Cerita Seks

Koleksi Cerita Seks Paling Seru

Ngentot Janda Nakal

Cerita seks – Namanya Jackal. Usianya 30an, orangnya biasa saja. Tingginya pun hanya 174cm dengan berat 70kg. Itu sedikit berlebihan untuk orang setinggi dia. Mungkin bisa dimaklumi, karena pekerjaan yang digelutinya sebagai koki. Walaupun banyak koki yang berat badannya ideal dengan tingginya. Kita maklumi sajalah berat badan Jackal itu.

Ok, saya rasa itu cukup penjelasan mengenai Jackal. Oh.. hampir lupa. Jackal masih hidup sendiri. Bukan berarti dia tidak pernah hidup berdua. Yang jelas, untuk sekarang ini Jackal masih sendiri. Setidaknya untuk sementara ini, mungkin itu harapannya.

Beberapa tahun yang lalu saat Jackal berada di Indonesia untuk mengunjungi adik adiknya, sambil (tentu saja) menghibur dirinya yang telah bekerja keras di negara kanguru. Jackal selalu berlibur ke Indonesia 2 sampai 3 kali dalam setahun.

Pagi itu kurang lebih pukul 7 pagi, Jackal berada di salah satu rumah makan import di daerah Blok M. Jackal kesitu bukan sengaja untuk sarapan, tapi dia ingin menunggu bus untuk menuju airport. Namun bila hanya duduk disitu, tentu saja akan di usir, maka dia memesan paket sarapan.

Tidak lama setelah makanan yang dipesannya itu datang, masuklah seorang gadis dengan seragam sekolah abu abu. Menurut Jackal tinggi gadis itu kira kira 155cm, kulit agak hitam, berambut lurus panjang meliwati bahunya. Yang menarik bagi Jackal adalah, gadis itu imut sekali, walau terlihat sekilas agak judes.

Dengan cepat gadis itu menuju ke toilet dan lenggak lenggok yang sedikit (menurut Jackal) dibuat buat. Jackal terus menikmati sarapannya. (hanya kopinya saja). Kentang dan cheese burgernya tidak dimakan. Belum lagi Jackal selesai menelan tegukan kopinya.

Gadis yang tadi keluar dari toilet tanpa seragam abu abunya, sudah berganti dengan T-shirt warna biru muda, dan celana jeans ketat, sehingga tubuh kurusnya semakin nampak. Gadis itu melirik sedikit kearah Jackal dan melempar senyum sinisnya sambil menuju pintu keluar.

Merasa dirinya ditantang, maka Jackal menegur gadis itu. “Mau bolos yah dik?”
Gadis itu berhenti, “Mau tauuuuu aja.” Jawabnya singkat. Dan tangan gadis itu sudah hampir mendorong pintu kaca untuk keluar.
“Mau ikut saya gak?” Jackal tidak putus asa. Namun gadis itu tidak menjawab, Dia terus melangkah keluar. Jackal hanya tersenyum sendiri. Gadis itu sudah berada disisi bagian luar, namun matanya masih melihat kea rah Jackal. Dengan rasa percaya diri Jackal memberi kode dengan tangannya, agar gadis itu kembali kedalam.
Rupanya gadis itu tergoda juga, dia masuk kembali dan langsung menghampiri dimana Jackal duduk.

“Kenapa?” Dengan ketusnya gadis itu mengeluarkan kata
“Mau ikut saya?” Jackal mengulangi pertanyaannya dengan senyum dan mata menatap tajam tepat ke mata gadis itu
“Mau kemana emangnya mas?. Gila ketus banget nyebut ‘mas’ nya.
“Ke Surabaya,mau ikut? Nanti sore kita pulang lagi.”
“Gak bisa mas, saya dah janji ama temen” Gadis itu menolak, namun masih berdiri disitu.
“Temen bisa lain kali, sama saya cuma sekali ini” Goda Jackal dengan yakinnya.
“Bener nih nanti sore pulang? Soalnya saya gak bisa kalau gak pulang.”
Hilang sudah wajah judesnya, yang ada wajah kekanak kanakan nya.
“Kalau pesawatnya tidak ada halangan, kita balik hari ini juga. Sore atau malam nya aku gak janji.” Jawab Jackal, sambil mempersilahkan gadis itu duduk.
“Mau sarapan? Nama kamu siapa?”
“Udah tadi, saya Nana., mas siapa?”
“Saya Jackal, minum?.”
“Gak usah terima kasih, ke Surabaya ngapain Jack?”
“Mau anterin titipan orang.” Jawab Jackal sambil menunjuk bungkusan disampingnya.
“Kamu sering bolos yah, kelas berapa sih?” Lanjut Jackal lagi.
“Gak juga, baru satu.”
“Gila, kelas satu SMA aja sudah sering bolos, sekolahnya dekat sini yah?”
“Gak usah sampe gila gitu kali Jack, iya deket deket sini.”
“Bener nih gak mau sarapan? Kita sudah mau jalan nih, bisnya mungkin sudah ada.”
“Iya bener, masih kenyang nih, ayo jalan deh. Tapi bener kan pulangnya hari ini juga?”
“Aduh, kalau ragu, yah udah gak usah ikut.” Kata Jackal meyakinkan.
“Iya deh iyaaaa”. Nana akhirnya menyerah juga. “Kukabarin temen dulu yah, tar dia tungguin, kesian” Nana melanjutkan lagi

Jackal hanya menganggukan kepalanya saja.

Pesawat take off 30 menit terlambat dari jadwalnya. Nana tampak serius melihat pemandangan dibawah dari kaca pesawat. Untung saja penumpang yang seharusnya duduk di samping jendela itu bersedia mengabulkan permohonan Jackal untuk tukeran kursi dengan Nana.

Seperti biasanya dengan tujuan Surabaya, pesawat agak goyang, dan itu membuat Nana tiba tiba menggenggam erat tangan Jackal. “Jack, kenapa nih?” Nana ketakutan.
“Gak apa apa, biasa gini.” Jawab Jackal singkat sambil senyum melihat wajah Nana yang ketakutan. “Kamu baru sekali ini yah naik pesawat?”

Tanya Jackal sambil menatap wajah Nana lagi.

“Iya nih, se umur umur baru kali ini, serem juga Jack.” Nana tersenyum sambil melepaskan tangan Jackal dari genggamannya.

Nana kembali menikmati pemandangan melalui jendela, Jackal pun kembali membaca koran yang disediakan oleh pesawat itu.
Pesawatpun mendarat dengan baik. Jackal dan Nana sudah berada didalam taxi menuju hotel dimana Jackal biasa bermalam tiap kali dia berkunjung ke Surabaya.

Awalnya Nana protes untuk tidak mau ke hotel.

“Kenapa gak langsung anterin aja barangnya Jack? Kenapa harus ke hotel?”
Jackal mengerti kenapa Nana mengajukan protesnya. Mungkin dia takut di hotel akan terjadi apa apa dengan nya.

“Aku sudah janjian dengan orang itu untuk mengambil barangnya di hotel yang kita tuju ini.” Jawab Jackal, coba meyakinkan Nana sambil memanggil taxi.

Wajah Nana masih mengandung ke tidak puasan. Itu terlihat dari bentuk bibir mungilnya membentuk cemberut. Namun Nana tidak menolak untuk memasuki taxi ketika Jackal membukakan pintu bagian belakangnya. Sedangkan Jackal duduk di depan.

“Selamat siang pak Jack, baru sampe yah?”
“Selamat siang mbak An, iya nih. Terlambat tadi pesawatnya. Kamar saya ada kan?”

Jackal bertanya sambil menyerahkan kartu kreditnya.

“Biasa jadwal penerbangan disini begitu. Sudah pak Jack, kamarnya sudah kami siapkan. Pak Jack gak pernah bermalam di Surabaya yah? Soalnya kalau dilihat datanya, selalu hanya satu hari saja” Mbak An bertanya tanpa memandangku. Matanya tertuju pada computernya.

“Iya nih mbak, mau sih bermalam disini, tapi masih agak repot juga. Soalnya waktu berlibur saya terbatas sekali.

Mbak An adalah petugas resepsionis dihotel yang sudah Jackal booking dua hari lalu. Jackal mengenal mbak An 6 bulan lalu, ketika Jackal menginap di hotel itu juga. Terlihat mbak An sibuk dengan computernya untuk memasukan data check in Jackal.

“Bagaimana dengan bulan madunya mbak An?” Jackal bertanya lagi.
“Wah pak Jack tahu yah? Biasa aja, kami tidak kemana mana hanya dalam kota saja.”
“Dalam kota apa dalam ruangan khusus nih?” Jackal bertanya dengan nada humor.
“Pak Jack nih, suka ngeledek aja deh.” Mbak An terlihat agak malu.
“Kira kira tiga bulan lalu saya kesini, mbak Lusi bilang kamu sedang cuti nikah. Saya merasa terlambat tuh.” Jackal mencoba untuk bercanda lagi sambil tersenyum.

“Ah…pak Jack ini bisa saja. Ini kuncinya pak, kamar 412 seperti permintaan bapak.”

Mbak An menjawab sambil tersenyum agak malu dengan candanya Jackal. Kemudian mbak An menyerahkan sehelai surat untuk ditanda tangani oleh Jackal dan kartu kreditnya.

“Terima kasih mbak. Oh ya, apakah ada biaya tambahan untuk keponakan saya ini?”

Jackal bertanya sambil menoleh ke Nana. Sedangkan Nana hanya diam dengan bingung.

“Oh, keponakan bapak yah? Hi apa kabar? Saya Anita.” Mbak An mengucapkan salamnya pada Nana.
“Baik, mbak.Saya Nana” Jawab Nana sambil bingung menoleh kepada Jackal.
“Tidak perlu biaya pak. Kan sekamar aja.” Jawab Mbak An sambil melihat kearah Jackal kemudian melirik sekilas ke Nana, dan kembali melihat Jackal sambil tersenyum.

Jackal hanya mengangkat kedua bahunya, seolah menjawab mbak An.
“Terima kasih mbak An.” Jackal pamit sambil tetap tersenyum kea rah mbak An.
“Sama sama pak Jack.” Mbak An menjawab dengan senyumnya yang manis.
“Mari mbak.” Nana pamit ke mbak An
“Silahkan mbak.” Mbak An menjawab salam pamit Nana.

Senyum mbak An manis. Dengan satu lesung pipit dipipi kanannya, membuat dia selalu nampak menarik untuk dipandang pada usianya yang kira kira hampir 30 itu.

Sambil menuju kea rah lift yang terletak di belakang meja resepsionis Jackal menelephone seseorang, memberi tahukan bahwa dia sudah sampai, Jackal juga memberi tahukan hotel dan nomor kamar yang ditempatinya. Baru saja Jackal menutup handphonenya. Tiba tiba Nana ..
“Ponakan….ponakan dari Jepang.” Nana protes, karena Jackal perkenalkan sebagai keponakannya kepada mbak An tadi.

Jackal tak bisa menahan tawanya mendengar protes Nana dengan tiba tiba itu.

“Jadi maunya kukenalkan sebagai apa? Cewekku?” Jawab Jackal sambil tetap tertawa.

“Uuuuh tambah parah kalo gitu. Mendingan ponakan deh.” Jawab Nana sambil mencubit lengan Jackal.

Jackal hanya tersenyum, menerima perlakuan itu.
Pintu lift terbuka, baru saja Jackal dan Nana mau memasuki lift itu, terdengar;

“Pak Jack, apa kabar?” Rupanya pak Joko, manager hotel itu yang berada dalam lift tadi.
“Hi, baik pak Joko. Gimaman kabar bapak?” Jackal balik bertanya.
Pintu lift tertutup kembali, sebelum kami sempat memasukinya. Dan pak Joko meminta maaf untuk itu. “Tidak apa apa pak, gimana kabar bapak?” Jackal mengulangi kembali pertanyaan yang belum terjawab tadi.

“Oh saya baik saja pak Jack. Baru tiba? Apa akan bermalam kali ini pak Jack?” Pak Joko kembali bertanya.
“Waduh, maaf lagi deh pak, belum bisa rasanya kali ini juga. Masih sibuk pak.” Jackal menjawab pak Joko. Memang sudah berkali kali pak Joko meminta agar Jackal dapat bermalam di situ, karena pak Joko ingin ngobrol lebih banyak mengenai perhotelan.

“Wah saya harus menunggu lagi dong nih?” Dengan segala kerendahan dari pak Joko.

“Sudah ketemu dengan Anna? Dia masuk hari ini.” Pak Joko melanjutkan sambil memberi tahukan bahwa Mbak An sudah masuk kembali.
“Iya pak sudah. Tadi dia yang mengurus check in saya.” Jawab Jackal.
“Kenalkan pak, ini keponakan saya, Nana.” Kucoba perkenalkan Nana ke pak Joko.
“Selamat siang, saya Joko.” Begitu pak Joko perkenalkan dirinya pada Nana.
“Selamat siang.” Jawab Nana sambil menjawab uluran tangan pak Joko untuk berjabat.

Terdengar pintu lift terbuka kembali, sepasang lanjut usia keluar dari lift itu.
“Silahkan pak Jack, nanti kita ngobrol lagi, bila pak Jack tidak keberatan.” Pak Joko mempersilahkan Jackal dan Nana memasuki lift, sambil coba menahan pintu lift agar tidak tertutup kembali.
“Terima kasih pak, saya akan hubungi pak Joko nanti sebelum saya ke air port.” Jackal menjawab sambil memasuki lift.
“Mari pak” Rupanya Nana pamitan dengan pak Joko.
“Silahkan Mbak” Jawab Joko sambil menundukan badan sewajarnya menjawab Nana.

Pak Joko sudah lama menjadi manager dihotel itu. Pertama kali Jackal berkenalan dengan pak Joko kira kira dua tahun lalu. Karena segala kerendahan dan kebaikan pak Joko lah,
Jackal selalu bermalam disitu bila Jackal sedang berlibur ke Surabaya. Dan pak Joko pula yang memperkenalkan semua pegawainya kepada Jackal termasuk mbak An. Namun hanya beberapa yang dapat di ingat oleh Jackal.
Didalam lift mereka hanya diam, hanya sesekali Jackal melirik Nana sambil tersenyum. Sedangkan Nana hanya melihat kearah nomor nomor petunjuk lantai yang telah diliwati oleh lift itu.

Baru saja kuletakan coba menghidupkan TV dalam kamar;
“Pak Joko itu siapa sih Jack?” Tanya Nana sambil membuka lemari es kecil, karena tak ada yang membuatnya tertarik, ditutup lagi kulkas itu.

“Pak Joko itu manager general manager di hotel ini.” Jawab Jackal sambil tetap mencoba mencari saluran TV yang di inginkannya.

“Masih muda banget yah orangnya.” Nana melanjutkan sambil membuka sebungkus kacang yang diambil dari meja kecil dimana biasanya kopi dan the disediakan.

“Bolehkan?” Nana bertanya lagi sambil memasukan beberapa kacang ke dalam mulutnya.

“Nanya nya sudah dibuka.” Jawab Jackal sambil berpura pura protes.
“Paling umurnya sekitar 20an tuh, pak Joko tadi.” Nana masih persoalkan pak Joko.

