Minggu, 22 November 2009

Om Heru dan Kakekku



Sewaktu aku masih duduk di kelas dua SMP, aku tinggal sementara di rumah kakek. Ini dikarenakan kami baru saja pindah dari luar kota, sehingga masih menumpang sementara di rumah kakek yang kebetulan dekat dengan sekolah. Rumah kakek memiliki kamar yang cukup banyak. Di situ tinggal pula beberapa pamanku serta keluarganya. Jadi seperti layaknya keluarga besar, kami sering mengadakan makan malam bersama. Sehingga satu sama lain menjadi lebih akrab. Aku adalah termasuk anak yang memiliki nafsu seks cukup menggebu. Tapi hanya kulampiaskan dengan beronani saja. Lebih dari itu tidak pernah aku pikirkan. Aku bisa setiap hari melakukan masturbasi, bahkan kadang sehari bisa dua kali.

Secara tidak sengaja, aku menemukan buku stensil berisi cerita porno di atas lemari kamar tengah (kamar Om Sulis, dia belum menikah). Karena di rumah kakek, kamar-kamar tidak pernah terkunci rapat. Aku tentu saja senang, dan segera membacanya sambil mengelus-elus selangkanganku sampai ejakulasi. Begitu terus selama dua minggu, walaupun sedikit bosan karena cerita pornonya hanya yang itu-itu terus. Suatu ketika, rumah kakek sedang sepi. Waktu itu siang hari, aku seperti biasa sering bermain di kamar Om Sulis, karena di sana suasananya gelap karena tidak ada jendela. Cocok sekali untuk membayangkan hal-hal yang jorok. Kamar Om Sulis ini berhubungan dengan kamar Om Heru di sebelah, tanpa pintu. Hanya disekat kain saja. Om Heru adalah suami dari kakak perempuan Om Sulis. Wajahnya tampan, dengan warna kulit yang putih kemerahan. Dari kamar Om Sulis aku mendengar ada suara seseorang masuk ke kamar Om Heru.

Mulanya aku abaikan, tetapi lama kelamaan aku mendengar suara erangan aneh. Suara erangan yang membangkitkan birahi. Kemudian aku beranjak untuk mengintip dari balik kain penyekat, ternyata Om Heru. Dia melepas pakaiannya pelan-pelan tapi sambil mengerang. Kebetulan istri dan anak-anaknya sedang pergi ke luar kota. Aku sungguh kasihan padanya. Istrinya tidak ada pada saat dia sedang terangsang hebat. Om Heru masih mengerang-erang sendiri sambil mencoba membelai-belai penisnya yang tegang. Menurutku penis Om-ku itu sungguh panjang, mungkin 17 cm, dan berwarna kemerahan. Hmm.. sungguh asyik melihat Om Heru yang tampak sangat terangsang hebat. Ia menggeliat ke sana ke sini. Memegang penisnya dan berusaha mengocok-ngocoknya. Terkadang dia menjilati dadanya sendiri, berusaha mencium puting susunya yang berwarna coklat muda itu. Serta berkali-kali jari telunjuknya dimasukkan ke lubang anusnya dan kemudian dikulumnya jari itu ke dalam mulutnya.

Aku yang melihat itu semua sungguh terkejut sekaligus terangsang hebat. Aku pun segera menanggalkan pakaianku, walaupun aku tidak berniat untuk bergabung. Aku pun melakukan masturbasi sendiri sambil memandang Om-ku itu. Sungguh asyik rasanya waktu itu. Tapi tanpa kusengaja, aku terbatuk. Ini kerap kali terjadi kalau aku sedang mengalami peristiwa yang cukup tegang. Om Heru tampak terkejut, dan segera bangun. Ia kemudian beranjak ke kamar sebelah dan menyingkapkan kain penyekat dengan kasar. Om Heru memandangku dengan tatapannya yang galak. Aku pun sungguh ketakutan. Apalagi dengan keadaanku yang telanjang itu.

"Sejak kapan kamu di situ..?" tanya Om Heru dengan galak.
"Dari tadi, Om" jawabku lemah. Aku masih ketakutan.
"Kamu ngeliatin Om, ya..?" bentak Om Heru.
Aku menggeleng pelan. Tapi tentu saja bukti yang ada tidak menunjang, karena aku dalam kondisi telanjang bulat.
"Kamu mau Om adukan ke orang tua kamu, Adi..?" ancam Om Heru, "Kamu tahu akibatnya..?"
"Jagan bilang ama ayah-ibu, Om. Adi salah..," sahutku meminta belas kasihan Om Heru.
"Bisa saja itu." sahut Om Heru kesal. Ia sendiri sebenarnya tampak malu kupergoki.
Setelah terdiam beberapa saat, tiba-tiba Om Heru tersenyum, "Kamu bisa saja tidak akan Om adukan. Asal.."
Aku bergidik ketakutan, "Asal apa, Om..?" Aku membayangkan hukuman yang berat-berat.
"Begini..," kata Om Heru sambil berusaha menahan tawa, "Kamu harus masuk ke kamar kakek."
Kakekku memang sedang ada di rumah, tidur siang.
"Kemudian..," sambungnya, "Kamu harus melepaskan seluruh pakaianmu di sana.. dan masturbasi di depannya."

Aku terbelalak ketakutan. Gila, masturbasi di depan kakek..! Itu namanya juga bunuh diri, karena kakek sangat galak. Tapi pada saat itu aku lebih takut oleh ancaman Om Heru."Bagaimana..? Mau nggak..?" tanya Om Heru dengan tersenyum mengejek.
"Atau kamu hanya berani bermasturbasi di dalam kamar saja..?"
"Tapi Om..," sahutku. "Om berjanji tidak akan bilang orang tua Adi, kan..?"
"Janji." jawab Om Heru, tapi masih dengan nada mengejek.
Aku pun dengan tubuh telanjang bulat bergegas menuju kamar kakek di belakang. Om Heru mengikuti dari belakang dengan memakai celana pendek. Aku tidak menyadari bahwa aku hanya diperalat oleh Om Heru melakukan ini.

Sewaktu masuk ke kamar kakek, beliau tampak sedang tertidur pulas. Nenekku memang sudah lama tidak ada. Jadi hanya kakek sendirian di kamar ini. Mulanya aku takut melakukannya, tapi pandangan melotot dari Om Heru membuat aku memaksakan diri untuk beronani. Aku beronani tepat di dekat wajah kakek (karena disuruh Om Heru). Kukocok penisku cepat-cepat, berharap segera ejakulasi dan selesai. Om Heru sendiri mengintip dari balik pintu dan kemudian ia juga ikut melakukan masturbasi. Om heru pun juga ikut telanjang bulat. Aku tidak tahu kenapa, tapi kok air maniku rasanya tidak keluar-keluar. Jantungku seperti berpacu, antara takut karena kakek bangun dan melihatku dalam keadaan seperti ini. Tapi rasa itu membuat aku semakin terangsang.

Pada detik waktu aku mau mencapai puncak, kakek terbangun. Aku segera mundur ketakutan, tapi posisiku membuat aliran penis malah menjadi lebih cepat. Sehingga secara beruntun air maniku tumpah dan menetes ke lantai.
"Adi..!" bentak kakek. "Apa yang kamu lakukan..?"
Aku sungguh ketakutan, lebih takut daripada sewaktu kepergok Om Heru. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba Om Heru beranjak masuk. Ia menatap kakek dengan tenang.
"Saya yang suruh tadi, Pak.." kata Om Heru.
"Kamu..?" tanya kakek tidak percaya.
"Kok ngajarin yang jelek..?"
Om Heru mendesah, "Maafkan saya, Pak. Saya tadi terangsang hebat di kantor, jadi saya terpaksa pulang. Dan bermasturbasi sendirian di kamar. Kemudian saya melihat Adi melakukan hal yang sama. Lalu saya suruh dia ke kamar bapak, biar tambah seru."
"Hei..berani-beraninya kamu ya menyuruh Adi berbuat seperti itu. Lagipula kamu sudah punya istri malah masih suka onani..! Menantu berengsek..," sahut kakek tambah marah.
"Bapak jagan munafik..," ujar Om Heru tanpa disangka-sangka.
"Bapak sendiri sering melakukannya juga. Saya tahu itu."
Kakek memerah wajahnya. Aku pun merasa bingung melihat situasinya.

"Lalu kamu mau apa..?" tanya kakek setelah beberapa lama.
"Saya sekarang sedang terangsang hebat, Pak. Saya perlu pelampiasan, tapi saya tidak mau mencari pelacur."
"Terus maumu apa..? Melakukan praktek homoseksual..? Gila kamu..!"
"Saya nggak bilang seperti itu, Pak. Tapi saya hanya ingin mengajak bapak sama-sama bermasturbasi dengan kami..," jawab Om Heru.
Kakek diam saja. Kemudian beliau keluar kamar, kami mengikutinya. Sampai di meja makan, kakek melepaskan celana pendek dan kaosnya, "Ini kulakukan semata-mata hanya untuk menolongmu, Her."
Om Heru tersenyum senang. Ia berpaling kepadaku, "Coba kunci semua pintu, Di. Kita semua akan bertelanjang bulat di sini. Kamu mau kan..?"
Aku tidak mengindahkan Om Heru, tapi segera kukunci pintu depan dan samping agar tidak ada orang yang sembarang masuk.

Aku pun juga mulai terangsang kembali. Bayangkan masturbasi bersama Om-ku sendiri dan juga kakekku. Di ruang makan, kulihat Om Heru sudah mulai mengelus-elus penisnya lagi. Ia duduk di bawah lantai. Kakek sungguh lucu kalau telanjang. Pantatnya besar, perutnya buncit, tapi ia memiliki kontol yang cukup besar. Aku terbelalak melihatnya. Selama satu jam kami bertiga mengocok kontol masing-masing. Satu sama lain saling melirik dan wajah kami meringis-ringis menahan nikmat. Aku tidak tahu siapa yang memulai, tapi kakek tiba-tiba bergerak ke arahku dan mengangsurkan kontolnya yang besar itu ke mulutku. Wajah kakek terlihat berusaha keras menahanmuntahan air maninya sendiri.

Lalu Om Heru mulai menjilat pantat kakek serta memasukkan jarinya ke anus kakek. Kakek hanya terdiam saja, tapi tangan kanannya memegang kepalaku dan membelainya. Sedangkan tangan satunya ke Om Heru. Kami tidak melakukan anal seks, tapi aku sungguh suka ketika aku mengulum kontol Om Heru, Om Heru mengulum kontol kakek, dan kakek megulum kontolku. Kami melakukannya dengan tidak mengeluarkan suara-suara erangan yang berlebihan. Tapi kami semua sungguh terangsang. Ejakulasi yang kami lakukan lebih dari lima kali. Aku menelan air mani kakek dan Om Heru, begitu juga sebaliknya.

Sungguh asyik merasakan bau liang pantat kakek sendiri. Berkali-kali aku menjilatnya. Setelah dua jam, baru kami berhenti kelelahan. Kakek kembali ke kamar dan meneruskan tidur siangnya tanpa mengucapkan apa-apa. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Om Heru pindah ke rumah yang baru. Tetapi hubungan kakek dan Om Heru berlangsung tetap seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Hanya saja kalau malam-malam kakek lagi ingin, ia pergi ke kamarku dan menyuruhku untuk mengulum batang kemaluannya.

Tamat

Ohhh, Guruku tersayang



Kisah nyata ini aku alami kira-kira pada tahun 1996 yang lalu, ketika aku masih kelas 1 SMU yang tergolong favorit di kota K yang menjadi tempat tinggal baruku (karena aku SMP di kota P) tentu saja sebagai murid danwarga baru di kota dan sekolahan itu aku belum mempunyai banyak teman (mungkin karena aku yang pendiam kali ya) jadi aku selalu menyendiri, baik di sekolah atau di tempat kostku. Jadi bagiku sekolah itu, datang, masuk, dan pulang, selesai. Padahal walau kulitku hitam (tapi manis bo he..he..he..) banyak juga loh cewek yang ingin dekat dan kenalan, tapi entah mengapa mulai dulu aku kok tidak pernah tertarik pada yang namanya cewek.

Sampai suatu hari aku ada pelajaran fisika, mata pelajaran yang paling kubenci (karena bodoh kali ya he..he..he..), tapi kali ini aku kok jadi semangat sekali, apa sebab? aku sendiri tidak tahu, mungkin karena gurunya baru kali ya, karena guru fisika yang dulu Pak Rachmat sudah pindah. Agak lama aku dan teman-teman menunggu kedatangan sang guru baru. Kira-kira 30 menit kami menanti akhirnya pintu kelas di buka, betapa kagetnya aku, kulihat guru baru, guru fisika yang tampak macho dan keren apalagisaat kulihat tangannya yang banyak ditumbuhi bulu-bulu yang agak lebat, serta kumis tipis yang menghiasi bibirnya. Wow.. begitu menggoda pikirku, spontan saja angan fantasiku melayang kemana-kamana diiringi desiran darahku yang agak panas.

"Anak-anak, perkenalkan nama saya Pak Syamsudin," dia mulai memperkenalkan dirinya, selanjutnya aku tidak mampu mendengar kata-katanya lagi karena aku terpesona oleh ketampanan guru itu terutama bibirnya yang begitu merah, begitu tipis, dengan dagu yang begitu indah karena jenggotnya yangselalu dicukur sehingga dagunya tampak kebiru-biruan. Oh, betapa nikmatnya kalau bibir itu kukecup dan kukulum. Jadi kalau pelajaran fisika akuselalu semangat, karena aku bisa melihat ketampanan Pak Syam yang selalu hadir dalam khayalan dan mimpi-mimpiku dan membuatku kurang konsentrasi pada palajaran yang diterangkannya. Jadi kalau aku ulangan nilai fisikaku pasti dapat merah, sampai-sampai ujian pun nilainya merah pula. Akhirnya suatu hari aku dapat panggilan dari Pak Syam yang macho dan tampanitu. Padahal aku sudah siap-siap pulang. Gembira, takut, bahagia, gematar berbaur menjadi satu waktu itu. Akhirnya kulangkahkan juga kakikudengan deg-deg pas ke ruang kantor.

"Silakan duduk!" katanya dengan agak berwibawa.
"Ada apa Pak?" jawabku.
"Kamu tahu tidak, berapa nilai fisikamu," lanjutnya.
"Tidak tahu Pak," sambungku sekenanya.
"Tidak tahu gimana, ini lihat hasil ujianmu kemarin," katanya lagi sambil menyodorkan kertas hasil ujianku.
Entah sengaja atau tidak tanganku menyenggol tangannya, karuan saja gairahku langsung datang. Tapi anehnya dia menatapku dengan tatapan penuh arti, tapi aku hanya bisa menundukkan kepala saja. Dengan sangat perlahan dan lembut sekali dia menggenggam tanganku dan terus bergerak ke atas, terus, terus, sampai tangan itu menyentuh pipiku, sedangkan aku tidak bisa mengangkat kepala karena takut, tapi dengan sangat tiba-tiba sekali diamengecup keningku.
"Jangan Pak!" pintaku.
Tapi dia tetap menjalankan aksinya dengan terus mencumbuku di sekitar wajah, lalu leherku mendapat giliran berikutnya. Sedangkan aku yang semula diam kini dihinggapi hasrat yang sangat dahsyat sekali karena sentuhan dan belaian orang yang selama ini selalu hadir dalam angan dan bayangan ku. Akhirnya sedikit demi sedikit aku pun mulai merasakan nikmat yang luarbiasa dan aku pun mulai berani beraksi. Kukecup bibir yang merah itu dan kumainkan lidahku di sana, oh nikmat sekali rasanya.

