dapat kugerakkan, lalu ia gerakkan tubuhnya selama beberapa saat hingga diperolehlah apa yang dimauinya.

Setelah kembali lemas aku menarik tubuhku dan turun dari ranjangnya. Kemudian mandi dengan air hangat. Setelah mandi kulihat Iswani telah tertidur pulas telanjang bulat. Merasa kasihan kalau dia masuk angin oleh hawa dingin AC, kuselimuti tubuhnya dengan selimut yang ada diranjangnya. Setelah itu aku naik ranjangku sendiri dan tidur.

Tamat

Daftar Cerita Setengah Baya - 04



301. Penemuan lubang kenikmatan
302. Pengalaman bercinta dengan ayah sahabatku
303. Pengalaman bercinta dengan Tante Rina
304. Pengalaman indahku bersama Mbak Reni
305. Pengalaman bersama Tante Ken
306. Pengalaman mengejutkan - 1
307. Pengalaman mengejutkan - 2
308. Pengalaman mengejutkan - 3
309. Pengalaman bercinta dengan janda
310. Pengalaman pertamaku dengan Tante Lily
311. Pengalaman seks gadis PKL - 1
312. Pengalaman seks gadis PKL - 2
313. Perjalanan bisnisku - 1
314. Perjalanan bisnisku - 2
315. Perjalanan bisnisku - 3
316. Pertemuan kembali dengan Tante U di Bandung
317. Pertemuan terindah
318. Petualangan menjelang Ebtanas
319. Pinggul yang bahenol
320. Rasa kerinduan yang terobati
321. Rejeki nomplok
322. Tante Linda yang hot
323. Tante Merry, mama kawanku - 1
324. Tante Merry, mama kawanku - 2
325. Titipan khusus
326. Ibu Ita, Ibu sahabatku
327. Ibu kost
328. Ibu lia dengan rasa juice melon
329. Ibu Rani dosenku - 1
330. Ibu Rani dosenku - 2
331. Ibu Rini
332. Ibu Sekdes di desa terpencil
333. Imbalan ceritaku
334. Istri bossku
335. Istri muda pak RT
336. Istri muda Pak Sekdes
337. Iswani - Pertemuan pertama - 1
338. Iswani - Pertemuan pertama - 2
339. Iswani - Kebersamaan - 1
340. Iswani - Kebersamaan - 2
341. Iswani - Kebersamaan - 3
342. Iswani - Akhir kebersamaan
343. Jogging track Senayan - 1
344. Jogging track Senayan - 2
345. Jogging track Senayan - 3
346. Jogging track Senayan - 4
347. Kakak kelasku Nina dan Ibu kostnya
348. Ibu Ria berkonde licin
349. Kak Rina dan Kak Rani kembar kekasihku
350. Nafsu birahi Ibu guruku
351. Gara-gara harnet
352. Gara-gara nickname
353. Gara-gara SMS erotic - 1
354. Gara-gara SMS erotic - 2
355. Gara-gara SMS erotic - 3
356. Gejolak nafsu terpendam - 1
357. Gejolak nafsu terpendam - 2
358. Gejolak nafsu terpendam - 3
359. Gejolak nafsu terpendam - 4
360. Gelora di kolam renang
361. Guru BP
362. Guruku idolaku
363. Hasrat tanteku
364. Hilangnya keperawananku
365. Kamar 315
366. Karena sebuah lagu
367. Kecelakaan membawa kenikmatan
368. My first time in Tokyo
369. Narasumberku yang cantik
370. Neli nenek liar
371. Nenekku sayang - 1
372. Nenekku sayang - 2
373. Nikmatnya tubuh Dina teman istriku
374. Nikmatnya tubuh Ibu Ayu
375. Nikmatnya tubuh Ibu Lastri
376. Di rumah tanteku
377. Dosenku seksi sekali - 1
378. Dosenku seksi sekali - 2
379. Dosenku seksi sekali - 3
380. First time
381. Gairah Bu RT - 1
382. Gairah Bu RT - 2
383. Gairah nakal seorang perawan tua - 1
384. Gairah nakal seorang perawan tua - 2
385. Gairah nakal seorang perawan tua - 3
386. Gairah nakal seorang perawan tua - 4
387. Gairah nakal wanita karir - 1
388. Gairah nakal wanita karir - 2
389. Gairah panti asuhan
390. Gairah pengemis buta
391. Gairah seks di dalam taksi
392. Gairah Tante Vivi - 1
393. Gairah Tante Vivi - 2
394. Gairah Tante Vivi - 3
395. Gairah Tante Vivi - 4
396. Gairah Tante Vivi - 5
397. Ganasnya ibu kostku - 1
398. Ganasnya ibu kostku - 2
399. Nikmat satu malam
400. Pelepas dahaga para wanita

Halaman -> 01 - 02 - 03 - 04 - 05

Koleksi DVD Film Benyamin Terlengkap dan Termurah



Koleksi lengkap film Benyamin Sueb, terdiri dari 6 DVD dengan total 27 film, kualitas gambar lumayan bagus dan bonus MP3 lagu-lagu Benyamin Sueb. Lihat tabel dibawah ini untuk lebih jelasnya.

Kontak/Pertanyaan/SMS Order :

Online Support :



Telp/SMS : 123



Koleksi MP3 Wayang Kulit dengan Dalang - Ki Hadi Sugito



Anda penggemar wayang kulit, khususnya dalang Ki Hadi Sugito, anda harus mempunyai koleksi ini. Dijual 7 DVD MP3 wayang kulit Ki Hadi Sugito, berisi kurang lebih 60 Judul/Lakon dengan total file sebesar 28 GB.

Direkam dalam format MP3 128 Kbps 2200-4400 hz

Kontak/Pertanyaan/SMS Order :

Online Support :



Telp/SMS : 123



Catatan penting :

Koleksi ini hasil dari download di website :

http://www.wayangprabu.com

Bagi yang mau mendownload, dipersilahkan mengunjungi website tersebut. Bagi yang kesulitan mendownload, dikarenakan koneksi internet yang lambat dan file yang besar, kami menyediakannya dalam bentuk DVD. Harga yang kami tawarkan hanyalah sebagai pengganti biaya Download, DVD, Burn DVD, Casing dan Biaya Pengiriman.

Koleksi MP3 Basiyo dan Kartolo CS - Lengkap



Koleksi langka, MP3 Basiyo dan Kartolo CS. Jika anda penyuka dagelan mataram Basiyo dan Dagelan jawatimuran Kartolo CS, anda harus memiliki koleksi ini. Total ada lebih dari 45 Judul lawakan basiyo dan lebih dari 70 Judul lawakan Kartolo CS. Disimpan dalam 2 keping DVD total sekitar 7 GB.

Kontak/Pertanyaan/SMS Order :

Online Support :

Online Support :



Telp/SMS : 123



Daftar Cerita Sesama Pria - 06



501. Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 1
502. Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 2
503. Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 3
504. Pernik-pernik kencan gay di Jakarta - 4
505. Persahabatan tiga ABG gay - 1
506. Persahabatan tiga ABG gay - 2
507. Persahabatan tiga ABG gay - 3
508. Persahabatan tiga ABG gay - 4
509. Persahabatan tiga ABG gay - 5
510. Persahabatan tiga ABG gay - 6
511. Persahabatan tiga ABG gay - 7
512. Persahabatan tiga ABG gay - 8
513. Persahabatan tiga ABG gay - 9
514. Persahabatan tiga ABG gay - 10
515. Persahabatan tiga ABG gay - 11
516. Persahabatan tiga ABG gay - 12
517. Persahabatan tiga ABG gay - 13
518. Persahabatan tiga ABG gay - 14
519. Persahabatan tiga ABG gay - 15
520. Persahabatan tiga ABG gay - 16
521. Persahabatan tiga ABG gay - 17
522. Persahabatan tiga ABG gay - 18
523. Persahabatan tiga ABG gay - 19
524. Persahabatan tiga ABG gay - 20
525. Persahabatan tiga ABG gay - 21
526. Aksi liar di tengah malam - 1
527. Aksi liar di tengah malam - 2
528. Pertempuran terakhir - 1
529. Pertempuran terakhir - 2
530. Pondok jejaka - 1
531. Pondok jejaka - 2
532. Pondok jejaka - 3
533. Pondok jejaka - 4
534. Pualam yang tergores - 1
535. Pualam yang tergores - 2
536. Pualam yang tergores - 3
537. Pualam yang tergores - 4
538. Seleksi team volley - 1
539. Seleksi team volley - 2
540. Seleksi team volley - 3
541. Simpanan bosku
542. Supir papaku - 1
543. Supir papaku - 2
544. Supir papaku - 3
545. To Surabaya with love
546. Veri harapan baruku - 1
547. Veri harapan baruku - 2

