Minggu, 18 Juli 2010

Triastuti - Hilangnya kehormatan - 2



Tiba-tiba Mr. Gulam melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Tri yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya Tri dari atas meja dan kemudian Mr. Gulam gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Tri ke bawah, sehingga sekarang posisi Tri berjongkok di antara kedua kaki berbulu Mr. Gulam dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Tri sudah tahu apa yang diinginkan Mr. Gulam, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Mr. Gulam telah meraih belakang kepala Tri dan dibawa mendekati kejantanan Mr. Gulam, yang sungguh luar biasa itu.

Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Tri, kepala penis Mr. Gulam telah terjepit di antara kedua bibir mungil Tri, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Tri mulai mengulum alat vital Mr. Gulam ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki India itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Tri yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Tri hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan Tri bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Tri menyapu kepalanya.

Beberapa saat kemudian Mr. Gulam melepaskan diri, ia mengangkat badan Tri yang terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas meja dengan pantat Tri terletak di tepi meja, kaki kiri Tri diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Mr. Gulam mulai berusaha memasuki tubuh Tri. Tangan kanan Mr. Gulam menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan Tri, hingga Tri merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Mr. Gulam terus berusaha menekan senjatanya ke dalam kemaluan Tri yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Mr. Gulam yang besar itu.

Pelahan-lahan kepala penis Mr. Gulam itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan Tri. Ketika kepala penis lelaki India itu menempel pada bibir kemaluannya, Tri merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Ia berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan Tri yang sedang gamang dan gelisah itu, dengan kasar Mr. Gulam tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Tri, rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Tri yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Tri. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Tri terdengar jeritan halus tertahan, "Aduuh!, oohh.., aahh", disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Tri mencengkeram dengan kuat pinggang Mr. Gulam. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diri Tri, hingga badannya mengejang beberapa detik.

Mr. Gulam cukup mengerti keadaan Tri, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Tri untuk bisa menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu. Tri mulai bisa menguasai diri. Beberapa saat kemudian Mr. Gulam mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki India itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Tri berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Tri mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap lelaki India yang sedang menatapnya, dengan takjub. Tri berusaha bernafas dan ..:" "Paak.., aahh.., oohh.., sshh", sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

Tri sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Mr. Gulam menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuat Tri melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Mr. Gulam menarik penisnya keluar, Tri merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Mr. Gulam menekan masuk penisnya ke dalam vagina Tri, maka klitoris Tri terjepit pada batang penis Mr. Gulam dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis Mr. Gulam yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Tri menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Lelaki tersebut terus menyetubuhi Tri dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Tri dan meremas-remas kedua payudara Tri secara bergantian. Tri dapat merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku. Tri bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki India itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Tri selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Mr. Gulam yang super besar itu. Tri menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki India itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Mr. Gulam terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

Lalu tiba-tiba Tri merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan ketika bersetubuh dengan pacarnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Tri merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster India itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan vaginanya menyerah dalam suatu penyerahan total.

Tri berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi.., tidak bisa, ini terlalu nikmat.., proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada Tri masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam vaginanya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Tri merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.

Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya Tri membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, "Oooh.., ooh.., aahhmm.., sstthh!". Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan.., akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Tri terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitam besar Mr. Gulam tetap terjepit di dalam liang vaginanya.

Selama proses orgasme yang dialami Tri ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Mr. Gulam, dimana penisnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Tri dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepala penisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Tri, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaan Mr. Gulam seakan-akan menggila melihat Tri yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Mr. Gulam membalik tubuh Tri yang telah lemas itu hingga sekarang Tri setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Mr. Gulam. Mr. Gulam ingin melakukan doggy style rupanya. Tangan lelaki India itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Tri yang kini menggantung ke bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala penisnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Tri pada permukaan lubang anus Tri yang menimbulkan suatu sentakan kejutan pada seluruh badan Tri, kemudian menempatkan kepala penisnya pada bibir kemaluan Tri dari belakang.

Dengan sedikit dorongan, kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan Tri. Kedua tangan Mr. Gulam memegang pinggul Tri dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Tri tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki Tri dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik pinggul Tri ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Tri, "Oooh!", penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginanya dan Mr. Gulam terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Tri yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Mr. Gulam memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vagina Tri yang ketat itu. Sebagai seorang wanita Jawa yang setiap hari minum jamu, Tri memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini Tri kewalahan menghadapi Mr. Gulam yang ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu.

Kemudian Mr. Gulam merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan Tri ditariknya duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan Mr. Gulam. Mr. Gulam menempatkan penisnya pada bibir kemaluan Tri dan mendorongnya sehingga kepala penisnya masuk terjepit dalam liang kewanitaan Tri, sedangkan tangan kiri Mr. Gulam memeluk pinggul Tri dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis Mr. Gulam menerobos masuk ke dalam kemaluan Tri. Tangan kanan Mr. Gulam memeluk punggung Tri dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Tri melekat pada badan Mr. Gulam. Kedua buah dada Tri terjepit pada dada Mr. Gulam yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Mr. Gulam. Kepala Tri tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulut Mr. Gulam bisa melumat bibir Tri yang agak basah terbuka itu.

Tri mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penis yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam vaginanya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Tri merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus.., terus.., Tri tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, Tri tak peduli lagi, "Aaduuh.., eehm", Tri memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Mr. Gulam. Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai itu mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosanya.

Kemudian kembali laki-laki itu menggendong dan meletakkan Tri di atas meja dengan pantat Tri terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai. Mr. Gulam mengambil posisi diantara kedua paha Tri yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan kanannya menuntun penisnya ke dalam lubang vagina Tri yang telah siap di depannya. Laki-laki itu mendorong penisnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Tri yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Mr. Gulam memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Tri yang terkapar lemas di atas meja.

Sementara lelaki India itu terus berpacu diantara kedua paha Tri, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penis lelaki tersebut. Tri benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si India yang perkasa itu. Tri kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 13.40, berarti telah 1 jam 40 menit dia menggarap gadis ayu tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam penisnya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung penisnya.

Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, "Agh.., terus", dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel ketat pada lubang anus Tri dan batang penisnya yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Tri. Dengan suatu lenguhan panjang, "Sssh.., ooh!", sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki India tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam vagina Tri. Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Tri yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga vaginanya. Tubuh lelaki India itu bergetar hebat di atas tubuh gadis ayu itu.

Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Mr. Gulam bangun dari atas badan Tri, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Tri. Setelah bersih Mr. Gulam menarik tubuh Tri yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka. Setelah merapikan baju dan celananya, Mr. Gulam menarik badan Tri dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisk ke telinga Tri, "Maafkan saya manis.., terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!", kemudian dengan cepat Mr. Gulam Singh keluar dari ruangan kerja Tri dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat kembali ke lantai 26. Jam menunjukan 13.55.

Sepeninggalan Mr. Gulam, Tri terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya. Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan dengan pacarnya, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu.

Tamat

Triastuti - Hilangnya kehormatan - 1



Triastuti bekerja sebagai sekretaris pada suatu group perusahaan besar di Jakarta. Kantornya terletak di bilangan daerah kelas satu, yaitu di jalan Jenderal Sudirman, di sebuah gedung bertingkat. Perusahaan tempat Tri bekerja, memakai 3 lantai penuh yaitu lantai 24, 25 dan 26 dari gedung tersebut. Ketiga lantai tersebut dihubungi dengan tangga khusus yang sengaja dibuat di bagian dalam dari perkantoran tersebut, untuk memudahkan hubungan antar perusahaan di group tersebut, tanpa mempergunakan lift. Kantor Tri terletak di lantai 25, dan ruangan tempat Tri bekerja terletak agak berdekatan dengan tangga penghubung ke lantai 24 dan 26.

Di tempat perusahaan-perusahaan lain dalam satu group, terdapat beberapa orang asing yang bekerja sebagai tenaga ahli dan kebanyakan mereka berkantor di lantai 26. Mereka ada yang berasal dari Philipina dan ada juga dari India serta Pakistan.

Sudah menjadi kebiasaan di kantor Tri di lantai 25, apabila setiap jam istirahat, yaitu dari jam 12 sampai jam 2 siang, maka para karyawan termasuk para pimpinan perusahaan keluar makan siang sehingga suasana di lantai 25 sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift, sambil juga bertindak sebagai operator sementara setiap jam istirahat. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak Tri mulai bekerja di kantor tersebut 4 bulan lalu, Tri lebih sering istirahat sambil makan makanan yang dibawa dari rumahnya, di ruang kerjanya sendirian. Hal ini rupanya sudah sejak lama diperhatikan oleh Mr. Gulam Singh, salah seorang tenaga ahli berasal dari India, yang bekerja di lantai 26. Mr. Gulam sering turun melalui tangga apabila dia pergi ke bagian pemasaran yang terletak di ruangan sebelah barat di lantai 25, sedangkan ruangan tempat Tri bekerja dan tangga penghubung terletak di ujung sebelah Timur lantai 25. Mr. Gulam sangat tertarik melihat Tri, karena Tri yang berumur 28 tahun, adalah seorang gadis Jawa, yang sangat cantik.

Dapat digambarkan sosok Triastuti adalah gadis bertampang Jawa, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit agak kuning langsat, tinggi badan sekitar 165 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan rambut hitam bergelombang terurai sampai bahu. Badannya tinggi semampai dapat dikatakan kurus dengan berat badan sekitar 47 kg, dadanya agak rata hanya terlihat tonjolan buah dadanya yang kecil, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang kecil tapi padat. Tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya. Apabila berjalan badannya terlihat sangat gemulai dan pembawaan Tri terlihat sangat kalem malah dapat dikatakan malu-malu. Mr. Gulam sendiri adalah seorang pria berumur mendekati 40 tahun, bekulit gelap dengan badan tinggi 178 cm dan besar, sedangkan kedua tangannya kekar terlihat berbulu lebat, apalagi pada bagian dada dan kakinya. Kedua pahanya terlihat sangat gempal.

Tri memang agak risih juga terhadap Mr. Gulam, karena setiap kali Mr. Gulam lewat depan ruangannya, Mr. Gulam selalu melirik dan melempar senyum kepada Tri dan kalau kebetulan Tri tidak melihat keluar, maka Mr. Gulam akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Tri akan terpancing untuk melihat keluar. Tri agak ngeri juga melihat tampang Mr. Gulam yang berewokan itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Tri telah mempunyai pacar, yang orang Jawa juga dan badan pacarnya agak ceking dan tidak terlalu tinggi, kurang lebih sama tingginya dengan Tri.

Sampai pada suatu hari, pada hari itu Tri ke kantor mengenakan baju terusan mini berwarna coklat muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut. Seperti biasa tepat jam 12 siang, para karyawan dan boss di lantai 25 sudah pada keluar kantor, sehingga di lantai 25 hanya tinggal Tri sendiri yang sedang makan siang di ruangannya. Tiba-tiba Mr. Gulam melintas di depan ruangan Tri dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Tapi seluruh lantai 25 ternyata kosong, semua karyawan telah keluar makan siang. Begitu melintas di pintu keluar satu-satunya yang menuju lift, Mr. Gulam memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Mr. Gulam kembali menuju ke ruangan Tri yang terletak di ujung Timur itu. Secara perlahan-lahan Mr. Gulam mendekati ruangan Tri dan mengintip ke dalam, Tri sedang duduk membelakangi pintu menghadap ke jendela kaca sambil makan.

Secara perlahan-lahan Mr. Gulam masuk ke dalam ruangan kerja Tri dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Mendengar suara pintu terkunci Tri menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. Dia segera berdiri dari tempat duduknya sambil berkata, "Sir, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?", tapi Mr. Gulam hanya memandang Tri dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa. Tri semakin panik dan berkata, "Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!". Tapi dengan kalem Mr. Gulam berkata, "silakan saja nona manis.., apabila anda mau menimbulkan skandal dan setiap orang di gedung ini akan mempergunjingkan kamu selama-lamanya". Mendengar itu Tri yang pada dasarnya agak pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal.