Tapi aku sadar kita melakukan di ruangan yang sewaktu-waktu ada orang masukpada ruangan tersebut.
"Jangan di sini Pak!" pintaku.
"Aku sudah tidak kuat lagi Ricky," jawabnya lirih sambil mengunci pintu dan menutup selambu yang ada di ruangan itu.
Dengan lembut sekali dia mulai mencumbuku, mulai kening, bibir, leher sampai puting susuku pun tidak luput dari cumbuannya. Oh, nikmat rasanya.
"Terus Pak!" pintaku perlahan.
Lantas dengan sangat mesra sekali dia buka baju seragam dan celanaku, hingga aku hanya pakai CD saja. Selanjutnya lidah yang lembut dan hangatitu mencucup puting susuku dengan sedotan yang sangat luar biasa sekali, spontan saja kemaluanku yang masih di dalam sangkarnya tegang, "Oh.. enaak," erangku.

Setelah puas memainkan susuku dia lantas menjilati perutku sambil tangannya meremas-remas bokongku, lalu dengan mulutnya yang hangat itu dia menarik CD-ku yang agak basah oleh prescum-ku dan langsung mengulum kemaluanku yang sudah menegang sejak tadi, nikmat sekali rasanya waktu itu, apa lagi waktu tangannya yang kekar itu memainkan buah zakarku sertamulutnya yang memainkan lubang kecil yang berada di ujung senjataku itu, sedangkan aku hanya mampu mengerang dan merasakan nikmat yang luar biasa sambil mengelus-elus rambut Pak guruku yang sedang jongkok itu. Aku yakin kalau betul-betul berpengalaman sekali dalam hal ini.

Mungkin karena terdorong rasa ingin memuaskan sang pangeranku, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyuruhnya berdiri lalu kulepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Wow, betapa kagetnya aku waktu aku merosot CD-nya, tampak di sana sebuah kemaluan yang sangat besar kira-kira 20cm, di hiasi otot-otot yang sangat kekar dan menggairahkan. Kukecup dulu bibirnyayang menggoda itu, lantas puting mendapat giliran kuhisap, lalu perutnya dan akhirnya kumanjakan kemaluannya yang sekal tadi menanti untuk kumanjakan. Kusedot kuat-kuat "pisang ambon" yang sangat besar itu, lantas kuremas-remas buahnya yang ada bulunya sedikit itu, sedangkan dia cuma bisa mengerang dan meracau saja, apalagi waktu kupermainkan lubang kecil tempatkeluarnya cairan kenikmatan itu, "Ooh.. enaak teruskan Ricky!" igaunya. Mungkin dia sudah tidak kuat, akhirnya dia ngomong,
"Boleh aku minta yang lebih darimu Ricky!" pintanya.
"Apa itu Pak?"

Tanpa banyak cakap lagi, diraihnya tubuhku lantas dibaringkan di kursi yangada di situ, lalu sambil terus mencumbuku, tangannya bermain di antara anusku.
"Jangan Pak, aku tidak biasa," kataku seolah mengerti apa yang hendak dilakukannya padaku.
"Entar juga biasa, rasakan saja!" katanya meyakinkanku.
Lantas dia memasukkan jari telunjuknya ke duburku dengan diludahi terlebih dahulu, pertama memang sakit tapi lama-lama enak juga. Setelah agak lama dia mengeluar-masukkan jarinya, lalu dia menambah dengan jari yang lain, dan tambah lagi.
"Lakukanlah Pak!" pintaku.
Mungkin dia mengerti maksudku, maka dengan sangat perlahan tapi pasti dia memasukkan kemaluanya yang besar itu, "Oh.. sakit Pak," kataku ketika kemaluan yang besar masuk ke duburku yang masih sempit itu. "Tenang nantijuga enak," katanya meyakinkanku.

Mungkin dia tahu cara menghilangkan rasa sakit itu, makanya dengan sangathati-hati dan lembut sekali dia naik-turunkan pantatnya, seiring dengan bunyi yang khas yang keluar dari bertemunya antara kemaluan dan duburitu. Benar, seperti apa yang dikatakannya tadi, rasa sakit yang semula mendera duburku kini berganti dengan rasa nikmat yang sangat luar biasa.
"Oh.. enaak Pak, genjot terus Pak!" kataku tak karuan, sambil kukocokkemaluanku sendiri.
"Aku mau keluar Ricky!" katanya.
"Aku juga Pak," sambungku.
"Goyang terus!" perintahnya.
"Begini Pak," kataku sambil terus menggoyang pantatku.
"Ya.. ya.. ya.. terus, terus, ter.." dan..
"Crot.. crot.. crot.."
Maninya keluar bersamaan dengan keluarnya maniku. Setelah diam agak lama kami lantas mamakai pakaian kami masing-masing.
"Aku cinta kamu Ricky."
"Aku juga Pak."
"Ok, bagaimana kalau nanti jam 7 malam kutunggu kau di rumahku!"
"Baiklah Pak."
Sebelum berpisah dia menghadiahkan sebuah ciuman di bibirku.
"Sampai nanti ya!"

Setelah kejadian itu, kami sering melakukan dimana dan kapan saja yang penting ada waktu dan aman, dan dengan bantuannya nilai fisikaku selaluoke, sampai aku tamat sekolah. Tapi walaupun aku tamat, kami sering bercinta, kebetulan aku tidak pindah kost, karena kampusku tidak begitu jauh dari tempat kostku itu. Sampai suatu Pak Syam kena serangan jantung dan liver secara tiba-tiba dan akhirnya beliau meninggal dunia. Setelah sempat dirawat di rumah sakit beberapa hari. Maafkan aku Pak Syam, akan kukenang jasa dan kebaikanmu, terutama cintamu padaku. Sepeninggal PakSyam aku sendiri seperti dulu lagi tanpa taman yang mangertiku dan perasaanku. Sedangkan untuk bercinta dengan seorang perempuan, aku sudah tidak ada hasrat lagi, karena aku sudah memutuskan untuk tetap menjadigay, entah sampai kapan aku tidak tahu. Mungkin ada pembaca yang mau menjadi pengganti Pak Syam kupersilahkan, dan kalau berminat hubungi saja e-mailku.

Tamat

Mr. Wook



Siang itu saya janjian dengan teman kuliahku yang kerja di perusahaan swasta asing Korea untuk makan siang. Kantin di basement cukup ramai dan menunya banyak pilihan dan murah. Menurut Ina, temanku, di kantin itu tidak cuma karyawan biasa yang makan tapi sampai pimpinanpun juga bergabung di sana. Waktu kami sedang menyeruput orange juice, tampak 2 orang pria berumur 40 tahuan masuk dan Ina memberi isyarat bahwa yang rambutnya lurus agak keabu-abuan adalah Mr. Kim dan yang agak keriting hitam adalah Mr. Wook. Mr. Kim lebih tinggi jabatannya sebagai Manajer, sedangkan Mr. Wook wakilnya. Ina bekerja pada Mr. Wook sebagai sekretaris. Pakaian mereka rapi berdasi dan tampak mahal. Beda dengan aku yang rambutnya agak gondrong sedikit acak-acakan dengan T-shirt.

Ina sempat mengangguk sekilas saat mereka melihatnya. Mereka senyum tipis saja. Sekilas tatapan Mr. Wook agak aneh padaku. Ah, mungkin itu cuma perasaanku saja.

"Galak, ya In?"tanyaku.

"Sama sekali nggak.Justru mereka ramah dan baik sama aku." jawab Ina pelan.

"Pasti karena ada maunya, iyakan?"godaku.

"Wuihh enak saja.Sorry aja, bo"

Tiba-tiba Mr Wook mendatangi meja kami yang agak di sudut dan berbicara dalam topik yang aku tak banyak tahu. Kadang mereka pakai bahasa Inggris kadang Indonesia. Setelah selesai, Ina sempat memperkenalkan aku pada Mr. Wook.

Sore itu badan rasanya sakit semua, setelah pagi sempat jogging, lalu kuliah full selama 6 jam sejak siang tadi. Kulalui pintu gerbang kampus yang megah dan asri dengan tanaman palm raksasa. Saat aku sedang berjalan menyusuri trotoar menuju halte, tiba-tiba sebuah sedan biru tua berhenti di tepi jalan. Suara klakson mengagetkanku dan membuatku menoleh kearah sedan itu. Terkejut saat di sana kulihat Mr. Wook duduk di belakang kemudi.

"Hai, Iwan. Kamu lihat Ina?"tanyanya agak lucu dengan dialek yang aneh.

"Ina sedang pulang kampung, Mr. Wook. Ibunya sakit mendadak."jawabku cepat sambil mendekat.

"Makanya dia tak izin pada saya. Iwan pulang naik mobil saya saja, ya."ajaknya.

Saya menggeleng agak malu.Tapi akhirnya saya tak kuasa menolak karena dia boss-nya sobatku.

Diantarnya aku ke tempat kost. Lalu kami berpisah.

Pagi jam 08.00 wib, bel kamar kost-ku berbunyi. Dengan langkah malas kuhampiri pintu depan.Paling si Ongen, sobatku. Brengsek, umpatku dalam hati. Aku masih pakai pakaian kebesaranku saat tidur, yaitu selana pendek tok.
Sambil membuka pintu, aku mengumpat,

"Brengsek lu, Ngen. Masih ngantuk nih!" sahutku seenaknya.

Tiba-tiba kurasakan wajahku memanas saat ku tahu yang datang Mr.Wook. Sambil sedikit membungkuk kupersilahkan ia duduk di sofa.

"Ma'af, Mr. wook. Saya tidak menyangka kalau Mr. Wook yang datang."

"Ah, tidak mengapa-lah." jawabnya kalem.

Ia datang dengan kaos Polo warna biru muda yang kontras dengan tubuhnya yang sedang-sedang saja.

"Saya mandi dulu Mr. Wook."kata saya.

"Iwan, nggak usahlah. Saya lebih suka lihat kamu seperti itu."jawabnya langsung.

"Kamu tampak macho and natural. I love it.Sorry saya terbuka ya.." Ah, rupanya dia 'to the point'.

Pikiranku langsung jelas atas tanggapan Mr. Wook. Setelah itu aku jadi rileks saja. Berarti Mr. Wook tak banyak beda dengan Om Burhan yang selama ini membutuhkan jasa privat dariku, yaitu pelayanan sex secara rutin 2 kali seminggu yang sudah berlangsung 1 tahun terakhir. Om Burhan adalah fotografer cukup kondang di metropolitan.

Dalam waktu tak begitu lama pembicaraan kami sudah beralih ke kamar tidurku. Kami berdua berpagutan dengan dalam saling menghisap lidah dan menjelajahi tubuh lawannya yang sudah bugil. Kurengkuh tubuh Mr. Wook yang terasa kecil dalam pelukanku dan kuremas pinggulnya yang bulat dan cukup berotot. Cukup lama kami berpelukan dan saling meremas dalam posisi berganti-ganti. Kadang aku di bawah, kadang tubuhnya dann kadang kami dalam posisi miring. Bibirnya lembut dan mungil serta kemerahan membuat aku serasa mengulum permen.

Sampai akhirnya ia memosisikan tubuhnya telentang dan pasrah. Aku paham betul apa yang diinginkannya.Kutelusuri lehernya yang putih bersih, kugelitik belakang telinganya kadang kuiisap pelan anak telinganya sambil kugigit. Ia mengerang berkali-kali seraya menarik-narik rambutku yang ikal. Kurasakan remasan akibat rasa nikmat yang dia rasakan. Kujelajahi puting susunya yang merah jambu yang tampak mengeras dan sedikit membesar. Kugelitik dengan lidahku yang sudah amat terlatih seraya kuisap kuat kadang kugigit pelan.

"Gigit kuat sayang. Gigitt.." rintihnya.

Kuturuti keinginannya. Dan ia makin mengerang kenikmatan. Bergantian kanan dan kiri putingnya yang merah menjadi sasaranku. Remasannya makin kuat di kepalaku seperti orang yang histeris. Bibirku bergerak ke perutnya yang sedikit menyembul dengan pusarnya yang dalam. Kegelian dia saat kujelajahi pusarnya dengan lidahku yang menggelitik tak henti. Didorongnya kepalaku ke bawah sehingga berada di daerah rudalnya. Layaknya rudal orang oriental yang berkulit putih dan badan kecil, tampak tidak begitu besar dengan warna kemerahan tapi dengan bulu-bulu yang cukup lebat.Kontras dengan kulitku yang gelap dan bulu-bulu yang tersebar kasar mulai dari dada sampai ke arah genital.

Kuisap pelan rudalnya dan kumainkan berganti-ganti begitu pula bijinya, dengan lidahku.Tak lama kemudian ia mendorong lagi kepalaku ke bawah dan mulailah diangkatnya pinggulnya tinggi-tinggi sehingga aku dapat mencapai lubang anusnya yang bersih menantang untuk mulai kuserang dengan jilatan-jilatan lidahku.

Tampaknya ini bukan yang pertama buatnya dan aku tak peduli yang penting aku akan menikmati tubuhnya sepuas hati. Justru bila menghadapi pria dengan pengalaman pertama aku merasa kasihan saat penetrasi. Ia akan kesakitan dan membuatku kurang leluasa melakukan manuver percintaan. Bila main dengan yang lebih pengalaman maka aku akan lebih leluasa menyodoknya dari berbagai arah.

Kudengar rintihannya dan erangannya makin keras dan mulai tak terkontrol. Kucoba menembus lubangnya yang tampaknya sudah pasrah dan sedikit membuka, sehingga lidahku yang keras dapat menjilati dinding dalamnya dengan bebas.

"Wan, oh Iwan, ahh nikmatt, Wan.I can't stop now!I can't stop, Wann!!" teriaknya.

Dan tak lama kemudian ia menyemprotkan spermanya ke udara dengan keras dan tak beraturan. Kubiarkan sesaat ia mengendurkan urat-urat tubuhnya sementara aku memeluknya dengan mesra dari samping kirinya.

"Wan, thanks. You are so wonderful. I love you, Wan."katanya setelah ia rileks.

Kami berciuman lembut.

"Mau dilanjutkan Mr.Wook?" tanyaku.

"Ya, sayang.."jawabnya.

Segera kuambil posisi diantara kedua kakinya dan kuletakkan kakinya di atas bahuku dan dia menekukkan lututnya agar aku lebih mudah melakukan penetrasi.Kuoleso rudalku dengan lotion berikut anusnya. Kusentuhkan glansku di sekitar anusnya yang sudah sedikit membuka dan kumainkan berkali-kali saat aku tusukkan, lalu kucabut lagi sampai ia memintaku untuk langsung menusuknya.

"Sayang, please fuck me hard. Please, Wan."pintanya.

Dan kulakukan penetrasi perlahan untuk menjajagi adanya tahanan dari dinding anusnya atau tidak. Kurasakan jepitan dinding anusnya makin kuat dan aku dorong terus sehingga tertanam sudah seluruhnya.

Saat itu ia memelukku serasa tak mau aku menariknya lagi. dalam dekapan eratnya kumaju mundurkan pinggulku di anusnya, kadang seranganku lurus menghunjam, kadang serong ke kiri kadang ke kanan, kadang kuarahkan ke atas dan kadang ke bawah. Habis sudah liang anusnya kujelajahi dengan batang kontolku dan makin lama serasa makin licin batangku keluar masuk. Di saat ia kenikmatan, kucabut batangku dari anusnya dan ia menjerit kaget sedikit protes yang tampak dari pandangan matanya.

Namun itu tidak lama karena setelah itu kulanjutkan dengan gelitikan lidahku di lubang anusnya untuk mengurangi lendir yang membuat batangku jadi licin. Setelah itu kuangkat tubuhnya dan kubalikkan dengan posisi doggy dan kutusuk lubangnya dari belakang. Ia mengerang berkali-kali disertai meremas-remas kasur dibawahnya tanda nikmat yang begitu dalam. Belum puas dengan posisi doggy dan aku belum merasakan tanda-tanda akan ejakulasi, maka kuangkat tubuhnya dan kuberdirikan ia menghadap tembok kamarku sambil kutarik pinggulnya kebelakang dan kuserang lagi ia dari belakang.