Halaman -> 01 - 02 - 03 - 04 - 05 - 06

Daftar Cerita Sesama Pria - 05



401. Autumn Diary - 1
402. Autumn Diary - 2
403. Autumn Diary - 3
404. Autumn Diary - 4
405. Autumn Diary - 5
406. Autumn Diary - 6
407. Autumn Diary - 7
408. Back for Autumn - 1
409. Back for Autumn - 2
410. Back for Autumn - 3
411. Back for Autumn - 4
412. Back for Autumn - 5
413. Back for Autumn - 6
414. Back for Autumn - 7
415. Bahasa kasih untuk Andi
416. Bapak kostku tercinta
417. Baru kusadari bahwa aku gay - 1
418. Baru kusadari bahwa aku gay - 2
419. Bayar cowok untuk ngentot
420. Dokter mesum - 1
421. Dokter mesum - 2
422. Dokter mesum - 3
423. Dokter mesum -
424. Ex Army vs Body Builder - 1
425. Ex Army vs Body Builder - 2
426. FBI - 1
427. FBI - 2
428. FBI - 3
429. Kenapa harus om-om?
430. Kenikmatan pertamaku
431. KGB - 1
432. KGB - 2
433. Kuharap ini tak berakhir - 1
434. Kuharap ini tak berakhir - 2
435. Kuharap ini tak berakhir - 3
436. Love in Hong Kong - 1
437. Love in Hong Kong - 2
438. Love in Hong Kong - 3
439. Love in Hong Kong - 4
440. Love in Hong Kong - 5
441. Love in Hong Kong - 6
442. Malam tahun baru di Kuta - 1
443. Malam tahun baru di Kuta - 2
444. Malam tahun baru di Kuta - 3
445. Minum sperma teman sekantor - 1
446. Minum sperma teman sekantor - 2
447. Minum sperma teman sekantor - 3
448. Minum sperma teman sekantor - 4
449. Minum sperma teman sekantor - 5
450. Minum sperma teman sekantor - 6
451. Aku adalah Yadi - 1
452. Aku adalah Yadi - 2
453. Aku adalah Yadi - 3
454. Aku dan teman Taiwanku - 1
455. Aku dan teman Taiwanku - 2
456. Aku dan teman Taiwanku - 3
457. Jadi anggota CIA
458. Jangan panggil aku selebritis
459. Kejahatanku - 1
460. Kejahatanku - 2
461. Kejahatanku - 3
462. Kejutan Paris - 1
463. Kejutan Paris - 2
464. Kejutan Paris - 3
465. Kejutan Paris - 4
466. Kisah keluargaku - 1
467. Kisah keluargaku - 2
468. Kisah keluargaku - 3
469. Kisah keluargaku - 4
470. Merajut impian - 1
471. Merajut impian - 2
472. Merajut impian - 3
473. Merajut impian - 4
474. Ngintip aaahhh - 1
475. Ngintip aaahhh - 2
476. Oase laut utara - Pasir putih - 1
477. Oase laut utara - Pasir putih - 2
478. Oase laut utara - Pasir putih - 3
479. Oase laut utara - Pasir putih - 4
480. Oase laut utara - Bermain api di tengah air - 1
481. Oase laut utara - Bermain api di tengah air - 2
482. Pangeran tidur - 1
483. Pangeran tidur - 2
484. Pangeran tidur - 3
485. Pangeran tidur - 4
486. Pangeran tidur - 5
487. Pangeran tidur - 6
488. Patung Yunaniku - 1
489. Patung Yunaniku - 2
490. Patung Yunaniku - 3
491. Pelayan di kantorku - 1
492. Pelayan di kantorku - 2
493. Pelayan di kantorku - 3
494. Pemuja iblis - 1
495. Pemuja iblis - 2
496. Pemuja iblis - 3
497. Pemuja iblis - 4
498. Pengalamanku dengan sesama pria - 1
499. Pengalamanku dengan sesama pria - 2
500. Pengalamanku dengan sesama pria - 3

Halaman -> 01 - 02 - 03 - 04 - 05 - 06

Selasa, 15 Desember 2009

Taruna angkatan laut



Aku kembali mengunjungi warnet Ampera7 untuk memuaskan nafsu homoseksualku. Siang hari, banyak pria gagah berkumpul di warnet itu. Mereka adalah para taruna angkatan laut. Ada yang badannya sangat tegap bak seorang binaragawan, tapi ada pula yang badannya agak tambun. Belakangan ini, aku demam menonton tinju dan fighting. Terutama kalau yang bertanding itu para bule yang berbadan keras. Aku tidak suka kekerasan, namun aku suka melihat tubuh atletis para pria yang sedang bertarung. Ah, sangat jantan dan maskulin.

Siang itu, saat aku asyik melihat foto-foto seksi Mirko Cro Cop (petarung Kroasia K-1) yang sedang bertarung telanjang dada, aku dikejutkan oleh seorang taruna yang kebetulan sedang menemani temannya di warnet itu. Mereka duduk tepat di sebelahku. Pria itu berkata, "Anda suka fighting, yach?"

Aku hanya tersenyum malu, diam-diam mencuri pandang. Pria itu mengenakan seragam angkatan laut, tanpa topi. Kulitnya sawo kecoklatan. Wajahnya menunjukkan usia 30an itu nampak ramah. Badannya memang tidak kekar, sedikit berlemak, namun tidak gemuk. Dia memang tidak tampan, tapi juga tidak jelek. Biarpun begitu, tiba-tiba aku menjadi bergairah sekali.

Temannya jauh berbeda dengannya, lebih muda (20an). Tubuhnya lebih langsing namun terlihat padat. Wajahnya sangat tegas dan juga tampan. Melihatnya saja sudah melambungkan imajinasiku ke langit ketujuh. Apalagi kalau diajak bercinta. Perkenalan lebih lanjut membuatku mengetahui bahwa nama pria yang menyapaku tadi adalah Iwan. Sedangkan temannya itu Bram.

"Mau enggak mampir ke tempatku?" tawar Iwan, tersenyum ramah.
"Aku punya banyak foto petarung di komputerku. Kamu pasti suka."

Tangannya diletakkan di atas punggungku, membuat jantungku berdebar tak karuan.

"Mau banget," jawabku. Diam-diam, penisku mulai tegang, setegang baja.

Singkat cerita, aku pun diajak Iwan dan Bram ke kamar asrama mereka. Banyak taruna ganteng dan gagah yang berlalu lalang. Kemaluanku menjadi semakin tegang dan mulai mengucurkan precum. Di dalam kamarnya, Bram menghempaskan dirinya ke atas ranjang bertingkat bagian bawah. Dengan cueknya, Bram melepaskan pakaiannya dan tidur dengan hanya mengenakan celana dalam putih. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Nampaknya Bram benar-benar kepanasan. Sekilas, aku mengintip tubuhnya yang mengkilat dengan keringat. Ah, seksi sekali.. Penuh dengan otot..

"Endy? Lagi ngapain kamu?" tanya Iwan, membuyarkan lamunanku.
"Kok dari tadi asyik mandangin badan Bram? Suka yach?" godanya, sambil mencolek pinggangku.

Aku terkejut sekali saat Iwan mencolek pinggangku. Untuk sesaat aku mengira kalau dia juga gay, sama sepertiku. Namun, aku segera menghapus pikiran itu, sebab mereka nampak sangat 'straight'. Tanpa menunggu jawabanku, Iwan menyalakan komputernya dan memintaku untuk duduk di depannya. Sesaat kemudian, dia sibuk memperlihatkam foto-foto para petarung lain yang tak kalah ganteng dan kekar dari Mirko Cro Cop. Aku semakin terangsang dan mulai duduk dengan gelisah. Tanpa kusadari Iwan bergeser ke belakangku sambil memencet-mencet keyboardnya. Tangan kirinya diletakkan di atas bahuku, meremas-remasnya dengan lembut. Aku menjadi mabuk kepayang dibuatnya.