Sementara Tri berada dalam keadaan ragu-ragu, dengan cepat Mr. Gulam berjalan medekat ke arah Tri dan karena ruangan kerja Tri yang sempit itu, begitu Tri akan mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Dengan cepat kedua tangan Mr. Gulam yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Tri yang ramping dan mendekap Tri ke tubuhnya. Karena badan Tri yang sangat langsing dan dapat dikatakan tinggi kurus itu, lelaki tersebut merasakan seakan-akan memeluk kapas dan sangat ringkih sehingga harus diperlakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.

Mr. Gulam memegang kedua lengan bagian atas Tri dekat bahu, sambil mendorong badan Tri hingga tersandar pada meja kerja, kemudian Mr. Gulam mengangkat badan Tri dengan gampang dan sangat hati-hati dan mendudukkannya di atas meja kerja Tri, kemudian kedua tangan Tri diletakan di belakang badan Tri dan dipegang dengan tangan kirinya. Badan Mr. Gulam dirapatkan diantara kedua kaki Tri yang tergantung di tepi meja dan paha Mr. Gulam yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Tri terbuka. Tangan kiri Mr. Gulam yang memegang kedua tangan Tri di belakang badan Tri ditekan pada bagian pantat Tri ke depan, sehingga badan Tri yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Tri melekat rapat pada paha sebelah kiri Mr. Gulam yang berdiri menyamping di depan Tri.

Tangan kanan Mr. Gulam yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju terusan yang dikenakan Tri. Badan Tri hanya bisa menggeliat-geliat, "Jangan.., jangan lakukan itu!, stoopp.., stoopp", akan tetapi Mr. Gulam tetap melanjutkan aksinya itu. Sebentar saja baju bagian depan Tri telah terbuka, sehingga kelihatan dadanya yang kecil mungil itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan merangsang. Tangan kanan Mr. Gulam bergerak ke belakang badan Tri dan membuka pengait BH Tri. Kemudian Mr. Gulam menarik ke atas BH Tri dan.., sekarang terpampang kedua buah dada Tri yang kecil mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda agak tegang naik turun dengan cepat karena nafas Tri yang tidak teratur. "Ooohh.., oohh.., jaanggaann.., jaannggaann!". Erangan Tri tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah mulut Mr. Gulam mulai mencium belakang telinga Tri dan lidahnya bermain-main di dalam kuping Tri. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Tri menggeliat-geliat dan tak terasa Tri mulai terangsang juga oleh permainan Mr. Gulam ini.

Mulut Mr. Gulam berpindah dan melumat bibir Tri dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut Tri dan menggelitik-gelitik lidah Tri. "aahh.., hmm.., hhmm", terdengar suara mengguman dari mulut Tri yang tersumbat oleh mulut Mr. Gulam. Badan Tri yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Mr. Gulam sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Tri turun ke leher, kepala Tri tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Mr. Gulam, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki India tersebut.

Mr. Gulam langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara Tri, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Tri yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Mr. Gulam. Buah dada Tri yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Mr. Gulam yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Tri yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Tri menerima permainan Mr. Gulam yang lihai itu. Badan Tri terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan, "Ssshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., jangaann.., diiteeruussiinn", mulut Mr. Gulam terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting buah dada Tri secara bergantian selama kurang lebih lima menit.

Badan Tri benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badan Tri tersentak, karena dia merasakan tangan Mr. Gulam mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju mininya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Tri mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan untuk mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Mr. Gulam, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan oleh Tri adalah hanya mengerang, "Jaanngaann.., jaannggann.., diitteerruusiin", akan tetapi suaranya semakin lemah saja.

Melihat kondisi Tri seperti itu, Mr. Gulam yang telah berpengalaman, yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Mr. Gulam makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha Tri yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Tri. Segera badan Tri tersentak dan, "aahh.., jaannggaan!", mula-mula hanya ujung jari telunjuk Mr. Gulam yang mengelus-elus bibir kemaluan Tri yang tertutup CD, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Mr. Gulam menarik CD Tri dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Tri. Tri tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Mr. Gulam ini. Sekarang Tri dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai CD dan kedua buah dadanya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka Tri yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Kelihatan perasaan putus asa dan pasrah sedang melanda Tri, disertai dorongan birahinya yang tak terbendung melandanya. Melihat ekspresi muka Tri yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Mr. Gulam melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 12.30, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu setengan jam untuk menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Mr. Gulam sudah yakin bahwa dia telah menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.

Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Mr. Gulam, dengan tetap mengunci kedua tangan Tri, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan CD-nya. Pada saat CD-nya terlepas, maka senjata Mr. Gulam yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Mr. Gulam agak merenggangkan badannya, maka terlihat oleh Tri benda yang sedang mengangguk-angguk itu, badan Tri tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha lelaki India itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat yang melingkar, sangat panjang, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya kurang lebih 6 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti pohon jamur. Tak terasa dari mulut Tri terdengar jeritan tertahan, "Iiihh", disertai badannya yang merinding. Tri belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Tri merasa ngeri. "Bisa jebol milikku dimasuki benda itu", gumannya dalam hati. Namun Tri tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Mr. Gulam menatap muka Tri yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, "Kau Cantik sekali Tri..", gumam Mr. Gulam mengagumi kecantikan Tri.

Kemudian dengan lembut Mr. Gulam menarik tubuh Tri yang lembut itu, sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Mr. Gulam berdiri menghadap langsung ke arah Tri dan karena yakin bahwa Tri telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan Tri, dilepaskannya dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki Tri, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah paha Tri lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Tri yang telah terbuka itu. Nafas laki-laki itu terdengar mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Tri tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Mr. Gulam yang besar, Tri sendiri merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Mr. Gulam yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.

Sambil memegang kedua paha Tri dan merentangkannya lebar-lebar, Mr. Gulam membenamkan kepalanya di antara kedua paha Tri. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Tri yang yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Tri hanya bisa memejamkan mata, "Ooohh.., nikmatnya.., oohh!", Tri menguman dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. "Ooohh.., hhmm!", terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. "Paakk.., aku tak tahan lagi..!", Tri memelas sambil menggigit bibir.

Sungguh Tri tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh orang India yang kasar itu dengan gampang dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Mr. Gulam yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya lelaki India itu tidak peduli, bahkan amat senang melihat Tri sudah mulai merespon atas cumbuannya itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Tri, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara Tri dengan sangat bernafsu.

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Mr. Gulam ini, Tri benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. "Paakk.., aakkhh.., aakkhh!", Tri mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Mr. Gulam untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Mr. Gulam keras-keras. Kini Tri tak peduli lagi akan bayangan pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki India itu sebenarnya sedang memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Wanita ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan laki-laki India yang dapat membangkitkan gairahnya.

Bersambung . . .

Tirai perkawinan yang terkoyak - 4



Sampai di sini Dina pun tak tahan lagi. Sekujur tubuhnya yang miring membelakangi suaminya itu tergetar hebat oleh pancaran dahsyat arus birahi nan melanda dirinya demi melayani keliaran dan kebuasan pelir lelaki tua tersebut. Kaki kanannya yang terjuntai tadi bergerak menendang-nendang di udara dengan semua otot-otot tubuhnya menegang sudah. Kedua terlapak kakinya yang mulus putih itu tertekuk kaku sudah mewarnai puncak orgasme keduanya nan telah tiba. Dudung pun merasa kontolnya makin dipijit-pijit dahsyat dalam kenyamanannya pada vagina sang gadis belia, namun sebagai lelaki berpengalaman yang sering melakukan permainan syahwat dia masih dapat mengendalikan orgasmenya sendiri.

"Aarghh! Ouaafrghh..!!"
"Oh.. Uoohh.. Dina istriku.. Enak sekali punyamu Sayangghh.."
"Uffh.. Affghh.."
"Aku senang kau bisa merasakan surga dunia pula bersamaku.. Ayo kita ganti gaya.."

Tubuh sensual milik Dina didudukkan di atas pangkuan Dudung kini setelah rok abu-abu beserta celana dalamnya dilucuti semua hingga telanjang bulat sudah. Tangan-tangan liar Dudung tak lepas jua dari belahan dada gadis itu yang tengah mekar meranum di usia belianya dan terus meremas-remas dan memilin puting payudara indah mungil namun merangsang kepunyaan dara manis ini.

Dari bawah pantat Dudung turun naik seakan mengulek memek istri termudanya yang telah takluk itu dari bawah. Tiada sekejap pun batang pelir Dudung beristirahat di bagian paling pribadi di tubuh Dina, terus saja melaksanakan aksi ganasnya keluar masuk pada liang selangkangannya nan sudah berair santan kembali. Pada bongkahan pantat Dina, sepasang buah pelir Dudung yang bergoyang-goyang itu sudah terlumuri pula dengan cairan santan putih istri mudanya nan menandakan gadis itu kini telah menikmati pula permainan asmara paksa tersebut.

Kepala Dina terayun ke kanan dan ke kiri menyibakkan rambut hitam panjangnya nan melewati bahu ke setengah punggungnya seperti terlecut-lecut disodok-sodok oleh Dudung. Air mata telah kering dari kedua belah pipinya yang halus mulus. Mungkin ia sudah berusaha menyesuaikan perlakuan sang suaminya dan liang sanggamanya mulai terbiasa dengan ukuran pelir Dudung. Bibir memeknya mengembang dan menyusut sebentar seperti menelan batang pelir itu, tapi secepat itu pula seakan memuntahkannya terus menerus dan berulang kali tak terhitung sudah banyaknya. Tatapan mata Dina sudah sendu padanya di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya yang mungil itu, namun Dudung bertekad sebelum ia membuahi peranakan istrinya, tak akan ia lepaskan ikatan itu terlebih dahulu.

Malahan lelaki tua ubanan yang bopeng itu semakin gencar saja mengoyak-ngoyak isi dalam lubang sanggama istrinya nan terus mengempot urat-urat kelelakiannya yang bersemayam sekian lama mengisi keheningan malam. Denyut vagina Dina memang lain daripada yang lain, namun tak percuma Dudung yang berasal dari madura nan terkenal dengan ramuannya yang telah ia minum terlebih dahulu sebelum memperkosa istrinya ini. Keperkasaan tubuh tuanya masih dapat mengimbangi pelayanan memek gadis ini nan memberi fantasi birahi terdahsyat selama hidupnya yang pernah ada. Bahkan tubuh ramping nan polos milik Dina dalam ketelanjangan di atasnya kembali dibuat meraih orgasmenya lagi.

Tubuh bugil gadis itu telah jatuh tertelungkup dalam dekapan Dudung seakan semua tulang-tulangnya telah terlolosi pada seluruh sendi-sendinya. Dudung segera membalikkan tubuh mungil istrinya hingga telentang di sebelahnya, kemudian ia bangun dan membuka kembali belahan paha Dina sampai kedua kakinya mengangkang lebar. Memeknya yang basah sudah bolong seukuran kontolnya, ia pun sudah tak melihat lagi selaput dara bulan sabit kembar yang tadinya dimiliki oleh istri termudanya ini. Banggalah Dudung menikmati pemandangan tersebut, sebab kini dialah lelaki pertama yang mengisi hidup Dina sekaligus mengenalkan gadis itu dengan permainan cinta dua insan nan terpaut umur sangatlah jauh ini.