"Wan, aku nggak kuat lagi. Ohh, aku mau keluar lagi.Ahh!"

seraya ia menyemburkan spermanya ke dinding kamarku. Sementara itu aku terus memompanya tampa henti.

"Tiduran saja, ya Mr. Wook?"

Kucabut rudalku yang tertanam dan kubimbing ia kembali ke posisi awal dan kulanjutkan serangan yang sama ganasnya ke arah anusnya.

"Sir, I am coming right now. I am coming, Sirr.."

dan tanpa mampu kutahan lagi akhirnya kusemburkan spermaku dalam lubang anusnya yang hangat.

"Thank you, Sir. You are very nice." seraya kukecup lembut bibirnya yang kemerahan.

Setelah itu ia jatuh tertidur dalam pelukanku dengan berselimutkan satin biru.

Sejak saat itu secara bergiliran aku harus melayani Om Burhan berganti-ganti dengan Mr. Wook. Kadang aku di bell oleh Om Burhan saat aku sedang menjelajahi liang anus Mr. Wook. Bila itu terjadi terpaksa aku 'break' sejenak menjawabnya dan
menjanjikan menilponnya beberapa jam lagi. Bila Mr. Wook menanyakannya, aku senyum saja dan setelah itu pasti ia melanjutkan erangannya manakala rudalku kembali menyerangnya dengan ganas. Jadi aku harus pandai-pandai mengatur jadwal diantara keduanya.

Tamat

Mandi bersama



Pagi itu di gerbang kampus, tanpa sengaja mataku menatap seorang yang tiba-tiba saja menawan hatiku. Wajahnya begitu mempesona dengan kumis tipis yang menghiasi atas bibirnya. Kulitnya coklat gelap, tapi bersih dengan tinggi badan yang tidak jauh berbeda denganku, 164 cm. Aku memperhatikannya dengan hati berdebar dan berharap dia juga melihatku, namun sayang nampaknya dia begitu tergesa-gesa menuju gedung perkuliahan.

Sejak hari itu aku terus terbayang-bayang wajahnya, dan aku sangat berharap dapat segera berjumpa kembali dengannya. Dan rupanya keinginanku tidak bertepuk sebelah tangan, karena seminggu kemudian kami bertemu kembali. Waktu itu dia sedang mengurus registrasi semesteran. Aku menatapnya dalam-dalam, dan kali ini dia melihatku. Kuberikan senyum padanya, dia pun tersenyum padaku. Lalu kudekati dia dan kujulurkan tanganku, dan dia menyambutku dengan mengulurkan tanganya pula, kami berjabat tangan.

"Namaku Eka," kataku singkat.
"Bayu," jawabnya sambil tersenyum manis yang membuatku semakin berbunga-bunga.
"Kamu sudah selesai Yu..?" kataku untuk mengawali percakapan kami.
"Ya, sudah, barusan nih, kamu sendiri sudah selesai..?" jawab Bayu dengan ramah.
"Sudah," kataku.
"Eh, ngomong-ngomong kamu ambil fakultas apa..?" tanyaku tidak kalah ramahnya.
"Aku Fakultas Ekonomi angkatan 2000." jawab Bayu.
"Oh fakultas ekonomi tho, aku Fakultas Hukum angkatan '98." jawabku kepada Bayu.

Selanjutnya kami asyik mengobrol tentang banyak hal, aku sangat antusias sekali memperhatikan setiap tutur kata Bayu. Ya, bibir Bayu sangat menarik, warnanya kemerah-merahan, sangat sensual. Dia benar-benar sangat ramah dan menyenangkan, aku sungguh-sungguh terpesona. Bayu ternyata berasal dari Semarang, dan dia kost di belakang kampus.

Sejak saat itu kami benar-benar menjadi akrab, aku merasa cocok dengan Bayu dan demikian juga sebaliknya. Aku benar-benar bahagia sekali, rasanya hari-hariku menjadi indah. Setiap hari aku kepingin ketemu dengannya. Namun sejauh itu aku belum berani untuk masuk lebih dalam, aku masih mencoba mencari tahu tentang Bayu, ya aku berharap Bayu mempunyai perasaan sepertiku. Aku ingin mencintai dan memperoleh cinta dari Bayu. Perasaan sukaku kepada kaumku yang ganteng memang sudah kurasakan sejak aku di SMA, tapi sekalipun begitu, sebelum bertemu Bayu aku belum pernah bercinta dengan laki-laki, karena aku malu dan punya rasa takut.

Hari itu, sore jam 3 aku melangkah gontai keluar dari kampus karena kelelahan mengikuti perkuliahan yang benar-benar padat, itu pun sore jam 6 aku masih ada satu mata kuliah lagi. Kuarahkan kakiku menuju kampung di belakang kampus dimana Bayu kost di salah satu rumah di situ. Aku tahu bahwa Bayu hari ini jadwal kuliahnya sore jam 6 sampai 9 malam, karena itu aku ingin istirahat di kamar kost Bayu. Dari halaman depan rumah kost Bayu, sayup-sayup kudengar alunan lagu 'sephia'nya Sheila On Seven lagu favorit Bayu. Dari jendela kamar kulihat Bayu lagi asyik mengetik sesuatu di komputer, aku langsung masuk ke kamarnya dan segera saja kupeluk Bayu dari belakang.

Bayu agak terkejut ketika tiba-tiba aku memeluknya.
"Busyet, Mas Eka ini ngagetin saja..!" omelan Bayu yang ditujukan padaku tetapi tidak kutanggapi dan aku tetap memeluknya lama sekali.
"Mas, ngapaian sih Mas ini..?" omelan Bayu berikutnya.
"Sory deh Yu, aku kangen banget nih..!" jawabku sekenanya, "Aku capek nih Yu, kuliah seharian, pijitin dong..!" rengekku pada Bayu.
"Ah Mas ini, memang aku pacarmu pakai kangen-kangen segala, minta pijitin lagi..!" sergah Bayu dengan kata-kata dibuat agak ketus.
"Aku sendiri juga capek nih Mas, dari tadi ngetik laporan tugas nggak selesai-selesai..!" lanjut Bayu dengan nada minta perhatian.
"Oke deh, sini aku gantiin ngetik..!" jawabku karena aku melihat Bayu memang tidak kalah capeknya dengan aku.
"Sungguh Mas..? Asyik, nanti sambil aku pijitin Mas..," kata Bayu dengan nada gembira.

Aku kemudian melanjutkan ketikan laporan tugas Bayu, sementara itu Bayu membuatkan aku minuman.
"Mas Eka, nih minumnya." kata Bayu dari arah belakangku.
"Sementara Mas Eka ngetik, aku akan mijitin bahu Mas ya." kata Bayu berikutnya.
Aku senyum-senyum senang, ya mengerjakan apa saja untuk Bayu rasanya akan saya lakukan dengan rela dan senang hati, apalagi kali ini Bayu di belakangku sambil memijit-mijit pundakku. Dipijit Bayu nikmat sekali rasanya, aku horny banget menikmati sentuhan tangan Bayu. Pikiranku jadi menerawang ke yang enggak-enggak, aku membayangkan Bayu memelukku, menciumku dan akh.., gila pikiranku ini.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore.
Tiba-tiba Bayu mengingatkan aku, "Mas sudah hampir jam lima, kita ada kuliah jam enam tho, sudah dulu ya ngetiknya, kita siap-siap yok..!"
Kemudian, "Mas Eka mau mandi dulu..?" tawar Bayu kepadaku.
"Sudah sono kamu dulu saja..!" sergahku.
"Atau kita mandi bareng-bareng yok Mas..!" jawab Bayu yang tidak kuduga-duga.
Aku segera saja mengiyakan ajakan mandi bareng si Bayu. Aku sudah membayangkan hal-hal yang indah yang akan segera kualami di kamar mandi nanti.

Kami bersama masuk kamar mandi di rumah belakang yang pada waktu itu sedang dalam keadaan sepi. Di kamar mandi, Bayu segera melepas kaos yang dikenakannya, dan aku menatapnya dengan penuh birahi. Dada Bayu tampak bidang dan indah sekali, sementara bulu-bulu di ketiaknya semakin membangkitkan rasa birahiku. Selanjutnya Bayu segera melepas celana pendeknya, dan mataku segera menatap dan menelan bulat-bulat bagian bawah tubuhnya.

Bayu kini hanya mengenakan celana dalam berwarna putih model G-string, dan itu membuatnya benar-benar semakin menarik. Dan aku semakin melotot melihat tonjolan yang membekas di CD-nya yang tampak nyata. Aku benar-benar terbengong-bengong dengan penampilan Bayu di kamar mandi saat itu, dan sampai terkejut ketika Bayu menegurku.
"Lho Mas Eka ini mau mandi nggak..? Kok nggak dilepas bajunya..?"
"Eh, iya-iya dong..," jawabku gugup karena ketahuan sedang memperhatikan dirinya.

Aku pun segera melepas baju dan celanaku, dan tinggal celana dalam yang belum kulepas. Ketika aku melirik ke Bayu, tampak dia juga memperhatikanku. Entah apa yang sedang dalam pikirannya. Yang jelas ketika kami sama-sama tinggal mengenakan celana dalam, kami berdiri berhadap-hadapanan saling menatap dan memperhatikan. Kuulurkan sebelah tanganku meraih lengan Bayu, dan Bayu pun mengulurkan tangannya meraih pundakku. Entah siapa yang memulai lebih dulu, tiba-tiba kami sudah saling merangkul erat. Yang jelas aku bahagia sekali.

Kuusap-usap lembut punggung Bayu. Beberapa saat kemudian kami melepas pelukan, dan lagi kami saling menatap dengan pandangan penuh kasih sayang. Bayu merebahkan kepalanya di pundakku, kuelus lembut rambutnya. Dan kemudian kuangkat wajahnya, lalu kucium pipinya dengan mesra. Bibir Bayu yang merah menggairahkan itu segera saja kulumat dengan bibirku, dan Bayu menyambut ciumanku dengan mesra. Kami berciuman lama sekali.

Setelah itu aku mengalihkan ciuman ke arah leher, dada, puting susunya serta ketiaknya. Bau ketiak Bayu benar-benar nikmat, aku tambah horny berat. Bayu mendesis-desis saat kuciumi, dia tampak menikmati sekali ciuman dan rabaan tangannku di bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Aku melanjutkan ciuman ke arah perut, pusar dan tanganku meremas-remas penis Bayu yang sudah mulai membengkak di dalam celana dalamnya.

"Buka saja Mas, buka..!" lenguh Bayu.
Cepat kupelorotkan CD Bayu, dan segera itu pula penis Bayu melesak keluar, seperti peluru yang ditembakkan dari senapannya. Pemandangan yang indah sekali terbentang tepat di wajahku, penis Bayu! Penisnya berwarna coklat kehitam-hitaman teracung tegak, tampak galak sekali. Meskipun panjangnya hanya kurang lebih 11 cm, tidak jauh berbeda ukuran dengan ukuran milikku. Sementara bulu-bulu hitam lebat di sekitarnya membuatnya semakin gagah, macho! Kuremas dengan gemas penis itu dan kukocok-kocok dengan kuat. Sementara Bayu melenguh-lenguh dan mendesah-desah seperti kepanasan.

Bayu menggelinjang dasyat ketika aku menjilati bagian kepala dari penisnya, dan kutelan juga penis itu, kunikmati dengan penuh perasaan.
"Ah.., eh.. nikmat Mas, nikmat.., lagi-lagi.. ohh..!" begitu Bayu mengeluarkan desahannya.
Beberapa saat kemudian kurasakan Bayu menggelinjang kuat dan berteriak, "Mas aku mau keluarr.. ahh..!"
Dua semprotan sperma dari penis Bayu tidak tertahankan mengenai wajahku dan dua lagi menghiasi dadaku. Kucium bau khas sperma dan sungguh-sungguh kunikmati.

Bayu tampak lemas, tetapi sinar wajahnya menunjukkan kepuasan dan kesenangan tiada tara. Aku berdiri dan menatap lembut wajah Bayu dan memberi kecupan sayang padanya.
Kemudian aku berkata, "Bayu.., kamu sudah. Sekarang giliranku Sayang..!"
Bayu tersenyum manis dan berkata, "Jangan khawatir Mas, kita fifty-fifty."

Selanjutnya Bayu melumat habis bibirku, dan aku sangat menikmatinya. Kubiarkan Bayu memanjakanku dengan caranya sendiri seperti yang sudah dinikmatinya dariku. Beberapa saat kemudian aku menggelinjang dahsyat sama seperti yang dialami Bayu tadi. Akhirnya kami berpelukan lagi dan sambil menikmati guyuran sower, kami saling membersihkan badan, mandi bersama.

Tamat

Gili Trawangan



Buat para pembaca yang sebelumnya telah membaca cerita terdahulu saya (ANTARA JAKARTA DAN BANDUNG) dan memberikan komentar dan saran, saya ucapkan terima kasih atas segalanya. Banyak dari kalian menjadi teman terbaik saya, karena kalian semua saya masih di sini. I LOVE YOU ALL MY FRIENDS, I'LL BE MISSING YOU.

Buat yang belum baca cerita saya terdahulu, masih bisa baca kok...

Cerita berikut ini adalah sedikit lembaran terbaru perjalanan hidup saya.

*****

Hari telah senja ketika aku keluar dari laut, pemandangan bawah laut yang mengagumkan dengan terumbu karang yang indah dan ikan yang berwarna-warni mengusir penatku dari pekerjaan kantor yang membosankan. Sudah beberapa bulan ini aku pindah tugas ke Mataram, Mataram... Kota yang tidak pernah ada di benakku sebelumnya. Meskipun ibukota propinsi tapi Mataram cukup kecil dibandingkan kota-kota di Jawa, dan yang jelas di Mataram tidak ada yang namanya macet seperti di Jakarta atau Bandung. Selain itu banyak objek wisata yang menarik di sini, seperti hobbiku yang baru, snorkeling di Gili Trawangan.

Sejenak kurebahkan tubuhku di pasir putih yang bersih, aku biarkan butiran pasir halus menempel ditubuhku dan kupejamkan mata menikmatinya.

"ARY!!??!!", aku tertegun ketika tiba-tiba ada orang menyapaku.

Kubuka mataku dan kulihat sesosok kaki yang kokoh, paha yang berisi, tontolan di pangkal paha yang besar dibalut celana renang yang sangat mini, perut yang tercetak, dada bidang dan berisi dengan kulit bulenya yang terpangang, semua membuat jantungku berdekup kencang dan batang kemaluanku segera bereaksi, tapi tanganku tidak kalah cepat, segera mengambil baju di sebelahku untuk kututupkan pada pangkal pahaku, takut ketahuan.

Kuperhatikan wajahnya yang sedikit ditumbuhi jenggot, cambang dan kumis, hidung yang mancung, alis yang tertata bagus dan mata coklatnya yang mengoda dan rambut yang basah kebelakang menambah karismanya.

"ARY khan!?!?", kembali dia memanggil namaku, aku segera tersadar.
"FRANS!!?? how are you?!", selanjutnya kami segera terlibat percakapan seru.

Frans.., seorang pemuda asal Perancis, mungkin usianya sama dengan aku. Aku kenal dia waktu di pesawat dari Jakarta ke Mataram pertama kali, kebetulan waktu itu dia duduk di sebelahku dan kita sama-sama menginap di hotel yang sama, sebuah hotel di bilangan jalan Sriwijaya.

Singkat cerita, Frans kemudian menawarkan agar aku menginap di home stay-nya karena kebetulan dia tinggal sendiri dan kebetulan juga aku belum memesan tempat menginap. Karena hari mulai gelap, kita berjalan beriring menuju home stay Frans. Sepanjang jalan kita terlibat percakapan yang masih seru sambil mataku menyapu pemandangan sekitar yang mulai meremang, termasuk para turis yang berjalan kaki lalu lalang bertelanjang dada dan berpakaian seadanya memamerkan body mereka yang hhmm!