“Wah, untung bener pak Joko dibilang masih umur 20an, dia sudah umur 30an tuh, hampir sama dengan aku.” Jackal menjawab, sambil menuju ke kamar mandi. Meliwati Nana yang sedang berbaring dengan kaki terjuntai dan digoyangkan nya.

“Mungkin pak Joko gak pernah bolos seperti kamu, waktu sekolah dulu.” Lanjut Jackal lagi. Nana merasa tersinggung, kemudian dia mencoba menghalangi langkah Jackal dengan kakinya. Namun Jackal dapat menghindari dengan cepat sambil senyum. Belum selesai Jackal kencing, Nana mengetuk pintu kamar mandi “Jack, ada yang pencet bell tuh.”
“Iya aku denger, liat gih siapa yang dateng?” Jawabku sambil menaikan resleting celanaku.

“Kamu aja gih, aku gak tau.” Suara Nana masih dibalik pintu.

“Aduuuuh kamu tuh, gak mau apa males sih?” Jackal coba mencubit hidung Nana.

“Aaww, sakit nih.” Nana protes karena terlambat untuk menghindari cubitan Jackal.

Bell kembali terdengar, Jackal cepat menuju pintu. Dengan mengintip dari lubang kecil dipintu, Jackal kemudian membuka pintu itu. “Lama bener sih, lagi ngapain?” Suara wanita protes sambil melangkah masuk. Jackal menutup kembali pintu, dan mengikuti wanita itu. “Ku di kamar mandi tadi, lagi tanggung.”Jawab Jackal singkat.

Nana tidak terlihat dikamar itu, namun belum sempat kupanggil, terdengar suara air di kamar mandi. Tak lama kemudian Nana keluar dengan senyum memandang kea rah wanita tamu nya Jackal itu.

“Kenalin itu Nana, keponakanku dari Jakarta, Nana ini Magda.” Nana dan Magda saling berjabat tangan. Namun Magda tak mampu menyembunyikan wajah bingungnya dariku.

“Mana titipanku?” Magda membuyarkan suasana hening sejenak tadi.
“Oh…ini, mudah mudahan seperti yang kamu harapkan.” Jawab Jackal sambil meraih bungkusan yang tadi diletakan di samping TV, dan memberikannya pada Magda.

“Kalau salah sih keterlaluan banget kamu tuh. Berarti dari dulu gak berubah juga.”

Magda menerima bungkusan yang diberikan oleh Jackal.

Itulah Magda, yang selalu menilai negative terhadap Jackal. Namun Jackal selalu mengalah. Jackal selalu mengalah agar terhindar dari keributan dengan Magda. Padahal kalau di ingat, tidak semua karena kesalahan Jackal.
“Berapa duit nih?” Magda bertanya mengenai titipannya itu
“Gak usahlah, gak terlalu mahal juga.” Jackal coba menolak penggantian yang ditawarkan oleh Magda. Kulihat Nana sedang menikmati pemandangan diluar melalui kaca jendela, entah Nana benar benar menikmati, atau hanya tidak tahu lagi mau berbuat apa dalam situasi seperti itu. Nana baru mengenal Jackal beberapa jam lalu, ditambah kedatangan Magda beberapa menit lalu.

“Bener nih, gak usah?” Magda meyakinkan. Jackal hanya menganggukan kepala.

“Ya sudah, kupergi dulu yah. Kapan kamu balik?” Magda bertanya lagi sambil melangkah kearah pintu keluar.

“Saya pulang dulu yah…siapa namanya tadi?” Magda pamitan pada Nana.
“Mari silahkan, Nana, nama saya Nana.”
“Maaf nih cepat lupa.” Magda membals Nana. Sedangkan Nana hanya tersenyum.

“Pesawat jam 7 malam nanti.” Jawab Jackal pada pertanyaan Magda tadi, sambil mengikuti langkah Magda.

“Balik ke Melbourne maksudku.” Magda memperjelas pertanyaan nya.
“Oh sorry. Minggu sore.” Jackal menjawab dengan tangannya membuka pintu.

“Lusa dong?” Magda lagi. Jackal hanya menganggukan kepalanya saja.
“Setahuku kamu tidak punya keponakan seperti dia itu.” Magda berkata dengan suara yang direndahkan ketika keduanya sudah berada diluar kamar. Dia mempersoalkan Nana.

“Iya aku tahu, ceritanya panjang deh.” Jackal menjelaskan.
“Tadi waktu kamu bilang, lagi tanggung. Tanggung ngapain?” Magda bertanya lagi masih dengan suara yang direndahkan namun dengan penuh keingin tahuan.

“Tadi aku sedang kencing. Aduuuh kamu tuh selalu negative tentang aku.” Jackal mulai kesal dengan segala asumsi Magda.
“Tadi dia juga baru keluar dari kamar mandi waktu ku masuk.” Magda masih berkeras.

“Terserah kamulah, biarpun asumsi kamu benar, memangnya apa urusannya dengan kamu!” Jackal menjawab dengan kesal, namun masih dengan nada yang rendah.

“Ya sudah, kupulang. Suamiku menunggu dibawah.” Magda pamit sambil melangkah pergi menuju lift yang hanya berjarak dua pintu dari kamar Jackal.

“Ok, hati hati. Salam untuk Dion.” Jackal kembali memasuki kamarnya.
“Kamu tuh yang hati hati, main cewek sembarangan” Terdengar suara Magda ketika Jackal baru saja mau menutup pintu kamarnya.

“Magda tuh siapa Jack?” Nana bertanya tanpa menoleh pada Jackal. Matanya serius pada acara di TV.

“Magda? Hanya temanku.” Sudah ah, mau tahu aja kamu tuh masih kecil.
“Magda orangnya cantik, tinggi. Seksi lagi. Itunya gede banget Jack.”
“Kamu jangan sok menilai ah. Seksi segala, memangnya kamu tahu seksi itu apa?”

“Yeeeee aku nih sudah dewasa Jack. Seksi itu yah yang seperti Magda itu, tinggi, badannya ramping, itu nya gede.” Nana melanjut dengan duduk dikasur dan kaki terlipat.

“Apanya yang gede?” Tanya Jackal pura pura tidak mengerti.
“Ininya.” Jawab Nana sambil kedua tangannya coba mengangkat kedua buah dadanya yang berukuran kecil itu.

“Eeeehhhh, kamu tuh kecil kecil sudah berani manas manasin orang dewasa yah.”
“Siapa yang manas manasin, yeeeeee. Akukan jawab pertanyaan kamu. Lagian masa gini aja manas manasin sih?. Norak banget deh kamu tuh Jack?!”

Jackal tidak komentar lagi. Dia masuk kamar mandi. Sebentar lagi dia harus ke airport untuk kembali ke Jakarta. Belum sempat Jackal menutup kamar mandi….

“Jack, selama ini sudah berapa wanita yang tidur dengan kamu?” Pertanyaan Nana itu membuat Jackal kaget sebentar, muka Jackal memerah. Kemudian Jackal tertawa lepas.

“Kamu ini, pertanyaan nya menjurus sekali sih?”
“Yah, jawab aja, gak usah malu gitu Jack.”
“Lumayanlah, gak terlalu banyak juga.” Jackal kemudian menutup pintu kamar mandi.

“Gila juga tuh anak, nanya nya yang gak gak aja. Kecil kecil sok dewasa.” Jackal bicara dalam hati. Sambil membuka pakaiannya, kemudian Jackal mandi.

Selesai mandi, Jackal mengeringkan tubuhnya. Dengan handuk masih ditangannya, Jackal membuka pintu kaca ruang mandinya. Namun Jackal kaget sekali. Dengan cepat Jackal menutupi bagian bawah tubuhnya. “Hi! Ngapain kamu tuh?” Jackal sedikit membentak kearah Nana yang sedang kencing.

“Waduh, kamu tuh ngagetin aja sih?” Nana menjawab sambil meneruskan kencingnya.

“Kamu kan tahu, aku sedang mandi, gak bisa nunggu apa?”
“Yah gak usah bentak gitu kaliiiii, aku gak tahan mau kencing tauuu.” Nana masih santai menjawab Jackal, kemudian Nana tertawa sambil menaikan celana dalamnya, setelah membersihkan kemaluannya dengan tisiu yang tergantung disebelahnya.

“Bukannya mikir, malah ketawa. Dasar anak kecil.” Jackal menggerutu sambil memakai celana dalamnya dengan handuk masih menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Kukira punya kamu super gedeeeee gitu” Nana masih dengan tawanya
“Jadi kamu dari tadi disini?” Jackal memutar tubuhnya melihat Nana yang berjalan keluar kamar mandi.

“Gak juga, tapi lumayanlah bisa liat kamu bersihin punya kamu itu.” Terdengar jawaban Nana dari arah luar.
Jackal tidak menjawab, hanya hatinya masih kesel dengan kelakuan Nana tadi.

Jackal keluar kamar mandi sudah dengan pakaian lengkapnya. Sedangkan Nana masih senyum senyum tanpa melihat kea rah Jackal. Dan itu membuat Jackal jadi penasran.

“Kenapa senyum? Gila yah?” Jackal melirik sebentar kea rah Nana
“Ku kira dengan badan kamu yang segitu, punya kamu gedeee gitu.”
“Wah, kamu nih dari tadi ituuu aja pikirannya, porno banget sih kecil kecil kamu nih?”

“Bukan gitu, temenku dikelas cerita, kalau orang dengan potongan seperti kamu tuh, itu nya gedeeeeee, ternyata gak juga ya.” Kali ini Nana melihat kearah Jackal.

“Udah ah, ayo siap siap, kita makan terus pulang. Kamu nih ada ada aja.”
“Saya juga pernah liat bf, itu cowoknya gedeeee, banget. Gemuk gitu. Panjang lagi. Waktu dimasukin, ceweknya meringis.” Nana melanjutkan sambil masuk kamar mandi

“Meringis ke enakan tuh, bukan kesakitan.” Rupanya Jackal mulai terpancing oleh situasi.
“Jack, kamu pernah ukur punya kamu gak?” Nana selesai menyisir rambutnya.

“Ngapain di ukur, memangnya mau dijual?” Kali ini Jackal yang tertawa.
“Yah, ku mau tahu aja gitu.” Jawab Nana sambil menaruh kembali sisir di tas nya.

“Katanya udah liat tadi, yah kira kira aja sendiri.”
“Udah liat sih tadi, tapikan gak jelas banget, kacanya ber uap sih”
“Jadi?”
“Yah kalau boleh sih, mau liat lagi gitu maksudnya, ha ha ha ha” Nana terbahak
“Udah udah, ayo kita pergi.” Jackal jadi salah tingkah oleh perkataan Nana tadi.

“Uuuuuh pelit banget, malu yah dibilang gak gede tadi?” Nana memancing
“Yeeeee nih anak, nantangin yah?” Jackal menghampiri Nana
“Lagian mau liat aja gak boleh?!” Nana coba menghindar dari Jackal.
“Ok, nih liat!” Jackal membuka celana jeans nya, kemudian meraih miliknya keluar dari celana dalamnya. Milik Jackal masih belum berdiri.

“Nah gitu donk, susah banget dari tadi.” Nana menghampiri Jackal, kemudian duduk dipinggiran tempat tidur, sedangkan Jackal berdiri tepat di depannya. Dan itu membuat milik Jackal tepat di depan muka Nana.
“Lucu yah bentuk nya. Ber urat gitu. Ujungnya kaya mulut ikan Dolpin ha ha ha.” Nana terbahak lagi.

“Udah?” Jackal mulai menaikan celana dalamnya, agar miliknya kembali ketempatnya.

“Tar dulu Jack. Keluarin lagi dong” Nana mencoba menahan sambil tangannya memegang tangan Jackal agar tidak tidak menaikan celana jeans nya. Jackal menuruti kemauan Nana. Kali ini miliknya mulai ada reaksi. Mungkin karena situasi dan kelakuan Nana yang membuat Jackal jadi hanyut dalam nafsunya.

“Wah mulai bengkak nih?! Komentar Nana sambil tangannya mulai berani menurunkan celana dalam Jackal, agar semua milik Jackal bisa keluar dari sarangnya.

Dan semua itu membuat milik Jackal jadi bertambah besar. Sedangkan Nana semakin konsentrasi dengan pemandangannya.
Jackal dapat merasakan hembusan nafas Nana menerpa milik Jackal yang semakin membesar.

“Wah, gede juga Jack.” Kali ini Nana menyentuh milik Jackal, dan itu membuat milik Jackal jadi berdenyut membesar. Karena genggaman Nana, Jackal merasa padat sekali miliknya itu dalam genggaman Nana. Dan Nana mulai memainkan milik Jackal, sedangkan Jackal tidak bisa menyembunyikan desahannya. Nana mendongak keatas untuk melihat wajah Jackal.

“Enak Jack?” Nana mengajukan pertanyaan bodohnya. Tentu saja enak.
“Hemm” Hanya itu yang keluar dari mulut Jackal.

Nana meneruskan perbuatannya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meraih tangan kanan Jackal dan diarahkan ke buah dadanya yang tidak besar itu.

Jackal menuruti tuntunan tangan Nana. Jackal menyusupkan tangannya dari atas kedalam bh Nana meliwati T-shirt Nana yang agak longgar. Kali ini Nana yang mendesah.

“Aaaaahhh, enak banget Jack.” Tanpa meminta persetujuan Jackal Nana menurunkan celana Jackal, hingga semua celana Jackal sudah berada disebatas mata kaki Jackal.

Nana mulai menciumi milik Jackal, sehingga semakin berdenyutlah milik Jackal itu. Apalagi tangan kiri Nana sudah berada dibelakang tubuh Jackal, tangan itu seakan menarik agar milik Jackal semakin dekat dengan wajah Nana. Entah disengaja atau tidak oleh Nana, tangan itu meremas bongkahan pantat Jackal. Membuat Jackal semakin terbuai. Tidak ada lagi dipikirannya bahwa yang ada dihadapannya hanyalah anak yang masih dibawah umur, tidak ada lagi pikiran untuk segera ke air port, tidak ada lagi pikiran apapun. Yang ada hanyalah kenikmatan dan kenikmatan.

Nana masih menciumi milik Jackal, ujung milik Jackal pun tak lepas dari ciumannya.

Jackal semakin malayang. Jari tangan Jackal memelintir putting Nana yang masih sangat kecil itu. Nana mendesah, dijawab dengan desahan oleh Jackal. Mata Jackal terpejam, kenikmatan akan lebih terasa dengan mata terpejam, mungkin itu maksud Jackal.

“Oooooohhh sssshhhh” Jackal mendesah kencang, ketika dirasakan kehangatan yang basah di bagian kepala milik Jackal. Rupanya Nana telah memasukan nya kedalam mulutnya. Jackal memelintir putting Nana semakin cepat. Lutut Jackal goyah menampung kenikmatan yang diberikan Nana. Jackal tak mampu menguasai lututnya.