Dudung menempatkan pinggulnya di antara celah paha yang terbuka itu lagi, kedua kaki dan tangan Dina ditempelkan pada pinggangnya sampai mengepit di situ. Dia kembali lagi melakukan haknya sebagai suami untuk mencurahkan segenap hasratnya yang akan ditumpahkan ke rahim istrinya yang seharusnya berkewajiban melayani kemauan dan kehendaknya tanpa harus dipaksa seperti pada apa yang terjadi di malam ini. Ia kembali menembusi dasar belahan surga dara belia itu lagi dan pelirnya tetap harus mentok seperti tadi, tidak bisa maksimal! Tapi ia senang sekali.. Sebab dasar vagina seorang gadis usia sekolah seperti layaknya Dina ini benar-benar sukar untuk dilukiskan dengan untaian kata-kata apapun!

Sang malam pun sudah merambah jauh dari puncak kepekatannya dan hening pun masih menyelimuti kawasan rumah besar nan mewah dimana kedua insan itu berada. Tidak seorang pun yang tahu bahwa di malam nan sepi itu telah terjadi pemaksaan kehendak sang suami kepada istrinya dalam ikatan benang merah perkawinan. Senandung balada birahi Dudung dan Dina masih mewarnai permainan ranjang pasangan suami istri ini nan belum juga berujung.

Kini di atas ranjang Dudung berdiri dengan badan tertekuk sedikit ke belakang dengan kedua tangan kekarnya menahan kedua tungkai kaki serta tubuh telanjang istrinya yang terkangkang di pelukannya. Punggung Dina menempel ketat pada dada bidang serta perut milik Dudung yang kekar berotot serta berbulu agak lebat itu. Dalam posisi sedemikian rupa inilah Dudung kini mengentoti istri ketiganya ini dengan sangat gagah perkasa.

Kedua belah kaki Dina yang tergantung tampak bergoyang-goyang pasrah dan lemas dalam pelayanan seorang istri nan telah takluk sepenuhnya pada sang suami ini. Tubuh bugil miliknya telah lunglai bersimbah peluh nafsu durjana dari sang dukun pengobatan, sebab sudah terhitung empat kali gadis itu orgasme dibuatnya. Rasanya.. Lendir memek dan cairan air santan kelapa kepunyaannya sudah tercurah habis dari tubuh mungilnya ini, namun Dudung masih tiada henti menyetubuhinya hingga larut menjelang pagi. Setelah dirasa istrinya telah benar-benar lunglai dalam gendongannya serta terkuras habis seluruh tenaganya, barulah Dudung mulai mendekati orgasmenya sendiri.

Dina kembali direbahkan di ranjang nan penuh noda perkawinan sepasang insan yang tak layak oleh perbedaan usia itu, sementara Dudung berada di atas menindih tubuh telanjang mungil istrinya yang kedua belah tungkai kakinya dikunci dengan tangan-tangan kekar tuanya. Sodokan pada vagina gadis itu semakin kuat dan gencar mengayuh biduk-biduk birahi yang menyala sedemikian membaranya. Kelentit dara itu pun semakin mengembang kembali dalam kebasahannya nan sensual di mata suaminya yang sibuk mempersiapkan moment terakhir ritual persebadanan itu. Sepasang testis suaminya tampak menampar-nampar dengan keras lubang anus dara itu yang berada di bawahnya dalam persetubuhan liar nan penuh nafsu badani tersebut.

Dudung pun tahu bahwa istri mudanya ini sedang menuju pula ke orgasmenya yang terakhir dan ini ditunjukkan oleh jepitan kedua belah kaki dara belia itu pada kedua belah pinggangnya kiri dan kanan yang semakin bertambah kuat menekan panggul dan pantatnya dengan kedua jari-jari kakinya bersilangan mengunci dirinya. Tangan Dina pun mencengkram lengan Dudung menahan rasa geli dan gatal yang menyerang kembali vaginanya nan berdenyut-denyut hangat menelan keberadaan penis suaminya. Dan.. Tubuh lelaki tua itu pun menegang sudah, tertekuk seperti udang di atas sang dara cantik yang diangkat pinggulnya sampai tidak lagi menempel di kasur ranjang. Tubuh sang dukun ini langsung berkelojotan mencurahkan segenap hajatnya ke dalam rongga peranakan istrinya. Seluruh air mani Dudung muncrat-muncrat tanpa bisa dikendalikan lagi olehnya mengisi setiap kisi dan celah lorong hangat sejuta kenikmatan surgawi kepunyaan Dina.

Gadis inipun menggelepar-gelepar laksana ikan dari kolam yang dilemparkan ke tanah nan kering bersamaan dengan semburat pertama mani lelaki itu di rahimnya. Dina pun meraih orgasme terakhirnya bersama-sama dengan sang suami yang telah memberikan kepuasan padanya berkali-kali dalam semalam ini. Kedua tubuh telanjang nan larut dalam persetubuhan panjang itu ambruk seketika pada luapan puncak persanggamaan penuh paksa ini bersimbah dengan tetesan peluh kenikmatan mereka masing-masing.

Kontol Dudung masih menancap di lubang memek Dina dan ia tak rela kalau air maninya sampai tersia-sia, jadi sampai tetesan terakhir ia rembesi untuk mengisi rongga peranakan gadis itu. Akan tetapi tubuh mungil Dina mana mampu menampung sperma suaminya yang tercurah sekian banyak dalam lubang kemaluannya. Belahan bibir memeknya yang masih merekah menelan pelir Dudung telah kebanjiran oleh cairan mani lelaki tua itu. Maka tak heran jika cairan sperma dukun tua itu sampai meleleh ke bawah membasahi lubang anus dan bokong putihnya serta menetes-netes di sprei ranjang perkawinannya.

*****

"Mas Dudung! Jangan!"

Dina terbangun dari tidurnya, tetapi ia mendapati tubuh bugilnya kembali menungging dengan kedua tangannya kini terikat ke belakang punggungnya. Padahal baru jam tiga pagi sekarang, berarti ia cuma tertidur beberapa jam saja. Dirasanya jari-jari suaminya sedang membuka belahan pantatnya dan tengah melumuri lubang anusnya dengan lelehan madu, setelah itu dijilatinya sambil menikmati aroma manisnya.

"Jangan Mas! Khan jijik.. Jangan di situ ahh..", rengek Dina lagi.
"Diam kamu! Mana kewajibanmu sebagai istri hah?! Sekarang layani aku lagi.."
"Ampun Mas Dudung.. Aku masih capai sekali Mas.. Auh!"

Percuma saja Dina memohon untuk kedua kalinya, Dudung malah semakin menguakkan lubang pantatnya yang sempit dan kecil mirip kelip bintang di angkasa itu serta lidahnya menyusup gencar di dalam celah duburnya. Kalau lelehan madunya sudah habis dijilatnya, Dudung melumuri kembali dengan tetesan yang baru lalu dijilatinya lagi berulang-ulang. Betapa nikmat cara lelaki tua ini mempermainkan istri termudanya ini.

Dina menggelinjang mulai keenakan menerima sensasi baru lagi yang diberikan Dudung padanya. Lubang pantatnya serasa diceboki oleh lidah lelaki tua itu yang nafsu dan keliarannya tak jua berhenti di malam menjelang pagi hari ini. Dudung tertawa dalam hatinya, Hmm.. Kapan lagi aku dapat mencobai pantat perempuan muda seperti Dina ini, sebab kalau dari istrinya yang menjanda itu, tidak pernah sekalipun ia mau merelakan pantatnya dicucup seperti ini. Istri yang satunya lagi juga begitu, jijik katanya, cuih! Payah banget..

Lambat laun lubang vagina di bawahnya kembali dipenuhi oleh air kemaluannya di luar kesadaran Dina sendiri tubuhnya bereaksi atas perlakuan suami tuanya itu. Wajah keriput Dudung membenam di memek Dina untuk kembali menyedot cairan getah bening yang berasal dari rongga peranakannya, sayang untuk dilewatkan begitu saja lendir vagina ini. Somad! Aku akan memperawani juga anus putrimu ini.. Lihat saja sekarang.. Umpat Dudung lagi dalam hati. Setelah itu kontolnya diarahkan ke jalan masuk celah anus yang telah ia buka dengan kedua ibu jarinya, kemudian mendorong dengan tenaga penuh pada pinggangnya.

"Ahh! Ampun Mas Dudung! Sakit.. Sakitt! Auhh! Perih Mas.. Jangan di situ! Ampun..!!"

Dudung tak menanggapi rengekan istrinya, ia malah mengambil sebotol minyak miliknya untuk kemudian mengolesi lubang pantat gadis itu sebanyak-banyaknya. Ditusukkan lagi batang pelirnya yang sudah tegak berdiri mengacung ke dalam sempitnya anus Dina.

"Akhh! Jangan keras-keras Mas! Pedih! Akhh! Nyeri sekali.. Aduh!!"

Sudah sepertiga batang kejantanannya menyelusup masuk ke dalam dubur istrinya yang penuh sesak namun legit dan hangat sekali. Dudung mengeluarkan sedikit pelirnya, lalu digenjotnya lagi sampai separuh penisnya melesak ke lubang pelepasan dara belia yang tengah diperawani anusnya itu. Sesudahnya suara Dina sudah tak terdengar lagi, sebab ia telah tak sadarkan diri menahan rasa sakit pada anusnya yang diperkosa oleh sang suami.

Dudung tak peduli akan hal itu, ia bahkan tersenyum menyeringai puas dapat merasakan mengentot Dina melalui lobang pantatnya yang sangat lezat. Dara itu masih berusia delapan belas tahun, tentu saja lubang pantatnya masih terasa ketat menjepit pelir Dudung. Kontol Dudung yang keluar masuk masih terasa kesat dan peret sekali di dalam poros usus perempuan muda ini. Otot bibir anus gadis itu membentuk lingkaran cincin sungguh mengunci kuat-kuat batang penisnya yang keluar masuk di dalamnya.

Kini sudah dua pertiga kontol itu menembusi lubang pantatnya nan mungil menawan ini. Minyak yang tadinya melumasi dubur gadis itu sudah mengering, tapi sudah mulai terganti dengan lendir lengket yang berasal dari lubang hajat Dina kini. Dudung seakan tertunaikan keinginannya untuk menyetubuhi anus wanita dan ia semakin menjejalkan seluruh batang pelirnya sampai semua tonggak kejantanannya benar-benar amblas terbenam ke dalam lorong pelepasan sang dara cantik ini. Sangat enak nian anus si Dina ini mencengkeram erat batang kontolnya dari ujung hingga pangkal selangkangan Dudung. Lelaki tua itu bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru, terus dimainkannya tubuh istrinya ini laksana seorang budak pemuas nafsu saja.

Tangan kekarnya mencengkeram erat-erat pinggul istrinya yang pingsan ini sambil terus mengaduk-aduk isi belahan dalam anal nan disenggamainya dengan sangat liar tak terkendali lagi melampaui akal sehatnya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Dudung tak melihat tetesan air mata istrinya mengalir membasahi kedua pipinya kembali yang merembes saat detik-detik terakhir sebelum ia jatuh pingsan. Dukun tua itu malahan berterima kasih pada wangsit dari gurunya yang begitu sangat menguntungkan dirinya dapat mempersunting Dina sebagai istri ketiganya yang sah. Dudung semakin larut dalam kemaksiatan nafsu birahi rendah nan menjurus ke arah kebrutalan. Kontolnya terus mengayun-ayun mengulek-ulek keberadaan anus Dina nan sudah tiada daya sama sekali dalam rengkuhannya.

Bibir anus gadis belia ini mengembang dan menguncup semakin memerah disodok-sodok oleh kelelakian sang dukun. lubang pantatnya memonyong dan mengempot berkesinambungan seakan tengah mengunyah keluar masuk kontol sang lelaki tua itu yang sudah keriput dimakan usia. Batang zakar Dudung telah basah berlumur lendir lengket anus istri mudanya nan lezat tak tertandingi dibandingkan dengan istri-istrinya yang lain.