Sesampai di home stay Frans aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang mulai gatal, sementara Frans beristirahat di tempat tidur menunggu giliran mandi. Segera kubasuh badanku dengan air dan kugosok dengan sabun cair, tapi beberapa bagian tubuhku terasa perih (pasti karena tergores karang tadi). Dengan sedikit mendesis menahan perih aku gosok seluruh tubuhku, namun tiba-tiba...

"Ada yang bisa aku bantu??!!"

Aku terkejut karena tiba-tiba Frans telah berada di belakangku. Rupanya aku mandi tanpa menutup pintu kamar mandi, dan sudah kebiasaanku sejak lama (pembaca pasti sudah tahu) sehingga Frans bisa masuk kamar mandi.

"Nggak... Aku dengar kamu tadi mendesis... Ada yang sakit...??", lanjut Frans.
"Iya nih badanku sedikit perih-perih... Kena karang kayaknya tadi!!", jawabku singkat.

Dengan sabun cair Frans segera mengosok punggungku, belakang leherku lalu turun ke pantat dan pangkal kakiku. Karena sentuhannya itu batang kemaluanku langsung berdiri, aku berusaha menutupinya dengan berusaha membelakanginya. Namun sentuhan Frans yang semakin lembut membuat desahanku semakin mengebu, yang tadinya karena perih sekarang bercampur dengan desahan kenikmatan.

Mendengar desahanku yang makin bernafsu, Frans makin berani, dia mulai mengosok bagian depan tubuhku. Dipeluknya tubuhku dari belakang dengan tangannya mulai memainkan kedua putingku dan perutku! Segera kubalikkan badanku, dan kudapati Frans telah telanjang bulat dengan batang kemaluan yang berdiri tegak, warna kemaluannya yang kemerahan membuatku semakin bernafsu!

Kucium bibir Frans, Frans membalas dengan bernafsu, dia mulai mengulum bibirku dan memainkan lidahnya, kami saling berpelukan dan berciuman di bawah guyuran air. Frans merekuh diriku dan melumat bibirku, bibirnya terasa hangat dan nikmat, lidahnya menari-nari di rongga mulutku.

"Oohh... Eehh... Sshh... Nikmat sekali," desah Frans.

Sambil berciuman kutelusuri seluruh lekuk tubuhnya yang atletis dari dada, punggung, perut, pinggang, pantat dan pahanya. Demikian juga dengan Frans, dia membelai seluruh lekuk tubuhku, kadang dengan belaian lembut, kadang dengan pijatan tangannya.

Kemudian bibir Frans mulai turun beralih ke kedua putingku, dijilati dan digigit-gigit kecil putingku.

"Oohh..." aku menggeliat kenikmatan.

Aku menjerit pelan ketika Frans mulai mencium perutku dengann sesekali mengigit pelan, dijilatinya bulu kemaluanku yang tipis karena habis aku potong. Selanjutnya Frans sudah berjongkok di depan senjataku yang sudah tegak sejak tadi, kemudian Frans mulai menjilati kepala kemaluanku, dijilatinya lubang kemaluanku.

"Oohh... Eehh... Sshh... !!".

Segera dihisap dan dikulum senjataku yang lumayan besar dengan sesekali dikocoknya. Frans menikmati senjataku dengan penuh nafsu. Aku mengerang, menggeliat menikmati hisapannya. Frans menjilati batang kemaluanku, dari kepalanya yang besar dia bergerak mengelilingi batang kemaluanku turun-naik beberapa saat, kemudian dia beralih ke daerah lipatan paha dan buah zakarku. Buah pelirku disedot, dilumat dan dimainkan dengan lidahnya.

"Aagghh..." aku semakin menggelinjang dan meregang sambil kuremas rambutnya. Dijilati seluruh batang kemaluanku, dihisap dengan keras dan dipaksakan masuk ke mulutnya dengan menelannya.
"Mmhh.. Sshh.. Aacchh.. Mmhh.." aku mendesis dan melenguh kenikmatan.
"Oogghh... Oocchh... Sstt..." kuangkat sedikit pantatku dan kakiku meregang karena nikmatnya.

Frans terus menghisap dengan lembut, memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluanku dari mulutnya, semakin lama semakin cepat. Kemudian Frans menuntunku untuk membuat posisi 69 di lantai kamar mandi, kini batang kemaluannya yang kemerahan berada di depanku, dengan bernafsu kujilati paha, daerah lipatan antar paha dan terus ke buah zakarnya, kurasakan bau khas laki-laki yang semakin merangsang birahiku. Kupegang dan kujilati kemaluan Frans, mulai dari kepalanya yang besar, kumainkan lidahku di lubang kemaluannya, Frans meregang, otot pantatnya mengeras.

Kulanjutkan jilatanku terus ke bawah menyusuri batangnya sampai kantung buah zakarnya. Batang kemaluannya semakin membesar dan tegang, segera kuhisap dalam-dalam dan kurasakan denyutan uratnya keras tapi lembut, mulai kukocok keluar-masuk dari mulutku. Frans mengimbangiku dengan menggoyang naik turun pantatnya. Sementara itu Frans juga sedang sibuk menghisap batang kemaluanku."Oocchh..." aku merasakan sensasi perasaan yang sulit kutuliskan, tubuhku meriang. Semua berlangsung dengan irama yang semakin cepat disertai erangan-erangan kenikmatan.

"Oohh... Aku mau keluar..." teriakku.
"Aku juga..." balas Frans.

Aku semakin mempercepat gerakanku, demikian juga Frans dan..

"Oocchh...", Croot... Croot... Croot... kami hampir bersamaan melenguh panjang disertai semburan sperma kami yang putih dan kental, sekujur tubuhku merinding, bergetar dan tegang sebelum akhirnya melemas perlahan. Aku melihat sperma Frans muncrat ke perut dan dadanya yang bidang.

"I love you..." bisik Frans sambil mengecup bibirku.

Kamipun akhirnya mandi berdua dengan saling mengosok dengan sabun.

Selesai mandi akupun segera keluar kamar mandi dan mengosok tubuhku dengan handuk, namun belum juga kering tubuhku... Frans mendekap tubuh ku dari belakang. Di kecupnya leherku dan belakang telingaku, dimainkann lidahnya di telingaku, semantara tangannya mulai memainkan puting dan perutku.

Sejurus kemudian kami sudah saling berciuman sambil bergulingan di kasur kamar! Semuanya kembali membuat kita kembali bernafsu!

"Oogghh... Fuck me.. Fuck me.. Please..." pinta Frans.

Frans kemudian menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang dan mengangkat kedua kakinya. Aku segera turun dan berdiri di pinggir ranjang, perlahan-lahan kubimbing batang kemaluanku ke lubang anus Frans dan langsung kusodok.

"Aacchh... Sstt," Frans mendesah.

Aku berhenti sejenak, setelah kurasakan otot anus Frans kendor kembali, aku segera mendorong batang kemaluanku dan akhirnya batang kemaluan besarku itu menerobos ke lubang anus Frans. Aku mulai menarik dan mendorong perlahan dan semakin cepat, Frans mengimbangiku dengan menggoyang pantatnya, dengan tangannya terus mengocok batang kemaluannya sendiri.

"Oogghh... Sstt..." kami berdua melenguh nikmat bergantian.

Dengan batang kemaluanku yang masih di anusnya, kami bergerak ke atas tempat tidur. Frans dengan posisi terlentang di tempat tidur, dinaikkan kakinya di pundakku, aku masih terus menarik dan mendorong dengan cepat, sambil terus aku mencumbunya dengan ciuman dan jilatanku di bibir atau di putingnya.

Kami berdua mengerang kenikmatan dengan nafas yang makin memburu. Beberapa saat kemudian kami berganti posisi. Aku tidur terlentang dan Frans jongkok di atas batang kemaluanku.

"Aagghh... Oocchh..." kami melenguh bersamaan, kurasakan lubang anusnya hangat, menjepit dan meremas batang kemaluanku, sementara Frans meringis kenikmatan. Dengan berirama Frans bergerak naik turun sambil menggoyang dan memutar pantatnya.
"Aagghh... Sstt... Aacchh..." aku mengerang dan mendesis kenikmatan. Tanganku yang tadi memegang pinggang Frans sekarang membantunya mengocok batang kemaluannya yang besar.

Selanjutnya aku menyodok Frans dari belakang, dengan posisi tidur miring Frans mengangkat kaki kanannya sedikit dan aku menyodoknya dari belakang, sambil aku ciumi leher bagian belakangnya dan ku kocok batang kemaluanya dari belakang. Beberapa lama kami saling mendesah dan mengerang dengan irama yang makin berpacu.

"Oohh... Aku mau keluar..." teriakku.
"Aku juga..." balas Frans.

Aku semakin mempercepat gerakanku dan Frans juga mengocok batang kemaluannya semakin cepat dan "Oocchh... Croot... Croot... Croot..." kami hampir bersamaan melenguh panjang disertai semburan sperma kami yang putih dan kental, sekujur tubuhku merinding, bergetar dan tegang. Kami berpelukan erat-erat, tubuh kami menegang sebelum akhirnya melemas perlahan. Aku melihat spermaku meleleh keluar dari anusnya dan sperma Frans muncrat ke tempat tidur.

"I love you..." bisik Frans.
"I love you too..." balasku sambil kukecup lehernya.

Kami pun tidur berpelukan beberapa saat, sementara batang kemaluanku masih di dalam lubang anusnya.

Recana liburanku yang semula hanya untuk week end, akhirnya aku perpanjang seminggu dengan minta cuti dari kantor. Dan kami menghabiskan hari-hari yang indah di Gili Trawangan.

Frans kini telah kembali ke negaranya, tinggallah aku di sini dengan kenangan indah dan menunggu kedatangannya pada musim panas berikutnya.

*****

Terima kasih atas perhatian kalian dan saya tunggu komentar kalian, I'm looking for a friends, and maybe more.

Tamat

Gejolak cinta



Yanto dengan bersemangat menuju ke kos Dani yang terletak di Jakarta Pusat. Mereka berdua berkenalan tiga bulan yang lalu dan menjalin hubungan setelah itu.

Yanto berumur 29 tahun, berkulit putih dan berwajah tampan dengan lesung pipit dan bibir yang kemerahan, badannya agak langsing, namun terbilang cukup proporsional. Dani berumur 26 tahun, berbadan kekar, berkulit gelap dan terlihat sangat macho. Tinggi badannya yang 178 cm membuatnya terlihat lebih dewasa dari Yanto yang terkesan ABG di usianya itu. Sebenarnya Dani tidak berwajah tampan, malah beberapa orang menganggapnya sangar, tetapi Yanto menyukainya karena sikapnya yang ramah dan baik hati.

Setelah Yanto mengetuk beberapa kali Dani membukakan pintu. Yanto masuk dan merebahkan diri di kasur menikmati sejuknya AC dan empuknya ranjang setelah mengarungi panasnya kota Jakarta. Dani hanya tersenyum melihat tingkah Yanto yang lucu itu, kemudian mendekati Yanto dan berbaring di sampingnya lalu mengusap rambut Yanto dengan lembut dan mendaratkan kecupan di kening yang putih dan masih dihiasi butir butir kecil keringat yang bening.
"Mandi dulu ya?" kata Yanto sambil bangkit menuju kamar mandi.
"Nggak usah", jawab Dani.
"Mandinya nanti aja, lo siram aja badan elo biar lebih sejuk, ntar kebanyakan mandi lo jadi kayak kertas putihnya, ha ha ha. "
"Dasar lo, pantes lo hitam gitu, malas mandi ya"
Yanto masuk ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air shower yang sejuk menyegarkan.
"Kok dia nggak nyusul masuk ya?" pikir Yanto heran, biasanya Dani tidak suka membuang waktu kalo dia sedang di kamar mandi.

Sesaat kemudian setelah mengeringkan badannya, dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada Yanto keluar dari kamar mandi. Ternyata Dani sudah menunggu dengan hanya bercelana dalam dan tanpa memberikan kesempatan menarik Yanto ke pelukan badannya yang kekar dan melumat habis bibir Yanto yang merah merekah.
"Mmmhh, mm", Yanto kelabakan mendapatkan serangan mendadak itu, apalagi ciuman Dani yang tidak tanggung-tanggung membuat Yanto sulit bernapas, ditambah badannya yang kekar mendekap erat badan Yanto yang bisa dibilang langsing, kecuali dadanya yang lumayan terbentuk. Dani memberikan kesempatan Yanto bernapas dan mengajaknya menuju tempat tidur. Di sini ciuman yang dahsyat itu berlanjut, namun Yanto sudah siap dan melayani dengan baik, bibir Dani yang kehitaman menghisap bibir kemerahan dan lidahnya menyapu langit-langit dan lidah Yanto yang membalas dengan hisapan yang membuat keduanya melayang dalam kenikmatan. Tangan Dani menjelajahi leher, punggung dan pinggang yang putih mulus, membuat Yanto mendesah menikmati usapan lembut dari tangan yang kekar berotot di daerah-daerah sensitifnya. Tangan yang lain meremas-remas pantat Yanto yang padat membukit, mendorongnya sehingga kemaluan Yanto menekan kemaluannya yang tegak menyembul dari balik celana dalamnya.

Dani melanjutkan ciumannya ke leher Yanto yang mulus, menyapukan lidahnya dengan lembut ke bagian belakang telinga Yanto dan kemudian dengan lembut menggigit dan menghisap cuping telinga Yanto.
"Ssshh, ahh, aagghh.." Yanto mendesah merasakan sensasi yang sangat disukainya itu sambil melingkarkan tangannya di kepala dan leher Dani.
Sementara tangan Dani menjelajah dua bukit kembar yang mempunyai puncak yang diselimuti warna coklat muda.
"Auwhh.." Yanto terpekik kecil ketika tiba-tiba Dani memilin puting susunya dengan agak kuat, namun rasa terkejutnya segera hilang oleh rasa nikmat ciuman dan sapuan lidah yang hangat di pangkal lehernya, yang seakan menimbulkan aliran listrik di seluruh badannya.

Kemudian Dani menunduk, mengusapkan ujung lidahnya ke dada Yanto, membuat gerakan spiral melingkar yang makin mengecil sampai akhirnya mengulum dan menghisap puting susu Yanto yang tegak mengeras oleh rangsangan itu. Dani menggesekkan lidahnya ke kepala puting dan menghisapnya dengan kuat, melepaskannya lalu menghisap lagi dengan kuat dan sesekali menggigit dengan lembut puncak bukit kenikmatan Yanto itu. Yanto dibuat senewen dengan tingkah Dani itu, berbagai sensasi perasaan berkecamuk di dalam dirinya, pada saat Dani menghisap dengan kuat puting susunya, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang ikut keluar melayang, membuat Yanto tidak dapat berdiri lagi dengan baik, sehingga dirinya seolah luruh dalam dekapan Dani yang kuat. Pekikan-pekikan kecil Yanto malah membuat Dani makin terangsang dan meningkatkan serangannya ke kedua puting susu Yanto, yang memang merupakan salah satu bagian tubuh favoritnya. Dani baru menghentikan kegiatannya setelah kedua puting susu Yanto berwarna kemerahan dan agak sedikit membesar karena dihisap dengan kuat berkali-kali. Dani kembali mencium bibir Yanto yang terengah-engah oleh aksinya tadi, dan menikmati kelembutannya tanpa balasan, karena Yanto pasrah membiarkan bibirnya dikulum dan hanya mendekap erat badan Dani dan ketika Dani mengecup lehernya Yanto berbisik, "You are my man, oohh.."