Akhirnya Jackal mendorong tubuh Nana agar terbaring, dengan tergesa Jackal membuka celana Jeans Nana, dan menarik turun celana dalamnya. Semua itu membuat tubuh Nana bagian bawah tak lagi terbungkus apapun.
Kemudian Jackal membuka lebar kedua kaki Nana, secara otomatis, Nana melipat lutunya. Hingga jelas sekali belahan milik Nana yang sudah terlihat lembab itu. Jackal tak membuang waktu lagi, didekatkan wajahnya kea rah belahan itu.

“Jaaaaack, enaaaaakkk Jack….enak banget Jack…” Nana menjerit, ketika Jackal menjulurkan lidahnya diantara belahan milik Nana yang telah menjadi basah.

Nana mencoba menarik Jackal ke atas dengan menggunakan telapak kakinya, Jackal bertahan disitu, dijilati terus milik Nana, desahan nana semakin memburu.

Namun Jackal tidak mampu lagi menolak kemauan Nana, ketika tangan Nana menarik rambut Jackal. Awalnya Jackal mengira Nana ingin segera dimasuki oleh milik Jackal.

Namun Jackal salah menduga. Nana membalikan tubuhnya, dia berada diatas tubuh Jackal, dengan wajahnya berada tepat diatas kemaluan Jackal yang sudah sangat penuh.

Jackal kembali menjulurkan lidahnya pada milik Nana yang berada di atasnya. Sedangkan Jackal merasa nikmat yang tiada tara, ketika dirasakan miliknya memasuki kelembapan mulut Nana, dan dirasakannya juga gelitik lidah Nana di ujung milik Jackal.

Tak ada kata kata yang terdengar, hanya desahan dan desahan dari keduanya yang seakan berlomba untuk mencapai satu tujuan yang sebetulnya, semakin lama tercapai semakin nikmat terasa.
Waktu berlalu, puluhan tetes keringat membasahi tubuh mereka, kenikmatan membalut rasa keduanya. Bibir dan lidah Jackal terbungkus lendir nikmat dari Nana, ujung kaki Jackal memanas oleh jilatan dan kuluman Nana. Jackal dapat merasakan tekanan pinggul Nana pada mulut Jackal dan bersamaan dengan itu Nana mengerang panjang “Jaaaaaackkkk…keluar….kukeluar nih…Jaaaackk enaaaaakkkk….ooohhh”
Nana mencoba jauhkan miliknya dari mulut Jackal dengan menaikan pinggulnya.

Namun Jackal menahan niat Nana itu, dengan kedua tangannya Jackal malah menekan pinggul Nana kearah mulutnya, sehingga hidung Jackal terbenam ditengah belahan Nana yang telah sangat basah itu, Nana semakin mengerang, dirasakan oleh Jackal Nana mencengkeram erat milik Jackal. Kepala Nana mendongak

Jackal tak perduli, malah semakin digosok gosokan hidungnya di tengah belahan itu, terasa tubuh Nana menghentak hentak. Nana mencoba menaikan pinggulnya, namun Jackal tetap menahan.

“Ngiluuuuu Jack….udaaaaahhh….ooooohhhh..u daaah Jack” Nana berteriak, Jackal melepaskan milik Nana, cengkeraman tangan Nana pada milik Jackal telah mengedor, hembusan nafas Nana terasa di bagian buah kemaluan Jackal. Namun hanya sesaat saja, kemudian Nana kembali melumat milik Jackal, sesekali dijilat buah kemaluan milik Jackal dengan putaran lidahnya. Nana semakin aktif, Jackal semakin melayang. Jari kaki Jackal semakin memanas. Jackal menarik pinggul Nana, sehingga belahan Nana persis diatas mulutnya. Ditusuk tusuk belahan itu dengan lidah Jackal, disedot kemaluan itu, Jackal sudah diluar kendali. Nana kelojotan dibuatnya. Jackal semakin menghentak hentakan pinggulnya keatas, semakin cepat dan…..
“Oooooooohhhhhh……..ku keluaaarrrr nih Nan” Jackal mengerang hebat, ketika dirasakan lahar nikmatnya tak terbendung lagi. Sedangkan Nana malah semakin cepat menaik turunkan mulutnya pada milik Jackal, bersamaan dengan dinaikan lagi pinggulnya agar terlepas oleh gosokan dan sedotan yang diberikan oleh Jackal pada belahannya. Nana tetap menaik turunkan mulutnya pada milik Jackal, walaupun tidak dapat semua masuk kedalam mulut itu, namun dengan lidah Nana yang ikut aktif pada ujung dan batang milik Jackal, tangannya yang ikut mengocok dan tangan lainnya meremas buah milik Jacakl, semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jackal melayang tinggi dengan kejang kejang yang seakan membantu tubuh Jackal melambung.

Nana terhempas letih disamping Jackal, namun masih terasa hentakan nikmat dari sebelah kanan lutut Nana yang masih berada disisi kanan pipi Jackal.

Jackal menghembuskan nafas nikmat sambil menggeser lutut kanan Nana, kemudian Jackal bangkit untuk duduk. Dilihatnya cairan nikmat Jackal mengalir keluar dari celah bibir Nana yang menatap sayu kea rah Jackal. Bahkan dari dagunya pun terlihat basah. Entah oleh cairan nikmat Jackal atau cairan air liur Nana sendiri. Kemudian dengan cepat Nana meraih bantal untuk menutupi wajahnya. Namun Jackal sempat melihat sekilas senyum dari Nana sebelum bantal itu menutupi wajahnya.

Jackal mengecup perut Nana, namun Nana mencoba menepiskannya. Jackal hanya tersenyum. Entah senyum kepuasan atau senyum memaklumi atas apa yang telah mereka berdua alami.

Jackal melangkah memasuki kamar mandi, dengan menenteng celana jeans dan celana dalamnya. Digantungkan semua itu dibalik pintu kamar mandi. Kemudian Jackal membuka kemejanya.
Terdengar langkah mendekati kamar mandi, ternyata Nana juga memasuki kamar mandi itu, namun Nana sudah tidak berbusana sama sekali, rupanya Nana telah membuka T-Shirt nya tadi.

“Mau ngapain?” Jackal bertanya dengan selembut mungkin.
“Mandilah, kan bau nih keringet.”
“Kamu duluanlah.” Jackal menawarkan Nana
“Dahhh, bareng aja, biar cepet.” Jawab Nana singkat, sambil melangkah masuk keruang shower. Jackal mengikuti nya. “Duh..panas banget.” Jackal kaget, karena Nana baru sempat membuka air panas nya saja. Terdengar tawa Nana. Jackal mencoba mencubit putting Nana, namun di tempis oleh tangan kiri Nana, sedangkan tangan kanannya coba menutupi kedua buah dadanya.

Jackal membuka air dingin untuk menyesuaikan air panas tadi agar sesuai dengan yang diinginkannya.

Mereka mandi berdua, Nana mencuci wajahnya, terdengar Nana berkumur. Sedangkan Jackal membersihkan miliknya, ada rasa ngilu ketika Jackal membersihkan bagian kepala miliknya.

Tubuh mereka merapat, untuk bisa tersiram oleh pancuran shower itu. Tubuh mereka saling bergesekan. Mereka saling menyabuni. Seoalh mereka adalah pasangan kekasih yang sedang berbulan madu. Padahal mereka baru beberapa jam lalu berkenalan. Mereka tak lagi terganggu oleh umur mereka yang jauh berbeda. Yang terlihat hanyalah dua tubuh bugil yang berlainan jenis.

Tubuh mereka berhadapan, Jackal mencoba untuk membungkukan badannya, agr bisa mencium bibir Nana, seakan Nana mengerti. Nana mendongakan wajahnya untuk menyambut bibir Jackal. Mereka saling berciuman, tangan Jackal memeluk rapat tubuh Nana, mereka tak lagi menghiraukan siraman air. Tangan kanan Nana menekan siku kiri tangan Jackal dan membimbingnya kearah buah dadanya. Jackal mengerti, diremas lembut buah dada itu, terasa hembusan nafas nikmat dari Nana didalam mulut Jackal.

Tangan kiri Nana telah merangkul tengkuk Jackal, kemudian Jackal merasakan remasan di miliknya. Rupanya tangan kanan Nana telah melakukan sesuatu yang menghasilkan nikmat dicampur sedikit ngilu pada Jackal.

Nana menghentak pinggulnya kebelakang, ketika tangan kanan Jackal menyentuh belahan Nana. “Masih ngilu Jack.” Hanya itu yang keluar dari mulut Nana, kemudian Nana mengembalikan bibirnya agar dicium kembali oleh Jackal.

Milik Jackal kembali keras. Walaupun Jackal merasa ada rasa pegal pada miliknya. Namun sama sekali tidak mengurangi rasa nikmat oleh belaian tangan Nana itu.
Terlihat Jackal telah membungkukan badannya lagi, tak lama kemudian mulut Jackal telah penuh oleh putting kiri Nana, dengan reflek kedua tangan Nana menekan dari belakang kepala Jackal, agar lebih merapa lagi ke buah dadanya.

Sambil tetap menjilati dengan lidahnya, Jackal menuntun tangan kanan Nana agar kembali untuk meremas milik Jackal yang sudah semakin keras itu. Nana mengikuti kemauan Jackal. Diremas dan di maju mundurkan tangan Nana pada milik Jackal. Jackal mendesah nikmat. Mulut Jackal mengulum putting Nana yang sebelah kiri. Sedangkan tangan kanan Jackal ikut meremas buah dada Nana yang kanan. Mereka mendesah bersahutan. Remasan Nana pada milik Jackal semakin cepat namun tak beraturan. Dan itu membuat sedikit rasa sakit pada milik Jackal.

Jackal menghentikan lumatannya, didorong lembut tubuh Nana agar merapat di dinding kamar shower itu, Nana melangkah mundur dengan rela, hanya setengah langkah saja, tubuh Nana mundur, itu sudah membuat bagian belakang tubuhnya merapat ke dinding. Air shower hanya menyirami bagian belakang tubuh Jackal, sedikit yang menyentuh tengkuknya.

Jackal meraih lutut kiri Nana dengan memasuki tangan kanan Jackal kebawah lipatan lutut Nana, diangkatnya ke atas, diletakan diatas pinggul kanan Jackal. Namun usahanya untuk memasukan milik Jackal yang sangat keras itu tidak berhasil. Mungkin dikarenakan tubuh Nana yang kurang tinggi itu. Sedangkan nafas keduanya masih memburu tak beraturan
Kemudian Jackal menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Nana, diletakan kedua tangan Jackal dibawah kedua paha Nana, dirapatkan tubuh Nana pada dinding yang basah itu.

Jackal mencoba memasuki miliknya ke belahan nikmat Nana dengan cara mendorong ketika dirasakan ujung milik Jackal sudah tepat dimulut belahan itu. Namun dikarenakan belahan itu telah berlendir, milik Jackal tidak berhasil memasukinya. Tanpa diminta, Nana menjemput milik Jackal, diletakan dengan sedikit menekan ujung milik Jackal kelubang belahan itu, Jackal merasakan nimat pada ujung miliknya. Kemudian Jackal menekan dengan lembut.

“Aaaaaahhhhh…enaaaakk….pelan pelan Jack…..” Nana melenguh nikmat dengan kedua tangannya merangkul tengkuk Jackal. Sungguh pemandangan yang sangat indah dilihat, ketika Nana mendongakan wajah kenikmatan saat Nana menerima ujung milik Jackal kedalam lubang nikmatnya. Jackal tak mengira akan menerima kenikmatan seperti ini, ditengah kesibukan liburannya. Walaupun bukan baru kali ini Jackal melakukan hubungan badan seperti ini dan Nana bukan baru pertama kali ini melakukannya. Namun Jackal dapat menebak, bahwa Nana tidaklah sering melakukan hubungan seperti ini. Itu dilihatnya ketika Jackal menjilati belahan Nana tadi. Dan juga Jackal dapat merasakan remasan yang cukup mencekal dari lubang Nana pada seluruh milik Jackal yang telah masuk seluruhnya memenuhi ruang nikmat dalam lubang milik Nana.

Hentakan demi hentakan dilakukan oleh Jackal. Nana menerimanya dengan desahan dan rangkulan ketat pada tengkuk Jackal. Desahan semakin keras terdengar seakan menemani suara siraman air yang keluar dari shower itu. Lutut Jackal goyah, namun Jackal tetap memaju mundurkan tubuhnya.
Wajah Nana selalu mendongak tiap kali Jackal mendorong miliknya kedalam lubang Nana. “Aaaahhhh enaaakkk banget Jack…enaak bangeeettt…aaahhhh” Itulah yang membuat Jackal semakin merasa nikmat, ketika melihat mulut Nana yang terbuka lebar tiap kali Nana mendongak dalam desahannya.

Lutut Jackal semakin goyah tak tertahankan. Namun Jackal semakin cepat menarik dan mendorong miliknya ke lubang Nana, desahan semakin jelas terdengar. Desahan nikmat dari keduanya semakin memburu. Gerakan Jackal semakin cepat, lututnya semakin goyah.

Desahan Nana berubah menjadi rintihan, wajahnya seperti sedang meringis, namun tak terlihat tanda kesakitan pada wajah Nana, berarti rintihan itu adalah rintihan kenikmatan.

Mata Nana terpejam, tubuhnya bergoyang goyang menerima hentakan Jackal yang semakin cepat.

“Aaahhh…ssshhhh….Jaaaack…oohhh …enaaaakk….ooohhhhh” Suara rintihan itu membalas suara kecipak air di dinding belakang tubuh Nana karena dihantam tubuh Nana oleh karena hentakan dan dorongan Jackal itu.
Jackal tak dapat membendung laharnya, dengan hentakan yang kuat, Jackal mendorong tubuhnya agar miliknya dapat masuk semua kedalam milik Nana. Bersamaan dengan itu Nana memeluk erat tubuh Jackal, ditariknya tengkuk Jackal agar merapat ketubuh Nana, dan Nana meletakan wajahnya di punggung Jackal. Erat sekali dirapatkan tubuh itu. Jackal tak menghiraukan rasa sakit oleh gigitan Nana pada lehernya Jackal. Nana mengerang nikmat. Kemudian kembali membenamkan wajahnya.

Kejangan nikmat masih terlihat dikedua tubuh itu. Walau tak ada lagi gerakan dari keduanya. Kaki kanan Nana telah menyentuh lantai, di ikuti dengan kaki kirinya. Tangan Nana masih memeluk Jackal. Pipi kanan Nana bersandar rapat pada dada Jackal. Kedua tangan Nana merangkul pinggang Jackal. Seakan menyatakan ungkapan kepuasan yang baru saja di alaminya.
Jackal membelai punggung Nana dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membelai pipi kiri Nana. Dikecupnya kepala Nana. Suasanya hening, tak ada lagi suara desahan terdengar dari keduanya. Hanya suara air shower yang tetap bernyanyi dan berlomba untuk mencapai lantai ruang itu.

“Jack….tadi keluar didalem yah?” Tiba tiba Nana bertanya tanpa menggerakan badannya sama sekali. “Hem” Hanya itu jawaban yang diberikan Jackal, sambil meraih wajah Nana agar bisa dilihatnya. Seakan Jackal ingin melihat apakah ada tanda penyesalan diwajah yang cukup manis itu. Namun Nana hanya tersenyum, dan mengembalikan wajahnya ke dada Jackal. Dan Nana memper erat dekapan tangannya.