"Aku punya gambar-gambar yang lebih bagus dari ini. Mau lihat?" tanyanya.

Aku mengangguk saja. Lalu Iwan membuka sebuah folder yang berjudul Cowok. Apa yang kulihat berikutnya membuatku terkejut sekali. Di depan layar komputer, berbaris foto-foto cowok bule bugil. Ada yang berpose telanjang bulat, ada yang berciuman dengan sesama pria, bahkan ada yang saling menyetubuhi pria lain. Jantungku berdebar kencang sekali. Iwan segera menjawab,

"Ya, aku gay. Aku ingin berhubungan seks denganmu, manis."

Iwan mencium-cium leherku dari belakang. Kedua lengannya yang besar dan kuat menglingkari pundakku. Tangannya menjalari dadaku, meremas-remasnya. Tanpa dapat ditahan, aku mengerang kenikmatan. Aku hanya dapat pasrah, menyadari bahwa sebentar lagi Iwan akan mengambil keperjakaanku. Namun aku tak dapat menyangkal kalau aku amat mengharapkannya.

Tangan Iwan pun mulai menjalar dengan liarnya. Sambil membimbingku berdiri, Iwan mulai memasukkan tangannya ke dalam celana pendekku. Alangkah terkejutnya Iwan mengetahui kalau aku tak memakai celana dalam. Sambil tetap memelukku dari belakang, dia memberikan sebuah senyuman mesum padaku. Mudah baginya untuk menemukan alat kelaminku. Begitu dia menyentuhnya, aku mengerang makin liar. Senjataku sudah mengeras dan membasahi celanaku. Satu-persatu, pakaianku jatuh ke lantai. Dengan lembut, dia memutar tubuhku agar aku menghadap mukanya. Aku kini sudah berdiri telanjang bulat di depannya. Iwan tersenyum sensual sambil menjilat bibirnya.

Katanya, "Aku paling suka cowok Chinese yang putih mulus sepertimu. Cocok sekali untuk dingentotin."

Iwan nampaknya tak mau berbasa-basi lagi sebab dia segera menanggalkan pakaiannya. Dengan bernafsu, Iwan memelukku. Pelukannya membuatku liar sehingga aku dengan leluasa meraba-raba punggungnya.

"Mau tidak 'dipakai'?" tanyanya sambil memelintir kedua putingku. Aku mengangguk.

Kemudian, terbuai dalam suasana erotis, aku menciumi sekujur tubuhnya, mulai dari leher, turun ke dadanya. Ah.. Aku amat memujanya.. Dada milik Iwan memang tidak terlalu keras dan berotot, namun lumayan seksi. Kedua putingnya yang tadi tertidur, kini mulai mengeras seiring dengan permainan lidahku. Sesaat kemudian terdengarlah erangan merdu dari bibir Iwan. Usai menjilati dadanya, aku bergerak menuruni perutnya dan tiba di kemaluannya.

Sungguh merupakan kontol terseksi yang pernah kulihat. Panjangnya hampir mencapai 20 cm dengan ketebalan yang nyaris melampaui 5cm. Terbakar oleh nafsu birahi, kontol itu berdenyut keras sekali, seolah menuntut servis dariku. Cairan pra-ejakulasinya mulai mengalir dan menetes ke atas lantai. Dengan sigap, aku menangkapnya dengan lidahku. Hmm.. Sungguh lezat sekali. Iwan hanya tersenyum meyaksikan ulahku. Kontol Iwan memang nampak lezat sekali. Dengan saus pra-ejakulasi yang terus mengalir turun.

"Ayo, sayang, hisap kontolku," ujarnya seraya mengelus-ngelus dadaku. Kemaluanku sendiri tegang sekali, minta dipuaskan.

Sambil berlutut, aku menjilati batang kejantanannya dengan antusias. Erangan nikmat Iwan terdengar kencang sekali. Namun dalam suasana erotis seperti itu, hal itu tidak dipedulikan sama sekali. Yang penting, hasrat semua pihak terpuaskan. Kubuka mulutku lebar-leabr dan membiarkan kontol Iwan menerjang keluar masuk. Sesekali aku tersedak namun dengan sigap, aku dapat kembali mengikuti irama sodokan kontolnya itu.

".. Aarrgghh.." erang Iwan, matanya terpejam rapat.

Cairan pra-ejakulasi Iwan terasa bagaikan cairan ternikmat di dunia. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Iwan memang sungguh merupakan seorang pejantan, sebab cairan itu mengalir tanpa henti. Seperti bayi yang menyusu, aku terus menghisap kepala kontolnya demi mendapatkan cairan itu lebih banyak. Aku memperkuat sedotanku dan Iwan pun mengerang keenakkan.

Asyik memeras kontol Iwan dengan bibir dan lidahku, aku tak menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di belakangku. Aku baru tersadar saat orang itu membelai-belai punggungku. Ternyata orang itu adalah Bram. Dari sudut mataku, aku mengintip dan mendapatkan Bram telah telanjang bulat. Kontolnya tegang, basah, dan meninggalkan noda di lantai.

Sejujurnya, Bram jauh lebih ganteng dan berotot dibanding Iwan, namun Iwan sendiri memiliki aura kelaki-lakian yang tak dapat kutolak. Bram menggosok-gosokkan kontolnya ke punggungku, sambil berciuman dengan Iwan. Sesaat kemudian, Bram bergeser, mendekat pada Iwan sehingga kontolnya berada tepat di depan mulutku yang penuh dengan kontol Iwan. Bram memukul-mukulkan kontolnya yang berliur itu ke pipiku. Mau-tak mau, aku melepaskan kontol Iwan dan menggantikannya dengan kontol Bram.

Pada dasarnya, kontol mereka kelihatan hampir sama. Namun, kontol milik Bram nampak lebih besar. Mungkin Karena pemiliknya adalah pria yang berotot. Begitu kontol Bram mendarat dalam mulutku, aku langsung dihadiahi dengan berliter-liter cairan kelaki-lakiannya. Aahh.. Enak sekali.. Aku menyedot, menghisap, menjilati, dan menggigit kontolnya. Aku mengkhayalkan kontol mereka berada di dalam liang duburku secara bersamaan.. Pasti akan terasa asyik sekali.. Seolah-olah dapat membaca pikiranku.

Iwan berkata, "Sabar saja, sayang. Nanti kamu akan mendapatkan kedua kontol kami di dalam pantatmu."

Iwan mengocok-ngocok kontolnya sambil menikmati caraku menghisap kontol temannya itu.

"Kami akan mengisi perutmu dengan sperma kami, sampai kamu kebanjiran. Kamu mau kan?"

Saya hanya mengangguk sambil terus menikmati kontol terlezat yang pernah kuhisap. Menghisap kontol memang hobiku. Daripada menghisap rokok, lebih baik menghisap kontol. Lebih enak, segar, dan sehat.

Bram nampaknya larut dalam hisapan mautku. Sambil mengerang tertahan, dia memejamkam matanya rapat-rapat dan terus memaju-mundurkan kepalaku.

".. Aarrgghh.. Yeah.. Hisap terus kontolku.. Yeah.. Seperti itu.. Lebih kuat lagi, sayang.. Aarrgghh.." erangnya.

Aku terus menghisap batang itu dengan bersemangat. Sesekali, aku meraba-raba pelernya dan juga dada bidangnya yang perkasa. Aahh.. Iwan yang tak mau ketinggalan, menggosok-gosokan cairan pra-ejakulasinya ke mukaku. Aku tahu keinginannya. Maka dengan adil, aku menghisap kontol mereka berdua secara bergilir. Sementara aku menghisap kontol Iwan, tanganku mengocok-ngocok penis Bram. Dan begitu sebaliknya.

"AArrgghh.."

Tiba-tiba, Bram menjauhkan kontolnya dariku.

Dia berkata, "Saatnya untuk dingentotin."

Tangannya menepuk pantatku keras-keras. Jantungku berdebar-debar. Dari dulu memang saya sering membayangkan nikmatnya disodomi, namun aku belum pernah mencobanya. Bagai domba yang digiring, saya digiring ke tempat tidur. Kedua pria perkasa itu akan segera merenggut keperjakaanku. Iwan membaringkan tubuhku ke atas ranjang dengan mesra sambil tetap menciumi bibirku.