Yanto melepaskan celananya dan celana dalam Dani, kemudian melancarkan serangan balasan ke dada Dani yang bIdang dengan kulitnya yang gelap kehitaman, memancarkan kejantanan tersendiri. Aroma badan Dani memberikan rangsangan yang tidak dapat dilukiskan dan dua bukit kembar yang dimilikinya seolah dua bukit batu yang keras dan putingnya yang berwarna hitam mengarah ke sisi bawah luar tiap bagian dadanya. Yanto mencium dan menghisap setiap bagian dada Dani dan menggigit lembut putingnya. Kemudian perlahan turun dan menjumpai kemaluan yang tegak berdiri, terlihat hitam mengkilat karena ereksi yang kuat, dengan lingkaran kemerahan di dekat kepala penisnya. Batang kejantanan itu tegak berdiri sepanjang 16 cm dan diameter kepalanya yang mencapai 8 cm membuat Yanto sangat menyukainya, apalagi bentuknya yang menyerupai ice cream cone, membuatnya semakin nikmat untuk digenggam dan dikulum. Yanto mengulum kepala penis Dani yang besar itu dan menghisap precum yang ada kemudian menyapu lubangnya dengan ujung lidahnya dan terus menyapu ujung kepala penis itu dengan lidahnya, yang membuat Dani mendesah merasakan nikmat di batang kejantanannya. Ketika Yanto memasukkan seluruh kepala kemaluan itu ke dalam mulutnya, sensasi kehangatan yang lembut menyergap Dani, yang menikmatinya dengan mata terpejam dan kedua tangannya mengusap kepala Yanto dengan lembut.

Setelah merasakan kenikmatan oral sex dan mencapai tingkat ereksi yang maksimum, Dani membaringkan Yanto di ranjang dan menyibakkan kakinya sehingga terlihatlah lubang kenikmatan yang sempit di depan matanya. Dani segera mendekatkan bibirnya ke lubang yang kemerahan dan mulus tanpa rambut itu lalu menjulurkan lidahnya untuk merangsangnya supaya dapat menerima batang kemaluannya yang besar. Yanto tergelinjang tiap kali lidah Dani terjulur mendesak ke dalam lubang kenikmatannya, membuat gerakan melingkar dan menembus ke dalam lubangnya. Setelah beberapa saat, Dani menuangkan gel pelicin ke lubang itu dan menusukkan jarinya ke dalam untuk membasahi bagian dalamnya.

Perlahan Dani mengarahkan kemaluannya ke lubang yang sudah siap menerima dan memberikan kelembutan dan kehangatannya. Kaki Yanto yang lebar mengangkang disandarkannya ke pundak dan batang kemaluan yang sudah memakai kondom itu sedikit demi sedikit mendesak dalam lubang kenikmatan yang sudah mulai berdenyut itu. Yanto meringis menahan sakit ketika kepala penis yang besar itu mendesak terus ke lubang anusnya, dan ketika seluruh kepala itu dapat masuk, keduanya merasakan jepitan otot rektum yang menutup kembali setelah bagian terbesar dari kepala penis itu melaluinya memberikan sensasi yang nikmat dan seolah lubang itu menyedot penis ke dalamnya. Tanpa membuang waktu lagi Dani menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuh Yanto, yang mengerang kecil ketika penetrasi awal itu berlangsung. Segera setelah kehangatan melingkupi seluruh batang kemaluannya, Dani menunduk dan mengulum bibir Yanto untuk mengalihkannya dari rasa sakit oleh desakan penisnya, yang walaupun sudah beberapa kali mereka lakukan, tetap saja saat awal penetrasi Yanto merasakan sakit karena memang ukuran penis yang besar dan ereksi yang kuat membuat penetrasi sangat terasa olehnya.

Kemudian Dani membuat gerakan maju mundur yang lembut, dan sesekali memutar pinggulnya untuk memompa Yanto yang mulai dapat menikmati kehadiran benda asing di dalam lubang kenikmatannya. Setelah beberapa saat melakukan goyangan dan memaju mundurkan penisnya, Dani menanamkan batang kemaluannya dengan kuat ke dalam lubang Yanto, mendorongnya dan memutar pinggulnya untuk mendapatkan penetrasi yang maksimal. Yanto sampai tergelinjang kuat oleh penetrasi ini.
"Ahh, dalam sekali, eghh", tangan Yanto mencengkeram lengan Dani dan kepalanya terdongak karena merasakan hangat dan mulas di perutnya.
Dani melepaskan kaki Yanto dan menindih tubuh Yanto dengan badannya yang kekar, kedua tangannya melingkar di badan Yanto dan mendekapnya erat, sambil mengulum bibir yang merekah dan merangsang itu.
"Mmmh, egghh, mmhh", Yanto kewalahan melayani nafsu Dani yang sedang membara itu, kedua tangannya mencengkeram pundak Dani dan kadang kadang tanpa sadar mencakarnya karena Dani belum mengendurkan penetrasinya dan lebih kuat menggoyang pinggulnya untuk mendesak ke dalam lubangnya. Gerakan melingkar pinggul Dani itu membuat batang kemaluannya yang tegang dan kuat di dalam diri Yanto bergerak mendesak ke segala arah, dan itu membuat sensasi yang luar biasa yang membuat perasaan hangat, mulas, nikmat dan melayang yang sangat hebat dirasakan oleh Yanto.

Setelah Dani mengendurkan tekanannya dan menggerakkan penisnya dengan lembut, Yanto mendesah dan berbisik, "Elo luar biasa, sayang"
Dani tidak menjawab, hanya mengulum lembut bibir Yanto dan menjelajahi lagi leher dan dadanya, yang memberikan rangsangan ganda kepada Yanto. Setelah itu Dani perlahan mengeluarkan penisnya, membimbing Yanto ke kamar mandi, lalu meminta Yanto membelakanginya. Penisnya pun dimasukkannya kembali dan Dani memeluk Yanto dari belakang, siap memberikan sensasi puncak kepada kekasihnya ini. Dengan rangsangan bibir dan tangan ditambah goyangan dan desakan kemaluan di lubangnya, Yanto merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang membuatnya serasa melayang di awan-awan.
Dan setelah beberapa saat Yanto mendesah, "Gua mau keluar Dan.."

Dani kemudian menggenggam dan mengocok kemaluan Yanto, mencium dan mengulum leher dan telinga Yanto dan satu tangannya memegang pinggang Yanto untuk menahannya karena dia menggelinjang dengan kuat menggapai puncak kenikmatan birahinya. "Arrghh, hh, hh, ahh. " Yanto pun menyemburkan spermanya, sedemikian kuat sampai mencapai dinding kamar mandi, dan Dani merasakan denyutan yang sangat kuat memijat kemaluannya, dan ketika dia mencoba memaju mundurkan kemaluannya terasa sulit karena jepitan yang sangat kuat dari lubang Yanto yang sedang menggapai orgasme.

Denyutan itu memberikan pijatan hangat yang membuat saraf Dani tak dapat lagi menahan kenikmatan yang menjelang dan sesaat kemudian Dani memancarkan maninya dalam tubuh Yanto dan penisnya berdenyut kuat, memberikan tambahan kenikmatan bagi Yanto yang bisa merasakan dengan jelas denyutan batang kemaluan pasangannya itu. Dani mendekapnya erat, dan mereka berdua menikmati orgasme bersama-sama.

Setelah itu mereka berdua membersihkan diri dan mandi, membungkus kondom yang berisi sperma Dani dalam tisu, kertas dan kantong plastik, lalu membuangnya di tempat sampah.
"Gua bawa pulang aja, buat kenang-kenangan" gurau Yanto.
"Gila lo, ntar gua kasih lagi, nggak usah bawa yang begituan", sergah Dani.
"Ha ha, bercanda lagi", kata Yanto.
Lalu mereka berdua berbaring dan beristirahat setelah melakukan kegiatan yang sangat melelahkan namun sangat menyenangkan juga itu. Yanto terlelap di pelukan Dani yang tersenyum memandang wajah "cute" di dekapannya itu.

Tamat

Gay seks dengan Jim Buol



Kenalkan, saya Robert Fullerton, fotografer yang sudah berpengalaman. Dari luar, saya terlihat seperti pria straight. Tampangku rapi, gayaku oke, dan pekerjaanku sukses sekali sebagai fotografer Men's Health Amerika. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa saya doyan cowok! Kecuali, para pria yang pernah kuajak berhomoseks. Kebiasaanku dalam memotret memang unik. Baik dilakukan indoor maupun outdoor, saya tidak ingin diganggu, alias hanya saya dan model saja yang boleh berada di lokasi pemotretan. Ketika ditanya kenapa, saya beralasan bahwa dengan demikian saya baru bisa berkonsentrasi. Tak pernah ada yang menaruh curiga. Oleh sebab itu saya selalu dapat dengan leluasa merayu para model pria untuk berhomoseks denganku! Saya tahu, saya memang bejat ;)

Saya teringat pada 'korban' pertamaku. Namanya Jim Buol. Model yang satu ini nampak sangat segar dan bersemangat. Dari segi fisik, dia tidak berbeda dengan model pria lainnya: bertubuh kekar dan penuh otot. Yang pasti, Jim dapat merangsang kontolku. Susah sekali untuk tidak membayangkan nikmatnya bercinta dengannya. Saya ingat bagaimana seksinya dia saat pertama kali melangkah masuk hanya mengenakan celana tinju saja. Dada bidangnya nampak besar dari samping dengan kedua puting yang menonjol. Saat dia tersenyum padaku, rasanya saya ingin pingsan. Sungguh menawan hati. Saya mencoba untuk memikirkan cara untuk menjeratnya.

Keuntungan menjadi fotografer model fitness adalah saya bisa memiliki foto-foto model pria seksi dari segala sudut. Jim Buol memang fantastik. Tanpa canggung, dia berpose, memamerkan dadanya. Dada yang diinginkan oleh semua pria homoseksual, termasuk saya. Patuh sekali, Jim menuruti semua perintahku untuk berpose. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa saya senang akan tubuhnya secara homoseksual. Saya menyuruhnya untuk memamerkan otot bisepnya, punggung, dada, kaki, dan bahkan tonjolan di balik celananya. Saya tidak tahu apakah tonjolan itu karena dia sedang ngaceng ataukah karena kontolnya memang besar. Dan saya berniat untuk mencari tahu.

"Bagus sekali, Jim," pujiku, mengganti isi film kameraku dengan yang baru.
"Sekarang kita akan mencoba hal yang berbeda.

Kepala redaksi memintaku untuk mengumpulkan beberapa foto seksi pria yang akan digunakan untuk artikel seks. Apakah kamu mau berpose sedikit lebih berani," tanyaku, memancing-mancingnya.

"Tentu saja. Sudah tugasku untuk berpose di depan kamera. Saya hanya berharap bahwa kepala redaksi akan menyukaiku dan saya akan dipanggil untuk difoto kembali," jawabnya, tersenyum. Astaga, senyumannya itu sangat seksi. Kontolku makin ngaceng!
"Baiklah. Sekarang lepas celana tinjumu," perintahku, berpura-pura tidak terdengar terlalu antusias melihatnya bugil.

Tanpa ragu sedikit pun, Jim segera memerosotkan celananya. Dan apa yang kusaksikan sungguh mmebuatku terheran-heran. Kontolnya sudah ngaceng dari tadi! Dia ternyata ngaceng berat selama masa pemotretan. Kameraku menangkap bercak-bercak precum menempel di kepala kontolnya yang bersunat. Namun Jim nampak cuek dan asyik berpose dengan gayanya sendiri bak model porno.

Dengan sensual, dia mempertontonkan kontolnya dan lubang pantatnya. Saya jadi curiga dengan Jim Buol. Masa dia berpikir Men's Health akan memuat foto-fotonya dengan pose panas seperti itu? Tapi saya senang sebab nampaknya Jim juga homoseksual sama sepertiku. Kontol ngacengnya yang dilumuri precum mengatakan semuanya.

"Tahu tidak?" kata Jim tiba-tiba seraya memilin-milin putingnya.
"Kamu seksi sekali, juga tampan." Jim membalikkan badannya dan memamerkan otot punggungnya. Kedua belahan pantatnya yang penuh nampak seperti dua belahan bola.
"Kamu suka badanku?" tanyanya, sensual.

Saya tidak perlu memancing-mancingnya lagi. Saya sudah yakin akan homoseksualitasnya. Kutinggalkan kameraku dan saya mulai menelanjangi diriku. Jim Buol menatapku dengan penuh nafsu. Matanya mengikuti setiap gerakan tanganku saat saya sibuk melepaskan kemeja dan celanaku. Tanpa malu, saya juga mempertontonkan kontolku kepadanya.

Kontolku sudah ngaceng dari tadi dan berlumuran precum, tak sabar ingin dingentotin. Saya memang seorang bottom. Saya berusaha untuk mencari pria yang mau mengentotinku. Rasanya Jim Buol akan dengan senang hati menancapkan kontolnya ke dalam tubuhku sebab dia nampak sibuk menjilat-jilat bibirnya saat melihat tubuh telanjangku.

Jim maju sebentar lalu menarikku ke depan kamera. Di sana, Jim menciumiku dengan penuh hasrat. Hanya ada nafsu birahi murni, tak ada cinta. Masing-masing dari kami memang menginginkan one night stand saja, dan bukannya hubungan cinta berkepanjangan. Kupegangi kepalanya sambil kulumat bibirnya. Oohh.. Enak sekali bibir Jim. Untuk sesaat, saya cemburu berat dengan istrinya. Kubayangkan mereka berdua selalu menghabiskan malam mereka dengan seks panas. Jim kembali menciumku, namun kali ini kedua tangannya menjalar ke bawah. Sedetik kemudian, kurasakan tangannya sedang asyik mencoli kontolku.

"Aahh.. Oohh.. Aahh.." desahku saat jari-jari tangannya yang kasar menggesek kulit kepala kontolku.

Jim melepaskan bibirku lalu berjongkok menghadap kontolku. Saya tahu apa yang ingin dia lakukan berikutnya. Tanpa menghalangi niat baiknya itu, saya menyodorkan kontolku yang bercita rasa air mani. Jim langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan kontolku.

"Aahh.." erangku saat kepala kontolku dibungkus mulutnya yang hangat dan basah.

Sedotan Jim bertenaga dan keras. Sungguh nikmat. Sepertinya Jim sudah pernah menyepong kontol sebelumnya, sebab sepongannya terasa sangat profesional. Jangan-jangan, Jim berprofesi ganda, sebagai model fitness dan bintang porno homoseksual, pikirku.

"Aahh.." erangku lagi saat lidah Jim menggelitik bagian bawah kepala kontolku itu.

Kontolku berdenyut semakin keras dan hampir muncrat. Saya tak ingin berejakulasi dulu, maka Jim kudorong sampai kontolku terlepas dari mulutnya.

Jim kecewa namun segera kuhibur dengan menghisap balik kontolnya. Kini dia yang berdiri sementara saya sibuk menyepong kontolnya sambil berjongkok. Ah, nikmatnya menjadi fotografer. Bukannya sombong, tapi saya selalu berhasil ditiduri oleh semua model priaku ;) Ya, benar: ditiduri, dan bukan meniduri. Ingat, saya 'kan homoseksual bottom (pengen dingentot dan bukan mengentot). Dan untungnya, mereka semua pintar menjaga rahasia sehingga redaksi Men's Health tidak pernah memecatku.

"Mm.. Mm.." SLURP! SLURP! Kontol Jim benar-benar terasa enak di mulutku.

Harus kuakui, semua kontol mempunyai rasa yang sama. Namun kontol Jim berbeda. Saya semakin giat menyedot kontolnya, berusaha menarik spermanya keluar. Jim harus ngecret!