Sebetulnya Jackal sudah merisaukannya dari tadi. Saat semburan lahar pertamanya kedalam lubang Nana. Namun semua telah terjadi. Siapa yang mampu memikirkan hal itu ditengah dera dan desahan nikmat tadi.
Kemudian Nana meraih milik Jackal yang telah melemas dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memukul lembut sambil “Nakal nih, main semprot aja”

Nana coba bicara dengan milikku.

“Jangan ganggu lagi, tar kalau keras lagi gimana?”Jackal coba menjawab canda Nana.

“Keras lagi? Siapa takut?” Jawab Nana sambil coba mengecup pipi Jackal
“Wah, udah gak ada waktu untuk makan nih. Kita makan di air port aja yah. Ayo cepet.”

Jackal bergerak melepaskan dekapan Nana, namun sempat mengecup kening Nana, dan Nana membalas dengan memeluk Jackal lebih erat lagi. Sekian dulu cerita nya ya!

October 29, 2009 Posted by fotocewekcantik | Setengah baya | , , , | Leave a Comment

Toket Nyonya Besar

toketnya ku remas dia pun agghh.. menjerit kecil sambil menahan nafas, ouugghhh.. nyonya besarku toketnya mulus bangeett….Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll. dari ini muncul cerita seks, bukan cerita tante girang yang seperti umumnya cerita dewasa.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.
“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.
Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku ..

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu .” sapaku.
“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”
“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu “
“Benar dok”
“Badannya panas ?”
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
“Agak anget kayanya”
Kayanya radang tenggorokan.
“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”
“Iya Dok”
“Udah berapa kali dari pagi”
“Hmmm . dua kali”
“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”
“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”
“Buah2 an ?”
“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”
“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu”
“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.

Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.

“Cukup Bu .”
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .

“Radang tenggorokan dan disentri”
“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”
“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.
“Khawatir apa Bu “
“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”
“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau pulang.
“Benar Dok”
“Ibu merasakan keluhan apa ?”
“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”
“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.
“Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku.
“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”
“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”
“Terima kasih Dok”
“Sama-sama Bu, selamat sore”
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.

Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu . udah baikan”
“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”
“Perutnya ?”
“Udah enak”
“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”
“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”
“Udah diperiksa belum ..?”
“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.
“Cuman apa .”
“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”
“Memang terasa ada, gitu “
“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.
“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.
“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.
“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.
“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !
Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”
Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.
“Dada kanan Bu ya .”
“Benar Dok”
Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..
“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.
Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu ?”
“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”
Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..
Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan sendiri cup-nya …
Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !
Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..
Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang !
Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.

“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.
“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .
“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”
“Syukurlah”
“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …
“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.
“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.
“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.
“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol
“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.
“Apalagi .”
“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !
“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.
Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.
Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.
Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.
“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”
“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?
Gila !
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .
Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku
“Ih kerasnya ..”
“Engga bisa dong Bu ..’
“Dokter udah siap gitu .”
“Iya .. memang .. Tapi masa .”
“Please dokter .. Cumbulah saya .”
Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?
“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .
“Saya udah engga tahan .”
“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.
“Okey ..okey . Bener ya Dok”
“Bener Bu”
“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”
“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.
“Ehhhhfff”
Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.
“habis Dok”
Dia langsung berberes. Rapi kembali.
“Dokter belum mau pulang ?”
“Belum. Silakan duluan”
“Baiklah, kita duluan ya”
Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.
Syeni masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.
Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.
“Dok …”
“Ya .Syeni .”
Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..
Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..
Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.
Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..
Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …
Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh .. Maaassss ..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !
Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.
“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.
Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.
Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Syeni
Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.

Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !
Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.
“Kapan melepasnya ?”
“Tadi, sebelum turun .”
Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.
Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..
“Maass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.
“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.
Aku menekan lagi.
“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas ..”
“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.
Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..
Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau?
Siapa yang kamu setubuhi ini?
Pasienmu dan isteri orang!
Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.
Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.
Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt………..Kesempr otkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut ….
Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.
Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …
Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.
Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.
“Siapa Syen” tanyaku.
“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.
“Curiga ya dia”
“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.
“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.
“Suamimu tahu kamu ke sini”
“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.
“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Syeni puas”
“Ah masa .. “
“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”
“Ah . engga usah basa basi”
“Bener Mas .. Malah Syeni mau lagi .”
“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”
“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”
“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”
“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.
“Oh ya ..?”
“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.
“Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi … Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”
“Habis . kamu sexy banget sih …”
“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”
“Entar ajalah . mau mandi dulu .”
Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.
“Syeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .”
“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.
“Eh .. Bangun lagi ya ..” Syeni ternyata menyadarinya.
Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.
“Mas mau lagi .?”
“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”
“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.
“Udah malam Syen, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..
Penisku langsung menerobos vaginanya ..
Syeni bergoyang bagai naik kuda .
Sekali lagi kami bersetubuh .
Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …
Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.
“Ngaco . suamimu .?”
“Kalo dia sedang engga ada dong ..”
Baiklah, kutunggu undanganmu.
Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy . …sekian cerita seks kali ini ya kawan , pasti kami lanjut lain waktu… thanks dah mampir…

October 29, 2009 Posted by fotocewekcantik | umum | , , , | Leave a Comment

Yati Pembantuku Ku perkosa

Cerita Seks – Perkenalkan nama gua Birahi….(gua samerin yah bo..bisa tengsin gua kalau gua buka nama asli gua)

kejadiannya sekitar tahun 1995..gua punya pembantu namanya yati..orangnya putih..tokek sedikit mancung (apalagi kalau lagi pake kaos ) umur 17 tahun..kalau dibilang putih emang asli ini anak kulitnya putih bukan karena kosmetik atau pake pemutih…awalnya sih biasa hubungan gua sama dia biasa aja, layaknya majikan dengan pembantu….namun sejak dia punya kelakuan aneh…kelakuan gua juga jadi
berubah aneh…

yati sejak dikamarnya kemasukan tikus jadi takut tidur dikamarnya sendiri….akhirnya Yati suka pindah tidur ke bangku atau ke ruang tengah …awalnya sih gua biasa aja…dan dia juga udah gak sungkan dirumah gua karena kerja dah lumayan lama….hingga pada suatu malam secara gak sengaja gua lihat dia tidur dengan daster model you can see…tuh daster bawahnya tersingkap kemana-mana…waktu itu sekitar pukul 02.00.. busyet tuh gundukan memek tersembul keluar ..gila gua ngaceng abis saat itu…gua deketin tuh memek gua lihat dari jarak deket…pelan-pelan gua cium…buset jantung gua kaya mau copot…ada memek didekat hidung gua…anjrit gua ngeceng abis…! saking gak kuatnya gua langsung Masturbasi didepan pemandangan indah itu,,,keluar deh sperma gua….

Sejak peristiwa malam itu…gua jadi sering cari-cari kesempatan buat nikmati tubuh si yati yang lumayan aduhai buat ukuran pembantu…dari mulai dia mandi sampai dia masuk kamar mata gua gak pernah lepas mandangin tokek nya yang menantang…bahkan gak jarang gua intipin dia mandi…!
gak tahu kenapa kayanya si yati mulai curiga dengan kelakuan gua…sikap gua yg tadinya biasa mendadak jadi genit…dan anjingnya tuh yati juga nangkap apa mau gua

..kadang dia suka mancing-mancing gua buat ngomong jorok..buset makin jadi aja gua..awalnya kadang gua suka iseng megang tangannya…terus meningkat pegang tokek..awalnya dia marah bgt…tapi gua gak peduli semakin dia marah gua semakin gak peduli…bahkan gua pernah masuk kamar mandi saat dia baru selesai mandi…handuk yang melilit dibadannya gua tarik…hingga terlihat memek sama toketnya…gua cium bibirnya sambil meluk dan ngeremes toketnya…(gila ngaceng berat)…yati marah besar sama gua sejak peristiwa itu…tapi gua gak pernah takut…

hingga pada suatu hari keluarga gua pergi sekeluarga keluar kota selama dua hari…selama dua hari itu gua itu makan minum gua yati yang nyiapin….hingga akhirnya terjadilah peristiwa yg gua inginkan…..

malam itu gua gak bisa tidur…perasaan gua resah karena adanya dorongan seks yang begitu tinggi..apalagi dengan kenyataan tinggal gua berdua dengan Yati yg ada dirumah…

Dan benar aja dugaan gua ketika gua keruang tengah gua lihat yati sedang tidur dengan daster yg dia pakai….gejolak birahi gua langsung naik keubun-ubun..gemana gak disaat napsu udah melawati batas logika tersedia hidangan nikmat depan mata…

pelan-pelan gua dekati tubuh yati yg tertidur dikasur palembang….gua singakp dasternya…tuh memek yang masih tetrtutup cd bikin gua ngaceng ….pelan-pelan gua cium itu memek…ooh…..napsu gua makin gila….gua mulai naik incer toket nya…gua cium tuh toket …eh…aneh tetap gak ada reakasi…semakin berani gua angkat/geser tutupan toket si yati..terlihatlah toket si yati walau cuma sebelah…gua nekat gua emot toketnya si yati yang masih merah pentolnya…gua gak peduli..dia bangun atau apa…yati cuma mendeguh…”ko…jangan..! aku ngantuk…! anjrit..! rupanya dia tahu kalau dia gua gerayangi…ya udah gua gak pake basa-basi lagi langsung gua tindih si yati gua cium bibirnya..awalnya dia nolak..tapi akhirnya dia ikut ngemut bibir gua juga…satu demi satu gua buka pakaiannya….gua juga gak lupa buka baju gua dan celana gua…hingaa akhirnya gua sama-sama bugil..yati matanya tertutup (enteh karena ngantuk atau malu…) gua lansung ciumin toket yati sambil gesek-gesekin kon**l gua didepan gerbang memek si yati…yati yang tadinya cuma mendeguh..akhirtnya meluk tubuh gua….gua semakin gila….gua babat habis tu bibir sambil memainkan lidah….hampir seluruh tubuh yati gua jilatain kaya kucing mandiin anaknya,,,bahklan pantatnya pun gua jilat…anjrit…! disaat puncak birahi yang makin tinggi..gua paks si yati buat buka mata…(selama gua cumbu dia merem aja) akhirnya dia membuka matanya ..mukanya seperti memohon….memelas…tapi gua tahu apa artinya itu….COITUS SEMPURNA..! ketika gua mengangukan kepala, yati juga mengangukan kepalan..tanda setuju…gua tahu dia masih perawan..makanya gua minta persetujuannya…pelan tapi pasti..gua mulai mengarahkan penis gua kemulut vaginanya…susah…! sempit…! cape..!..berulang-ulang gua ganti posisi tetap aja..susah..akhirnya yati…ikut bantu penis gua dengan mengarahkan penis gua dengan tangannya..oh…kaya kesetrum waktu tangannya megang penis..gua….dan akhirnya masuk walaupun hanya sebatas kepala…pelan-pelan gua dorong supaya masuk lebih dalam…yati sedikit berteriak..aduh..aduh…tapi tangan si yati tetap bergelayut dileher gua…akhirnya gua dorong dengan sedikit tenaga..Blesss…akhirnya penis gua masuk sempurna kelobang vagina yati yang ajrit masih seret….yati memeluk tubuh gua eret-erat sambil mengangkat kedua kakinya…gua pelan-pelan mendorong maju-mundur penis gua kelobang vagina yati…kami berciuman sambil saling mendorong bagian bawah…semakin lama- semakin lancar,,,vagina yati makin basah..gua makin kenceng mendorongnya…dari mulai bibir sampai toket habis gua cumbu sambil memangang pantat yati supaya gak copot penis gua dari memek yati…..tiba-tiba yati melenguh ….dia memluk erat tubuh gua sambil mendorong maju mundur dengan lebih cepat..(.pikir gua gila neh pembantu nekad juga) dan gua merasakan ada cairan rasa hangat di batang penis gua..dan gua gak menyia-nyaiakan sempatan itu untuk sama-sama bareng meyelesaikan permaiinan ini…napas gua dan yati memburu,,gua dan yati saling peluk dan saling mengengam erat pantat pasangan masing-masing..dan akhirnya croot—croot..croot… memek yati basah oleh sperma gua…sperma gua , gua lepas dalam vagina yati…(dalam hati gua bodo deh..hamil-hamil deh)….yati tersenyum melihat gua..kemudian dia minta dicium bibirnya..gua pun membalas dan akhirnya selesai…setelah selesai gua dan yati mandi berdua…dan terjadi pula ronde kedua dikamar mandi walau hanya berlangsung 10 menitan…tapi sumpah gua puas bgt….lalu bagaimanakah nasib yati selanjutnya…gua juga gak tahu kabar terakhir yg gua tahu dia dah menikah dan punya anak…tapi jujur gua merasa berdosa karena sudah mengambil harta yang paling berharga yg dimiliki yati “keperawanan” . dulu gua sempet mau nikahin dia karena gua merasa bersalah dah ambil dia punya perawan…tapi yati bilang gak usah…” karena ternyata dia dah dijodohkan dengan teman satu kampungnya” sekian dulu ya bo… gue dah pengen onani terus gara-gara inget pengalaman gue ini, sampai jumpa bo….

October 22, 2009 Posted by fotocewekcantik | umum | , , , | Leave a Comment

Istri Bos Ku Binal

Cerita Seks – Aku sedang menyantap makan siang di sebuah cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantorku. Hari itu aku ditemani Pak Erwan, manajer IT perusahaanku dan Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya dengan Lia, sekretarisku, untuk kemudian dilanjutkan dengan acara bobo siang sejenak sebelum kembali lagi ke kantor. Tetapi hari itu sebelum aku pergi, Pak Erwan ingin bertemu untuk membicarakan proyek komputerisasi, sehingga aku ajak saja dia untuk bergabung menemaniku makan siang.

Aku dan Pak Erwan berbincang-bincang mengenai proyek implementasi software dan juga tambahan hardware yang diperlukan. Memang perusahaanku sedang ingin mengganti sistem yang lama, yang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat pembicaraan kita berdua.

Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba HPku berbunyi. Kulihat caller idnya.. Dari Santi.

“Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi” suara merdu terdengar diseberang sana.
“Oh iya. Nanti sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih. Bapak tunggu sebentar ya” jawabku.
“He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak” Santi menggoda.
“Betul Pak.. OK sampai ketemu sebentar lagi ya” kataku sambil menutup pembicaraan.
“Dari klien” kataku.

Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh mereka. Hal ini mengingat Pak Arief, suami Santi, adalah manajer keuangan di kantorku. Kebetulan Pak Arief ini sedang aku kirim training ke Singapore, sehingga aku bisa leluasa menikmati istrinya.

Seusai menikmati makan siang, aku berkata pada Lia bahwa aku akan langsung menuju tempat klienku. Seperti biasa, aku minta supaya aku tidak diganggu kecuali kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka kembali ke lantai atas untuk bekerja, sedangkan aku langsung menuju tempat parkir untuk berangkat mengerjai istri orang he.. He..