Tubuhku terbaring telentang dengan kedua kaki terkangkang lebar-lebar sementara Iwan berdiri tepat di pertengahan selangkanganku. Bram berdiri di samping ranjang dan segera mendorong kepala penisnya masuk ke dalam mulutku. Dengan lahap aku menghisap batang itu kembali. Aahh, nikmatnya. Cairan pra-ejakulasi tak henti-hentinya mengalir keluar dari lubang kencing milik Bram.

Dengan penuh nafsu, Bram meremas-remas dadaku sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

".. Yeah.. Hisap kontolku.. Loe suka kontolku, 'kan? Yeah.. Hisaplah seperti seorang penghisap kontol yang baik.. Buat gue ngecret di mulutmu.. Hisap kontolku.."

Kontolnya didorong lebih dalam lagi, sampai-sampai kepala kontolnya mengenai dinding kerongkonganku. Kontan saya tersedak, namun Bram tak sudi melepaskanku. Sebaliknya, dia makin bernafsu, seakan-akan senang melihatku tersiksa seperti itu.

Aku hampir kehabisan napas namun tetap berusaha sekuatnya untuk mengikuti ritme sodokan kontol Bram. Sementara itu, Iwan meraba-raba perut dan kemaluanku. Dengan lembut, dia berkata,

"Jangan takut, takkan sakit, kok. Yang penting, jangan dilawan. Biarkan saja kontolku masuk. Santai saja."

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang besar dan basah sedang berusaha membuka paksa lubang pantatku. Pelan namun pasti, benda itu mulai bergerak masuk ke dalam anusku. Sakitnya tak terlukiskan. Untuk pertama kalinya, bibir anusku terbuka lebar dengan paksa, perih sekali. Aku merasa seakan-akan bibir anusku akan sobek seperti plastik yang terkoyak.

"AARRGGHH..!" tangisku.

Namun tangisan and eranganku tak dapat keluar dengan bebas sebab mulutku tersumpal kontol Bram yang besar dan lezat itu. Hanya suara-suara eranan tertahan yang tak jelas yang terdengar.

Akhirnya kepala kontol Iwan telah masuk seluruhnya ke dalam tubuhku. Anusku mencengkeram batang kejantanannya kuat-kuat, tak ingin melepaskannya. Meskipun anusku berdenyut-denyut tak karuan, namun aku sangat menikmatinya. Rasa sakit itu bercampur dengan kenikmatan. Kenikmatan yang kuperoleh dari kontol seorang lelaki. Iwan hanya tersenyum mesum melihat kenikamtan yang jelas tergambar di wajahku. Dia tahu benar seperti apa sifatku. Sifat itulah yang sering dia temukan pada diri semua pelacur. Dia tahu benar betapa aku menikmati keberadaan kontolnya di dalam tubuhku. Setetes cairan pra-ejakulasi menetes di dalam duburku dan mengalir masuk ke dalam ususku. Aku hanya dapat mendesah kenikmatan sambil tetap menghisap kontol Bram.

Tanpa memberi aba-aba, Iwan mulai menggenjot pantatku. Dipompakannya penisnya yang besar itu masuk-keluar, masuk-keluar, masuk-keluar, terus menerus. Semakin lama, pompaannya semakin kuat, seakan ingin menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuhku dan 'menghamiliku' dengan benih-benihnya. Tubuhku berguncang-guncang dengan hebat, seiring dengan sodokan kontol Iwan yang makin bertenaga.

Bram nampak mulai bernafsu. Wajahnya mulai berubah kemerahan, menahan sesuatu. Rupanya Bram sudah berada di ambang orgasme. Sebentar lagi dia akan segera ngecret.

".. Oh sial.. Gue mau keluar.. Aarrgghh.. Yeah.. Telan semuanya.. Telan air mani gue.. TTEELLAANN..!!" Begitu kata TELAN habis diucapkan, kontolnya menggembung besar di dalam mulutku dan mulai menembakan spermanya. CROT! CROT!

"AARRGGHH..!!", teriaknya.
".. AARRGGHH..!! UUGHH..!! OOHH..!! YEAH!! AARRGHH..!! OOHH..!!"

Tubuh Bram terguncang-guncnag dan bergetar hebat. Setiap tembakan pejuhnya mengirim listrik bertegangan seribu volt ke seluruh tubuhnya.

CROT! CROT!
Iwan yang sedari tadi asyik menggenjot pantatku, rupanya terangsang habis oleh orgasm kawannya itu. Seperti reaksi berantai, Iwan mulai menunjukkan gejala-gejala akan kelaur sebentar lagi.

".. Aakkhh.. Aku.. Kkellu.. AARGHH..!! UUGGHH..!! OOHH..!! AARRGGHH..!! UUGGHH..!! AARRGHH..!!"

Iwan terus-menerus mengerang sambil menembakan cairan kejantanannya, membanjiri ususku. CROT! CROT! CROT! CRET!
Aku sendiri terasa penuh, mengerang penuh kenikmatan.

Bram yang masih merem-melek oleh karena orgasmnya yang luar biasa itu langsung memegangkan kontolku dan mengocok-ngocoknya. Tak ayal lagi, aku pun keluar, dalam beberapa detik saja.

".. Oohh.. AARRGHH..!! OOGGHH..!! AARRGHH..!!"

CROT! CROT! CROT!
Spermaku bermuncratan ke mana-mana, mengenai tubuhku, tubuh Iwan, ranjang, dan tentunya tangan Bram. Badanku menggelepar-gelepar, lubang anusku mencekik kepala kontol milik Iwan yang masih berada di dalam. Kontol Iwan pun melemas begitu tetes terakhir dari pejuhnya menetes keluar.

"AAhh.."

Iwan jatuh menimpa tubuhku dengan lembut, sambil menyisirkan jari-jarinya pada rambutku. Aku sendiri hanya dapat bernapas terengah-engah, letih tapi puas sekali. Bram tak mau ketinggalan. Setelah mengeringkan kontolnya dengan cara menggosok-gosokkannya pada mukaku, Bram berbaring di ranjang dan memelukku. Kami bertiga saling berangkulan, bermain lidah dan bibir. Air liur kami saling bercampur, namun rasanya nikmat sekali. Tangan Bram and Iwan menjamah tubuhku dan mengusap-usap cairan sperma yang menempel pada badanku. Kurasa, aku mulai jatuh cinta pada mereka berdua..

Tamat

Senjata makan tuan



Aku heran mengapa Arya tidak mau menerima cintaku padahal kami sudah dekat dan hampir saling tergantung, dan sampai detik ini aku tetap tak habis pikir kenapa dia menolakku, padahal aku memiliki hampir semua hal yang dia butuhkan untuk kesenangannya. Aku selalu membantu mengerjakan tugasnya, memberi fasilitas mengetik, aku jago main musik dan itu sangat mendukungnya setelah dia bersolo karir.

Aku juga tidak terlalu jelek, malah beberapa teman gay-ku mengatakan aku imut dan seksi. Tapi apa yang terjadi? Sejak aku menembaknya hari itu, dia menyumpahiku habis-habisan dan tak ingin melihatku lagi. Dia bilang tak ingin tertular jadi gay! Dia bahkan ingin membuang semuanya tentangku: pindah kost, pindah tempat kuliah, bahkan mengganti nomor handphone dan mengganti motornya, jadi aku akan kehilangan jejaknya.

Tapi apa sih yang tidak bisa kudapatkan? Sejak di Yogya aku mendapatkan banyak kemudahan karena keahlianku. Aku jago komputer, programmer, sehingga banyak orang yang jadi temanku karena kuperbaiki komputernya atau karena kubuatkan tugas pemrogramannya. Atau banyak anak-anak band yang sering memakaiku sebagai additional player. Termasuk di antara teman-temanku adalah orang-orang penting, orang-orang kaya, dan anak-anak dunia malam.