Akhirnya setelah lama menyodomi anus Dina, Dudung pun memuntahkan segenap sisa-sisa air maninya yang telah diproduksi oleh sepasang testisnya hari itu ke dalam celah lorong lembab nan lengket pada pantat sang gadis belia ini, kemudian tubuh lelaki tua itu terhempas lemas pada hamparan kasur empuk ranjang mewah di rumah besar mahligai perkawinan mereka.

*****

Tangan halus yang menyisakan garis-garis merah tak beraturan di pergelangannya itu tampak bergetar memegang sebatang pena, sementara di sebelahnya masih mendengkur lelaki tua keriput kurus dengan wajah bopeng serta rambut ubannya yang telah resmi menjadi suami sahnya. Lembaran buku itu sesekali ditetesi oleh air yang jatuh dari kedua pelupuk matanya yang sembab sembari terus menulis kata demi kata di diary-nya. Hanya itulah satu-satunya tempat mengadu dari gadis yang bernama Dina itu kini tentang pernikahannya yang sama sekali tak lumrah di mata umum serta dirasanya bahwa tirai perkawinannya telah terkoyak sebelum waktunya.. Sebelum kesiapannya menerima kehadiran lelaki itu dalam hari-hari dan kehidupannya.. Apalagi membalas tulus dengan sesuatu hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan insan di belahan dunia ini.. Yaitu, C I N T A.

Tamat

Tirai perkawinan yang terkoyak - 3



Liang itu masih membasah pada dinding-dinding dalamnya dengan cairan bening lengket di sana-sini. Baunya sangat sedap di penciuman Dudung kala ia mendekatkan hidungnya di belahan indah yang ia rekahkan dengan jari-jarinya. Aromanya sangat nyata terpancar dari dalamnya, begitu memancarkan keharuman nan pekat bercampur dengan bau pesing yang memikat. Namun wanginya tentu sangatlah jauh melebihi kedua istri tuanya yang sudah mendekati masa menopause. Tak heran karena kemaluan Dina masih suci serta belum pernah disetubuhi oleh lelaki, tentu saja baunya masih sangat sembab asli perawan murni!

Siapa yang tahan menyaksikan pemandangan itu begitu lama? Dan ini pun berlaku juga buat si Dudung yang langsung menyelipkan lidahnya di antara celah keintiman istri mudanya untuk kemudian melahap lendir bagian terlarang itu dengan rakus dan lahap. Sruph! Sruph! Dihirupnya air madu di selangkangan Dina untuk kemudian di telannya tanpa rasa jijik sama sekali olehnya di antara geliatan-geliatan sensasi geli yang dirasakan istrinya tersebut, padahal rasanya agak-agak asin sedikit.

Dina semakin berkelojotan diperlakukan demikian, bahkan semakin Dudung gencar menjilati belahan kegadisannya, lendir kemaluannya juga terus-terusan mengalir dari dalam selangkangannya. Bokongnya turut bergerak-gerak seirama jilatan lidah Dudung yang seakan mengorek-ngorek isi belahan kegadisannya nan intim. Selain itu kedua tangannya sibuk pula mengelusi bongkahan pantat Dina nan menyesaki rongga-rongga dada Dudung yang dipenuhi birahi hebatnya selama ini.

Ingin rasanya Dudung segera menikmati kepunyaan Dina, namun ia tak mau terburu-buru melaksanakan niatnya, apalagi langsung main hantam kromo. Dia ingin membuat Dina juga sama-sama menikmati permainan asmara ini berdua dengannya nanti, karena itulah janji yang telah ia ucapkan kepada penghulu maupun kepada ayah dan ibu Dina, bahwa ia akan membuat Dina bahagia dengan perkawinannya. Selain itu situasi rumah kini mendukung sekali niat Dudung untuk menggauli istrinya malam itu seiring dengan pekatnya malam nan mulai temaram dengan kedinginannya.

Dengan kelincahan lidahnya yang menari-nari di dalam belahan liang kegadisan milik Dina, Dudung juga mengait-ngait kelentit dara belia muda ini sehingga tampak melejit-lejit dibuatnya. Umbai itilnya turut bergoyang-goyang seirama ulasan lidah suami tuanya yang sah. Rasanya sungguh membuatnya lupa daratan, bagaikan di tengah laut lepas terombang-ambing tak bertepi hanyut dalam gerakan badai ombak ganas namun serasa lembut di awang-awang. Semakin lama kelentit dara itu mengembang memerah terisi oleh buluh-buluh darahnya nan tersirap sudah di pangkuan wajah suami tuanya.

Diam-diam Dina membatin dalam dirinya dengan hati berkecamuk antara kebenciannya pada Dudung serta gejolak pada tubuhnya nan seperti tak bisa ia bendung lagi. Tubuh dara yang menungging terikat itu bergetar hebat diperlakukan sedemikian rupa. Seluruh urat-urat di tubuhnya yang setengah telanjang itu seakan bereaksi menjadi satu menciptakan sebuah gelombang besar yang siap meletup setiap saat. Semakin ia berusaha menekan rasa itu, semakin beratlah ia menanggung derita karenanya. Celah keintimannya semakin berdenyut-denyut disertai rasa gatal nan menyerang berkepanjangan.

Perlahan-lahan kedua belah telapak kaki indahnya menekuk hingga tampak berjinjit di hamparan sprei putih mahligai cinta rumah persembahan orang tuanya untuk mereka. Getaran di tubuh mulusnya semakin kuat sampai mirip menyerupai geleparan-geleparan kecil. Otot-otot di perutnya yang ramping nan terbuka separuh telanjang itu terlihat berkedut-kedut seiring dengan bongkahan pantatnya yang semakin mengeras. Dudung pun mengetahui apa yang tengah menimpa istrinya sekarang dan ia pun menambah kuluman serta jilatannya mengulas ke segenap penjuru daerah keintiman istrinya yang terlarang bagi lelaki lain selain dirinya yang telah disahkan resmi sebagai suaminya.. Itulah keuntungan terbesarnya malam ini.

"Ouggh! Efhh.. Ouh.. Aaffrghh!!"

Itulah jeritan gadis sekolah berusia 18 tahun saat di ambang puncak kenikmatannya yang tak tertahankan lagi seiring dengan banjirnya isi lubang kemaluannya nan kini sarat dengan cairan putih seperti air santan kelapa. Lendir itulah yang kiranya dinanti-nantikan oleh Dudung sejak tadi, sebab air kemaluan orgasme seorang perawan dianggap berkhasiat sebagai obat awet muda serta dapat menguatkan kembali keperkasaan lelaki.

Serta merta disedotnya air santan yang mengalir dari lubang berbulu basah milik sang istri mudanya itu bak orang haus di padang pasir saat meneguk air oase pada sela-sela pinggul dara itu yang masih berkelojotan melepas luapan puncak birahi pertamanya di hadapan sang suami. Curahan air santan itu bersemburat lewat isi dalam liang kemaluannya yang dilihat Dudung berdenyut bahkan cenderung mengempot. Dudung pun terkesiap melihat empotan pada lubang kemaluan Dina yang masih utuh dengan selaput keperawanannya sambil berpikir.. Seperti inikah?

Dina pun terkapar dalam keadaan masih menungging di ranjang bersimbah peluh di sekujur tubuhnya merasakan sisa-sisa kenikmatan duniawi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Baru kali ini ia mencapai keadaan surgawi dunia perkawinan, padahal suaminya belum lagi menyebadaninya. Gadis itu terlena beberapa saat sehingga ia sama sekali tak sadar bahwa Dudung di belakangnya tengah mengambil posisi berlutut pada bokongnya nan terhidang sambil menggenggam batang pelirnya yang telah tegang mengacung.

Batang pelirnya berukuran cukup panjang di usia senjanya itu dan sudah mempunyai jam aksi yang sangat banyak bersama kedua istrinya terdahulu. Kepala kejantanannya diarahkan tepat pada celah masuk gerbang surga sang dara belia nan cantik yang sungguh mempesona dirinya, sebab saat itu dirasanya paling tepat untuk memulai penetrasinya pada Dina yang memeknya sudah sembab membasah tertimpa oleh orgasme pertamanya sendiri barusan.

Daging kepala kontolnya telah lekat pada pintu masuk belahan kemaluan sang istri dan dalam kondisi siap untuk melakukan ritual persetubuhan dengannya. Ujung penisnya yang seperti helm baja serdadu itu sudah terarah sepenuhnya ke belahan selaput bulan sabit kembar kepunyaan Dina istrinya nan masih perawan tersebut. Gadis itu terhenyak ketika Dudung menghentakkan pinggulnya berusaha menembus gerbang pintu surga miliknya yang paling berharga. Namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dalam kondisi terikat erat kedua tangan dan kakinya, apalagi Dudung mencengkeram kuat-kuat pinggang rampingnya dimana rok abu-abunya masih melekat tersibak di situ.

Dina hanya bisa melenguh kesakitan saat suaminya mulai menodainya. Berkali-kali pelir Dudung terpeleset-peleset ketika dihunjamkan ke dalam lubang memek berbulu basah itu. Dara itu pun hanya dapat menjerit dalam bungkaman sumbatan sapu tangan di mulutnya. Peluh keduanya telah mengucur membasahi sprei ranjang perkawinan mereka malam itu. Dudung pun baru tahu bahwa ternyata memperawani seorang gadis akan sesulit ini. Tapi kepalang tanggung sudah, ia terus berusaha sekuatnya menembus benteng pertahanan istri ketiganya itu dengan gencar. Akhirnya topi baja sang dukun pengobatan ini berhasil jua terjepit oleh bibir memek Dina yang perawan.

Kini dirasa oleh Dudung bahwa ujung kontolnya telah bersentuhan dengan selaput dara gadis bidadari impiannya itu. Sudah terasa hawa hangat mengaliri daging kepala pelirnya dan memberikan rasa nyaman yang sukar dilukiskan. Perlahan ia menekan selangkangan Dina dengan kekuatan pinggulnya nan berotot dan kontolnya mulai melesak masuk ke dalam kemaluan istri termudanya ini. Dina menggigit kuat-kuat saputangan penyumbat mulut mungilnya berusaha menahan pedih pada memeknya yang mulai dijejali pelir lelaki tua itu. Wajahnya yang terpuruk pada kasur dihentak-hentakkannya ke kiri dan kanan menghalau rasa sakit saat selaput daranya mulai ditembusi oleh kontol lelaki yang hampir sebulan setengah telah menjadi suaminya itu.

Bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh Dina, Dudung malah merasakan nikmat nan amat sangat menjalari tonggak kejantanannya. Kontolnya serasa menembus sesuatu yang lunak basah namun sangat lembut dan begitu hangat saat daging keduanya berpadu. Tidak hanya itu, lelaki tua itu juga merasakan kontolnya seperti diurut-urut oleh daging hangat yang berdenyut-denyut menjepit kuat urat-urat kejantanannya ini. Semakin dalam kontolnya ia benamkan ke dalam celah memek yang penuh sesak itu, makin terasa hangatnya daging belia si Dina yang masih sekal dan ranum ini. Ketika masih menyisakan kira-kira satu setengah sentimeter dari pangkal selangkangannya yang berjembut ini, pelir Dudung telah berhenti sampai di situ.

Saat ia kembali menekan pinggulnya, tetap saja kontolnya sudah tidak dapat terbenam semuanya dan paling mentok sisa satu sentimeter saja. Agaknya kontol Dudung telah mentok ke dasar belahan memek gadis belia itu dan memang gadis seusia Dina lorong kemaluannya masih belum berkembang sempurna untuk menerima kehadiran kontol lelaki, namun itu bukan berarti mengurangi kenikmatan sama sekali jika bersanggama dengannya. Malahan lelaki akan merasa perkasa bila pelirnya mentok di dasar peranakannya. Itu memberi sugesti bahwa kejantanannya sungguh panjang dan kuat. Demikian pula dengan Dudung, ia pun bangga demi mendapati kontolnya mentok ke dasar belahan kemaluan gadis itu. Apalagi dasar memek Dina dirasanya begitu nikmat menahan helm bajanya kini.