Setelah kesal karena terjebak macet, sampai jugalah aku di rumah Santi. Hari sudah menjelang sore. Bayangkan saja, sudah beberapa jam aku di jalan tadi. Segera kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, dan memencet bel rumahnya. Santi sendiri yang membukakan pintu. Dia tersenyum gembira melihat kedatanganku.

“Aih.. Pak Robert kok lama sih” katanya.
“Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kamu sih jauh.. Mungkin di peta juga nggak ada” candaku.
“Bisa aja Pak Robert..” jawab Santi sambil tertawa kecil.

Dia tampak cantik dengan baju “you can see” nya yang memperlihatkan lengannya yang mulus. Buah dadanya tampak semakin padat dibalik bajunya. Mungkin karena sudah beberapa hari ini aku remas dan hisap sementara suaminya aku “asingkan” di negeri tetangga.

Kamipun masuk ke dalam rumah dan aku langsung duduk di sofa ruang keluarganya. Santi menyuguhkan orange juice untuk menghilangkan dahagaku. Nikmat sekali meminum orange juice itu setelah lelah terjebak macet tadi. Dahagakupun langsung hilang, tetapi setelah melihat Santi yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku masih bernafsu melihat Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi dia.

Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku akan membuka bajunya, dia menahanku.

“Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak”
“Apaan nih?” jawabku senang.
“Ini ada teman Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget.”

Lalu dia bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang wanita, Susan, saat dia sedang berolahraga di gym. Setelah mulai akrab, merekapun bercerita mengenai kehidupan seks mereka. Singkat cerita, Susan menawarkan untuk berpesta seks sambil bertukar pasangan di rumah mereka.

“Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum pernah lihat yang sebesar punya Pak Robert” kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.
“Saya sih OK saja” jawabku riang.
“Oh ya.. Nanti pura-pura saja Pak Robert suamiku” kata Santi sambil pamit untuk menelpon kenalan barunya itu.

Aku dan Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang. Untung jalanan Jakarta sudah agak lengang. Tak lama kamipun sampai di rumahnya yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi. Santipun menjelaskan kalau kami sudah ada janji dengan majikannya. Susan menyambut kami dengan ramah.

“Ini perkenalkan suami saya”

Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan diri. Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang sukses. Santipun memperkenalkan diriku pada mereka.

Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot yang mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis terkenal yang tergantung di dinding. Bayangkan saja betapa kayanya mereka, karena orang sekelas aku saja kagum melihat rumahnya yang sangat wah itu.

Tetapi aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini memang cantik sekali. Terutama kulitnya yang putih dan mulus sekali. Ibaratnya kalau dihinggapi nyamuk, si nyamuk akan jatuh tergelincir. Disamping itu bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada yang besar dan bentuk tubuh yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada bintang film panas di jaman tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.

Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor ngidul sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam itu, Santi pamit untuk ke toilet. Dengan matanya dia mengajakku untuk mengikuti dia.

“Pak, habis ini pulang aja yuk” kata Santi berbisik perlahan setelah keluar dari ruang makan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Sudah tua, botak, perutnya buncit lagi”.

Aku tertawa geli dalam hati. Tetapi aku tentu saja tidak menyetujui permintaan Santi. Aku sudah ingin menikmati istri Pak Harry yang cantik sekali seperti boneka itu. Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.

Setelah makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk membangkitkan gairah kami. Tak lama, seorang gadis pembantu kecil datang untuk menyuguhkan buah-buahan. Tetapi mungkin karena kaget melihat adegan di layar TV home theater itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas kristal sehingga pecah berkeping-keping. Kulihat tampak Susan melotot memarahi pembantunya itu, sedangkan si pembantu kecil itu tampak ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali.

Adegan di TV tampak semakin hot saja. Tampak Pak Harry mulai mengerayangi tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak ogah-ogahan melayaninya.

“Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu”

Aku tersenyum mendengar alasan Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin ke dapur sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun sebenarnya aku tidak perlu lihat yang seperti ini, mengingat tubuh Susan sudah sangat mengundang gairahku. Tak lama akupun merasa ingin buang air kecil, sehingga akupun pamitan ke belakang.

Setelah dari toilet, aku berjalan melintasi dapur untuk kembali ke ruang keluarga. Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi gadis kecil pembantunya tadi.

“Ampun non.. Sri nggak sengaja” si gadis kecil memohon belas kasihan pada majikannya, Susan yang cantik itu.
“Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kamu bicara ya. Itu gelas harganya lebih dari setahun gaji kamu tahu!!” bentak Susan.
“Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu..”

Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan menampakkan kepuasan setelah mendamprat pembantunya habis-habisan. Mungkin betul kata orang, kalau wanita kurang dapat menyalurkan hasrat seksualnya, cenderung menjadi pemarah. Melihat adegan itu, aku kasihan juga melihat si gadis pembantu itu. Tetapi entah mengapa justru hasrat birahiku semakin timbul melihat Susan yang sepertinya lemah lembut dapat bersikap galak seperti itu.

“Dasar bedinde.. Verveillen!!” Susan masih terus berkacak pinggang memaki-maki pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih dan tinggi, kontras sekali melihat Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil dan hitam.
“Ampun non.. Nggak akan lagi non..”
“Oh Pak Robert..” kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur. Diturunkannya tangan dari pinggangnya dan beranjak ke arahku.
“Sedang sibuk ya?” godaku.
“Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu” jawabnya sambil tersenyum manis.
“Yuk kita kembali” lanjutnya.

Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi masih menonton adegan di layar sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku dan Susanpun langsung berciuman begitu duduk di sofa. Aku melakukan “french kiss” dan Susanpun menyambut penuh gairah.

Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya yang membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya meremas-remas kemaluanku. Dia kemudian jongkok di depanku yang masih duduk di sofa, sambil membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya perlahan sambil menatapku menggoda. Kemudian disibakkannya celana dalamku ke samping sehingga kemaluankupun mencuat keluar.

“Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it..” katanya sambil menjilat kepala kemaluanku.

Kemudian dibukanya celana dalamku, sehingga kemaluankupun bebas tanpa ada penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh kemaluan termasuk buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah lakunya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum dan menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, seperti seseorang yang sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus rambutnya yang hitam dan diikat ke belakang itu.

Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat handjob dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan cepat, dan tak lama terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dia mencapai orgasmenya. Santipun kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dia pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya.

Sementara itu Susan masih dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang besar. Memang kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya jauh berbeda. Apalagi setelah dia mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak Harry sangat kecil dan tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tak heran bila istrinya sangat menikmati kemaluanku.

Tak lama Santipun kembali muncul di ruang itu, dan menghampiriku. Susan masih berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang kemaluanku. Santi duduk di sampingku dan mulai menciumiku. Dibukanya bajuku dan puting dadakupun dihisapnya. Nikmat sekali rasanya dihisap oleh dua wanita cantik istri orang ini. Seorang di atas yang lainnya di bawah. Sementara Pak Harry tampak menikmati pemandangan ini sambil berusaha membangkitkan kembali senjatanya yang sudah loyo.

Kuangkat baju Santi dan juga BHnya, sehingga buah dadanya menantang di depan wajahku. Langsung kuhisap dan kujilati putingnya. Sementara tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan masih mengulum dan menjilati kemaluanku.

Setelah puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dia kemudian melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian dan hak tingginya saja yang masih melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar dan padat menjulang, dengan puting yang kecil berwarna merah muda. Aku terkagum dibuatnya, sehingga kuhentikan kegiatanku menghisapi buah dada Santi. Susan kemudian menghampiriku dan kamipun berciuman kembali dengan bergairah.

“Ayo isap susu ik ” pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah kanannya ke mulutku. Tak perlu dikomando lagi langsung kuterkam buah dadanya yang kenyal itu. Kuremas, kuhisap dan kujilati sepuasnya. Susanpun mengerang kenikmatan.

Setelah itu, dia kembali berdiri dan kemudian berbalik membelakangiku. Diapun jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang berambut tipis itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas kemaluanku menghadap suaminya yang masih berusaha membangunkan perkakasnya kembali. Kutarik tubuhnya agak kebelakang sehingga aku dapat menciumi kembali bibirnya dan wajahnya yang cantik itu.

“Eh.. Eh.. Eh..” dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah dadanya dan sesekali menjilati dan menciumi pundaknya yang mulus.

Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah zakarku, sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang dikeluarkannya kemaluanku dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya. Setelah itu Santi memasukkan kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.

Setelah beberapa menit, aku berdiri dan kuminta Susan untuk menungging di sofa. Aku ingin menggenjot dia dari belakang. Kusetubuhi dia “doggy-style” sampai kalung berlian dan buah dadanya yang besar bergoyang-goyang menggemaskan. Kadang kukeluarkan kemaluanku dan kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap menjilati dan mengulumnya. Benar-benar nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita cantik ini.

“Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That’s right.. Aha.. Aha..” begitu erangan Susan menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Hal itu menambah suasana erotis di ruangan itu.

Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya. Dihampirinya Santi dan ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu. Santipun mau tak mau mengikuti kemauannya. Memang sudah perjanjian bahwa aku bisa menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati “istriku”.

Sementara itu, aku masih menggenjot Susan secara doggy-style. Sesekali kuremas buah dadanya yang berayun-ayun akibat dorongan tubuhku. Kulihat Pak Harry tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya missionary. Tak beberapa lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dia sudah mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku masih menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Setelah itu kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia lagi, kali ini dari depan. Sesekali kuciumi wajah dan buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya yang sempit itu.

“Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock..” Susan terus meracau kenikmatan.

Tak lamapun tubuhnya mengejang dan dia menjerit melepaskan segala beban birahinya. Akupun sudah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya dan kusuruh dia menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah Pak Harry, dia sedang memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku. Kuremas rambut Susan dengan tangan kiriku, dan aku berkacak pinggang dengan tangan kananku.

Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun menelan spermaku itu, walaupun sebagian menetes mengenai kalung berliannya. Diapun menjilati bersih kemaluanku.

“Thanks Robert.. I really enjoyed it” katanya sambil membersihkan bekas spermaku di dadanya.
“No problem Susan.. I enjoyed it too.. Very much” balasku.

Setelah itu, kamipun kembali mengobrol beberapa saat sambil menikmati desert yang disediakan. Kamipun berjanji untuk melakukannya lagi dalam waktu dekat.

Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dia diam saja di dalam mobil. Akupun tidak begitu menghiraukannya karena aku sangat puas dengan pengalamanku tadi. Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al Jarreau di tape mobilku.

“We’re in this love together..”
“Kenapa sih sayang?” tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahnya.
“Pokoknya Santi nggak mau lagi deh” katanya.
“Habis Santi nggak suka sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget. Santi nanggung nih.”

Akupun tertawa geli mendengarnya.

“Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum puas.. Tadi Santi horny banget lihat bapak sama Susan make love” rengeknya.
“Wah sudah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang”.
“Ah.. Pak Robert jahat..” kata Santi merengut manja.
“Besok khan masih ada sayang” hiburku.
“Tapi janji besok datang ya..” rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.
“OK so pasti deh.. Bye”

Sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya saja aku segan memakai Santi setelah dia disetubuhi Pak Harry tadi. Setidak-tidaknya dia harus bersih-bersih dulu.. He.. He.. Mungkin besok pagi saja aku akan menikmatinya kembali, karena Pak Arief toh masih beberapa hari lagi di luar negeri.

Kukebut mobilku mengarungi jalan tol di dalam kota. Semoga saja aku masih dapat melihat film bagus tayangan HBO di TV nanti. Kontolku letoy kalo liat istri bos pake daster, apalagi istri bos kalo lagi santai… jadi pengen ngentot teruusss

October 12, 2009 Posted by fotocewekcantik | Setengah baya | , , | Leave a Comment

Bercinta dengan Satpam

kali ini cerita seks bareng satpam perumahan, mungkin profesi satpam tak selamanya rendah sebagai petugas keamanan yang tak terjamin, tapi satpam bisa saja mendapatkan durian runtuh bisa ML dengan penghuni perumahan mewah seperti cerita dewasa berikut ini.

Semenjak kejadian malam itu, Dewi yang tadinya seorang istri yang menerima keadaan dan tidak pernah mengetahui bahwa bersetubuh itu sangat nikmat berubah menjadi Dewi yang ingin dipuaskan setiap kali bersetubuh, tetapi suaminya tidak pernah dapat memuaskan Dewi seperti biasanya, suaminya selalu keluar duluan pada saat Dewi baru mulai terangsang, setelah itu suaminya langsung tertidur tanpa memperdulikan lagi keadaan istrinya. Hal ini membuat Dewi ingin selalu mencari lagi laki-laki seperti Andi yang dapat memuaskan hasrat birahinya.

Seperti malam itu setelah melakukan hubungan suami istri, suaminya langsung terlelap, sementara Dewi merasa tersiksa karena birahinya tidak terlampiaskan, memeknya terasa gatal ingin merasakan sodokan-sodokan kon**l.

Dengan penuh kesal Dewi beranjak dari tempat tidurnya lalu ia menuju kedapur untuk mengambil segelas air, sambil memegang gelas air minum Dewi beralih menuju keteras depan, kemudian Dewi duduk disofa yang ada diteras.

Saat Dewi sedang duduk merenung didalam kegelapan malam, Dewi melihat sesosok tubuh dari kejauhan sedang berjalan mendekati rumahnya, setelah dekat Dewi mengetahui sesosok tubuh itu adalah seorang Satpam diperumahan dimana ia tinggal, nampaknya Satpam ini sedang menjalankan tugasnya berkeliling komplek yang bersistem cluster ini.

Melihat sosok tubuh Satpam itu yang kekar Dewi tertarik dan birahinya yang belum terlampiaskan berkobar kembali. Tanpa banyak pikir Dewi melambaikan tangannya kearah satpam itu, si satpam yang mengetahui dirinya dipanggil segera menghampiri Dewi.

“Selamat malam, bu” dengan sopan satpam itu menyapa.

Dewi memperhatikan nama Satpam itu diseragamnya lalu membalas sapaannya,” malem pak Sugito, “

Sementara itu mata Sugito tak berkedip menatap tubuh Dewi yang terbalut daster tipis dan disinari oleh lampu teras sehingga membuat tubuh Dewi yang sexy terbayang dengan jelas, membuat birahi Sugito bergolak, perlahan-lahan pentungan diselangkangannya menegang, membuat celana satpamnya menggelembung, semua ini tidak terlepas dari mata Dewi yang memang dari tadi sudah mulai mencuri-curi pandang kearah selangkangan Sugito.

“Adaaa…aapaaa..bu,” tanya Sugito dengan sedikit terbata-bata karena menahan nafsu birahinya yang menggelegak.

Dimatanya terlihat kedua bukit kembar Dewi yang menonjol dan kedua putingnya yang berwarna merah muda tercetak dengan jelas dibalik dasternya, sementara pandangan matanya melihat diselangkangan Dewi bayangan hitam dari balik dasternya, dalam harinya membatin nyonya ini tidak pakai apa-apa lagi dibalik dasternya, Sugitopun menelan air liurnya, ingin rasanya ia menerkam tubuh Dewi ini dan menggenjotnya, tapi pikiran jernihnya masih berjalan karena statusnya yang sebagai satpam dikomplek perumahan ini, bisa-bisa kehilangan pekerjaannya kalau ia melakukan pikirannya itu.