Kulihat kedua puting Jim yang melenting di atas kepalaku sedang menganggur. Kebetulan nih, pikirku. Langsung saja kupelintir-pelintir kedua putingnya itu. Jim mengerang kesakitan dan tubuhnya menggeliat-geliat, namun dia tidak memprotes tindakanku. Malahan dia nampak menikmati. Tanpa ampun, putingnya kutarik lalu kuputar. Tarik dan outar lagi.

"AARRGGHH!!" erangnya. Dadanya yang lebar dan bidang itu terangkat-angkat, mencoba untuk menghirup lebih banyak udara.
"Aahh.. Oohh.. Enak banget.. Aahh.. Pelintir terus.. Aahh.. Sepong kontolku.. Aahh.."

Tiba-tiba kuperhatikan bahwa kedua bola pelernya terangkat pelan-pelan dan Jim nampak kehabisan napas. Saya tahu apa yang akan terjadi dengannya. Dia akan berorgasme.

"AARRGGHH!!" lenguhnya.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Banjir pejuh menyerbu masuk kerongkonganku. Langsung saja kutelan dengan penuh rasa syukur. Jim terus mengerang-ngerang sambil memegangi kepalaku keras-keras. Dia ingin kontolnya masuk sedalam-dalamnya agar orgasmenya lebih nikmat. CCRROOTT!

"AARRGGHH!! UUGGHH!! AAHH!! AARRGGHH!!" erangnya, tubuhnya kelojotan sampai titik pejuh yang penghabisan. Jim agak sempoyongan, letih sekali. Jadi kubiarkan dia beristirahat sejenak.

Jim terbaring kelelahan di atas lantai studio pemotretan. Lampu-lampu kamera yang dilengkapi payung pantulan masih menyoroti tubuh kami mulai membuat kami kepanasan setengah mati. Namun semakin kami berkeringat, semakin kami terangsang kembali. Kulihat tubuh Jim yang berkilauan dengan keringat itu. Ah, seksi sekali. Dadanya masih sibuk naik-turun.

Saya meraba-raba dadanya kembali dan kurasakan detak jantungnya. Jim mengerang keenakkan saat kuremas dadanya. Pria ganteng itu langsung duduk berdiri dan menciumiku dengan penuh nafsu. Bagus, dia sudah 'on' kembali dan siap beraksi.

"Entotin pantat gue," kataku, menggaruk-garuk dadanya.
"Gue butuh kontol dan hanya loe yang bisa memberikannya. Ayo, cowok macho. Buktikan kejantananmu. Entotin gue," desakku.

Dan Jim Buol pun meresponnya dengan bersemangat. Seperti singa kelaparan, dia mendorong tubuhku ke belakang dan saya pun terbaring tak berdaya di hadapannya. Jim menggerayangi seluruh tubuhku. Lidahnya sibuk menjilat-jilat setiap bagian tubuhku. Aahh.. Tangannya juga sibuk mencubiti kulitku. Saya menjadi semakin terangsang. Rupanya Jim Buol senang main kasar. Saya paling suka tipe pria kasar (bad boy) seperti dia.

"Oohh.. Aahh.. Oohh.." erangku.

Sebelum saya menyadari apa yang sedang dia lakukan, kedua kakiku sedang berada di punggungnya. Jim sudah tak sabar lagi rupanya. Tentu saja saya senang melihat kontolnya yang diposisikan tepat di depan lubang pembuanganku. Dan dengan sekali dorong, PLOP! Kontol Jim pun masuk! Maklum, lubang anusku memang sudah sering disodok kontol sampai saya sendiri tidak ingat sudah berapa banyak pria yang pernah menyodomiku. Namun, yang pasti banyak sekali.

"AARRGGHH!!" erangku saat Jim langsung tancap gas dan menggenjot pantatku tak karuan.
"UUGGHH.. OOHH.. AAHH.. OOHH.. AAHH.." Kontolnya yang besar dipompa keluar-masuk, berirama tetap.

Wajah Jim meringis-ringis, nampak keenakan. Napasnya yang panas serasa membakar wajahku.

"Aahh.. Aahh.. Aahh.." desahnya, bibirnya bergetar menahan kenikmatan. Kepala kontol Jim bergesek-gesek dengan dinding ususku.
"Aahh.. Gue suka anus loe.. Aahh, masih ketat.. Oohh.. Gue ngentotin loe.. Aahh.. Pantat loe milikku.. Aarrgghh.." Keringatnya jatuh menetes-netes ke atas tubuhku yang juga sudah berkeringat.
"Aahh.." Jim terangsang melihat kontolku yang tegang berdiri.

Baik sekali, Jim membantuku untuk mencoli kontolku. Jadi saya sedang menerima servis dobel: dingentotin kontolnya yang gede dan sekaligus dicoliin.

"Aarrgghh.."

Saya pun megap-megap, mengambil napas. Rasanya tak tertahankan. Orgasmeku mendekat dengan cepat sekali.

"AARRGGHH!!" teriakku. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Akhirnya saya ngecret juga.

Pejuhku tersembur ke atas bagaikan air mancur, mengenai tubuhku dan juga tubuh Jim. Rasanya agak panas saat pejuh itu mendarat di kulitku. Tubuhku menggelepar-gelepar dan meronta-ronta. Saat kontolku berdenyut tak karuan, lubang anusku ikut berdenyut. Dan denyutan anusku itu memicu orgasme Jim Buol.

"UUGGHH!!" Jim mengerang, mendorong pinggulnya ke depan.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Cairan surgawi miliknya pun tersemprot ke dalam tubuhku. Dengan cepat, pejuh Jim memenuhi setiap rongga tubuhku, menghangatkanku.

"AARRGGHH!! OOHH!! UUGGHH!! AAHH!!"

Kontolnya berdenyut-denyut dan setiap denyutannya dpat kurasakan dengan sangat jelas. Aahh, sungguh erotis sekali. Itu sebabnya saya paling suka kontol!! CCROOTT!! CCRROOTT!!

Jim menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuhku. Dadanya yang besar dan keras menimpa dadaku. Putingnya yang keras terasa menggesek-gesek putingku. Kami hanya berbaring di situ selama bermenit-menit sambil bernapas terengah-engah. Pejuh kami mengotori lantai studio, becek di mana-mana. Saat kami berdua pulih, Jim bangkit dan menciumiku lagi.

"Thanx," katanya.

Sejak saat itu Jim kumasukkan dalam daftar model homoseksualku. Kapan pun saya gatal untuk dientotin, Jim bersedia untuk datang dan 'mengobatiku'. Dan kapan pun dia ingin kehangatan anus lelaki, saya akan siap memberikannya. Jim Buol dan saya menjadi dekat sekali sejak saat itu, meskipun kami hanyalah partner homoseks saja. Satu-satunya model Men's Health yang dapat menandingi keseksian Jim adalah Gregg Avedon. Tapi saya baru akan menceritakannya nanti saja, OK? ;)

Tamat

Dompet



Tidak biasanya bis kota pulang kandang lebih awal. Kalau biasanya jam 7 malam masih beroperasi, hari ini, sudah sejam sejak aku keluar dari kantorku di Jl. KHA Dahlan, bis yang kutunggu tak kunjung juga datang. Mungkin imbas dari maraknya demo, yang memacetkan kompleks Kantor Pos, yang kebetulan menjadi sentra setiap demo, sekecil apapun itu. Padahal hari itu juga aku ada acara mujahadahan di Pondok Krapyak, dan kebetulan aku sie acaranya. Segala rasa berkecamuk, demi membayangkan betapa bingungnya teman-teman panitia. Sedangkan handphone andalanku, sudah ngedrop baterenya sejak jam 3 sore tadi, biasa, karena memang hari Sabtu tidak begitu banyak yang harus kukerjakan di kantor, sehingga hiburan alternatife yaa, main game HP.

Becak. Yah, tiba-tiba pikiran itu datang, ketika di depanku, becak sedang menurunkan penumpang. Persis di depan Radio Arma Sebelas, tempat kumenunggu bis. Entah kenapa, padahal kalau dalam keadaan biasa, tidak mungkin aku memakai jasa becak, yang tentunya, akan menghabiskan gaji sehariku, atau bahkan lebih, karena pondok Krapyak memang jauh dari Malioboro. Biasanya aku akan menelephone teman suruh menjemput dan mengganti uang bensinnya, meski tidak jarang ditolak uang itu.

"Silahkan!", kata yang logatnya tidak pas dilafadzkan oleh yang empunya suara, karena memang penumpang itu bule.

"Terima kasih", dengan senyum kubalas keramahan yang ditawarkannya. Tanpa banyak basa-basi, kupinta abang becak menggenjot becaknya. Sempat kutoleh bule itu, hmm, masih memandangku, aneh. Dari aku mencoba transaksi becak, tidak lama setelah dia turun, pandangannya aneh. Ah, sudahlah, pikirku, karena kemudian aku disibukkan dengan pikiranku ke acara mujahadahan, selama dalam perjalanan.

Sesampainya di kosku yang dekat pondok, tergesa kuraih dompet, kuberi ongkos pada abang becak. Ada yang aneh, tapi aku sendiri tidak tahu apa. Aku mandi, dan ke pondok. Urusan makan nanti, pikirku. Setelah acara setengah jalan, rasa lapar menterorku. Karena tragedi yang kualami sorenya, maka tugasku sudah dialihkan pada teman lain. Ah, aku bisa santai. Aku bisa bebas keluar nyari makan, pikirku.

Tersentak aku, ketika kubuka dompet saat mau membayar. Dompet itu tebal, banyak isinya, dengan berbagai kartu identitas, kartu kredit. Ah, bayanganku langsung ke sosok bule sore itu. Oh, mungkin aku tadi juga bayar becak pake duit di dompet ini, gumanku. Mungkinkah jatuh di jok becak itu, dan tanpa sadar aku mengambilnya? Rasa bersalah berkecamuk. Rasa kasihan, terlebih. Aku yakin bapak itu bergantung banyak dengan dompet ini. Aku lihat isinya lebih teliti. Hmm, dia nginap di Natour Garuda. Yup, aku harus memberi tahu, kalau dompetnya aman, di tanganku.

"Bisa disambungkan dengan Mr. Daniel Smith?", pintaku kepada pihak hotel. "Sangat penting!", sambungku.

"Dompet yaa?", suara di seberang menyahut. Bayangan kebingunan bule itu menghantuiku. Kalau saja terjadi padaku, wuihh, aku tidak tahu lagi. Di negeri orang tanpa identitas, tanpa apapun.

"Selamat malam, di sini Smith!", suara itu membuyarkan kengerianku.

"Bisa bahasa Indonesia?", suara pertamaku.

"Tidak begitu lancar", jawab bule itu. Nampak benar kebinaran di suaranya.

"Aku yang tadi sore anda sapa, ketika turun dari becak. Kuharap Mister masih ingat", kuterdiam sesaat.

"Yaa, yaa. Hmm". Jawaban di seberang menyakinkanku kalau bule itu sudah ingat aku.

Aku bercerita panjang lebar. Sampai aku harus ganti beberapa uang yang tanpa sengaja aku pakai. Sesekali kami terlibat dalam tawa yang familiar.

"Ok, aku ke sana malam ini! Tunggu di seberang jalan yaa!, soalnya aku tidak biasa masuk hotel besar. Gagap", pintaku dan disetujui olehnya.

Dengan motor pinjaman, kupacu cepat. Kuperlambat, ketika sudah mendekati Hotel. Ahh, itu dia. Aku masih ingat sosok itu. Sigap, umur 53-an 179, 67, tidak begitu jangkung untuk ukuran dia.

"Ini, coba periksa isinya!", masih di atas motor, aku menyerahkan dompet itu.

"Yup, persis", senyum itu kembali mendesirkan hatiku. Aneh.

"Ok, aku balik dulu yaa!", sambil kustarter motorku.

"Tunggu!, siapa namamu?, aku harus beri sesuatu ke kamu, aku harus ngobrol banyak ke kamu.. ", berondongan kata-kata itu, mematikan motorku lagi.

"Hafiedz. Namaku Hafiedz. Tidak usah!, anda tidak harus memberi apapun ke aku!, tapi kalau mau ngobrol, aku bisa".

"Deal. Di mana? Kamarku? Di resto? Tempatmu?", demi melihat rasa berterima kasihnya justru aku jadi kikuk.

"Ke kosku tidak mungkin. Hmm, ok ke kamar anda saja, tapi janji, nanti aku diantar, sampai sini lagi. Aku gagap", keluguanku justru mendatangkan tawa renyahnya. Ah, tawa itu, kembali mendesirkanku. Aneh.

"Terima kasih", uluran tangannya kusambut, sesaat setelah kami sampai di kamarnya. Aku ditariknya, didekap erat. Diciuminya keningku berkali-kali. Bahkan sesekali ciuman itu mendarat di pipiku. Aku tersentak, kaget, kejadian itu demikian cepatnya, karena belum sempat aku duduk, untuk bersiap ngobrol. Aku berontak, mencoba melepaskannya. Ingin kuteriak, tapi mulutku didekapnya.

"Tenang! Tenang!, aku tidak bermaksud jahat", kulihat di wajah itu ketakutan, rasa bersalah, dan berbagai rasa, aku yakin berkecamuk. Aku masih belum bisa berteriak, Karena mulutku masih di sumbatnya.

"Maafkan, aku. Jangan teriak, aku tidak jahat. Aku hanya ingin berterima kasih atas kebaikan yang kau berikan. Dan mungkin caraku salah buatmu", berkali wajah itu mencoba menyakinkanku. Aku mengangguk, tanda setuju. Perlahan tangannya di lepaskan dari mulutku.

"Maafkan aku. Aku begitu excited, atas apa yang terjadi hari ini. Kau begitu baik", berkali-kali kata maaf itu terlontar dari mulutnya.

"OK, aku mengerti. Kalau ngomong dulu, mungkin akan lain", aku mencoba menetralkan suasana.

"Benar? Jadi sekarang aku boleh memelukmu, menciummu, untuk sekedar mengucapkan terima kasihku, mencoba menyambutmu sebagai bagian dari hidupku?", pintanya penuh semangat.

"Tidak. Tidak harus begitu. Cukup dengan kata-kata saja", sambungku cepat.

"Oh, .. Please. Sekali saja. Kau orang baik pertama yang pernah kutemukan di negeri ini. Please!", rengekan itu seolah menghilangkan kesan bahwa dia sudah 53 tahun.

"Ok. Sekali saja!", akhirnya aku tidak kuat juga melihat wajah itu.

Masih berdiri, dia dekap erat tubuhku. Dielusnya rambutku berkali, dicium kembali keningku, tapi kini berbeda, ada perasaan aneh hinggap di dadaku. Rasa haus figure seorang ayah yang sejak lahir tidak pernah kurasakan, hadir. Aku, mulai membalas dekapannya. Rasa sayangnya, elusan lembutnya, bisikan syahdunya, membangkitkan imaginasiku. Aku terhanyut. Aku mulai merasakan kehangatan asing yang selama ini aku impikan. Kesadaranku melayang, sehingga ciuman yang kemudian mendarat dibibirku, kubalas, tidak kalah lembutnya. Kurasakan ada yang menusuk nusuk di daerah sensitifku, tapi aku tidak pedulikan.

Air mataku meleleh. Bahagia?, entahlah. Rindukan sayang seorang ayah? Rindu sosok kakak?, atau aku merasa menemukan sosok yang bisa mengisi keseharianku yang sebatang kara? Air mata itu semakin deras, membasahi wajahnya. Dia tersentak.

"Maaf, maafkan aku", kembali dia merasa bersalah atas air mataku yang tidak bisa kubendung.

"Tidak apa-apa. Mister. Aku bahagia. Aku serasa menemukan sosok yang telah lama kurindukan. Justru aku yang harus minta maaf, telah melibatkan hatiku".

"Tidak apa-apa, teman. Tidak apa-apa. Kau bisa memperlakukan aku sesukamu. Aku siap, selalu siap", bisikan dibelakang telingan itu kembali melambungkanku. Apalagi elusan syahdunya.