Dan setelah beberapa bulan aku dibuat patah hati olehnya dan tidak tau jejaknya, seorang temanku yang terkenal alot dan teliti berhasil mendapatkan berita tentang lokasi Arya yang baru, di kampung X, dekat kampusnya yang baru. Tidak sulit untuk menemukannya. Aku ke sana saat malam hari dengan seorang temanku dengan membawa apa saja yang kuperlukan. Tidak bisa mendapatkan cintanya, aku harus mendapatkan tubuhnya, adil kan?

Jam tanganku menunjukkan pukul 21:35 dan terlihat seseorang menutup pintu gerbang kontrakan yang agak keren itu. Lalu setelah lampu depan dimatikan, aku dan seorang temanku yang ahli dalam hal ini kemudian memanjat pagar dan mengendap menuju pintu kamar Arya. Setelah beberapa kali mengetuk, Arya membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat sesuatu mengenai kepalanya dengan telak, itu ulah temanku Doni.

Dia pingsan! Bagus! Level berapa pun dia di perguruan silatnya, ternyata dia tak berdaya menghadapai serangan mendadak dari Doni. Lalu kami menyeretnya ke dalam kamarnya. Aku memberi isyarat pada Doni yang lalu memborgol masing-masing dari kedua tangannya ke samping lalu mengikat kedua kakinya pada sisi-sisi tempat tidur.

"Udah Don, tugasmu selesai, makasih ya?"
"Santai aja lagi, kan kamu sering nolongin aku. Tapi kamu yakin nggak perlu bantuanku lagi?"
"Iya, aku jamin besok aku ketemu kamu dalam keadaan senang."
"Ya udah, aku pulang duluan ya?" Lalu Doni mengendap-endap untuk keluar dari lingkungan kontrakan itu dan kembali ke markasnya.

Aku tertawa dalam hati. Akhirnya kudapatkan tubuhmu. Siapa suruh kau menolakku? Lalu aku mengendorkan ikat pinggangnya dan membuka kancing bajunya. Kuraba-raba badannya sambil mulai kuciumi mukanya. Aku hanya mendesah-desah merasakan hal yang selama ini cuma jadi impianku. Tak lama kemudian, mungkin karena terganggu suara desahanku, akhirnya dia bangun dan kaget karena ada sebentuk wajah yang menempel pada wajahnya.

"Ooi.. Lepasin.. Beraninya cuman kalo kayak gini aja, pengecut!" Dia mencoba menarik kedua tangannya yang diborgol, juga kedua kakinya, tapi tidak bisa.
"Memangnya kenapa? Ayo, keluarin tenaga dalammu, dasar jagoan takut hantu!"
"Oouggh.. Ternyata kau! Dasar homo tak tahu malu! Aku akan hajar kau"
"Hajar aja kalo bisa"

Aku terus mencumbuinya. Kuperosotkan celananya lalu kubelai-belai pangkal pahanya. Sambil terus berusaha berontak, Arya cuma memejamkan mata sambil berpaling ke kiri, mungkin karena jijik. Lalu aku mulai meraih benda ajaibnya yang panjang dan besar. Kuelus-elus sampai akhirnya tegang juga. Dan dia tidak meronta lagi.

"Aku nggak nyangka, ternyata kamu bisa horny juga sama aku, kenapa dulu kamu tolak aku?"
"Diam!! Ooii.. Lepasin.. Ooi.. Tolong.."

Wah, gawat! Pikirku. Kalau sampai ada yang mendengar. Lalu kunyalakan radio yang ada di sebelah dengan volume yang kira-kira bisa mengelabui orang di luar, tetapi tidak terlalu berisik. Lalu kuganjal mulut Arya dengan mulutku.

"Apa, kamu bisa apa.."

Aku melepaskan baju dan celanaku. Aku terus mengelus-elus batangannya sampai dalam ketegangan maksimal, dan di luar dugaanku, dia mulai mendesah.

"Ouh, jangan.. Jangan.."
"Jangan apa? Jangan lepasin? OO, aku puasin kamu malam ini.."

Aku kocok batangannya beberapa lama sampai precumnya keluar, pertanda dia mulai dialiri nafsu. Kemudian kulepaskan tanganku. Dia terlihat kaget dan ingin protes, tetapi kemudian aku memerosotkan celananya lebih lebar dan, kumasukkan batangannya ke mulutku. Sambil Arya merasa keenakan, tanganku mulai mengelus-elus lubang pantatnya dan dia mengerang-erang karena kegelian.

"Kenapa? Enak ya? Nyesel nolak aku?" tanyaku sinis.
"Li, lepasin tanganku Li, please.."
"Untuk apa? Supaya kamu kabur?"
"Enggak Li, supaya aku bisa ngocok punyamu juga"
"Ah, alasan. Udah diam! Kalo mau bikin aku enak juga, nanti bakalan datang waktunya, nggak perlu pake tanganmu"
"Apa maksudmu?" dia bertanya dengan nada merinding.

Aku tidak mempedulikan lagi kata-katanya, aku terus mengelus-elus lubang pantatnya sambil sesekali memasukkan jariku. Pertama kelingking, lalu telunjuk, ibu jari, dan akhirnya dua jari sekaligus.

"Kamu gila ya? Mau nyodomi aku? Kuhajar kau besok!"
"Udah, tenang aja, nanti juga kamu ketagihan."

Aku melepaskan mulutku dari batangannya yang basah karena liurku, lalu mengocoknya perlahan-lahan dengan tanganku. Dia semakin mendesah-desah.

"Li, aku mau.." Aku cepat tanggap dan kulepaskan tanganku. Arya kaget.
"Kok dilepasin..?"
"Enak aja, mau orgasme sendirian? Emang dari dulu kau tuh pelit dan egois!"

Lalu aku meletakkan dua buah bantal di bawah tubuhnya sehingga tubuhnya agak terangkat ke atas, dan aku mendekap mulutnya dengan ban pinggang karatenya yang kudapatkan di gantungan. Aku mengubah posisiku sehingga dengan duduk melipat kaki aku bisa mengarahkan batanganku ke anusnya. Aku terus berusaha memasukkan batanganku ke lubangnya, sementara mukanya meringis menahan sakit sambil menggoyang-goyang badannya karena meronta.

"Udah, tenang aja, entar lagi kamu keenakan"

Lalu, bles! Masuklah semua batanganku yang memang sedikit kalah besar dari miliknya. Aku berhenti sejenak. Arya mengambil nafas agak panjang, lalu aku mulai menggesek-gesekkan batanganku di dalam anusnya. Wajahnya terlihat memelas, namun beberapa saat kemudian dia mulai ikut mendesah dengan mulut yang masih tersumpal.

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, sementara wajahnya merah dan mulutnya masih tersumpal. Akhirnya aku melepas bungkaman mulutnya, dan ternyata dia sedang menggumam sendirian, keenakan. Aku terus memaju-mundurkan senjataku dengan frekuensi normal, sementara wajah Arya terlihat semakin memerah.

"Ayo Li, lebih cepat lagi"

Aku mengacuhkan kata-katanya. Aku tidak mempercepat aksiku, sementara kulihat batangannya mengeluarkan semakin banyak precum. Rupanya dia sangat menikmatinya. Dengan posisiku masih menungganginya dengan duduk melipat kaki, aku mulai sambilanku menciumi dadanya, lehernya, telinganya, dan ia hanya bisa pasrah menanti saat klimaks datang.

"Li, aku nggak tahan lagi, kocokin juga donk punyaku, oh.."
"Udah, tenang aja, bisa diam nggak sih?"

Lalu sekitar lima menit kemudian, aku merasa akan klimaks. Kuhentikan rabaanku pada dadanya, tapi aku mekin ganas menciuminya. Kemudian, Crot! Crot! entah berapa kali spermaku muncrat di dalam anusnya. Badan Arya terus bergoyang-goyang karena belum klimaks. Aku tahu harus memberinya kesan yang mendalam agar dia tak lagi membenciku, bahkan jadi menerimaku.

"Oh, chayank, nggak tahan lagi ya? Sini kulepasin aja, biar kamu melakukan apa aja, terserah"

Aku melepaskan ikatannya karena yakin dia sedang diamuk nafsu. Dan benar, setelah ikatan kaki dan tangannya lepas, dia langsung menciumiku dengan ganas dengan berbagai gaya. Mungkin dia biasa melakukannya pada ceweknya. Aku agak sedih mengingatnya, tapi nafsuku jadi kambuh lagi karena gaya ciumannya terkesan jantan dan romantis.