“Bapak, bisa tolongin saya?” tanya Dewi.

“Apaa..yang bisa saya bantu …bu?” Sugito berbalik tanya, suaranya bergetar menandakan Sugito sedang dipenuhi oleh nafsu birahinya.

“Sini, pak. Ikutin saya, yach,” kata Dewi tersenyum.

Dewipun melangkah menuju kedalam rumahnya diikuti oleh Sugito yang masih bingung dan semakin bernafsu, Sugito melihat bongkahan pantat Dewi yang tercetak karena tanpa Dewi sadari dasternya terjepit oleh belahan pantatnya saat ia duduk tadi, Sugito merasakan kon**lnya tambah mengeras.

Setelah menutup pintu depan dan menguncinya, Dewi melangkah menuju kekamar tidur tamu yang tidak terlalu berjauhan dengan ruang tamu, Sugito masih mengikutinya dengan penuh tanda tanya, hatinya membatin apa yang dibutuhkan oleh nyonya muda ini dari dirinya, sesampainya didalam kamar tidur, Dewi langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.

“Saya, butuh bantuan bapak untuk muasin saya,” Dewi berkata sambil tangannya mulai meraih kemeja seragam satpam Sugito, dan mulai membukai kancingnya satu persatu dengan sangat cekatan.

Setelah kemeja Sugito terlepas, tangan Dewi beralih kecelana Sugito, celana Sugito dengan cepat telah terbuka, lalu Dewi menurunkan celana seragam itu kebawah, tapi Dewi agak kesulitan menanggalkan celana itu karena terhalang oleh sepatu Satpam Sugito.

“Pak, lepaskan sepatunya dong,” kata Dewi.

Sugito yang masih belum lepas kagetnya karena mendengan perkataan Dewi tadi dan perbuatan Dewi yang melucuti pakaiaannya, mengikuti perintah Dewi dengan melepaskan sepatunya, sekarang Sugito hanya mengenakan celana dalamnya saja, tonjolan dibalik celana dalamnya membuat Dewi semakin bernafsu, dengan bernafsu ditariknya kebawah celana dalam Sugito sehingga kon**l Sugito terangguk-angguk dengan gagahnya, Dewi terbelalak melihat kon**l Sugito yang lebih panjang dan besar dari punya Andi, apalagi kalau dibandingkan dengan punya suaminya, sambil menurunkan celana dalam Sugito Dewipun berjongkok didepan Sugito dan kon**l Sugito yang berdiri dengan tegak itu mulai dijilatinya, dari mulai ujung kepalanya sampai kepelernya, sambil kadang-kadang ditingkahi dengan kuluman-kuluman dan hisapan hisapan lembut, membuat Sugito yang masih seperti bermimpi ini mendesah-desah keenakan, batin Sugito masih belum mempercayai apa yang terjadi ini, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya bahwa kon**lnya akan dijilati dan dikulum-kulum oleh wanita secantik dan sesexy Dewi apalagi wanita ini termasuk dari golongan yang terhormat, yang secara tidak langsung adalah yang membayar gajinya.

“Oughh…aaaahhhh….sshhhhh…aaaghhhh…buuu….uueennaaak kk…tennaaan…oougghh…” Sugito mengerang keenakan, menikmati kon**lnya yang sedang dikaraoke oleh Dewi.

“hhhmmm…ssshhsss…sssllrrppp…ssssllrppp…hhhhmmm..ko ntolmu besar sekali,” Dewi bergumam sambil tetap asyik mengulum dan menjilati pentungan Sugito, tangan kirinya asyik memegangi pentungan Sugito, sementara tangan kanannya asyik mengelus-elus memek dan kelentitnya.

Sugitopun akhirnya tidak mau diam saja, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua bukit kembar Dewi yang masih tertutup daster, remasan-remasan kasarnya mulai membuat Dewi menggelinjang kegelian, Dewipun merasakan lubang vaginanya semakin basah, Dewipun menghentikan aksinya, kemudian ia berdiri lalu mulai melepaskan dasternya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan Sugito, mata Sugito terbelalak melihat keindahan tubuh Dewi, betul-betul ia seperti bermimpi, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa dia akan melihat tubuh Dewi telanjang apalagi akan menikmatinya seperti saat sekarang ini.

Setelah melepaskan dasternya Dewi merebahkan tubuhnya diranjang, kemudian Dewipun mulai mengangkangkan kedua belah kakiknya, sehingga lubang kenikmatannya yang berwarna merah terpampang dihadapan Sugito.

“Ayo pak, beri aku kepuasan,” Dewi berkata sambil tangannya mengelus-elus kelentit dan lubang vaginanya.

Mendengar permintaan Dewi itu, Sugito tersenyum lalu menghampiri Dewi yang sudah terlentang menantikan sodokan pentungan satpamnya. Diusap-usapkannya kepala kon**lnya dibelahan vagina dan dikelentit Dewi, membuat Dewi menggelinjang kegelian, hasrat birahinya semakin bertambah bergelora, nafasnya semakin memburu.

“Oughhh….paaakk….jaaanggaannn….dielussss-elusss..sssshh..aagchhhh…mmaasuukkiin……. kememekku…paakkk…ooughhh…aakuuu…tidak taahan lagi…ceepaat…paakk…akuu..ingin merasakan kon**lmuuu…yang besaaarr itu…’” Dewi mengerang menyuruh Sugito untuk cepat memasukkan kon**lnya kedalam memeknya.

Dengan perlahan-lahan Sugito mulai menyelipkan kepala kon**lnya dibelahan memek Dewi, setelah itu dengan perlahan-lahan Sugito mulai menekan kon**lnya, kon**l Sugito mulai melesak kedalam lubang senggama Dewi perlahan-lahan, Dewi mengejang merasakan kon**l Sugito yang besar melesak kedalam lubang vaginanya, ia merasakan agak sedikit sakit karena besarnya kon**l Sugito dan karena untuk pertama kalinya juga vaginanya diterobos oleh kon**l besar.

kon**l Sugito perlahan-lahan mulai terbenam didalam lubang senggama Dewi, setelah lebih dari setengah dari panjang batang kon**lnya terbenam didalam memek Dewi, Sugito mulai mengangkat kedua belah kaki Dewi, kemudian kedua kaki Dewi ditekan kearah tubuh Dewi sendiri, sehingga lutut Dewi hampir menyentuh dada Dewi sendiri, dengan posisi seperti itu Sugito lalu menghentakkan kon**lnya sekaligus, sehingga seluruh batang kon**lnya terbenam dalam memek Dewi, sentakan Sugito membuat Dewi terhenyak dan menahan nafas, Dewi merasa memeknya seperti robek, tak lama berselang Sugito mulai memaju-mundurkan kon**lnya dengan perlahan karena tadi saat ia menghentakkan kon**lnya ia melihat Dewi meringis menahan sakit.

Lama-lama rasa sakit dilubang memeknya mulai hilang terganti dengan rasa nikmat yang sangat melebihi kenikmatan yang ia rasakan bersama Andi, nampaknya Sugito sangat berpengalaman dalam urusan nge***t dan memuaskan wanita. Desahan, erangan dan lenguhan kenikmatan semakin sering keluar dari mulut Dewi dan Sugito, keduanya betul-betul merasakan kenikmatan duniawi yang belum pernah dialami oleh mereka selama ini, Dewi memang belum pernah merasakan sensasi bersetubuh seperti sekarang ini, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh jejalan kon**l Sugito, seluruh area sensitif didalam lubang senggamanya tersentuh oleh gesekan-gesekan kon**l Sugito, sementara Sugito sendiri belum pernah merasakan tubuh mulus dan putih dan lubang vagina yang sempit seperti yang dimiliki oleh Dewi, apalagi keharuman tubuh Dewi yang menambah hasrat birahinya.

“Ouughh..paakk..kon**lmuuu…besaaarr…sekaaliii..pen uh memekkuuu..dibuatnyaa…” Dewi mengerang-erang kenikmatan menikmati sodokon-sodokan kon**l Sugito.

“Buuu…aaaghhh…memeekk…ibuuu…juuugaa…seemppit…sekaa lliii…”erang Sugito keenakan menikmati jepitan memek Dewi dibatang kon**lnya.

“teruusss…paakk….puaasskkaan..aakhhuu…sshhh..aaach h….eenaakkk…ooughhh…”Dewi mendesah-desah, sementara tubuhnya mengejang-ejang menikmati sodokan-sodokan Sugito.

Kadang-kadang Dewi mengangkat pinggulnya menyambut kedatangan kon**l Sugito, mengakibatkan kon**l Sugito terbenam lebih dalam, dan menyentuh dinding rahimnya. Gelinjangan tubuh Dewi menikmati persetubuhan ini semakin menjadi-jadi saat Sugito mulai menciumi leher Dewi yang jenjang dan jilatan-jilatan dikedua belah telinga Dewi, membuat sensasi persetubuhan ini semakin menjadi-jadi. Kedua bibir mereka pun kadang-kadang berpagutan dengan penuh nafsu, kedua lidah mereka saling bertautan.

Tiba-tiba tubuh Dewi mengejang sementara tangannya meremas-remas rambut Sugito, kedua kakinya mengait pinggul Sugito, pinggulnya terangkat menyambut sodokan Sugito, merasakan ini Sugito pun semakin mempercepat sodokan-sodokannya,.

“Ouuggg..paakkk….eenaakk…sekaaalii….ooughhh…aakhhu u…mmauuu..keluuaaar..aaachhh..” Dewi mengerang, tubuhnya mengejang menyambut puncak birahinya yang akan tercapai.

“Agghhh…buuu…akhuuu…jughaaa,….mmaauu…kellluar….oou ghhh….”Sugitopun mengerang bersamaan dengan erangan Dewi.

Creeetttt….sssrrrrr……creeeet……ssssrrrr…cccreeett t…..ssrrr

Dewi dan Sugito berbarengan menggapai puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka ini, kedua kemaluan merekapun berbalasan memuntahkan lahar kenikmatannya, mereka berdua merasakan kedutan-kedutan kemaluan pasangan masing-masing dan semburan-semburan hangat dari lahar kenikmatan mereka.

Setelah tetes terakhir dari lahar kenikmatan mereka keluar, Sugito perlahan-lahan mulai menarik kon**lnnya yang sudah mulai mengecil, dari lubang senggama Dewi nampak mengalir cairan putih bercampur dengan lendir bening, menetes kekain sprei.

“Terimakasih pak, bapak telah memberikan saya kepuasan,” Dewi berkata kepada Sugito masih dengan nafas yang memburu.

“Sama-sama, Bu..kalau nanti ibu butuh bantuan saya lagi, ibu bisa panggil saya lagi,” jawab Sugito sambil menawarkan bantuannya lagi.

Dibalas dengan senyuman oleh Dewi, kemudian kedua insane ini kembali mengenakan pakaian mereka kembali, setelah selesai Dewi mengantar Sugito kepintu dan memberikan kecupan dipipi Sugito sambil mengucapkan terimakasih lagi, setelah itu Dewi mengunci pintu dan menuju kekamar tidurnya.

Mungkin lain waktu si sugito dapet tante girang yang kaya raya, sehiongga dia bisa merubah hidupnya sebagai seorang satpam menjadi lebih baik lagi, melayani tante girang , enak dapet duit juga dapat :P

October 12, 2009 Posted by fotocewekcantik | umum | , , | Leave a Comment

Pembantu Baruku

Cerita Seks indonesia – Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan lelah sekali karena, aku menyelesaikan delapan belas hole, biasanya aku hanya sanggup bermain sembilan hole, tetapi karena Ryan memaksaku untuk meneruskan permainan, maka aku jadi kelelahan seperti sekarang ini. Kupanggil Marni pembantuku yang sudah biasa memijatku, aku benar-benar merasa lelah karena semalamnya aku sempat dua kali “bertempur” dengan kenalanku di Mandarin, pasti nikmat rasanya dipijat dan selanjutnya berendam di air panas, langsung aku membuka pakaianku hingga hanya tinggal celana dalam dan langsung berbaring di atas tempat tidurku. Namun agak lama juga Marni tak muncul di kamarku memenuhi panggilanku melalui interkom tadi, biasanya Marni sangat senang bila aku suruh memijat karena disamping persenan dariku besar, dia juga sering kupijat balik yang membuat dia juga dapat merasakan kenikmatan yang satu itu.

Ketika kudengar langkah memasuki kamarku, aku langsung berkata, “Kok lama sih Mar, apa masih sibuk ya, ayo pijat yang nikmat!”.
Tiba-tiba kudengar suara perempuan lain, “Maaf Pak, Mbak Marni masih belum kembali, apa bisa saya saja yang memijat?”.
Aku meloncat duduk dan menoleh ke arahnya, ternyata di depanku berdiri pembantu lain yang belum pernah kukenal. Kuperhatikan pembantu baru ini dengan seksama, wajahnya manis khas gadis desa, dengan bibir tipis yang merangsang sekali. Ia tersenyum gugup ketika melihat aku memperhatikannya dari atas ke bawah itu. Aku tak peduli, mataku jalang menatap belahan dasternya yang agak rendah sehingga menampakkan sebagian payudaranya yang montok itu.

Dengan pelan kutanyai siapa namanya dan kapan mulai bekerja. Ternyata dia adalah famili Marni dari Kerawang namanya Neneng dan dia ke Jakarta karena ingin bekerja seperti Marni. Aku hanya mengangguk-angguk saja, ketika kutanya apakah dia bisa memijat seperti Marni, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kuperintahkan dia untuk menutup pintu kamar, sebenarnya tidak perlu pintu kamar itu ditutup karena pasti tak ada seorangpun di rumah, isteriku juga sedang pergi entah ke mana dan pasti malam hari baru pulang, tujuanku hanyalah menguji Neneng, apakah dia takut dengan aku atau benar-benar berani. Kuambil cream untuk menggosok tubuhku dan kuberikan pada Neneng sambil berkata “Coba gosok dulu badanku dengan minyak ini, baru nanti dipijat ya!”.

Aku membuka celana dalamku dan langsung telungkup di tempat tidur, sengaja pada waktu berjalan aku menghadap Neneng sehingga Neneng dapat juga melihat penisku, ternyata dia diam saja. Ketika aku sudah berbaring, dia langsung membubuhkan lotion itu di punggungku dan menggosokannya ke punggungku. Sambil memejamkan mata menikmati elusan tangan Neneng yang halus, aku mengingatkan dia agar menggosoknya rata ke seluruh badanku. Sambil berbaring aku minta Neneng menceriterakan tentang dirinya.