Dia semakin gencar menyerangku, kami terjatuh di lantai. Ciuman mesranya berubah menjadi sangar. Tapi anehnya aku justru mengimbanginya. Bahkan, kurasakan bukan lagi rasa sayang, tapi gairah. Birahi, dan terangsang ketika aku melihat bf, kini kurasakan. Apalagi kemudian dengan cekatan dia membuka bajuku. Putingku yang tidak seberapa dipermainkan. Dijilatinya habis, aku mulai mengerang, seirama dengan irama kulumannya, gigitannya. Tangannya, meraih barang yang selama ini tidak pernah dijamah kecuali olehku. Aku terhenyak, tetapi birahi telah mengalahkanku. Dia semakin nekat melambungkan gairahku.

Bahkan ketika dia membuka paksa celanaku, kubiarkan. Tidak berapa lama aku telah telanjang bulat. Penisku yang tegak setegak tegaknya dipermainkan dengan tangannya. Desahan suaranya ketika berkali mencoba mempermainkan penisku, terasa membangkitkan sesuatu yang benar-benar asing. Keterkejutanku memuncak manakala, tiba-tiba dijilatinya penisku, bak es krim rasa vanilla kesukaan cewekku. Aku mengerang, mendesis. Tapi justru semakin membuat dia kesetanan. Dia buka sendiri bajunya, kulihat penisnya telah memerah, keras dan tegak. Dan tentunya besar. Dan kini sama-sama telanjang. Aku tidak habis pikir, tapi tetap saja semakin tertarik untuk mengikuti permainannya gilanya.

Aku dipapahnya ke kasur. Dijilatinya anusku, lama. Bahkan aku sendiri jijik membayangkannya. Tapi birahi yang memuncak, telah mengalahkan logikaku. Fantasiku semakin melayang. Rasa nikmat naik ke ubun-ubun. Aku semakin mengerang. Bahkan kini, aku sendiri yang memapah mulutnya agar mengulum penisku. Dengan sigap disambarnya penisku. Aku semakin memuncak. Keinginnan untuk merasakan seberapa nikmat penis ini dikulum, terlaksanan sudah, meski bukan dengan cewekku. Kujambak rambutnya, kubenamkan, seirama kenikmatan yang tersendat mengalir ke ubun-ubun.

Sempat kulirik, betapa wajah bule itu begitu menikmati permainan, yang bagiku merupakan pengalaman pertama. Tangannya berkali meremas putingku yang tidak seberapa besar. Sedang tangan satunya, memainkan penisnya yang tidak kalah tegangnya.

Kenikmatan yang bertubi, pada akhirnya tidak bisa kubendung. Pada cabutan mulut terakhirnya, kutekan erat kepalanya. Ada yang menyentak ingin keluar dari penisku. Dan diraungan terakhirku, kusemburkan dengan kuat maniku di mulutnya,

"Oughh.. Oughh..", pengalaman pertama membuatku terasa melayang di negeri penuh kenikmatan. Sesuatu yang muncrat dari penisku telah membawaku ke pengalam asing yang sungguh tidak terkira nikmatnya.

Dia semakin merancap penisnya. Aku terpejam kenikmatan. Aku tahu, inilah kali pertama maniku muncrat banyak, dan kental. Namun aku tidak pernah tahu seberapa banyak dan kentalnya, karena mulut itu masih mengulum penisku, bahkan, di telannya tak bersisa. Dan djilatinya sisa sisa maniku. Di akhir kenikmatanku, kurasakan sesuatu menyembur penisku.

"Oughh.. Oughh,", demikian desisnya, ketika penisnya juga memancarkan maninya persis ke penisku.

Dia tersenyum. Mendekapku erat, bertubi menciumiku. Kami sama-sama kelelahan. Lama kami masih saling berpagutan ganas, meski nafsu itu tidak lagi berkobar.

"Maafkan aku Mister", rintihanku, membuyarkan dekapan itu.

"Maaf untuk apa?", dia kaget.

"Aku telah menjadikan Mister.., uihh. Maafkan aku Mister". Aku hanya bisa sesenggukan.

"Tidak apa-apa. Bahkan kalau kau menginginkan lagi, aku selalu siap", wajah itu kembali berbinar, kembali aku diciumnya mesra.

Dan sejak hari itu, aku seolah menemukan kehidupanku yang 180 derajat berbalik. Mister, telah menjadi malaikatku. Aku dibelikannya motor, sebagai tanda terima kasih. Meski aku menolak pada awalnya, namun dia tidak mau ditolak, untuk sekedar memberiku ucapan terima kasih, entah untuk apa. Bahkan, kalau mau aku mau diajak ke negerinya, untuk diperkerjakan di perusahaan bapaknya. Tapi aku tahu diri, bahwa akan lebih baik mengawali sesuatu di negeri sendiri.

Dan kini, 6 tahun sesudah hari itu, motor dengan plat AB 2311 LG, masih terawat baik. Yah, 23 November, kami jadikan nomor plat motor yang dibelikannya. Bahkan, akhirnya rumah berlantai dua, bercat biru, warna kesukaannya, masih asri terawat di kawasan Kota Baru. Dan dia masih sering mengunjungi rumah pemberiannya. Datang, menjenguk aku dan istriku. Anakku yang dianggapnya cucunya sendiri, dan tentunya, memberikan pengalaman lain kepadaku, yang entah sampai kapan berakhir, karena ternyata aku juga sangat menikmatinya.

Tamat

Discourse



"Hai, celanamu bagus. Dimana kamu jahitinnya?" tanyaku kepada Rasta.
"Di dekat kampus. Wow, banyak kok. Bertebaran deh".
"Boleh dong aku diantar ke sana?"
"Kapan kamu maunya?" demikian Rasta menimpali.

Aku meneliti celana jeans yang sedang dikenakan Rasta siang itu. "Tolong dong, diangkat bajunya, aku mau lihat jahitannya?" kataku sambil merunduk ke arahnya. Rasta segera mengangkat t-shirt yang dipakainya tinggi-tinggi. Terlihat bulu-bulu halus berbaris dibawah pusarnya dengan arah kontur jelas bersumber dari sesuatu yang ada di bagian pangkal pahanya.

"Lho, kok longgar, sih?" kataku mengomentari lingkar celana yang terlihat besar. "Nih, lihat, empat jariku dapat masuk ke dalamnya" aku memasukan jemariku ke bagian dalam celana jeansnya untuk menunjukan hal itu. Pada saat yang sama, aku sempat terkejut, ternyata Rasta tidak memakai celana dalam. Tanganku langsung menyentuh pubicnya yang terasa sekali kelebatannya. Wajah Rasta bersemu merah. Malu. Aku pura-pura tidak melihat perubahan pada wajahnya.

Setelah kejadian itu, pikiran ngeresku selalu membayangkan aku dapat memegang bahkan melumat sekalian sesuatu yang ada di antara pubicnya itu. Kala itu jangkauan tangganku tidak dapat mencapainya. Karena ia belum ereksi.Tapi intuisiku mengatkan bahwa probabilita Rasta dapat juga menikmat seks sejenis adalah sekitar 80-90% kebenarannya. Aku hanya perlu membuktikan hipotesa saja. Apalagi dari analisa sikap dan perilakunya sebagai seorang ‘anak mami’ yang dandy dan fasionable. Dia malu sekali ketika aku mengomentari kuku tanganya yang bersih karena melakukan treatment menipedi (Manicure and Pedicure).

Memang sih, kutahu ia punya girl friend. Aku juga kenal kok dengan pacarnya itu. Tapi menurut pandanganku itu tidak menjadi alasan yang signifikan bahwa ia tidak bisa lagi make love sejenis. Sesuatu yang membuat aku begitu yakin adalah selera pilihannya terhadap warna-warna tertentu serta sikapnya yang manja kepadaku. Aku biasa memeluk dan mencium pipinya ketika ulang tahun. Suatu kali, bahkan pernah kami bersentuhan bibir. Namun, aku tidak ingin gegabah bertindak lebih yang akhirnya merusak pertemanan itu.

Sampai pada suatu ketika ia datang kerumahku dengan keadaan basah kuyup. Saat itu memang kebetulan hujan deras.
"Lho kok tumben sampai kebasahan gitu?" kataku kepadanya sambil memberikan handuk dan ganti pakaian kering kepadanya.
"Rumahmu, sih, pake masuk gang segala. Sialnya, aku sedang gak bawa payung lagi" Rasta menggerutu, kemudian ia melanjutkan "Menunggu hujan berhenti, wah, aku gak sabar deh. Makanya aku beranikan monek (modal nekad) aja menerabas hujan. Kalau mama tahu begini pasti sih diomelin. Ntar pilek, batuk, he he…he….he..he.."

Rasta membuka pakaiannya yang basah. Aku terhenyak ketika untuk pertama kalinya menyaksikan keindahan bentuk tubuhnya polos atletis dengan dadanya yang bidang dan amboi lebat nian bulu ketiaknya terlihat menggerombol keluar dari himpitan kedua lengannya yang kokoh itu.

"Aku nginep di sini aja ya malam ini?" kata Rasta sambil merebahkan diri di kasur.
"Yes" teriaku dalam hati. Bagiku inilah saatnya yang kutunggu-tunggu.
"Kamu sudah ijin ke mama?" kataku sambil menutup pintu dan jendela.
"Sudah, sih, kebetulan juga di rumah lagi banyak tamu, kupikir sesekali nginep disini boleh dong?" Rasta tersenyum sambil mengedipkan mata.

Ketika malam beranjak larut, aku semakin gelisah saja. Kulihat disampingku Rasta sudah lelap tertidur terdengar dari dengkur halus nafasnya. Ia memakai t-shirt serta celana pendek hawai milikku Perlahan aku bangkit berdiri mengambil gunting yang telah kupersiapkan sebelumnya. Dengan hati-hati aku menggunting bagian tepi t-shirt dan celana yang dikenakannya itu. Tahap pertama selesai dengan terlepasnya pakain dan celana hawainya. Masih satu tahap lagi yaitu menggunting celana dalamnya. Hingga akhirnya aku dapat melihat keseluruhan tubuh polos Rasta. Terlihat Rasta nyenyak sekali dalam tidur sehingga ia tidak tahu bahwa saat itu ia telah kubuat bugil.

Aku segera melepas juga semua yang melekat ditubuhku; kini akupun sudah bugil pula. Tak sehelai benangpun melekat di tubuhku. Aku melirik kemaluanku yang sudah menegang dengan perkasa. Pada saat itu, aku sempat bingung mau ngerjain bagian yang mana dulu ya. Sampai akhirnya kuputuskan untuk perlahan-lahan menindih tubuh Rasta yang telentang itu. Namun sebelumnya kuangkat dahulu ke dua belah tangan Rasta kesamping sehingga aku dapat melihat jelas pangkal lengannya yang ditumbuhi bulu ketiaknya yang rimbun itu. Kuhirup aroma jantan khas lelaki dari ketiaknya yang lebat itu

Dengan hati-hati kugesek-gesekanan kemaluanku di atas selangkangannya seraya membasahi bibirnya yang agak ternganga itu dengan sapuan lidahku hinga kemudian kudengar Rasta mendesah dan membuka mulutnya. Lidahku segera menerabas masuk menyapu langit-langit mulutnya; reaksinya adalah lidah Rasta menjulur keluar yang segera kuhisap. Tak lama kemudian kurasakan kedua lengan Rasta telah melingkar di punggung dan pantatku. Kurasakan juga Rasta membalas gesekan kemaluanku dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Walau mata tetap terkatup seperti layaknya orang tidur namun erangan, goyangan dan desahan Rasta makin membuat aku kehilangan akal sehat. Aku meniduri Rasta tak ubahnya seperti ketika aku meniduri Ina kekasihku. Aku melepaskan diri dari dekapan Rasta dan perlahan kuarahkan glans ku ke mulut Rasta. Kurasakan bibir Rasta mengenyot glans dan lidahnya terasa basah memilin dan menjilat-jilat; kudorong lagi agar lebih masuk. Setelah itu aku mengarahkan rectumku ke mulut Rasta dan aku menikmati jilatan liar lidahnya disekeliling rectumku sambil tanganku meremas-remas dadaku.

Sebelum mengulum kemaluan Rasta aku kembali menghirup aroma ketiak Rasta yang ternyata semakin memacu testoteronku dan memperkeras tegangan kemaluanku. Aku memutar arah tubuh. Kurahkan kembali kemaluanku ke mulut Rasta. Memang agak sulit pisisi ini namun akhirnya aku dapat meraih kemaluan Rasta yang ternyata sudah mengeras pula. Aku segera mengelamotinya. Kami saling mengelamoti, yang istilah nya adalah posisi 69. Tapi aku tidak lama melakukan posisi ini, selain sulit juga agak tidak nyaman karena arah datang glans tidak biasa sehingga memudahkan terantuk gigi. Sakit.

Aku mengambil bantal dan mengganjalkan di bawah pinggul Rasta. Kuangkat kedua kaki Rasta dan kuletakan dipundakku. Setelah aku mengolesi Glans dan batang penisku dengan gel vaginal lubricant Durex serta merangsang rectum Rasta dengan jariku yang telah dilumuri Durex maka aku mengarahkan Glans ke arah ass-hole Rasta. Dengan ancang-ancang yang cukup aku mendorong perlahan lahan dan kemudian dengan satu sentakan kuat aku berhasil membenamkan seluruh batang penisku ke dalam liang kenikmatan Rasta.

Saat penetrasi itu, rupanya Rasta terbangun dari tidurnya dia meronta dan nampak terkejut. But the show must go on. Aku tetap mencengkram ke dua pahanya sambil tetap menyodok-nyodokan kontolku ke lubang duburnya. Tak beberapa lama Rasta tidak meronta lagi; bahkan ia mengerjap-ngerjap sambil tangannya meremas-remas kedua dadanya.

Jika aku semula dalam posisi menekuk lutut, maka kini aku selonjorkan kedua kaki disisi tubuh Rasta; aku menurunkan kedua kaki Rasta dari pundaku dan kemudian aku mencoba meraih pundak Rasta. Setelah dapat langsung kurenggut dan kuubah titik berat sehingga keadaan menjadi berbalik aku barbaring dan Rasta menduduki selangkanganku.

Setelah memperbaiki posisi agar lebih nyaman maka kini Rasta memegang kendali atas diriku. Dalam posisi beraring ini Rasta lebih mudah mengatur kedalaman penetrasi yang diinginkan. Buatku posisi ini lumayan enak karena aku tidak terlalu capai untuk memajumundurkan pinggul. Aku hanya merasa kemaluanku seperti diremas-remas dan dihisap oleh sesuatu kekuatan gaib yang menimbulkan sensasi senut-senut yang tidak terlukiskan dengan kata-kata biasa keculai desahan dan erangan kenikmatan.

Dalam posisi seperti ngulek sambel ini aku dapat menyaksikan wajah Rasta yang cute dan cool dengan lebih jelas. Senyum Rasta yang menawan ditingkah oleh sebaris kumis dan jenggot yang tumbuh rapi. Sambil Rasta naik turun menelan kemaluanku aku meraih penisnya pula dan memasturbasinya. Sampai pada suatu ketika aku sudah merasa sampai pada suatu titik pendakian cinta. Kedua kakiku mengejang dan tubuhku menggelatar hebat manakala aku menyemburkan cairan kelakianku di relung tubuh Rasta. Di saat yang sama Rasta melakukan cumshotnya kepadaku. Tembakan maninya tumpah ruah didagu dan mulutku. Pejantan belia yang kuidamkan.