Dengan agak kasar karena terburu-buru, dia membalik badanku lalu memasukkan batangannya ke anusku dengan paksa. Aku masih kesakitan walaupun beberapa kali aku pernah diperlakukan begitu. Tapi tidak lama, karena akhirnya semua batangannya masuk ke anusku, lalu dia mengganti gaya kami sehingga posisinya dia duduk dengan aku juga duduk di atasnya.

"Kamu nafsu lagi ya? Sini" Lalu sambil meneruskan aksinya, tangan kanannya meraih senjataku yang mulai bertuah lagi, lalu mengocoknya dengan ritme yang sama dengan tusukan-tusukan pedangnya.
"Oh, Li, aku mau keluar."
"Keluarin situ aja, aku juga mau keluar"
"Oh, Li, enak, oh.. Li, aku.."

Tubuh Arya mengejang lalu kurasakan beberapa tembakan benda kental di dalam anusku, dan Arya pun lemas dengan posisi yang belum berganti. Tangannya terus mengocok batanganku dengan sangat cepat, dan, crot! Crot! Aku orgasme lagi.

Setelah itu, dia menarik badanku sehingga batangannya terlepas, dan hasilnya kami berbaring bersisian. Aku memeluk badannya. Awalnya ia agak meronta, tapi aku tidak mau melepasnya sehingga dia diam saja. Pandangannya ke arah langit-langit dan seperti menyesal.

"Kamu menyesal ya? Mau hajar aku? Hajar aja! Aku udah dapat tubuhmu" kataku agak sinis karena yakin dia sudah telanjur keenakan.

Dia memandangku dengan tatapan tajam. Aku berdebar-debar menunggu reaksinya. Ternyata dia balas memelukku dengan sangat erat.

"Aku nggak mau pura-pura lagi, ternyata aku butuh kamu, dalam segala hal, aku sayang kamu, Li"
"Kalau tau bahwa kau akan luluh setelah kupuaskan, pasti aku akan memperkosamu dari dulu, hehe.." Dia melotot padaku, aku agak ngeri sambil melepaskan pelukan.
"Eh, tenang aja, aku benar-benar sayang, walaupun karena ini aku jadi, GAY!"

Dengan agak pahit dia mengucapkannya. Lalu dia berbalik dan mengambil handponenya di meja.

"Ali, kamu masih di kost deket warung itu? Berapa nomor handphonemu?" Wah, rupanya dia jadi luluh.
"Nomorku nggak kuganti kok" jawabku.
"Iya, tapi aku kan lupa, nomorku udah sering ganti" Lalu aku menyebutkan nomorku.
"Tau nggak? Sejak kamu nolak aku, aku benar-benar merasa nggak ada gunanya hidup. Tapi sekarang, aku.."
"Gimana rencanamu sekarang, mau nginap?" Arya memotong kata-kataku.
"Kalau boleh" jawabku.
"Kamu sendiri gimana? Kamu kan punya Erni, dia setia sekali, cantik lagi. Aku selalu cemburu sama dia" kataku.
"Udah, gimana kalo aku putusin dia, kamu seneng?"
"Sebenarnya nggak perlu segitu, asal kamu mau nyediain waktu buat aku, aku udah seneng kok"

Setelah lama diam, dia bicara lagi.

"Li, kamu mau kan nangani lagu-lagu baruku buat album besok?" Sambil menepuk pundaknya, aku menjawab.
"Iya lah, apa gunanya aku jadi sephiamu. Udah, pake tu baju!"
"Nggak ah, aku pengen anu lagi, kamu aja bisa dua kali"

Aku tertawa terbahak-bahak. Malam itu kami melakukannya berkali-kali dan kami hanya tidur beberapa jam karena jam 7 pagi dia mengantarku pulang ke kost. Sesampai di kostku, aku pamit mau mandi. Setelah itu, aku memakai deodoran lalu menyemprot badanku dengan parfum kesukaanku. Kulihat Arya cuma bengong.

"Kenapa Ya'?" aku bertanya dengan heran.
"Nggak kusangka ternyata wangi badanmu bikin aku terangsang lagi"

Lalu dia mengunci pintu kamarku dengan buru-buru lalu menciumi badanku yang hanya dibalut handuk. Aku jadi tegang sendiri. Dia melepas handukku lalu mengocok batanganku sambil mulai menciumi wajahku. Aku mengerang-erang keenakan. Aku sadar tentang situasi dan kondisi yang berlaku, lalu menyetel radio keras-keras. Arya menarikku lalu membantingku di kasur. Untung kostku sepi karena semua orang sudah pergi ke kampus atau bekerja. Arya melepasi pakaiannya lalu mulai menciumi dadaku, leherku, bahkan ketiakku diciuminya. Aku kegelian sambil mencari-cari senjatanya. Setelah kutemukan lalu kukocok pelan-pelan.

"Ya?"
"Hm? Ada apa? Mau ngomong sesuatu"
"Kamu pernah ngesex sama cewekmu?"
"Belum, kenapa?"
"Berarti belum nyobain 69 ya?" tanyaku lagi.
"Apaan tuh?" Lalu aku mengubah posisi sehingga saling berbalik. Aku mengulum batangannya.
"Kamu coba deh kulum punyaku juga, asyik loh"

Lalu kami saling mengulum. Setelah beberapa menit, dia membisikkan bahwa dia ingin menyodomiku lagi. Aku persilakan dia. Dia melihat minyak rambut yang ada di sebelah meja komputerku lalu mengoleskannya pada anusku, batanganku, dan batangannya sendiri. Setelah itu dia mengocok batanganku dengan mesra. Terasa lain karena kali ini memakai pelumas yang licin. Setelah dia yakin aku terbang ke alam antah berantah, dia langsung memasukkan senjatanya ke lubangku. Aku menjerit sebentar lalu mulai berubah jadi keenakan. Dia terus memaju-mundurkan senjatanya di anusku sedangkan aku mengocok milikku sendiri.

"Li, aku mau klimaks, oh.."

Aku juga mempercepat kocokan pada batanganku, dan saat dia menjerit, aku pun klimaks. Tanpa mencabut senjatanya, dia mencium keningku dengan manis.

"Kamu nggak pengen nyogok aku juga, li?"
"Nggak ah, kan aku udah klimaks juga. Lagian capek, dari tadi malam."

Lalu kami saling tersenyum dan saling mencium sampai kusuruh dia mandi diikuti olehku yang juga mandi di kamar mandi sebelahnya.

Setelah itu kami tidur di kamarku sampai siang dan dia kembali ke kontrakannya. Hari itu tidak satu pun dari kami yang pergi kuliah, maklum, sedang bernostalgila, eh, nostalgia.

Tamat

Menang taruhan



Aku seorang mahasiswa, Riki namaku. Sejak awal kuliah aku kost di daerah Pahlawan Bandung, dan aku serumah dengan enam orang cowok yang kebetulan semuanya adalah mahasiswa. Aku tidak terlalu cakep, tampangku standar dengan bodi yang tidak terlalu besar, kesimpulan aku ini orangnya biasa-biasa saja. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan sesama jenis, tapi sejak ada anak baru itu ada perasaan aneh dalam hatiku.

Oki nama anak itu, sudah dua bulan dia kost di tempat ini, dan sekarang dia masih SMU kelas I usianya kurang lebih 15 tahunan dan ingin mencoba hidup mandiri di Bandung, asalnya sendiri dari Lampung. Anaknya cukup ganteng dan gagah. Dia anaknya cepat akrab dan suka bercanda. Pernah waktu aku sedang minum aku diganggunya sampai tersedak, dan dia cuma tertawa sambil melarikan diri. Pernah juga waktu dia baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk, handuknya aku tarik dan saat itulah pertama kali aku melihatnya telanjang bulat. Secara refleks aku melihat ke batang kemaluannya dan jantungku berdegup sangat kencang, terutama setelah melihat batang kemaluannya yang lebih besar dari punyaku dan tanpa aku sadari dia lalu merebut handuk yang aku pegang dan aku pun segera lari sebelum kena tinjunya sambil tertawa.