Ternyata Neneng seorang janda yang belum mempunyai anak, suaminya lari dengan perempuan lain yang kaya raya dan meninggalkan dia. Karena itu dia lebih suka ke Jakarta karena malu.
Aku berkata kepadanya, “Jangan kuatir, kalau begitu kapan-kapan kamu mesti kembali ke desamu dengan banyak uang supaya bekas suamimu tahu kalau kamu sekarang sudah kaya dan bisa membeli laki-laki untuk jadi suamimu!”. Neneng tertawa mendengar perkataanku itu. Ketika itu Neneng sudah mulai menggosok bagian pantatku dengan lotion, tangannya dengan lembut meratakan lotion tersebut ke seluruh pantatku bahkan juga di sela-sela pantatku diberinya lotion itu sehingga kadang-kadang tangannya menyenggol ujung pelirku. Aku jadi tegang dengan gosokan Neneng ini, tetapi aku diam saja namun akibatnya posisiku jadi tidak enak, karena posisiku yang tengkurap membuat penisku yang berdiri tegak itu jadi tertekan dan sakit sekali. Aku jadi gelisah karena penisku rasanya mengganjal. Neneng yang melihat aku gelisah itu bertanya apakah gosokannya kurang betul. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Ketika aku bertanya lagi apakah isteri baru suaminya itu cantik, Neneng hanya menjawab dengan tertawa katanya, “Cantik atau tidak yang penting uangnya banyak, kan suami saya bisa numpang nikmat!”, Ketika Neneng sudah menggosok badanku sampai ke kaki, dia bertanya, “Apa sekarang mulai dipijat pak?”. Aku langsung berbalik telentang sambil berkata, “Sekarang yang bagian depan juga diberi minyak ya!”. Aku sengaja memejamkan mata sehingga aku tak tahu bagaimana sikap Neneng melihat bagian depan tubuhku yang telanjang itu, apalagi penisku sudah berdiri penuh mendongak ke atas dengan ujungnya yang seperti jamur raksasa itu. Neneng tidak banyak berbicara, tetapi ia mulai menggosok bagian dadaku dengan lotion yang harum itu, ketika aku membuka mata, kulihat buah dadanya yang montok tepat berada di depan mataku, bahkan karena potongan dusternya rendah, aku bisa melihat celah buah dadanya yang terjepit diantara beha yang dipakainya.

Ketika gosokan Neneng sampai di selangkanganku, Neneng membubuhi sekitar bulu penisku dengan lotion tersebut, begitu juga dengan buah pelirku yang dengan lembut diberinya lotion tersebut. Saat itu Neneng berkata “maaf pak, apakah burungnya juga digosok?”. Aku tak menyahut tetapi aku hanya mengangguk saja. Tanpa ragu Neneng membubuhi ujung penisku dengan lotion tersebut, terasa dingin, kemudian Neneng mulai meratakannya ke seluruh batang penisku dengan lembut sekali, bahkan dia menarik kulit penisku sehingga lekukan di antara kepala dan batang kenikmatanku juga diberinya minyak.

Ketika itulah aku membuka mataku dan memandang Neneng, ketika dilihatnya aku memandangnya, Neneng tersenyum dan tertunduk sementara tangannya terus mengurut penisku itu. Aku sudah tak kuat lagi menahan keinginanku, kutahan tangannya dan kusuruh Neneng untuk membuka pakaiannya. Neneng yang sudah janda rupanya langsung paham dengan keinginanku, wajahnya memerah, tetapi ia langsung bangkit dan membuka dusternya. Aku duduk di tepi tempat tidur memperhatikan badan Neneng yang hanya dilapisi beha mini dan celana dalam mini yang kurasa pasti pemberian isteriku. Buah dadanya membusung keluar karena beha yang diberikan isteriku nampaknya kekecilan sehingga tak dapat menampung payudaranya yang montok itu.

Aku berdiri mendekati Neneng dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya,,,,, kita lanjut cerita dewasanya? lanjuuttt..

Neneng seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Neneng kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Neneng sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Neneng ke tempat tidur, Neneng meronta katanya, “Pak saya takut hamil!” Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!”. Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu,

Neneng merintih pelan, apalagi ketika tanganku mulai mengembara menyentuh puting susunya. Neneng hanya menggigit bibir sementara tangannya tetap menutupi wajahnya, mungkin dia masih malu. Ketika aku berhasil menemukan clitorisnya, aku langsung menjilatinya begitu juga dengan bibir vaginanya kujadikan sasaran jilatan. Mungkin karena merasa geli yang tak tertahankan, tangan Neneng mendorong pundakku agar aku tak meneruskan gerakanku itu, begitu juga dengan pahanya yang terus akan dirapatkan, tetapi semua ikhtiar Neneng tak berhasil karena tanganku menahan agar kedua pahanya itu tak merapat. Akibatnya Neneng hanya bisa menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan geli. Tetapi lama-kelamaan justru aku yang jadi tak tahan dengan semua ini, kuhentikan jilatanku dan segera kutindih Neneng sambil mengarahkan penisku ke liang vaginanya.

Melihat aku kesulitan memasukkan ujung penisku, Neneng dengan malu-malu menuntun penisku ke arah liangnya dan menepatkannya di ujung bibir vaginanya. Ketika itu dia berbisik, “Sudah pas pak”. Aku langsung mendorong pantatku agar supaya penisku bisa masuk yang disambut juga oleh Neneng dengan sedikit mengangkat pahanya sehingga.., sleep.., bles.., penisku terbenam seluruhnya di liang vagina Neneng yang seret itu, belum sempat aku menggerakkan penisku, Neneng sudah mulai memutar mutar pantatnya sehingga ujung penisku rasanya seperti dilumat oleh liang vagina Neneng itu. Aku mendengus keenakan, bibirku mencari puting susu Neneng dan mulai mengulumnya. Sambil mendesah desah Neneng berkata, “Ayo pak, digoyang, biar sama sama nikmat nya!”. Aku terkejut melihat keberanian Neneng menyuruh aku bekerja sama dalam permainan ini. Tetapi justru ini membuat aku makin terangsang, meskipun profesinya hanya pembantu, tetapi cara main Neneng benar benar memuaskan. Vaginanya tak henti henti meremas penisku membuat aku jadi ngilu, aku sudah paham bahwa orang desa secara naluri sudah mempunyai kemampuan seks yang hebat, jadi untuk aku kemampuan Neneng benar benar sulit dicari bandingannya.

Ketika kurasakan air maniku hampir memancar, aku berbisik pada Neneng agar berhenti menggoyang pantatnya supaya aku dapat lebih merasakan kenikmatan ini. Tetapi Neneng justru makin cepat menggoyangkan pantatnya serta meremas-remas penisku sehingga tanpa dapat ditahan lagi air maniku memancar dengan derasnya memenuhi vagina Neneng. Saat itu juga Neneng mencengkeram punggungku keras keras dan kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat sekali, matanya terbeliak sambil mendesis. Rupanya aku dan Neneng mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan. Setelah beberapa menit diam, kurasakan Neneng pelan pelan mulai meremas-remas punggungku sambil menempelkan pipinya ke pipiku. Dengan tersipu-sipu dia bercerita kalau dia senang bisa mendapat rejeki ditiduri olehku, karena sejak di desa dulu dia memang nafsunya besar, sehingga suaminya sampai kerepotan melayani nafsunya yang luar biasa itu. Sekarang ini dia benar-benar baru merasakan puas yang sebenarnya setelah main denganku.

Aku terhanyut oleh caranya yang mesra itu, namun aku tak ingin main lagi saat itu karena aku tadinya benar-benar hanya mau pijat dan melemaskan ototku, kalau sampai harus seperti ini, semuanya hanya gara-gara ada vagina baru di rumah yang tentunya tak dapat aku biarkan. Setelah kuberi dia uang 200 ribu, kusuruh Neneng keluar, Neneng sangat terkejut melihat jumlah uang yang kuberikan, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarku. Sekeluarnya Neneng, aku kembali berbaring telanjang bulat diatas ranjangku sambil memejamkan mata, badanku terasa enteng karena terlalu banyak seks. sekian dulu cheersss…

October 7, 2009 Posted by fotocewekcantik | umum | , , , | 2 Comments

Selingkuh Dengan Teman Suami

Cerita Seks – Namaku Yulia dan biasa dipanggil dengan Lia, aku sudah menikah kira-kira 3 tahun. Saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi. Sedikit gambaran fisik tentang diriku, umur saat ini 25 tahun, berkulit putih, berambut lurus sepundak, dengan payudara yang sekal, tinggi 155 cm, berat 45 kg, dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi dengan bentuk badan dan kedua bongkahan pantatku yang indah. Secara umum, cukup seksi.

Telah lama suamiku mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks threesome atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain. Biasanya, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan fantasinya. Fantasi yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku. Sekedar informasi, aku memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi, sementara di sisi lain, suamiku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali, belum lagi ukuran penisnya yang pas-pasan. Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisnya bisa ereksi lagi, umumnya dia merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika aku minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter dia melakukannya dengan tangan, atau membantu bermasturbasi dengan dildo. Walaupun demikian selama ini aku berusaha untuk bisa merasa puas dengan cara tersebut.

Setelah sekian lama dia mempunyai fantasi tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan fantasi tersebut. Pada awalnya aku kira dia cuma bercanda. Namun dia selalu mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius. Dia jawab, “Ya aku serius!” Terus aku tanya lagi bahwa apakah nanti dia masih akan tetap sayang sama aku, dia jawab “Ya! aku akan tetap menyayangimu sepenuh hati, sama seperti sekarang.” Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Di lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap diriku. Secara terus terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat kepuasan dalam hubungan suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari apabila malamnya kami melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna. Oleh karena itu suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan alat itu mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri.

Pada mulanya aku memakai alat itu sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan tetapi lama kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat tersebut sendirian di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku yang aku rasakan semakin meluap-luap. Rupanya fantasi seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau tidak mau membicarakan hal tersebut. Gairah seks-nya pun semakin bertambah turun. Aku berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun merasa tidak enak. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.

“Aku telah mengundang Iyan untuk makan malam di sini malam ini,” kata suamiku di suatu hari Sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk mewujudkan niatnya bersama dia, karena Iyan adalah salah seorang yang sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang katanya cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya. Memang selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Iyan. Akan tetapi sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari suamiku tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan yang baik untuk itu.

Iyan adalah salah seorang mantanku semasa SMA dan suamiku pun kenal baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga penampilan Iyan tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar dan atletis dari tubuh suamiku. Walaupun Iyan adalah mantanku tetapi selama kami berpacaran dulu Iyan sama sekali tidak pernah menyentuhku, memang dulu kami tidak memiliki waktu luang untuk pacaran karena kami pacaran ketika menjelang EBTANAS, dan setelah itu sibuk masing masing untuk persiapan masuk universitas, kemudian putus. Ketika Iyan datang, aku sedang merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi sebagaimana anjuran suamiku agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kudapati gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Buah dadaku kelihatan menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya aku jadi agak tertarik juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan seimbang. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih sangat kenyal dan berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat keriput di sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat sempurna.

Melihat penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab itu aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang sedemikian terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk tubuhku ini memang menggiurkan selera kaum pria.

Setelah makan malam suamiku dan Iyan duduk mengobrol di taman belakang rumahku dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami bertiga saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku. “Aku telah bicara dengan Iyan mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam ini dia akan menginap di sini. Tapi walaupun demikian kau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hubungan seks dengannya apabila memang suasana hatimu memang belum berkenan, kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepadamu!” bisik suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan suamiku itu aku diam saja. Aku tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Aku merasa sudah berputus asa bahkan aku merasa benar-benar nekat menantang kemauan suamiku itu.

Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain? Atau setidaktidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia telah dilihat dan dinikmati oleh lakilaki lain. Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan siap untuk pergi tidur. Secara demonstratif aku memakai baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga buah dadaku terlihat membayang di balik baju tidur itu. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Iyan agak terhenyak untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera dapat menguasai dirinya kembali dan suamiku langsung berkata kepadaku, “Ayo..!” kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur. Setelah lama terdiam akhirnya suamiku mengambil inisiatif dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh payudaraku dari luar daster. Mendapat tindakan demikian Iyan mulai mengelus-elus pahaku yang telah terbuka, karena dasterku telah terangkat ke atas.

Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur. Sebenarnya aku tetap masih merasa risih tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan suamiku dapat terwujud dengan baik.Kemudian Iyan menarik tanganku dan meletakkannya di atas pangkuannya. Sementara itu bibirnya mulai menyusur leher dan belakang telingaku (bagian yang paling sensitif bagiku). Setelah itu suamiku berbisik di telingaku, inilah saat untuk merealisasikan fantasi kita. Sekarang Iyan mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Aku langsung ditariknya, pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap payudaraku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggungku sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan Iyan yang berada di payudaraku disisipkan pada belahan daster yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung putingku yang telah mengeras.

Iyan mendorongku perlahan-lahan sehingga berbaring di ranjang. Jemarinya mulai meremas-remas payudaraku dan memilin-milin putingnya. Saat itu separuh tubuhku masih belum total terhanyut tetapi ternyata Iyan jagoan juga dan dalam waktu mungkin kurang dari 10 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum. Dan menghentikan aktivitasnya. Kini Iyan berusaha membuka baju tidurku belum selesai berpikir beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku dan merasakan hawa dingin AC di kulit pahaku yang berarti celana dalamku telah dilepas. Iyan menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku.

Aku hanya dapat memejamkan mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri. Kemudian dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera tubuhku yang telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum pernah bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Iyan. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap kemaluan Iyan yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana Iyan terlihat menggembung besar. Aku mengira-ngira betapa besar kemaluan Iyan ini. Kemudian Iyan menarik tanganku ke arah resluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang kemaluan Iyan yang telah tegang itu. Aku langsung tersentak ketika terpegang senjata Iyan yang tampaknya besar itu.

Suamiku kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati habis-habisan oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Iyan di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang belum pernah kurasakan selama ini. Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian Iyan berdiri di hadapanku dan membuka celananya sehingga kemaluannya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang dengan jelas terlihat. Kini Iyan berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Sehingga aku dapat menyaksikan ukuran alat kejantanan Iyan yang telah menjadi tegang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran alat kejantanan suamiku yang mungkin cuma setengahnya. Bentuknya pun agak berlainan.

Aku sangat terkejut melihat kemaluan Iyan yang sangat besar dan panjang itu. Kemaluan yang sebesar itu yang sepertinya hanya ada di film-film BF saja. Batang penisnya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut keriting yang lebat. Kulitnya agak tebal, terus ada urat besar di sisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada cacing di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kompak (ini istilahku!), penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak seperti luka irisan di kepala kemaluannya. Kemudian dia menyodorkan alat kejantanannya tersebut ke hadapan wajahku. Sesaat aku menoleh ke arah suamiku, aku tidak menduga akan menghadapi penis yang sebesar itu. Aku mulanya juga agak ragu-ragu, tapi untuk menghentikan ini, kelihatannya sudah kepalang, karena tidak enak hati pada Iyan yang telah bersedia memenuhi keinginan kami itu.

Secara reflek aku segera menggenggam alat kejantanannya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku memegangnya perlahan, terasa ada sedikit kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. Aku tidak pernah membayangkan selama ini bahwa aku akan pernah memegang alat kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan suamiku. Dengan penuh keragu-raguan aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan perasaanku sebagai istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh seorang laki-laki lain, yang juga merupakan bekas pacarku. Dalam hatiku tiba-tiba muncul perasaan geram terhadap suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat kejantanan Iyan itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.

Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat alat kejantanan Iyan yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat kejantanan Iyan yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini. Aroma itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi. Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Iyan tidak tahan lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekat dan pasrah untuk melayaninya.

Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. “Yan…” aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya di antara pahaku, Iyan berbisik, “Ssttt… kamu diam saja, nikmati saja!” katanya sambil dengan kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak tepat menghadap pinggulnya karena ranjangnya tidak terlalu tinggi. Itu juga berarti bahwa sekian saat lagi akan ada sesuatu yang akan menempel di permukaan kemaluanku. Benar saja, aku merasakan sebuah benda tumpul menempel tepat di permukaan kemaluanku. Tidak langsung diselipkan di ujung lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, membuat bibir-bibir kemaluanku terasa monyong-monyong kesana kemari mengikuti arah gerakan kepala kemaluannya. Tetapi pengaruh yang lebih besar ialah aku merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan itu.

Beberapa saat Iyan melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih tangannya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainannya. Iyan menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala kemaluannya tepat di antara bibir kemaluanku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang kemaluanku. Aku benar-benar menanti tusukannya. Oh.. God… please! Tidak ada siksaan yang lebih membuat wanita menderita selain dalam kondisiku itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Iyan dan barangnya yang besar panjang. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos barang yang lebih besar, lebih panjang, “Ooouugghhh,” tak sabar aku menunggunya. Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka ke kiri dan ke kanan bibir-bibir kemaluanku. Dan yang dahsyat lagi aku merasakan sebuah benda tumpul dari daging mendesak di tengah-tengah bentangan bibir itu. Aku mulai sedikit panik karena tidak mengira akan sejauh ini tetapi tentu saja aku tidak bisa berbuat apaapa karena aku sendiri yang memulainya tadi dan juga aku sangat mengaguminya.

Perlahan-lahan Iyan mulai memasukkan penisnya ke vaginaku. Aku berusaha membantu dengan membuka bibir vaginaku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk penis sebesar itu masuk ke dalam lubang vaginaku yang kecil. Tangan Iyan yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang penisnya yang diarahkan masuk ke dalam vagina. Pada saat Iyan mulai menekan penisnya, aku menjerit tertahan, “Aduuhh… sakiiitt… Yann…, pelan-pelan… doong.” Iyan agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Iyan melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan penisnya. Sementara itu batang kemaluan Iyan mulai mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam liang kemaluanku. Aku benar-benar tergial ketika merasakan kepala kemaluannya mulai melalui liang kemaluanku, diikuti oleh gesekan dari uraturat batangnya setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Iyan sambil membuka pahaku lebih lebar lagi.

Aku mulai merasakan perasaan penuh di kemaluanku dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya batang itu masuk ke dalam liangnya. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Iyan ketika seluruh batang itu amblas masuk. Aku sendiri tidak mengira batang sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk seluruhnya. Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak susah. Sesaat keherananku yang sama muncul ketika melihat film biru dimana adegannya seorang cewek berada di atas cowoknya dan bisa bergerak naik-turun dengan cepat. Padahal ketika seluruh batang kemaluannya yang besar itu masuk, bergerak sedikit saja terasa aneh bagiku. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman. Saat itu seluruh batang kemaluan Iyan telah amblas masuk seluruhnya di dalam liang kemaluanku. Tanpa sengaja aku terkejang seperti menahan kencing sehingga akibatnya seperti meremas batang kemaluan Iyan. Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Iyan itu menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan aku merasakan alat kejantanan Iyan memang terasa lebih istimewa daripada alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun ketegangannya.

Selama hidupku memang aku tidak pernah melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain selain suamiku sendiri dan keadaan ini membuatku berpikiran lain. Aku tidak menyangka ukuran alat kejantanan seorang laki-laki sangat berpengaruh sekali terhadap kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Iyan erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Iyan. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar. Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Iyan menarik kemaluannya dan belum sampai tiga perempat panjangnya kemudian menghunjamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkannya secara tiba-tiba itu. selinkuh..

Begitulah beberapa kali Iyan melakukan hujaman-hujaman ke dalam liang terdalamku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat banyak ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang kemaluanku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat batang kemaluan Iyan yang seperti akar-akar yang menjalar-jalar itu. Biasanya suamiku kalau bersenggama semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Iyan seperti menemukan sebuah irama gerakan yang konstan tidak cepat dan tidak lambat. Tapi anehnya justru bagiku aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kemaluannya. Pada tahap ini, seperti sebuah tahap ancang-ancang menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan pahaku mulai seperti mati rasa seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.

Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kudapati suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Iyan. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali geram di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Iyan sehebathebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru. Keadaan ini tiba-tiba membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam diriku. Hal itu bukan saja disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang kualami bersama Iyan, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain yaitu aku telah dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku. Suamiku menghendakiku berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam ini kulaksanakan sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti aku yang dulu lagi. Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku telah hadir tubuh laki-laki lain selain suamiku.

Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Iyan menghentikan gerakannya dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegar dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi dini. Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum merasakan apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah dalam rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat kejantanannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Iyan menghentikan persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri. Suamiku dengan segera menggantikan Iyan dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan bernyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan tubuhnya ke tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Iyan, maka ketika suamiku menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku, kurasakan alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otototot liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Iyan yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.

Di lain keadaan mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang kewanitaanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya agak di luar liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah kuyub dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.

Sementara itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Iyan. Oleh karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan suamiku itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang kembali. Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak membawa hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga akhirnya aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa daya di tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan nyenyak dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar tidurku untuk membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku. Kemudian tiba-tiba Iyan yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat langsung memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Iyan menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Iyan menarik alat kejantanannya dari liang senggamaku, seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang kenikmatanku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan liar yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami selama ini. Aku kini tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah mengalami orgasme bersama Iyan.

Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Iyan yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dari tempat tidur dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan didorong oleh suatu kekuatan hipnostisme yang besar, aku mengikuti Iyan ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Memang saat itu aku merasa diriku seakan berada dalam suatu suasana yang mirip pada saat aku mengalami malam pengantinku yang pertama. Sambil mendekap diriku Iyan terus-menerus menciumiku sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Dan tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.

Tidak berapa lama kemudian Iyan membalikkan tubuhku sehingga kini aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih alat kejantanannya dan memandunya ke arah liang senggamaku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Iyan dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesahdesah kecil. Sementara itu Iyan dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Iyan dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku.

Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Iyan. Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh Iyan, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Iyan mengacungkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan kembali alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Iyan mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam liang senggamaku.

Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya alat kejantanan Iyan yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku.Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Iyan yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya. Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena kemaluan Iyan tegar dan perkasa itu menghujam lubang kemaluanku.

Akhirnya kulihat Iyan tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, alat kejantanan Iyan masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Iyan mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat alat kejantanan Iyan mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Iyan segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya.

Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Iyan sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali. Suasana ini berakhir dengan tibanya kembali puncak ejakulasi kami secara bersamaan. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Namun apa yang kurasakan bersama suamiku secara kualitas kurasakan tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Iyan. Kuakui malam itu Iyan memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa hebatnya yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Iyan masih tetap saja kelihatan bugar. Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Iyan masih tetap tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di malam itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.

Awalnya di suatu pagi Iyan berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya. Mulanya aku ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat birahinya. Hubungan itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Ketika kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Iyan semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Iyan sering membuat suatu pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di luar rumah, baik di kamar cottage ataupun di kamar hotel, bahkan di rumahku ketika suamiku tidak ada di rumah. Kami saling mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adeganadegan sebagaimana yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah barang tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami lakukan tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku.

Sebagai wanita yang sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran suamiku malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan hubungan seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh dari mantan pacarku, mungkin aku agak menyesal kenapa dulu tidak melanjutkan hubunganku dengan Iyan yang mungkin masih dapat bersatu lagi kalau saja aku tidak merasa gengsi untuk kembali padanya walaupun ada kesempatan setelah dia putus dengan pacarnya. Tapi akhirnya aku dapat melanjutkannya sekarang, memang kalau sudah jodoh tak akan lari kemana.

October 5, 2009 Posted by fotocewekcantik | umum | 1 Comment

Pak RT Yang Genit

Cerita Seks – Pak Hambali adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku untuk keperluan menagih iuran daerah dan biaya air ledeng. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahunan dan mempunyai dua istri. Benar kata orang bahwa dia ini seorang bandot tua, buktinya ketika di rumahku kalau aku melewat didepannya, seringkali matanya jelalatan melihat padaku seolah-olah matanya tembus pandang ke balik pakaianku. Bagiku sih tidak apa-apa, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi laki-laki, terkadang aku memakai baju rumah yang seksi kalau melewat di depannya. Aku yakin di dalam pikirannya pasti penuh hal-hal yang jorok tentangku.

Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian. Aku sedang melakukan fitness untuk menjaga bentuk dan stamina tubuhku di ruang belakang rumahku yang tersedia beberapa peralatan fitness. Aku memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaus hitam tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk apalagi aku tidak memakai BH, juga sebuah celana pendek ketat yang mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Hambali yang datang, pasti dia mau menagih biaya ledeng, yang dititipkan ayah padaku tadi pagi.

Kubukakan pagar dan kupersilakan dia ke dalam
“Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan ramah mempersilakannya duduk di ruang tengah
“Kok sepi sekali dik, kemana yang lain ?”
“Papa hari ini pulangnya malam, tapi uangnya udah dititip ke saya kok, mama juga lagi arisan sama teman-temannya”
Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian dadaku yang agak terlihat itu. Aku juga sadar kalau dadaku sempat diintip olehnya waktu menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.

“Minum Pak” tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat. Nuansa mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu
Dia menanya-nanyaiku sekitar masalah anak muda, seperti kuliah, hoby, keluarga, dan lain-lain, tapi matanya terus menelanjangiku
“Dik Citra lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah lagi” katanya
“Iya nih Pak , biasa kan cewek kan harus jaga badan lah, cuma sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, bapak bisa bantu pijitin ga ?” godaku sambil mengurut-ngurut pahaku.
Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kausku, juga kulihat penisnya ngaceng berat membuatku tidak sabar mengenggam benda itu.

“Mari Dik, kesinikan kakinya biar bapak pijat”
Aku lalu merubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh…pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.
“Pijatan bapak enak ya Dik ?” tanyanya
“Iya Pak, terus dong…enak….emmhh !” aku terus mendesah membangkitkan nafsu Pak Hambali, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh.
Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya
“Enngghh…Pak !” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian itu

Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Hambali pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku dipelorotkannya beserta celana dalamku. “Aaww…!” aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku. Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya, klistorisku yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Hambali tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawah itu.
“Kamu memang sempurna Dik Citra, daridulu bapak sering membayangkan ngent*tin kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga” rayunya

Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang berlemak dan dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Pak Hambali begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.
“Hhmm…wangi, pasti adik rajin merawat diri yah” godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.
Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh…lidahnya menjilati klistorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

“Pak…oohh..saya juga mau…pak !” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.
“Kalau begitu bapak di bawah saja ya dik” katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69
Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh…batang itu begitu gemuk dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku. Pak Hambali mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klistoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmatinya sampai ada sedikit terganggu oleh berbunyinya HP Pak Hambali. Aku lepaskan penisnya dari mulutku dan menatap padanya.

Pak Hambali menyuruhku mengambil HP-nya di atas meja ruang tamu, lalu dia berkata
“Ayo dik, terusin dong karaokenya, biar bapak ngomong dulu di telepon”
Aku pun tanpa ragu-ragu menelan kembali penisnya. Dia bicara di HP sambil penisnya dikulum olehku, tidak tau deh bicara dengan siapa, emang gua pikirin, yang pasti aku harus berusaha tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Tangan satunya yang tidak memegang HP terus bekerja di selangkanganku, kadang mencucuk-cucukkannya ke vagina dan anusku, kadang meremas bongkahan pantatku. Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya karena masih harus terus melayani pembicaraan. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.

“Ngga kok…tidak apa-apa…cuma tenggorokkan saya ada masalah dikit” katanya di HP
Tak lama kemudian dia pun menutup HP nya, lalu bangkit duduk dan menaikkanku ke pangkuannya, tangan kirinya dipakai menopang tubuhku.
“Wah…dik Citra ini bandel juga ya, tadi kan bapak udah suruh stop dulu, eee…malah dibikin keluar lagi, untung ga curiga tuh orang” katanya sambil mencubit putingku
“Hehehe…sori deh pak, kan tadi tanggung makannya saya terusin aja, tapi bapak seneng kan” kataku dengan tersenyum nakal
“Hmm…kalo gitu awas ya sekarang bapak balas bikin kamu keluar nih” seringainya, lalu dengan sigap tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku.

Pak Hambali menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi tangannya ke kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya. Telapak tangannya yang penuh sisa-sisa cairan itu dibalurinya pada payudaraku
“Sayang kalo dibuang, kan mubazir” ucapnya
Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.

“Enggh…masukin aja Pak, udah kepingin nih”
Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Pak Hambali mendesah-desah keenakan, untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.

Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang kumisnya yang kasar itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokkanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Hambali sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Hambali menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh…mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Buah dadaku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh…ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

“Uuuhh..Pak…aakkhh…!” aku kembali mencapai orgasme, vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Pak Hambali bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

“Bapak udah mau…dik…Citra…!!” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
“Di luar…Pak…ahh…uuhh…lagi subur” aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus.
Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sofa tempat aku berbaring tadi basah oleh keringat dan cairan cintaku yang menetes disana. Masih dalam keadaan bugil, aku berjalan sempoyongan ke dapur mengambil kain lap dan segelas air putih. Waktu aku kembali ke ruang tamu, Pak Hambali sedang mengancingkan lagi bajunya, lalu meneguk air yang tersisa di gelasnya.
“Wah Dik Citra ini benar-benar hebat, istri-istri bapak sekarang udah ga sekuat adik lagi padahal mereka sering melayani bapak berdua sekaligus” pujinya yang hanya kutanggapi dengan senyum manis.

Setelah berpakaian lagi, aku mengantarnya lagi ke pintu depan. Sebelum keluar dari pagar dia melihat kiri kanan dulu, setelah yakin tidak ada siapa-siapa dia menepuk pantatku dan berpamitan
“Lain kali kalo ada kesempatan kita main lagi yah Dik”
“Dasar bandot, belum cukup punya istri dua, masih ngembat anak orang” kataku dalam hati
Akhirnya aku pun mandi membersihkan tubuhku dari sperma, keringat, dan liur. Siraman air menyegarkan kembali tubuhku setelah seharian penuh berolahraga dan berolahsyahwat. Beberapa menit sesudah aku selesai mandi, ibuku pun pulang. Beliau bilang wangi ruang tamunya enak sehingga kepenatannya agak berkurang, aku senyum-senyum saja karena ruang itu terutama sekitar “medan laga” kami tadi telah kusemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi. demikian cerita pornonya, nantikan cerita porno yang panas dan hot selanjutnya untuk anda semua pecinta memek sejati!!!

October 2, 2009 Posted by fotocewekcantik | Setengah baya | , , , | Leave a Comment