Diremasnya kedua belah payudara Dina yang menggantung bebas itu sambil merasakan jepitan selaput daranya yang begitu menciptakan nikmat yang tak tertandingi dari apa yang didapat dari para istrinya terdahulu tanpa peduli lagi akan raungan yang tersumbat dari mulut istri terakhirnya ini nan sudah terpedaya di tangannya. Setelah puas barulah Dudung mencabut tonggak zakarnya dari lubang peraduan itu diiringi dengan genangan darah kesucian Dina yang membasahi kulit luar batang pelirnya. Sebagian lagi menetes-netes jatuh ke gumpalan celana dalam yang masih berkutat di paha putihnya nan mulus. Celana dalam putih berenda miliknya kini telah bernoda darah keperawanannya sendiri dan inilah yang diinginkan Dudung sebagai bukti penyerahan diri sepenuhnya dari sang istri kepadanya.

Setelah itu mulailah Dudung menggenjot tubuh Dina yang sudah mempersembahkan keperawanannya ini perlahan-lahan agar memek Dina yang masih terasa peret namun legit itu dapat menyesuaikan diri dengan ukuran pelirnya yang dikeluar-masukkan ke dalam lubang sanggama istri termudanya ini. Betapa hancur hati Dina demi mengetahui dirinya sudah berserah segala-galanya bagi lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu. Tak ada lagi sikap tinggi hatinya ketika kini dalam posisi sedemikian rupa ia dipaksa melayani kemauan sang suami yang menuntut haknya. Dina pun sadar bahwa sebagai seorang perempuan yang telah menikah berkewajiban untuk melayani sang suami termasuk pelayanan ranjang seperti dirinya sekarang.

Pertanyaan di benak Dudung terjawab sudah dengan apa yang dirasannya detik ini. Rupanya lorong merah kemaluan istrinya mempunyai kekhasan yang khusus dan jarang sekali bisa ditemui dari setiap memek wanita. Dinding lubang vagina gadis itu dapat mengempot-empot dan menyedot-nyedot kelelakian Dudung yang terbenam di dalamnya. Agaknya ini merupakan tanda lahiriah nan dimaksudkan oleh gurunya. Tentunya wanita seperti Dina ini dapat memuaskan seorang suami dengan keistimewaan yang dipunyainya itu. Dan Dudung pun merasakan hal itu seraya mengusap peluhnya di dahi dengan penuh rasa puas, sudah dapat perawan, bisa ngempot lagi memeknya!

Dudung begitu terlena oleh permainan asmara paksa dan siksa ini atas istri termudanya ini. Bibirnya mendesah-desah seperti orang yang kepedasan di antara laju batang pelirnya yang keluar masuk menggesek-gesek dinding vagina sang dara belia nan terus mengurut zakar tuanya. Perlawanan Dina sudah tiada lagi, yang ada tubuhnya hanya mengikuti hempasan-hempasan yang dilakukan oleh Dudung pada memeknya dalam keadaan menungging seperti anjing. Lelaki bermuka bopeng yang beruban di rambutnya itu pun sangat senang mendapati istrinya telah bertekuk lutut dan paha padanya kini dan ia semakin gencar mengayuh biduk-biduk birahinya yang tertunda sekian lama akibat sifat ketak-acuhan gadis ini pada dirinya.

Hmm.. Somad! Lihatlah..! Kini anak semata wayangmu ini sedang kugauli di kamar rumahmu dan ia sudah berhasil kuperawani serta kutundukkan. Ternyata sungguh enak sekali memek anakmu ini Somad! Aku telah memenuhi janjiku akan membahagiakannya lagi.. Dan lagi setelah ini.. Sampai aku benar-benar puas nantinya.. Hmm.. Telah sekian lama aku bersabar dari hinaan dan cercaan darimu saat aku bermaksud baik meminang putrimu ini.. Lihatlah Somad! Aku dan putrimu telah bersatu dalam hubungan badan yang ditentang keras olehmu.. Padahal anakmu ini sebetulnya telah haus akan belaian seorang lelaki di usia belianya ini. Tak tahukah engkau bahwa putrimu begitu cantik untuk hanya dipajang di rumah mewahmu ini? Tak sadarkah engkau kemaluan anakmu ini sudah matang untuk dibuahi oleh seorang lelaki? Tetapi kau tidak mungkin menyaksikan semua ini, karena hal ini tabu bagimu, meskipun ia anakmu, tapi aku..? Dapat menyaksikan semua bagian-bagian yang tersembunyi dari anak gadismu kini, sebab akulah yang berhak melakukan ini padanya! Ha.. Ha.. Ha..

{Demikianlah umpatan hati Dudung di sela-sela ritual persetubuhannya}

Dudung menjatuhkan dirinya dari posisi berlutut ke berbaring miring sambil menarik pinggul Dina yang masih tercengkeram oleh tangan-tangan tuanya tanpa kejantanannya lepas dari kemaluan istrinya. Dalam posisi tubuh keduanya rebah miring tersebut pelir Dudung semakin dirasa menusuk-nusuk tajam ke dalam lubang surga gadis itu. Duhh.. Kebayang nggak sih? Dina di usia belianya itu cantiknya seperti gadis pom-pom girls yang selalu menyemangati pagelaran olahraga. Tubuh rampingnya meliuk-liuk seirama hentakan Dudung pada selangkangannya yang terbuka bebas itu di ranjang. Kaki sebelah kanannya terjuntai bergoyang-goyang di udara menambah gairah bagi setiap lelaki yang melihatnya saat demikian sementara kontol sang suami keluar masuk di bawahnya menyumpal memeknya yang basah berjembut lembab namun berdenyut-denyut itu.

Lelaki tua seumuran ayah gadis itu leluasa sekali tengah membuahi rahimnya malam itu mendaki jenjang demi jenjang luapan syahwat nan menggelora diburu birahi terpendamnya yang menuntut penuntasan secepat-cepatnya. Batang zakar Dudung sudah berkilat-kilat berlumur cairan kewanitaan Dina dan hentakan yang diarahkan ke liang vagina sang dara ini dirasa semakin menggelitik kembali umbai kelentitnya serta membawa rasa gatal tak berkesudahan meminta untuk digesek dan digesek lagi.. Terus dan terus..

Bersambung . . . . .

Tirai perkawinan yang terkoyak - 2



Hari sudah gelap berkabut malam nan pekat, namun Dina belum juga pulang. Tadi saat bicara via telepon genggam, ia bilang pada Dudung suaminya bahwa ia ikut teman-temannya dulu jalan-jalan seusai pulang sekolah. Dina memang kebagian jadwal sekolah dimulai dari siang sampai sore hari. Tapi Dudung kelihatan sangat gelisah sekali malam itu, bahkan sejak siang hari tadi.

Bukan kecemasannya pada Dina istrinya yang belum pulang itu yang menyebabkan hal tersebut. Namun nafsu birahinya hari itu begitu meledak-ledak tak tertahankan mempengaruhi libidonya serta sudah mencapai puncaknya. Kedua pembantu rumah itu telah pulang sejak sore hari. Mereka berdua memang bukan pembantu yang menetap di rumah besar dan cukup mewah tersebut, sehingga kini di rumah itu tinggal Dudung sendirian yang tengah menanti kepulangan istri termudanya.

Dina muncul di pintu kamar dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dikenakannya sejak siang hari tadi. Dudung semakin bertarung dengan kalbunya yang sedari tadi memenuhi benak maksiatnya di kepala. Pandangan Dina masih saja acuh tak acuh padanya, tetap menunjukkan keangkuhannya pada dirinya yang telah ia rasakan sejak malam pertama mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Namun kini ia mendapat balasan ekspresi wajah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari suaminya yang tua ini. Wajah Dudung kini begitu garang menghampiri keberadaan dirinya yang tengah melangkah menuju kamar mandi di kamar itu. Sorot matanya begitu tampak mengerikan di mata Dina. Namun tangan Dina telah tercekal oleh Dudung.

"Mas?! Mau apa kamu?!!"
"Mau apa?! Aku ingin menuntut hakku atas dirimu!"
"Apa-apaan kau Mas?! Aku sudah capek sehabis jalan-jalan dengan teman!"
"Hmm?! Capek?! Kapan kamu pernah bilang bahwa kamu tidak capek? Aku sudah jenuh mendengar segudang alasanmu!"

Dina berusaha melepaskan tangannya yang tercekal itu, namun Dudung begitu kuat mencengkram tangan mungil nan halus miliknya. Kelopak mata indah milik Dina nan biasanya begitu angkuh di mata Dudung, kini mulai berkaca-kaca menuntut belas kasihan pada suaminya itu.

"Lepaskan aku! Ahh.. Tolong!", jerit Dina akhirnya.
"Percuma saja engkau berteriak! Takkan ada yang mendengar!", balas Dudung.

Dan memang benar rumah besar itu sedemikian rapat struktur bangunannya, sehingga suara-suara dari dalamnya dapat teredam. Terlebih lagi di kamar itu daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati asli nan tebal. Dudung melemparkan tubuh Dina yang masih lengkap dengan sepatu seragam sekolahnya ke ranjang. Dina pun terjerembab di atas kasur mewah tersebut, belum lagi ia sempat bangun, Dudung telah menyusul menerkamnya bak singa lapar mendapatkan mangsanya.

Permohonan Dina tak digubrisnya sama sekali malam itu. Dudung sibuk mengikat istri ketiganya itu di atas ranjang dengan tali yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dan ia mengikat pergelangan tangan kanan Dina dengan mata kaki kanannya, demikian pula tangan kiri diikat menjadi satu dengan kaki kirinya.

"Jangan Mas! Ampun! Ampunn!", mohon Dina begitu mengiba pada suaminya ini. Tapi Dudung malah membekap mulutnya dengan gelungan sapu tangan yang diikatkan melewati belakang kepalanya.
"Mmph.. Mmphh!", habislah daya upaya Dina untuk berteriak kini. Mulut mungil gadis itu telah dibungkam sepenuhnya oleh sang suami.

Dudung demi mendapati istrinya telah tak berdaya itu segera melolosi baju tidurnya yang seperti jubah dengan tali di pinggangnya. Seketika tubuh bugilnya yang hitam namun kekar itu dipertunjukkannya kepada Dina istrinya. Dina pun terkesiap, tak disangka sosok kurus suaminya itu begitu tegap dan ia secara refleks memandang ke arah selangkangan Dudung yang telah bugil ini serta melihat kemaluannya yang panjang mengangguk-angguk di antara jembutnya yang merona putih dan hitam di sana-sini seperti rambut di kepalanya yang bercampur dengan uban.

Dina terduduk di ranjang itu dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Bola mata indahnya nan bening itu tetap memancarkan belas kasihan yang mendalam. Tapi Dudung sudah tak peduli lagi akan hal itu. Kesabarannya telah habis untuk memaklumi istri mudanya yang belum berhasil ia tundukkan. Ilmunya tak akan sempurna kalau belum menggauli gadis itu. Ditatapnya wajah Dina yang cantik menawan itu. Hidung istri ketiganya begitu bangir dan mungil, semungil tubuhnya yang saat ini terikat erat. Bibirnya ranum merekah memerah di balik sumpalan sapu tangan. Rambutnya panjang terurai melewati bahu. Ah! Betapa cantiknya dara belia ini.

Dina pun meronta-ronta ketika Dudung berusaha membuka kancing seragam SMU-nya yang masih menyisakan rona keringat di sana-sini. Mereka berdua masing-masing bertahan pada kemauannya yang bertolak belakang. Terjadi pergumulan seru di antara keduanya. Meskipun dalam keadaan terikat Dina terus mengelak ke kanan dan ke kiri sehingga Dudung kesulitan untuk melepaskan kancing-kancing seragam sekolahnya. Namun tak diduganya sebuah tamparan telak menghantam pipi kirinya yang mulus putih itu. Plak!

Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya bahwa suaminya akan berbuat kasar pada dirinya. Sesaat ia seperti tak sadar, sehingga memudahkan Dudung membuka kancingnya. Namun itu tak berlangsung lama, Dina berontak lagi menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Dudung kesulitan dalam menjalankan aksinya. Mulut Dina menceracau tak jelas di balik bungkaman sapu tangan. Baru dua buah kancing yang terlepas di dadanya. Sampai sini Dudung sudah kehilangan akal sehatnya. Diambilnya gunting dari laci meja rias, kemudian diguntingnya seragam sekolah istrinya sampai menyisakan kutangnya saja. Namun rok abu-abunya masih menutup lengkap dari belahan pinggang rampingnya sampai ke bawah mendekati kedua lututnya.

Dina menangis sesenggukan, sementara Dudung semakin liar matanya menatap tubuh mulus istrinya itu yang telah sah dinikahi. Benar-benar putih dan bersih dari jenjang leher sampai pusarnya. Dudung pun lelah dengan ulah istrinya yang selalu mengiba lewat kelopak mata bening indahnya menatap minta dikasihani olehnya. Ia lalu membalikkan tubuh istri mudanya itu sehingga menungging di atas ranjang pelaminan mereka.

Dalam keadaan demikian posisi Dina benar-benar terjepit. Ikatan pergelangan tangan kanan dengan mata kaki kanan serta pergelangan tangan kiri dengan mata kaki kirinya benar-benar mengunci dirinya saat menungging. Pipi kanannya terpuruk di kasur ranjang dengan berurai air mata kesedihannya, namun dalam posisi itu Dudung sudah tak melihatnya. Dan memang itulah yang diinginkan Dudung, agar ia bisa puas menikmati jenjang tubuh dara belia ini tanpa harus melihat ekspresi mengiba itu.

Dudung melepas sepasang sepatu sekolah Dina yang masih melekat di kedua kakinya. Aroma pengap kaus kakinya yang putih bersih tercium oleh Dudung bagaikan undangan birahi yang datang dari surga ketujuh untuknya. Bagai kesetanan Dudung melolosi sepasang kaus kaki sekolah istri mudanya yang berpeluh tersebut untuk kemudian tanpa sepengetahuan Dina kaus kaki itu di ciuminya bergantian. Dengan tangan tuanya, dudung mengelus punggung gadis belia itu dengan lembut sebelum melepaskan tali kutang istri ketiganya tersebut.

Bra Dina kini telah jatuh ke sprei ranjang itu. Dudung kini jakunnya turun naik menikmati keindahan kedua bukit payudara istri mudanya yang menggantung membulat padat merangsang. Dielusnya puting payudara gadis itu bergantian kanan dan kiri sambil sesekali diremasnya. Tubuh Dudung kini membungkuk di atasnya seraya mencumbui tengkuk istrinya yang menungging tak berkutik dan masih tetap mengusap-usap kedua belah gunung kembarnya yang begitu kenyal di jari-jari tangannya.

Dina mulai merasakan sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya ketika tangan-tangan tua lelaki ubanan itu merayap di belahan dadanya. Memang seumur-umur ia sama sekali belum pernah disentuh oleh lelaki sedekat dan seintim ini. Tapi ketidaksukaannya terhadap suaminya yang main paksa itu masih teramat kuat, sehingga ia berusaha menahan gairah dan rasa yang mulai mengisi sendi-sendi di tubuhnya.

Namun usaha Dudung tak hanya sampai di situ. Tak percuma ia sudah beristri lebih dari satu kalau tidak bisa membangkitkan birahi perempuan. Lewat sentuhan jari-jari tangannya ia mulai mengelusi titik-titik gairah istri ketiganya yang paling muda ini. Bahkan kini wajah Dudung menyusup ke kolong dada Dina yang menungging menggantung dan sambil telentang Dudung mulai menjilati dan mengulumi puting payudara indah milik istri mudanya tersebut.

Percuma saja Dina bertahan dengan kekukuhannya untuk menolak gairah perawannya yang tengah dibangkitkan oleh sang suami. Maklumlah seorang gadis belia seusianya belum mampu mengendalikan diri serta belum tahu cara bermain cinta. Seperti bermain layang-layang, ia tidak tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur. Demikian pula saat bermain cinta, gadis itu tidak dapat mengendalikan sensasi birahi pada dirinya, sehingga langsung terhanyut ke dalam pusaran arus dahsyat yang disodorkan suaminya.

Puting payudaranya yang masih berwarna merah muda itu perlahan-lahan mulai membesar dan mengeras serta semakin kenyal memadat. Dudung pun merasakan perubahan itu dan ia pun senang karena daya upayanya membangkitkan gairah perawan istri ketiganya itu mulai menampakkan hasil. Ia semakin tekun menjelajahi lekuk liku tubuh dara belia yang telah separuh telanjang di hadapannya kini.

Setelah puas mempermainkan bukit kembar istrinya yang begitu indah menawan dipandang mata, Dudung pun bangkit berdiri dan mengambil posisi duduk di belakang pinggul Dina yang menungging. Perlahan ia menyibakkan rok abu-abu seragam sekolah istri mudanya itu sampai pinggangnya, maka kini terlihatlah sepasang paha putih Dina begitu indah terpampang baginya. Diusapnya paha putih bak lobak milik sang dara belia yang ceracaunya sudah tak diindahkan lagi oleh lelaki tua itu di balik bungkaman sapu tangan di mulutnya.

Sesekali diciuminya bongkahan paha putih istrinya yang masih beraroma keringat sehabis pulang tadi dan Dudung senang sekali dengan bau yang melekat di situ. Dudung pun tersenyum menatap bagian selangkangan Dina yang masih tertutup oleh celana dalam putih berenda miliknya, sebab ada rembesan basah nan lengket bening seperti putih telur di situ. Tahulah dia, istrinya sudah terangsang juga oleh keahliannya membangkitkan birahi wanita.

Tak sabar Dudung menantikan saat dimana ia akan dapat melihat apa yang tersembunyi di balik celana dalam putih berenda yang telah basah mencetak bening seperti sebuah kepulauan pada sebuah atlas. Diraihnya karet celana dalam itu serta diperosotkannya perlahan sampai setengah paha atas istrinya saja. Celana dalam yang tadi menutup belahan selangkangan Dina kini telah merosot setengah paha dengan bagian yang tadi menutupi keintimannya menjadi berbentuk mangkuk seakan mewadahi miliknya yang sangat pribadi itu.

Sampai di sini Dudung pun terpana menyaksikan keindahan dari selangkangan istrinya yang begitu menawan hatinya. Betapa tidak.. Baru kali ini ia dapat melihat kemaluan perempuan yang masih perawan, apalagi si Dina ini adalah seorang gadis yang masih sangat muda belia untuknya. Bulu-bulu jembut dara itu masih begitu halus dan tidaklah lebat seperti kedua orang istrinya terdahulu. Gundukan kemaluannya sangat kencang membentuk lekukan nan indah menawan hati. Dan yang lebih membuat Dudung terkesima dibuatnya, lubang keintiman Dina masih tertutup rapat menyerupai garis vertikal yang tak terlalu panjang menunjukkan bahwa lubang kegadisannya pasti sempit dan kecil.

Di atas celah kegadisannya bertengger pula lubang sempit ketat kepunyaan istri ketiganya ini berwarna merah muda yang berkeriput sedikit pucat yakni liang anus Dina. Betapa Dudung merasa sangat beruntung sekali malam itu, karena ia akan berkesempatan untuk menikmati kehangatan tubuh mungil istrinya yang sedemikian montok menggemaskan ini.

Dengan kedua belah ibu jarinya, Dudung membuka bibir belahan kemaluan Dina. Tampaklah isi dalamnya terkuak berwarna merah nan nyata bak buah pepaya mengkal yang dibelah dihiasi dengan kelentit kecilnya nan menjulang ke bawah dan bermuara pada rimbunan jembut kelaminnya yang menukik sedemikian rupa. Kira-kira sedalam satu buku jari dari celah yang terbuka itu, terlihatlah selaput dara gadis itu masih menyegel jalan masuk ke dalam lubang yang telah lama diidam-idamkan oleh suaminya ini.

Dudung pun merasa takjub, bahwa baru kali inilah dia dapat memandangi kemaluan perempuan yang masih suci lengkap dengan selaput keperawanannya yang berbentuk bulan sabit kembar nan menutupi atas dan bawah rongga keintiman dari istri mudanya ini sehingga hanya menyisakan sedikit rongga nan sedemikian kecil dan sempitnya untuk jalan masuk penisnya nanti. Aih! Sempit banget?

Dudung pun hanyut oleh fantasi pikiran yang dibuatnya sendiri bagaimana nanti ia akan merasakan kenikmatan dari jepitan selaput perawan kepunyaan Dina sang istri termudanya tersebut. Dapatkah nanti kelelakiannya menembus celah yang begitu mungil pada selangkangan gadis itu? Tak sadar bibirnya tersenyum mesum pada wajah tuanya yang penuh bopeng di sana sini.

Bagaimana Dudung tak merasa sangat beruntung mendapatkan Dina, sebab istri ketiganya ini bak bidadari nan jatuh dari langit saja dan sebenarnya sama sekali tak ada sebanding apapun dengan dirinya yang sudah di ambang kerentaan ini. Namun berkat keampuhan guna-gunanya kepada ayah dan ibu gadis itu, kini ia berhasil memperistrinya secara sah! Dan ia berhak menuntut haknya sebagai suami pada istrinya yang sah tersebut dalam ikatan benang merah perkawinan resmi di antara keduanya nan sudah terjalin.

Kini.. Dan di kamar ini ia akan membagi kebahagian ranjangnya bersama sang istri tercinta yang tengah tergolek menungging tak berdaya di hadapannya yang masih tak henti-hentinya menyaksikan celah keintiman nan memukau dalam pandangannya itu.

Bersambung . . . . .

Tirai perkawinan yang terkoyak - 1



Dudung masih menanti jawaban dari lelaki sebayanya yang tengah menghisap batang cerutunya dalam-dalam. Dirasanya memang pinangan yang diajukannya teramat berat untuk dilontarkan kepada orang tua Dina. Lelaki tua di hadapannya itu sebentar-sebentar mengernyitkan keningnya seakan tak percaya bahwa Dudung, sang dukun pengobatan asal madura yang sebelumnya telah memiliki 2 orang istri itu berniat untuk menjadikan anak gadis semata wayangnya sebagai istri yang ketiga, padahal usia calon menantu dan calon mertua itu terpaut sama, yakni 48 tahun!

"Edan kamu Dung?! Kamu masih menginginkan Dina, anakku? Kamu pasti sudah tidak waras!!", hardik si Somad, ayah Dina sekaligus calon mertuanya itu.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku Pak Somad, aku berjanji akan membahagiakan Dina, maka aku memberanikan diri kembali ke sini untuk melamarnya", tukas Dudung sambil dalam hati tetap komat-kamit membaca mantra gaib yang menjadi andalannya untuk membuat lelaki itu takluk pada kemauannya.
"Sudahlah Pak, serahkan saja keputusannya kepada anak kita, toh mereka ini yang akan berumah tangga nantinya", sela si ibu Dina yang duduk di sebelah Somad.

Wanita berusia 45 tahun ini melirik Dudung seakan memberi tanda setuju akan pinangannya. Tentu saja ibu Dina bisa berkata begitu karena jampi-jampi Dudung sebelumnya telah berhasil menaklukkan hatinya sejak kemarin-kemarin.