Sejak saat itu perasaanku tidak karuan, aku sering membuka situs-situs khusus homo dan aku mulai sulit melupakan dirinya, terutama saat dia telanjang batang kemaluanku pasti langsung tegang dan pasti setelah itu aku langsung onani sambil terus membayangkannya. Seperti biasa kalau musim liburan semester anak-anak kost-an pada mudik, kecuali aku dan Adi karena kebetulan kami berdua sama-sama seret alias bokek belum dapat kiriman. Sedangkan Oki masih belum libur maklum dia kan anak SMA. Dan untuk menghilangkan kebosanan kami bertiga nonton VCD (tapi kalau ada Oki kami nggak nonton VCD porno, soalnya dia itu masih lugu banget, bahaya!) dan kadang main remi. Karena kesibukan inilah aku sedikit melupakan hasratku pada Oki.

Tapi belakangan ini, setelah Adi pulang karena ibunya mendadak sakit dan dia dijemput kakaknya, tinggal aku dan Oki di kost-an. Perasaan aneh itu mulai lagi, aku sulit membendungnya, rasanya aku sangat ingin sekali melumat batang kemaluannya itu sepuasnya, terlebih lagi si Oki sering tidur di kamarku soalnya di kamar atas dia nggak ada temen, sepi katanya. "Ah aku suntuk banget nih Mas, bosen nggak ada kerjaan mau pulang nanggung, bentar lagi masuk, nonton CD bosen filmnya itu-itu lagi, jalan-jalan belon dapet kiriman."
Aku cuma tertawa mendengarnya, tapi kemudian timpul pikiranku untuk dapat menyalurkan keinginanku.
"Maen remi saja yuk! tapi ada taruhannya."
"Beeu tarohan, duit saja pas-pasan buat makan ini diajak tarohan, mending kalau menang, kalau kalah puasa deh aku."
"Tenang Ki tarohannya bukan uang tapi siapa yang kalah harus buka bajunya sampai telanjang, mumpung nggak ada orang di rumah, gimana berani nggak?"
Oki kelihatannya sedikit terkejut tapi dia juga tertarik.

"Boleh juga tuh Mas, terus kalau udah telanjang udahan saja ya Mas?"
"Ya nggak lah, apaan yang enak ya."
"Eh nyuciin baju yang menang saja Mas sekalian traktir makan."
"Ah nggak seru, ngapain pake acara telanjang kalau cuman gitu, mm gimana kalau yang kalah harus ngejilatin batang kemaluannya yang menang biar seru?"
"Haa gila Mas jorok banget!"
"Ya resiko namanya juga tarohan harus mau apapun juga dong. Mau nggak kalau nggak ya udah."

Oki cuman diam, dan kemudian aku pun pura-pura nggak ambil pusing dan sibuk membereskan tugas-tugasku. Cukup lama Oki cuma diam, selang waktu kemudian, "Maen remi saja yuk Mas, suntuk nih bolehlah tarohan yang kayak tadi dari pada nggak ada kerjaan, lagian cuman ngejilat batang kemaluan ini dan nggak ada masalah." Dalam hatiku bersorak senang, tapi aku pura-pura males dan nggak ambil pusing. Aku lihat Oki sudah mengambil kartu remi di laci lemariku dan duduk di karpet kamarku. Aku pun mendekatinya dengan jantung yang terus berdegup kencang.
"Bagiin saja Ki, kita liat siapa yang bakalan jadi penjilat batang kemaluan he.. he.. he.."
"OK siapa takut."

Permainan pun dimulai, karena cuma kami berdua aku tidak terlalu sulit memegang kendali permainan, sehingga aku dengan mudah menang atau kalah, soalnya remi adalah keahlianku. Setelah beberapa kali main, sekarang aku tinggal pakai celana dalam dan Oki masih tersisa celana pendeknya saja. Dan seperti sebelumnya kali ini pun aku pura-pura kalah sehingga aku harus melepas celana dalamku.
"Wah Mas batang kemaluanmu kecil ya Mas kayak jempolku saja."
"Biarin yang penting masih bisa bikin anak ukuran bukan masalah."
Memang batang kemaluanku tergolong kecil panjangnya kalau lagi tegang cuma 9 cm dan dengan diameter 3 cm, aku pun tidak PD dengan ukuran penisku tapi ah bodo amat batang kemaluanku ini. Aku melihat Oki cuma tertawa meledek tapi aku merasa senang saat dia memperhatikan aku saat aku telanjang.

"Wah Mas, jangan-jangan nggak jadi nih acara jilat batang kemaluannya."
"Tenang Ki, aku pantang menelan ludah sendiri, tapi jangang seneng dulu aku belum mengeluarkan jurus pamungkasku."
Dan kami pun melanjutkan permainan, sampai akhirnya Oki kalah dan harus melepaskan CD-nya. Saat dia membuka celana dalamnya, batang kemaluanku langsung berdiri, tapi langsung aku tutupi dengan kedua kakiku sambil berpura-pura tertawa meledek.
"Wah Ki, batang kemaluanmu gede juga ya dua kalinya punya aku."
"Eh siapa dulu dong kan disesuaikan bodinya, tapi sialan satu sama sekarang, tapi kita liat saja siapa yang bakalan kalah sekarang Oki atau Mas Riki."

Oki lalu membagikan kartu dan kami melanjutkan permainan lagi. Tapi tidak seperti biasanya aku pura-pura mengalah, sekarang aku benar-benar kalah karena kartu yang aku punya benar-benar hancur dan akhirnya aku kalah, walaupun sebenarnya itu yang aku inginkan.
"Wah sialan kartuku rusak ancur nih aku dasar licik kamu, wah aku harus ngejilat batang kemaluan kamu mana pasti bau lagi."
"He.. he.. he.. resiko Mas lagian kan cuman ngejilat saja bukannya mencium baunya seperti yang Mas bilang."
"Sialan kamu Ki, udah sini aku jilat batang kemaluan mu yang gede itu."
Oki kelihatanya sedikit ragu-ragu.
"Sekali saja ya Ki ngejilatnya, aku takut muntah," pura-pura aku mengalihkan perhatiannya, supaya dia tidak terlalu tegang.
"Sini batang kemaluan kamu."

Oki cuma tertawa, lalu aku membuka kakinya yang dia lipat dan aku luruskan. Aku sesaat menikmati pemandangan yang selama ini aku harapkan dan meresapi aroma di sekitar batang kemaluannya si Oki. Aku pura-pura melihat ke arah Oki dia cuman mesem tapi juga sedikit ragu, "Susah ki kalau gini kasih aku ruang dong," lalu aku suruh Oki bersandar dan kedua tangannya menopang badannya kebelakang sambil terus memperhatikanku, tibalah kesempatanku. Aku pegang batang kemaluannya dan bukannya menjilat batang kemaluannya si Oki tapi langsung melumatnya ke dalam mulutku, si Oki terkejut, "Eh Mas mau diapain?" sambil tangannya memegang kepalaku dan menjambak rambutku.

Aku nggak peduli, aku terus mengulum batang kemaluannya walau kepalaku sakit dijambaknya, tapi kemudian tangannya mulai mengendur dan dia mulai menikmatinya. Batang kemaluannya aku rasakan mulai tambah besar cepat sekali tegangnya rupanya dia mulai terangsang, batang kemaluannya yang semula masuk semua ke mulutku sekarang cuma separuhnya saja. Aku terus mengulumnya sambil tanganku mengocok batang batang kemaluannya. Sesekali aku melihat ke arah Oki tangannya tetap menopang badanya dan kepalanya mendongkak ke atas, matanya terpejam dan aku hanya mendengar rintihannya, "Ehh.. ss.. ahh.. Mas.. ahh.." pantatnya ikut bergerak-gerak mengikuti kulumanku. Aku terus mengulumnya, kadang aku kulum zakarnya, kemudian aku kulum dan sesekali aku sedot kepala penisnya. Rasanya sedikit asin, tapi hal ini justru menambah semangatku. Oki mengelinjang saat aku menjilati lubang batang kemaluannya, "Ahh.. Mas aduh sshh.. terus Mas ahh.." Aku mengulum batang kemaluannya sambil terus memperhatikan wajahnya yang mulai memerah dan sesekali tersenyum kepadaku. Oki kadang melihatku dan kadang memejamkan matanya menikmati kuluman dan sedotanku. Kadang aku menggigit pelan batang kemaluannya dan membuatnya semakin mendesah.