:"Lho, kok, digunting?" Kata Rasat sambil menunjukan baju dan celana yang tadi dikenakannya.
"Aku takut membuat dirimu terbangun dan menjadi marah, jadi agar kau tidak bangun maka aku tidak punya pilihan lain selain mengguntingnya. Seandainya kau maraHPun dalam keadaan telanjang bulat demikian, aku yakin, kau tidak akan langsung lari pulang, ya kan?" Sahutku sambil memberikan ganti baju dan celana yang baru.
"Oh ya, Rasta, aku minta maaf untuk perbuatan tadi. Aku telah berbuat kurang ajar kepadamu. Aku hanya ingin membuktikan hipotesaku bahwa kau tidak alergi dengan hubungan make love sejenis. Feelingku menyatakannya bahwa kau bisa melakukannya.
"Menurutku tidak perlu ada yang dimaafkan; sebab sebenarnya akupun sudah lama menginginkannya. Hanya saja aku tidak tahu cara memulainya."
"Jadi kau sama sekali tidak menyesal dengan apa yang baru saja kita lakukan?"
"Apalagi yang harus disesali dan untuk apa pula menyesal? Buatku penyesalan hanya boleh ada jika kita belum pernah melakukannya. Dengan pengalaman melakukan ini aku sekarang menjadi lebih mengerti perbedaan rasa bercinta homo dan hetero. Penilainan ini hanya dapat dilakukan dengan cara membandingkannya dengan praktek. Bukan hanya mendengar kata si anu atau sekedar membaca cerita "
"Nah itu kan menurutmu, tapi belum tentu kan menurut yang lain" Aku membantah argumentasinya
"Menurutku, sih, tetap begitu; dalam jangkauan pemikiranku bagaimana mungkin seseorang dapat memberikan suatu penilaian enak atau tidak enak terhadap sesuatu hal tanpa orang tersebut pernah mengalaminya sebelumnya. Walaupun aku juga tahu, ada hal-hal tertentu yang take it for granted – dapat kita yakini kebenarannya tanpa perlu kita harus mencobanya pula".
"Kalau begitu bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur meragukan kualitas kenikmatan bercinta sejenis seperti yang baru saja kita lakukan tadi?"
"Haruskan aku menjawabnya?"
"Nah, bagaimana pula kelanjutan hubunganmu dengan Regina, pacarmu?"
" Wow, Aku tetap mencintainya. Aku juga masih punya nafsu terhadapnya. Tidak pernah berfikir bahwa hanya karena kejadian tadi kemudian aku memutuskan hubungan dengan Regina. Aku minta pengertianmu untuk menjadikan hal ini rahasia kita berdua, ok?"
"Deal" jawabku sambil melakukan toast – saling menepak telapak tangan.

Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara kokok ayam. Kutengok jam, ternyata saat ini sudah jam 5 pagi. Untungnya tanggalan merah. Hari libur. Jadi kami meneruskan tidur yang tertunda.

Tamat

Bersama Kapten Heru



Tak pernah terbayangkan olehku bertemu dengan seseorang yang mengagumkan, baik hati, gagah, menyenangkan dan pasti handsome, dialah Kapten Heru. Malam itu aku merasa lapar sekali, sementara jam sudah menunjukkan pukul 07:30 WITA. Segera kupacu mobilku ke sebuah restaurant fast food terdekat. Kota ini memang tidak terlalu besar, sehingga tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi, dan kalau malam yah tidak terlalu ramai. Beda sekali dengan kota kelahiranku, ibukota Jakarta. Aku sendiri baru beberapa bulan di kota ini untuk bekerja.

Malam itu aku memesan beberapa fried chicken dengan nasi dan soft drink. Aku pun duduk di sebuah bangku yang menghadap ke luar. Di sampingku sudah duduk seorang laki-laki, mungkin berumur sekitar 35 tahun. Dengan senyum aku pun duduk didekatnya.
"Ma'af Pak," kataku sambil senyum dan meminta izin untuk duduk di sampingnya.
"Silakan, Mas," jawabnya sambil juga tersenyum.
"Sepertinya bukan orang sini?"

Rupanya dia mendengar logat bicara saya, sehingga dia menarik kesimpulan seperti itu. Akhirnya kami pun saling memperkenalkan diri. Ternyata dia seorang anggota militer bernama Heru, ya dia kapten Heru. Dia pun ternyata juga bukan orang sini, dia bertugas di kota ini. Dan yang lebih mengagumkan, ternyata umurnya sudah 45 tahun. Benar-benar terlihat muda dan gagah dengan kumis yang tertata rapih.

Kami pun terus bicara dan Kapten Heru pun bercerita banyak mengenai pengalamannya, baik dalam penanganan keamanan di lingkungan, maupun cerita-cerita yang membuat hatiku deg-degan juga. Pengalamannya sudah banyak sekali, hampir seluruh pulau di Indonesia sudah dikunjungi dalam rangka tugas. Aku sangat tertarik dengan semua cerita-ceritanya termasuk cerita cintanya dengan beberapa wanita di kota ini.

"Begitulah pengalaman saya Mas.." katanya kemudian. Sebenarnya aku tidak hanya tertarik dengan semua ceritanya, tapi yang membuatku lebih tertarik lagi adalah gaya bicaranya yang jelas dan tegas, wajahnya yang ganteng dan penampilannya yang gagah. Beberapa kali ceritanya diiringi dengan senyuman yang membuatku tak berdaya memandangnya.

"Oh ya, kita baru kenal tapi sepertinya saya begitu dekat dengan Mas, sehingga saya cerita tanpa kendali, sampai cerita pribadi.. ha ha ha.. Mas sendiri punya pengalaman apa?"
Tiba-tiba saja kapten Heru mengejutkanku dengan pertanyaannya. Aku terkejut dan bingung apa yang harus kuceritakan.
"Wah, cerita apa ya?" kataku sambil berpikir.
"Anda ramah dan baik, sehingga saya pun merasa kita sudah kenal lama sekali. Tapi apa yang bisa saya ceritakan?"
"Masa tidak punya pengalaman?"
Aku hanya terdiam berpikir. Sementara kami pun selesai makan.
"Baiklah, saya akan ceritakan pengalaman pribadi saya, tapi baiknya tidak di sini," kataku.
"Mari kita ke mobil saya.. nanti saya cerita pengalaman saya."

Kapten Heru hanya terdiam, tapi aku melihat dia sepertinya tertarik dengan cerita yang akan aku ceritakan.
"Tapi nanti saya diantar kembali kesini, karena saya juga bawa mobil."
"Tidak apa-apa," kataku.
Kemudian kami pun berjalan ke arah mobilku dan segera kustater.
"Saya punya pengalaman agak pribadi sekali, Pak. Itulah sebabnya saya ingin cerita di luar, karena hal ini tidak umum sekali. Dan saya hanya cerita kepada Bapak, dan tolong jangan ceritakan pada orang lain."
Kapten Heru makin penasaran tapi dia pun menyetujui dan berjanji untuk tidak menceritakan pada orang lain.
" Saya mempunyai seorang teman yang sangat special sekali di Jakarta. Kami selalu jalan bersama, makan bersama, nonton bioskop, olah raga, dan kadang tidur bersama. Kami juga sering 'ML', kami sering bercinta.."

Kapten Heru mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Dia seorang teman yang baik, berumur hampir 50 tahun, selisih umur dengan saya 20 tahun. Tapi.. dia sudah punya anak dan sudah beristri."
"Beristri?" kapten Heru bertanya dengan heran.
"Maksudnya?"
Aku terdiam sejenak.
"Yah.. saya bercinta dengan sesama jenis.." kataku pelan, saat itu pula Kapten Heru hanya terdiam tapi kemudian dia tersenyum.
"Saya senang dengan Bapak," kataku tiba-tiba dan tak terasa tanganku sudah berada di pahanya. Kapten Heru hanya tersenyum dan membiarkan tanganku menjelajah di pahanya.
"Saya lihat Mas biasa saja.. dan sama sekali tidak terlihat kalau Mas menyenangi sesamaihat kalau Mas menyenangi sesamaan, smart, pandai dan ramah. Saya tidak percaya itu."
"Tapi itulah yang terjadi saat ini," kataku sambil terus tanganku mengelus menjelajahi paha Kapten Heru sambil sesekali saya memegang perutnya yang terasa begitu keras.

Kapten Heru terus bicara pada saya, sementara saya sudah tidak tertarik dan sepertinya saya sudah tidak tahu lagi apa yang dibicarakannya mengenai diri saya. Saya lebih tertarik dengan senyumnya, wajahnya, suaranya dan entah kenapa tangan saya sudah jauh menjelajah memasuki daerah terlarang. Tangan saya sudah mulai mengelus sesuatu yang agak menonjol dari celana Kapten Heru. Dan tanganku pun mulai menarik resleting celananya, hingga Kapten Heru memegang tanganku.
"Oh, ma'af.." kataku ketakutan.
Aku.. oh, aku tidak bisa lagi mengendalikan diri. Aku begitu bernafsu, sehingga lupa siapa yang kuhadapi saat ini. Aku terdiam ketakutan, sementara keringat dingin mulai mengucur dari keningku. Badanku gemetar, aku takut sekali.
"Saya bukan seperti itu.." kata Kapten Heru dengan melontarkan senyum.

Aku pun makin bingung dengan sikap dan tindakanku, aku tidak mengerti dengan senyumnya.
"Saya tertarik dengan semua ceritamu, tapi saya sendiri sebenarnya tidak seperti itu," kata Kapten Heru.
"Tapi saya dapat mengerti perasaanmu."
Mengerti? Oh aku benar-benar bertambah bingung. Sementara tanganku masih dipegangnya. Pegangannya begitu kuat sehingga menusuk jantungku.
"Ma'afkan saya Pak Heru.." kataku pelan.
"Saya menyukai Bapak."

Kapten Heru hanya kembali tersenyum, lama kami terdiam.
"Baiklah, kita coba.."
Ohh meledak sudah perasaanku, kata-kata yang membuatku terkejut, kukira dia akan marah besar padaku, ternyata!
"Tapi jangan di sini.. tidak baik dilihat orang.." kata Kapten Heru kembali.
Langsung saja kupacu mobil mengarah ke rumahku. Tak banyak lagi yang kami bicarakan, hingga tiba di rumahku. kemudian kuajak Kapten Herui masuk dan kukunci rumah dengan rapat.

Sementara Kapten Heru duduk di sofa, akupun pergi mengambil air minum. Di rumah ini aku hanya tinggal sendiri. Kapten Heru pun minum air yang kuberikan, saat itu pun aku sudah tak tahan lagi, segera kuberlutut dan kupeluk perutnya dan kuciumi kedua belah pipinya. Kapten Heru hanya diam sambil sesekali meringis kegelian dan terus senyum sambil tanganya memegang bahuku. Dengan perlahan kubuka kancing bajunya satu persatu hingga terlihatlah bentuk tubuhnya didalam kaos ketatnya. Langsung kubuka kaos tentaranya dan ohh bagus sekali tubuhnya, dadanya yang bidang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang tipis dan terus sampai ke bawah dan mungkin sampai ke daerah vitalnya.

Kemudian aku pun membuka pakaianku. Kubuka celana panjangnya sambil terus kunikmati aroma kejantanan Kapten Heru. Ohh betapa nikmatnya, aromanya begitu khas masculin. Bulunya begitu lebat sekali disekitar senjatanya terus memenuhi hingga paha dan kakinya, segera kuhisap dan kunikmati senjatanya yang berukuran normal. Ohh nikmat sekali, beberapa kali Kapten Heru mengerang, menikmati hisapanku.

"Ohh teruuss.. enak sekali.. teruss.."
Kami pun sudah telanjang tanpa busana di sofa ruang tamu. Kapten Heru sudah tak tahan, nafsunya telah sampai ke ujung kepalanya, mendidih, dan dia langsung merebahkan tubuhku di sofa panjang menaiki tubuhku dan segera menggenjot senjatanya di antara kedua belah pahaku, aku pun sangat menikmatinya. Ohh.. nikmat sekali.
"Teruuss.. Pak Heru.. Ohh.. enak sekali.."
Kami pun berpelukan dan aku pun berusaha mencium bibirnya. Ohh nikmat sekali bibirnya, nikmat sekali. Terus kuraba tubuh Kapten Heru yang kekar berisi sambil terus raba pantatnya yang keras berisi. Dengan nafas yang memburu, kapten Heru terus memainkan senjatanya di atas tubuhku, "Teruss.. menggenjot.. teruss.."

Dia sudah tidak dapat mengontrol diri, dia sudah lupa siapa yang dihadapi dalam "ML", dia menikmati permainan ini, makin dia bernafsu, aku pun bertambah nafsu pula. Dia bagaikan banteng liar, benar-benar jantan. Gayanya yang begitu hebat, permainan yang begitu kunikmati, dan belum pernah kutemui permainan seganas itu, makin liar, makin keras, otot-ototnya yang kencang, keras sekali, mengagumkan.
"Aku mau keluar.. aku mau keluar.."
"Saya juga.. saya mau keluar Pak.."
"Croot.. croot.. croot.."
Tumpahlah sperma Kapten Heru bersatu bersama sperma milikku di tubuhku. Dia pun kelelahan dan tidur sebentar memeluk tubuhku hingga kuajak dia ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.

Kami pun mandi bersama dan saling menyabuni, tak banyak yang kami bicarakan kecuali lontaran senyum yang memuaskan, terus kusabuni tubuh kapten Heru sambil sesekali kupeluk dan kuciumi tubuhnya. Begitu juga dengan Kapten Heru, dia juga melakukan hal yang sama. Kulihat senjatanya sudah mulai bereaksi, terus naik dan terus menegang hingga akhirnya benar-benar tegang maksimal, langsung saja kembali kuhisap, dia pun menikamtinya. Senjataku pun menegang dengan keras. Rupanya Kapten Heru juga ingin melakukan hal yang sama, dia pun segera menghisap burungku yang sudah menegang maksimal. Ohh nikmat sekali.

Kemudian kuajak Kapten Heru ke kamar tidurku dan dengan nafsu yang membara terus dia memeluk dan menggenjot tubuhku, tekanannya makin keras, makin kunikmati, kemudian kuangkat kedua kakinya dan kuciumi sekitar buah zakar dan lubangnya. Kumainkan lidahku keluar masuk ke dalam lubangnya dan dia pun mengerang nikmat dan sambil kuhisap kumasukkan jari-jariku ke dalam lubangnya, dia begitu menikmatinya hingga tak tersa kalau bukan lagi jariku yang masuk ke dalam lubangnya, tapi sudah senjataku berada di dalamnya. Kemudian terus kugenjot naik turun sambil kuciumi kedua pipi dan lehernya.

Naik turun pantatku menggenjot senjataku untuk keluar masuk ke dalam lubang. Ohh lubang itu begitu rapat dan belum pernah ada yang memasukinya, aku menikmatinya, aku pun berteriak. Sambil tangan kananku terus mengocok senjatanya yang sudah tegang maksimal. Terus kukocok sesuai irama pantatku. Begitu juga dengan Kapten Heru, dia juga tak tahan dengan permainan senjataku di dalam lubangnya naik dan turun, keluar masuk dengan pelan kemudian keras, pelan, dan Ohh kami puas, kami puas.
"Ohh.. aku mau keluar.." kataku.
"Teruss.. lebih keras lagi.. teruss.. masukkan lebih dalam lagi.. aku menikmatinya.. teruss.."
"Croot.. croot.. croot.."

Kami pun keluar lagi bersamaan, banyak sekali sperma yang muncrat dari senjata Kapten Heru, putih dan kental sekali. Kami pun tidur berpelukan beberapa saat. Betapa indahnya hari ini. Ohh.. terima kasih Kapten Heru. Kami pun beberapa kali bertemu dan kami bersahabat saling berkunjung ke kantor dan terus bermain bila bertemu. Sampai akhirnya pindah tugas ke daerah lain. Saya tidak akan melupakan. Terima Kasih Kapten Heru. Saya yakin kita pasti bertemu lagi.

Tamat
 

Situs Cerita Seks. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com