"Lalu apa kata orang-orang nanti? Kita ini kan orang terpandang di jawa tengah.. Bukankah pernikahan ini nantinya akan mencemari nama baik kita, istriku?", jawab Somad kepada istrinya sambil menekan ujung batang cerutunya yang telah pendek sampai gepeng di asbak ruang tamu rumahnya yang begitu besar sekaligus mewah ini.
"Sudah lupakah engkau Pak? Bahwa Dudung telah banyak berjasa pada kita semua? Dia telah menyembuhkan penyakit kita sekeluarga, termasuk Dina dan aku! Ingatkah yang paling penting? Sewaktu engkau tergeletak hampir mati terkena guna-guna dari saingan bisnismu? Kalau bukan karena si Dudung ini, mungkin sekarang aku telah menjadi janda Pak", tutur istrinya seakan membela Dudung.

Dudung pun diam-diam membatin dalam hatinya, ini pun terpaksa ia lakukan karena wangsit dari guru kebatinannya yang mengharuskan dirinya memperistri Dina. Menurut gurunya, hanya Dina yang jika diperistri dapat menyempurnakan semua ilmu kanuragannya, termasuk pula ilmu pengobatannya. Sebab Dina mempunyai tanda-tanda lahir yang berjodoh dengan Dudung dalam wangsit tersebut.

"Ngghh..", tampak Somad terperangah dengan ucapan istrinya barusan dan tampaknya ini sangat berpengaruh padanya, sehingga ia seperti kehabisan kata-kata sesaat.

Dudung masih terus merapal seluruh mantera-mantera yang dipunyainya, ketika itu ia teringat akan sesuatu hal dan menatap ke sebuah pintu kamar di penghujung ruang tamu itu. Di sana lah tadi si Dina mendekam setelah tahu kedatangan dirinya kembali malam ini. Namun tekadnya sudah bulat, meskipun sebelumnya ia takut akan penolakan mereka yang selama ini selalu memberikan bantuan finansial apabila Dudung memerlukan biaya untuk mencari maupun membeli ramuan pengobatan alternatif yang diperlukannya serta keperluan usaha sampingan ternak unggasnya.

"Nah kan baru merasa kamu kalau Dudung telah menyelamatkanmu dahulu! Mengenai pernikahan biar saya yang atur saja Pak. Mereka kita nikahkan di villa pribadi kepunyaan Bapak yang agak jauh dari keramaian kota", saran ibu Dina memberi solusi atas argumen suaminya itu.

Kemudian disusul isak tangis dari dalam kamar yang ditatap Dudung tadi. Di sanalah Dina, gadis yang masih berusia 18 tahun itu bersemayam di dalamnya. Tampaknya ia baru saja mendengar percakapan itu dan tangisnya merupakan tanda ketidaksetujuannya atas apa yang baru saja diperbincangkan kedua orang tuanya di hadapan Dudung, sang dukun.

*****

"Dung.., setelah resepsi ini selesai, aku mohon kesabaranmu dahulu kepada Dina. Sejujurnya dia masih tidak menyukaimu, namun setelah aku dan suamiku memberi pengertian padanya agar tidak menolaknya kalau tidak ingin berat jodoh, maka ia mau juga memakai busana pengantinnya untukmu", pesan ibu Dina sambil merapikan kerah kemeja di balik busana jasnya.
"Baik Bu", jawab Dudung seperti anak kecil yang tengah mematuhi wanti-wanti dari ibunya.

Memang ibu Dina kini telah menjadi ibu mertua si Dudung, padahal usia Dudung lebih tua darinya beberapa tahun. Jadinya terkesan lucu.. Apalagi Dudung tak mempunyai wali dari orangtuanya yang telah meninggal, dan apalagi kedua istrinya yang tidak hadir menunjukkan ketidaksenangannya pada dirinya karena menambah madu lagi.

"Kamu dan Dina nanti dapat tinggal di rumah baru yang telah disediakan oleh Bapak, namun Dina harus tetap bersekolah. Biar bagaimanapun Dina harus menamatkan SMU-nya terlebih dahulu agar nantinya ia dapat memasuki jenjang perkuliahan. Aku tak mau sekolahnya sampai putus hanya karena pernikahan ini", tukas ibu mertuanya lagi.

Seketika Dudung berjalan di balik busana kebesarannya melewati banyak tatapan mata ketidaksetujuan atas dirinya dari kerabat-kerabat keluarga Dina. Namun ia tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena orang tua Dina yang diimpikannya telah berhasil ia taklukkan sudah. Namun yang dikhawatirkannya adalah Dina yang akan menjadi istrinya ini tak boleh ditaklukkan dengan ilmunya, apalagi sampai dizinahinya, kalau itu dilakukan, akan habislah seluruh ilmu yang selama ini ia punyai.

Selain itu usaha berhari-hari dalam semedi demi menegosiasikan agar tidak jadi memperistri si Dina ditolak oleh gurunya, karena syarat menikahi gadis itu menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka dari itu ia hanya bisa mengguna-gunai ayah dan ibunya saja demi tercapainya tujuan untuk mempersunting anak semata wayang mereka. Dengan langkah mantap namun hati berdebar Dudung menghampiri sosok Dina yang begitu cantik di matanya dalam busana pengantin wanita yang begitu indah dan sangat mahal tentunya.

Dudung tak henti-hentinya menelan ludah dan sebentar-bentar melirik ke arah Dina yang bersanding di sebelahnya mengagumi lekuk liku tubuh gadis belia itu ketika mereka berdua menghadap penghulu. Untaian nasihat dan wejangan dari sang penghulu sama sekali tak didengarnya, Dudung hanya sibuk berkhayal dengan fantasi pikirannya sendiri bagaimana caranya untuk menundukkan si Dina ini nantinya. Tetapi ia dikagetkan ketika telinganya menangkap bahwa untuk kedua kalinya sang penghulu kembali mengucapkan kalimat;

"Bersediakah Saudara Dudung untuk mengambil Saudari Dina sebagai istrinya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua??"
"Ya! Saya bersedia!", fiuhh.. Hampir saja ia melewatkan moment penting tersebut.
"Bersediakah Saudari Dina untuk mengambil Saudara Dudung sebagai suaminya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua?"

Keheningan melanda untuk beberapa saat di antara tatapan mata yang menyorot ke arah sang pengantin perempuan. Sebelum pada akhirnya suara manis lembut nan halus sedikit tercekat itu menjawab..

"I.. Ya.. Bersedia"

*****

Dudung merasa nyaman berbaring di ranjang pelaminan besar dan mewah di kamar rumah barunya bersama istri mudanya. Tak pernah diimpikannya sama sekali bahwa dirinya telah menjadi menantu orang kaya serta mendapatkan istri secantik Dina ini. Tak ada orang lain lagi di situ selain dirinya.

Suara gemericik air shower di kamar mandi itu masih terdengar. Di sanalah istri mudanya yang benar-benar masih sangat muda tersebut sedang mandi membersihkan tubuhnya. Aroma sabun wanginya sungguh menebar sampai ke dalam kamar pengantinnya yang dilengkapi oleh kamar mandi. Tadi juga ia telah merasakan bagaimana enaknya membasuh tubuh dengan shower, yang mana selama ini belum pernah dalam hidupnya Dudung menikmati fasilitas mewah seperti yang ada di rumah ini sekarang.

Yang dinantinya telah usai mandi. Dari balik kamar mandi itulah sosok istrinya keluar dengan busana baju tidur yang sedemikian indah sedikit transparan hingga membuat Dudung terkesima untuk beberapa saat. Dipandangnya Dina yang tengah mengeringkan rambut hitam panjangnya dengan handuk tebal. Sehabis mandi begitu terlihatlah keputihan dan kemulusan tubuhnya dari muka sampai ke ujung jari kakinya. Malahan saking putih dan bersihnya hingga alur-alur urat kebiruan di tubuhnya terlihat nyata di penglihatan Dudung.

Rasanya kedua istrinya terdahulu tak dapat menyamai kecantikan dan keindahan wajah dan tubuh istri ketiganya ini. Dan yang terpenting.. Masih perawan! Istri pertama yang dikawininya ternyata sudah tak perawan lagi setelah diperdaya cinta pertamanya, sedangkan istri keduanya adalah seorang janda tanpa anak yang dikawininya karena rasa kasihan ketika ia melanglang buana menuntut ilmu kanuragan dan menemukan mereka berdua dalam waktu yang terpisah.

"Dina istriku.. Kamu sudah mandi?", tanya Dudung dengan wajah dan suaranya dibuat semanis mungkin kepada istrinya itu. Padahal ini adalah pertanyaan tolol yang tak perlu dijawab, karena sudah tahu si Dina sudah mandi, kenapa masih ditanya? Namun orang yang sedang mabuk kepayang memang begitulah adanya. Dina tak menjawab pertanyaan itu, wajahnya tertegun tanpa ekspresi kepada sosok kurus hitam namun kekar yang terbaring di ranjang pengantin tersebut, suaminya sendiri.

Dudung pun mengambil inisiatif, ia bangun dari pembaringannya dan menarik lengan istrinya ke ranjang peraduan mereka. Masih acuh tak acuh Dina menanggapinya, tapi ia tak menolak ketika Dudung membawanya duduk di tepian ranjang itu. Dudung merengkuh tubuh istrinya yang telah harum mewangi karena habis mandi dan mencoba untuk mencium tengkuk istrinya itu, namun tak disangka-sangkanya Dina beringsut dari pelukannya, sehingga ciuman itu luput.

"Dina sayang, ada apa denganmu? Kini kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah.. Aku ingin mencumbuimu", tanya Dudung sambil menahan kesabarannya atas perlakuan Dina tadi.
"Aku letih sekali Mas setelah resepsi seharian ini", keluh Dina memberi tanda bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh Dudung.

Namun Dudung tak putus asa, ia langsung memberanikan diri untuk mengusap payudara istrinya yang masih tertutup baju tidur dan kutangnya, tapi Dina melihat gelagat itu dan secara refleks menepis tangan suaminya itu.

"Ahh.. Kenapa?", Dudung pun heran atas ulah istrinya ini.
"Aku benar-benar capek sekali Mas.. Sekarang tidurlah Mas.. Khan masih ada hari esok", jawaban Dina memang masuk akal, akhirnya Dudung pun mengalah untuk malam ini, padahal malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka.

Hari-hari berikutnya pun begitu.

"Aku sedang mendapat haid Mas"
"Bah!", umpat Dudung dalam hati. Padahal nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia pun memakai pakaiannya untuk pergi.
"Mas Dudung mau kemana?"
"Apa pedulimu? Aku mau plesir..!", gerutunya pada Dina. Tujuannya cuma satu, ia akan meminta 'jatah' ranjang dari salah satu istrinya yang lain malam itu juga untuk digauli.

Setelah seminggu lewat pun masih belum ada perubahan. Padahal seharusnya masa menstruasi istri ketiganya ini telah berakhir.

"Dina ada ujian mid-test besok Mas, harus kebut belajar malam ini"

Dudung pun terdiam. Sia-sia usaha rayuan dan cumbuan yang ia lakukannya selama ini pada Dina yang selalu menolaknya secara halus. Masih juga dia pakai alasan klise untuk menolakku? Lihat saja nanti! Umpatnya dalam hati.

Bersambung . . . .

Tini korban chumshot party



Tini, seorang ibu muda keturunan Tionghoa berusia 34 tahun berperawakan sedang yang lumayan cantik, suatu siang sedang berjalan-jalan di sebuah mall dekat rumahnya untuk berbelanja keperluan sehari-hari dirumahnya.

Ketika ia melewati jalan berlorong menuju toilet, tiba-tiba seorang pria berperawakan sedang menyapanya secara sopan, dan langsung saja secara tidak sadar Tini terhipnotis oleh pria tersebut, dan dengan mudahnya pria tersebut bersama seorang temannya mengajak Tini menuju ketempat parkir dan menaikkan Tini kedalam mobil pria tersebut.