Aku terus mengulum dan menyedot batang kemaluannya, kadang aku sedot dengan kuat dan kadang aku hanya mengusapnya perlahan dengan bibirku. batang kemaluannya sudah basah oleh air liurku yang menetes pada batang batang kemaluannya. Aku mengulum, menyedot, menggigit pelan seperti sedang menulum permen coklat kesukaanku. Sambil tengkurap aku terus mengulum batang kemaluannya. Kaki Oki mulai bergerak-gerak dan aku merasakan pahanya juga sedikit menegang pantatnya bergerak mengikuti sedotan mulutku, penisnya juga bertambah panas dan kepala penisnya mulai membesar, "Ehh.. Mas.. aduh.. Mas.. enggkh.." Oki mendesah, kepalanya mendongkak ke atas, mulutnya terbuka mengeluarkan erangan nikmat dan matanya terpejam meresapi kenikmatan yang dia rasakan. Aku merasakan kepala batang kemaluannya bertambah besar dan berdenyut-denyut, terus aku sedot kepala batang kemaluannya dan tanganku mengocok batangnya, dan aku hampir saja tersedak saat pantat Oki naik menerobos mulutku dan masuk ke kerongkonganku. Dan kemudian kurasakan ada sesuatu yang panas menyembur berkali-kali di kerongkonganku dan memenuhi mulutku, rasanya amis, kenyal dan sedikit asin tapi sungguh nikmat sekali, dan semuanya kau coba telan walaupun sebagian keluar dari mulutku dan mengenai batang batang kemaluannya Oki.

Rasanya luar biasa merasakan semburannya di mulutku sekaligus melihat wajah Oki yang diterjang rasa nikmat yang luar biasa. Aku masih terus menjilati dan mengulum batang kemaluannya, membersihkan sisa-sisa mani dari batang kemaluannya. "Udah Mas geli ahh.." kemudian Oki bersandar pada tembok kamarku, dan aku tetap tengkurap melihat sisa-sisa kenikmatan dari wajah Oki selain itu mulutku juga sedikit pegal cape mengulum dan menyedot batang kemaluan Oki yang besar itu.
"Wah Mas, baru sekarang aku ngerasain yang seenak ini."
"Emangnya kamu belum pernah mimpi basah Ki?"
"Mimpi basah, ngompol maksud Mas Riki, kan Oki udah gede Mas masa sih ngompol, tapi waktu kelas tiga aku pernah tidur dan celanaku basah tapi nggak bau pesing Mas, sekarang kadang juga masih suka gitu."
"Ya itu yang namanya mimpi basah masa sih nggak ada yang ngasih tau, berarti belum pernah onani dong?"
Oki kelihatannya bingung.

"Wah payah nih anak kampung, yang tadi kita lakuin itu namanya oral sex, ada juga anal sex itu melalui dubur dan kalau dari vagina itu yang paling umum dan kalau onani itu main sendiri gitu bego!"
Oki cuman tertawa, kemudian dia mendekatiku.
"Mas aku mau nyobain dong yang kayak tadi," biar adil gitu.
"Mau ngejilatin batang kemaluanku boleh saja bukannya harus aku kalahin dulu nih."
"Ah Mas ini, sekarang bukan waktunya main kartu."

Dan kemudian Oki mulai mengulum batang kemaluanku, aku cuma bisa mengerang sambil pantatku mengikuti isapan mulut Oki, kadang giginya mengenai batang kemaluanku sedikit sakit tapi enak, sampai akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, Oki cuma tersenyum kemudian dia tidur disampingku. Kami baru bangun waktu hampri jam delapan malam, lalu kami bangun karena perut kami lapar kami masak mie dan makan sambil masih telanjang mumpung lagi nggak ada orang.
"Eh Ki gimana kalau kita nyobain anal sex, tadi oral udah sekarang kita coba yang baru rasanya nggak kalah deh."
"Emangnya kayak gimana sih, emangnya bisa masuk kan dubur kecil lubangnya nggak kayak mulut?"

Aku lalu berdiri dan mengambil sabun cair yang biasa aku gunakan untuk onani, sambil duduk di meja makan, kemudian dan duburku aku olesi dengan sabun sambil jari tanganku kumasukan. Oki hanya melihatku dan batang kemaluannya sudah mulai tegang lagi. Aku coba memasukan dua jariku dan aku putar-putar, rasanya enak sekali. Setelah bisa masuk tiga jari lalu aku mengoleskan sabun tersebut ke batang kemaluan Oki, dan aku menyuruhnya memasukkan batang kemaluannya ke duburku. Oki mencoba memasukannya ke dalam duburku. Agak perih dan sakit, rasanya ada sesuatu yang mendorong masuk ke dalam usus besarku. Oki sedikit meringis mungkin perih dan sedikit seret, dia mulai ragu-ragu mungkin melihat aku merasa kesakitan tapi kemudian aku dorong dengan paksa pantatnya sakit tapi aku merasakan nikmat saat semua batang kemaluannya masuk ke dalam duburku panas dan usus duburku terasa penuh oleh batang kemaluannya, Oki mendesah kemudian terdiam tidak tahu harus bagaimana.

Setelah aku merasa sedikit terbiasa aku suruh Oki menggerakkan pantatnya maju mundur, batang kemaluanku sendiri sudah ikut tegang dari tadi. Oki menggerakkan pantatnya maju mundur sambil mengerang nikmat,
"Terus Ki ahh.. enak sekali dorong yang keras Ki ahh.. sshh.. ahh Oki.. ahh.."
"Mas enak sekali Mas akh.. Oki mau keluar nih Mas.."
Gerakan Oki bertambah cepat dan aku pun merasakan nikmat yang luar biasa, dan sepertinya ada sesuatu yang mendesak keluar dari batang kemaluanku,
"Ahh.. Mas Oki kelu.. akhh.."
Aku merasakan nikmat yang berlipat ganda dari duburku yang kurasakan ada semburan panas menyembur ke usus besarku.

Kemudian Oki masuk ke kamarku dan laluu menjatuhkan dirinya ke tempat tidurku, aku mendekatinya dan mengoleskan sabun cair ke duburnya dan juga ke batang kemaluanku. "Ki giliran aku ya", Oki cuma tersenyum. Kemudian aku langsung mencoba memasukkannya ke dalam duburnya, sedikit seret, lalu suruh oki mengangkat kakinya dan memegang bawah lututnya. Aku tambahkan sabun cair ke duburnya sambil kedua tanganku masuk, kemudian aku mencoba memasukkan batang kemaluanku lagi, seret dan perih yang pertama aku rasakan tapi aku tetap penasaran dan dengan sekali sentakan aku masukan batang kemaluanku ke duburnya, "akhh.." aku dan Oki mengerang bersamaan sakit tapi enak. Aku menindih tubuh Oki dan bertopang pada ke dua tanganku sambil pantatku bergerak naik turun menghujam duburnya Oki. Gerakanku aku percepat saat batang kemaluanku mau meledak dan aku hujamkan batang kemaluanku sedalam mungkin di dubur Oki, "Engkhh.. aakkhh.." batang kemaluanku menyemburkan maninya ke dalam dubur Oki dan kurasakan bagian pusarku juga ada cairan kental yang menyembur, ternyata Oki menyemburkan maninya lagi.

Aku menjatuhkan tubuhku di atas tubuh Oki dan setelah kurasakan semua kenikmatan itu sudah mulai hilang dan batang kemaluanku mengecil lagi aku cabut batang kemaluanku, kemudian aku menjilati sisa-sisa mani di perut dan batang kemaluannya bau tapi nikmat, begitu juga Oki menjilati batang kemaluanku sampai beris. Kemudian aku berbaring di samping Oki, dan kami pun tertidur karena kelelahan. Kami bangun kesiangan, dan akhirnya Oki membolos kuliah dan aku menelepon ke sekolahnya kalau Oki sedang sakit. Kemudian kami mandi bersama-sama, di kamar mandi aku mengajarinya melakukan onani. Sejak saat itu kami sering melakukannya baik onani dan oral sex dengan berbagai variasi. Tapi anal sex kami merupakan yang pertama dan terakhir soalnya aku nggak mau ambil resiko dengannya, lagi pula menurutku lebih enak melakukan onani dan oral sex lebih aman dan lebih bersih.

Tamat
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com