Lima menit setelah mobil berjalan, barulah Tini sadar bahwa ia terhipnotis dan berusaha untuk berontak dan keluar dari mobil. Tapi apa daya kalau dirinya diapit oleh dua orang pria dikanan kirinya, sementara dua orang lagi duduk didepan. Tini diancam untuk tidak macam-macam serta menuruti saja kemauan mereka jika ingin selamat. Mereka tidak banyak berkata-kata didalam mobil, sementara Tini hanya bisa pasrah dengan tangan dan kaki yang terikat, mata yang ditutup dengan sapu tangan serta mulut yang disumpal segumpal kain handuk.

Empat puluh lima menit sudah mobil tersebut melewati pinggiran kota, dan sampailah mereka disuatu tempat yang dituju, mobil langsung dimasukkan kedalam garasi, ikatan kaki dan tangan serta menutup mata Tini dibuka, dan Tini dipaksa berjalan masuk kerumah tersebut, yang ternyata sebuah rumah mewah yang begitu besar dengan perabotan yang mewah ada dimana-mana. Tini digiring kebagian belakang rumah tersebut dimana terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar, dan yang mengejutkan Tini adalah disana telah menunggu puluhan laki-laki sekitar empat puluhan orang jumlahnya, dimana sebagian dari mereka dalam keadaan telanjang bulat sambil membaca majalah porno, sambil sesekali memainkan alat kelamin mereka yang sudah tegang itu. Sebagian lagi dari mereka sedang berendam dikolam air hangat.

Tini begitu gemetaran melihat lelaki yang begitu banyak yang akan menikmati tubuhnya, sementara beberapa orang dari mereka mulai menggiring Tini ketempat mereka ngumpul di depan bar kecil dekat kolam renang. Tini dipaksa duduk disebuah sofa kulit yang cukup nyaman, sementara itu mereka mulai mengajak Tini bercakap-cakap dan menanyai Tini dengan berbagai pertanyaan jorok dan porno yang akhirnya melecehkan Tini dengan cara menyumpalkan celana dalam mereka secara bergantian kedalam mulut Tini. Puluhan celana dalam bekas pakai bergantian menyumpal mulut Tini yang lumayan seksi itu, bahkan ada yang menyumpalkan dua celana dalam sekaligus kedalam mulut Tini, hingga Tini agak kesulitan bernapas.
Puas dengan permainan "Sumpal Kolor" tersebut kini mereka siap mengerjai Tini beramai-ramai.

Sebelum dikerjai Tini disuguhi segelas air mani yang sudah berhari-hari disimpan didalam kulkas dan mereka dengan napsunya bergantian menyuapi Tini air mani dingin tersebut sesendok demi sesendok, dan sudah barang tentu Tini tidak dapat menolak perlakuan tersebut, dan hanya bias menelan air mani tersebut dengan rasa mual dan jijik, hingga akhirnya segelas air mani tersebut pindah kedalam perut Tini.

Dengan dikelilingi begitu banyak laki-laki, Tini mulai dipaksa untuk membuka blous yang dipakainya, hingga akhirnya semua kancing terlepas dan salah seorang dari mereka membantu membuka blous nya dari arah belakang, sementara yang lain hanya melihat dan batang kejantanan mereka terlihat makin membesar dengan terlepasnya blous Tini dari tubuhnya, sementara itu bra berwarna coklat muda dengan ukuran 34A itu terlihat dengan jelas oleh semua orang yang ada disitu.

Bra bermerk Triumph dengan kancing didepan itu terlihat sangat mencuat kedepan, membalut sepasang gunung kembar Tini, yang walaupun tidak begitu besar, namun sangat menggairahkan. Salah seorang dari mereka berlutut didepan Tini dan merogohkan tangannya kedalam rok hitam Tini yang panjangnya 10 cm diatas lutut, dan meremas-remas paha dan selangkangan Tini yang masih dibalut celana dalam putih itu. Tini dipaksa mengangkang lebar-lebar, dan salah seorang dari mereka berusaha memasukkan kepalanya dibalik rok Tini yang agak ketat itu, hingga akhirnya kepala orang tersebut mentok dipangkal paha Tini dan menciumi paha dan selangkangan Tini dengan sangat bernapsu sekali.

Melihat adegan tersebut, tanpa dikomando yang lainnya pun ikutan melakukan hal tersebut dengan brutalnya, sementara yang lainnya mengobok-ngobokan tangannya dibalik bra Tini sambil meremas-remas gunung kembarnya secara bergantian serta memilin-milin puting susu Tini yang lumayan besar itu. Beberapa orang mulai memaksa Tini memegang batang kelamin mereka dan memaksa Tini mengocoknya, tak puas hanya dikocok, mereka mulai bergantian memaksa Tini mengulum-ngulum batang kejantanan mereka dengan brutalnya.

Dengan begitu napsunya mereka bergantian menjejalkan batang kejantanan mereka kemulut Tini dan sesekali memukul-mukulkan batang kejantanan mereka diwajah Tini. Bunyi kecipak beberapa batang kejantanan yang dipukul-pukulkan dimuka Tini terasa begitu nyata, hingga membuat orang yang melakukannya mengerang-ngerang keenakan. Bahkan beberapa orang bergantian menekan-nekan wajah Tini diselakangan mereka, sementara batang kejantanan mereka dengan telaknya masuk hingga mentok dikerongkongan Tini hingga buah sakar mereka terjepit antara pangkal paha mereka dengan bibir Tini yang seksi itu.

Ada juga yang mengolesi madu ataupun susu kental manis dibatang kejantanannya, dan memaksa Tini untuk menjilatinya hingga habis. Puas memaksa Tini untuk oral batang kejantanan mereka, kini mereka membawa Tini untuk masuk kedalam kolam air hangat. Bra dan celana dalam Tini dilepas, dan Tini dipakaikan swimsuit khusus berwarna merah jambu, dimana dibagian selangkanngannya terdapat kancing yang dapat dibuka dengan mudah. Tini dipaksa berendam dikolam tersebut, diikuti oleh puluhan pria yang sudah telanjang bulat dengan batang kejantanan mereka yang rata-rata sudah ereksi sangat keras.
Bergantian mereka menyetubuhi Tini didalam kolam tersebut secara bergantian.

Dengan mulut disumpal celana dalam, Tini disandarkan dipojok kolam, dengan kedua tangan memegang sisi kolam dan kaki yang mengangkang lebar, membuat Tini secara leluasa disetubuhi secara bergantian dengan brutalnya hingga air dikolam tersebut beriak sangat kencang dan membuat suasana tambah birahi, dan ditambah lagi dengan musik rock yang disetel keras-keras. Penis mereka bergantian keluar masuk vagina Tini serta mengocoknya dengan cepat. Beberapa dari mereka sudah tidak dapat menahan lagi airmani mereka yang ingin keluar itu, hingga akhirnya air kolam tersebut dipenuhi dengan peju yang mengambang.

Dan beberapa orang berusaha menyendoki air mani yang mengambang tersebut dan sudah barang tentu lagi-lagi Tini dipaksa menelan "Santan Nikmat" tersebut, hingga tak bersisa. Puas mencekoki Tini, pemerkosaan dilanjutkan ditepi kolam. Tini dipaksa berdiri dipinggir kolam dengan tangan yang berpegangan pada tangga kolam, sementara beberapa laki-laki bergantian mengantri dari arah belakang.

Mereka secara tidak sabar bergantian memasukkan serta mengocok-ngocoknya dengan cepat batang kejantanan mereka dari arah belakang kevagina Tini. Sambil mengocok-ngocok vagina Tini dari arah belakang, sepasang payudara Tini dengan puting susu yang mencuat kedepan menjadi bulan-bulanan untuk diremas-remas, sementara itu yang lain bergantian duduk ditangga kolam sambil memain-mainkan penis mereka didepan muka Tini dan memaksa Tini untuk mengulumnya dalam-dalam. Dua jam sudah mereka memperkosa Tini didalam kolam dan permainan mereka itu akan diakhiri dengan berejakulasi diwajah Tini bersama-sama.

Tini didudukkan dikursi tanpa sandaran dan dikelilingi dengan begitu banyak lelaki yang siap memuntahkan airmani mereka diwajahnya, dan mereka bergantian memaksa Tini untuk mengocok batang kejantanan mereka dengan kedua tangannya dengan cepat, sementara yang lain mengocok penis mereka masing-masing tepat didepan wajah Tini yang lumayan cantik itu, sambil sesekali menamparkan batang kejantanan mereka ke muka Tini dengan sangat bernapsu. Bibir Tini pun tak ketinggalan untuk digunakan sebagai "Alat Penghisap Titit" secara bergantian oleh mereka.

Beberapa laki-laki sudah tidak tahan lagi dan mereka secara serentak mengarahkan lobang Penis mereka kearah wajah Tini, dan..Crott.. ccrroott..! secara hampir bersamaan lima batang penis memuncratkan air maninya diwajah Tini mulai dari dahi hingga bibir Tini dipenuhi air mani kental putih yang nikmat itu. Garis-garis putih kental menempel diwajah Tini dan bertetesan kepayudara Tini yang seksi itu. Dan yang lain pun bergantian menciprati wajah Tini yang cantik dengan air mani mereka.

Puluhan orang sudah bergantian menikmati wajah Tini yang seksi itu dengan batang penis mereka, dan beberapa orang menyendoki airmani yang bertetesan itu dengan sendok makan dan menyuapi Tini air mani tersebut, hingga wajah Tini bersih kembali.

Tinggal dua puluh orang lagi yang belum dapat jatah, dan mereka kembali meneruskan permainan mereka. Kali ini Tini dipaksa duduk dikursi santai yang terbuat dari kain, dan salah seorang membuat lubang dikursi kain yang diduduki Tini, tepat diatas kepala Tini, hingga penis orang tersebut menembus kursi kain itu dan tepat berada diatas kepala Tini. Orang tersebut menggerak-gerakkan penis nya yang sudah ereksi keras itu maju mundur dengan cepat sekali, sementara yang lain dari arah depan memegangi kepala Tini agar tidak bergerak, hingga akhirnya orang tersebut berejakulasi dan air mani nya pun muncrat bertetesan begitu banyak di dahi dan kepala Tini hingga mengalir kewajah Tini. Teman-teman yang lainnya pun mengikuti jejaknya, sampai-sampai Tini boleh dikatakan "mandi sperma".

Sebagian lagi memaksa Tini mengulum-ngulum batang penis mereka keluar masuk dengan cepat, hingga satu persatu bergantian berejakulasi didalam mulut Tini, dan memaksanya untuk menelan semua sperma yang ada. Sekitar dua puluh lelaki yang tidak sabar berebutan ingin memuntahkan lagi spermanya dimuka Tini untuk kedua kalinya, hingga dari segala penjuru air manipun muncrat berhamburan diwajah Tini, bahkan ada yang memaksa Tini untuk mengocok penisnya dengan kedua tangan Tini sambil mengarahkannya kemulut Tini hingga akhirnya muncrat berantakan.

Beberapa orang lagi bergantian menggunakan wajah Tini untuk berejakulasi. Wajah Tini ditekan-tekan tepat didepan selangkangan mereka hingga batang kejantanan mereka terjepit diwajah Tini dan mulailah mereka menggerakkannya keatas dan kebawah dengan agak cepat hingga akhirnya batang penis mereka meyemprotkan air mani yang kental itu dan secara otomatis wajah Tini dipenuhi cairan putih itu dan Tini pun tidak berdaya lagi kecuali membiarkan cairan sperma tersebut memenuhi wajahnya yang sudah bermandikan sperma tersebut.
Selesai diperkosa Tini dimandikan hingga bersih dan dipakaikan bra dan celana dalam baru yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan Tini pun diberi makan dan diistirahatkan selama dua jam. Malam harinya sekitar jam tujuh malam, Tini dibawa kesebuah rumah yang lain dan disana pun sudah menunggu puluhan orang lagi untuk mengerjainya lagi.

Tamat
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com